Kamis, 13 Agustus 2009

[Cerbung Senja Merah Jingga] 23- Kreativitas di Ambang Batas

SMP negeri di kecamatanku (Pontianak Timur) hanya ada dua ketika itu, yaitu SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 16. Selain itu, ada juga beberapa SMP swasta. Aku sendiri seperti yang pernah kusebutkan, yaitu bersekolah di SMP Negeri 4. Dua SMP negeri yang ada di kecamatanku ini kiranya dari sisi fasilitas begitu minim dibandingkan SMP negeri yang ada di kecamatan lain. Bagi orang tua siswa, pilihan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri bukanlah pilihan dari sisi fasilitas ataupun kualitasnya, melainkan karena biaya sekolahnya lebih murah dibandingkan sekolah swasta. Bagi yang tak beruntung karena NEM anaknya pas-pasan, maka tak ada pilihan lain kecuali menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Sekolah swasta yang dipilihpun kebanyakan adalah sekolah swasta yang biayanya murah serta fasilitas dan kualitas sekolahnya biasa-biasa saja.

Di SMP tempatku bersekolah berkumpul anak-anak yang berasal dari keluarga dengan berbagai macam strata sosial dan strata ekonomi. Jika dikalkulasi, kemungkinan kebanyakan berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tapi aku yakin hingga kini, bahwa siswa-siswi di SMP ku adalah anak-anak yang cemerlang dan berbakat. Hal ini dapat kulihat ketika beberapa kali sekolah kami menyabet sebagai juara pada beberapa perlombaan, baik itu di tingkat kecamatan maupun di tingkat kota. Salah satu contohnya adalah tim PRAMUKA kami yang ketika itu cukup disegani se-kota Pontianak. Selain PRAMUKA, pada beberapa bidang lain sekolah kami juga cukup disegani, seperti Voli dan Cerdas Cermat. Prestasi-prestasi ini ditoreh oleh sekolah negeri yang minim fasilitas.

Dengan fasilitas sekolah yang terbatas, kami kemudian menjelma menjadi siswa-siswa yang lebih kreatif dan kuat banting dibandingkan siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang fasilitasnya memadai. Itulah kiranya menurutku kelebihan dari siswa-siswa yang ada di sekolah yang minim fasilitas. Soal kecerdasan dan kualitas pendidikan, mungkin masih bisa diadu sekolah mana yang lebih berkualitas. Hal ini setidaknya sudah kami buktikan melalui beberapa kali event perlombaan cerdas cermat tingkat Kota Pontianak. Walaupun belum pernah meraih predikat juara pertama, tapi setidaknya kami masih bisa meraih juara kedua ataupun juara ketiga. Yang pasti hasilnya tak terlalu mengecewakan jika dibandingkan dengan begitu minimnya fasilitas sekolah kami.

***

Kami juga merupakan siswa yang begitu kompleks. Kreativitas, kecerdasan, dan kenakalan bercampur baur menjadi satu. Seorang siswa yang cerdas di sekolah kami bukan berarti tidak menyimpan potensi kenakalan. Kenakalan itu biasanya tersimpan begitu rupa, tiba-tiba ia keluar begitu saja sehingga banyak yang terheran-heran dan tak menyangka akan hal itu. Perhatikanlah tingkah siswa yang satu ini. Ia selalu mendapatkan predikat juara kelas, selalu disayangi oleh para gurunya, dan predikat sepuluh besar di sekolah pun selalu tak luput diraihnya. Tapi, apakah kemudian yang terjadi?

Suatu hari ketika itu, di kelasku ada jam kosong yang seharusnya ada pelajaran. Entahlah mengapa, mungkin guru yang seharusnya mengajar ketika itu sedang ada halangan sehingga tidak masuk ke kelas. Ada sekumpulan siswa di kelasku ketika itu yang mereka ini suka sekali bernyanyi-nyanyi ketika ada waktu senggang di kelas, biasanya ketika waktu istirahat. Entah mengapa ketika itu, mulut mereka sepertinya sudah tak tahan lagi untuk bernyanyi, apalagi cukup bosan juga menunggu-nunggu guru yang seharusnya mengajar ketika itu tak kunjung tiba juga ke kelas kami. Mereka ini tak hanya bernyanyi, tapi tangan mereka juga kreatif memukul-mukul meja yang terbuat dari kayu, seakan-akan meja itu adalah gendang. Memang tak lengkap kiranya nyanyian yang tak diiringi oleh perangkat perkusi seperti gendang. Mungkin di pikiran mereka, tak ada rotan akar pun jadi, tak ada gendang meja pun jadi. Maka mengalun-ngalunlah nyanyian seisi kelas yang lengkap diiringi gendang yang terbuat dari meja.

Riuh rendah seisi kelas, tapi memang sepertinya siswa seisi kelas cukup terhibur dengan nyanyian-nyanyian tersebut. Apalagi yang menyanyi adalah siswa-siswa yang cukup lumayan merdu suaranya. Ketika itu lebih banyak nyanyiannya adalah lagu dangdut yang lagi ngetop ketika itu seperti lagunya Evi Tamala, Imam S Arifin, dan Meggi Z. Dan tentunya tak ketinggalan lagu dari Bang Haji Rhoma Irama. Lagu Bang Haji Rhoma Irama yang lagi ngetop ketika itu adalah lagu yang bejudul “Stress”.

Tiba-tiba, tak disangka tak diduga, masuklah seorang guru kami, tepatnya seorang ibu guru. Memang sepertinya dari luar kelas begitu terdengar riuh, sehingga wajar saja guru kami ini masuk ke kelas. Dengan begitu, seisi kelas yang tadinya riuh-rendah tiba-tiba sunyi-senyap bagaikan ada malaikat yang lewat, sehingga roda waktu pun laksana berhenti dari perputarannya. Meledaklah perkataan dari mulut guru kami itu, “Tangan-tangan setan kalian ini!”.

Kata-kata ini seharusnya tak layak diucapkan oleh seorang guru. Tapi guru kami ini juga manusia, yang mungkin sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya. Guru kami ini pun mengatakan kepada siswa juara kelas kami yang ikut-ikutan bernyanyi, menggendang-gendang meja, dan membuat keriuhan di kelas ketika itu, “Kamu sebagai juara kelas seharusnya memberikan contoh yang baik kepada teman-teman kelasmu. Tapi ini, malahan kamu yang ikut-ikutan membuat keriuhan di kelas.”

Pucat pasi wajah si juara kelas. Mulutnya pun terkunci sejadi-jadinya. Kini, terbongkarlah kenakalannya yang diam-diam itu. Sepertinya ia sudah tak ada muka lagi di depan guru dan teman-temannya.

***

Di lain waktu, si juara kelas ini membuat ulah lagi. Kali ini bukan di kelas, melainkan di kantor guru dan kantor kepala sekolah. Ketika itu, kantor guru dan kantor kepala sekolah sedang sunyi tak ada satu orang pun. Si juara kelas sebenarnya ada suatu urusan yang harus diselesaikannya dengan kepala sekolah. Ketika itu ia bersama Ketua OSIS yang juga siswa di kelas kami. Karena kantor kepala sekolah sedang sepi, menunggulah mereka berdua di kantor kepala sekolah yang memang letaknya pas bersebelahan dengan kantor guru. Lama juga mereka menunggu, sehingga mungkin kemudian muncul kebosanan.

Entah mengapa, kebosanan sepertinya selalu memunculkan kekreatifan. Mereka berdua melihat ada telepon yang digunakan sebagai media komunikasi antar ruangan kantor. Si juara kelas pun bergerak ke arah telepon yang dimaksud. Si Ketua OSIS belum terlalu mengerti akan tindakan si juara kelas. Si juara kelas kemudian memencet nomor telepon, sehingga berderinglah telepon yang serupa di ruangan guru. Si juara kelas mengatakan kepada si Ketua OSIS untuk mengangkat telepon yang berdering di ruang guru. Lalu si Ketua OSIS pun ke ruangan guru untuk mengangkat telepon yang sedang berdering. Barulah si Ketua OSIS sadari, bahwa yang menelepon tersebut adalah si juara kelas. Maka mereka pun bercakap-cakaplah di telepon. Tentunya pembicaraan mereka tak lebih hanyalah pembicaraan iseng.

Habis begitu sajakah aksi mereka? Ternyata tidak, karena tiba-tiba masuk seorang guru BP ke dalam kantor kepala sekolah, karena memang guru BP kami ini ruangannya juga berada di dalam kantor kepala sekolah. Guru BP ini adalah guru yang paling disegani oleh kebanyakan siswa. Jika ada siswa yang memiliki suatu kasus, maka guru BP inilah yang akan menyelesaikannya. Mengetahui guru BP ini masuk, lantas kedua siswa ini pun langsung kabur meninggalkan tempat kejadian perkara. Mereka ini tentunya menjadi buronan, karena kejahatan yang mereka lakukan tertangkap tangan (tertangkap basah) dan ada saksi yang melihatnya yang tak lain adalah guru BP sekolah kami.

Kedua buronan ini tentunya langsung dicari. Mereka tak dapat melarikan diri ke mana-mana. Si penjahat kacangan ini tak lama kemudian langsunglah tertangkap, kemudian langsung diinterogasi sekaligus disidang oleh guru BP. Sekali lagi, si juara kelas menunjukkan potensinya yang lain, yaitu potensi yang tak layak untuk dibanggakan, malahan merupakan sesuatu yang memalukan jika diketahui oleh seisi sekolah, dan tak layak kiranya diceritakan kepada anak cucu. Tapi untungnya peristiwa ini hanya diketahui oleh guru BP, sedangkan guru yang lainnya sama sekali tak mengetahuinya. Siswa-siswa yang lain pun juga tak ada satu pun yang mengetahui peristiwa yang memalukan ini. Sehingga, jadilh peristiwa ini rahasia di antara mereka bertiga. Tentunya dalam hal ini sepertinya guru BP tak ingin membuat malu si juara kelas dan si Ketua OSIS kepada seisi sekolah.

Tahukah kau kawan, siapakah si juara kelas yang memiliki potensi kenakalan diam-diam yang kumaksud? Tak lain dan tak bukan, orang yang dimaksud adalah aku. Tentunya hal ini menjadi pengalaman yang takkan pernah kulupakan hingga kapanpun.

***

Di saat yang lain, ketika itu sekolah kami usai mengikuti suatu pertandingan persahabatan dengan sekolah lain. Pertandingan yang dimaksud adalah pertandingan voli. Sekolah kami ketika itu dikenal sebagai sekolah yang tangguh di bidang olahraga yang satu ini. Selalu saja kemenangan yang kami dapatkan.

Singkat cerita, setelah pertandingan itu, tim voli dan beberapa siswa lain yang menjadi ofisial singgah di rumah ketua OSIS kami. Mungkin sekedar menghilangkan letih atau apalah itu namanya. Rumah ketua OSIS kami ketika itu memang sering menjadi tempat berkumpul. Lagi-lagi, kekreatifan muncul dari siswa sekolah kami. Kali ini tak tanggung-tanggung, karena sudah menjurus ke tindakan pidana. Tak tanggung-tanggung juga, karena tindakan pidana ini dilakukan di rumah guru BP sekolah kami yang tempo hari meinginterogasi dan menyidang aku dan ketua OSIS. Apa pulakah tindak pidana yang dimaksud? Begini ceritanya.

Kali itu setelah pertandingan voli yang kusebutkan di atas, teman-temanku berkumpul di rumah Ketua OSIS kami. Aku sendiri ketika itu langsung pulang ke rumah, sehingga terlepaslah dari tindak pidana yang teman-temanku lakukan itu. Ketua OSIS kami ini tinggal satu gang dan bertetanggaan dengan beberapa orang guru. Termasuk salah satu tetangganya adalah guru BP sekolah kami. Mungkin pada awalnya mereka tak berniat melakukan tindakan itu. Tapi entah mengapa, seperti kata Bang Napi, bahwa kejahatan bukan karena ada niat dari pelakunya, melainkan kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Karena itu, waspadalah …, waspadalah…!!!

Semuanya ini berawal dari godaan si pokok (pohon) asam (mangga) yang berdiri tegak di depan rumah guru BP kami. Buahnya nan ranum yang berjuntai-juntaian di pokoknya itu tentunya mengundang selera siapapun yang lewat di depan rumah guru BP. Keinginan si orang yang lewat tentunya akan mulus jika dilakukan dengan cara yang baik, yaitu cara yang halalan thayyiban kata para khatib shalat Jum’at. Tapi, tentunya tak ada yang menduga, si orang yang lewat ini nekat melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma agama dan masyarakat. Entah karena keinginan menyantap si buah asam yang menggiurkan itu sudah di ubun-ubun, atau mungkin karena ada setan yang menyasar menggoda teman-temanku itu, karena tak dinyana, mereka dengan buasnya merunduh buah asam di pokoknya yang tak berdosa itu. Ada yang memanjatnya bagaikan kera yang profesional, dan ada juga yang menjoloknya menggunakan galah. Dan yang patut diingat pula, bahwa kejadian ini dilakukan teman-temanku pada pokok asam milik guru BP kami. Apalagi pokok asam itu tepat berada di halaman rumah guru BP. Begitulah singkat ceritanya.

***

Sepandai-pandainya kera memanjat pokok, akhirnya terjerembab juga. Begitulah kiranya nasib teman-temanku yang telah nekat melakukan perbuatan ilegal di halaman rumah guru BP kami. Singkat cerita, besoknya ketika kami masuk sekolah, teman-temanku yang melakukan tindak kriminal kecil-kecilan itu (termasuk di dalamnya adalah Ketua OSIS kami) dipanggil menghadap ke ruang guru BP untuk diinterogasi sekaligus diadili. Polisi, jaksa, dan hakimnya sekaligus adalah tak lain guru BP kami. Entah dari mana pengaduan berasal, tapi yang pasti kasus pun kemudian bergulir. Untungnya guru BP kami masih berbaik hati terhadap siswa-siswanya yang “kreatif” tak kepalang tanggung ini. Sebagaimana layaknya guru, teman-temanku ini tetap diberlakukan sebagai siswa yang harus diayomi, dididik, dan disayangi sebagaimana layaknya orang tua terhadap anaknya, guru terhadap siswanya. Tapi yang pasti, teman-temanku ini tetap diomeli, diceramahi, dan dinasihati begitu rupa. Tak lain dan tak bukan, agar mereka di lain hari tak lagi melakukan perbuatan yang serupa. Agar mereka ke depannya bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari – awal Agustus 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi

Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

3 ulasan:

  1. kikikikiki, lucu-lucu... Btw, emang angkatan berapa pak?

    BalasHapus
  2. salam kenal, seperti cerita laskar pelangi ya

    BalasHapus
  3. @cari tahu apa saj, tak kenal ke dgn saye nih, Hanafi, orang satu kampong dan kakak kelas antum di SMP 4. Tapi mudah2an udah ingat, walaupun saye skrg jaoh di rantau orang.


    @sobatsehat, salam kenal juga. Sekilas memang seperti cerita Laskar Pelangi. Tapi yg pasti ini berbeda dan tidak mencontek dan tidak meniru.

    Kesamaannya mungkin ceritanya sama-sama berlatarbelakang budaya Melayu. Laskar Pelangi dgn latar belakang budaya Melayu Belitong, sedangkan cerita saya ini berlatarbelakang budaya Melayu Pontianak-Kalimantan Barat.

    BalasHapus