Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Pontianak Singgah Palembang

Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang.

Mudék ke Ulu

Pasangan dari kate “ulu” ielah “mudék”. Kate “mudék” beakar kate dari kate “udék”. Udék bemakne "sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber)", "daerah di ulu sungai", juga’ bemakne "kampong halaman (tempat beasal-muasal)".

Soal Nama Negeri Kita

Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak?

Kampong Timbalan Raje Beserta Para Pemukanya [Bagian-3]

Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya.

Musik Motivasi Setahun Silam

“Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sultan Pontianak; Umara' dan 'Ulama

Kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama.

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir | Meskipun bersilang keris di leher | Berkilat pedang di hadapan matamu | Namun yang benar kau sebut juga benar ||

Jumat, 27 November 2015

Sastera Melayu Itu Berkaidah


Orang Melayu dapat dipastikan rata-rata mengetahui Sastera Melayu, walaupun hanya serba sedikit. Yang paling masyhur adalah Pantun. Selain itu ada juga Syair dan Gurindam. Lebih dari itu lagi ada Nazham, Seloka, Hikayat, Teromba, Talibun, Mantera, dan tentu masih banyak lagi khazanah Sastera Melayu ini jika mau dituliskan satu persatu.

Kini, perlahan tapi pasti, batang terendam Sastera Melayu satu persatu sudah mulai terangkat ke permukaan. Hal dimaksud didukung pula dengan sering diadakannya festival dan pertemuan Melayu se-kawasan. Selain itu, meluahnya media massa akhir-akhir ini (terutama yang berbasis media online/internet) juga ikut menyemarakkan ghirah masyarakat di Alam Melayu kini untuk berpantun-pantun serta bersyair-syair.

Pencapaian-pencapaian yang mungkin belum seberapa ini tentu sedikit banyak membuat kita senang. Tapi cukupkah hanya sampai yang seperti-seperti itu saja pencapaiannya? Dan lalu kita tenggelam dalam berpuas-puas tak tentu hala tak tentu tuju?

Meluah dan melambak-lambaknya ghirah masyarakat dalam bersastera Melayu tentu tak dapat kita pagong-pagong. Tapi memang dalam bersastera Melayu patut menimbang-nimbang kaidahnya yang menyatu dalam untaian madah-madahnya.

Selain itu sudah seharusnya penggalian khazanah Bahasa Melayu juga tetap dikedepankan dalam menuliskan serta melafazkan beruntai-untai kata dan ayat dari bermacam ragam Sastera Melayu dimaksud.

Terlebih-lebih lagi kandungan isi dari madah-madah tersebut kini juga bukan pada tempatnya, tak betul-betul menggambarkan alam pikiran sejati orang Melayu. Tak sebagaimana karya-karya orang-orang terdahulu yang padat berisi menggambarkan betapa tingginya tamaddun Bangsa Melayu.

Sebagian orang-orang kini hanya mematut-matutkan rimanya, sementara kandungan isinya nomor ke sekian. Isinya lebih banyak menyanjung-nyanjung penguasa, juga hal ihwal yang tak bersangkut paut dengan perikehidupan masyarakat Melayu, tak berkait dengan jati diri Bangsa Melayu. Jauh lalulah khazanah Bahasa Melayu mau ikut digalinya juga, yang ada malahan memasukkan kata-kata yang tak betul-betul dipahami pada alam minda Bangsa Melayu.

Kalau sudah seperti demikian adanya, maka tak patutlah kiranya madah-madah yang tak tentu tuju tak tentu bentuk tak tentu rupa itu dimasukkan sebagai bagian dari Sastera Melayu. Tak berkenan juga untuk menyebutnya sebagai karya yang berbentuk salah satu macam Sastera Melayu. Karena sememangnya Sastera Melayu itu terikat dengan kaidah-kaidahnya. Sastera Melayu tak ditulis dan dilafazkan semau-mau hati, melainkan ia-nya ditulis serta dilafaz dengan setinggi-tingginya cita dan rasa Bahasa Melayu, yang bersumber dari semulia-mulianya akal budi serta jiwa Bangsa Melayu yang bertamaddun. #*#


Sastera Melayu khazanah bangsa
Budaya dan bahasa patut dijaga
Supaya jangan punah binasa
Sentiasa gemilang serta berjaya

Bahasa kita penuhlah hikmah
Untuk sampaikan ilmu dan kauniyah
Bertentu tuju meluruskan aqidah
Hinggalah insan berakhlaqul karimah

Tersebutlah sastera tradisi Melayu
Selalu masyhur tiada ‘kan layu
Maknanya dalam menyentuh qalbu
Berisi petuah sudahlah tentu


[Syair Menjulang Pantun]



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Penghujung April 2015



Tulisan ini sebelumnya dimuat di Laman Web Melayu.us



Kamis, 29 Oktober 2015

[Kliping] Pemulihan Nama Baik Sultan Hamid II

Tulisan saya pada kliping ini dimuat di Harian Equator secara bersambung, dengan judul utama: "Pemulihan Nama Baik Sultan Hamid II", dengan Sub Judul: 1) "Tesis Anshari Dimyati yang Teruji" (dimuat pada hari Senin, 30 Januari 2012) dan 2) "Tak Terbukti Bersalah di Mata Hukum" (dimuat pada hari Rabu, 1 Februari 2012).










Versi tulisan lengkap dari klipping ini sebelumnya juga pernah diposting di Laman Blog Arus Deras pada tulisan berjudul "Pemulihan Nama Baik Sultan Hamid II".

Rabu, 30 September 2015

Menelisik Jati Diri, Menyibak Tamaddun Negeri


Pada sekitar tahun 2005, pernah menulis suatu makalah sebagai prasyarat mengikuti Intermediate Training pada organisasi mahasiswa ekstra kampus yang saya bergiat di organisasi tersebut ketika itu. Tajuk makalahnya masih ingat betul, yaitu “Teknologi dan Teralienasinya Manusia; Menyibak Relung-Relung Akal dan Hati”. Makalah tersebut khusus membahas mengenai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan organisasi mahasiswa sebagai rumah ke-dua tempat saya berteduh tersebut.

Tulisan saya kali ini bukan ingin mendedah makalah yang dimaksud, hanya kebetulan teringat tajuk makalahnya itu saja. Dan sememangnya pengalaman beraktivitas di organisasi tersebut adalah salah satu tahap kehidupan yang pernah saya jejaki sehingga sampai pada tahap kehidupan kini.

Saya sungguh menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap fase kehidupan yang pernah saya lalui hingga sampai pada fase kini merupakan proses berterus-terusan menelisik jati diri. Segala macam pandangan saya kini adalah akumulasi dari semua fase yang telah dilalui itu. Sehingga saya pun sedikit demi sedikit dapat menyibak tamaddun negeri kampong halaman saya, negeri tempat saya lahir dan membesar diri.

Dilahirkan dan dibesarkan di salah satu negeri Melayu, juga dididik dengan segala macam tunjuk ajar Melayu berikut khazanah adat resam budaya Melayu yang begitu kaya. Setidak-tidaknya itulah jati diri sebagai Budak Melayu yang hingga kini tak pernah sedikit pun meluntur dari kedirian ini, apakanlah lagi sampai tumpas punah ranah berderai terkecai-kecai.

Masa-masa membesar diri di Negeri Pontianak patut saya akui sebagai masa-masa terindah yang pernah diri ini lalui. Dan kemudian masa-masa menempuh pendidikan di Tanah Betawi adalah masa-masa penuh tantangan dan menggoreskan selaksa pengalaman. Bertahun-tahun bermastautin di Tanah Betawi serta menimba ilmu dan pengalaman di negeri tempat bersinggasananya pusat kekuasaan negara ini tak kemudian memupuskan jati diri saya sebagai Budak Melayu Negeri Pontianak. Sebagaimanapun saya di masa kini, tetaplah takkan pernah luntur, bahwa saya tetaplah Anak Wathan Pontianak.

Sebagai salah satu negeri Melayu termuda di antara yang lainnya, Pontianak telah mawjud menjadi negeri yang diperhitungkan dahulu hinggalah kini. Hal itu tiada lain karena perjuangan para pemangku negerinya yang tak kenal lelah demi memartabatkan negeri ini. Dalam usianya yang masihlah muda ketika itu, Negeri Pontianak telah menjelma menjadi bandar utama di Borneo Barat, bahkan menjadi ibu negeri bagi Federasi Borneo Barat.

Pahit, manis, masam, masin, hambar, tawar, sepat, dan kelatnya perikehidupan tentu telah dilalui Negeri Pontianak sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera negeri yang terberkahi ini, bahkan hingga kini serasa kunjung tak ada habisnya menimpa negeri yang sangat dicintai oleh putera-puterinya ini. Tapi Negeri Pontianak bukanlah negeri yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera negeri yang di'azazkan oleh jurai zuriat Rasulullah ini, maka segala macam cabaran itu takkan pernah meluluh-lantakkan negeri yang darussalam ini.

Teringat pula dengan untaian syair Zikir Hadrah yang sentiasa dilaung-laungkan oleh Kelab Hadrah Setia Tambelan setiap kali memperingati Hari Jadi Negeri Pontianak. Syair Hadrah Hari Jadi Negeri Pontianak dimaksud dikarang oleh Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Qasim Mohan (Haji Muhammad Qasim bin Haji Muhammad Bura’i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im). Beliau adalah pemimpin Kelab Hadrah Setia Tambelan ketika itu, juga pernah berkhidmat mengemban amanah sebagai Kepala’ Kampong Tambelan Sampit untuk beberapa masa bakti. Begini tiga bait pertama dari untaian syairnya:

Maha suci Tuhan melimpahkan hidayahnya
Pada Syarif 'Abdurrahman yang dikehendakinya
Untuk membuka negeri, Pontianak namanya
Satu Tujuh Tujuh Satu Masehi di dalam sejarahnya

Syarif 'Abdurrahman kembali ke daerah
Di sebuah negeri bernama Mempawah
Menemui ayahnya yang pernah beramanah
Menganjurkan membuka negeri menegakkan agama Allah

Tiba di Mempawah ayahanda telah tiada
Hatinya merasa sedih mengenangkan ayahnya
Yang telah beramanah kepada dirinya
Supaya membuka negeri tempat kediamannya


Jika syair Zikir Hadrah dimaksud dihayati betul-betul, apalagi dibawakan dengan irama yang pas, tentu kita dapat hanyut dalam untaian Riwayat Negeri Pontianak yang 'kan selalu diingat-ingat oleh putera-puteri negeri ini. Untaian syair yang membawa pada perasaan yang begitu khas.

Tiga bait lainnya dalam untaian syair ini juga sedikit menggambarkan suatu episode sejarah yang begitu penting ketika didirikannya Negeri Pontianak. Begini untaian syairnya:

Sampai di Batu Layang di waktu shubuh hari
Sembahyang dua raka'at serta memuji
Kebesaran Tuhan Rabbul Izzati
Yang dicita-citakan telah dipenuhi

Beliau sepakat melepaskan tembakan
Di mana peluru jatuh di situ didirikan
Daerah Simpang Tiga peluru ditemukan
Di situlah pertama mereka menebang hutan

Syarif 'Abdurrahman bersyukur kepada Tuhan
Amanah ayahanda telah dapat dilaksanakan
Di waktu pertama bekerja menebang hutan
Didirikan Masjid Jami' Sultan Syarif 'Abdurrahman


Dan tak lupa pada salah satu bait penutupnya menggambarkan harapan dan ‘azam putera-puteri Negeri Pontianak untuk terus dan selalu menggemilangkan negeri yang begitu dicintainya ini. Bait penutup dimaksud berbunyi seperti ini:

Ya Allah iftahlana Ya Rahman
Berikanlah kami satu kekuatan
Dalam perjuangan menyukseskan pembangunan
Melanjutkan cita-cita Sultan Syarif 'Abdurrahman


Tarikan negeri ini terhadap masyarakatnya begitulah kental, bagai seorang anak dengan ibundanya. Sebagaimana seorang anak yang begitu akrab pertalian jiwanya dengan ibu kandung yang melahirkannya, sebegitu juga putera-puteri negeri ini dengan Negeri Pontianak sebagai negeri kampong halamannya, negeri tempatnya dilahirkan serta dibesarkan. Segenap jiwa dan raganya rela dikorbankannya demi menjaga marwah negeri ini, demi menjulangkan tamaddunnya yang tak lekang oleh panas, serta takkan pula usang oleh hujan.

Masih begitu banyak yang sepatutnya dilakukan oleh putera-puteri Negeri Pontianak demi semakin memartabatkan negeri ini masa kini hingga ke masa hadapan. Tapi satu yang pasti, jati diri sebagai Anak Wathan Pontianak patut berterus-terusan dipupuk. Luntur jati diri, terbenam pula negeri ini di samudera peradaban dunia.

Kampong halaman kita harus selamat, jangan sampai melintang pukang tak tentu hala tuju di tengah racaunya dunia ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan di Negeri "Bumi Khatulistiwa" ini, maka tentulah kita juga yang akan menjaganya dan menyelamatkannya dari segala macam cabaran.

Semoga kita sentiasa dilimpahkan ketabahan dan kesabaran demi menggilang-gemilangkan negeri yang sama-sama kita cintai ini. Tawfiq serta hidayah dari Allah Rabbul Izzati tentu selalu kita harap-harapkan sebagai penuntun jalan tika gelita. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 8-16 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 22-30 September 2015 Miladiyyah



Selasa, 29 September 2015

Negeri Gelap Buta


Alkisah suatu negeri
Bertempat di bawah bayu
Hutannya lebat menghijau
Mentarinya terang merandang
Udaranya sejuk membelai
Airnya jernih berkaca-kaca
Alamnya kaya sentiasa makmur
Penduduknya ramah bersahabat

Syahdan zaman beralih masa
Dahulu berdaulat, kini terjajah
Dahulu beraja, kemudian dibenamkan
Dahulu bermartabat, kini di bawah kaki kuasa
Dahulu bertamaddun, alahai sayang kini gelap buta

Di bawah kaki penjajah tak dapat buat apa-apa
Penduduknya hanya deretan angka-angka
Apalah daya, tanah dirampas tinggallah ratapan
Hutan dibakar, kering sudah air mata
Udaranya jerebu, cahayanya asap pekat
Siangnya berselubung hitam
Malamnya berhias rembulan gemintang redup

Demikian kisah Negeri Gelap Buta
Sentiasa berkabut berhias kelam

#*#

Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Khamis, 3 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 17 September 2015 Miladiyyah,
17:00-17:31 menjelang petang



Sumber foto ilustrasi: Video #PontianakMelawanAsap

Jumat, 11 September 2015

Raja Haji Melawat Pontianak


Alkisah maka tersebut perkataan Pangeran Syarif Abdurrahman bin Sayyid Asy-Syarif Husain Al-Qadri. Syahadan adalah Pangeran Syarif Abdurrahman itu bundanya orang Matan. Adapun ia mendapat gelaran Pangeran itu di dalam negeri Banjar tatkala ia beristerikan anak saudara Sultan Banjar yang bernama Ratu Syahar Banun. Syahdan adapun Pangeran Syarif Abdurrahman itu sudah memang ia beristerikan puteri Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Emas Seri Negara. Adalah puterinya yang jadi isteri Pangeran Syarif Abdurrahman itu bernama Utin Candramidi.

Sebermula kata sahibul hikayat ada pada suatu masa Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadri pergi ke Negeri Sanggau maka hendak mudik melakukan perniagaannya. Maka ditahan oleh Panembahan sanggau tiada di berinya mudik ke sekadau. Maka Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadri keras juga hendak mudik maka jadilah perbantahan dengan Panembahan Sanggau itu. Maka dibedilnya perahu-perahu Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadri. Maka Pangeran Abdurrahman Al-Qadri membalas pula. Maka menjadi perang besarlah berbedil-bedilan dengan meriam dan lela azamatlah bunyinya serta sorak tempiknya. Syahdan adalah kelengkapan Pangeran Syarif Abdurrahman besar kecil ada empat puluh buah. Maka kira-kira tujuh hari perang itu maka tewaslah Pangeran Syarif Abdurrahman, lalu undur balik ke Pontianak, maka membuatlah perahu besar. Maka kira-kira lapan bulan bersiap-siap itu, maka Pangeran Syarif Abdurrahman minta bantu ke Riau.

Syahdan apabila Raja Haji Engku Kelana mendengar khabar surat dari Pontianak itu, maka ia pun bersiaplah di dalam negeri Selangor. Tiada berapa hari sampailah ia ke negeri Muntuk. Maka gemparlah negeri Palembang mengatakan Engku Kelana Raja Haji ada di Muntuk. Maka khawatirlah Sultan Palembang yang amat sangat kalau-kalau ia masuk ke Palembang. Maka musyawarahlah Sultan Palembang itu dengan segala menteri-menterinya. Maka sembah segala menteri-menterinya, `Baik kita periksa dahulu jangan kita menyangka-nyangka yang tiada baik dahulu.`

Syahdan maka Sultan Palembang pun menyuruh satu menterinya memeriksa Raja Haji. Maka jawab Raja Haji, "Kita ini hendak pergi ke Mempawah, ziarah ke makam Tuan Besar Mempawah, serta hendak ke Pontianak." Syahdan setelah suruhan Sultan mendengar titah Raja Haji itu, maka ia pun balik mempersembahkan kepada Sultannya. Maka menyuruh pula Sultan Palembang satu kerangkanya membawa wang dan harta, serta makan-makanan pada angkatan kelengkapan Raja Haji itu. Maka Raja Haji pun bertitah kepada suruhan itu katanya, `Kita kirim salam takzim kepada saudara kita Sultan Palembang itu dan kita menerima kasih kepadanya yang amat banyak tiadalah kita masuk kedalam Palembang lagi, karena kita hendak segera berlayar sekadarkan singgah mengambil air dan kayu jua di Muntuk ini, jangan lah saudara kita kecil-kecil hati akan kita.` Syahdan setelah suruhan itu mendengar perkataan Raja Haji itu maka ia pun bermohonlah masuk ke Palembang. Maka lalu dipersembahkannya kepada Sultan segala pesan-pesan Raja Haji itu. Maka Sultan Palembang pun terlalunya sukanya mendengar segala pesan-pesan Raja Haji Engku Kelana itu.

Syahdan maka apabila Raja Haji telah menerima pemberian dari Sultan Palembang itu, serta telah bermuat air dan kayu, maka ia pun berlayarlah ke Mempawah. Maka apabila tiba ke Mempawah maka disambutlah oleh Pangeran Adi Wijaya, iaitu Gusti Jameril, putera Paduka Ayahanda Baginda Opu Daeng Menambon bersama-samalah bersalam-salaman dan bertangis-tangisan, sebab baharu berjumpa-jumpaan dengan sanak saudaranya. Maka Raji Haji pun berangkatlah ziarah kepada makam Tuan Besar Mempawah [1]. Kemudian maka diperjamulah oleh paduka kakanda baginda itu Panembahan betapa adat raja-raja baharu bertemu saudara bersaudara.

Kemudian apabila sudah jumapa-jumpaan itu, maka Raja Haji pun bermohonlah hendak ke Pontianak hendak berjumpa paduka kekanda Utin Candera Midi, iaitu Puteri Opu Daeng Manambun yang jadi isteri Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadri. Maka berangkatlah Raja Haji itu ke Pontianak. Maka apabila tiba ke Pontianak, dipermuliakanlah oleh Pangeran Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri serta di perjumpakannya dengan istrinya Utin Candera Midi. Maka apabila berjumpa keduanya maka bertangis-tangisanlah sebab baharu berjumpa dengan sanak sauidara yang jauh-jauh.

Kemudian maka diberilah oleh Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu akan Raja Haji itu sebuah istana. Maka naiklah Raja Haji itu ke Istana itu serta membawa anak gundiknya serta dengan joget tandaknya. Maka berkasih-kasihanlah Pangeran Syarif 'Abdurrahman dengan Raja Haji itu seperti orang bersaudara betul, serta tiadalah kalinya Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu pergi berangkat berangkat ke istana Raja Haji laki isteri bermain-main joget Jambi. Maka sangatlah sukanya Utin Candera Midi itu akan permainan paduka adinda baginda itu kerana tiada ada di dalam Mempawah dan Pontianak joget yang demikian itu, hanyalah joget Jawa sahaja yang ada. Demikian lagi Raja Haji pun demikian tiada juga kalinya tia-tiap hari berjumpa dengan Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu bergurau bersenda bersuka-sukaan.

Syahadan kata sahibul hikayat maka tiada berapa lamanya maka Pangeran Syarif 'Abdurrahman pun berkhabar kepada Raja Haji hal-ehwal bergaduh dengan Panembahan Sanggau itu, "Sudah lebih delapan bulan orang Pontianak tiada boleh berniaga ke Sengkadau lagi. Adapun sebab berhenti perang sebab lagi bersiap-siap berbuat kelengkapan perang kerana dahulu dicuba berperang maka tewaslah saya sebab kelengkapan tiada dengan sepertinya, lagi pula orang-orang saya pun tiada yang bersungguh mau bersusah-susah itu." Syahadan apabila Raja Haji mendengar khabar Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu maka jawabnya, "Apalah lagi kita panjang-panjangkan lagi marilah kita langgar semula."

Setelah Pangeran Syarif 'Abdurrahman mendengar kata Raja Haji itu maka lalu berkerah menyiapkan segala kelengkapannya dan Raja Haji bersiap juga segala kelengkapan yang dibawanya dari Riau itu. Maka apabila sudah mustaid maka Pangeran Syarif 'Abdurrahman serta Raja Haji pun mudiklah ke Negeri Sanggau itu dengan dua buah kapal dan satu keci dan dua puluh delapan buah penjajab. Maka apabila sampai di Tayan maka orang-orang Sanggau pun sudah sedia menanti angkatan yang datang itu. Maka Raja Haji pun menyuruh langgar kubu Tayan itu kepada orang Riau dan orang-orang Pontianak. Maka berperanglah kira-kira dua hari lalu disuruhnya amuk kubu-kubu itu. Maka diamuklah oleh Bugis ada dua hari kubu Tayan pun alahlah, sebab banyak panglima-panglimanya mati. Maka bertaburanlah orang-orang Sanggau itu membawa dirinya ke sana ke mari.

Syahadan maka Raja Haji memudikkan segala kelengkapannya masuk ke dalam Sanggau itu. Maka apabila sampai di Kayu Tunu berjumpa pula dengan satu kubu yang besar serta beberapa banyak orang-orangnya. Maka berhentilah angkatan itu di situ bermusyawarah. Maka Raja Haji pun mengaturlah ikatan perang itu dengan ditentukannya yang akan jadi panglima kanan dan kiri serta mengaturkan melanggar perangnya serta semboyannya yang di dalam perangnya itu. Setelah teguhlah ikatan perangnya itu, pada dua puluh enam haribulan Muharram sanat 1192 maka memulailah perang.

Maka berperanglah segala kelengkapan itu melanggar kubu orang Sanggau itu. Maka berbedil-bedilanlah antara kedua pihak dengan meriam dan lela rentakanya gemuruhlah bunyi bahananya. Maka tiada juga berketewasan sebelah menyebelah. Syahadan rapatlah segala penjajab-penjajab itu kepada kubunya maka naiklah segala Bugis-Bugis mengamuk kubu-kubu itu. Maka beramuklah di dalam kubu itu berbedilkan senapang dan pemburasnya dan bertikamlah lembingnya dan bertitikkan kelewang pedangnya dan bertikamkan kerisnya berkejar-kejaran dan berhambat-hambatan ke sana ke mari. Maka seketika lagi tewaslah orang-orang Sanggau itu. Maka pecahlah perangnya bertaburanlah larinya kerana panglima-panglimanya banyak mati. Maka dapatlah kubu itu oleh Bugis. Maka alahlah Negeri Sanggau itu pada sebelas haribulan Safar sanat 1192.

Syahadan maka kedua raja itupun mudiklah ke Negeri Sanggau tempat kerajaannya, maka berhentilah kira-kira dua belas hari. Kemudian raja kedua itupun hilirlah, maka berhenti di Pulau Simpang Labi. Maka Raja Haji membuatlah satu benteng di Pulau Simpang Labi itu serta ditaruhnya enam meriam serta diberinya nama pulau itu Jam Jambu Basrah/Jambu Basrah/Jambu-Jambu Taberah. Setelah itu maka kedua raja itupun berbaliklah ke Pontianak dengan segala kelengkapannya itu. Maka tetaplah segala raja-raja itu di Pontianak bersuka-sukaan makan minum saudara bersaudara ipar beripar serta segala menterinya.

Syahadan kata sahibul hikayat maka tiada berapa lamanya, maka Raja Haji pun muafakat dengan segala orang tua-tua yang di dalam Pontianak hendak mengangkat Pangeran Syarif 'Abdurrahman menjadi Sultan di dalam Negeri Pontianak. Maka sembah segala orang tua-tua itu, "Mana-mana sahaja titah duli tuanku."

Syahadan setelah Raja Haji muafakat itu maka Raja Haji pun memulai bekerja serta menyediakan alat perkakas raja berlantik dan bertabal sebagaimana aturan adat istiadat pihak sebelah Johor, demikianlah diperbuatnya melainkan bertambah sahaja adatnya Bugis seperti mengaruk-aruk, iaitu adat Bugis. Setelah mustaid sekalian alat perkakas bertabal itu, maka pada ketika hari yang baik, maka Raja Haji pun mengumpulkan segala orang besar-besar dan raja-raja dan orang-orang negeri berkumpullah segala raja-raja itu. Maka Raja Haji pun memakailah dan memakaikan Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu dengan pakaian berlantik. Setelah selesailah daripada itu, maka baharulah diturunkan ke balairung serta dengan jawatan semberabnya seperti pedang dan keris panjang dan puan dan kipas dan ketur dan lain-lainnya, serta orang perempuan membawa kain dukungnya enam belas orang, dan membawa dian berkelopak pun enam belas juga. Kemudian baharulah dinaikkannya Pangeran Syarif 'Abdurrahman itu di atas singgahsana kerajaan, kemudian berdirilah dua orang bentara pada kanan kirinya memegang tongkat berkepala emas.

Syahadan apabila selesai bersaf-saf dan beratur segala jawatan itu maka berdirilah Raja Haji di hadapan singgahsana kerajaan serta mengunus halamangnya berteriaklah ia dengan nyaring suaranya dengan katanya, "Barang tahu kiranya segala raja-raja dan orang-orang besar bahawa sungguhnya kami mengangkat akan Pangeran Syarif 'Abdurrahman ini menjadi raja di dalam Negeri Pontianak dengan segala takluk daerahnya. Adalah bergelar Sultan Syarif 'Abdurrahman Nur 'Alam Karar dan tetap di atas kerajaannya di dalam negeri ini turun atas anak cucunya." Syahadan maka menjawablah segala orang-orang itu, "Daulat, bertambah-tambah daulat!" Kemudian baharu dipukulkan nobat. Maka sekalian orang-orang pun menjunjung dulilah.

Syahadan apabila selesailah daripada pekerjaan lantik berlantik itu, maka Raja Haji pun membuatkan satu kota perdalamannya. Adapun kayu itu, iaitu kayu Kota Sanggau yang dipindahkannya ke Pontianak. Kemudian diaturkannya segala orang besar-besarnya dengan gelarannya dan pangkatnya dan pekerjaannya dan diaturkannya pula adat di dalam istana dan balai. Maka sekalian adat-adat itu seperti adat Negeri Riau jua adanya.

Syahadan kata ahli'l-tawarikh adalah kira-kira enam belas bulan Raja Haji itu di dalam Pontianak dengan bersuka-sukaan dengan Sultan Syarif 'Abdurrahman dua laki isteri dengan permainan tiap-tiap hari.

Syahadan maka tiba-tiba datanglah suruhan dari Riau menyilakan Raja Haji balik ke Riau kerana Yang Dipertuan Muda Dahing Kambuja gering sangat. Syahadan setelah Raja Haji mendengar khabar suruhan itu maka ia pun minta dirilah kepada Sultan Syarif 'Abdurrahman laki isteri hendak balik ke Riau. Maka Sultan Syarif 'Abdurrahman laki isteri pun berkemaslah menyiapkan perbekalan paduka kekanda itu. Syahadan di dalam hal itu datanglah pula sekali lagi suruhan dari Riau mengatakan paduka kekanda baginda Yang Dipertuan Muda Dahing Kambuja telah mangkat serta Raja Haji dan Sultan Syarif 'Abdurrahman laki isteri mendengar surat dari Riau itu maka ketiganya pun menangislah yang amat sangat. Maka Syarif 'Abdurrahman pun mengumpulkan segala tuan sayyid dan haji-haji dan lebai-lebai berkumpul ke dalam, tahlil dan membaca Qur'an dihadiahkan pahalanya kepada roh almarhum paduka kekanda baginda itu Yang Dipertuan Muda Dahing Kambuja dan beberapa pula ia mengeluarkan sedekah dan kenduri betapa adat orang kematian sanak saudaranya adanya.

Syahadan adapun Raja Haji maka bersiaplah ia akan berlayar. Maka apabila sampai waktunya maka berangkatlah Raja Haji keluar dari Pontianak. Maka Syarif 'Abdurrahman laki isteri pun mengantar hingga ke Kuala Pontianak.

Adapun Raja Haji lalulah berlayar ke sebelah barat menuju Negeri Riau. Maka apabila hampir dengan hutan Riau maka lalulah ia menuju Negeri Pahang. Maka tiada berapa hari maka sampailah ke Kuala Pahang. Syahadan maka Bendahara Tun Abdul Majid pun keluarlah mengalu-alukan Raja Haji itu datang. Maka apabila berjumpa bersalam-salamanlah keduanya, maka lalu dibawa oleh Datuk Bendahara akan Raja Haji itu mudik ke Negeri Pahang lalu diberinya istana sekali. Maka naiklah Raja Haji itu diam di darat sekaliannya.

Syahadan apabila tetaplah Raja Haji itu di dalam Negeri Pahang, maka Datuk Bendahara pun melantik Raja Haji itu betapa adat istiadat melantik Yang Dipertuan Muda. Maka menjadilah Raja Haji itu Yang Dipertuan Muda di dalam Negeri Riau dan Johor dengan segala takluk daerahnya sebab menerima pesaka paduka ayahandanya adanya. [~;~]



Catatan:
[1] Tuan Besar Mempawah yang dimaksud adalah Habib Husain, yaitu ayah dari pendiri Negeri Pontianak dan Sultan Pertama Pontianak (Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri).


Sumber: Kitab “Tuhfat Al-Nafis”, Bahagian Dua, Sub-Bahagian 27 (dengan tajuk “Raja Haji Melawat Pontianak”), hal. 189-195, Penulis: Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, Editor: Virginia Matheson, Penerbit: Fajar Bakti, Sdn. Bhd, Selangor, 1982


Senin, 07 September 2015

Piagam Persetudjuan antara RI dan BFO


Piagam Persetudjuan antara Delegasi Republik Indonesia dan Delegasi Pertemuan Untuk Permusjawaratan Federal (Bijeenkomst Federaal Overleg) tentang rentjana Kontitusi Republik Indonesia Serikat. Pada hari Sabtu tanggal dua-puluh sembilan bulan Oktober tahun seribu sembilan-ratus empatpuluh sembilan kami Delegasi Republik Indonesia dan Delegasi Pertemuan Untuk Permusjawaratan Federal (Bijeenkomst Federaal Overleg) jang melangsungkan persidangan kami di Scheveningen. Setelah mempertimbangkan dan menjetudjui pikiran2 ketatanegaraan jang disusun oleh kedua Panitia Ketatanegaraan kami dalam beberapa persidangan bersama di Scheveningen dan ‘s Gravenhage semendjak bulan Agustus sampai achir bulan Oktober tahun 1949;
Dengan mendjundjung tinggi segala putusan kebulatan jang diambil dalam Konperensi Inter- Indonesia dalam sidangnja dikota Jogjakarta dan Djakarta dalam bulan Djuli dan Agustus 1949; Setelah mempeladjari dan mempertimbangkan rentjana Konstitusi Republik Indonesia Serikat itu, maka kami Menjatakan bahwa kami menjetudjui naskah Undang-Undang Dasar Peralihan bernama Konstitusi Republik Indonesia Serikat jang dilampirkan pada Piagam-Persetudjuan ini. Kemudian dari pada itu maka untuk membuktikan itu kami kedua Delegasi dengan bersaksikan Tuhan Jang Maha-Esa terhadap sikap-sutji dan kesungguhan-keinginan Bangsa dan Tanah Air Indonesia Serikat membubuhkan tanda-tangan parap kami pada Piagam-Persetudjuan ini:

a. Untuk Republik Indonesia,
Pemimpin Delegasi Republik Indonesia
(Drs. Moh. Hatta)

b. Untuk Daerah2-Bagian jang bekerdja-sama dalam perhubungan B.F.O.
Utusan Daerah Istimewa Kalimantan Barat (Sultan Hamid II) Ketua B.F.O.
Utusan Indonesia Timur (Ide Anak Agoeng Gde Agoeng) Wakil Ketua I B.F.O.
Utusan Madura (Dr. Soeparmo) Wakil Ketua II B.F.O.
Utusan Bandjar (A.A. Rivai)
Utusan Bangka (Saleh Achmad)
Utusan Belitung (K.A. Moh. Joesoef)
Utusan Dajak Besar (Mochran Bin Hadji Moh. Ali)
Utusan Djawa Tengah (Dr. r. Sudjito)
Utusan Djawa Timur (R. Tg. Djuwito)
Utusan Kalimantan Tenggara (M. Jamani)
Utusan Kalimantan Timur (Adji Pangeran Sosronegoro)
Utusan Pasundan (Mr. R. Tg. Djumhana Wiriaatmadja)
Utusan Riau (Radja Mohammad)
Utusan Sumatera Selatan (Abdul Malik)
Utusan Sumatera Timur (Radja Kaliamsjah Sinaga)

Kesepakatan ini tercantum pada Bag.32.Konstitusi RIS


Senin, 17 Agustus 2015

Penjajahan yang Dirayakan


Banyak negeri di kepulauan yang terlampau luas ini merayakan sesuatu yang tak sepatutnya dirayakan. Apakah gerangan itu? Negeri-negeri yang hingga kini masih dijajah itu rutin bertahun-tahun merayakan penjajahan atas negerinya. Dan inilah keberhasilan pusat kekuasaan merekayasa pikiran setiap manusia di berbagai negeri yang dijajahnya itu. Sehingga setiap manusia di berbagai negeri tersebut selama berpuluh-puluh tahun hinggalah kini tak sadar yang ternyata mereka sebetul-betulnya sedang dijajah. Dan malahan manusia-manusia yang dijajah itu ikut bergembira ria merayakan peringatan penjajahan atas negerinya.

Bagaimanalah mungkin negeri yang sedang dijajah kemudian merayakan keterjajahannya?

Jikalau mata air sejarah telah tercemar, peradaban negeri pun perlahan-lahan tenggelam. Si pemenang yang telah menjelma pusat kekuasaan itu dengan semau-mau hatinya, dengan tangan besinya, dengan nafsu penjajahannya akan berterus-terusan mencemari mata air sejarah negeri-negeri yang dicengkeramnya.

Negeri yang sedang dijajah akan sentiasa dibuat menjadi miskin dan terbelakang oleh pusat kekuasaan yang menjajahnya itu. Pusat kekuasaan penjajah itu hanya mementingkan keberlangsungan penjajahannya, sedangkan manusia-manusia di berbagai negeri yang dijajahnya itu tak lebih dianggap deretan angka-angka saja. Atau boleh jadi manusia-manusia yang dijajahnya itu dianggapnya betul-betul tidak ada. Adagium si pusat kekuasaan negara penjajah itu kiranya berbunyi seperti ini: “Kami tidak perlu orangnya. Yang kami perlu tanahnya.”

Manusia-manusia di segenap negeri yang dijajah itu dibuat seolah-olah mereka sudah merdeka dan maju. Namun kenyataannya, jauh panggang daripada api. Mereka dibuat seakan-akan bagian terpenting sebagai subyek di negara penjajah itu. Namun apalah daya, sejatinya mereka tak ubahnya obyek eksploitasi, lebih buruk lagi pelengkap penderita sahaja.

Pendidikan yang diberikan oleh pusat kekuasaan negara penjajah itu tak luput pula dijejali dengan agenda dan propaganda si penjajah. Tujuan pendidikan yang sejatinya untuk memanusiakan manusia, namun yang terjadi bertolak belakang. Manusia-manusia terjajah itu sedemikian rupa diproses seakan-akan untuk menjadi “cerdas”, padahal nyatanya mereka sedang digembalakan menuju jurang kebodohan. Mereka tak ubahnya macam sedang dibentuk menjadi robot-robot yang bernyawa, yang dengan mudahnya dapat dikendalikan.

Begitulah nasib negeri-negeri yang terjajah. Sedemikianlah nyatanya manusia-manusia di negeri-negeri yang dijajah oleh pusat kekuasaan negara penjajah dimaksud. Sepatutnya manusia-manusia di negeri-negeri yang sedang dijajah itu jujur mengakui bahwa sebetulnya mereka serta negeri mereka sedang dijajah. Lapisan kesadaran mereka selama ini diselubungi oleh kabut gelap nasionalisme semu yang berterus-terusan disuntikkan oleh pusat kekuasaan negara penjajah. Dan selubung gelap yang menyelimuti lapisan kesadarannya itu niscaya dapat disibak sehingga menjadi lebih benderang lagi jika mereka mau menyelami jati dirinya sebagai manusia, begitupun jati diri bangsa dan negeri kampong halamannya. [~]



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Isnin, tarikh 2-3 Dzulqa’idah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan tarikh 17 Agustus 2015 Miladiyyah



** Sumber gambar ilustrasi: Laman Website anneahira.com



Sabtu, 04 Juli 2015

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir


Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham

Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu...!



Catatan:
Puisi ini ditulis oleh Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar uraian pidato Muhammad Natsir di depan Sidang Konstituante yang mendapat penentangan dan penolakan keras dari PKI. Muhammad Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia.


Sumber Gambar: Laman Website Yusuf Maulana


Rabu, 10 Juni 2015

Bahasa Melayu Sejatinya


Pada zahirnya, bahasa indonesia itu adalah Bahasa Melayu. Tak ada yang dapat disangkal-sangkal berkaitan dengan hal dimaksud. Lingua Franca di Kepulauan Melayu ini adalah Bahasa Melayu, itu pun juga tak lah dapat disangkal-sangkal tentunya. Tapi bagaimana pula penyebutannya/namanya sebagai Bahasa Nasional di tiap negara di Kepulauan Melayu ini, perihal tersebut yang masih silang sengkarut. Belum lagi ihwal klaim bahasa persatuan tersebut berasal dari logat negeri mana, itu juga kiranya masih menjadi persoalan.

Ada yang mengatakan bahwa bahasa indonesia berasal dari Bahasa Melayu Riau. Saya mau bertanya balik, bagaimana sebenarnya Bahasa Melayu Riau itu? Lalu bagaimana mungkin ada kesimpulan seperti itu? Bagi saya, itu sesuatu yang keliru.

Cukuplah sebutkan bahwa bahasa indonesia itu Bahasa Melayu lah adanya. Penyebutan bahwa Bahasa Melayu yang dimaksud adalah Bahasa Melayu ini Bahasa Melayu itu, atau berasal dari Bahasa Melayu negeri ini Bahasa Melayu negeri itu, sungguh hal demikian tak lebih hanya klaim sepihak, klaim yang tak punya dasar, dan itu menjerumuskan kepada inferioritas Melayu. Apakanlah lagi penelitian termuta-akhir ada pula yang menyatakan bahwa asal-muasal Bahasa Melayu yaitu dari Kalimantan Barat/Borneo Barat. Menurut penelitian tersebut, diversifikasi Bahasa Melayu yang begitu tinggi di Borneo Barat telah mengukuhkan wilayah ini sebagai kawasan asal muasal persebaran Bahasa Melayu.

Karena Bahasa Melayu mula tersebar dari Borneo Barat, maka anggapan-anggapan yang selama ini menyatakan bahwa Bahasa Melayu berasal dari Sumatera ataupun berasal dari Semenanjong Tanah Melayu, ataupun pernyataan yang menyebutkan bahwa bahasa persatuan yang kini bernama “bahasa indonesia” itu berasal dari Bahasa Melayu Riau dengan demikian serta merta runtuh dengan sendirinya. Begitupun klaim beberapa negeri mengenai asal muasal Puak Melayu dengan sendirinya juga berguguran.

Pengubahan nama Bahasa Melayu menjadi bernama bahasa indonesia itu adalah keputusan politik yang sungguh tak guna dipertahankan serta tiada perlu diteruskan. Itu merupakan keputusan politik yang tak beradat sekaligus tidak beradab.

Beberapa pihak menyatakan, bahasa persatuan di indonesia yang tak lain merupakan Bahasa Melayu itu, yang kemudian dinamakan bahasa indonesia adalah karena untuk menghindari kecemburuan dari yang selain Melayu, mengingat di negara ini etniknya beragam/majemuk. Satu yang patut diketahui oleh pihak-pihak yang berpandangan seperti itu, bahwa keberagaman itu merupakan sunnatullah. Hargailah keberagaman itu tanpa paksa memaksa untuk menyeragamkannya, dengan tetap menempatkannya sebagai keberagaman. Termasuk juga dalam hal ini nama suatu bahasa.

Tak habis pikir semisalkan jika bahasa persatuan di negara ini adalah Bahasa Jawa, lalu untuk menghindari kecemburuan dari etnik-etnik lainnya kemudian bahasa yang sejatinya bernama Bahasa Jawa itu diganti namanya menjadi bernama bahasa indonesia. Saya yakin, jika demikian adanya tentu orang-orang Jawa tak akan terima nama bahasanya diubah-ubah ditukar-ganti dengan nama yang lainnya.

Lalu ada pula yang menyatakan bahwa orang Melayu sudah mewakafkan bahasanya menjadi bahasa persatuan negara ini, sehingga ihwal pengubahan nama bahasa itu tak usah lagi dipersoal-soalkan. Ini sungguh pernyataan dari orang-orang yang tak tau jalan cerita. Patut diingat, bahwa Bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan dan bahasa pergaulan di negara ini melalui cara-cara yang alamiah, juga menempuh perjalanan sejarah yang tak sebentar. Dalam hal ini, tak ada pula wakaf-mewakafkan bahasa. Tak usah mengada-ngadalah dalam perkara yang bukan main-main ini.

Bagaimanakah dengan Bahasa Sansekerta? Benarkah Bahasa Sansekerta ada kemiripan dengan Bahasa Melayu?

Dalam Bahasa Melayu, sebagiannya ada menyerap beberapa bahasa lain, seperti Bahasa Sansekerta, Bahasa Arab, Bahasa Parsi, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, dan beberapa yang lainnya. Sebagaimana bahasa-bahasa lain juga ada menyerap kata-kata dari Bahasa Melayu.

Bahasa Sansekerta dengan Bahasa Melayu jelaslah berbeda, sama halnya Bahasa Arab berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Parsi berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Inggris berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Belanda berbeda dengan Bahasa Melayu, dan seterusnya.

Seperti diketahui bersama, bahwa tidak hanya di Sumatera, Semenanjong Tanah Melayu, Kepulauan Riau, dan Borneo saja yang menggunakan Bahasa Melayu. Sulawesi, Maluku, Papua, serta beberapa wilayah lainnya juga menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan dan pergaulan mereka. Dan di sana mengenalnya dengan nama Bahasa Melayu, bukan bernama bahasa indonesia.

Bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan dan bahasa pergaulan di banyak negeri serta pada banyak puak Bangsa Melayu di Alam Melayu/Kepulauan Melayu ini. Negerinya boleh berbeda-beda, begitupun puak etniknya boleh bermacam-rupa, tapi semuanya merupakan Bangsa Melayu (dengan pengecualian Papua yang merupakan Ras/Rumpun Melanesia). Di Sulawesi, di Maluku, di Sumbawa, di Lombok, di Papua, di Bali, serta di serata negeri mengenal dan menyebut bahasa perhubungan, bahasa pergaulan, sekaligus bahasa persatuan ini dengan nama "Bahasa Melayu".

Lalu bagaimana pula bahasa indonesia tiba-tiba muncul dengan kekuatan 28 Oktober itu kemudian menjadikannya sebagai Bahasa Nasional? Betapa bangganya kita karena bahasa kita (Bahasa Melayu) dijadikan sebagai bahasa persatuan.

Berkaitan dengan negara indonesia, dia memerlukan semacam tonggak, yang padanya bermula yang katanya itu "persatuan". Maka belakangan hari, dicari-carilah tonggak dimaksud, dan kemudian diketemukanlah peristiwa rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut, yang itu kemudian dijadikan sebagai tonggak persatuan. Di dalamnya disepakati untuk menjunjung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Melayu. Tapi dalam kesepakatan itu ada perbedaan pandangan soal nama bahasa persatuan. Ada yang tetap bertahan dengan nama “Bahasa Melayu”, dan ada pula yang mengajukan saran agar diubah menjadi bernama “bahasa indonesia”.

Dan kemudian menurut ceritanya itu, disepakatilah Bahasa Melayu diubah menjadi bernama “bahasa indonesia” dengan berbagai pertimbangan. Belakangan hari dikarang-karanglah cerita bermacam ragam soal itu, yang di antaranya banyaklah yang mengarut tentunya. Berbagai macam kesepakatan apapun itu, serta keputusan politik apapunlah itu tentu takkan pernah mengubah kenyataan sebenarnya, bahwa bahasa persatuan di negara indonesia ini adalah Bahasa Melayu.

Jika alasan beratnya pengubahan kembali nama bahasa persatuan tersebut (kembali dinamakan Bahasa Melayu) berkaitan dengan UUD 1945, itu juga hanya alasan tak mendasar. UUD 1945 itu hingga kini telah begitu banyak diamandemen. Jadi bukan pada tempatnya pernyataan-pernyataan naif seperti itu diungkapkan, kecuali semakin menampakkan ketidakmengertian pihak-pihak dimaksud akan banyak hal.

Ada juga pernyataan-pernyataan yang menyesatkan yang menyebutkan bahwa Bahasa Melayu adalah dasar dari bahasa indonesia, atau bahasa indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Ungkapan-ungkapan seperti itu merupakan usaha yang membelah-belah seakan-akan bahasa indonesia itu sesuatu yang berbeda dengan Bahasa Melayu. Patut kiranya ditegaskan bahwa bahasa indonesia itu adalah Bahasa Melayu, tak ada keraguan berkenaan hal itu.

Selain itu masih banyak lagi pernyataan-pernyataan lainnya yang mengelirukan. Pengaburan identitas bahasa ini dari dahulu hingga kini berterus-terusan dilakukan oleh otoritas negara indonesia. Dan ramai pihak pula yang mendukung usaha-usaha yang mengarut itu.

Walau begitu ramainya pihak dan golongan yang beri'tikad menimbus-nimbus hakikat sebenarnya, namun kesejatian Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di negara ini akan selalu benderang adanya. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 18 Januari – 16 Maret 2015



** Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Laman Website Melayu.us

Selasa, 09 Juni 2015

Di Sebalik Ubah-Suai Muka Laman

Muka Laman Blog Arus Deras yang lama

Sekira Ahad dinihari (31 Mei 2015), tepatnya di Villa Kahuripan, Kemang, Bogor, muka laman blog ini pun berganti. Kala itu sedang berlangsung Latihan Kader 1 (LK 1) HMI KOMFASTEK Cabang Ciputat yang dilaksanakan dari 29 hingga 31 Mei 2015.

Hampir lima tahun muka Laman Blog Arus Deras ini belum berganti lagi dengan tampilan muka laman yang baru. Fokus Laman Blog Arus Deras memang lebih kepada isi. Sementara soal penampilan tak terlalu dititik-beratkan. Tapi tentunya Laman Blog Arus Deras patut juga menyesuaikan dengan perkembangan dunia per-blog-an. Sehingga pada penghujung Mei 2015 yang lalu sampailah pada perubahan tampilan muka laman yang dimaksud.

Laman Blog Arus Deras sebetulnya hadir pertama pada awal September 2007 sebagai Laman Blog Personal/Pribadi. Sebagian besar isinya tentu lebih cenderung berupa pandangan-pandangan pribadi pentadbirnya yang sekiranya patut untuk dikongsikan kepada khalayak. Hari, minggu, bulan, serta tahun pun sentiasa berganti, tak terkecuali pentadbir laman blog Arus Deras pun terus mencari bentuk dan kekhasan (kaitannya dengan isi tulisan).

Bertambahnya hari dan terbaharukannya cara pandang pentadbir laman blog Arus Deras terhadap dunia juga sedikit banyak berhubung-kait dengan isi tulisan yang didedahkan di dalam laman blog ini. Ada kalanya beberapa tulisan terdahulu di blog ini dari sisi cara pandangnya sudah agak berubah dengan yang terbaru. Dan pentadbir laman blog ini biasanya tidak melakukan pengubahan redaksi terdahulu, kecuali dikongsikan tulisan terbaru dengan pandangan yang baru pula. Tulisan kita adalah anak ruhani kita, begitu kiranya kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, yang kata-kata itu selalu diingat-ingat pentadbir blog ini.

Selanjutnya berkenaan dengan perubahan muka laman, bagi pentadbir laman blog ini, bahwa itu suatu hal yang berada antara mudah dan sulit. Tapi keinginan mengubah muka laman dengan tampilan yang agak bagus tentu juga dapat mengatasi hal dimaksud. Pilihan pertama bahwa muka laman yang baru harus lebih tampak sebagai blog personal. Pilihan kedua, muka laman menggabungkan tampilan blog personal serta juga situs berita.

Maka pilihan pertama yang kemudian dipilih. Beberapa kali rombak, ada sedikit kecocokan. Tapi dilihat-lihat lagi, ternyata muka laman yang telah dipilih itu kurang lebih saja dengan muka laman yang lama, walaupun ada beberapa perbedaan, juga pada sisi tampilan yang responsif. Tapi memang yang namanya selera, begitupun dengan pandangan mata yang tak dapat dibohong-bohongi, maka muka laman yang baru diubah itu tak langsung mendapatkan rasa kepuasan dari sisi pentadbir.

Dengan menimbang beberapa hal, lalu muka laman yang baru diubah itupun bermaksud diubah kembali dengan tampilan yang baru. Pilihan pun jatuh pada pilihan kedua, yaitu penggabungan tampilan blog personal dan situs berita. Satu sisi masih menampakkan sebagai blog personal, dan di sisi yang lainnya juga mendekati tampilan situs berita. Dan muka laman yang ada sekarang inilah pilihannya itu.

Muka Laman Blog Arus Deras yang baru

Pengubahan muka laman ini tentu tak sedikit pula patut melakukan penyesuaian pada beberapa bagian. Kategori artikel juga disusun ulang dan dikelompokkan sehingga memudahkan dalam navigasi. Tak terkecuali juga dalam penamaan halaman. Tadinya bernama halaman “Beranda”, kini diubah-suai menjadi “Pelantar”. Tadinya bernama “Buku Tamu”, kini diubah-suai menjadi “Jejak Tetamu”. Halaman Ihwal Arus Deras, Pentadbir, dan Publikasi kemudian dikelompokkan dalam “Susur Galur”. Sementara kategori artikel dikelompokkan menjadi Sastera, Inspirasi, Budaya, dan Tamaddun. Dan halaman “Jejaring” diletakkan pada urutan paling akhir.

Kategori “Sastera” terdiri dari Prosa (Cerbung: Senja Merah Jingga, Cerite-Cerite, Cerpen, Kilasan, Refleksi Hati) dan Madah (Puisi, Sastera Melayu, Puisi Twit).

Kategori “Inspirasi” terdiri dari Menulis (Di Balik Goresan Pena, Mari Menulis, Menulis yang Komunikatif, Ragam Menulis, Serba-serbi Menulis, Spirit of Menulis), Tokoh (Profil Kita, Sultan Hamid II, Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie), Essay (Tulisan Ringkas, Tweet Kamé’, Catatan Lepas, Feature, Reportase, Autokritik), dan Islamika (Khazanah Pemikiran Cak Nur, Mozaik Islam).

Kategori “Budaya” terdiri dari Bahasa dan Kata, Kosakata Bahasa Melayu Pontianak, Melayu, dan Serba-Serbi Melayu.

Kategori “Tamaddun” terdiri dari Borneo, Kesultanan Pontianak, KALBAR, Negeri Pontianak, dan Seputar Pontianak.

Masih ada terdapat kekurangan pada muka laman yang baru ini, yaitu belum responsif. Ke depannya tentu patut diubah-suaikan lagi sehingga muka laman ini menjadi responsif alias mobile friendly, atau mungkin diubah kembali dengan muka laman yang baru yang lebih responsif. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 4-9 Juni 2015


Jumat, 22 Mei 2015

Musik Motivasi Setahun Silam


Adalah "Bang Dwi Bebeck" kami akrab menyapanya. Seorang musisi kreatif, itu kiranya yang patut disandangkan kepadanya. Kini Bang Dwi Bebeck lebih banyak bergerak di bidang usaha Craft. Pengalamannya di bidang musik tentu tak dapat disangkal-sangkal. Murid yang ia didik juga tak sedikit. Sekira lebih setahun yang lalu kenal dan berjumpa dengannya.

Ketika itu Bang Dwi Bebeck (nama lengkapnya yaitu Dwi Agus Prianto) sedang mengusung Musik Motivasi, selain juga berkampanye sebagai Calon Anggota DPRD Kalimantan Barat (Kalbar) pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 yang diusung dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sempat dua kali saya diminta oleh Bang Dwi Bebeck untuk tampil di Musik Motivasi yang diusungnya, yaitu pada 27 dan 31 Januari 2014, bertempat di Kedai Kopi Krakatau 123, Negeri Pontianak. Waktu itu saya kebetulan sedang berada di Pontianak untuk suatu urusan keluarga (baca tulisan saya sebelumnya yang bertajukPontianak Singgah Palembang”).

Jika yang lain-lain tampil bermusik, lain halnya dengan saya ketika itu. Bang Dwi Bebeck meminta saya untuk mendedahkan dan menela’ah mengenai Sejarah dan Budaya Melayu, wa bil khusus Negeri Pontianak. Selain itu diminta juga untuk membacakan Syair Melayu. Kebetulan waktu itu saya lagi senang-senangnya dengan “Syair Rakis” dari Negeri Berunai Darussalam, karya Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh Ibnu Pengiran Sharmayuda, yang ditulis pada sekitar tahun 1840 Miladiyyah. Beliau (Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh) diperkirakan hidup antara abad ke-18 hingga abad ke-19 Miladiyyah.

Tampil berbicara di hadapan anak-anak muda bukanlah pengalaman baru bagi saya. Tapi jika tampil di hadapan berbagai generasi saat Musik Motivasi kala itu, mungkin itu bagi saya merupakan pengalaman baru. Apalagi ihwal yang diperbincangkan juga tak biasa-biasa: sejarah, budaya, bahasa, tamaddun Melayu, kaitannya dengan Negeri Pontianak, Borneo/Kalimantan, dan Kepulauan Melayu ini secara umumnya.

Dapat bertatap muka dan berbincang di hadapan khalayak merupakan suatu yang menyenangkan. Tak terkecuali saat Musik Motivasi ini. Terlihat di hadapan saya orang-orang yang bersemangat menjalani kehidupan. Tatapan mata mereka adalah pancaran semangat dan keberanian generasi Melayu masa kini yang diwarisi dari datok nenek moyangnya yang bijaklaksana. Keingintahuannya menyala membuak-buak, bahkan apa-apa yang saya sampaikan tentu belumlah dapat meredakan lapar dahaganya akan tamaddun bangsa yang besar ini.

Masih banyak tentunya yang harus dilakukan oleh generasi muda Borneo Barat/Kalimantan Barat kini demi menjulangkan tamaddun negeri-negeri Melayu di tanah yang terberkahi di bagian barat Benua Hujung Tanah ini. Dan Musik Motivasi sebagai salah satu mediumnya harap-harap sentiasa hadir mengisi relung-relung aktualisasi kreatif generasi Borneo Barat kini. Yaitu anak-anak muda yang tentunya punya selaksa cita demi menjulangkan serta memasyhurkan peradaban kampong halaman tanah kelahiran yang dicintainya ini, Bumi Khatulistiwa Betuah. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 13-22 Mei 2015

Kamis, 30 April 2015

Pontianak Singgah Palembang


Lebih setahun yang lalu, di Kedai Lentera (tepatnya di pelantar kantor Lentera Timur waktu itu) bersama kawan-kawan sedang khidmat mengikuti Bincang Petang dengan tajuk “Membaca Riwayat Depok”. Bincang Petang kali ini menghadirkan Wenri Wanhar yang merupakan penulis buku bertajuk “Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta, 1945–1955”. Sungguh bincang-bincang yang dimulai sekira jam empat atau lima petang kala itu amat menarik.

Di sela-sela bincang-bincang itu kusempatkan menulis intisarinya yang langsung kupublikasi di akun Twitter melalui mobile phone. Sekira jam tujuh petang, berdering mobile phone Samsung di tanganku. Nyatanya ada panggilan dari abangku di Pontianak. Supaya tak mengganggu kawan-kawan yang sedang khidmat berbincang-bincang, aku pun masuk ke ruang tamu Lentera Timur yang banyak berjejer buku-buku berkualitas itu.

Dari Pontianak abangku memberitahu sesuatu yang kiranya dapat membuatku sebak seketika. Bang Téh (panggilan akrab abangku itu) mengkhabarkan bahwa Wak Ujang (Pak Mude sekaligus ayah angkatku) telah wafat. Sedih tentunya mendapatkan khabar itu. Wak Ujang (nama lengkapnya ‘Abdullah bin ‘Umar) adalah seorang yang berjasa besar mengasuh dan mendidikku. Masa-masa kecilku sentiasa berada dalam asuhan dan didikannya. Waktu pertama kali hendak merantau ke Tanah Betawi, Wak Ujang sempat membekalkan petuah-petuah untuk kupedomani selama di tanah rantau.

Dalam malam itu juga, aku harus segera memutuskan balik ke Pontianak atau tidak. Setelah menghubungi seorang kawan yang bekerja di Travel/Biro Perjalanan yang ada di Pontianak, barulah aku dapat memutuskan kepastian untuk balik. Tiket pesawat untuk balik ke Pontianak pada malam itu juga kiranya sudah tak mungkin kudapatkan, kecuali tiket pesawat untuk balik pada esok paginya. Sepakat, kuputuskan untuk balik menuju Pontianak pada esok paginya.

Kulihat di pelantar kantor Lentera Timur sepertinya kawan-kawan masih asyik berbincang-bincang ihwal Negara Republik Depok.

***

Setelah positif mendapatkan tiket untuk keberangkatan esok pagi, melalui rental komputer terdekat, tiket pun kucetak.

Malam itu kami di Lentera Timur berbincang panjang lebar mengenai banyak hal. Lain apa yang mulut ini bincangkan, lain pula hati dan pikiran ini yang hanya dapat berharap semoga segera sampai ke Pontianak. Sampai jauh malam juga kami berbincang-bincang, aku, Gusti Eka Suhendra, Tengku Dhani Iqbal, Wenri Wanhar, dan Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

Di penghujung malam ketika mata dan mulut sudah tak dapat lagi diajak berkompromi, tak lupa aku berpamitan dengan kawan-kawan, karena jam tiga shubuh sudah harus menuju bandar udara Jakarta. Dan malam itu aku menginap di Kantor Lentera Timur (waktu itu Lentera Timur masih berkantor di Jalan Sawo Manila No. 10, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan).

Kalau sudah mau menghadapi keberangkatan yang sepagi itu, biasa mata memang sulit tertidur. Bukan apa-apa, khawatir telat bangun saja. Jadi, malam itu aku memang tak tidur.

Menjelang jam tiga, aku pun bersiap-siap, mandi, berkemas-kemas seadanya saja. Tas yang kubawa dari Ciputat hanya berisi sehelai dua helai pakaian, karena rencananya memang mau menginap semalam di Lentera Timur.

Kawanku, Gusti Eka Suhendra, budak Pontianak juga yang waktu itu lagi menyelesaikan studi S1 di UIN Jakarta, kulihat ia masih lelap tidur. Mau tak mau kuhugah dia bangun. Sebelumnya ia memang bersedia mau mengantarkanku ke Terminal Pasar Minggu, untuk kemudian naik Bus Damri menuju bandar udara Jakarta.

Kalau keberangkatan pesawat sekitar jam enam pagi, setidak-tidaknya sudah harus check in kurang lebih jam lima. Sekitar jam empat shubuh aku sudah berada di dalam Bus Damri. Dalam kondisi seperti ini, pikiran masih tak menentu jika belum check in.

***

Bukan pertama kali ini saja bepergian sepagi ini, beberapa tahun sebelumnya juga pernah. Pertama sekali ketika menghadiri Kongres HMI yang waktu itu dilaksanakan di Makassar (kebetulan berangkatnya rombongan menggunakan pesawat dari Jakarta). Yang kedua balik Lebaran ke Pontianak, sekali bersama seorang kawan menggunakan kapal dari Jakarta, keduanya sendiri menggunakan pesawat dari Jakarta.

Untuk keberangkatan kali ini ke Pontianak, pesawat dijadwalkan lepas landas sekira jam enam pagi. Jika sesuai yang dijadwalkan (tak ada delay), maka sudah mendarat ke Pontianak sekitar jam setengah delapan.

Tepat seperti yang diperkirakan, sekira jam enam pagi pesawat pun lepas landas. Menurut informasi dari keluarga di Pontianak, prosesi pemakaman dilaksanakan sekira jam sebelas. Berarti besar kemungkinan aku dapat mengikuti dari prosesi memandikan jenazah, pengkafanan, shalat jenazah, hingga pemakaman. Dengan demikian, aku dapat sedikit tenang duduk menunggu di dalam pesawat hingga mendarat ke Pontianak.

***

Aku ingin sedikit bercerita mengenai Wak Ujang (kami akrab memanggilnya “Wak” atau “Uwak” saja). Nama lengkapnya yaitu Abdullah bin ‘Umar. Uwak Ujang merupakan suami dari kakak ayahku yang bernama Zaidah binti Haji Muhammad Buraa’i (kami anak-kemanaknya akrab memanggilnya “Encék”, atau masyarakat kampongku ada juga yang memanggilnya “Cik Zaidah”). Dalam Bahasa Melayu Pontianak, "Cik" atau “Cék” atau “Encik” atau "Encék" adalah panggilan untuk orang yang terkecil tubuhnya di antara adik-beradiknya. Kata asalnya/kata dasarnya adalah Kecil atau Keci'. Cik/Cék/Encik/Encék juga digunakan sebagai panggilan terhadap orang yang dihormati.

Pada masa hidupnya, Almarhom Encék Zaidah dikenal sebagai seorang tabib yang memiliki banyak keahlian dalam bidang perubatan. Di antara keahlian beliau yaitu dalam ilmu kebidanan (profesinya oleh orang Melayu disebut “dukon beranak”), pijat refleksi (profesinya oleh orang Melayu disebut “dukon urot”), dan juga dalam ilmu farmasi (terutama sangat ahli meracik obat-obat herbal Melayu berupa jamu, rebusan, dan sejenisnya).

Lain Encék Zaidah, lain pula suaminya, yaitu Uwak Ujang. Beliau (Uwak Ujang) merupakan orang Melayu Pontianak yang berasal dari keluarga keturunan Bugis yang sudah berabad-abad bermastautin di Negeri Pontianak. Kampongnya bernama Kampong Sungai Itik (Kampong Sungai Iték), salah satu kampong yang berada di dalam Negeri Pontianak.

Di Negeri Pontianak, panggilan “Wak” atau “Uwak” adalah panggilan akrab dan khas kepada lelaki keturunan Bugis yang sebaya dengan orang tua kami. Sepengetahuanku, kata "Wak" atau “Uwak” bermakna "Bapak". Negeri Pontianak dan beberapa negeri di Borneo/Kalimantan memang sejak dahulu hingga kini dikenal sebagai salah satu tempat bermukimnya para perantau Bugis dari Pulau Sulawesi.

Semenjak Emak melahirkan adikku, otomatis aku yang waktu itu baru berusia tiga tahun lebih banyak diasuh oleh Encék dan Uwak. Kami (ayah dan emakku anak-beranak serta Encék dan Uwak anak-beranak) waktu itu sama-sama mendiami rumah tua berbentuk rumah panggung peninggalan keluarga besarku dari sebelah emaknya ayahku dan ayahnya emakku (Uwanku dari sebelah ayah yang bernama Ruqayyah binti Haji ‘Abdurrahman adik beradik kandung dengan Datok/Akiku dari sebelah emak yang bernama Harun bin Haji ‘Abdurrahman).

Pada masa mudanya, Uwak merupakan pemain orkes (band) alias pemusik (pemain musik). Beliau adalah pemain bass pada orkes yang dipimpin oleh Pak Mudeku (abang dari ayahku) yang tertua, yang di orkes itu ada juga Pak Mude-Pak Mudeku yang lain sebagai personelnya. Hingga masa-masa tuanya pun, Uwak masih pacak memetik dawai gitar dan bass gitar, termasuk juga Bass Klasik alias Bass Tongkang. Tak jarang kalau aku lagi bermain gitar, sesekali Uwak meminjam gitar yang sedang kumainkan itu untuk dimainkannya.

Seingatku, selain Gitar dan Bass, Uwak juga pacak memainkan Akordion, Halmanian/Harmonium, dan mungkin juga Biola (orang kampongku menyebutnya “Piol” atau “Viol”). Pada masa kecilku, pernah sekali kulihat beliau bersama beberapa orang Pak Mudeku bermain Orkes pada satu acara di Madrasah Diniyyah Awwaliyyah Haruniyah, Negeri Pontianak. Uwak juga pacak memainkan Tar (perkusi untuk mengiringi Hadrah). Selain pacak memainkan Tar, Uwak juga pacak menyetel/menstem Tar hingga menghasilkan suara yang lawar berdenting.

Uwak Ujang merupakan seorang yang telaten merawat sesuatu. Tar Kelab Hadrah kampong kami di antaranya dirawat oleh beliau. Aku selalu asék kalau sedang memerhatikannya merawat Tar. Geringséng Tar yang terbuat dari gangse itu biasa dibersihkannya dengan brasso, hingga betul-betul mengkilap, yang itu akan mempengaruhi bunyi Tar.

Sehari-hari beliau selalu berpakaian rapi. Aku ingat dengan Minyak Jambol-nya itu. Ketika akan berangkat sekolah, tak jarang aku pinta minyak jambol-nya itu untuk kusapukan di rambut. Dan yang selalu tak pernah kulupa, sepeda onta-nya. Waktu kecil kalau lagi demam, dengan sepeda onta itulah beliau selalu membawaku ke Puskesmas. Di Pontianak Timur waktu itu Puskesmas hanya ada dua, di Kampong Dalam dan di Kampong Banjar. Habis berobat di Puskesmas Kampong Dalam, biasanya kami singgah makan sate di seberang Puskesmas. Dengan sepeda onta itu juga Uwak biasa mambawaku ke pasar. Sepeda onta itu adalah kendaraan sehari-harinya untuk berangkat kerja. Waktu itu beliau bekerja di Dinas Kebersihan Kota Pontianak.

Aku ingat, Uwak juga banyak kepandaian. Apa-apa yang bisa dilakukannya, maka dikerjakannya sendiri. Dari membuat mainan, mensol sepatu dan sandal, menjahit, sungguh beliau orang yang kreatif. Kalau sepatu sekolahku rusak, hanya Uwak lah andalanku untuk membetulkannya. Buah karyanya juga rapi-rapi. Yang pasti beliau adalah orang yang tak mau berpangku tangan, bahkan hingga ke masa-masa tuanya. Tukang sembelih sapi dan kambing yang terkenal di kampongku tak lain adalah Uwak seorang.

Waktu kecil, karena nakal dan pengkang, tak jarang aku dimarahi oleh Encék yang tegas, yang setiap perkataan yang meluncur dari lisannya laksana sabda. Dan yang selalu tampil sebagai pembelaku adalah Uwak. Karena nakal dan pengkang, tak jarang juga anak tunggalnya Encék dan Uwak (yang tak lain adalah Abang Sepupuku) memarahiku. Nakal dan pengkangnya aku itu juga tak jarang membuatku berselisih paham dengan kakak dan abang-abangku. Kalau sudah dalam kondisi seperti ini, tak ada lain lagi yang bakal membelaku kecuali hanya Uwak lah yang hadir sebagai pembela.

Kalau Ayah dan Emakku lain lagi, beliau berdua lebih sering hadir sebagai sosok pendamai. Mereka pun lebih banyak mendidik kami dengan cara yang lemah lembut, sabar, bahkan tak pernah mau memelasah, tak pernah mau memarahi kami sampai semarah-marahnya. Encék yang tegas, Uwak yang pembela, serta Ayah dan Emak yang pendamai juga sabar, merekalah yang berkolaborasi mendidik kami sedari kecil, mewarnai hidup kami dengan ajaran akhlaq mulia, sehingga kami membesar sebagai pribadi-pribadi yang bertanggungjawab, pribadi yang pandai menjaga marwah diri dan keluarga, juga marwah kampong halaman dan negeri tanah kelahiran kami.

***

Dari perangkat audio yang ada di dalam pesawat mengabarkan bahwa sebentar lagi akan segera mendarat di bandar udara Pontianak. Kilas berkilas bayangan kampong halaman semakin jelas di hadapan mata. Entah perasaan hati waktu itu telah bercampur aduk macam-macam. Aku hanya terus coba menguatkan hati untuk tak terlalu tenggelam dalam perasaan yang tak menentu.

Sepagi ini langit di atas Negeri Pontianak tampak cerah. Tak kulewatkan untuk memandangi alur sungai yang panjang meliuk-liuk itu. Iya, Sungai Kapuas adalah salah satu sungai terpanjang di Kepulauan Melayu ini. Sungai yang mengalir melewati banyak negeri di Borneo Barat, serta menjadi urat nadi bagi negeri-negeri yang dilaluinya.

Pesawat yang kutumpangi kini tepat berada di atas Kota Khatulistiwa. Entah indah entah tidak pemandangan Negeri Pontianak dilihat dari pesawat yang kutumpangi ini. Mungkin hanya indera penglihatanku yang tertuju ke arah bawah sana, tidak demikian dengan pikiranku yang mengembara lintas melintas ruang dan waktu.

***

Baru kusadari, sedari tadi sudah dikabarkan bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat. Tapi mengapa tak kunjung mendarat juga? Seakan-akan Negeri Pontianak masih jauh, padahal di bawah sudah terlihat Bumi Khatulistiwa yang sungguh kukenali itu.

Pesawat sepertinya enggan 'tuk turun. Dari tadi sepertinya hanya berpusing-pusing mengedari langit Pontianak. Selama bepergian dengan pesawat, tak biasa-biasanya hal demikian ini kujumpa.

Tak lama kemudian, terdengar kabar dari perangkat audio yang ada di dalam pesawat, karena kendala cuaca, untuk sementara waktu tak dapat mendarat. Dengar-dengar, Pontianak sedang berkabut. Tapi kulihat dari atas, sepertinya cuaca cerah-cerah saja. Mungkin hanya terlihat dari atas cuaca nampak cerah. Entah dari bawah, mungkin memang betul sedang berkabut.

Menurut kabar, pesawat sementara waktu akan diarahkan menuju bandar udara terdekat. Hal tersebut dilakukan untuk menghemat bahan bakar. Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang. Waktu tempuh dari Pontianak ke Palembang lebih kurang satu jam.

Seharusnya jam setengah delapan pesawat sudah mendarat di Pontianak. Tapi kini harus singgah dahulu ke Palembang. Satu jam dari Pontianak menuju ke Palembang, berarti sekira jam setengah sembilan mendarat di Palembang. Lalu mengisi bahan bakar selama satu jam, berarti setengah sepuluh selesai mengisi bahan bakar. Kalau tepat waktu, setengah sepuluh dari Palembang terbang menuju Pontianak. Lama perjalanan satu jam, berarti setengah sebelas atau jam sebelas mendarat di Pontianak.

Aku terus mengira-ngira waktu. Sesampai di Palembang nanti aku harus segera memberitahu keluarga di Pontianak. Entah dapat atau tidak menghadiri prosesi pemakaman nanti, semua di luar kuasaku.

***

Satu jam perjalanan, pesawat pun mendarat di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang. Sungguh beruntung rakyat Negeri Palembang, karena bandar udaranya dilekatkan nama salah seorang sultannya. Berbanding terbalik dengan negeri tanah kelahiranku, Negeri Pontianak, yang bandar udaranya hingga kini masih bernamakan orang yang entah dari mana pula asal-muasal negerinya.

Sesampai di ruang tunggu, langsung kuhubungi keluarga di Pontianak, memberitahukan posisiku kini sedang berada. Tentu keluarga di Pontianak terheran-heran. Kujelaskan apa musababnya sehingga kini aku berada di Palembang. Informasi yang kuterima dari keluarga di Pontianak, bahwa kini sedang proses pengkafanan. Mungkin tak lama lagi akan segera shalat jenazah.

Kalau sekiranya aku masih belum tiba di Pontianak, namun prosesi terus berlanjut hingga prosesi pemakaman, telah kuserahkan kepada keluarga di Pontianak untuk tak menungguku. Hal ini mengingat hari semakin beranjak siang, mengingat prosesi pemakamanan juga menyesuaikan dengan kondisi alam Pontianak yang air sungainya pasang surut. Dengan demikian, prosesi pemakaman harus tepat waktu jika tak mau prosesi tersebut sulit dilakukan, jika tak mau liang kubur dan kerenda direndam oleh air.

***

Sama halnya seperti Negeri Pontianak, negeri tempatku berada kini (Negeri Palembang) juga salah satu negeri Melayu yang masyhur. Di dalam riwayat sejarah, negeri-negeri Melayu di Borneo Barat juga berkait kerabat dengan Negeri Palembang. Begitupun masyarakat Melayu di Borneo Barat juga tak sedikit yang berkait kerabat dengan masyarakat Melayu Negeri Palembang. Hubung kait kekerabatan dimaksud juga saling berkait dengan banyak negeri Melayu di Alam Melayu ini.

Selamat datang di Tanah Sumatera. Selamat datang di Negeri Palembang Darussalam, Bumi Sriwijaya, tempat beradanya Bukit Siguntang yang sering kubaca di dalam Sejarah Melayu. Begitulah benakku berkata ketika pesawat mendarat di negeri yang terberkahi ini.

Aku coba mengingat-ingat untaian riwayat Sejarah Melayu yang pernah kubaca dan kaji. Kiranya seperti tergambar jelas di semesta minda akan kejayaan Bangsa Melayu yang pernah terukir di kanvas peradaban. Borneo, Sumatera, Semenanjong, Sulu-Mindanao, Campa, dan masih banyak lagi negeri-negeri di Alam Melayu ini yang mengukirkan tamaddun bangsa yang besar ini.

Mengingat Negeri Palembang, aku jadi teringat dengan cerita Almarhom Ayah mengenai Datok Palembang. Menurut Ayah, Datok Palembang adalah seorang 'ulama perempuan yang pernah hadir di keluarga besar kami. Datok Palembang adalah isteri kedua daripada Moyangku (Haji Adnan bin Haji Ahmad). Datokku yang bernama Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan merupakan anak tiri daripada Datok Palembang. Dengan demikian, ayahku yang bernama 'Abdusy Syukur bin Haji Muhammad Buraa'i merupakan cucu tiri dari Datok Palembang. Selama masa kecil ayahku bersama saudara-saudaranya mendapatkan pendidikan agama dari Datok Palembang.

Moyangku yang bernama Haji Adnan bin Haji Ahmad merupakan seorang nakhoda. Setelah isteri pertamanya wafat, moyangku ini menikahlah dengan Datok Palembang yang ketika itu telah janda. Mungkin ketika itu moyangku sedang singgah dari pelayarannya ke Negeri Palembang. Sampai sekarang aku tak dapat tau nama lengkap dari Datok Palembang. Menurut yang diceritakan ayah, keturunan Datok Palembang dari suami pertamanya mungkin hingga kini ada di Negeri Palembang.

***

Sekitar jam sebelas, tibalah pesawat yang kutumpangi ke Negeri Pontianak, setelah sebelumnya singgah di Negeri Palembang. Rencananya, adikku yang akan menjemput di bandar udara Pontianak. Dan menurut kabar dari keluargaku, prosesi pemakaman kini sedang berlangsung.

Tadi pagi adikku sudah ke bandar udara Pontianak. Tapi karena aku belum tiba, maka ia singgah dahulu menunggu di rumah Pak Mudeku (abang dari Emakku) yang terletak di Kampong Arang, Sungai Raya/Sungai Raye. Bandar udara Pontianak sendiri terletak di Kampong Sungai Durian (Kampong Sungai Derian), Sungai Raye. Dari Kampong Arang ke Kampong Sungai Derian jaraknya tak terlalu jauh. Tapi karena masih agak lama juga ketibaanku ke Pontianak, maka adikku balik lagi ke kampongku, Kampong Tambelan, Pontianak Timur.

Ada sekitar lima belas menit lebih aku menunggu jemputan dari adikku yang ketika kuhubungi ia sedang berada di rumahku di Kampong Tambelan.

***

Setiba di kampongku, ternyata prosesi pemakaman telah usai. Di antara keluarga besarku yang sedang berkumpul bertakziah ada juga yang bertanya soal terlambatnya ketibaanku. Kukatakan saja bahwa pesawat yang kutumpangi harus singgah dahulu ke Negeri Palembang karena cuaca yang tak memungkinkan untuk mendarat di Negeri Pontianak pagi tadi, sekaligus pesawatnya mau mengisi bahan bakar.

Hanya do’a yang dapat kupanjatkan untuk Almarhom Uwak, orang yang selama ini sangat berjasa terhadap keluargaku. Almarhom Encék dan Almarhom Uwak yang hanya memiliki satu orang anak itu sangat mengasihi kami adik beradik. Boleh dikatakan, bahwa kakak dan abang-abangku pada masa kecilnya juga pernah diasuh oleh Encék dan Uwak. Yang terakhir kemudian adalah aku, yang bukan hanya diasuh, tapi sekaligus aku adalah anak angkat dari Encék dan Uwak.

Encék wafat pada tahun 1988, ketika itu aku baru kelas satu Sekolah Dasar (SD). Dan pada hari Sabtu tarikh 24 Rabi'ul Awwal 1435 Hijriyyah, bertepatan dengan tarikh 25 Januari 2014 Miladiyyah, sekitar jam tujuh malam di Kampong Tambelan (Tambelan Sampit, Pontianak Timur, Negeri Pontianak, Borneo Barat), Uwak pun menyusul Encék kembali ke haribaan ALLAH. Semoga beliau sentiasa dicucuri limpahan rahmat dan kasih sayang ALLAH Rabbul 'Izzati.

Dan kami adik beradik akan sentiasa mengenang beliau dengan kenangan baik dan indah. Kepada zuriat kami nanti juga akan kami kisahkan mengenai Encék dan Uwak yang telah berlambak-lambak mencucurkan kasih sayangnya terhadap kami adik-beradik. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Penghujung April 2015


Sumber gambar ilustrasi: jpnn.com



Kamis, 23 April 2015

Kaum Buta Huruf


Orang-orang tua di kampongku (di dalam Negeri Pontianak) pada suatu masa dahulu pernah digolongkan sebagai kaum buta huruf. Tapi apakah mereka betul-betul buta huruf? Nyatanya mereka sangat pacak nan pandai baca-tulis Arab dan Arab Melayu. Lalu apa musababnya sehingga mereka digolongkan sebagai kaum buta huruf? Tiada lain jawabannya, karena mereka tak pandai baca-tulis Latin.

Di gedung sekolah kami ketika itu, kalau pagi hingga siang kelasnya berisi murid-murid sekolah dasar yang sedang belajar, maka lain lagi siang hingga petang harinya. Kelas-kelas kami siang hingga petang dipakai oleh orang-orang tua kami untuk belajar baca-tulis Latin.

Para "Kaum Buta Huruf" ini dengan khidmat mempelajari baca-tulis abjad yang diguna-pakai oleh bangsa-bangsa nun jauh di sana. Mereka mau tak mau menerima sebutan sebagai orang-orang yang buta huruf. Menurut penguasa ketika itu, orang-orang yang buta huruf tersebut adalah orang-orang yang bodoh.

Kini sebagian dari "Kaum Buta Huruf" itu telah ramai yang tiada, telah pergi mendahului kami. Dari mereka lah kami belajar mengaji Al-Qur'an, menderas baca tulis Arab dan Arab Melayu.

Dan sememangnya mereka bukanlah Kaum Buta Huruf. Perubahan zaman serta beralihnya otoritas penguasa ke tangan kaum sekuler-republikan-unitaris telah ikut pula menepikan mereka para orang tua kami dengan stigma "Kaum Buta Huruf".

Mengingat stigma-stigma semacam itu yang suatu masa dahulu pernah ditimpakan kepada orang-orang tua kami, insyaflah diri kami, bahwa kaum kami pada masa itu secara sistematis memang sengaja hendak diketepikan oleh otoritas penguasa negara ini. Bahkan sampai kini pun kaum kami tetap dianggap sebagai kaum marjinal, dengan dilekatkan berbagai stigma negatif pula tentunya. Dan itu semua terjadi di kampong halaman kami sendiri, di negeri tanah kelahiran kami yang dahulunya pernah berdaulat. *#*



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 21-23 April 2015


* Sumber gambar ilustrasi: Laman Website batamtoday.com

Rabu, 22 April 2015

Ketika Arab Melayu Dibenamkan di Negeri Sendiri


Bilakah Abjad Arab Melayu mula digunakan di kalangan Bangsa Melayu? Sudah berabad-abad silam tentunya Abjad Arab Melayu diamalkan dan diguna-pakai oleh Bangsa Melayu. Setidak-tidaknya bermula pada masa Islam sudah betul-betul mewujud sebagai kekuatan politik pada masa itu dalam bentuk kerajaan-kerajaan Islam (kesultanan-kesultanan). Bahkan bisa jadi lebih awal lagi dari masa-masa yang dimaksud. Bisa lebih awal maksudnya yaitu bisa lebih awal lagi dibandingkan ketika Islam sudah mewujud sebagai kekuatan politik. Yang pasti setelah Islam tersebar di Kepulauan Melayu ini.

Sebelum mengamalkan Abjad Arab Melayu, tentu bumiputera di Kepulauan Melayu ini terlebih dahulu telah mengenal dan mengguna-pakai beberapa abjad selain Arab Melayu. Misalkan yang masyhur pada masa itu adalah Abjad Rencong. Beberapa lainnya adalah Abjad Pallawa yang berasal dari India bagian selatan, serta abjad-abjad turunannya (yang tiap wilayah/negeri memiliki abjad tersendiri yang merupakan abjad turunan dari Abjad Pallawa).

Pada dasarnya Abjad Arab Melayu memanglah mengadopsi Abjad Arab. Di dalam Abjad Arab Melayu ditambahkan beberapa huruf yang khas dari Bahasa Melayu yang tidak ada di dalam Abjad Arab. Abjad Arab Melayu sendiri merupakan buah dari Budaya Melayu, berkat persinggungannya dengan Arab-Islam. Huruf-huruf pada Abjad Arab Melayu sebagian besarnya memanglah diambil dari Abjad Arab, yang itu juga suatu yang tak dapat disangkal-sangkal.

Bagaimana pula penyebaran Abjad Arab Melayu sehingga dikenal oleh seluruh masyarakat Melayu? Abjad dimaksud tersebar seiring sejalan dengan penyebaran Agama Islam di Kepulauan Melayu ini. Juga berkait-kelindan dengan Dakwah/Syi'ar Islam oleh para 'ulama, melalui kitab-kitab ilmu yang mereka tulis. Sastera Melayu juga mempunyai peran tersendiri dalam penyebaran abjad yang satu ini. Selain itu, pihak-pihak istana kerajaan-kerajaan/kesultanan-kesultanan pada masa itu juga mempunyai andil yang besar dalam menyebarkan abjad tersebut.

Huruf Arab Melayu boleh dikatakan sudah pupus, sebab di masa-masa kini tak diperkenalkan lagi membaca dan menulis dengan Arab Melayu. Macam mana upaya kita untuk mengangkatnya kini? Salah satu usahanya yakni dengan menghidupkan kembali lembaga-lembaga pendidikan semacam Madrasah Diniyyah di seluruh negeri-negeri Melayu.

Apakah itu sudah cukup? Tentunya belumlah cukup jika hanya itu saja usaha yang dilakukan. Para 'ulama Melayu harus kembali menghidupkan budaya menulis, sebagaimana 'ulama-'ulama Melayu terdahulu. Setelah budaya menulis itu hidup di antara 'ulama-'ulama Melayu, barulah sedikit-sedikit setiap 'ulama memberanikan diri menulis dalam Abjad Arab Melayu. Begitu juga dengan para penulis dan sasterawan Melayu yang lainnya, mau tak mau harus membiasakan diri menulis dalam Abjad Arab Melayu.

Para guru (ustadz-ustadzah) juga punya tanggungjawab yang sama dalam hal mengangkat khazanah Bangsa Melayu yang satu ini. Dan memang ini semua menjadi tanggungjawab semua budak-budak Melayu dari mana pun asal negerinya, dan di mana pun ia bermastautin. Ini tanggungjawab kita bersama yang mengaku Budak Melayu, yang jelas tersemat pada dirinya sebagai putera-puteri Bangsa Melayu adanya.

Salah satu usaha yang boleh dilakukan kini untuk menghidupkan Abjad Arab Melayu dapat juga dengan cara menulis penanda-penanda bangunan dan jalan menggunakan Abjad Arab Melayu (juga untuk penanda di tiap kampong/pemukiman). Hal serupa boleh pula diberlakukan pada media-media visual yang lainnya semacam baliho, spanduk, poster-poster iklan di tepi jalan, dan sebagainya. Serta melalui pendidikan sekuler sekarang ini sedikit-sedikit patut juga kiranya dimasukkan semacam mata pelajaran Abjad Arab Melayu.

Walaupun ada upaya untuk memakai lagi Huruf Arab Melayu pada masa sekarang, tapi belum begitu maksimal untuk bisa dikenal lagi oleh Orang Melayu. Penyebabnya karena kita memang sudah asing dengan Abjad Arab Melayu. Padahal peradaban Abjad Arab Melayu itu belum jauh masanya meninggalkan kita.

Sungguh begitu dahsyatnya kekuasaan dan pendidikan sekuler yang diamalkan di serata Kepulauan Melayu ini, yang telah mencuci otak kita dan menghilangkan ingatan sejarah kita akan peradaban Abjad Arab Melayu tersebut. Dan kemudian hancur binasa punah ranahlah peradaban serta khazanah tersebut dari kehidupan Bangsa Melayu kini. Ironis memang, Arab Melayu dibenamkan di negerinya sendiri. Diakui atau tidak, Faham Nasionalisme/Ultranasionalisme lah yang menghancurkan peradaban dan budaya Bangsa Melayu. Termasuk juga dalam hal Abjad Arab Melayu. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 4 Rabi’ul Akhir 1436 H,
bertepatan dengan 23-24 Januari 2015 M




* Gambar ilustrasi : Salah satu Surat Dakwaan di Mahkamah Syari'ah Kesultanan Pontianak pada masa Sultan Syarif Yusuf Al-Qadri (Sultan Pontianak ke-V). Surat Dakwaan ini ditulis dalam Bahasa Melayu menggunakan Abjad Arab Melayu.

* Sumber gambar ilustrasi : Koleksi Foto Hanafi Mohan

* Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Laman Web Melayu.us


Jumat, 06 Februari 2015

Menyikapi Dilema di Negeri Pontianak


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Salut terhadap upaya generasi negeri saat ini, yang peduli dengan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal (local wisdom) yang pada zaman dahulu pernah mengantarkan negeri ini meraih kejayaannya. Terlihat geliat semangat ada pada para generasi muda negeri yang gigih menelusuri jejak sejarah kebesaran para leluhur di bumi bertuah ini. Bagaimana kita dapat menghargai semuanya ini, jika kita buta dan tidak mau peduli terhadap apa-apa yang terjadi saat ini.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa rekam jejak sejarah kaum negeri ini mengalami berbagai upaya pemalsuan sejarah. Dengan tujuan dan alasan tertentu, yang positif maupun negatif. Misalnya untuk menyamarkan agar tidak terjadi perusakan dan pemusnahan. Namun tampaknya banyak pula upaya pemalsuan sejarah dengan tujuan untuk menghapus akar sejarah dan jati diri suatu kaum.

Jika jati diri menjadi lemah dan tidak jelas, tentunya akan menjadi pribadi yang lemah dan terombang-ambing dalam dinamika dunia. Menjadi bangsa primitif, tidak mempunyai prinsip tegas dan jelas, serta menjadi bangsa miskin. Bangsa yang kehilangan arah dan tujuan, karena merasa tak ada sesuatu nilai orisinil yang bisa dibanggakan. Nasionalisme pun akan menjadi lemah kemudian benar-benar runtuh.

Menyikapi dilema yang terjadi saat ini di Bumi Bertuah Khatulistiwa. Semoga menjadi suatu pembelajaran bagi Anak Negeri.

Wassalaamu 'alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.



Syarifah Jamilah binti Sayyid Harun Al-Haddad (Guru SD)
Negeri Pontianak, Kamis 5 Februari 2015



** Gambar ilustrasi adalah Bendera Negeri Pontianak

Rabu, 04 Februari 2015

Soal Nama Negeri Kita


Ihwal nama negeri kita (Pontianak), bukan kali ini saja menjadi persoalan. Sudah sejak dulu perihal tersebut menjadi bahan perbincangan. Berbagai macam pihak pun telah mendedahkan pemahamannya dengan perspektif beraneka rupa. Namun dari sekian banyak pendedahan tersebut, satu yang dilupa (atau memang sengaja dilupakan demi membantah pemahaman yang berseberangan), yaitu mengenai makna harfiah dari kata "pontianak" tersebut dalam Bahasa Melayu. Bukannya mengurai makna harfiahnya lalu membedahnya dengan pisau sejarah, melainkan kebanyakannya lari dari makna harfiahnya kemudian bermain pada kata serta makna yang sebenarnya tak dikenali serta tak dipahami betul oleh rakyat Pontianak sendiri.

Tak ada lain makna dari kata "pontianak" selain dari bermakna hantu. Atau makna lebih spesifiknya yaitu hantu perempuan yang meninggal dunia waktu melahirkan.

Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak? Tentu tak semuanya itu dimengerti, bahkan sama sekali tak terpahami. Apa pasal demikian adanya? Karena apa-apa yang dinyatakan itu tak ada dalam memori kolektif masyarakat Pontianak. Bahkan dapat dikatakan cenderung sesuatu yang asing.

Perspektif apapun itu sepatutnya mendekat kepada kosmologi masyarakatnya, bukan malahan menjauh. Bagaimana mungkin memaknai nama suatu negeri jika pemaknaan tersebut asing di alam pikiran masyarakatnya.

Tebiat semau-maunya berkaitan dengan pemaknaan dimaksud tentu tidaklah sepatutnya dilakukan. Nama adalah identitas. Jatidiri suatu negeri setidak-tidaknya nampak dari nama negeri itu. Begitu pula makna dari nama negeri tersebut.

Sebagai seorang Budak Pontianak, rasa-rasanya saya tak sampai hati dengan tindakan barbar yang dilakukan pihak-pihak berkaitan dengan nama dan makna nama negeri tanah kelahiran saya, Negeri Pontianak. Sungguhpun begitu, bukan pada tempatnya juga saya menggarami lautan.

Terlepas dari bermacam perspektif yang telah didedahkan berbagai pihak, kiranya tulisan ini hanya coba mengajak sesiapapun putera-puteri Negeri Pontianak untuk lebih mengedapankan akal sehat ketika mengungkapkan nama dan makna negeri yang kita cintai ini. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai kosmologi masyarakat Pontianak tentu patut pula tak boleh diabaikan. Begitupun berbagai sumber jangan serta merta disisihkan. Yang harus ditimbang juga, bahwa setiap perspektif yang didedah itu tak sedikit yang menjadikannya sebagai informasi untuk dipedomani. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 18-31 Januari 2015



** Sumber gambar ilustrasi: Peta Pontianak dari Google Maps yang dimuat di Laman Blog Yudhihendros

Minggu, 18 Januari 2015

Negare Mawas


Negare paléng burok di atas dunie ni adelah negare yang suke mutar-balék’kan kenyatean sejarahnye. Dan ramai ga’ rakyatnye yang ngaminkan, ngiyekan, dan ngikoték ape-ape yang disuarekan, dinyatekan, ataupon dituléskan oleh negare tesebot bekaétan dengan sejarah yang sengaje-sengaje diputar-balék’kan itu. Make tepujilah Sultan Hamid II yang dah ngingatkan kamék-kamék rakyatnye éhwal negare paléng burok dimaksod dalam banyak penyatean pade Pleidoi-nye.

Satu pesatu penyakét pekong negare tesebot betimbolan (dah dari dolok-dolok sebenarnye bepenyakét pekong ni). Dah tinggal nunggu Beruwah Makan Bubor Kacang ja' ni nampak-nampaknye.

Negare telalu besa' nabau, selak pajoh nak mampos. Ujong-ujongnye jadi lingau-lingau nak ngurosnye. Pegang yang ini, salah. Pegang yang itu, salah. Dah macam Mawas agék manjat Pokok Asam, tamak bukan name.

Patotlah ramai yang nyebotnye "Negare Mawas". Camtu rupe tebé'atnye.

Sa'at ini die mang maséh kuat bepegang, soalnye maséh ade bende nak diramunye tang atas pokok tu. Ari ribot pon tak jadi soal katenye, asalkan segale macam khazanah tang atas pokok tu maséh dapat diambé'nye. Tangan megang, kaki megang, mulot megang, ékok megang. Banyak die meraéh. Mang lah negare mawas ni.

Angén sepoi-sepoi yang biasenye mbuat die teléne. Senang bukan maén kena' puji sana' siné', disebot-sebot sebagai negare bependudok mayoritas muslim yang paléng demokratis lah, negare paléng kaye se-dunie pewayangan lah, negare paléng luas se-dunie antah berantah lah, negare hini lah, negare hitu lah, banyaklah dah gelarnye kena' kasi' tu. Padehal ape ade, hampe makne semuenye. Tang tehugah-hugah ja', padehal kosong teperuang tadak ade isi'nye. #‎NegareMawas‬


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 25-27 Rabi'ul Awwal 1436 H,
betepatan dengan 16-18 Januari 2015 M



*Catatan ini ditulés dalam Bahase Melayu Loghat Pontianak*

Sumber gambar ilustrasi: Dari siné' dan juga' dari siné'