Minggu, 15 Maret 2009

(9) Dialog Menjadikan Menulis Tersendat-sendat

Barulah kudapatkan suatu pemahaman yang cukup mendalam yaitu mengapa penulisan novel perdanaku agak tersendat-sendat. Hal ini karena aku terlalu memusingkan modelnya, yaitu memoar atau fiksi. Padahal seharusnya ditulis saja, jangan dipusingkan mengenai modelnya. Ketika mengalir ditulis sebagai memoar, maka berlakukanlah ia sebagai memoar. Ketika mengalir ditulis sebagai fiksi, maka berlakukanlah sebagai fiksi. Tinggal selanjutnya, jika ingin lebih mengarah sebagai memoar, maka cerita fiksinya tinggal disesuaikan, sehingga ia memang betul-betul sebagai memoar. Sebaliknya, jika ingin lebih mengarah ke fiksi, maka tinggal disesuaikan juga.

Memang sedari awal ketika menulis novel ini, aku sudah menandaskannya sebagai fiksi. Entah mungkin gayanya seperti memoar, maka itu hal yang lain lagi. Tapi sekali lagi, menurutku hal tersebut jangan terlalu dipusingkan, yang penting menulis saja, mengalir saja, seperti halnya tulisan-tulisan yang selama ini telah kutulis dengan begitu mengalirnya. Mau nantinya fiksi yang ditulis dengan gaya memoar ataupun memoar dengan campuran dan ramuan fiksi, maka ditulis saja, mengalir saja, ikuti saja iramanya.

Selain itu, penulisan dialog juga kadang menjadikan proses penulisanku menjadi tersendat-sendat. Karena itulah, dalam penulisan, jika tersendat-sendat menulis dialog, maka gantilah dengan narasi, dan lengkapi juga dengan ilustrasi. Aku yakin dengan adanya narasi dan ilustrasi, maka akan menutupi kekurangan dialog dan akan menjadikan cerita lebih hidup. Dialog hanya perlu dibubuhkan pada konteks dan tempat tertentu yang jika memang itu menurut kita perlu dibubuhi dialog. Jika tidak, maka dialog tersebut digantikan seja dengan narasi yang jelas serta ilustrasi yang terang. Dan terkadang narasi serta ilustrasi menjadi suatu kelebihan tersendiri dari cerita yang kita tulis itu. [Hanafi Mohan] .

Ciputat, Minggu 15 Maret 2009 / 19.15-19.42 WIB
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar