Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Minggu, 29 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 10- Gitaris Belia

Dari usiaku belia, Encek dan Wak sudah membiasakanku mendengarkan alunan musik. Ketika belum bersekolah SD, mereka sudah membelikanku kaset-kaset yang berisi lagu-lagu dari penyanyi yang populer ketika itu. Antara lain yang kuingat adalah Jamal Mirdad, Tommy J. Pisa, dan grup musik Bill & Brod yang digawangi oleh Arie Wibowo sebagai vokalisnya. Lagu dari penyanyi-penyanyi ini sudah terngiang-ngiang di telingaku ketika itu. Entah apa pertimbangan...

Selasa, 24 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 9- Penerjun Bebas

Sungai Kapuas adalah arena yang tak ada habis-habisnya untuk kami eksplorasi. Ia adalah sumber inspirasi yang kaya. Darinya, kami terpicu untuk selalu berinovasi. Kami bersahabat dengannya, karena itulah kami pun tak ada rasa takut untuk berenang dan menyeberangi sungai yang lumayan lebar ini. Kekayaan yang ada di sungai ini juga begitu banyaknya. Ikan dengan mudah didapatkan dari dalamnya. Kayu-kayu yang hanyut di atasnya bisa dimanfaatkan sebagai...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 8- Lapangan Jombo

Witri, temanku itu, adalah sosok anak yang kiranya kesedihan selalu tak kunjung berhenti dari kehidupan masa kecilnya. Ketika berumur 8 tahun, Witri kecil sudah ditinggal wafat oleh ibunya. Masa-masa di mana seorang anak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, tapi Witri tidak mendapatkannya. Di saat ini, kasih sayang itu sudah pergi meninggalkannya. Tapi untunglah, masih ada sumber-sumber kasih sayang lainnya, yaitu neneknya. Sepeninggalan ibunya,...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 7- Heroman

Masa SD adalah masa yang begitu indah menurutku. Aku, Izwar, dan Deni bersekolah di SD yang sama, sedangkan Witri bersekolah di SD yang lain. Walaupun begitu, persahabatan kami di masa-masa ini terus berjalan dengan baiknya. Kami selalu bermain bersama, menjadi anak nakal bersama-sama, dan juga membuat inovasi-inovasi terbaru di masa anak-anak kami. Pontianak di awal era 90-an memang masih begitu bersahajanya, bahkan mungkin keseluruhan kota di...

Jumat, 20 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 6- Alien Mendatangi Kampongku

Ketika kelas dua SD, aku disekolahkan ayahku pada dua tempat sekaligus. Sekolah pertama adalah SD yang ada di kampongku. Sedangkan sekolah kedua adalah Madrasah yang dikelola oleh pak mudeku (pamanku/adik ayahku). Nama madrasah ini diambil dari nama datok/kakekku sebelah emak/ibuku (ayah dari emakku), yang tak lain juga merupakan pak mude (paman) dari ayahku. Diabadikannya nama datokku sebagai nama madrasah tersebut tak lain karena datokku adalah...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 5- Kolam Renang di Lapangan Bola

SD Negeri 11 Pontianak Timur, itulah sekolah yang pertama kali kumasuki selama hidupku (tahun 1988). Guru-guru yang begitu menawan ada di sekolah dasar kampongku ini. Kepala sekolahnya adalah Pak Kasdi, yang beberapa tahun kemudian digantikan oleh Ibu Zaleha. Guru kelas 1 adalah Ibu Maemunah, yang beberapa bulan atau mungkin setahun kemudian diganti oleh Ibu Siti Hawa. Ibu Maemunah adalah guru yang cukup garang menurutku dan teman-temanku ketika...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 4- Kesedihan Pertama

Era 80-an adalah masa-masa yang begitu indah menurutku, juga merupakan saat-saat terpenting dalam hidupku. Pada tahun 1981 aku dilahirkan, pada sekitar 1980-1981 Jembatan Kapuas yang merupakan hadiah dari Jepang itu didirikan, dan pada tahun 1988 ketika aku berumur 7 tahun, aku mulai merasakan bangku sekolah. Ya …, pada tahun ini aku mulai masuk SD yang ada di kampongku, tanpa melalui bersekolah TK terlebih dahulu, dan kemudian pada tahun 1989 aku...

Rabu, 18 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 3- Menerjang Si Kuning

Sungai bagaikan urat nadi bagi Kota Pontianak. Semuanya bermula dari sungai. Itulah Kota Pontianak, salah satu kota di dunia yang dilalui garis equator. Itulah Pontianak, salah satu kota yang dialiri oleh sungai terpanjang di Indonesia. Kota ini dibelah oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dan memang, ciri khas kota-kota yang ada di Bumi Kalimantan adalah sungai. Dari sungai-sungai yang panjang nan lebar itulah, kota-kota di Bumi Kalimantan membangun...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 2- Budak-budak Laot

Mentari khatulistiwa bersinar sangat pekat, tak terkecuali di pinggir Sungai Kapuas. Tapi tetap saja di tepian sungai, para warganya beraktivitas dengan asyiknya, tak terkecuali anak-anak pesisir sungai terpanjang di Indonesia ini. Panas teriknya matahari di Kota Khatulistiwa akan sirna dengan sendirinya bagi para warganya jika mereka menceburkan diri ke sungai. Lain lagi angin sepoi-sepoi yang berhembus tiada hentinya. Inilah kiranya yang membuat...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 1- "Cobra" yang Mempesona

Kalau ada kota di dunia ini yang paling amburadul jalan rayanya, maka Jakarta lah kota itu. Di kota ini, setiap orang selalu berkejar-kejaran dengan waktu. Setiap orang selalu merasa paling berhak untuk lebih duluan dari yang lainnya, tak peduli kendaraan roda dua, roda empat, ataupun roda banyak. Sore ketika itu aku membonceng kepada seorang teman. Kami melesat di jalan raya, kadang jalan yang kami lalui sepi, namun tak jarang juga motor yang...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 0- Prolog: Dinihari dan Drama Musikal

Baru saja aku selesai menonton film Hongkong-China, yaitu suatu film drama musikal yang sepertinya baru kali ini aku menonton film yang seperti itu. Aku tak tahu judul filmnya secara pasti, karena aku menontonnya tidak dari awal. Tapi terus terang kuakui, film tersebut telah menggugah saraf-saraf imajinasi kreatifku. Telah lama sekali aku menunggu saat-saat seperti ini, yaitu saat di mana aku bisa menceritakan pengalaman hidup seseorang yang cukup menarik jika kutuliskan. Cerita ini kudapatkan dari keisenganku menyambangi blog pribadi orang lain...

[Cerbung: Senja Merah Jingga] Daftar Isi

Prolog: Dinihari dan Drama Musikal 1. "Cobra" yang Mempesona 2. Budak-budak Laot 3. Menerjang Si Kuning 4. Kesedihan Pertama 5. Kolam Renang di Lapangan Bola 6. Alien Mendatangi Kampongku 7. Heroman 8. Lapangan Jombo 9. Penerjun Bebas 10. Gitaris Belia 11. Duta Budaya Melayu 12. Berkomplot di Atas Sampan 13. Street Fighter 14. Gratis Menonton Bioskop 15. Bedel Buloh 16. Seni Hadrah 17. Wisudawan 18. Pendekar Bujang Lapok 19. Putus Sekolah 20. Tunas Kelapa 21. Ledakan di Malam Takbiran 22. Rumah Tua 23. Kreativitas di Ambang Batas 24. Juru Ki...

Senin, 16 Maret 2009

Modal dan Kekuasan Bikin Partai Rekrut Keluarga Pejabat

Oleh : Sanusi PaneSistem Perekrutan Di Partai Harus DireformasiPengamat politik dari Untirta, Gandung Ismanto menilai, merembahnya keluarga besar pejabat dalam kancah politik tidak lepas dari kekuatan modal dan kekuatan yang dimiliki pejabat ini. Kasus di Banten, pada pemilu 2009 ini hampir rata-rata keluarga besar petinggi daerah mulai dari kota, kabupaten hingga pejabat provinsi memunculkan nama saudaranya dalam daftar peserta pemilu.Diungkapkan oleh Gandung, majunya keluarga pejabat dalam kancah pemilu tidak lepas dari bobroknya sistem politik...

Silaturahim ala Blogger

Di thenafi.wordpress.com baru saja saya memposting tulisan berjudul: Merawat Tradisi Blogger ala Makki. Tulisan ini asalnya dari Saudara Ahmad Makki. Kiranya patut dibudayakan.Baca juga: Tribun Banten: Modal dan Kekuasan Bikin Partai Rekrut Keluarga Pejabat...

Minggu, 15 Maret 2009

(10) Menangkap Inspirasi di Mana Saja

Di tengah proses penulisan novelku kini, ke mana-mana, jika kuperlukan, maka aku selalu membawa semacam buku catatan kecil. Fungsinya adalah untuk mencatat apa saja inspirasi yang sedang berkelebat di kepalaku. Jika sedang tidak membawa buku catatan, maka ketika ada inspirasi apa saja, aku pun langsung mencatatnya di handphone, karena memang handphone selalu kubawa ke mana-mana. Jangan ditanyakan lagi jika sedang berada di depan komputer, maka inspirasi itu langsung kutulis, walaupun ada pekerjaan lain yang sedang kuhadapi. Kalau memungkinkan,...

(9) Dialog Menjadikan Menulis Tersendat-sendat

Barulah kudapatkan suatu pemahaman yang cukup mendalam yaitu mengapa penulisan novel perdanaku agak tersendat-sendat. Hal ini karena aku terlalu memusingkan modelnya, yaitu memoar atau fiksi. Padahal seharusnya ditulis saja, jangan dipusingkan mengenai modelnya. Ketika mengalir ditulis sebagai memoar, maka berlakukanlah ia sebagai memoar. Ketika mengalir ditulis sebagai fiksi, maka berlakukanlah sebagai fiksi. Tinggal selanjutnya, jika ingin lebih mengarah sebagai memoar, maka cerita fiksinya tinggal disesuaikan, sehingga ia memang betul-betul...

(8) Inspirasi Selepas Hujan

Sekitar jam 1 siang tadi setelah menyelesaikan pekerjaan rutin, aku pun keluar mencari rumah makan. Biasa, kalau siang sekitar jam segitu muncullah penyakitku, yaitu lapar. Rumah makan tujuanku agak jauh dari kosan, sekitar 15 menit jalan kaki. Sekitar jam 1 siang tadi setelah menyelesaikan pekerjaan rutin, aku pun keluar mencari rumah makan. Biasa, kalau siang sekitar jam segitu muncullah penyakitku, yaitu lapar. Rumah makan tujuanku agak jauh dari kosan, sekitar 15 menit jalan kaki. Sekitar jam 2 siang selesailah aku makan. Selesai membayar,...