Hikayat Dunia
Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||
Pontianak Singgah Palembang
Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang.
Mudék ke Ulu
Pasangan dari kate “ulu” ielah “mudék”. Kate “mudék” beakar kate dari kate “udék”. Udék bemakne "sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber)", "daerah di ulu sungai", juga’ bemakne "kampong halaman (tempat beasal-muasal)".
Soal Nama Negeri Kita
Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak?
Kampong Timbalan Raje Beserta Para Pemukanya [Bagian-3]
Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya.
Musik Motivasi Setahun Silam
“Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.
Sultan Pontianak; Umara' dan 'Ulama
Kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama.
Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir
Kepada Saudaraku M. Natsir | Meskipun bersilang keris di leher | Berkilat pedang di hadapan matamu | Namun yang benar kau sebut juga benar ||
Minggu, 02 November 2025
Sejarah Negeri Pontianak dalam Ghazal Sang Rajawali
Minggu, 26 Oktober 2025
Hari Jadi Kota Pontianak ke-254 Tahun dengan Lagu Pontianak Rindu Terkenang
Selasa, 09 September 2025
Sultan Hamid II Permata Negeri, Lagu yang Memukau Semua Kalangan
Selasa, 05 Juli 2022
Madrasah; Pendidikan Dasar Kami
Bangsa Melayu yang bertamaddun tinggi sangat memperhatikan ehwal pendidikan dan pengajaran. Tak terkecuali pendidikan dasar. Kerananya, madrasah diniyyah dengan berbagai tingkatannya itu (awwaliyyah, wustha, dan 'ulya) berperan sangat penting dalam hal ini.
Pendidikan di Madrasah Diniyyah Awwaliyah merupakan pendidikan dasar yang biasanya diselenggarakan di tengah-tengah masyarakat Melayu. Dari sekolah semacam inilah anak-anak Melayu belajar Islam lebih mendalam. Berbagai ‘ilmu dipelajari: Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Tarikh, Bahasa Arab, dan sebagainya.
Selain madrasah, sebetulnya masih ada beberapa yang lain, seperti surau, langgar, dan belajar mengaji Al-Qur'an di Guru Mengaji. Terlebih penting lagi adalah pendidikan di dalam keluarga. Setiap orang tua berkewajiban mendidik anaknya dalam berbagai hal, termasuk juga keislaman.
Jadi dalam Keluarga Melayu itu sebetulnya dasar-dasar keislaman telah ditanamkan kepada anak-anaknya oleh orang tuanya. Aqidah, akhlaq, dan adab telah jauh-jauh hari diajarkan kepada setiap anak dalam keluarganya. Kemudian lembaga pendidikan lebih kepada menguatkan lagi dasar-dasar yang sudah ada itu.
Dengan demikian setiap orang tua dalam keluarga Melayu itu harus faham Islam. Bekal kefahamannya itu merupakan modal dasar kelak ketika mendidik anak-anaknya. Oleh kerana itu pula sangat jarang orang tua dalam keluarga Melayu menitipkan anak-anaknya bersekolah di sekolah berasrama/menginap.
Itulah pula yang menjadi sebab pendidikan Islam di luar rumah yang masyhur di negeri-negeri Melayu itu adalah yang berbentuk Langgar, Surau, ataupun Madrasah, bukan sekolah-sekolah berasrama/menginap. Waktu di luar sekolah adalah bahagian daripada tugas penting orang tua mendidik anak-anaknya.
Pengajaran yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah masa-masa yang istimewa, takkan tergantikan di masa yang lain. Anak-anak dapat ungkapkan ataupun bertanya macam-macam persoalan kepada orang tuanya, tak terkecuali dalam hal keislaman. Bagi orang tua yang kurang pemahaman keislamannya tentunya menjadi dilematis.
Makanya ketika di madrasah tinggal dikuatkan lagi dasar yang sudah ada itu. Misalkan dalam hal membaca Al-Qur'an, di madrasah tak diajarkan lagi membaca Al-Qur'an dari dasarnya sekali, kerana dasar-dasar membaca Al-Qur'an telah diajarkan di rumah. Di madrasah lebih kepada mempelajari 'ilmu Tajwid, Qira'ah, Tafsir, serta beberapa 'ilmu lainnya yang berkenaan dengan Al-Qur'an. Tawhid/Aqidah dan Akhlaq, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Tarikh, Khat, Imla', dan Arab Melayu juga merupakan 'ilmu dasar yang diajarkan di madrasah.
Ilmu-ilmu dasar keislaman ini jika di sekolah berasrama/menginap boleh
jadi baru dipelajari di usia anak 13 tahun ke atas. Tapi di madrasah ilmu-ilmu
tersebut telah dipelajari secara mendalam di usia anak 7 hingga 12 tahun. Di
madrasah tempat kami belajar dahulu juga diajarkan Bahasa Inggris. Masa itu di
SD tak ada pelajaran Bahas Inggris (sebagai pelajaran wajib ataupun tidak
wajib), tapi pd masa yang sama itu di madrasah kami telah diajarkan Bahasa
Inggris. Sungguh aspek ilmu bahasa ini begitu diperhatikan di madrasah kami,
tanpa menepikan bahasa ibunda kami sendiri. [#*#]
Hanafi Mohan,
Ciputat, 20 Ramadhan 1443 Hijriyyah,
bertepatan dengan 22 April 2022 Miladiyyah
Kamis, 07 April 2022
Bahasa Ibunda Kami
Borneo (Kalimantan) adalah satu dari
sekian banyak kawasan terbanyak Bumiputera Bangsa Melayu-nya. Sebab itu pula
merupakan wilayah yang menjadikan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Ibunda-nya, juga
Lingua Franca dalam konteks Bahasa Rasmi, Perdagangan, dan Pergaulan.
Negeri kami (Negeri Pontianak) selain sebagai ibu negerinya Borneo Barat, juga berperan menjadikan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Rasmi dan Bahasa Administratif ke dalam dan ke luar negerinya, bahasa perhubungan antar kaum, bahasa ‘ilmu, dan tentunya sebagai Bahasa Ibunda bagi tiap anak negerinya.
Anak Wathan Pontianak itu lahir, membesar, marah, sedih, senang, berfikir, bahkan bermimpi pun dalam Bahasa Ibunda-nya. Hingga kini belum ada satu bahasa pun yang dapat menggantikan keduduk’an Bahasa Melayu selama jatuh bangunnya tamaddun Negeri Pontianak.
Bahasa Melayu menjadi bahagian terpenting dalam ehwal pembentuk'an jati diri Negeri Pontianak. Tanpa Bahasa Melayu, boleh jadi tak'kan mawjud Negeri Pontianak sebagaimana adanya kini. Peran Bahasa Melayu yang begitu besar ini tentu tak hanya dialami oleh Negeri Pontianak.
Martabat Bahasa Melayu terletak pada kemasyhurannya sebagai bahasa ilmu, sastera, da'wah, dan tentunya Lingua Franca di segenap Alam Melayu. Bahasa ini menjadi syarat utama bagi para cerdik pandai demi membuka kunci ‘ilmu serta mensyi'arkannya kepada khalayak.
Dalam peringkat antarabangsa, Bahasa Melayu menempati posisi penting sebagai bahasa perhubungan dan pergaulan. Di manapun penutur Bahasa Melayu bermastautin, di situ pula bahasa ini dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari.
Bahasa Melayu pula menempati keduduk'an penting dalam da'wah Islam, sebagaimana Bahasa Arab, Parsi, Turki, dan Urdu. Sesiapapun yang ingin memperdalami Islam di Kepulauan Melayu (Alam Melayu) ini, maka pengetahuan Bahasa Melayu menjadi syarat utamanya.
Tak ada yang dapat menafikan bahwa Bahasa Melayu telah melewati sejarah yang panjang hingga seperti saat ini. Bahasa ini menjadi bahasa yang mempersatukan, bukanlah bahasa yang memecah-belah. Bahasa ini berkembang dan menyebar secara damai, bukan di bawah ancaman senjata.
Bahasa Ibunda kami ini
telah merentasi zaman. Juga merupakan bahasa yang tak mengenal sempadan. Setiap
negeri Melayu memiliki loghat Bahasa Melayu-nya tersendiri. Di beberapa kawasan
tertentu, Bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan antar kaumnya yang
berbeda-beda bahasa.
"Jika hendak mengenal orang
berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa."
Begitulah yang termaktub
dalam “Gurindam Dua Belas” Fatsal Lima gubahan Raja Ali Haji. Jadi Bahasa
Melayu merupakan bahasa yang selalu bersanding dengan akhlaq budi pekerti yang
mulia.
"Bahasa kita penuhlah hikmah
Untuk sampaikan ilmu dan kauniyah
Bertentu tuju meluruskan aqidah
Hinggalah insan berakhlaqul karimah"
(dalam “Syair Menjulang
Pantun” gubahan Hanafi Mohan)
Bahasa Melayu merupakan
bahasa yang penuh hikmah. Yaitu bahasanya para 'alim 'ulama.
Bahasa Melayu bukanlah calang-calang bahasa. Inilah bahasa yang telah melewati sejarah nan panjang, merentasi zaman berzaman. Cabaran demi cabaran tentu pula telah ditempuhi oleh bahasa ibunda kami ini. Emas tetaplah emas, walaupun ditutup-tutup dengan arang nan hitam.
Pahit dan manisnya perikehidupan telah dilalui Bangsa Melayu sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera bangsa kami.
Bangsa Melayu bukanlah bangsa yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera bangsa kami, maka segala macam cabaran itu takkan pernah dapat meluluh-lantak’kan bangsa nan besar ini.
Hampir segenap kawasan Asia Tenggara merupakan laman bermain Bangsa Melayu. Jadi kalau setakat hendak jadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi di Asia Tenggara itu sebetulnya telah kami capai sejak berabad-abad silam.
Tekad kami malahan hendak
menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa dunia. Layar pun telah lama terkembang.
Kiranya surut dari ke’azaman ini kami berpantang. Dengan mengucapkan
Bismillahirrahmanirrahim, kami isytiharkan "Bahasa Melayu sebagai Bahasa
Rasmi Dunia, Bahasa Rasmi Antarabangsa". *#*
Hanafi Mohan,
(Tanah Betawi, 4-5
Ramadhan 1443 Hijriyyah/5-6 April 2022 Miladiyyah)
Minggu, 03 April 2022
Menyambut Ramadhan di Pontianak Dua Tahun Lepas
Pada 20 Maret 2020 melakukan perjalanan balik ke Pontianak. Suasana Jakarta masa itu agak mencekam awal-awal merebak Pandemi Covid-19 (awal-awal itu masih disebut Virus Corona saja). Kantor-kantor, sekolah, kampus, hampir semuanya dirumahkan (bekerja dan belajar dari rumah saja). Bahkan tempat ibadah pun ada pembatasan/ditutup.
Juma'at 20 Maret 2020 itu keberangkatan dari Jakarta ke Pontianak sesuai jadwal di tiket jam 12:50 WIB siang, menggunakan Maskapai Lion Air. Dari rumah kontrakan di Ciputat menuju Bandara Jakarta sekitar pukul 8 atau 9 pagi. Kondisi jalan memang agak sepi, tak seperti hari-hari biasanya.
Kalau berangkat seorang diri seperti ini dari Ciputat biasanya ke Terminal Lebak Bulus terlebih dahulu naik Ojek Online. Di Lebak Bulus barulah naik Bus DAMRI menuju Bandara Jakarta. Waktu itu tarifnya masih sekitar 40.000 hingga 50.000 Rupiah. Beberapa bulan kemudian tarif tersebut naik 100%.
Flashback dua hari
sebelumnya…
Rabu, 18 Maret 2020,
kampus kami masih beraktivitas normal seperti biasanya (terutama pegawai).
Walaupun memang semenjak awal Maret sebagian dosen ada yang berinisiatif
melakukan perkuliahan secara online, kemudian ditindaklanjuti oleh fihak kampus
untuk perkuliahan secara online seluruhnya.
Beberapa kampus yang ada di Jabodetabek mulai awal Maret 2020 itu sudah ada yang tegas melakukan perkuliahan secara online. Sementara di media massa sudah terjadi bermacam-macam polemik: mulai ramai yang positif Covid-19, lockdown atau tidak lockdown, dan sebagainya.
Sekira pukul 3 atau 4 petang hari itu, mendadak pimpinan kantor kami menginstruksikan untuk rapat. Rupanya membahas ehwal semakin merebaknya kasus positif virus corona. Serta memberitahukan terkait instruksi rektor untuk bekerja dari rumah hingga dua pekan ke depan, selanjutnya akan ditinjau ulang.
Sambil dalam rapat itu juga berkomunikasi ke isteri terkait perkembangn tersebut. Mengingat juga isteri rencananya akan melahirkan sekira dua pekan ke depan di Pontianak. Jikalau jadi lockdown, perkiraanku mungkin tak dapat ke mana-mana, imbasnya tak dapat melihat kelahiran anak ke-2 ku nantinya.
Dalam ketidakjelasan kondisi masa itu, serta menghindari hal-hal di luar dugaan, bersama isteri akhirnya kami putuskan bahwa aku harus segera balik ke Pontianak. Isteri dan anak sulungku waktu itu memang sudah berada di Pontianak sejak beberapa bulan sebelumnya. Hal-hal yang lainnya nanti difikirkan belakangan hari.
Beberapa saat kemudian isteri langsung pesankan tiket via aplikasi tiket[dot]com. Habis rapat, kami sekantor bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing. Aku sendiri singgah dulu ke ATM BNI di dalam kampus untuk membayar tiket. Sampai di rumah (di Cipayung, Ciputat), buka TV, berita masih polemik corona.
Selain polemik-polemik tersebut di atas, ada juga pro-kontra pembatasan/penutupan rumah ibadah. Tak mau tenggelam dengan polemik-polemik itu, lebih baik mempersiapkan keberangkatan ke Pontianak yang akan ditempuh dua hari ke depan. Kalau mau diikut-ikutkan memang rasanya fikiran kita tak menentu di tengah situasi masa itu.
Kembali lagi ke cerita
naik Bus DAMRI…
Suasana di jalan agak sepi dibandingkan hari-hari biasanya, termasuk juga di Tol. Sekira 45 menit perjalanan Bus DAMRI, sampailah di Bandara Jakarta, check-in, masuk ruang tunggu, kemudian masuk pesawat. Semua penumpang bermasker. Tak hanya bermasker, aku sendiri bahkan sampai pakai sarung tangan.
1 jam 20 menit perjalanan dari Jakarta ke Pontianak. Sampai di Bandara Pontianak, menuju ke kampong kami menggunakan motor/mobil sekira 45 menit. Waktu itu yang menjemput entah abang entah adikku (lupa). Sampai di rumah mertua (hanya beberapa gang dari rumah orang tuaku), disambut isteri, aku bagai pengungsi dari Wuhan.
Sekira sehari dua hari kemudian menghadiri pernikahan anak dari kakak sepupuku di kompleks Kampus UNTAN Pontianak. Memang tak seperti biasanya, orang-orang bermasker, harus cuci tangan, mau bersalaman juga harus disemprot hand sanitizer. Sungguh hal yang baru pada masa itu.
Polemik pembatasan/penutupan rumah ibadah ternyata hinggap juga di masyarakat Pontianak. Bahkan ada beberapa masjid yang tidak selenggarakan Shalat Jum'at. Surau di dekat rumah mertua masih menyelenggarakan Shalat Lima Waktu seperti biasanya, paling-paling kita harus bawa sajadah sendiri, karena karpetnya sudah digulung.
Mau berjumpa dengan
kerabat/teman pun agak berjaga-jaga. Khawatir yang bersangkutan tersebut lagi
membatasi bertemu orang. Jadi aktivitas sehari-hari memang lebih banyak di
rumah, kebetulan juga WFH (Work from Home alias bekerja dari rumah). Awal-awal
itu shalat pun di rumah, Shalat Jum'at pun diganti Shalat Zhuhur (karena
mengira masjid yang akan dituju itu tutup).
Cerita pun disingkatkan. Awal April 2020 kami mempersiapkan persalinan isteri ke satu rumah sakit di Sungai Raya, tepat berada di perbatasan Kota Pontianak-Kubu Raya (administratifnya masuk Kubu Raya, tapi secara sejarah sebetulnya masih merupakan wilayah Kesultanan Pontianak). Saat itu hari Juma'at.
Pergi ke Rumah Sakit menggunakan mobil ojek online, kebetulan drivernya masih kerabat juga, rumahnya tak jauh dari rumah orang tuaku. Yang membawa mobil yaitu anaknya (jadi hanya gunakan akun ayahnya), usianya jauh di bawahku. Sampai Rumah Sakit, sebelum masuk, kami harus ke bilik penyemprotan dahulu dan juga cek suhu. Di Lobby urus administrasi dan minta ditempatkan di Kelas 1 (sudah pengalaman ketika kelahiran anak sulung juga di Rumah Sakit yang sama).
Besoknya, Sabtu 10 Sya'ban 1441 Hijriyyah, anak ke-2 kami lahir, laki-laki. Mungkin sekitar jam 12 siang. Tak boleh ada yang berkunjung. Hari Selasa hampir siang diperbolehkan balik, setelah sebelumnya mengurus administrasinya yang agak membuat pening kepala, karena pakai BPJS.
Balik dari Rumah Sakit
dijemput menggunakan mobil oleh dua anak kemanak dari isteri (anak dari
abangnya) yang juga sekaligus anak kemanakku (abangnya isteriku menikah dengan
kakak sepupuku). Anak sulung kami (perempuan) juga ikut menjemput (waktu itu
usianya 2,5 tahun). Akhirnya sampailah kami di rumah mertua dengan sambutan
penuh sukacita.
Cerita pun disingkatkan saja. Hampir mendekati Nishfu Sya'ban, bahkan setelahnya, masyarakat di kampongku dan sekitarnya nampak masih lesu, mungkin efek Waba' Corona. Tapi semakin mendekati Ramadhan, pelan-pelan masyarakat mulai bertimbulan gairah hidupnya. Entah mengapa.
Dan yang paling dahsyat, kusaksikan sendiri, kelesuan masyarakat karena Waba' Corona itu tiba-tiba hilang, berganti dengan semangat dan sukacita ketika menyambut Ramadhan 1441 Hijriyyah. Jalanan yang tadinya sepi, tiba-tiba ramai masyarakat yang lalu lalang, suasananya hampir mirip ketika menyambut Hari Raya Aidil Fithri. Surau-surau pun penuh jama'ahnya.
Begitu luar biasanya
Bulan Ramadhan memompakan semangat hidup bagi masyarakat Pontianak ketika itu.
Hilang segala kelesuan, berganti dengan gairah menyala-nyala. Ternyata Ramadhan
lah yang diperlukan masyarakat Pontianak saat itu. Yang sebelumnya lemah tak
berdaya, tika menyambut Ramadhan masyarakat bersuka-cita, senang tak terkira,
hilang segala duka lara. *#*
- Hanafi Mohan -
Rabu, 30 Maret 2022
Air dan Negeri Kami
Di kampong halaman kami di Negeri Pontianak, serta banyak negeri di Borneo Barat, kami sehari-hari dari dahulu hingga kini memang terbiasa mengkonsumsi air hujan untuk memasak dan minum. Air sungai, air leding, ataupun air kolam (sumur) hanya digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian, bukan untuk memasak dan minum.
Di Jabodetabek kalau cerita bahwa di banyak wilayah di Borneo Barat sehari-hari gunakan air hujan untuk memasak dan minum, tentu mereka terheran-heran. Sudah terbukti karena pernah cerita macam itu ke beberapa kawan/orang yang dikenal, mereka berasal dari Jabodetabek dan wilayah selain Jabodetabek.
Air tanah di banyak wilayah di Borneo Barat memang kurang bagus kualitasnya, sehingga tidak cocok untuk memasak dan minum. Baru menggali tanah kurang dari semeter saja sudah keluar airnya. Kalau membuat lubang kuburan harus dikeluarkan dahulu airnya hingga kering.
Setelah lubang kuburan yang selesai digali itu dikeringkan airnya, barulah jenazah dapat dimasukkan ke dalam kuburan. Jenazahnya sebelumnya dimasukkan dahulu ke dalam keranda (peti jenazah), barulah keranda berisi jenazah dimasukkan ke dalam liang kubur, kemudian dimakamkan sebagaimana mestinya.
Umumnya seperti itulah kondisi wilayah-wilayah di Borneo Barat (Kalimantan Barat) yang berdekatan dengan sungai dan laut. Beberapa wilayah yang berdekatan dengan bukit dan gunung biasanya air tanahnya dapat dikonsumsi untuk memasak dan minum, tapi harus menggali agak dalam layaknya sumur/perigi. Di antaranya yaitu beberapa kawasan di Negeri Mempawah dan Kota Singkawang.
Kalau dari cerita orang-orang tua kami, dahulunya air sungai juga kadang dikonsumsi (untuk memasak dan minum) oleh masyarakat Pontianak pada masa itu. Masa kecil dahulu kalau Pontianak lagi kemarau, kami kadang juga mengambil air sungai untuk dikonsumsi, mengambilnya agak ke tengah sungai.
Rumah tua kami dahulu (rumah panggung) berada di tepi Sungai Kapuas. Karena abrasi yang semakin melebar, rumah tepi sungai juga terkena imbasnya. Awalnya bawah rumah masih tanah. Belakangan hari bawah rumahnya juga ada airnya, lebih tepatnya kini rumahnya berada di atas air. Atasnya rumah, di bawahnya air.
Menyesuaikan topografi Pontianak, umumnya masyarakat membuat rumah yang bertiang. Dahulunya berupa Rumah Panggung. Belakangan hari jarang yang membuat Rumah Panggung, tapi tetap saja membuat rumah bertiang. Jadi ada bagian bawah rumahnya berjarak 60 cm hingga 70 cm dari lantai rumah ke tanah.
Di bulan-bulan tertentu, intrusi air asin dari laut ke sungai menyebabkan air sungai menjadi payau, bahkan menjadi masin. Biasanya kalau untuk mandi dan mencuci, air sungai yang payau/masin itu kami campur dengan air hujan. Sabun mandi, shampo, dan sabun cuci semahal apapun biasanya tak mempan di air payau/masin itu.
Masa kecil dahulu, kalau Pontianak lagi kemarau, persedian air hujan di tempayan pun menipis, maka ramai-ramailah kami ke Kantor PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pakai sampan, bawa wadah-wadah yang besar-besar, lalu meminta air leding di situ. PDAM pun menyediakan pipa untuk diambil airnya, daripada pipa-pipa itu dirusak oleh massa yang memerlukan air bersih.
Kini sudah agak jauh berbeda, saluran leding PDAM sudah hampir merata menjangkau se-Negeri Pontianak. Walaupun tetap saja untuk konsumsi masyarakat umumnya masih menggunakan air hujan. Leding biasanya hanya dipergunakan untuk mandi dan mencuci. Yang belum punya leding tentunya menggunakan air sungai/air parit/air kolam/air sumur untuk mandi dan mencuci.
Ditambah lagi kini air mineral isi ulang (air galon) juga sudah hampir merata dijual di setiap pelosok kampong, jadi problem kemarau seperti dulu-dulu tak lah lagi ada kini. Maksudnya, kalaupun masuk musim kemarau kini, tapi tentu tak sesulit macam masa-masa dahulu kalau terjadi kemarau.
Di negeri kami, hampir merata atap rumah itu terbuat dari seng. Kalau dulu-dulu atap rumah biasanya menggunakan atap sirap (terbuat dari kayu belian/kayu ulin/kayu besi ataupun kayu mabang). Yang lebih sederhana lagi biasanya menggunakan atap daun yang terbuat dari daun pokok sagu ataupun pokok nipah. Karena hampir merata atap-atap rumah di Pontianak itu berbahan seng, maka berefek pada suhu di siang hari. Panas matahari di Pontianak sungguh menyengat (kata orang Pontianak “panas bedengkang”), kemudian ditambah lagi efek dari atap seng, maka suhu di siang hari semakinlah bertambah-tambah panas menyengat alias panas bedengkang.
Atap rumah di negeri kami ini sebetulnya fungsional sebagai media penadah air hujan, kemudian dialirkan dan ditampung pada wadahnya. Media untuk menampung air hujan itu biasanya berupa tempayan semen dan drum bekas tangki minyak. Kalau sekarang-sekarang ini sudah mulai banyak digunakan penampung air berbahan fiberglass dan semacamnya. Bagi kalangan yang berduit, biasanya sampai membuat penampung air dari beton yang cukup besar, diletakkan di satu sudut rumahnya, bahkan ada yang khusus membuat penampung air dari beton itu diinstalasikan di bagian bawah rumahnya. Dengan demikian, persediaan air hujan dapat mencukupi ketika masuk musim kemarau.
Negeri Pontianak diuntungkan dengan adanya sungai yang besar (Sungai Kapuas) beserta anak sungainya yang juga besar (Sungai Landak). Ditambah lagi banyak anak sungai yang agak lebih kecil serta kanal-kanal (parit) yang juga bermuara ke sungai. Selain itu juga diuntungkan dengan curah hujannya yang deras dan sering (rata-rata per-bulannya 15 hari).
Negeri kami dengan air umpama Mesir dengan Sungai Nil-nya. Bahkan kapal-kapal berukuran besar pun dapat dengan mudahnya masuk dan berlayar di sungai-sungai kami. Keberadaan sumber air yang cukup banyak ini sepatutnya memudahkan fihak-fihak terkait dalam ehwal mengolah air bersih lebih baik lagi ke depannya.
Konsumsi air hujan tetap dapat dipertahankan. Ditambah lagi dengan optimalisasi pengolahan air bersih oleh PDAM melalui cara-cara yang progressif. Tentu hal itu akan ber-impact pada kemudahan masyarakat mendapatkan air bersih, kesehatan, kesejahteraan, dan kemajuan Negeri Pontianak di masa hadapan. #@#
-
Hanafi Mohan -
Rabu, 30 September 2015
Menelisik Jati Diri, Menyibak Tamaddun Negeri
Pada sekitar tahun 2005, pernah menulis suatu makalah sebagai prasyarat mengikuti Intermediate Training pada organisasi mahasiswa ekstra kampus yang saya bergiat di organisasi tersebut ketika itu. Tajuk makalahnya masih ingat betul, yaitu “Teknologi dan Teralienasinya Manusia; Menyibak Relung-Relung Akal dan Hati”. Makalah tersebut khusus membahas mengenai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan organisasi mahasiswa sebagai rumah ke-dua tempat saya berteduh tersebut.
Tulisan saya kali ini bukan ingin mendedah makalah yang dimaksud, hanya kebetulan teringat tajuk makalahnya itu saja. Dan sememangnya pengalaman beraktivitas di organisasi tersebut adalah salah satu tahap kehidupan yang pernah saya jejaki sehingga sampai pada tahap kehidupan kini.
Saya sungguh menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap fase kehidupan yang pernah saya lalui hingga sampai pada fase kini merupakan proses berterus-terusan menelisik jati diri. Segala macam pandangan saya kini adalah akumulasi dari semua fase yang telah dilalui itu. Sehingga saya pun sedikit demi sedikit dapat menyibak tamaddun negeri kampong halaman saya, negeri tempat saya lahir dan membesar diri.
Dilahirkan dan dibesarkan di salah satu negeri Melayu, juga dididik dengan segala macam tunjuk ajar Melayu berikut khazanah adat resam budaya Melayu yang begitu kaya. Setidak-tidaknya itulah jati diri sebagai Budak Melayu yang hingga kini tak pernah sedikit pun meluntur dari kedirian ini, apakanlah lagi sampai tumpas punah ranah berderai terkecai-kecai.
Masa-masa membesar diri di Negeri Pontianak patut saya akui sebagai masa-masa terindah yang pernah diri ini lalui. Dan kemudian masa-masa menempuh pendidikan di Tanah Betawi adalah masa-masa penuh tantangan dan menggoreskan selaksa pengalaman. Bertahun-tahun bermastautin di Tanah Betawi serta menimba ilmu dan pengalaman di negeri tempat bersinggasananya pusat kekuasaan negara ini tak kemudian memupuskan jati diri saya sebagai Budak Melayu Negeri Pontianak. Sebagaimanapun saya di masa kini, tetaplah takkan pernah luntur, bahwa saya tetaplah Anak Wathan Pontianak.
Sebagai salah satu negeri Melayu termuda di antara yang lainnya, Pontianak telah mawjud menjadi negeri yang diperhitungkan dahulu hinggalah kini. Hal itu tiada lain karena perjuangan para pemangku negerinya yang tak kenal lelah demi memartabatkan negeri ini. Dalam usianya yang masihlah muda ketika itu, Negeri Pontianak telah menjelma menjadi bandar utama di Borneo Barat, bahkan menjadi ibu negeri bagi Federasi Borneo Barat.
Pahit, manis, masam, masin, hambar, tawar, sepat, dan kelatnya perikehidupan tentu telah dilalui Negeri Pontianak sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera negeri yang terberkahi ini, bahkan hingga kini serasa kunjung tak ada habisnya menimpa negeri yang sangat dicintai oleh putera-puterinya ini. Tapi Negeri Pontianak bukanlah negeri yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera negeri yang di'azazkan oleh jurai zuriat Rasulullah ini, maka segala macam cabaran itu takkan pernah meluluh-lantakkan negeri yang darussalam ini.
Teringat pula dengan untaian syair Zikir Hadrah yang sentiasa dilaung-laungkan oleh Kelab Hadrah Setia Tambelan setiap kali memperingati Hari Jadi Negeri Pontianak. Syair Hadrah Hari Jadi Negeri Pontianak dimaksud dikarang oleh Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Qasim Mohan (Haji Muhammad Qasim bin Haji Muhammad Bura’i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im). Beliau adalah pemimpin Kelab Hadrah Setia Tambelan ketika itu, juga pernah berkhidmat mengemban amanah sebagai Kepala’ Kampong Tambelan Sampit untuk beberapa masa bakti. Begini tiga bait pertama dari untaian syairnya:
“Maha suci Tuhan melimpahkan hidayahnya
Pada Syarif 'Abdurrahman yang dikehendakinya
Untuk membuka negeri, Pontianak namanya
Satu Tujuh Tujuh Satu Masehi di dalam sejarahnya
Syarif 'Abdurrahman kembali ke daerah
Di sebuah negeri bernama Mempawah
Menemui ayahnya yang pernah beramanah
Menganjurkan membuka negeri menegakkan agama Allah
Tiba di Mempawah ayahanda telah tiada
Hatinya merasa sedih mengenangkan ayahnya
Yang telah beramanah kepada dirinya
Supaya membuka negeri tempat kediamannya”
Jika syair Zikir Hadrah dimaksud dihayati betul-betul, apalagi dibawakan dengan irama yang pas, tentu kita dapat hanyut dalam untaian Riwayat Negeri Pontianak yang 'kan selalu diingat-ingat oleh putera-puteri negeri ini. Untaian syair yang membawa pada perasaan yang begitu khas.
Tiga bait lainnya dalam untaian syair ini juga sedikit menggambarkan suatu episode sejarah yang begitu penting ketika didirikannya Negeri Pontianak. Begini untaian syairnya:
“Sampai di Batu Layang di waktu shubuh hari
Sembahyang dua raka'at serta memuji
Kebesaran Tuhan Rabbul Izzati
Yang dicita-citakan telah dipenuhi
Beliau sepakat melepaskan tembakan
Di mana peluru jatuh di situ didirikan
Daerah Simpang Tiga peluru ditemukan
Di situlah pertama mereka menebang hutan
Syarif 'Abdurrahman bersyukur kepada Tuhan
Amanah ayahanda telah dapat dilaksanakan
Di waktu pertama bekerja menebang hutan
Didirikan Masjid Jami' Sultan Syarif 'Abdurrahman”
Dan tak lupa pada salah satu bait penutupnya menggambarkan harapan dan ‘azam putera-puteri Negeri Pontianak untuk terus dan selalu menggemilangkan negeri yang begitu dicintainya ini. Bait penutup dimaksud berbunyi seperti ini:
“Ya Allah iftahlana Ya Rahman
Berikanlah kami satu kekuatan
Dalam perjuangan menyukseskan pembangunan
Melanjutkan cita-cita Sultan Syarif 'Abdurrahman”
Tarikan negeri ini terhadap masyarakatnya begitulah kental, bagai seorang anak dengan ibundanya. Sebagaimana seorang anak yang begitu akrab pertalian jiwanya dengan ibu kandung yang melahirkannya, sebegitu juga putera-puteri negeri ini dengan Negeri Pontianak sebagai negeri kampong halamannya, negeri tempatnya dilahirkan serta dibesarkan. Segenap jiwa dan raganya rela dikorbankannya demi menjaga marwah negeri ini, demi menjulangkan tamaddunnya yang tak lekang oleh panas, serta takkan pula usang oleh hujan.
Masih begitu banyak yang sepatutnya dilakukan oleh putera-puteri Negeri Pontianak demi semakin memartabatkan negeri ini masa kini hingga ke masa hadapan. Tapi satu yang pasti, jati diri sebagai Anak Wathan Pontianak patut berterus-terusan dipupuk. Luntur jati diri, terbenam pula negeri ini di samudera peradaban dunia.
Kampong halaman kita harus selamat, jangan sampai melintang pukang tak tentu hala tuju di tengah racaunya dunia ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan di Negeri "Bumi Khatulistiwa" ini, maka tentulah kita juga yang akan menjaganya dan menyelamatkannya dari segala macam cabaran.
Semoga kita sentiasa dilimpahkan ketabahan dan kesabaran demi menggilang-gemilangkan negeri yang sama-sama kita cintai ini. Tawfiq serta hidayah dari Allah Rabbul Izzati tentu selalu kita harap-harapkan sebagai penuntun jalan tika gelita. #*#
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 8-16 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 22-30 September 2015 Miladiyyah
Selasa, 29 September 2015
Negeri Gelap Buta
Alkisah suatu negeri
Bertempat di bawah bayu
Hutannya lebat menghijau
Mentarinya terang merandang
Udaranya sejuk membelai
Airnya jernih berkaca-kaca
Alamnya kaya sentiasa makmur
Penduduknya ramah bersahabat
Syahdan zaman beralih masa
Dahulu berdaulat, kini terjajah
Dahulu beraja, kemudian dibenamkan
Dahulu bermartabat, kini di bawah kaki kuasa
Dahulu bertamaddun, alahai sayang kini gelap buta
Di bawah kaki penjajah tak dapat buat apa-apa
Penduduknya hanya deretan angka-angka
Apalah daya, tanah dirampas tinggallah ratapan
Hutan dibakar, kering sudah air mata
Udaranya jerebu, cahayanya asap pekat
Siangnya berselubung hitam
Malamnya berhias rembulan gemintang redup
Demikian kisah Negeri Gelap Buta
Sentiasa berkabut berhias kelam
#*#
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Khamis, 3 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 17 September 2015 Miladiyyah,
17:00-17:31 menjelang petang
Sumber foto ilustrasi: Video #PontianakMelawanAsap
Sabtu, 29 Maret 2014
Bornéo Barat yang Istiméwe
BORNEO BARAT merupekan suatu wilayah yang istiméwe, gitu' ga' ngan negeri-negerinye dan segenap rakyatnye/masyarakatnye. Temasok di antare keistimewean itu adelah karene Borneo Barat merupekan salah satu wilayah di Kepulauan Melayu ni yang punye banyak kerajean/kesultanan yang hingge kini kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan tesebot maseh mawjod di atas dunie ini (di antarenye ade juga’ yang dah tak ade agék). Keberadean kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan itu juga’ bejejak pade ramainye jurai keturonan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan yang dimaksod. Jurai keturonan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat ni nyebar merate di bebagai negeri di Borneo Barat, bahkan tak sikit ga’ yang nyebar ke bebagai negeri laénnye di luar wilayah Bornéo Barat.
Tak payah kalau kite nak tau siape-siape ja’ jurai keturonan bangsawan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat ni, tingok ja’ pade namenye yang name depannye merupekan gelar kebangsawanan yang dimaksod (khusus kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu, selaén ade gelar kebangsawanannye pade name depannye, juga’ ade name keluarge/fam pade name name belakangnye: Al-Qadri/Al-Qadrie dan Alaiydrus/Al-Idrus).
Setelah Sultan Hamid II difitnah, didakwe, diukom, dan dipenjare oleh negare antah berantah yang pekak badak bin pekak beruang ni, negeri-negeri di Borneo Barat pon memasok’ék mase-mase yang gelap buta’. Oleh penguase negare baru yang zhalém ni (melaluék kaki tangannye yang bebelinatan dan betépék'an dose), méntal rakyat/masyarakat Borneo Barat ditekan sedemikian rupe sehingge selalu berade dalam ketetekanan.
Dalam keadean tetekan itu, sesiapepon takde yang berani negak’kan kepala’, kecuali hanye segelintér orang segelintér kaom yang merupekan kaki tangan penguase pusat yang pandai nyerupe dan nyusop, nyembunyi’kan wajah bedosenye, lalu menampak'kan tampangnye yang seakan-akan manusie baék-baék, ciri khas manusie munafiq.
Rakyat negeri jadi merane, gitu’ ga’ halnye dengan para bangsawan kaom kerabat kerajean/kesultanan. Bahkan dalam hal nuléskan namenye, bangsawan kaom kerabat kerajean/kesultanan haros pandai-pandai nyembunyi’kan identitas supaye tadak dianggap sebagai feodalis. Misalkan bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu beserte jurai keturonanye nuléskan name depan “Syarif” disingkat menjadi “Sy” ja’, gitu’ ga’ “Syarifah” disingkat menjadi “Syf” ja’ (gitu’ ga’ dengan jurai keturonan Ahlul Bait laénnye yang selaén bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu). Bahkan ade ga’ yang sampai ngilangkan name depan “Syarif” dan “Syarifah” tu. Gitu’ ga’ dengan name belakang “Al-Qadri”/“Al-Qadrie” kemudian diobah menjadi tak telalu nampak éjean Arab-nye menjadi “Al-Kadri”/“Al-Kadrie”/“Alkadri”/“Alkadrie” ja’, bahkan ramai ga’ yang hanye disingkat menjadi “Alk” ja’.
Sebagaimane yang nimpa’ bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu beserte jurai keturonannye, gitu’ ga’ halnye yang nimpa’ bangsawan kaom kerabat kesultanan-kesultanan/kerajean-kerajean laénnye di Bumi Borneo Barat beserte segenap jurai keturonannye. Misalkan, name depan “Gusti” disingkat menjadi “Gst” ja’, name depan “Radén” disingkat menjadi “Rd” ja’. Ape hal jadi macam itu? Tentunye ade pihak-pihak tetentu yang mberé’kan tekanan méntal sedemikian rupe, bahkan menakot-nakot’ék secare fisik, sehingge para kaom bangsawan berade dalam téror méntal yang bekepanjangan.
Name tu merupekan identitas, gitu’ ga’ gelar kebangsawanan dan name keluarge/fam yang melekat pade name seseorang tu juga’ merupekan identitas. Takde satu pihak manepon yang boléh melarang-larang seseorang atau suatu kaom dalam hal pengasi’an name serte melekatkan gelar kebangsawanan dan name keluarge/fam pade namenye. Hanye negare fasis ja’ yang biasenye betebé’at macam ini ni (melarang name diri’ yang merupekan salah satu penunjok identitas kebangsean seseorang pade suatu kaom/bangse, bahkan sampai-sampai name sejati dari suatu kaom/bangse pon dilarang digunekan, padehal name kaom/bangse yang dimaksod tu merupekan identitas sejati dari kaom/bangse tesebot, kemudian haros digantikan dengan name yang laén yang sesuai dengan keingénan Pusat Kekuasean).
Dan satu yang haros tetap dikedepankan, bagi bangsawan kaom kerabat kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat beserte jurai keturonanye sepatotnye mempunyei derajat akhlaq, derajat keimanan, serte derajat keilmuan yang menjulang puncak. Dengan demikian, identitas negeri dan bangse yang melekat pade namenye tu sepadan dengan kualitas diri’nye, sebagaimane derajat/kualitas istiméwe para pemangku’ negeri-negeri bedaulat di Borneo Barat ni di mase silam. Dengan demikian, sehingge keistiméwean yang dimaksod tetap bejejak dan betapak hingge hari ini di negeri-negeri tanah kelahéran kite, negeri-negeri yang kite junjong serte kite cintei besame-same. Takde laén dan takde bukan ape-ape sebabnye tu, karene sejatinye Borneo Barat semémangnye istiméwe. Borneo Barat yang istiméwe, itulah yang ‘kan selalu menjadi alu-aluan kite besame. [HM]
~ Tanah Betawi, Penghujong Marét 2014 ~
* Catatan ini ditulés lam Bahase Melayu Loghat Pontianak
** Sumber gambar ilustrasi: Album FB Hanafi Mohan
Dimuat di Laman Blog "Arus Deras"
Rabu, 17 Juli 2013
Mengenang Sultan Hamid II ketika Pagi Juma'at 12 Juli 2013
Pagi tadi (Juma’at, 12 Juli 2013), sebak dan haru tika 'kan menulis: “Hari ini, kami mengenang 100 tahun miladmu wahai Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak.”
Entah mengapa, setiap kali akan menulis mengenai Sultan Hamid II, berkecamuk rasa sebak, haru, dan pemberontakan. Rasa itu bergumpal-gumpal. Tiada lain tiada bukan, terkenang akan perjuangan dan pengorbanannya, juga perjuangan dan pengorbanan keluarga besarnya, juga Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat. Lebih daripada itu, dirinya juga kemudian menjadi korban dari persekongkolan jahat golongan-golongan yang mengatasnamakan “RI-Jogja”/"NKRI"/Kaum Unitaris-Republikan.
Dia-lah harapan terakhir Negeri Pontianak setelah Ayahandanya dan semua saudara-saudara laki-lakinya dibantai dibunuh oleh Balatentara Jepang. Iya, betul, tiada lain dan tiada bukan, Jepang yang dimaksud yaitu Jepang Si Saudara Tua-nya NKRI itu. Si Saudara Tua-nya NKRI tersebut memang berhasil membantai habis Satu Generasi Emas Borneo Barat ketika itu.
Satu Generasi Borneo Barat memang berhasil dibantai habis oleh Si Saudara Tuanya NKRI itu. Sungguhpun begitu, Negeri-Negeri kami masih tegak berdaulat. Pangeran Syarif Hamid Al-Qadrie ketika itu masih mendekam di penjara sebagai tahanan perang, dipenjarakan oleh si saudara tua-nya NKRI itu.
Selepas bebas dari penjaranya Jepang, tak lama kemudian beliau ditabalkan menjadi Sultan Pontianak ke-VII. Kesultanan Pontianak pun menata diri. Begitupun Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan lainnya se-Borneo Barat juga menata diri, Sultan/Raja/Panembahan baru juga ditabalkan.
Jepang si saudara tua-nya NKRI itu memanglah berhasil membantai habis para pemimpin Negeri-Negeri kami, tapi Borneo Barat terus bergerak. Selepas Saudara Tuanya NKRI itu berhambos, Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat pun menata diri, dan kemudian tegaklah Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat. Di masa-masa itu, Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat begitulah aman, damai sentausa, dan sejahtera, berbanding terbalik dengan Negeri-Negeri lainnya yang masih bergejolak.
Ternyata, petaka menghadang di depan. Petaka itu datang dari saudara mudanya Jepang, yaitu NKRI, yang kala itu masih bernama RI-Jogja. Cerita selanjutnya dapat ditebak, Borneo Barat kemudian menjadi wilayah jajahan RI-Jogja/NKRI, setelah sebelumnya RI-Jogja/NKRI memerangkap dan memenjarakan Sultan Hamid II. Dan hingga kini Borneo Barat masih berada di bawah kekangan penjajahan RI-Jogja/NKRI, masih dijajah oleh RI-Jogja/NKRI si saudara mudanya Jepang itu.
Borneo Barat takkan tinggal diam. Borneo Barat terus bergerak. Di Seabad Sultan Hamid II ini, semangat itu berkobar-kobar. Kami mau dan kami bisa.
"Kami mau, dan kami akan melakukannya sendiri. Kami akan mencapainya." [petikan pidato Sultan Hamid II ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag – Belanda, 1949]
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 3-4 haribulan Ramadhan sanat 1434 Hijriyah /
Bertepatan dengan tarikh 12-13 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
*Tulisan ini sebelumnya merupakan Tweet pada Linimasa Akun Twitter @hanafimohan pada tanggal 12 hingga 13 Juli 2013*
Sumber gambar ilustrasi: Album "Gambar Garis Masa" Fans Page "Sultan Hamid II"
Tulisan ini dimuat kembali sebagai tulisan utuh di: Laman Blog "Arus Deras"
Selasa, 16 Juli 2013
Dari Peringatan Seabad Sultan Hamid II
12 Juli 1913 adalah hari lahirnya Sultan Hamid II. Pada tahun ini (2013), genap seabad kelahiran beliau (12 Juli 2013). Dalam rangka memperingatinya, Yayasan Sultan Hamid II bekerjasama dengan ramai pihak menyelenggarakan “Peringatan Seabad Sultan Hamid II” yang dilangsungkan di Pontianak Convention Centre (PCC), Jum’at, 12 Juli 2013. Acara dimulai pada jam 15.30, hingga kemudian berakhir pada jam 18.30. Peringatan Seabad Sultan Hamid II ini dirangkai dengan Launching Buku Biografi Politik Sultan Hamid II yang berjudul: Sultan Hamid II; Sang Perancang Lambang Negara “Elang Rajawali - Garuda Pancasila”.
Menurut pantauan Panitia, yang datang menghadiri acara ini sekitar 1000-an orang dengan animo yang sangat besar, demi menantikan buku biografi seorang pahlawan Kalimantan Barat dalam kancah nasional dan internasional.
Saat pembukaan acara, kata sambutan pertama disampaikan oleh salah seorang dari Tim Penulis, yaitu Anshari Dimyati yang juga sekaligus merupakan Ketua Umum Yayasan Sultan Hamid II (Anshari Dimyati merupakan peneliti mengenai tuduhan makar terhadap Sultan Hamid II, dan dibuktikan sebaliknya bahwa Sultan Hamid II tidak bersalah secara hukum). Diperkenalkan juga Penulis lainnya, yaitu Turiman Fachturahman Nur (peneliti Lambang Negara Indonesia kaitannya dengan Sultan Hamid II, satu-satunya peneliti lambang negara di Indonesia). Kemudian penulis lainnya yaitu Nur Iskandar, merupakan jurnalis senior yang sudah malang melintang menulis dan melakukan riset di lapangan.
Kata sambutan kedua oleh Walikota Pontianak (H. Sutarmidji SH, M.Hum), kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video sejarah lambang negara buatan resmi Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Museum Konferensi Asia-Afrika. Masyarakat Kalimantan Barat yang hadir ketika itu dengan hikmat menonton video lambang negara rancangan Sultan Hamid II.
Setelah itu keynote speech disampaikan oleh Tokoh Nasional yang berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar), yaitu Dr.(Hc.) Oesman Sapta Odang, yang juga merupakan mantan Wakil Ketua MPR-RI periode 1999-2004. Kemudian Launching (peluncuran) Buku Biografi Politik Sultan Hamid II, yang diluncurkan/diresmikan oleh Gubernur Kalbar atau yang mewakili. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat Kalbar, tokoh-tokoh masyarakat, cendekiawan, pemuda, mahasiswa, civitas akademika, sosiolog, budayawan, sejarawan, dan banyak macam elemen-elemen masyarakat di Kalimantan Barat. Masyarakat Kalbar antusias menanti buku Biografi Sultan Hamid II yang merupakan sang pahlawan Kalbar dan tokoh nasional dari Kalbar.
Anshari Dimyati mengatakan, bahwa Sultan Hamid II adalah pahlawan Indonesia. Kiprah politik pemikiran kenegaraannya (sebagai seorang negarawan) tidak pudar hingga hari ini, selain beliau juga merupakan perancang lambang negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Karirnya pernah menjadi Menteri RIS tahun 1949-1950, sempat pula menjadi Ketua BFO (Majelis Permusyawaratan Negara-Negara Federal), sebagai perwakilan BFO dalam Konferensi Meja Bundar/KMB (1949) bersama Mohammad Hatta (perwakilan RI-Jogja) & Van Marseeven (perwakilan Belanda), dan Sultan Hamid II sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat/DIKB (1947-1950), serta sebagai Sultan Pontianak ke-VII (1945-1978).
Dikatakan oleh Anshari Dimyati bahwa secara yuridis normatif/yuridis materil Tim Penulis sudah membuktikan secara hukum bahwa Sultan Hamid II adalah Sang Perancang Lambang Negara secara sah. Dan Sultan Hamid II tidak terbukti melakukan pemberontakan atau makar yang dituduhkan oleh Pemerintah Indonesia kepadanya. Sudah sepatutnya nama baik Sultan Hamid II dibersihkan secara hukum/yuridis formal, yaitu untuk menghapus stigma negatif Sultan Hamid yang selalu dinyatakan sebagai pemberontak/pengkhianat negara. Tentunya semua itu bisa dilakukan dengan dukungan dari elemen-elemen Kalimantan Barat dan Indonesia. Anshari Dimyati menambahkan bahwa buku Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara ini adalah dalam rangka memperingati Satu Abad Kelahiran Sultan Hamid II (12 Juli 1913-12 Juli 2013).
Kemudian Walikota Sutarmidji menyatakan bahwa Pemerintah Kota Pontianak mengakui, menghormati, dan mengajak masyarakat Pontianak dan Kalbar untuk mendukung Pahlawan dari Kalbar. Kemudian beliau pun mendukung upaya-upaya pemulihan nama baik Sultan Hamid II dan upaya-upaya mendorong diakuinya Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara secara resmi dari Negara.
Selanjutnya Oesman Sapta Odang (OSO) menyatakan bahwa Sultan Hamid II berperan besar ketika memperjuangkan kedaulatan Indonesia. Beliau pun bercerita tentang bagaimana kisah hidupnya bersama Sultan Hamid II. Beliau adalah seorang kader dan seorang yang pernah dididik oleh Sultan Hamid II. Tokoh Nasional asal Kalbar yang akrab dipanggil OSO ini menyebutkan bahwa Sultan Hamid II adalah orang yang cerdas, berwibawa, disiplin, dan seorang yang memegang prinsip. Dan OSO pun mendukung perjuangan untuk mengangkat marwah Sultan Hamid II.
Amanah Gubernur Kalimantan Barat bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang baik dan patut terus dilanjutkan, karena Sultan Hamid II merupakan seorang Bumiputera KALBAR yang telah membawa nama harum Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat.
Acara pun dilanjutkan dengan spontanitas/testimoni para tokoh-tokoh Kalbar yang hadir dari berbagai macam kalangan elemen masyarakat. Seperti Baroamas Masoeka Jabang Janting, akrab dikenal dengan Masoeka Janting, yang kini berumur 89 tahun. Masoeka Janting adalah tokoh masyarakat Dayak yang berasal dari Kapuas Ulu, Kalbar. Beliau merupakan seorang yang cukup dekat dengan Sultan Hamid II. Ia juga menyebutkan bahwa Sultan Hamid II begitu dekat dengan masyarakat/rakyat. Testimoni dilanjutkan oleh Gusti Suryansyah (Raja/Panembahan Kerajaan Landak yang sekaligus merupakan Ketua Forum Komunikasi Keraton Nusantara-Kalbar) dan juga oleh Prof. Dr. Syarif Ibrahim Al-Qadrie, M.Sc. (Guru Besar Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat).
Pada Peringatan Seabad Sultan Hamid II dan Launching Buku Biografi Politik Sultan Hamid II ini hadir juga mantan sekretaris pribadi Sultan Hamid II yang sekaligus merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Hamid II, yaitu Haji Max Yusuf Al-Qadrie. Yang menandatangani peluncuran buku yaitu: Walikota Pontianak, Gubernur Kalbar atau yang mewakili, Oesman Sapta Odang/Tokoh Nasional KALBAR, Max Yusuf Al-Qadrie, dan tiga orang penulis (Turiman Fachturahman Nur, Anshari Dimyati, dan Nur Iskandar). Media Lokal dan Nasional pun (serta media pemerintah) juga begitu banyak yang meliput Peringatan Seabad Sultan Hamid II ini.
Launching Buku berlangsung hikmat dan penuh semangat. Diakhiri dengan buka puasa bersama dan makan malam. Ke depannya, Launching Buku ini akan ditindaklanjuti dengan Bedah Buku Biografi Politik Sultan Hamid II. Animo masyarakat begitu sangat besar menunggu hadirnya Buku Biografi Politik Sultan Hamid II ini. Dan masyarakat Kalbar berharap bahwa Sultan Hamid II dapat diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ide otonomi penuh (otonomi seluas-luasnya) dan perjuangan federalisme juga tak dapat dipisahkan dari apa-apa yang pernah diperjuangan oleh Sultan Hamid II. Dengan begitu Indonesia dapat menjadi negara yang demokratis dan menjunjung tinggi hak ber”serikat”. [~Hans~]
Tulisan ini merupakan hasil dari wawancara via telepon dengan Anshari Dimyati (salah seorang dari tim penulis Buku Biografi Politik Sultan Hamid II, sekaligus merupakan Ketua Umum Yayasan Sultan Halmid II)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Juma'at - 3 Ramadhan 1434 Hijriyah /
Bertepatan dengan 12 Juli 2013 Miladiyah
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sumber Foto: Album Foto "Peluncuran Buku Biografi Politik SULTAN HAMID II" oleh Dony Oesman dan Album Gambar Garis Masa Facebook Hanafi Mohan
Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"
Minggu, 07 Juli 2013
[Undangan] Launching Buku "Biografi Politik Sultan Hamid II" dalam rangka "Peringatan Seabad Sultan Hamid II"
Hadirilah beramai-ramai...
Launching Buku "Biografi Politik Sultan Hamid II"
dalam rangka "Peringatan Seabad Sultan Hamid II"
(12 Juli 1913 - 12 Juli 2013),
yang insyaALLAH akan diselenggarakan pada:
Dimulai dari jam 15:00 (jam 3 sore) hingga selesai,
dirangkai dengan Buka Puasa Bersama dan Makan Malam
Bertempat di : Pontianak Convention Center (PCC)
Jalan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie Nomor 7-9
Negeri Pontianak - BORNEO BARAT
Terima kasih atas perhatiannya.
Tabék
YAYASAN SULTAN HAMID II
(Sultan Hamid II Foundation)

Undangan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"
Senin, 25 Februari 2013
Sang Penggawe
Pawana nan lembut berhembus di bawah naungan khatulistiwa di tengah hari buta. Walau sedang panas bedengkang, tapi belaian kasih sayang dari angin di tepi Sungai Tua begitu melenakan raga, membuat pikiran berkelana entah ke mana. Entah ada atau tidak puaka buas yang sedang mengintai di laman bermain budak-budak laot itu. Entah apa pula amuk prahara yang bakal terjadi di Negeri Khatulistiwa Bertuah, di semesta hamparan Benua Hujung Tanah.
Jikalau roda waktu memanglah bisa diputar ulang, atau manusia bisa melompat-lompat antar satu dimensi waktu ke dimensi waktu yang lainnya, tentu diri ini ‘kan bergegas berdesut menuju beberapa tahun silam, bahkan berpuluh-puluh tahun silam, bahkan berabad-abad silam. Tiada sesiapa yang nak dijumpai, kecuali para Tetua Kampong Timbalan Raje, atau mungkin Para Pemangku Negeri yang beristana di Simpang Tiga Pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, atau mungkin Para Leluhur Benua yang hutannya lebat menghijau dengan sungainya yang lebar-lebar, panjang-panjang, dan beranak-anak bercabang-cabang.
Entah bilakah masanya lagi bisa menjejakkan kaki di sempadan berwarna merah jingga. Di sempadan itu kilau berpendar pancarona, di antara siang dan malam, tika teja berarak kala senja nan syahdu. Seakan-akan roda waktu berputar laju lintas melintas dimensi demi dimensi. Kilasan demi kilasan yang ganti berganti hadir seperti ketika berdiri sendiri di kopol yang menjadi saksi bisu lembaran sejarah, sambil menanti kumandang nan sayup dari mihrab di tepi simpang tiga bermulanya negeri.
Negeri kami berjodoh dengan hilir Sungai Kapuas dan hilir Sungai Landak yang di perjumpaan kedua sungai tua itu berasal-mula berdirinya Negeri/Kesultanan kami. Negeri kami pun berjodoh dengan garis edar matahari yang dari garis lintangnya itu membelah bumi menjadi dua bagian: utara dan selatan. Jadi negeri kami adalah negeri yang berada tepat di dua belahan dunia, yaitu berada di belahan bumi utara sekaligus berada di belahan bumi selatan.
Di dalam Negeri Pontianak, tak jauh dari kawasan Istana Qadriyah (Istana Kesultanan Pontianak), terdapat suatu Kampong yang didirikan oleh seorang Panglime Kesultanan Pontianak di masa Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Al-Habib Husain Al-Qadrie Jamalullail Tuan Besar Negeri Mempawah. Panglime yang dimaksud bernama Panglime ‘Abdul Ghani (yang bergelar Tok Kaye Mude Pahlawan dan juga Tok Kaye Setie Lile Pahlawan). Panglime ‘Abdul Ghani ini berasal dari Negeri/Kerajaan Siak Seri Inderapura yang kemudian bermastautin di Negeri Pontianak dan mengabdi di Kesultanan Pontianak. Oleh pihak Kesultanan, Sang Panglime dihadiahi untuk membuka suatu kawasan pemukiman yang tak terlalu jauh dari kawasan Istana. Pemukiman itu kini dikenal sebagai Kampong Tambelan – Kelurahan Tambelan Sampit (di dalam Kelurahan Tambelan Sampit terdiri dari tiga kampong, yaitu: Kampong Tambelan, Kampong Sampit/Sampét, dan Kampong Luar).
Pada awal-mulanya Kampong Tambelan bernama Kampong Timbalan Raje. Maksudnya yaitu suatu kampong yang dipimpin oleh seorang Timbalan/Wakil Sultan (di dalam Bahasa Melayu, “timbalan” itu bermakna “wakil”). Wakil yang dimaksud mungkin bukanlah wakil yang sebenar-benarnya wakil, melainkan mungkin perumpamaan bahwa Sang Panglime sangatlah dekat dengan Sang Sultan, mungkin semacam orang kepercayaan sultan (tangan kanan sultan). Di belakang hari, hinggalah kini, Kampong Timbalan Raje lebih dikenal oleh masyarakat Pontianak dengan nama Kampong Tambelan. Nama Panglime ‘Abdul Ghani sendiri sebagai perintis Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan) hingga kini diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kampong Tambelan, yaitu Jalan Panglima Abdul Rani/Jalan Panglima A. Rani (penulisan yang betul sesuai dengan dialek/logat Bahasa Melayu Pontianak dan juga sesuai dengan Bahasa Arab semestinya yaitu “Panglime ‘Abdul Ghani”).
Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan) kemudian berkembang menjadi suatu kawasan berkebudayaan Melayu yang begitu kental dan khas di dalam Negeri Pontianak – Borneo Barat. Boleh dikatakan bahwa Kampong Timbalan Raje merupakan salah satu kampong terpenting sebagai pembentuk kultur Melayu Pontianak. Dan itu hingga kini bisa dilihat di dalam kehidupan masyarakatnya, baik itu dalam hal-ehwal Bahasa Melayu Pontianak, seni tradisinya, budayanya, kultur keagamaannya/keislamannya, dan sebagainya berkenaan dengan Adat Resam Budaya Melayu Negeri Pontianak. Masyarakat Melayu Kampong Timbalan Raje sendiri merupakan perpaduan dan pembauran berbagai macam keturunan Puak Melayu Borneo dan kepulauan di sekitarnya, Puak Melayu Sumatera dan kepulauan di sekitarnya, Puak Melayu Riau/Kepulauan Riau beserta kepulauan di sekitarnya, Puak Melayu Semenanjong Tanah Melayu dan kepulauan beserta kawasan di sekitarnya, dan mungkin masih banyak lagi perpaduan dan pembauran keturunan yang dimaksud itu.
Teringat dengan Kampong Timbalan Raje, maka teringat pula dengan seorang tetua di kampong ini yang masih berdarah keturunan dari perintis kampong ini yang telah dijelaskan di atas (masih berdarah keturunan dari Panglime ‘Abdul Ghani). Allahyarham Al-Mukarram Al-Ustadz H.M. Kasim Mohan (Haji Muhammad Qasim ibnu Haji Muhammad Buraa'i ibnu Haji 'Adnan ibnu Haji Ahmad), beliaulah guru kami yang akan selalu kami kenang sepanjang hayat. Beliau berintuisi seni yang begitu tinggi, serta berkepedulian yang begitu besar dalam menjaga eksistensi seni budaya Melayu Pontianak. Beliau adalah seorang 'ulama, mantan Kepala' Kampong (Penggawe), pejuang (veteran perang), serta juga guru silat Melayu, seniman, dan budayawan. Melalui tangan dinginnya, kami dididik dalam kemuliaan akhlaq Islam dan keluhuran adat resam budaya Melayu.
Beliau mengajarkan kami lantunan Syair, Pantun, Nazam, Burdah, Ghazal, dan Zikir Hadrah. Selain itu, keanggunan tarian Redat Hadrah (Rudat Hadrah) juga diajarkannya kepada kami.
Dari didikan Beliau yang tak kenal lelah dan tak kenal henti sepanjang hayatnya, sehingga jadilah kami Budak-Budak Melayu yang begitu mencintai seni budaya Melayu; dari seni musik, tari, sastera, hingga silat. Selain sebagai guru seni, beliau juga adalah guru agama yang mencerahkan kami. Ilmu Tarikhul Islam, Khat Arab Melayu, dan juga ‘Ulumul Hadits adalah ilmu yang diajarkannya kepada kami di Madrasah Diniyah Awwaliyah Haruniyah – Negeri Pontianak - Borneo Barat. Selain sebagai guruku, beliau juga merupakan Pak Mudeku (pamanku), abang tertua dari Almarhum Ayahku. Kami biasa memanggilnya Yah Long Kasém/Qasim ("Long" atau "Along" adalah panggilan untuk anak tertua/sulung. "Yah" adalah singkatan dari kata "ayah". Bagi kami, paman-paman kami juga adalah seperti ayah kandung kami sendiri).
Beliau merupakan seorang autodidak yang mengagumkan, sekaligus juga seorang multitalenta yang berdedikasi tinggi. Ia menguasai berbagai alat musik seperti: gitar, contrabass/double bass/upright bass (Orang Melayu Pontianak menyebutnya bass tongkang atau kalau di Tanah Betawi/Jakarta disebutnya bass betot), biola, akordion, halmanian (harmonium), serta beberapa instrumen perkusi seperti tar (rebana) dan gendang Melayu. Suaranya juga begitu merdu ketika bernyanyi dan bersyair Melayu, qasidah dan syair hadrah, burdah, barzanji, dan qira’ah Al-Qur’an.
Semenjak kecil, kami sudah ditanamkan kesadaran yang begitu rupa untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya kami. Keluarga besar kami adalah sedikit dari keluarga yang memiliki kesadaran tinggi untuk hal ini. Orang yang berada di garda terdepan dalam hal ini tiada lain dan tiada bukan adalah Yah Long. Pak Mudeku yang pernah beberapa periode menjabat sebagai Penggawe Kampong kami ini, di masa mudanya adalah seorang perantau, pernah menjejaki Pulau Jawa, Negeri Banjar (Borneo Selatan), bahkan hingga ke Negeri Siam (kini Thailand). Pak Mudeku yang tertua inilah yang mendidik kami Budak-Budak Melayu Negeri Pontianak ini untuk selalu menjaga marwah bangsa kami (Bangsa Melayu). Sedari kecil kami selalu dididiknya untuk hal ini. Kami melalui ketelatenan Yah Long sudah menjadi Duta Budaya Melayu sejak usia belia.
Yah Long Kasém akan selalu diingat oleh orang-orang di kampongku sebagai seorang pelestari dan penggiat seni budaya Negeri dan Bangsa kami. Di tengah derasnya hantaman budaya asing yang menyerbu menggilas setiap sendi kehidupan anak bangsa, Yah Long menjadi pahlawan bagi kami, sosok yang berdiri pada garda terdepan dalam hal menghalau serbuan demi serbuan budaya asing.
Bagi kami, Beliau adalah orang tua yang senantiasa membimbing kami untuk tegak berdiri menjaga marwah Bangsa Melayu. Beliau adalah guru kami yang selalu mendidik kami dengan ketinggian budi pekerti, dengan keindahan seni budaya Melayu yang mempesona.
Sosoknya mungkin takkan pernah tergantikan di hati kami. Dari tangan dinginnyalah kami kemudian menjadi Putera-Puteri Bangsa Melayu yang 'kan selalu bangga dengan seni budaya Negeri dan Bangsa kami. Melalui dirinyalah, kami merasa beruntung dan bahagia telah dilahirkan sebagai anak-anak orang Melayu, budak-budak yang dibesarkan dalam lingkungan Budaya Melayu yang begitu kental.
Beliau yang mengagumkan itu bisa memainkan berbagai alat musik dengan kedua tangannya secara berganti-gantian. Kalau sedang memainkan Tar misalkan, letih tangan sebelah kanan "menampar-nampar" kulit permukaan Tar itu, maka beliau masih bisa mengandalkan telapak tangan kirinya untuk memukul-mukul instrumen perkusi yang bunyinya membahana itu, perkusi yang bisa menggeletarkan semesta rasa, perkusi yang jika didengar bisa menimbulkan gairah dan semangat begitu rupa, perkusi yang selalu memunculkan kerinduan purba bagi Anak Melayu yang pernah mendengarkannya.
Yah Long yang Ahli dan Pendekar Silat itu memiliki gerak refleks yang tak diduga-duga. Kalau Beliau sedang tidur, maka jangan coba-coba membangunkannya secara langsung dengan cara menyentuhnya, karena dipastikan orang yang membangunkannya itu akan terpental kena pukulan refleksnya. Lalu bagaimana pula kalau mau membangunkannya? Ya sudah, daripada terkena dampak dari gerak refleksnya itu, maka kalau mau membangunkannya cukuplah dilemparkan entah barang apa ke tubuhnya yang sedang terlelap itu (disarankan barang yang ringan).
Sang Penggawe yang bersuara indah dan lantang ini, yang oktaf suaranya berada di atas rata-rata awam, yang jika berteriak maka kecutlah hati yang mendengarnya, kalau kebetulan Beliau sedang mendengarkan musik (entah musik apapun itu, dari Musik Melayu sampaikan Musik Rock), maka bergerak-geraklah ujung telapak kakinya mengikuti irama dan tempo musik yang didengarnya itu (istilah Orang Melayu Negeri Pontianak-nya yaitu "ngemat").
Masih lekat di semesta ingatan akan irama Ayat-Ayat Suci yang dibacanya setiap kali beliau menjadi imam sembahyang berjama’ah yang aku merupakan salah seorang ma’mumnya. Sebagaimana murid terhadap gurunya, biasanya sesuatu yang sangat khas dari sang guru tentu ‘kan selalu diingat oleh si murid. Setiap kali menjadi imam sembahyang berjama’ah, selalu irama baca Al-Qur’an ala pak mude nan guruku yang Penggawe itu yang kubawakan.
Dia, Penggawe yang dihormati oleh kawan, serta disegani oleh lawan. Penggawe yang sentiasa menyayangi dan menaungi para pemuda, menyayangi dan menaunginya dengan pemahaman akan kegemilangan Budaya Melayu serta kemuliaan akhlaq Islam.
Aku memang tak terlalu dekat dengan beliau. Tapi sungguh begitu banyak moment-moment berharga bersamanya, selayaknya seorang anak kemanak terhadap pak mudenya, selayaknya seorang murid terhadap gurunya. Beliau membesarkan jiwa-jiwa yang tadinya kecil menjadi kokoh dan tegar, melatih ketakutan yang tersembunyi menjadi keberanian untuk maju ke hadapan.
Kami takkan pernah menyia-nyiakan apa-apa yang telah diperjuangkannya. Memori kolektif kami akan Beliau itu niscaya 'kan menjadi kekuatan hati pada masing-masing diri kami untuk membangun Tanah Kelahiran kami--Tanah Tumpah Darah kami--Negeri Para Leluhur kami, sehingga menjadi lebih baik lagi kini dan ke masa mendatang. [Aan]
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Januari – Februari 2013
(penyuntingan akhir pada Senin, 25 Februari 2013)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sumber Foto: Dokumentasi Oka Vest



.jpg)



.jpg)
.jpg)

.jpg)
















