Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Pontianak Singgah Palembang

Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang.

Mudék ke Ulu

Pasangan dari kate “ulu” ielah “mudék”. Kate “mudék” beakar kate dari kate “udék”. Udék bemakne "sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber)", "daerah di ulu sungai", juga’ bemakne "kampong halaman (tempat beasal-muasal)".

Soal Nama Negeri Kita

Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak?

Kampong Timbalan Raje Beserta Para Pemukanya [Bagian-3]

Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya.

Musik Motivasi Setahun Silam

“Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sultan Pontianak; Umara' dan 'Ulama

Kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama.

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir | Meskipun bersilang keris di leher | Berkilat pedang di hadapan matamu | Namun yang benar kau sebut juga benar ||

Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Melayu. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2022

Melancong ke Negeri Lampung



Lebih kurang 10 tahun tak pernah ke pelabuhan dan naik kapal. Kini merasakan lagi momen seperti itu (ke pelabuhan dan naik kapal). Begitu sekiranya yang kurasakan di Ferry Penyeberangan Merak-Banten hendak ke Bakauheni-Lampung, hari Juma’at petang, 16 September 2022.

Kapal, pelabuhan, laut, tentu dapat menyibak relung-relung kenangan silam. Dengan demikian perjalanan kali ini tak setakat pelancongan rekreasi, lebih dari itu bahkan bakal mendedah serba sedikit ehwal sejarah, tamaddun, serta hal-hal terkait lainnya.

Sekitar 22 tahun silam pertama kali naik kapal penumpang dan mengharungi lautan. KM Lawit nama kapalnya, 75.000 Rupiah harga tiketnya. Pertama kali merantau meninggalkan kampong halaman, berbekal keinginan mengubah hidup menjadi lebih baik lagi.

Selama 10 tahun (2000 - 2010) rutin melancong dari Pontianak ke Jakarta dan dari Jakarta ke Pontianak. Kedua rute yang berlainan arah ini punya ceritanya sendiri-sendiri. Rute Pontianak-Jakarta itu lebih kental dengan rasa hancur lebur berkeping-keping. Sementara Rute Jakarta-Pontianak kebalikannya.

Kapal, pelabuhan, laut, tak setakat menyibak, bahkan dapat menggali nostalgia yang sekiranya tak mungkin terlupakan dari lembaran-lembaran kenangan.

Setelah meninggalkan kampong halaman, usaha menggapai mimpi dan cita-cita demi masa depan yang lebih benderang kiranya tak pernah selangkah pun beranjak mundur.

Menjadi pioner di antara saudara kandung dalam hal merantau hingga ke luar Tanah Borneo merupakan suatu yang tak diduga-duga. Keistimewaan tersebut bukanlah tiba-tiba turun dari langit, bukanlah bintang jatuh, melainkan seumpama buah daripada pokok yang bertumbuh dari kecil hingga membesar diri melalui perawatan yang tak kenal kata lelah. Dirawat dengan cara yang baik, bukan dengan asal-asalan rawatan.

Kapal, pelabuhan, dan laut dengan demikian menjadi perumpamaan akan usaha yang pantang menyerah. Kerana ia nya usaha, maka itu merupakan proses. Usaha dan proses, tak hanya hasil.

Laut dan pantai itu menyiratkan ketenangan, terlebih pada malam hari. Ketenangan itu hadir dari dalam diri. Terkemudiannya ketenangan mawjud menjadi kebahagiaan.

Sebagai kaum pesisir, aku tentu begitu terbiasa dengan suasana pesisir. Setiap kali berada di wilayah pesisir, aku langsung dapat merasakan kedekatan dengan alamnya, dengan masyarakatnya (kaumnya), bahkan dengan wilayah/negerinya.

Kali ini ke Negeri Lampung, membawa hingga menelusuri Pulau Pahawang. Banyak spot snorkeling, serta objek-objek lainnya. Menuju ke pulaunya menggunakan kapal motor kecil, tapi dapat membawa rombongan kami yang berjumlah sekitar 20 orang ditambah barang-barang bawaan. 

Lampung punya sejarah panjang, begitupun tamaddunnya yang gemilang di masa silam. Hingga kini kegemilangan tersebut tentu masih menjejak di Bumi Lampung. Membicarakan Lampung seolah mendedah ungkaian sejarah yang begitu panjang, yang dapat membuat sesiapapun ta'zhim kepada Lampung. 

Sebegitu Lampung, sebegitu pula banyak negeri di Kepulauan Melayu ini yang memiliki ungkaian sejarah yang begitu panjang serta tamaddun yang gemilang di masa silam. Generasi kini memang tak hidup di masa silam, tapi generasi kini patut mengambil ibrah dari masa silam untuk kebaikan negerinya di masa hadapan.

Menjejakkan kaki di Pulau Sumatera kali ini merupakan yang kedua kali setelah yang pertama (sekitar Januari 2014) di luar rencana transit sebentar di Bandar Udara Negeri Palembang (Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II), dalam perjalanan dari Jakarta ke Negeri Pontianak.

Dalam memoriku, Sumatera itu memiliki tempat istimewa, sama istimewanya seperti Semenanjong Tanah Melayu. Dan tentu Tanah  Borneo, terutama Borneo Barat dan Negeri Pontianak menempati posisi paling istimewa dalam memoriku. 

Selain kerana Sumatera dan Semenanjong Tanah Melayu itu sama-sama merupakan Tanah Melayu sebagaimana Tanah Borneo, juga beberapa leluhurku ada yang berasal dari Tanah Sumatera, Riau (kini Kepulauan Riau), dan Semenanjong Tanah Melayu, selain juga leluhurku yang berasal dari Tanah Borneo (Negeri Banjar dan sekitarnya). Sebegitulah adanya posisi istimewa kawasan-kawasan dimaksud dalam memoriku.

Dalam masa yang telah dilewati ini, sudah dua tanah Melayu di Sumatera yang dilawati, walaupun hanya sebentar (Negeri Palembang dan Negeri Lampung). Tentu belumlah banyak yang dapat diselusuri hanya dengan waktu beberapa hari ini. 

Masih terazham keinginan bila-bila masa nanti terjejaklah kaki ini ke negeri-negeri Melayu lainnya di Sumatera dan sekitarnya, sekurang-kurangnya ke negeri-negeri asal leluhurku (Negeri Minangkabau, Negeri Siak Seri Inderapura, Daik-Negeri Lingga).

Terlebih lagi dapat menjejakkan kaki ini ke negeri-negeri Melayu lainnya di Kepulauan Melayu, di serata Alam Melayu ini. [#*#]

Ditulis selama perjalanan melancong ke Negeri Lampung, 16-18 September 2022

Selasa, 05 Juli 2022

Madrasah; Pendidikan Dasar Kami


Bangsa Melayu yang bertamaddun tinggi sangat memperhatikan ehwal pendidikan dan pengajaran. Tak terkecuali pendidikan dasar. Kerananya, madrasah diniyyah dengan berbagai tingkatannya itu (awwaliyyah, wustha, dan 'ulya) berperan sangat penting dalam hal ini.

Pendidikan di Madrasah Diniyyah Awwaliyah merupakan pendidikan dasar yang biasanya diselenggarakan di tengah-tengah masyarakat Melayu. Dari sekolah semacam inilah anak-anak Melayu belajar Islam lebih mendalam. Berbagai ‘ilmu dipelajari: Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Tarikh, Bahasa Arab, dan sebagainya. 

Selain madrasah, sebetulnya masih ada beberapa yang lain, seperti surau, langgar, dan belajar mengaji Al-Qur'an di Guru Mengaji. Terlebih penting lagi adalah pendidikan di dalam keluarga. Setiap orang tua berkewajiban mendidik anaknya dalam berbagai hal, termasuk juga keislaman. 

Jadi dalam Keluarga Melayu itu sebetulnya dasar-dasar keislaman telah ditanamkan kepada anak-anaknya oleh orang tuanya. Aqidah, akhlaq, dan adab telah jauh-jauh hari diajarkan kepada setiap anak dalam keluarganya. Kemudian lembaga pendidikan lebih kepada menguatkan lagi dasar-dasar yang sudah ada itu. 

Dengan demikian setiap orang tua dalam keluarga Melayu itu harus faham Islam. Bekal kefahamannya itu merupakan modal dasar kelak ketika mendidik anak-anaknya. Oleh kerana itu pula sangat jarang orang tua dalam keluarga Melayu menitipkan anak-anaknya bersekolah di sekolah berasrama/menginap. 

Itulah pula yang menjadi sebab pendidikan Islam di luar rumah yang masyhur di negeri-negeri Melayu itu adalah yang berbentuk Langgar, Surau, ataupun Madrasah, bukan sekolah-sekolah berasrama/menginap. Waktu di luar sekolah adalah bahagian daripada tugas penting orang tua mendidik anak-anaknya. 

Pengajaran yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah masa-masa yang istimewa, takkan tergantikan di masa yang lain. Anak-anak dapat ungkapkan ataupun bertanya macam-macam persoalan kepada orang tuanya, tak terkecuali dalam hal keislaman. Bagi orang tua yang kurang pemahaman keislamannya tentunya menjadi dilematis. 

Makanya ketika di madrasah tinggal dikuatkan lagi dasar yang sudah ada itu. Misalkan dalam hal membaca Al-Qur'an, di madrasah tak diajarkan lagi membaca Al-Qur'an dari dasarnya sekali, kerana dasar-dasar membaca Al-Qur'an telah diajarkan di rumah. Di madrasah lebih kepada mempelajari 'ilmu Tajwid, Qira'ah, Tafsir, serta beberapa 'ilmu lainnya yang berkenaan dengan Al-Qur'an. Tawhid/Aqidah dan Akhlaq, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Tarikh, Khat, Imla', dan Arab Melayu juga merupakan 'ilmu dasar yang diajarkan di madrasah. 

Ilmu-ilmu dasar keislaman ini jika di sekolah berasrama/menginap boleh jadi baru dipelajari di usia anak 13 tahun ke atas. Tapi di madrasah ilmu-ilmu tersebut telah dipelajari secara mendalam di usia anak 7 hingga 12 tahun. Di madrasah tempat kami belajar dahulu juga diajarkan Bahasa Inggris. Masa itu di SD tak ada pelajaran Bahas Inggris (sebagai pelajaran wajib ataupun tidak wajib), tapi pd masa yang sama itu di madrasah kami telah diajarkan Bahasa Inggris. Sungguh aspek ilmu bahasa ini begitu diperhatikan di madrasah kami, tanpa menepikan bahasa ibunda kami sendiri. [#*#] 

 

Hanafi Mohan,

Ciputat, 20 Ramadhan 1443 Hijriyyah,

bertepatan dengan 22 April 2022 Miladiyyah

 

Selasa, 10 Mei 2022

Syair Tuan Guru, Mengenang Tengku Zulkarnain



~ Syair Tuan Guru ~ Bismillah itu permulaan kalam Syukur kepada Khaliqul 'Alam Shalawat untuk Nabi yang Khatham Shallallahu 'alayhi wa sallam Bangsawan ulama bermartabatnya Cerdik nan pandai termasyhurnya Bijaklaksana tutur katanya Berani dan jujur apa adanya Tengku nan 'alim Sang Juru Da'wah Bersuara lantang membela marwah Berjuang untuk luruskan aqidah Wafat di Bulan Ramadhan Karimah Tuan 'lah guru penyuluh ummat Banyaklah orang ta'zhim nan hormat Kepergianmu teramat cepat Sungguhlah tiada berbilang sa'at Kalaulah Tuan tak bersuara Kuncuplah kami Qawm Dhu'afa Tapi 'lah Tuan tak pernah jera Hinggalah kami tegak perkasa Demikian syair patik madahkan Éhwal Tuan Guru yang juga bangsawan Semoga hadhirin redha berkenan Wassalamu'alaykum kami haturkan [~] Dikarang dan disyairkan/dibaca oleh Hanafi Mohan, al-walad al-bilad Negeri Pontianak, di Tanah Betawi, Rabu tarikh 30 hari bulan Ramadhan sanat 1442 Hijriyyah, bertepatan dengan tarikh 12 hari bulan Mei sanat 2021 Miladiyyah Syair ini dipersembahkan untuk Allahyarham Al-Mukarram Al-Ustadz Al-Hajj Tengku Zulkarnain bin Tengku Rafiuddin Saudin, yang wafat pada hari Senin, 28 Ramadhan 1442 Hijriyyah, bertepatan dengan 10 Mei 2021 Miladiyyah Video ini pertama kali disiarkan oleh Lentera Timur Channel setahun lepas, yaitu pada tarikh 2 Syawwal 1442 H/14 Mei 2021, pada tautan berikut ini : https://www.youtube.com/watch?v=3RZ4TEzIglw&t=2s

Kamis, 27 Februari 2020

Perisai Masyarakat Pesisir


Video ini membuka mata kita yang sudah lama terlelap, betapa masyarakat pesisir sebetulnya memerlukan perisai demi membela hak-haknya. Ummat Melayu kini hampir tiada pembelanya, kecuali di beberapa negara yang sememangnya Kaum Melayu berdaulat. Kini sudah saatnya kita masuk ke bentuk perjuangan yang berbeda dibandingkan yang sudah-sudah, yaitu dengan saluran partai politik. Membandingkan dengan yang sudah-sudah, maka mewujudkan Partai Melayu adalah pilihan yang paling moderat untuk saat ini. Kerana itu pulalah, Partai Melayu niscaya harus mewujud demi membela Bangsa Melayu.

Rabu, 22 Januari 2020

Penghujung Bahasa Melayu Bahasa Dunia


Satu artefak sejarah yang menarik adalah Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris berumur kurang lebih sama dan mempunyai dokumen sejarah tertulis yang umurnya juga hampir sepadan, sekarang bertemu di Asia Tenggara sebagai saingan. Tetapi, Bahasa Melayu dahulu telah bersaing dengan bahasa utama dan muncul dengan lebih kaya dan lebih kuat dari pengalaman tersebut. Sepanjang sejarahnya tercatat 1300 tahun, Bahasa Melayu telah menyerap bahasa-bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, dan Belanda, sementara mempertahankan atau pada akhirnya mendapatkan kembali perannya yang terhormat di Kepulauan Melayu. Pertemuan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris telah berlangsung lama, yakni mulai abad ke-16 dan ke-17, ketika orang Inggris – yang bahasanya pada saat itu hanya dipakai di Pulau Inggris dan juga bukan oleh semua warga negaranya – mula-mula menghadapi Bahasa Melayu yang mempunyai kekuatan besar. Bahasa Inggris adalah segala-galanya, tetapi dipaksa keluar dari Kepulauan Melayu hampir seratus tahun yang lalu (sekitar 1700 – 1800), tetapi Bahasa Inggris telah menyusun langkah kemajuan yang mapan sejak itu – bukan tanpa bantuan dari pemerintah, universitas, dan perusahaan dari luar negeri yang mempunyai minat (lihat Phillipson 1992). Masa depan Bahasa Inggris di Asia Tenggara dan hubungannya dengan Bahasa Melayu masih kurang jelas, tetapi apa yang kelihatannya pasti adalah dalam masa depan yang dekat ini Bahasa Melayu akan terus berkembang, tidak mempermasalahkan apa itu belokan idiosinkretis dan pergeseran dalam kebijakan serta perencanaan bahasa yang berlangsung di kawasan itu. Bukan para politisi atau perencana bahasa yang akan menentukan hasil dari persaingan itu. Seharusnyalah kemantapan dan rasa percaya diri dari beratus juta penutur Bahasa Melayu-lah yang akan membentuk masa depan bahasanya, seperti sewaktu mereka membentuk sejarahnya.


[Dikutip dari “Bahasa Melayu, Bahasa Dunia - Sejarah Singkat”, Penulis: James T. Collins, -ed. 2 - Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011, hal. 109-110. Judul asli: “Malay, World Language: a short history”, Published by Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia, 1998.]


Selasa, 24 Desember 2019

'Ulama Kampong Tambelan beserta Warisan 'Ilmunya


1) Haji Muhammad Qasim bin Nakhoda Haji Ahmad bin 'Abdullah (Dato’ Senara)

Di antara ‘ulama yang berasal dari Pontianak yang menghasilkan karya ialah Haji Muhammad Qasim. Nama lengkapnya yaitu: Haji Muhammad Qasim bin Nakhoda Haji Ahmad bin ‘Abdullah (Dato’ Senara) bin ‘Ali (Dato’ Bendahara di Kuantan) bin Tuan Kadi Ahmad.

Beliau wafat dalam usia lebih dari 100 tahun, pada hari Rabu, pukul 9:30 pagi, pada bulan Rabi’ul Awwal sanat 1341 Hijriyyah, di Kuala Maras – Jemaja - Pulau Tujuh - Kepulauan Riau.

Nampaknya hasil karya beliau dalam tahun 1238 Hijriyyah adalah mendahului karangan ‘ulama-‘ulama Pontianak yang lainnya. Karya yang dimaksudkan itu ialah berjudul “Ushuluddin fi Sabilil I’tiqad”, diselesaikan pada tarikh 2 haribulan Syawwal sanat 1238 Hijriyyah. Kandungan kitabnya ini membicarakan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Cetakan yang kedua yaitu oleh Mathba’ah Al-Ikhwan, Singapura, awal Rabi’ul Awwal 1337 Hijriyyah.

Jika diperhatikan jarak waktu dari karya di atas diselesaikan (tahun 1238 Hijriyyah) hingga beliau wafat (tahun 1341 Hijriyyah) ialah 103 tahun. Sekiranya sewaktu menulis itu beliau berusia 20 tahun, maka ini berarti beliau wafat dalam usia 123 tahun.

(Dari beberapa sumber tertulis memang tidak menyebutkan bahwa Haji Muhammad Qasim bin Nakhoda Haji Ahmad bin ‘Abdullah/Dato’ Senara lahir di Kampong Tambelan/Kampong Timbalan Raje, Negeri Pontianak. Tapi jika disusur-galuri silsilahnya kemungkinan besar beliau/Haji Muhammad Qasim memang lahir di Kampong Tambelan. Ini barulah sebatas perkiraan penulis jika menyusur-galuri silsilahnya yang bersambung dengan beberapa orang Pemuka Kampong Tambelan, baik dari fihak perempuan maupun dari fihak laki-laki.)


2) Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu

Ibunda beliau bernama Ruqayyah binti Haji 'Abdul Qadir bin Haji 'Abdul Ghani bin Wan Muhammad Daram bin Encik Wan Mat Thalib bin Encik Wan Jermat bin ‘Umar (Megat Laksamana) bin 'Utsman (Dato’ Kaya Megat Patan Pahang) bin Tuan Kadi Haji Ahmad. Beliau merupakan seorang Nakhoda Pelayaran dan juga Pakar Pengobatan Tradisional (Tabib). Beliau juga menguasai banyak bidang ilmu, terutama sekali ilmu Tawhid dan Tasawwuf. Beliau mempraktikkan pelayaran dan pengobatan yaitu hasil daripada usaha yang gigih melalui pengembaraan ke berbagai negeri di Dunia Melayu (Kepulauan Melayu) ini. Muhammad ‘Umar bin Encik Harun menghasilkan beberapa karya berupa Syair, Kitab Pengobatan (Pertabiban), dan juga Jurnal Pelayaran.

Muhammad ‘Umar bin Encik Harun lahir di Kampong Tambelan (Kampong Timbalan Raje), Negeri Pontianak, Borneo Barat, pada malam Khamis 3 Jumadil Awwal 1275 Hijriyyah/9 Desember 1858 Miladiyyah. Wafat pada usia 73 tahun pada malam Ahad, jam 12.00 lebih sedikit, 28 Shafar 1348 Hijriyyah/4 Agustus 1929 Miladiyyah. Mendapat pendidikan ‘azaz daripada lingkungan keluarga sendiri di Kampong Tambelan, Pontianak. Selain itu, Muhammad ‘Umar bin Encik Harun juga belajar daripada beberapa orang ‘ulama yang datang ke Pontianak pada zaman itu.

Ulama Bangsa 'Arab pada zaman itu sangat ramai, di antara mereka ialah Sayyid Shalih az-Zawawi dan anaknya, Sayyid 'Abdullah az-Zawawi. Muhammad 'Umar bin Encik Harun sempat belajar dengan kedua-dua 'ulama 'Arab itu. Selain itu, para 'ulama di Negeri Pontianak juga ada yang datang dari Negeri Banjar, Bugis, Negeri Patani, Negeri Kelantan, Negeri Terengganu, dan tempat-tempat lainnya.

Karya-karya Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu:

I- "Jurnal Pelayaran dan Petua Melayu", diselesaikan antara tahun 1291 Hijriyyah/1874 Miladiyyah hingga 1293 Hijriyyah/1876 Miladiyyah. Antara topik penting yang ditulisnya yaitu: [1] Perkara Jurnal Pelayaran dari Pontianak Mau Pergi di Tanah Jawa dan Kotaringin. [2] Perkara Jurnal Pelayaran dari Kuala Sambas Mau Pergi Singapura Hendak Tahu Duduknya Pulau-Pulau di Sebelah Barat Adanya. [3] Perkara Jurnal Menyusul dari Tanah Jawa Sampai di Tanah Barat Maka Tersebut Satu-Satu Pelayaran Adanya. Selanjutnya tentang pelayaran dinyatakan juga ukuran-ukuran perahu, serta mengenai pelangkahan.

II- "Syair Negeri Tambelan", selesai penulisan tercatat pada halaman akhir: Tamatlah syair hari Ahad, bulan Muharram tahun lebih empat" (menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, tarikh yang dimaksud yaitu hari Ahad, Muharam 1304 Hijriyyah). Di dalam bait-bait Syair Negeri Tambelan pun ada disebut samar-sama mengenai hal ini: "Tamatlah syair harinya Ahad/ Di Negeri Tambelan kita membuat/ Bulan Muharram tahun lebih empat/ Orang negeri tiada sepakat."

Menurut tela'ahan Aswandi Syahri, bahwa syair ini ditulis pada akhir abad-19 Miladiyyah, ketika Kesultanan Pontianak diperintah oleh Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie (1895-1944 Miladiyyah). Jika mengacu kepada kolofon Syair Bab al-Nikah yang selesai disalin pada 7 Mei 1896 Miladiyyah (24 haribulan Dzulqa'idah malam Juma'at pukul 12 kepada tahun sanah 1313 Hijriyyah), maka larik syair "Bulan Muharram tahun lebih empat" bermakna Syair Negeri Tambelan selesai dibuat atau dikarang empat tahun setelah Syair Bab al-Nikah selesai disalin, yaitu pada tahun 1317 Hijriyyah bersamaan dengan 1899 Miladiyyah.

Kandungannya membicarakan asal usul keturunan Dato' Kaya Tambelan yang ditulis dalam bentuk puisi/syair. Juga secara umumnya mengenai Pulau Tambelan pada akhir abad-19 Miladiyyah.

III- "Buku Perobatan", kandungannya secara umum yaitu catatan mengenai bermacam-macam jenis penyakit dan cara mengobatinya. Pada "Buku Perobatan" ini, oleh Muhammad ‘Umar bin Encik Harun pada setiap sesuatu obat dicatatnya juga nama seseorang yang mengajarkannya mengenai obat yang dimaksud, tarikh penerimaannya, serta lengkap dengan nama tempat atau negeri yang dirantauinya.

IV- Menyalin sebuah karya Raja Ali Haji yang berjudul "Syair Bab an-Nikah" (ada juga yang menyebutnya "Syair Hukum Nikah" ataupun "Syair Suluh Pegawai"). Selesai penyalinan tercatat pada halaman akhir, "Tersurat di Negeri Tambelan pada 24 hari bulan Dzulqa'idah, malam Khamis pukul dua belas kepada tahun sanah 1313." Dan menyalin surat Bab an-Nikah Dato' Petinggi Tambelan, dan dia menyalin surat Raja Ali Riau, Pulau Penyengat.


3) Haji Isma'il bin Haji Musthafa

Beliau berperan sebagai seorang Ahli Pengobatan (Tabib). Beliau dikenal di kalangan masyarakat luas di luar Borneo Barat sebagai seorang yang menyusun kitab pengobatan Melayu. Masyarakat Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia Barat) yang masih banyak menggunakan pengobatan tradisional mengambil pelajaran dari kitab yang dikarang oleh beliau.

Karya-karya Haji Isma'il bin Haji Musthafa yang telah ditemui antara lain yaitu:

I- "Ilmu al-Hikmah wa at-Thib" atau "Hikmah dan Perobatan" (judul sebenarnya tidak diketahui). Karya ini mulai disalin dari buku Haji Musthafa bin Haji Mahmud pada malam Selasa, di Kampong Tambelan, tarikh 9 Rajjab 1298 Hijriyyah, dan diselesaikan pada tarikh 19 Rajjab 1302 Hijriyyah. Kandungannya membicarakan mengenai ilmu hikmah dan berbagai jenis perobatan dalam bentuk wafaq, do’a, fadhilat ayat, ilmu astronomi, jampi-jampi Melayu, tumbuh-tumbuhan, organ binatang, dan lain-lain.

II- "Ilmu Perobatan Melayu", diselesaikan pada hari Rabu, bulan Dzulhijjah 1325 Hijriyyah. Kandungannya membicarakan mengenai perobatan yang bersumberkan dari tumbuh-tumbuhan di Alam Melayu sendiri.


4) Haji Muhammad ‘Arif bin Encik Muhammad Thahir bin Malim Sutan bin Jupa Suara bin Dato’ Bendahara bin Tuan Kadi Ahmad

Ibunda beliau yaitu Zainab binti ‘Abdul Mannan yang melahirkan tokoh ini di Kampong Tambelan (Kampong Timbalan Raje), Negeri Pontianak, pada hari Rabu, pukul 4 petang 29 Rabi’ul Akhir 1279 Hijriyyah. Wafat pada hari Ahad, pukul 1 tengah hari pada 6 Dzulqa’idah 1353 Hijriyyah di Kampong Tambelan, Pontianak, Borneo Barat. Karya Haji Muhammad ‘Arif antara lain:

I- "Matnul Ajrumiyah", diselesaikan di Semarang, 29 Muharram 1291 Hijriyyah. Yaitu mengenai Nahwu Arab yang diberi gantungan makna Melayu.

II- Sebuah buku catatan dengan kandungan: asal-usul datok neneknya, yaitu Dato’ Bendahara. Karya Haji Muhammad Arif yang dimaksud itu juga membahas mengenai hal-éhwal Sejarah Kesultanan Pontianak.


5) Haji ‘Abdus Shamad bin Encik Harun bin Malim Bungsu

Ibunda beliau yaitu bernama Ruqayyah binti Haji ‘Abdul Qadir bin Haji ‘Abdul Ghani. Tokoh ini adalah abang daripada Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu. Lahir di Kampong Tambelan (Kampong Timbalan Raje), Negeri Pontianak, malam Selasa pukul 12, tarikh 5 Syawwal 1264 Hijriyyah. Wafat pada hari Selasa, pukul 7 pagi, tarikh 4 Syawwal 1343 Hijriyyah, dalam usia 79 tahun.

Karyanya yang telah ditemui ialah "Rumus Hisab dan Jurnal Pelayaran", diselesaikan pada tahun 1316 Hijriyyah. Kandungannya yaitu mengenai rumus hisab atau perkiraan barangan yang semuanya menggunakan kode tertentu. Selain itu juga membahas mengenai "Perkara Jurnal Pelayaran dari Kuala Pontianak Pergi di Tanah Jawa dan serta Pergi di Kutaringin Pergi di Banjarmasin".


6) ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Jeragan bin Nakhoda ‘Abdul Mannan bin Nakhoda Ahmad bin ‘Abdullah (Dato’ Bendahara)

Tokoh ini lahir di Kampong Tambelan (Kampong Timbalan Raje), Negeri Pontianak, pukul 2 pagi Juma’at, tarikh 2 Shafar 1302 Hijriyyah. Ibunya bernama Zainab binti Encik Harun. Sepanjang hayatnya telah menghasilkan banyak karya. Antara lain karyanya yang telah ditemui yaitu:

I- “Ilmu Binaan”, judul sebenarnya tidaklah diketahui, diselesaikan pada tarikh 15 Ramadhan 1333 Hijriyyah/28 Juli 1915 Miladiyyah sampai 1921 Miladiyyah. Kandungannya yaitu membicarakan ilmu binaan, cara-cara membuat rumah lengkap dengan jenis-jenis atau nama-nama ukuran yang digunakan. Juga terdapat beberapa catatan lainnya.

Pada halaman depan dicatatkan, “1333-1915. Pontianak tanggal 15 Ramadhan bersama-sama bulan Juli. Yang empunya ini, hamba ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman Tambelan.

II- “Keturunan Minangkabau”, catatan selesai penulisan terdapat pada halaman depan, “Pontianak tanggal kepada 26 Muharram 1345 waktu itulah sahaya ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman habis menulis ini surat salasilah keturunan tua-tua dari asal dulu-dulu. Ada juga yang ditambah-tambah yang setahunya menyalin dalam buku nenda Haji Sulaiman bin ‘Abdul Mannan adanya.

Catatan dilengkapi dengan tandatangan yang dinyatakan, “ila Pontianak Kampong Tambelan, tandatangan, tarikh 6-8-1926”. Kandungannya membahas mengenai jalur keturunan pembesar yang berasal dari Minangkabau yang menjadi raja/pembesar di beberapa tempat di antaranya ialah: Johor, Pontianak, Dato’ Kaya Tambelan, Dato’ Kaya Serasan, Pembesar di Champa/Kemboja, dan lain-lain.

III- “Ilmu Tawhid”, diselesaikan pada 3 Dzulhijjah 1348 Hijriyyah. Kandungannya membahas mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Manuskrip atau tulisan tangan asli ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdurrahman, Kampong Tambelan, Pontianak.

IV- "Catatan Peristiwa", diselesaikan pada malam Khamis, jam 8.00, tarikh 12 Rabi’ul Akhir 1358 Hijriyyah. Kandungannya mengenai catatan tahun lahir, wafat, dan berbagai peristiwa di lingkungan keluarga besar ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman dari tahun 1225 Hijriyyah hingga tahun 1358 Hijriyyah.

# #


Dihimpun oleh: Hanafi Mohan
di Tanah Betawi, Pertengahan Mei - Penghujung Juli 2013 Miladiyyah


Dihimpun dari berbagai sumber, antara lain:

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008]

- Artikel berjudul “Lima Orang Bernama Ismail Tokoh Ulama Melayu di Kalimantan Barat”, Oleh : H. Dato Zahry Abdullah Al-Ambawi dan M. Natsir

- Artikel berjudul “Pengembaraan dan Pengubatan Muhammad Umar”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [Dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 5 Desember 2005]

- Artikel berjudul “Syair Negeri Tambelan”, Oleh: Aswandi Syahri [Dimuat di Majalah “Batam Pos” Edisi 15, Minggu III Mei 2013, pada Kolom “Kutubkhanah”]

- Artikel berjudul “Ulama-Ulama Pontianak dan Karya Mereka (bhg.2)”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 24 Maret 2008]



Sabtu, 21 Desember 2019

Shalawat Nabi dan Senandong Melayu


Para orang tua di kampong kami semenjak anak-anaknya masih dalam buaian, sekiranya shalawat Nabi serta senandong Melayu lah yang selalu dilantunkan ke pendengaran anaknya. Semulanya memang berfaedah untuk menghibur dan mendodoikan anaknya. Tapi tak dapat disangkal pula, lantunan-lantunan shalawat dan senandong dimaksud menyelusup jauh ke dalam jiwa sang anak, yang itulah salah satunya yang membentuk karakternya semenjak belia.

Shalawat dan senandong sama-sama berfaedah melembutkan hati sang anak. Orang-orang Melayu yang lembut hatinya kemungkinan semenjak belia memang selalu mendengar shalawat dan senandong. Shalawat sepatutnya dilantunkan perlahan, dengan irama yang menyentuh, begitu pula senandong. Al-Qur’an yang dibaca atau didengarkan dengan penuh penghayatan biasanya tanpa sadar mampu meneteskan air mata orang yang membaca atau mendengarnya, sebegitu juga dengan shalawat dan senandong.

Benang-benang halus jiwa dan selubung qalbu orang Melayu akan mudah tersentuh oleh shalawat dan senandong. Oleh kerananya pula, budi bahasa orang Melayu itu begitu halus, lembut, dan sepatutnya juga berakhlaq mulia.

Di kampong kami, pembacaan shalawat menjadi keseharian masyarakat. Shalawat hidup hampir dalam setiap sisi kehidupan. Juga dalam seni orang Melayu, seperti Dzikir Hadrah dan Jepén (jepin/zapin). Shalawat merupakan suatu bentuk takzim kami kepada Nabi Muhammad Rasulullah Akhir Zaman. Melalui risalah tawhid yang dibawa dan disyi’arkannyalah, kami Bangsa Melayu hingga detik ini masih terus menjulangkan tamaddun.

Sebegitu shalawat, sebegitu pula senandong. Setelah alunan Kalam Ilahi (Al-Qur’an), Shalawat Nabi, dan kumandang Azan, maka tak ada lagi alunan di atas bumi ini yang mampu menyentuh jiwa kami selain daripada Senandong Melayu. Bila shalawat berisi puji-pujian kepada Rasulullah, juga sejarah hidup serta perjuangan beliau. Maka senandong lebih banyak mengandung bait-bait berkenaan perikehidupan orang Melayu. Biasanya berupa untaian-untaian sastera Melayu berbentuk pantun, gurindam, syair, seloka, dan nazham.

Setiap kelahiran anak-anak orang Melayu selalu disambut dengan azan dan iqamah. Tentu ayahanda dari si anak lah yang meng-azan-kan dan meng-iqamah-kannya. Dan saat anak tersebut berusia tiga bulan atau lebih, maka diadakanlah Acara Gunting Rambut dan Aqiqah. Ketika acara dimaksud, biasanya diisi dengan pembacaan Al-Barzanji, juga Syarful Anam dan Dzikir Hadrah, diiringi dengan membunyikan Tar.



Shalawat Badar tentu menjadi lantunan yang begitu sering menyelusup ke pendengaran kami semenjak kecil. Juga Shalawat Tibbil Qulub (Shalawat Syifa) yang dibaca menjelang Azan (Bang) Shalat Maghrib dan Shubuh di surau-surau dan masjid-masjid di kampong kami serta sekitarnya.

Senandong Laela Manja dan Senandong Anakku Sazali biasanya didendangkan ibunda kami ketika mengayun buaian, sehingga kami tertidur lelap. Ayahnda kami juga mendodoikan kami dalam pelukannya dengan lantunan shalawat dan dendang senandong.

Ketika masuk usia bersekolah, kami mulai diajar membaca Al-Qur’an. Biasanya sebelum masuk usia sekolah juga sudah diajarkan huruf hijaiyyah serta mengeja dan membaca Al-Quran Kecil (Juz Amma). Selain disekolahkan di sekolah formal (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyyah) pada pagi hingga siang hari, kami juga disekolahkan di Madrasah Diniyyah Awwaliyyah pada siang hingga petang hari.

Pada usia ini kami juga mulai mempelajari Syarful Anam dan Dzikir Hadrah beserta Tari Redat-nya. Bagi yang tertarik dengan Jepén, maka pada usia ini pula mulai mempelajarinya. Dari semenjak belia karakter kami memang betul-betul terasah untuk peduli terhadap khazanah Bangsa Melayu ini.

Setiap malam Juma’at, Al-Barzanji dibacakan bersama-sama di surau, langgar, ataupun masjid di kampong kami. Al-Barzanji juga biasanya dibacakan pada acara-acara tertentu seperti menjelang dan setelah acara pernikahan, maulud Nabi Muhammad, khatam Al-Qur’an, berkhitan (bersunat), gunting rambut, dan aqiqah. Pada acara-acara tersebut juga biasanya dibacakan Shalawat Dala’ilu Al-Khayrat, Burdah, Diba’, serta Syarful Anam dan Dzikir Hadrah.

Selebihnya tentu begitu banyak pula khazanah Bangsa Melayu yang kami dengar bahkan pelajari semenjak belia. Dari pantun, syair, gurindam, seloka, nazham, ghazal, dan tentunya senandong dengan berbagai rentak iramanya. Sedemikian kayanya khazanah bangsa kami, seakan-akan tak ada habis tak ada hentinya untuk digali. Terhampar tanggungjawab di hadapan untuk generasi kini dan berkelanjutan untuk generasi masa depan demi menjaga, menjulangkan, serta menggemilangkan khazanah-khazanah tersebut.

Hasbunallah wa ni’ma al-wakil. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. [~]



Hanafi Mohan,
Tanah Betawi, Sabtu, 24 Rabi’ul Akhir 1441 Hijriyyah/
bertepatan dengan 21 Desember 2019 Miladiyyah



Sumber gambar ilustrasi: https://www.attaubah-institute.com/ dan https://www.eramuslim.com/

Selasa, 23 Agustus 2016

Bahasa Melayu Terpaksa Mengalah


Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional di Indonesia, sering pula disebut Bahasa Indonesia; walau dalam sejarahnya tidak ada ragam bahasa yang bernama Bahasa Indonesia, tetapi Bahasa Melayu yang nyatanya dimasuki oleh kosakata dari bahasa asing dan bahasa daerah di luar Melayu, itulah kini yang disebut Bahasa Indonesia. Namun pengucapan kata demi kata dalam Bahasa Indonesia sekarang sudah berada di luar kaidah Bahasa Melayu itu sendiri.

Saat ini bahasa yang disebut Bahasa Indonesia tersebut semakin terasa berkembang, namun serasa terlalu bebas dan sulit membedakan yang mana bahasa pasar serta yang mana pula bahasa resmi. Televisi mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan berbahasa yang lebih banyak perencah Jawa, Sunda, dan lainnya. Orang Melayu di Sumatera atau di Borneo dipaksakan harus mafhum mengalah atas perkembangan berbahasa di luar kaidah berbahasa Melayu.

Saat Pemerintahan Orde Baru misalnya, yang memaksa pemakaian kata "Desa". Terpaksalah wilayah-wilayah yang berada di luar Pulau Jawa mengubah "Kampung" menjadi "Desa". Pada semua negeri-negeri Melayu mengenal kampung, bukan desa. Demikian juga kata "Lurah" yang dalam Bahasa Melayu bermakna tanah rendah di antara gunung; lembah; alur atau lekuk memanjang pada papan, dan lain- lain; akhirnya dijadikan pengganti untuk Penghulu Kampung, Ketua Kampung, atau Kepala Kampung. Di Sumatera Timur, hingga kini tak mengenal RT/RW seperti halnya di Pulau Jawa. Hingga tak ada Pak RT seperti ceritera sandiwara televisi soal perkampungan di Jawa.

Ada kata Timpuk, Amburadul, Bocah, Gede, Cowok, Cewek, untuk menyebut Lontar/Lempar, Centang Perenang, Kanak-Kanak, Besar, Lelaki, Perempuan, dan masih banyak kata dalam bahasa bukan Melayu yang diucapkan latah oleh Orang Melayu buatan baharu. Memang beratus-ratus kata bukan Bahasa Melayu dihidangkan setiap hari di televisi. Dan kepintaran Orang Melayu tiada banding, karena Orang Melayu mampu memahami juga apa-apa yang dicakapkan kotak bersuara itu. Namun nyatanya laksana tua nyanyok, Orang Melayu turut latah pula memakai kata-kata tersebut dan melesapkan kata-kata Melayu milik datok moyangnya.

Akibat pengaruh media yang tak terbendung lagi, anak-anak belia di Sumatera, Kepulauan Riau, ataupun Borneo misalnya, sekarang ini sangat gemar bercakap macam orang Betawi atau Sunda. Padahal mereka sebenarnya belum pun pernah menginjakkan kaki ke Pulau Jawa. Hingga apa-apa yang diucapkan terasa lucu dan membuat saya mengerenyam kepala serasa berkelemumur sebesar tungku. Kata "Dong" yang maknanya kira-kira "Lah" turut diucapkan bersama-sama dengan kata "Deh" dan "Sih", untung saja kata "Sekolah" tidak menjadi "Sekodong", kata "Belah" tak diucapkan "Bedong. Lagi- lagi Bahasa Melayu terpaksa mengalah.

Akhir-akhir ini ada juga yang menggembirakan, yaitu stasiun-stasiun TV di Jakarta ada juga yang mengembalikan beberapa kata Melayu lama menjadi kata yang sering diucapkan. Sebut saja misalkan kata "Galau" yang dalam Bahasa Melayu bermakna bising, kalut, bergelora perasaan. Ada pula kata "Begal" yang dalam Bahasa Melayu bermakna penyamun. Membegal maknanya adalah menyamun, merampas (di jalan). Pembegalan maknanya adalah penyamunan atau perampasan. #*#


** Penulis: Tengku Muhar Omtatok (Pentadbir Pusat Kajian Puak Melayu)


Rabu, 30 September 2015

Menelisik Jati Diri, Menyibak Tamaddun Negeri


Pada sekitar tahun 2005, pernah menulis suatu makalah sebagai prasyarat mengikuti Intermediate Training pada organisasi mahasiswa ekstra kampus yang saya bergiat di organisasi tersebut ketika itu. Tajuk makalahnya masih ingat betul, yaitu “Teknologi dan Teralienasinya Manusia; Menyibak Relung-Relung Akal dan Hati”. Makalah tersebut khusus membahas mengenai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan organisasi mahasiswa sebagai rumah ke-dua tempat saya berteduh tersebut.

Tulisan saya kali ini bukan ingin mendedah makalah yang dimaksud, hanya kebetulan teringat tajuk makalahnya itu saja. Dan sememangnya pengalaman beraktivitas di organisasi tersebut adalah salah satu tahap kehidupan yang pernah saya jejaki sehingga sampai pada tahap kehidupan kini.

Saya sungguh menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap fase kehidupan yang pernah saya lalui hingga sampai pada fase kini merupakan proses berterus-terusan menelisik jati diri. Segala macam pandangan saya kini adalah akumulasi dari semua fase yang telah dilalui itu. Sehingga saya pun sedikit demi sedikit dapat menyibak tamaddun negeri kampong halaman saya, negeri tempat saya lahir dan membesar diri.

Dilahirkan dan dibesarkan di salah satu negeri Melayu, juga dididik dengan segala macam tunjuk ajar Melayu berikut khazanah adat resam budaya Melayu yang begitu kaya. Setidak-tidaknya itulah jati diri sebagai Budak Melayu yang hingga kini tak pernah sedikit pun meluntur dari kedirian ini, apakanlah lagi sampai tumpas punah ranah berderai terkecai-kecai.

Masa-masa membesar diri di Negeri Pontianak patut saya akui sebagai masa-masa terindah yang pernah diri ini lalui. Dan kemudian masa-masa menempuh pendidikan di Tanah Betawi adalah masa-masa penuh tantangan dan menggoreskan selaksa pengalaman. Bertahun-tahun bermastautin di Tanah Betawi serta menimba ilmu dan pengalaman di negeri tempat bersinggasananya pusat kekuasaan negara ini tak kemudian memupuskan jati diri saya sebagai Budak Melayu Negeri Pontianak. Sebagaimanapun saya di masa kini, tetaplah takkan pernah luntur, bahwa saya tetaplah Anak Wathan Pontianak.

Sebagai salah satu negeri Melayu termuda di antara yang lainnya, Pontianak telah mawjud menjadi negeri yang diperhitungkan dahulu hinggalah kini. Hal itu tiada lain karena perjuangan para pemangku negerinya yang tak kenal lelah demi memartabatkan negeri ini. Dalam usianya yang masihlah muda ketika itu, Negeri Pontianak telah menjelma menjadi bandar utama di Borneo Barat, bahkan menjadi ibu negeri bagi Federasi Borneo Barat.

Pahit, manis, masam, masin, hambar, tawar, sepat, dan kelatnya perikehidupan tentu telah dilalui Negeri Pontianak sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera negeri yang terberkahi ini, bahkan hingga kini serasa kunjung tak ada habisnya menimpa negeri yang sangat dicintai oleh putera-puterinya ini. Tapi Negeri Pontianak bukanlah negeri yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera negeri yang di'azazkan oleh jurai zuriat Rasulullah ini, maka segala macam cabaran itu takkan pernah meluluh-lantakkan negeri yang darussalam ini.

Teringat pula dengan untaian syair Zikir Hadrah yang sentiasa dilaung-laungkan oleh Kelab Hadrah Setia Tambelan setiap kali memperingati Hari Jadi Negeri Pontianak. Syair Hadrah Hari Jadi Negeri Pontianak dimaksud dikarang oleh Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Qasim Mohan (Haji Muhammad Qasim bin Haji Muhammad Bura’i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im). Beliau adalah pemimpin Kelab Hadrah Setia Tambelan ketika itu, juga pernah berkhidmat mengemban amanah sebagai Kepala’ Kampong Tambelan Sampit untuk beberapa masa bakti. Begini tiga bait pertama dari untaian syairnya:

Maha suci Tuhan melimpahkan hidayahnya
Pada Syarif 'Abdurrahman yang dikehendakinya
Untuk membuka negeri, Pontianak namanya
Satu Tujuh Tujuh Satu Masehi di dalam sejarahnya

Syarif 'Abdurrahman kembali ke daerah
Di sebuah negeri bernama Mempawah
Menemui ayahnya yang pernah beramanah
Menganjurkan membuka negeri menegakkan agama Allah

Tiba di Mempawah ayahanda telah tiada
Hatinya merasa sedih mengenangkan ayahnya
Yang telah beramanah kepada dirinya
Supaya membuka negeri tempat kediamannya


Jika syair Zikir Hadrah dimaksud dihayati betul-betul, apalagi dibawakan dengan irama yang pas, tentu kita dapat hanyut dalam untaian Riwayat Negeri Pontianak yang 'kan selalu diingat-ingat oleh putera-puteri negeri ini. Untaian syair yang membawa pada perasaan yang begitu khas.

Tiga bait lainnya dalam untaian syair ini juga sedikit menggambarkan suatu episode sejarah yang begitu penting ketika didirikannya Negeri Pontianak. Begini untaian syairnya:

Sampai di Batu Layang di waktu shubuh hari
Sembahyang dua raka'at serta memuji
Kebesaran Tuhan Rabbul Izzati
Yang dicita-citakan telah dipenuhi

Beliau sepakat melepaskan tembakan
Di mana peluru jatuh di situ didirikan
Daerah Simpang Tiga peluru ditemukan
Di situlah pertama mereka menebang hutan

Syarif 'Abdurrahman bersyukur kepada Tuhan
Amanah ayahanda telah dapat dilaksanakan
Di waktu pertama bekerja menebang hutan
Didirikan Masjid Jami' Sultan Syarif 'Abdurrahman


Dan tak lupa pada salah satu bait penutupnya menggambarkan harapan dan ‘azam putera-puteri Negeri Pontianak untuk terus dan selalu menggemilangkan negeri yang begitu dicintainya ini. Bait penutup dimaksud berbunyi seperti ini:

Ya Allah iftahlana Ya Rahman
Berikanlah kami satu kekuatan
Dalam perjuangan menyukseskan pembangunan
Melanjutkan cita-cita Sultan Syarif 'Abdurrahman


Tarikan negeri ini terhadap masyarakatnya begitulah kental, bagai seorang anak dengan ibundanya. Sebagaimana seorang anak yang begitu akrab pertalian jiwanya dengan ibu kandung yang melahirkannya, sebegitu juga putera-puteri negeri ini dengan Negeri Pontianak sebagai negeri kampong halamannya, negeri tempatnya dilahirkan serta dibesarkan. Segenap jiwa dan raganya rela dikorbankannya demi menjaga marwah negeri ini, demi menjulangkan tamaddunnya yang tak lekang oleh panas, serta takkan pula usang oleh hujan.

Masih begitu banyak yang sepatutnya dilakukan oleh putera-puteri Negeri Pontianak demi semakin memartabatkan negeri ini masa kini hingga ke masa hadapan. Tapi satu yang pasti, jati diri sebagai Anak Wathan Pontianak patut berterus-terusan dipupuk. Luntur jati diri, terbenam pula negeri ini di samudera peradaban dunia.

Kampong halaman kita harus selamat, jangan sampai melintang pukang tak tentu hala tuju di tengah racaunya dunia ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan di Negeri "Bumi Khatulistiwa" ini, maka tentulah kita juga yang akan menjaganya dan menyelamatkannya dari segala macam cabaran.

Semoga kita sentiasa dilimpahkan ketabahan dan kesabaran demi menggilang-gemilangkan negeri yang sama-sama kita cintai ini. Tawfiq serta hidayah dari Allah Rabbul Izzati tentu selalu kita harap-harapkan sebagai penuntun jalan tika gelita. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 8-16 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 22-30 September 2015 Miladiyyah



Rabu, 10 Juni 2015

Bahasa Melayu Sejatinya


Pada zahirnya, bahasa indonesia itu adalah Bahasa Melayu. Tak ada yang dapat disangkal-sangkal berkaitan dengan hal dimaksud. Lingua Franca di Kepulauan Melayu ini adalah Bahasa Melayu, itu pun juga tak lah dapat disangkal-sangkal tentunya. Tapi bagaimana pula penyebutannya/namanya sebagai Bahasa Nasional di tiap negara di Kepulauan Melayu ini, perihal tersebut yang masih silang sengkarut. Belum lagi ihwal klaim bahasa persatuan tersebut berasal dari logat negeri mana, itu juga kiranya masih menjadi persoalan.

Ada yang mengatakan bahwa bahasa indonesia berasal dari Bahasa Melayu Riau. Saya mau bertanya balik, bagaimana sebenarnya Bahasa Melayu Riau itu? Lalu bagaimana mungkin ada kesimpulan seperti itu? Bagi saya, itu sesuatu yang keliru.

Cukuplah sebutkan bahwa bahasa indonesia itu Bahasa Melayu lah adanya. Penyebutan bahwa Bahasa Melayu yang dimaksud adalah Bahasa Melayu ini Bahasa Melayu itu, atau berasal dari Bahasa Melayu negeri ini Bahasa Melayu negeri itu, sungguh hal demikian tak lebih hanya klaim sepihak, klaim yang tak punya dasar, dan itu menjerumuskan kepada inferioritas Melayu. Apakanlah lagi penelitian termuta-akhir ada pula yang menyatakan bahwa asal-muasal Bahasa Melayu yaitu dari Kalimantan Barat/Borneo Barat. Menurut penelitian tersebut, diversifikasi Bahasa Melayu yang begitu tinggi di Borneo Barat telah mengukuhkan wilayah ini sebagai kawasan asal muasal persebaran Bahasa Melayu.

Karena Bahasa Melayu mula tersebar dari Borneo Barat, maka anggapan-anggapan yang selama ini menyatakan bahwa Bahasa Melayu berasal dari Sumatera ataupun berasal dari Semenanjong Tanah Melayu, ataupun pernyataan yang menyebutkan bahwa bahasa persatuan yang kini bernama “bahasa indonesia” itu berasal dari Bahasa Melayu Riau dengan demikian serta merta runtuh dengan sendirinya. Begitupun klaim beberapa negeri mengenai asal muasal Puak Melayu dengan sendirinya juga berguguran.

Pengubahan nama Bahasa Melayu menjadi bernama bahasa indonesia itu adalah keputusan politik yang sungguh tak guna dipertahankan serta tiada perlu diteruskan. Itu merupakan keputusan politik yang tak beradat sekaligus tidak beradab.

Beberapa pihak menyatakan, bahasa persatuan di indonesia yang tak lain merupakan Bahasa Melayu itu, yang kemudian dinamakan bahasa indonesia adalah karena untuk menghindari kecemburuan dari yang selain Melayu, mengingat di negara ini etniknya beragam/majemuk. Satu yang patut diketahui oleh pihak-pihak yang berpandangan seperti itu, bahwa keberagaman itu merupakan sunnatullah. Hargailah keberagaman itu tanpa paksa memaksa untuk menyeragamkannya, dengan tetap menempatkannya sebagai keberagaman. Termasuk juga dalam hal ini nama suatu bahasa.

Tak habis pikir semisalkan jika bahasa persatuan di negara ini adalah Bahasa Jawa, lalu untuk menghindari kecemburuan dari etnik-etnik lainnya kemudian bahasa yang sejatinya bernama Bahasa Jawa itu diganti namanya menjadi bernama bahasa indonesia. Saya yakin, jika demikian adanya tentu orang-orang Jawa tak akan terima nama bahasanya diubah-ubah ditukar-ganti dengan nama yang lainnya.

Lalu ada pula yang menyatakan bahwa orang Melayu sudah mewakafkan bahasanya menjadi bahasa persatuan negara ini, sehingga ihwal pengubahan nama bahasa itu tak usah lagi dipersoal-soalkan. Ini sungguh pernyataan dari orang-orang yang tak tau jalan cerita. Patut diingat, bahwa Bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan dan bahasa pergaulan di negara ini melalui cara-cara yang alamiah, juga menempuh perjalanan sejarah yang tak sebentar. Dalam hal ini, tak ada pula wakaf-mewakafkan bahasa. Tak usah mengada-ngadalah dalam perkara yang bukan main-main ini.

Bagaimanakah dengan Bahasa Sansekerta? Benarkah Bahasa Sansekerta ada kemiripan dengan Bahasa Melayu?

Dalam Bahasa Melayu, sebagiannya ada menyerap beberapa bahasa lain, seperti Bahasa Sansekerta, Bahasa Arab, Bahasa Parsi, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, dan beberapa yang lainnya. Sebagaimana bahasa-bahasa lain juga ada menyerap kata-kata dari Bahasa Melayu.

Bahasa Sansekerta dengan Bahasa Melayu jelaslah berbeda, sama halnya Bahasa Arab berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Parsi berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Inggris berbeda dengan Bahasa Melayu, Bahasa Belanda berbeda dengan Bahasa Melayu, dan seterusnya.

Seperti diketahui bersama, bahwa tidak hanya di Sumatera, Semenanjong Tanah Melayu, Kepulauan Riau, dan Borneo saja yang menggunakan Bahasa Melayu. Sulawesi, Maluku, Papua, serta beberapa wilayah lainnya juga menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan dan pergaulan mereka. Dan di sana mengenalnya dengan nama Bahasa Melayu, bukan bernama bahasa indonesia.

Bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan dan bahasa pergaulan di banyak negeri serta pada banyak puak Bangsa Melayu di Alam Melayu/Kepulauan Melayu ini. Negerinya boleh berbeda-beda, begitupun puak etniknya boleh bermacam-rupa, tapi semuanya merupakan Bangsa Melayu (dengan pengecualian Papua yang merupakan Ras/Rumpun Melanesia). Di Sulawesi, di Maluku, di Sumbawa, di Lombok, di Papua, di Bali, serta di serata negeri mengenal dan menyebut bahasa perhubungan, bahasa pergaulan, sekaligus bahasa persatuan ini dengan nama "Bahasa Melayu".

Lalu bagaimana pula bahasa indonesia tiba-tiba muncul dengan kekuatan 28 Oktober itu kemudian menjadikannya sebagai Bahasa Nasional? Betapa bangganya kita karena bahasa kita (Bahasa Melayu) dijadikan sebagai bahasa persatuan.

Berkaitan dengan negara indonesia, dia memerlukan semacam tonggak, yang padanya bermula yang katanya itu "persatuan". Maka belakangan hari, dicari-carilah tonggak dimaksud, dan kemudian diketemukanlah peristiwa rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut, yang itu kemudian dijadikan sebagai tonggak persatuan. Di dalamnya disepakati untuk menjunjung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Melayu. Tapi dalam kesepakatan itu ada perbedaan pandangan soal nama bahasa persatuan. Ada yang tetap bertahan dengan nama “Bahasa Melayu”, dan ada pula yang mengajukan saran agar diubah menjadi bernama “bahasa indonesia”.

Dan kemudian menurut ceritanya itu, disepakatilah Bahasa Melayu diubah menjadi bernama “bahasa indonesia” dengan berbagai pertimbangan. Belakangan hari dikarang-karanglah cerita bermacam ragam soal itu, yang di antaranya banyaklah yang mengarut tentunya. Berbagai macam kesepakatan apapun itu, serta keputusan politik apapunlah itu tentu takkan pernah mengubah kenyataan sebenarnya, bahwa bahasa persatuan di negara indonesia ini adalah Bahasa Melayu.

Jika alasan beratnya pengubahan kembali nama bahasa persatuan tersebut (kembali dinamakan Bahasa Melayu) berkaitan dengan UUD 1945, itu juga hanya alasan tak mendasar. UUD 1945 itu hingga kini telah begitu banyak diamandemen. Jadi bukan pada tempatnya pernyataan-pernyataan naif seperti itu diungkapkan, kecuali semakin menampakkan ketidakmengertian pihak-pihak dimaksud akan banyak hal.

Ada juga pernyataan-pernyataan yang menyesatkan yang menyebutkan bahwa Bahasa Melayu adalah dasar dari bahasa indonesia, atau bahasa indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Ungkapan-ungkapan seperti itu merupakan usaha yang membelah-belah seakan-akan bahasa indonesia itu sesuatu yang berbeda dengan Bahasa Melayu. Patut kiranya ditegaskan bahwa bahasa indonesia itu adalah Bahasa Melayu, tak ada keraguan berkenaan hal itu.

Selain itu masih banyak lagi pernyataan-pernyataan lainnya yang mengelirukan. Pengaburan identitas bahasa ini dari dahulu hingga kini berterus-terusan dilakukan oleh otoritas negara indonesia. Dan ramai pihak pula yang mendukung usaha-usaha yang mengarut itu.

Walau begitu ramainya pihak dan golongan yang beri'tikad menimbus-nimbus hakikat sebenarnya, namun kesejatian Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di negara ini akan selalu benderang adanya. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 18 Januari – 16 Maret 2015



** Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Laman Website Melayu.us

Jumat, 22 Mei 2015

Musik Motivasi Setahun Silam


Adalah "Bang Dwi Bebeck" kami akrab menyapanya. Seorang musisi kreatif, itu kiranya yang patut disandangkan kepadanya. Kini Bang Dwi Bebeck lebih banyak bergerak di bidang usaha Craft. Pengalamannya di bidang musik tentu tak dapat disangkal-sangkal. Murid yang ia didik juga tak sedikit. Sekira lebih setahun yang lalu kenal dan berjumpa dengannya.

Ketika itu Bang Dwi Bebeck (nama lengkapnya yaitu Dwi Agus Prianto) sedang mengusung Musik Motivasi, selain juga berkampanye sebagai Calon Anggota DPRD Kalimantan Barat (Kalbar) pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 yang diusung dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sempat dua kali saya diminta oleh Bang Dwi Bebeck untuk tampil di Musik Motivasi yang diusungnya, yaitu pada 27 dan 31 Januari 2014, bertempat di Kedai Kopi Krakatau 123, Negeri Pontianak. Waktu itu saya kebetulan sedang berada di Pontianak untuk suatu urusan keluarga (baca tulisan saya sebelumnya yang bertajukPontianak Singgah Palembang”).

Jika yang lain-lain tampil bermusik, lain halnya dengan saya ketika itu. Bang Dwi Bebeck meminta saya untuk mendedahkan dan menela’ah mengenai Sejarah dan Budaya Melayu, wa bil khusus Negeri Pontianak. Selain itu diminta juga untuk membacakan Syair Melayu. Kebetulan waktu itu saya lagi senang-senangnya dengan “Syair Rakis” dari Negeri Berunai Darussalam, karya Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh Ibnu Pengiran Sharmayuda, yang ditulis pada sekitar tahun 1840 Miladiyyah. Beliau (Pengiran Syahbandar Pengiran Muhammad Shaleh) diperkirakan hidup antara abad ke-18 hingga abad ke-19 Miladiyyah.

Tampil berbicara di hadapan anak-anak muda bukanlah pengalaman baru bagi saya. Tapi jika tampil di hadapan berbagai generasi saat Musik Motivasi kala itu, mungkin itu bagi saya merupakan pengalaman baru. Apalagi ihwal yang diperbincangkan juga tak biasa-biasa: sejarah, budaya, bahasa, tamaddun Melayu, kaitannya dengan Negeri Pontianak, Borneo/Kalimantan, dan Kepulauan Melayu ini secara umumnya.

Dapat bertatap muka dan berbincang di hadapan khalayak merupakan suatu yang menyenangkan. Tak terkecuali saat Musik Motivasi ini. Terlihat di hadapan saya orang-orang yang bersemangat menjalani kehidupan. Tatapan mata mereka adalah pancaran semangat dan keberanian generasi Melayu masa kini yang diwarisi dari datok nenek moyangnya yang bijaklaksana. Keingintahuannya menyala membuak-buak, bahkan apa-apa yang saya sampaikan tentu belumlah dapat meredakan lapar dahaganya akan tamaddun bangsa yang besar ini.

Masih banyak tentunya yang harus dilakukan oleh generasi muda Borneo Barat/Kalimantan Barat kini demi menjulangkan tamaddun negeri-negeri Melayu di tanah yang terberkahi di bagian barat Benua Hujung Tanah ini. Dan Musik Motivasi sebagai salah satu mediumnya harap-harap sentiasa hadir mengisi relung-relung aktualisasi kreatif generasi Borneo Barat kini. Yaitu anak-anak muda yang tentunya punya selaksa cita demi menjulangkan serta memasyhurkan peradaban kampong halaman tanah kelahiran yang dicintainya ini, Bumi Khatulistiwa Betuah. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 13-22 Mei 2015

Kamis, 23 April 2015

Kaum Buta Huruf


Orang-orang tua di kampongku (di dalam Negeri Pontianak) pada suatu masa dahulu pernah digolongkan sebagai kaum buta huruf. Tapi apakah mereka betul-betul buta huruf? Nyatanya mereka sangat pacak nan pandai baca-tulis Arab dan Arab Melayu. Lalu apa musababnya sehingga mereka digolongkan sebagai kaum buta huruf? Tiada lain jawabannya, karena mereka tak pandai baca-tulis Latin.

Di gedung sekolah kami ketika itu, kalau pagi hingga siang kelasnya berisi murid-murid sekolah dasar yang sedang belajar, maka lain lagi siang hingga petang harinya. Kelas-kelas kami siang hingga petang dipakai oleh orang-orang tua kami untuk belajar baca-tulis Latin.

Para "Kaum Buta Huruf" ini dengan khidmat mempelajari baca-tulis abjad yang diguna-pakai oleh bangsa-bangsa nun jauh di sana. Mereka mau tak mau menerima sebutan sebagai orang-orang yang buta huruf. Menurut penguasa ketika itu, orang-orang yang buta huruf tersebut adalah orang-orang yang bodoh.

Kini sebagian dari "Kaum Buta Huruf" itu telah ramai yang tiada, telah pergi mendahului kami. Dari mereka lah kami belajar mengaji Al-Qur'an, menderas baca tulis Arab dan Arab Melayu.

Dan sememangnya mereka bukanlah Kaum Buta Huruf. Perubahan zaman serta beralihnya otoritas penguasa ke tangan kaum sekuler-republikan-unitaris telah ikut pula menepikan mereka para orang tua kami dengan stigma "Kaum Buta Huruf".

Mengingat stigma-stigma semacam itu yang suatu masa dahulu pernah ditimpakan kepada orang-orang tua kami, insyaflah diri kami, bahwa kaum kami pada masa itu secara sistematis memang sengaja hendak diketepikan oleh otoritas penguasa negara ini. Bahkan sampai kini pun kaum kami tetap dianggap sebagai kaum marjinal, dengan dilekatkan berbagai stigma negatif pula tentunya. Dan itu semua terjadi di kampong halaman kami sendiri, di negeri tanah kelahiran kami yang dahulunya pernah berdaulat. *#*



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 21-23 April 2015


* Sumber gambar ilustrasi: Laman Website batamtoday.com

Selasa, 06 Januari 2015

#Bedabol Éhwal Masyarakat Melayu

Video ini merupakan percakapan dua orang Budak Pontianak yang sedang merantau di Tanah Betawi. Merupakan kelanjutan dari video sebelumnya yang bertajuk #Bedabol (Pasal 1: Éhwal Bahase). Dalam Bahasa Melayu Pontianak, percakapan yang seperti ini biasanya disebut "bedabol". Secara harfiah, makna dari "bedabol" yaitu percakapan/perbincangan tanpa tema yang spesifik. Tiap video #bedabol ini menggunakan istilah "pasal" (Pasal 1, Pasal 2, dan seterusnya) lengkap dengan tajuk masing-masing pasal yang dimaksud. Bedabol kali ini merupakan bedabol pasal 2. Tajuk yang diperbincangkan yaitu mengenai Masyarakat Melayu yang tersebar di serata Alam Melayu/Kepulauan Melayu, bahkan tersebar hingga ke serata tempat di dunia ini, serta kait mengait dengan ihwal lainnya. Percakapan ini dalam Bahase Melayu Pontianak/Bahasa Melayu Dialek Pontianak/Bahasa Melayu Logat Pontianak. Selamat menyaksikan. Tulisan terkait: #Bedabol Éhwal Bahase

Selasa, 16 Desember 2014

#Bedabol Éhwal Bahase

Video ini merupakan percakapan dua orang Budak Pontianak yang sedang merantau di Tanah Betawi. Dalam Bahasa Melayu Pontianak, percakapan yang seperti ini biasanya disebut "bedabol". Secara harfiah, makna dari "bedabol" yaitu percakapan/perbincangan tanpa tema yang spesifik. Perbincangan mengenai suatu hal terkadang sambung menyambung kait mengait dengan hal-hal yang lainnya. Karena itu pula, "bedabol" biasanya tak kenal waktu, dengan durasi perbincangan yang kadang begitu lama. Jika mulai berbincang lepas 'Isya, boleh jadi perbincangan tersebut usai ketika menjelang Shubuh. Tiap video #bedabol ini menggunakan istilah "pasal" (Pasal 1, Pasal 2, dan seterusnya) lengkap dengan tajuk masing-masing pasal yang dimaksud. Bedabol kali ini merupakan bedabol pasal 1. Tajuk yang diperbincangkan yaitu mengenai Bahasa Melayu Pontianak dan kait mengaitnya. Selamat menyaksikan.

Minggu, 19 Juni 2011

#Pansai [Bebahase Melayu Pontianak di Twitter]




>> hanafimohan
Sangkelah dah pansai, rupenye lom.. @syachranie_ @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do @fauziahsyauz @FikieAyank , #kancai #Pansai
9 Jun Favorite Reply Delete

>> syachranie_
Ape ee yg pansai...?RT @hanafimohan: Sangkelah.. @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do @fauziahsyauz @FikieAyank , #kancai #Pansai
9 Jun Favorite Undo Retweet Reply

>> hanafimohan
Nasi’ Kebuli ni ha,kuater ja’ pesai. RT @syachranie_ Apeny yg pansai? @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do @fauziahsyauz @FikieAyank , #pansai
9 Jun Favorite Reply Delete

>> syachranie_
Dudi tak untong rugi,,,RT @hanafimohan: Nasi’ Kebuli ni ha,kuater ja’ pesai RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do @fauziahsyauz @Fikie #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
Udah kena' kecai-kecai, RT @syachranie_ Dudi tx untong rugi, RT @hanafimohan: Nasi’ Kebuli ni ha, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Asal jgn smpai Benyai yak RT @hanafimohan: Udah kena' kecai-kecai, RT @hanafimohan: Nasi’ Kebuli @ezakkacax @pak_tehMaMau #Pansai
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
Ndak pula' Benyai,cuman pesai diketai-ketai ja', RT @syachranie_ Asal jgn smpai Benyai ja' @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Seram, Benyai Ketak-ketak,,,RT @hanafimohan: Ndak pula' Benyai,cuman pesai diketai-ketai ja', RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> ezakkacax
ape ndeeeRT @syachranie_ Seram, Benyai Ketak-ketak,,,RT @hanafimohan: RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun Favorite Reply

>> hanafimohan
hee..,bukan name age',dah bederai tebunsai-bunsai, RT @syachranie_ Seram, Benyai Ketak-ketak,, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Ndeee au ney sampaikan nak teburai-tebunsai-tebebas RT @ezakkacax: ape ndeee RT @hanafimohan: RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
tebebas koyak rabai ni haaa... RT @syachranie_ Ndeee au ney smpaikn nak tburai-tbunsai-tbebas RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Takkan tadak, tidok kurng tkulai2 RT @hanafimohan: tebebas koyak rabai ni haaa... RT @syachranie_ Ndee @ezakkacax @pak_tehMaMau #Pansai
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
mamai dah acam org bulai, RT @syachranie_ Takkan tadak, tidok kurng tkulai2 @syachranie_ Ndee @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> ezakkacax
baru nak telepeeRT @syachranie_ Takkan tadak, tidok kurng tkulai2 RT @hanafimohan: tebebas koyak rabai RT @syachranie_ Ndee @pak_tehMaMau #Pansai
9 Jun Favorite Reply

>> hanafimohan
ni dah tejuntai-juntai,telempai-lempai, RT @ezakkacax baru nak telepee @syachranie_ @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> wid_do
Cincai jak RT @hanafimohan: tebebas koyak rabai ni haaa... RT @syachranie_ Ndeee au ney smpaikn nak ... http://tmi.me/bk25j
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
Kuater ja' dah jadi Tapai, RT @wid_do Cincai jak,,, @syachranie_ @ezakkacax @pak_tehMaMau #Pansai
9 Jun

>> pak_tehMaMau
Ingat2 ular RT @hanafimohan Nasi’ Kebuli ni ha,kuater ja’ pesai. RT @syachranie_ Apeny yg pansai? @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do
9 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
ular mentaduk yg kena' bantai di pantai ye..?, RT @pak_tehMaMau Ingat2 ular RT @syachranie_ @ezakkacax @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Tekilai-kilai RT @hanafimohan: ni dah tejuntai-juntai,telempai-lempai, RT @ezakkacax baru nak telepee @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
ati-ati kesambaian Antu Katai.., RT @syachranie_ Tekilai-kilai.., @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Hmmm antu longgak "@hanafimohan: ati-ati kesambaian Antu Katai.., RT @syachranie_ Tekilai-kilai.., @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai"
9 Jun

>> hanafimohan
Pastilah Antu-nye kusot-masai, RT @syachranie_ Hmmm antu longgak, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Lupa belanger RT @hanafimohan: Pastilah Antu-nye kusot-masai, RT @syachranie_ Hmmm antu longgak, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
Langer-nye beli di Kedai, RT @syachranie_ Lupa belanger RT @hanafimohan, Antuny kusot-masai, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Pegi kedai Ati-ati tepelongkeng RT @hanafimohan: Langer-nye beli di Kedai, RT @hanafimohan, Antuny kusot-m @ezakkacax @pak_tehMaMau #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
dah tepelongkeng, bekisai-kisai pula' tu, RT @syachranie_ Pegi kedai Ati-ati tepelongkeng, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Bekisai, tegusal-gusal, teganyah-ganyah teRT @hanafimohan: dah tepelongkeng, bekisai-kisai , RT @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
Bolehlah di-terai tu..? RT @syachranie_ Bekisai, tegusal-gusal, teganyah-ganyah te @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Diterai nante' bederai RT @hanafimohan: Bolehlah di-terai tu..? RTBekisai, tegusal-gusal, teganyah @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
Kalau Bederai,tinggallah di-Lem pakai Tapai, RT @syachranie_ Diterai nante' bederai, @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Telempai-lempai RT @hanafimohan: Kalau Bederai,tinggallah di-Lem pakai Tapai, RT Diterai nante @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> hanafimohan
Makenye, di-dedai-lah, RT @syachranie_ Telempai-lempai @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
9 Jun

>> syachranie_
Dikebas-kebas lok sblm di-dedai RT @hanafimohan: Makenye, di-dedai-lah, RT Telempai-lempai @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
10 Jun

>> hanafimohan
Santai ja', ni age' makan satai, RT @syachranie_ Dikebas-kebas lok sblm di-dedai @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
10 Jun

>> syachranie_
Abes kosa kate dah "Ranap" RT @hanafimohan: Santai ja', ni age' makan satai, RT Dikebas-kebas @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
10 Jun

>> hanafimohan
Bukannye ranap, tapi pansai. RT @syachranie_ Abes kosa kate dah "Ranap" @ezakkacax @pak_tehMaMau @wid_do #Pansai
10 Jun


# * # * #


Yang Bekicau:
-) Hanafi Mohan >>> @hanafimohan

-) Syach Ranie >>> @syachranie_

-) Ezak Kacax >>> @ezakkacax

-) Widodo Do >>> @wid_do

-) Maulid Mallaikian >>> @pak_tehMaMau


Yang Nyuson Ulang: Hanafi Mohan


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Ciputat, Minggu 19 Juni 2011
06:30 WIB
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Sumber gambar: http://aneh-tapi-nyata.blogspot.com/

Pedabolan ini sebelomnye berasal dari: http://twitter.com/ dengan HashTag #Pansai

Pedabolan ini kemudian dimuat age' di: http://hanafimohan.blogspot.com/


Kamis, 16 Juni 2011

[Bahase Melayu Pontianak via Twitter] #Berungot



>> hanafimohan
Asalkan jgn berungot-rungot ja' #Berungot
7 Jun Favorite Reply Delete

>> syachranie_
Pantas lh taq nmpak sine' upe ee,,ape di ungot ney,,,hmmm RT @hanafimohan: Asalkan jgn berungot-rungot ja' #Berungot
7 Jun Favorite Retweet Reply

>> hanafimohan
Ndak bah, budak2 ni tx tntu pasal ape ja' yg dicakapkn RT @syachranie_ Pantas lh taq nmpak sine' upe ee,,ape di ungot ney,,,hmmm' #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Pantaslah d grup tak timbol, bdak berungot di grup ke,,?RT @hanafimohan: Ndak bah, budak2 ni tx tntu pasal ape ja' yg dicakapkn #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
Bukan pula',nyamok ni nya,abeees aku dihentam sungot-nye, RT @syachranie_ Pantaslah d grup tak timbol, bdak berungot di grup ke? #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Hmm,dh tgas nymok sungot mnsungot, ambek baek ee,obt nymok laku,RT @hanafimohan: Bukan pula',nyamok ni nya,abeees aku dihentam sung#Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
Darah di PMI pon jadi laku, RT @syachranie_ Hmm,dh tgas nymok sungot mnsungot, ambek baek ee,obt nymok laku, #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Klu nymok taq ad, sian kryawn baygon (PHK),,,tak ade yg sie2 dr nymok RT @hanafimohan: Darah di PMI pon jadi laku, RT #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
Sian dgn Krywan #baygon,drah qt abes dhntamny, RT @syachranie_ Klu nymok taq ad,sian kryawn baygon (PHK).Tx ade yg sie2 dr nymok #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Saling brbagi, cuman lewat nymok, jgn brbruk sangke ngan nyamok #Donorsehat RT @hanafimohan: Sian dgn Krywan #baygon,drah qt abes dhn #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
Mnding didonorkn,tapi ini jd kurus kereng, RT @syachranie_ Saling brbagi, cuman lwat nymok,jgn brbruk sngke dgn nyamok #Donorsehat #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Jgn lh smpai kurus kereng, jgn maen d kandang nymok. Sikit2 tk ape RT @hanafimohan: Mnding didonorkn,tapi ini jd kurus kereng, #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
ni bukan kndangny ge',tapi markasny RT @syachranie_ Jgn lh smpai kurus kereng, jgn maen d kandang nymok. Sikit2 tk ape #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
@syachranie_ @ezakkacax @pak_tehMaMau @fauziahsyauz _Berungot melangot2 dihentam sungot http://bit.ly/jPMysU http://bit.ly/kYs0P4 #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Seram,,,,markas ee, nyamok pon dh macam nak perang RT @hanafimohan: ni bukan kndangny ge',tapi markasny RT @syachranie_ Jgn lh #Berungot
7 Jun

>> hanafimohan
@ezakkacax ,Aookk..,dari manusie, smpaikn nyamok pon suke bperang, RT @syachranie_ Seram,,,mrkas ee,nyamok pon dh mcam nak perang #Berungot
7 Jun

>> syachranie_
Nymok Racing, ney kan agek musem Moto GP V.Rossi RT @hanafimohan: @ezakkacax ,Aookk..,dari manusie, smpaikn nyamok pon suke #Berungot
7 Jun Favorite Retweet Reply


#*#*#



Yang Bekicau: Hanafi Mohan >>> @hanafimohan & Syach Ranie >>> @syachranie_


Yang Nyuson Ulang: Hanafi Mohan


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Ciputat, Ciputat, Kames 16 Juni 2011
19:49 - 20:29 WIB
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Sumber gambar: http://mantabjayapolpolan.blogspot.com/

Pedabolan ini sebelomnye berasal dari: http://twitter.com/ dengan HashTag #Berungot

Pedabolan ini kemudian dimuat age' di: http://hanafimohan.blogspot.com/

Minggu, 14 Februari 2010

Mengapa Orang Cina Banyak Bermukim di Kawasan Budaya Melayu?

Jika anda sedang berjalan-jalan di kawasan budaya Melayu seperti di Semenanjung Melayu (Malaysia), Sumatera, dan Kalimantan, maka dengan mudahnya anda akan mendapati banyak orang-orang keturunan Cina (Tionghoa) yang bermukim di tempat itu. Bukan hanya bermukim, melainkan dengan leluasanya mengembangkan kebudayaannya. Anda mungkin agak terheran-heran mendapati orang-orang keturunan Cina dapat dengan mudahnya berbicara dalam bahasa Cina di tempat-tempat umum. Mungkin agak berbeda dengan warga keturunan Cina yang berada di Pulau Jawa yang sehari-harinya berbicara dalam Bahasa Indonesia (apalagi di tempat umum).

Di Indonesia ini mungkin hanya di Pulau Kalimantan yang beberapa kotanya dinamakan dengan bahasa Cina (antara lain Kota Sambas dan Singkawang). Kota kelahiranku pun, yaitu Pontianak mempunyai nama khusus di dalam bahasa Cina. Nama khusus untuk Pontianak dalam bahasa Cina (Mandarin) yaitu Khuntien. Jika anda menonton Program Berita Metro Xinwen di Metro TV, yaitu pas bagian Prakiraan Cuaca, maka anda akan mendapati Kota Pontianak disebutkan dengan nama Khuntien, sedangkan kota-kota lainnya di Indonesia dilafalkan sesuai dengan nama kotanya itu dalam bahasa Indonesia yang pengucapannya hanya disesuaikan dengan logat Mandarin. Di Kalimantan pula ada kota yang dijuluki sebagai Kota Amoy atau Kota Seribu Klenteng, yaitu Singkawang.

Tentunya banyak faktor mengapa orang keturunan Cina (Tionghoa) banyak bermukim di kawasan budaya Melayu. Seperti diketahui bersama, bahwa kawasan budaya Melayu kebanyakan terletak di pesisir, dan dapat dipastikan bahwa di tempat-tempat tersebut juga ada pelabuhan. Kawasan-kawasan budaya Melayu ini sejak dahulu hingga kini adalah daerah kosmopolis, tempat berbagai macam bangsa hidup, berinteraksi, dan mengembangkan budayanya masing-masing dengan damai dan saling bertoleransi antara satu dengan lainnya.

Bangsa Melayu juga adalah bangsa yang terbuka. Dengan begitu, orang-orang Melayu dengan mudahnya bisa menerima bangsa lainnya untuk hidup dan mengembangkan kebudayaannya di kawasan yang notabene adalah kawasan budaya Melayu. Tapi tentunya ada catatan, bahwa bangsa lain yang datang itu bermaksud baik, bukannya bermaksud jahat seperti menjajah dan semacamnya.

Jika Perayaan Imlek di kota-kota lain di Indonesia baru mulai ramai dan kelihatan pada Pasca Reformasi, maka lain halnya di kawasan budaya Melayu. Semenjak masa Orde Lama dan Orde Baru (bahkan jauh sebelum itu), di kawasan budaya Melayu sudah begitu semarak perayaan Imleknya, walaupun mungkin ketika itu perayaan Imlek sangat semarak hanya di wilayah-wilayah yang banyak bermukimnya warga keturunan Cina. Kalau sekarang jangan ditanya lagi, Perayaan Imlek tentunya lebih semarak lagi, bahkan mungkin Liong dan Barongsai bisa dengan leluasanya dan sangat semarak dipertontonkan di jalan-jalan umum.

Itulah setidaknya keberadaan orang-orang keturunan Cina di kawasan-kawasan budaya Melayu. Asimilasi dan akulturasi yang terjadi memang benar-benar secara alami, tak ada unsur paksaan dari pihak penguasa. Sehingga jangan heran, mungkin hanya di Kalimantan ada Wakil Gubernur dan Walikota yang berasal dari keturunan Cina: yaitu Christiandi Sanjaya (Wakil Gubernur Kalimantan Barat) dan Hasan Karman (Walikota Singkawang Kalimantan Barat).

Jika di kota-kota lain di Indonesia masih sangat mempermasalahkan mengenai keberadaan orang-orang keturunan Cina (apalagi sampai memegang jabatan politik), maka bagi kami orang-orang Kalimantan sungguh tidak ada permasalahan berkaitan dengan semua itu. Kalaupun sekali-sekali terjadi gesekan-gesekan, maka itu tak lebih hanyalah riak-riak kecil yang menjadikan kami ke depannya harus lebih saling mentoleransi dan bertenggang rasa.

Dan terkadang konflik antar etnis yang pernah terjadi di bumi Kalimantan beberapa tahun silam lebih merupakan konflik yang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak penguasa yang notabene pihak penguasa lokal di Kalimantan ketika itu kebanyakan berasal dari luar Kalimantan. Dan memang kalau mau diakui, ketika itu bukan hanya di Kalimantan yang terjadi konflik horizontal, melainkan hampir di seluruh Indonesia juga terjadi konflik yang sama. Diakui atau tidak, ketika itu adalah akhir rezim Orde Baru dan awal pasca Reformasi yang merupakan masa-masa ketidakstabilan politik, ekonomi, sosial, dan keamanan di seluruh Indonesia.

Bagi kami, orang-orang keturunan Cina sama saja dengan orang-orang dari etnis yang lain, hanya kebetulan saja mereka keturunan Cina, sedangkan yang lainnya pribumi Indonesia. Jika di Indonesia kini baru didengung-dengungkan mengenai multikulturalisme, maka multikulturalisme itu sudah menjadi keseharian kami di Kalimantan, dan sudah kami terapkan dari dahulu kala. Kalimantan adalah bumi yang damai untuk hidupnya semua bangsa yang saling menghargai satu sama lain, saling bertoleransi dan bertenggang rasa, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, berprinsip yang sama "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".

Akhir kata, Selamat Merayakan Taon Baghu Cine (Tahun Baru Imlek) 2561 bagi saudara-saudaraku warga keturunan Cina (Tionghoa). Semoga Tuhan selalu melimpahkan keberkahan pada kita semuanya. Gong Xi Fa Cai. [Hanafi Mohan – Ciputat, Jum'at-Minggu, 12-13 Februari 2010]



Sumber gambar: http://alamku.blog.com/


Tulisan ini dimuat di: http://hanafimohan.blogspot.com/