Minggu, 11 Mei 2008

[Cerpen] Sungaiku Tak Jernih Lagi


Entah mengapa, akhir-akhir ini semakin sulit saja menjala ikan di sungai. Biasanya timba yang kami bawa selalu penuh dengan ikan seluang, ikan sepat, dan udang. Bahkan kadang juga ikan mas dan ikan belidak. Tapi kini, jangankan ikan mas ataupun ikan belidak, ikan seluang pun hanya satu dua yang nyangkut di jala.

“Mungkin hanya ini, Nak, rejeki kita hari ini. Alhamdulillah, kita masih dapat ikan untuk dijadikan lauk hari ini,” kata ayahku ketika itu. “Kayuhlah sampan kita ini balik ke rumah!”

“Tapi Yah, kita kan baru dapat sedikit,” ujarku ketika itu dengan nada agak sedikit kecewa.

“Tak apalah, Nak. Besok-besok kan kita bisa menjala lagi. Sudahlah, mungkin Emak kau sudah menunggu di rumah,” pertegas ayahku lagi.

Kemudian aku pun mengayuh sampan kayu yang selama ini selalu setia menemani kami.

Rumahku berada di tepian sungai, atau tepatnya berada di atas air, karena memang rumah yang berada di pesisir sungai berdiri di atas air. Sampan adalah transportasi sungai yang penting di kotaku: untuk penyeberangan, angkutan penumpang dan barang, untuk berbelanja ke pasar, dan untuk aktivitas lainnya yang berhubungan dengan sungai: seperti menjala, mencari kayu, bahkan untuk berjualan.

Anak-anak seumurku yang selalu berhubungan dengan sungai harus bisa berenang, karena aktivitas kami seharian memang tak dapat dilepaskan dari keberadaan sungai. Tak jarang kudengar orang tenggelam di sungai hanya dikarenakan tak bisa berenang. Tersebab itu pulalah semenjak kami berumur kurang lebih dua sampai tiga tahun atau semenjak kami sudah bisa berjalan dan sering bermain-main di sungai, maka kami sudah dibiasakan dan diajarkan berenang.

* * *

Sungai adalah sumber kehidupan warga kotaku: untuk mandi, mencuci, mencari ikan, dan juga transportasi sungai.

“Dulu, air sungai kita ini masih biasa digunakan orang untuk minum dan memasak. Tapi sekarang orang-orang enggan, Nak. Mungkin sudah agak kotor. Apalagi kini motor air dan kapal sudah begitu banyaknya lalu-lalang di sungai,” ujar ayahku suatu ketika.

“Yah, apakah dari dulu sungai kita ini sudah sekeruh sekarang?” tanyaku kepada ayah.

“Seingat Ayah, dulu air sungai ini begitu jernihnya, tidak sekeruh sekarang ini,” jawab ayahku menjelaskan.

“Mengapa sekarang jadi keruh seperti ini, Yah?”

“Mungkin karena itu tadi, sudah banyak dilalui motor air dan kapal. Dan Ayah dengar-dengar, di hulu sungai juga sedang banyak yang menambang emas. Mungkin itu juga yang jadi penyebabnya, Nak.”

* * *

Sungaiku kini memang sudah tak jernih lagi. Tapi walaupun begitu, sungai yang sudah tak jernih ini tetap menjadi sumber kehidupan kotaku. Begitu bergantungnya warga kotaku pada sungai yang semakin hari semakin keruh ini. Sungai sudah bagaikan urat nadi bagi kotaku.

Kini, aku dan ayah masih tetap mencari ikan di sungai. Walaupun tak dapat dipungkiri, hasil yang kami dapatkan dari menjala ikan di sungai paling-paling hanya cukup untuk sekali makan, itu pun terkadang kurang.

“Kita patut bersyukur, Nak. Setiap kali menjala, kita tak pernah tak dapat ikan, walaupun ikan yang kita dapatkan sedikit. Mungkin hanya itulah rejeki kita,” tutur ayahku ketika aku mengeluhkan semakin sedikitnya ikan yang kami dapat ketika menjala.

Selain menjala ikan, aku dan ayah biasanya juga mencari kayu yang hanyut di sungai. Maklum, di kotaku banyak berdiri perusahaan-perusahaan kayu yang kami sebut "saumil". Kayu-kayu hanyut yang kami dapatkan di sungai itu mungkin adalah sisa pemotongan dari saumil. Kayu-kayu yang kami dapatkan itu kemudian kami jadikan kayu bakar. Tak jarang pula, jika kayu-kayu yang kami dapatkan itu cukup banyak, maka kayu-kayu bakar itu kami jual kepada orang-orang kampong kami yang memerlukan.

“Nak, walaupun sungai kita sudah semakin sedikit ikannya, tapi kita masih bisa mencari kayu. Dalam hidup ini kita tak boleh mengeluh. Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha, asalkan usaha kita itu tidak merugikan orang lain,” tutur ayahku yang tak jemu-jemunya memberikan nasihat kepadaku.

* * *

Suatu sore, orang-orang kampongku gempar. Waktu itu aku dan ayah berada di depan rumah sedang mengemas kayu bakar yang akan kami jual.

“Pak Cik, Pak Cik! Tengoklah ke laot!” tutur seorang tetanggaku yang berjalan dari arah laot (sungai) menuju ke arah darat kepada ayahku.
“Memangnya ada hal apa di laot?” tanya ayahku memohon penjelasan dari tetanggaku itu.

“Banyak ikan yang timbol, Pak Cik,” jawab tetanggaku itu.

Tanpa menunggu lama, aku dan ayah langsung bergegas ke sungai. Ternyata orang-orang kampongku sudah ramai juga yang berada di sungai. Tak sedikit pula yang memungut ikan-ikan yang mengapung itu. Memang benar adanya yang dikatakan oleh tetanggaku, begitu banyaknya ikan-ikan yang mengapung di permukaan sungai, seperti tak berdaya lagi untuk berenang dan hidup di air sungai. Melihat itu, aku pun ingin ikut-ikutan memungut ikan-ikan yang mengapung itu, tapi kemudian dilarang oleh ayah.

* * *

Malam itu sehabis makan, ayah membuka percakapannya seperti yang selama ini selalu dilakukannya setiap selesai makan.

“Ayah tak habis pikir, mengapa ikan-ikan mengapung di sungai? Tak biasanya hal ini terjadi. Apalagi sekarang ini tidak lagi musim kemarau, dan air sungai pun tak sedang payau ataupun asin,” tutur ayah membuka perbincangan.

“Itukah sebabnya tadi Ayah melarang untuk memungut ikan?” tanyaku kepada ayah.

“Iya,” jawab ayah singkat.

Kemudian emak pun menimpali, “Tadi Emak lihat tetangga sebelah banyak sekali dapat ikan. Emak sebenarnya tadi mau meminta, tapi karena dilarang oleh Ayah kau, Emak pun tak jadi memintanya.”

“Seperti ada yang janggal. Pokoknya besok-besok kalau ada lagi ikan yang mengapung di sungai, jangan coba-coba mengambilnya. Biarkanlah saja orang-orang lain melakukannya, tapi kita jangan ikut-ikutan,” tukas ayahku memperingatkan.

* * *

Kini, ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi, barulah kuketahui, ternyata sungai di kotaku sudah lama tercemar limbah merkuri. Yang kuketahui dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, bahwa limbah merkuri tersebut berasal dari aktivitas penambangan emas yang marak di hulu sungai kotaku. Juga disebutkan, bahwa limbah merkuri itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, seperti yang pernah terjadi di Minamata.

Jika limbah merkuri itu telah mencemari sungai, berarti kehidupan yang ada di sungai itu akan terancam.

Pantas saja kemudian jika ikan-ikan sungai semakin hari semakin menyusut jumlahnya. Rupanya pencemaran limbah merkuri itulah penyebabnya.

Dan bagaimana dengan penduduk kotaku yang setiap hari memakai air sungai untuk mandi dan mencuci? Akankah mereka juga nantinya bisa terkena dampak buruk dari limbah merkuri tersebut? Walaupun memang untuk minum dan memasak, warga kotaku tidak menggunakan air sungai, melainkan air hujan. Tapi sebagian warga juga menggunakan air olahan (air ledeng) dari perusahaan air minum di daerahku untuk konsumsi sehari-hari, yang bahan bakunya juga dari air sungai.

Dari informasi yang kudapatkan, ternyata kandungan limbah merkuri yang terdapat pada air tidak dengan mudahnya dapat dihilangkan melalui proses pengolahan di perusahaan air minum. Apalagi selama ini yang kuketahui, bahwa air hasil olahan dari perusahaan air minum di kotaku kualitasnya tak terlalu baik. Mungkin karena itu pulalah selama ini sebagian warga kotaku enggan mengkonsumsi air olahan yang buruk kualitasnya tersebut, kecuali kalau sudah terdesak saat musim kemarau.

Yang membuatku gundah, ternyata limbah merkuri tersebut tidak hanya berdampak buruk bagi yang meminum air yang tercemar olehnya, melainkan juga berdampak buruk bagi siapa saja yang memakai air yang tercemar tersebut, walaupun hanya untuk mandi sekalipun. Apalagi pemakaian air yang tercemar itu sudah begitu lamanya. Ditambah lagi bahwa kadar merkuri pada air di sungai kotaku begitu sangat tingginya.

Jauh di luar pulauku, di kota tempatku menuntut ilmu kini, aku hanya bisa berharap, semoga kotaku tak menjadi Minamata kedua. [-,-]



Hanafi Mohan
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ciputat, Juli 2007 – Februari 2008



Cerita Pendek (Cerpen) ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"


Sumber Gambar: http://pietoyosusanto.wordpress.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar