Sabtu, 08 Agustus 2009

[Cerbung Senja Merah Jingga] 22- Rumah Tua

Rumah yang pernah kudiami adalah rumah tua peninggalan keluarga besarku dari garis ibu (tepatnya dari kakek sebelah ibuku). Kakekku dari sebelah ibu adalah saudara kandung dengan nenekku dari sebelah ayah. Sehingga, saudara-saudara dari ayahku sebagian besar juga memang pernah tinggal di rumah keluarga besarku ini. Yang terakhir menempatinya adalah keluargaku. Apalagi memang dari kedua jalur (ayah dan ibuku), keluargaku begitu sangat erat nasabnya.

Rumah ini begitu besar untuk ukuran di kampongku. Selain besar, modelnya juga merupakan model rumah tradisional Melayu, yaitu rumah panggung yang cukup tinggi. Rumah ini berdiri di atas air (tepian sungai). Di bawah rumah karena sangat luang, maka biasa kami manfaatkan sebagai kandang ayam.

Di rumah tua inilah, aku pernah dilemparkan abang sepupuku dari jendela kamarnya. Ini mungkin karena waktu itu aku terlalu nakal. Untungnya yang ada di bawah rumah adalah air dan aku sudah bisa berenang. Tapi cukup sakit juga diberlakukan seperti itu.

Encek, Wak, dan anaknya (yang tak lain adalah abang sepupuku yang melemparkanku dari kamarnya) memang tadinya juga bertempat tinggal di rumah tua ini. Tapi belakangan, Encek dan Wak membuat rumah yang baru yang jaraknya tak jauh dari rumah tua ini, yaitu pas di belakangnya. Karena itulah, rumah tua ini juga kami kenal sebagai rumah laot. Dan sanak keluarga kami yang bertempat tinggal di darat juga memanggil rumah tua ini sebagai rumah laot. Selain itu, kami juga mengenal rumah ulu. Rumah ulu merupakan rumah tua peninggalan keluarga besarku dari garis ayah. Tepatnya dari garis kakek sebelah ayahku. Terakhir yang menempati rumah ulu adalah Yah Long (paman tertuaku) sekeluarga. Namun yang kuingat, ketika aku sudah bisa mengingat-ingat, bahwa pada masa anak-anakku, rumah ulu tersebut sudah tidak ditempati karena sudah lapuk dimakan usia.

***

Ketika kelas 2 SMP, keluargaku pindah dari rumah tua yang sudah reyot itu. Saat yang menyedihkan bagiku, karena harus meninggalkan rumah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Di saat-saat kemudian, aku sering memimpikan rumah tua itu. Di saat-saat kemudian ketika berada di negeri yang jauh dari kampongku, ketika rasa rindu yang memuncak terhadap kampong halamanku juga terhadap segenap keluargaku, maka di dalam tidur pun aku memimpikan sedang berada di kampongku, dan selalu saja aku bermimpi sedang berada di rumah tua tersebut lengkap dengan semua anggota keluargaku. Rumah tua itu begitu membekas di dalam batinku, bahkan bentuknya secara detail masih sangat kuingat.

Ayahku pernah menceritakan, bahwa leluhur kami berasal dari berbagai macam puak Melayu, baik itu dari Sumatera dan kepulauan di sekitarnya, maupun dari Kalimantan dan kepulauan yang tersebar di sekitarnya. Bahkan mungkin juga leluhur kami ada yang berasal dari Semenanjung Melayu (Malaysia). Selain itu, leluhur kami juga ada yang berasal dari negeri Cina. Yang pasti jika menurut cerita ayahku, bahwa kami adalah orang Melayu dari keturunan berbagai macam daerah dan suku bangsa.

Menurut ayahku, hal ini bisa dilihat dari bentuk rumah tua yang kami diami kala itu. Dari bentuknya sekilas seperti rumah orang Minangkabau dan Riau. Dan memang jika mencermati cerita ayahku, keturunan kami juga ada yang berasal dari Riau dan Minangkabau, bahkan bukan hanya orang biasa, melainkan pembesar dari Kerajaan Minangkabau dan Siak Sri Inderapura-Riau yang hijrah dari dua kerajaan Melayu tersebut karena mungkin kisruh politik yang ada di sana. Tujuan hijrahnya tak lain adalah Kesultanan Pontianak yang ketika itu mungkin baru berdiri. Kemudian mereka mengabdi di Kesultanan Pontianak, sehingga kemudian menurunkan ke keluarga besar kami. Selain itu, ayah juga menceritakan, bahwa leluhur kami juga ada yang berasal dari Banjar (Kalimantan Selatan) dan juga Tionghoa. Hal ini juga bisa dilihat dari tradisi dan adat-istiadat yang masih hidup di dalam keluarga besar kami yang cenderung merupakan campuran tradisi dan adat-istiadat Melayu Riau, Minangkabau, Banjar, dan Tionghoa. Semua mozaik tradisi dan adat-istiadat itu berkelindan menjadi satu, hingga kemudian mewujud menjadi tradisi dan adat-istiadat Melayu Pontianak.

***

Rumah tua yang pernah kudiami itu menyimpan berjuta cerita. Rumah itu menjadi tempat berkumpul keluarga besar kami. Jika terjadi konflik di dalam keluarga besar kami, maka rumah tua itulah yang menjadi tempat untuk berdamai. Tokoh perdamaiannya adalah Encek. Sayang, Encek tak hidup lama. Sehingga belakangan jika terjadi konflik di dalam keluarga besar kami, maka akan habis menguap begitu saja tanpa ada penyelesaian. Yang merasa sakit hati akan tetap sakit hati. Kalaupun sakit hati itu hilang, maka ia hilang sementara saja, hilangnya pura-pura saja, hilangnya tidak tulus. Kalau kemudian tersulut, maka mungkin akan terbakar lagi. Begitu juga kalau ada yang memiliki rasa dendam dan marah.

Semenjak pindah dari rumah tua itu, persahabatanku dengan tiga budak laot semakin merenggang. Entahlah itu karena apa. Padahal, rumah baruku jaraknya tak terlalu jauh dari rumah tua (rumah laot) itu. Rumah baruku letaknya hanya agak ke darat, tidak lagi di tepi sungai. Jaraknya paling-paling hanya berkisar kurang lebih 10 menit berjalan kaki. Setiap sore, ataupun di kala senggang, aku dan abangku ataupun dengan adikku selalu menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah tua itu. Hal ini kami lakukan di kala akan mandi ataupun mengumpulkan kayu bakar. Bagi kami, itulah rumah pertama kami, rumah tempat di mana kami dilahirkan dan dibesarkan, rumah yang menjadi tempat segala suka dan duka bersemayam. Terlalu banyak kiranya kenangan yang telah tertoreh di rumah tua itu. Rumah tua itu seakan-akan telah terpatri di dalam lubuk hati kami. Sehingga di manapun kami berada, rumah itu selalu berada mengiringi setiap gerak langkah hidup kami.

Rumah tua itu penuh dengan kedamaian, walau sesulit apapun kehidupan yang kami hadapi. Ia menawarkan kesejukan, walau sepanas apapun hati kami. Ia menaungi dan meneduhi jiwa-jiwa kami yang terus bergejolak. Ia selalu melindungi kami sebagai penghuninya. Ia memeluk kami dalam dekapan buaian kasih sayang. Ia menyenandungkan kepada kami lagu-lagu indah. Ia memompakan kepada kami ketegaran yang begitu rupa. Di dalamnya bersemayam ketegaran para leluhur kami yang gagah berani nan perkasa.

***

Suatu malam di rumah kami yang baru, aku bermimpi mengenai rumah tua itu. Di dalam mimpi itu tergambar kesedihan dari rumah tua kami yang sudah tak berpenghuni tersebut. Ia seperti dideru angin ribut yang begitu hebat. Di tengah kerentaannya, ia terhuyung-huyung begitu rupa ke sana kemari. Tak ada lagi yang mempedulikannya, malahan sepertinya banyak yang membencinya. Keluarga kami yang pernah menghuninya telah jauh darinya. Tinggallah ia sendiri menanggung segala beban masa lalu yang penuh nostalgia, masa kini yang penuh kesepian, dan masa depan yang semakin mengabur.

Aku terbangun di tengah malam itu. Meleleh air dari sela-sela mataku. Aku begitu merasakan kesedihan rumah tua itu. Besok harinya, kuceritakan mengenai apa yang kumimpikan itu kepada seorang abangku. Ah, itu hanya bunga-bunga tidur saja. Begitulah yang dikatakan abangku. Lalu kuceritakan kepada emak. Ternyata jawaban dari emak agak membuatku lega. Pergilah ke rumah yang pernah kita diami itu, bersihkan ia selayaknya ketika kita mendiaminya dahulu. Begitulah yang dikatakan emak kepadaku. Kemudian juga kuceritakan kepada ayah mengenai mimpiku itu. Ayah mengatakan, bahwa rumah itu sama juga seperti manusia. Ia sebenarnya juga hidup, memiliki jiwa dan perasaan seperti kita. Ia akan merasakan sedih seperti halnya kita. Ia juga bisa bergembira, takut, serta perasaan-perasaan lainnya laksana manusia. Ia akan berbahagia ketika kita berlakukan sebagaimana layaknya. Ketika kita berlakukan dia secara baik, kita jaga dia, kita perhatikan dia, maka dia pun akan berlaku baik, menjaga, dan memperhatikan kita. Ia akan bersedih ketika disisihkan, ditelantarkan, dan diberlakukan secara buruk.

Terus terang ketika itu aku tak terlalu mengerti apa yang dikatakan ayah. Yang ada di pikiranku ketika itu bahwa aku sangat rindu terhadap rumah tua kami itu, rumah tua tempat aku dan saudara-saudaraku dilahirkan dan dibesarkan, rumah tempat di mana kebahagiaan dan kebersahajaan keluarga kami pernah terjalin, terjejak, berkelindan begitu rupa, bahkan terekam dalam ingatan kolektif kami, sehingga kami akan selalu mengingatnya sebagai kenangan yang takkan pernah terlupakan hingga kapan dan di manapun kami berada.

Aku pun bersama abang dan adikku mendatangi rumah tua itu. Ketika kami membuka pintunya, terhamparlah nuansa kesepian dan kemuramdurjaan. Kemudian kami pun memasukinya bagaikan perantau yang telah lama merindukan rumahnya. Kami buka tingkap-tingkapnya selayaknya ketika kami menghuninya. Hembusan angin sungai nan segar membelai-belai wajah kami, yaitu angin sungai yang memang telah akrab dengan kami, angin sungai yang begitu kami rindukan semenjak kami tidak lagi menghuni rumah tua yang berada di tepian Sungai Kapuas itu.

Tidak seperti ketika kami mendiaminya, kini yang ada di hadapan kami tak lebih hanyalah rumah kosong, sepi, dan tak terurus. Segala perabotan di dalamnya telah kami angkut ke rumah kami yang baru. Paling-paling yang tertinggal hanya perabotan-perabotan tua nan lapuk yang tak bisa dipakai lagi. Dia kini juga penuh dengan debu. Lantai-lantainya ada yang sudah berlubang, begitu juga dinding-dindingnya ada yang sudah terlepas. Para’nya (para’ = loteng) kulihat bocor di beberapa bagian. Mungkin karena ada atap yang sudah bocor, sehingga air hujan dengan bebasnya menerobos ke dalam rumah.

Seperti pesan emak, kami pun coba membersihkan dan merapikan barang-barang yang masih tertinggal di dalamnya. Orang-orang yang ada di sekitar rumah tua kami ini keheranan menyaksikan apa yang kami kerjakan. Ya …, mereka tak lain adalah orang-orang yang pernah menjadi tetangga kami ketika kami menghuni rumah itu. Akan pindah lagi kah kalian ke rumah berhantu ini? Begitulah di antara beberapa pertanyaan mereka kepada kami. Mereka mengatakan, bahwa kalau malam, rumah tua kami ini begitu menyeramkan. Ada suara-suara aneh yang terdengar dari dalam rumah tua kami ini. Di antara mereka juga ada yang tak berani melewatinya di kala malam. Begitulah yang mereka paparkan kepada kami.

Ah …, sebegitu takutnyakah mereka dengan rumah tua kami ini? Itulah setidaknya yang ada di benakku ketika itu. Adakah kiranya rumah tua kami ini menakut-nakuti mereka, sehingga mereka menjadi takut terhadapnya? Ada juga di antara mereka yang mengatakan, bahwa kalau mereka terdesak harus melewati rumah tua kami ini di waktu malam, maka ada yang sambil berjalan agak cepat, atau bahkan ada yang berlari ketika melewati rumah tua kami yang tak berdosa dan tak sepatutnya untuk ditakuti itu.

Naifkah mereka? Entahlah, karena yang kuingat, perbuatan seperti itu memang pernah kualami, tapi itu ketika aku masih SD. Pada waktu-waktu tertentu setelah selesai berlatih hadrah ataupun setelah kelompok hadrah kampong kami tampil pada suatu acara, maka ketika pulang ke rumah aku harus melewati kawasan pekuburan kampong kami. Latihan hadrah dan tampilnya kelompok hadrah kampong kami di suatu acara memang lebih seringnya berlangsung pada malam hari. Latihan hadrah biasanya selesai sekitar pukul 10 hingga pukul 11 malam, sedangkan jika kami tampil pada suatu acara, biasanya selesai sekitar pukul 1 hingga pukul 2 malam. Bayangkanlah, pada jam-jam tersebut aku harus melewati kawasan pekuburan kampong kami sendirian, karena memang lebih seringnya aku pulang ke rumah sendirian saja, tak ada yang menemani.

Pada saat-saat seperti ini, aku dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Sebenarnya ada dua ruas jalan yang bisa kulewati untuk menuju ke rumah, yaitu jalan yang melewati kawasan pekuburan kampongku dan jalan di samping Jembatan Kapuas. Tapi lagi-lagi seperti yang telah kusebutkan, bahwa kedua-duanya adalah pilihan-pilihan yang sama-sama sulit. Jalan kawasan pekuburan sudah pasti menyeramkan bagiku ketika itu. Sedangkan jalan samping Jembatan Kapuas bagi penduduk kampongku juga tak kalah menyeramkannya, apalagi dahulunya memang di ruas jalan tersebut sebelum dibangun Jembatan Kapuas juga merupakan kawasan pekuburan, yang kemudian ketika akan dilakukan pembangunan Jembatan Kapuas, kuburan-kuburan yang ada di situ dipindahkan ke tempat yang baru.

Jantungku berdetak kencang ketika akan melewati kawasan pekuburan kampongku pada malam-malam tersebut. Mulutku komat-kamit membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang kuhafal, terutama Surah Al-Falaq dan An-Naas. Semakin dekat ke kawasan tersebut, detakan jantungku semakin kencang. Akhirnya aku pun melewatinya dengan perasaan takut yang tak karuan. Muka terus kuhadapkan ke depan dan tak berani untuk menoleh ke belakang. Perasaan takutku semakin menjadi-jadi ketika ada suara-suara yang mencurigakan ataupun bayangan-bayangan yang berkelebat. Ada saja perasaan-perasaan yang menyelinap, seakan-akan ada yang mengikutiku dari belakang. Kalau sudah seperti ini, otomatis gerak langkahku semakin cepat. Ingin rasanya berlari saja, tapi seakan-akan kakiku tertahan untuk melakukannya. Benakku pun berkata, apa pula kata dunia nantinya, karena tak sepantasnya seorang laki-laki menjadi penakut. Hingga memang yang kuandalkan adalah komat-kamit mulutku yang membaca ayat-ayat Al-Quran.

Lama kelamaan karena begitu seringnya melewati kawasan pekuburan tersebut di malam hari, lambat-laun muncullah rasa berani di dalam diriku ketika melewatinya, pukul berapapun itu. Hal ini juga karena ajaran-ajaran yang diberikan oleh guru madrasah mengenai ketauhidan. Aku pun kemudian cukup berbangga hati ketika itu, karena menjadi salah satu anak kecil yang cukup berani melewati kawasan pekuburan kampong kami tersebut, sementara masih ada orang dewasa ketika itu yang takut melewatinya.

***

Begitulah nasib rumah tua kami yang telah dianggap sebagai rumah berhantu. Sedih kiranya perasaanku, karena rumah tua kami telah dianggap sebagai tempat yang menyeramkan oleh sebagian orang yang tinggal di sekitarnya. Ternyata masih ada orang-orang kampongku yang bersikap naif seperti itu yang hal tersebut tak lain hanya akan semakin menjerumuskan dan mengotori keimanan mereka.

Sementara aku, abangku, dan adikku terus saja membersihkan rumah tua kami. Tak sedikit orang yang menganggap aneh apa yang kami lakukan. Tapi kami abaikan semua ocehan mereka itu. Biarlah mereka meracau sepuas-puasnya, kami akan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Kami terus menelusuri serpihan kenangan kami yang terekam di rumah tua kami ini. Kami ingin ia tetap hidup dalam lembaran kehidupan kami, menerangi jiwa kami, memberikan keteduhan, energi bagi kehidupan kami di masa-masa yang akan datang. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Maret – awal Agustus 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi

Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar