Senin, 29 Juni 2009

[Cerbung Senja Merah Jingga] 20- Tunas Kelapa

Bisa bersekolah hingga SMP mungkin adalah berkah tersendiri bagiku, apalagi bisa bersekolah di SMP negeri. Mungkin bisa dihitung dengan jari teman-teman SD ku yang bisa bersekolah di SMP negeri. Masyarakat kampongku memang mayoritas bisa dikatakan berada pada tingkat perekonomian yang pas-pasan. Sehingga menyekolahkan anak hingga tingkat SMP adalah suatu kelebihan tersendiri pada suatu keluarga, dan berarti keluarga tersebut memiliki kepedulian terhadap pendidikan anaknya.

Di SMP, aku cukup aktif pada kegiatan ekstra kurikuler yang lambangnya adalah tunas kelapa, pakaiannya coklat, berdasi merah putih, dan berbaret coklat. Kegiatan rutin ektrakurikuler yang satu ini adalah baris-berbaris, selain juga ada kegiatan lainnya yang dilakukan secara berkala seperti berkemah dan penjelajahan.

Praja Muda Karana, disingkat PRAMUKA. Itulah kegiatan ekstrakurikuler yang kuikuti di SMP. Kegiatan kepanduan yang dicetus oleh Lord Robert Boden Powel ini cukup menarik bagiku. Selain bisa menambah teman, juga bisa menambah wawasan, dan yang pasti kesibukan. Itulah yang ada di benakku ketika itu.

Aku pernah bercita-cita untuk menjadi tentara. Maka wajar saja kemudian aku tertarik untuk ikut PRAMUKA. Entah apa pula kaitan antara ikut PRAMUKA dan menjadi tentara. Tapi yang pasti, aku sudah tertarik pada kegiatan yang satu ini sejak masih SD. Tepatnya ketika aku bersekolah di madrasah, karena di madrasah ada kegiatan ini, sedangkan di SD tidak ada. Jadi, aku sudah menjadi PRAMUKA sejati semenjak bersekolah di madrasah. Aku tertarik pada PRAMUKA, karena kegiatan yang ada di dalamnya begitu menantang, apalagi ketika perkemahan dan penjelajahan. Ada petualangan di dalamnya.

Di SMP barulah kurasakan, bahwa di atas langit masih ada langit. Ketika di SD aku begitu berprestasi, tetapi ketika di SMP, siswa yang lebih berprestasi dariku masih banyak lagi. Walaupun begitu, aku masih bisa bertahan pada jajaran juara kelas. Sedangkan pada jajaran juara sekolah, masih ada yang di atasku. Untungnya, aku masih termasuk ke dalam jajaran 10 besar untuk tingkatan sekolah. Ini setidaknya yang menjadi pemicuku untuk terus meningkatkan prestasi.

Tunas kelapa, sungguh suatu perlambang yang begitu mendalam, terutama bagi anak-anak yang di dalam dirinya terus bergejolak jiwa yang haus akan inovasi dan kreativitas. Ia muncul layaknya tunas kelapa. Semakin hari ia tumbuh semakin besar. Ia tumbuh tak hanya untuk dirinya. Ia tumbuh untuk juga memberikan kemanfaatan yang lebih besar kepada masyarakat di sekitarnya. Seakan-akan seluruh hidupnya ingin dipersembahkan kepada masyarakatnya. Ia juga harus serbaguna dan supel.

Jiwa tunas kelapa lambat laun hidup di dalam diriku, anak orang pas-pasan, yang ingin menggapai prestasinya setinggi langit di angkasa, mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orang tuanya, keluarganya, masyarakatnya, agamanya, serta bangsa dan negaranya.

Semangat tunas kelapa bagiku tak lain adalah gabungan dari semangat-semangat para nenek moyangku. Mereka adalah orang-orang pemberani, yang berani mengambil segala konsekuensi hidup yang mereka pilih. Mereka hijrah dari kekangan penguasa, kemudian mereka mengembara mengarungi lautan, menyeberangi Selat Malaka dan Karimata. Sepanjang gugusan pulau-pulau di Laut Natuna mungkin telah mereka singgahi.

Mereka juga ada yang datang dari segenap pesisir Pulau Kalimantan. Tak lain pengembaraan mereka adalah karena menentang para penguasa zalim. Para nenek moyangku yang datang dari segenap Tanah Melayu ini, baik yang dari Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dari gugusan pulau-pulau yang ada di Laut Natuna dan Selat Malaka, dari sepanjang pantai Pulau Kalimantan, bahkan ada yang dari Negeri Cina, kemudian bergabunglah di negeri yang baru, yang memungkinkan mereka tak lagi ditindas oleh para penguasa.

Itulah para nenek moyangku, orang-orang pemberani di masanya, yang ikut mengabdi dan membesarkan negeri yang baru, negeri yang pas berada di garis khatulistiwa, yang ketika itu berada di bawah naungan Kesultanan Pontianak dengan para sultannya yang umara' sekaligus ulama.

Di negeri yang baru inilah, para nenek moyangku membentuk masyarakat baru yang egaliter, inklusif, dan bermartabat, dengan adat resam budaya Melayu yang mereka warisi dari negeri asal mereka, kemudian mereka kembangkanlah di kesultanan Melayu yang berdiri paling akhir di dunia ini, yaitu Kesultanan Pontianak, Negeri Khatulistiwa Bertuah.

Semangat tunas kelapa bagiku tak lain adalah semangat kejujuran, semangat yang bermuara dari nilai-nilai ajaran Islam yang begitu mulia, semangat yang mewujud di dalam adat resam budaya Melayu. Nilai-nilai tersebut telah ditanamkan oleh para guru di dalam hidupku. Aku takkan pernah lupa ajaran yang dipetuahkan oleh mendiang mak mudeku (bibiku) Allahyarham Zaidah binti Muhammad Buraa'i. Takkan kulupakan juga didikan dari dua orang pak mudeku (pamanku), Al-Ustadz Haji Muhammad Kasim bin Muhammad Buraa'i dalam hal budaya Melayu dan Sejarah Peradaban Islam, serta Al-Ustadz Haji Muhammad Yunus bin Muhammad Buraa'i dalam bidang Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Tak juga kulupa guru-guru SD ku yang telah dengan sabarnya mendidik kami anak-anak orang Melayu ini dari buta huruf menjadi tidak buta huruf, dari buta angka menjadi tidak buta angka, dan tentunya masih begitu banyaknya didikan yang telah mereka berikan kepadaku.

Aku juga takkan melupakan didikan dari guru-guru madrasah yang dengan sabarnya menuntun kami anak-anak orang Melayu ini menjadi anak-anak yang menghargai dan menghayati nilai-nilai Islam yang begitu agung, tak terkecuali Pak Taufik Ibrahim yang telah mengeluarkan kami dari buta Bahasa Inggris.

Yang pasti, begitu banyaknya para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah menanamkan semangat tunas kelapa ke dalam diriku. Tak sanggup kiranya kutuliskan jasa mereka satu persatu. Bahkan mereka adalah orang-orang yang terdekat di dalam keluargaku. Di kesempatan lain, pasti akan kuceritakan mengenai mereka. Dari merekalah aku banyak mengambil pelajaran di dalam hidup ini. Sejarah hidup mereka adalah sejarah yang penuh dengan ketegaran. Hingga tak lekang semangat mereka diterpa panas, takkan usang pula oleh hujan, bahkan takkan goyah dihantam badai sekalipun. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari-akhir Juni 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi

Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar