Rabu, 18 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 1- "Cobra" yang Mempesona


Kalau ada kota di dunia ini yang paling amburadul jalan rayanya, maka Jakarta lah kota itu. Di kota ini, setiap orang selalu berkejar-kejaran dengan waktu. Setiap orang selalu merasa paling berhak untuk lebih duluan dari yang lainnya, tak peduli kendaraan roda dua, roda empat, ataupun roda banyak.

Sore ketika itu aku membonceng kepada seorang teman. Kami melesat di jalan raya, kadang jalan yang kami lalui sepi, namun tak jarang juga motor yang kami kendarai terjebak kemacetan. Kalau keadaannya seperti ini, maka setiap kendaraan akan mengeluarkan senjatanya yang paling ampuh, yaitu klakson. Entah berapa banyak bunyi klakson ketika itu. Yang pasti, setiap orang yang terjebak macet ketika itu merasa berhak menggunakan senjata yang satu ini.

Akhirnya, terlepas juga kami dari kemacetan. Namun tak jarang juga, di tengah asyiknya melaju, ada saja yang menerobos dari belakang. Bahkan ada yang hampir menabrak kami.

“Sabar, bro, sabaaar …,” hanya itulah yang dapat kuucapkan pada temanku yang membonceng di depan, dan juga untuk diriku.

Di saat yang lain, kamilah yang menyerobot dan mendahului kendaraan lain. Hal seperti ini lumrah saja terjadi di jalan raya. Tadinya kendaraan itulah yang menyerobot kami. Tapi setelah itu, kendaraan tersebut jalannya agak lambat dan cenderung menghalang-halangi laju kendaraan kami. Temanku mungkin adalah orang yang tak bisa dibuat seperti itu, ia pun lalu mengencangkan laju kendaraan kami. Setelah dapat mendahului kendaraan tersebut, temanku kemudian membawa kendaraan kami agak lebih lambat.

Beberapa saat kemudian, kendaraan tersebut hampir menyerempet kami, mungkin ia ingin mendahului kami. Temanku yang sudah agak panas emosinya itu tiada lain yang bisa dilakukannya selain membawa kendaraan kami agak lebih kencang agar tak terjadi tabrakan dengan kendaraan tersebut. Setelah kami beberapa meter jauh di depan, akupun menoleh kepada kendaraan tersebut. Kupandangi pengendaranya. Isyarat yang ingin kukatakan kepada orang tersebut, “Hei bro, jangan lakukan lagi hal yang sama kalau kita sama-sama ingin selamat di jalanan ini!”

Sepertinya orang tersebut mengerti, karena kemudian ia agak membawa lambat kendaraannya. Apalagi kulihat yang diboncengnya adalah seorang perempuan. Sepertinya orang tersebut terperangah dengan gayaku yang penuh sejuta pesona. Tahukah kau, kawan, gayaku ketika melihat orang tersebut? Tahukah kau gayaku ketika berada di atas motor?

Rambut rapi, tapi entahlah ketika itu sudah berada di atas motor, karena aku tak memakai helm. Mungkin rambutku sudah berubah menjadi acak-acakan, kering-kerontang, dan berwarna kekuning-kuningan dibakar matahari Jakarta yang bercampur dengan asap knalpot dan debu jalanan. Mukaku jangan ditanya lagi sudah seperti apa rupanya ketika itu. Tapi aku yakin, orang tersebut pasti terperangah dengan kacamata hitam yang bertengger di depan mataku.

“Lho, Sylvester Stallone, toh?” mungkin pertanyaan itulah yang ada di benak orang tersebut. Lebih tepatnya lagi, Sylvester Stallone yang sedang bermain pada film “Cobra” yang sedang menjalankan program diet setahun penuh dan program memendekkan tubuh.

* * *

Kami terus melaju di jalan raya, kadang lurus, kadang menikung, kadang laju, dan kadang juga lambat. Dan gayaku masih seperti yang sudah-sudah, begitu mantap dengan kacamata hitam yang akan menawan setiap orang yang melihat kepadaku.

Kacamata ini tak lain dan tak bukan kupakai untuk menghalangi dari debu dan sengatan matahari. Tapi lain diharap lain pula kenyataannya. Karena tetap saja kacamata tersebut tak mampu menghalangi debu-debu yang berusaha masuk ke mataku dan tajamnya sengatan matahari yang menusuk penglihatanku.

Saat-saat perjalanan seperti ini, aku sering melihat-lihat suasana sekitar. Karena tak ada yang lebih indah daripada menikmati suasana tersebut sepenuh rasa dan jiwa. Tanpa sengaja mataku melihat ke langit. Terhampar di sana sesuatu yang begitu indah menurutku. Merah jingga berpendaran di langit. Indah sekali, kawan. Sepertinya baru kali ini aku melihat warna kecemerlangam langit seperti itu. Mataku terus menelusuri warna merah jingga di angkasa itu. Setelah puas kutelusuri, barulah kudapatkan sumber dari warna merah jingga itu. Kutatap sumbernya itu yang bulat serupa bola, dan jingga entah serupa apa. Indah nian, benakku berkata. Dan aku yakin, benda langit yang bulat berwarna jingga itu bukanlah matahari, melainkan bulan. Entahlah, mengapa hari belum lagi malam, tetapi bulan sudah menampakkan dirinya. Tapi aku yakin, itu adalah bulan, karena kalau matahari, tentunya aku tak bisa menatapnya. Atau mungkin bisa saja benda langit yang lain. Atau mungkin bisa jadi itu memang matahari. Entahlah. Mungkin karena aku mengenakan kacamata, sehingga mataku tak silau ketika menatapnya.

Keindahan senja merah jingga begitu menyihirku. Hingga tanpa sadar hadirlah kilasan-kilasan indah lainnya yang serupa tapi tak sama. Kilasan-kilasan tersebut berkelebat dengan cepat, namun kadang juga lambat. Bagaikan slide pada powerpoint, tapi slide ini lebih indah dan juga natural. Kilasan-kilasan indah ini hadir begitu rupa di alam sadarku. #*#

[Hanafi Mohan – Ciputat, awal Agustus 2008]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi

Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar