Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Pontianak Singgah Palembang

Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang.

Mudék ke Ulu

Pasangan dari kate “ulu” ielah “mudék”. Kate “mudék” beakar kate dari kate “udék”. Udék bemakne "sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber)", "daerah di ulu sungai", juga’ bemakne "kampong halaman (tempat beasal-muasal)".

Soal Nama Negeri Kita

Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak?

Kampong Timbalan Raje Beserta Para Pemukanya [Bagian-3]

Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya.

Musik Motivasi Setahun Silam

“Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sultan Pontianak; Umara' dan 'Ulama

Kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama.

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir | Meskipun bersilang keris di leher | Berkilat pedang di hadapan matamu | Namun yang benar kau sebut juga benar ||

Rabu, 30 Oktober 2013

Milad Negeri Pontianak; Mana Hulu, Mana Muara


Mungkin agak telat kutulis ini. Tapi tentunya tak ada kata terlambat untuk menuliskannya. Hari Jadi Negeri Pontianak ke-242 tahun (12 Rajjab 1185 H/23 Oktober 1771 M – 23 Oktober 2013 M). Sungguh begitu ramai putera-puteri Negeri Pontianak yang mencintai negerinya ini. Begitu terharu setelah mengetahui akan semangat tersebut, walaupun di tengah keterbatasan, wawasan di antaranya.

Di Negeri Pontianak ini berbagai cabaran hidup pernah dilalui. Negeri tempat suka dan duka pernah tersulam. Negeri tempat cita dan asa pernah terbingkai. Negeri tempat beragam rasa pernah terungkai. Negeri yang melahirkan jasad ini dibekali ruh dan semangat.

Setamat dari SMK Negeri 4 Pontianak sekitar 13 tahun yang lalu, pertama kali meninggalkan Negeri Pontianak dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sungguh pada awalnya tak pernah terbayangkan akan apa-apa yang telah dilalui itu, karena begitu banyaknya pula semua itu di luar dugaan, kiraan, dan rencana seorang makhluq faqir, menjadi papa kelana di negeri orang.

Pernah pada suatu masa kunyatakan bahwa Negeri Pontianak lah yang telah melahirkan jasadi beserta ruhi ini, sementara Tanah Betawi lah yang telah melahirkan selainnya: semangat, pemikiran, wawasan, dan sebagainya, dan sebagainya. Bertahun-tahun, itulah yang kuyakini. Sehingga pada suatu masa yang entah bila tepatnya, keyakinan sedemikian itu tumpas punah ranah. Berderai ia, hancur luluh lantak berkeping-keping jadinya.

Terbersit nostalgia silam yang mengharu biru, terbayang wajah ibunda nan sabar, terbayang wajah almarhum ayahanda yang sekaligus guruku nan tegar, teringat sanak saudara dan para guruku di kampong halaman, teringat sanak kerabat dan kaum sebangsaku di negeri tanah kelahiran. Ternyata di sanalah yang telah melahirkan segala-galanya pada diri dan kedirian ini. Dari sanalah segalanya yang melekat pada diri ini bermula, karena ia adalah hulu, ia tiada lain serta tiada bukan merupakan mata air sumber kemawjudan segala macam keberwujudan pada makhluq fana nan dha’if ini. Bertahun-tahun papa kelana ini disilapkan oleh sesuatu yang tak lebih hanyalah kuala. Bahkan tersalah langkah mengira bahwa muara itulah segala-galanya, padahal itu semua hanyalah hilir yang tak berujung batas, yang saujana mata memandang ia-nya tiada bertepi.

Segala macam risalah, hikayat, riwayat, syair, madah, beruntai-untai sastera, semuanya telah membukakan mata yang tersilap pandang, sehingga terdedahlah sejarah dan tamaddun negeri tanah air serta bangsaku yang selama ini bagai batang terendam. Jika mencintai tanah air itu adalah sebagian daripada iman, maka tanah air yang nyata itu (bukan semu) adalah negeri tanah kelahiran kita sendiri. Tanah airku adalah Negeri Pontianak adanya, kalau mau ditarik lebih luas lagi yaitu Bumi Borneo Barat, kalau mau ditarik lebih luas lagi yaitu Benua Borneo. Sebagaimana tanah air seperti yang dimaksud, maka begitu pula dengan bangsa. Engkau boleh berkewarganegaraan apapun jua, tapi kebangsaanmu takkan pernah berubah, kebangsaanmu tetap itu itu juga walau langit dan bumi tertunggang-balik hancur luluh musnah. Tuhan Sang Khaliq-lah yang telah menentukan kebangsaanmu itu kebangsaan apa, bukanlah manusia makhluq nan fana yang menentukannya.

Sampai di sini, benderanglah adanya, jati diri seorang putera negeri, serta akar identitas seorang anak bangsa. Teranglah adanya; yang mana hulu, yang mana muara. Terdedahlah kesejatian diri; yang mana akar, yang mana cabang serta ranting.

Negeri Pontianak yang bertamaddun tinggi, itulah cita dari setiap Putera-Puteri Bumi Khatulistiwa ini, sebagaimana yang telah diperbuat dan diwariskan oleh leluhur dan generasi pendahulunya. Yaitu Negeri Pontianak yang berdaulat, bermarwah, dan bermartabat.

Tahniah Milad Negeri Pontianak yang ke-242 tahun. Takkan pernah beralih dan berpindah cinta ini kepada yang lain, begitu pun rindu ini yang mengalir pelan terkadang mengarus deras. Cinta dan rindu yang takkan pernah bertukar ganti.

Sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sekali air bah, sekali tepian berubah. [~]



*** Muhammad Hanafi bin ‘Abdusy Syukur Mohan Al-Funtiani al-walad al-bilad Negeri Pontianak Seri Khatulistiwa, Sabtu tarikh 21 haribulan Dzulhijjah sanat 1434 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 26 haribulan Oktober sanat 2013 Miladiyah – Rabu tarikh 25 haribulan Dzulhijjah sanat 1434 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 30 Oktober sanat 2013 Miladiyah, di Tanah Betawi adanya.


Tulisan ini dimuat di Laman Blog "Arus Deras"

Sabtu, 26 Oktober 2013

Syair Permata Negeri Pontianak


(Syair tentang sekilas sejarah berdirinya Negeri/Kesultanan Pontianak, hingga kemudian sampailah pada masa Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie ibnu Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie dan Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Hamid II ibnu Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie/Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid II Al-Qadrie ibnu Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie)



1 - MUQADDIMAH
(Seloka Dirgahayu Khatulistiwa Negeri)


Dengan Bismillah kalam dibuka
Ketika fajar menerangi mata
Mentari khatulistiwa negeri bercahaya
Perahu Kakap masuki muara

Ketika fajar menerangi mata
Dari Mempawah rombongan bertolak
Perahu Kakap masuki muara
Walaupun sungai berolak-olak

Dari Mempawah rombongan bertolak
Susuri Kuale perahu bergerak
Walaupun sungai berolak-olak
Niat yang suci tetaplah tegak

Susuri Kuale perahu bergerak
Biduk dikayuh memecah ombak
Niat yang suci tetaplah tegak
Hinggalah tiba di Simpang Tiga Kapuas-Landak

Biduk dikayuh memecah ombak
Halang rintangan teruslah dobrak
Hinggalah tiba di Simpang Tiga Kapuas-Landak
Setelah halau rombongan rompak

Halang rintangan teruslah dobrak
Penjajab kokoh tiada retak
Setelah halau rombongan rompak
Tembakkan meriam tentukan letak

Penjajab kokoh tiada retak
Walau dilamun taufan dan badai
Tembakkan meriam tentukan letak
Di tepian Sungai Batang Lawai

Walau dilamun taufan dan badai
Walau perompak menghadang ramai
Di tepian Sungai Batang Lawai
Demi tujuan hendak dicapai

Walau perompak menghadang ramai
Pantang haluan putar ke belakang
Demi tujuan hendak dicapai
Tembakkan meriam dari Batu Layang

Pantang haluan putar ke belakang
Sabda dan titah seorang pembesar
Tembakkan meriam dari Batu Layang
Seraya bersumpah dan bernazar

Sabda dan titah seorang pembesar
Ayahnya Hadhramawt ibunya Matan
Seraya bersumpah dan bernazar
Tegakkan tamaddun di Bumi Kalimantan

Ayahnya Hadhramawt ibunya Matan
Pangeran Syarif 'Abdurrahman Nur 'Alam
Tegakkan tamaddun di Bumi Kalimantan
Tekadnya memang sudah lama ter’azam

Pangeran Syarif 'Abdurrahman Nur 'Alam
Pendiri Negeri Pontianak bernama
Tekadnya memang sudah lama ter’azam
Wujudkan cita ayahanda tercinta

Pendiri Negeri Pontianak bernama
Di Tanjong Besiku Masjid Jami’ dan Istana Qadriyah
Wujudkan cita ayahanda tercinta
Al-Habib Husain Tuan Besar Negeri Mempawah


* * * Dari “Seloka Dirgahayu Khatulistiwa Negeri” yang ditulis dipersembahkan ketika memperingati Hari Jadi Negeri Pontianak yang ke-240 Tahun (23 Oktober 1771 M - 23 Oktober 2011 M) | Seloka oleh: Hanafi Mohan, Syach Ranie, dan Yusni Abeb Nahkoda (21-23 Oktober 2011) | Editor: Hanafi Mohan bin 'Abdusy Syukur Mohan (Ciputat, Minggu 23 Oktober 2011)



2 – ISI


Tersebutlah riwayat di Bumi Khatulistiwa
Seorang Sultan yang 'arif bijaksana
Wajahnya lawar segak perkasa
Ibaratnya intan permata delima

Tuanku bertahta di Negeri Pontianak
Negeri yang dipangku para 'alim nan warak
Maha Mulia Sultan yang 'umarak dan 'ulamak
Jadikan Negeri Pontianak menjulang puncak

Syarif Muhammad Al-Qadri nama yang diberi
Yakni Putera Sultan Pontianak Negeri
Mawjud dari nashab Dawlah Al-Qadri
Ia-nya jurai keturunan Nabiyallah nan Ummi

Sultan Pontianak Pemangku Negeri
Tuanku Sultan Syarif Yusuf Al-Qadri
Berputera tampan parasnya berseri
Pancarnya langsung dari Bani Alawi

Tiba masanya Sang Putera bertahta
Pangeran rupawan Putera Mahkota
Perangainya mulia adil bijaklaksana
Ilmunya nan luas menghampar buana

Tuanku Sultan Muhammad yang ahli ibadah
Ahli siyasah serta juga syari'ah
Umara' dan 'Ulama berpadu di Qadriyah
Hingga Negeri Pontianak sentiasa barakah

Baginda Sultan Muhammad Yang Teramat Mulia
Memimpin Negeri hinggalah berjaya
Segenap Rakyat sungguh menyayanginya
Semesta Negeri sentiasa menyanjungnya

Negeri Pontianak zamrud khatulistiwa
Damai dan sentausa laksana swarga
Aman nan makmur hingga berabad masa
Negeri berlimpah ruah berkah dan karunia

Siapalah sangka petaka pun melanda
Nippon mengamuk membawa bencana
Menyerang Negeri berlaksa-laksa
Hinggalah hancur berhasta-hasta

Seisi Negeri jadi menderita
Dihantam badai penjajah durjana
Badannya katai berkisip mata
Kiranya saudara, rupanya neraka

Nippon nan bengis menebar petaka
Siapapun yang menentang lumat dibuatnya
Para Petinggi Negeri kena pancungnya
'Ulama dan Cendekia pun juga dilumatnya

Sultan Syarif Muhammad Sang Syuhada Negeri
Ditangkap dijemput Nippon pada malam hari
Untaian tasbihnya terus bergerak di jari
Itulah bukti Sultan yang tak takut mati

Tuanku Sultan Muhammad yang ahli ibadah
Ahli siyasah serta juga syari'ah
Menyerahkan hidupnya hanya kepada ALLAH
Lisannya bertakbir tanda tawakkaltu 'alallah



3 – PENUTUP


Sepeninggalan Sultan Syarif Muhammad Al-Qadri
Negeri Pontianak ibaratnya kota mati
Balatentara Nippon kejamnya tak terperi
Rakyat seisi Negeri dibuat jadi ngeri

Seorang Putera Sultan 'lah menjadi harapan
Pangeran Bendahara luput dari pembantaian
Syarif Hamid Al-Qadri pangeran nan rupawan
Ditabal menjadi Sultan yang tegakkan kedaulatan

Sultan Hamid II dikenal namanya
Masyriq dan Maghrib sungguh kagum padanya
Hingga ke segenap negeri tentu masyhur adanya
Siapapun lah jua hormat takzim kepadanya

Balatentara Nippon segera dihalau olehnya
Hingga hambus pergi semuanya tiada bersisa
Bangsa bengis itu tunggang langgang dibuatnya
Bumi Khatulistiwa pun kembali damai semula

Sultan Hamid II buntat Tanah Kalimantan
Cahayanya gemilang bak permata intan
Sentiasa disanjung oleh rakyat se-kesultanan
Kalimantan Barat pun menjadi berkedaulatan

Sifatnya manusia dengki dan khianat
Sultan nan cerdas pun digulung fitnah hebat
Rakyat negerinya juga terpengaruh khabar sesat
Hingga tega menyuruhnya turun dari tahta daulat

Tuanku Sultan Hamid II dijebak perangkap culas
Difitnah dituduh dengan maksud untuk digilas
Disidang dan dihukum sungguh tiada berbelas
Suatu masa nanti niscaya Tuhan 'kan membalas



= # = # = # = # = # =

Ditulis oleh pacal Muhammad Hanafi bin ‘Abdusy Syukur Mohan Al-Funtiani al-walad al-bilad Negeri Pontianak Seri Khatulistiwa, pada hari Selasa-Juma’at, tarikh 17-20 haribulan Dzulhijjah sanat 1434 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 22-25 haribulan Oktober sanat 2013 Miladiyah, di Tanah Betawi adanya. Dipersembahkan dan dibacakan ke hadapan Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Abu Bakar Al-Qadrie ibnu Syarif Mahmud Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bertahta kerajaan di dalam Negeri Pontianak. Dibacakan oleh Kanda Junaidah binti Haji Muhammad Qasim Mohan Al-Funtiani dan Kanda Tinawati binti Haji Muhammad Qasim Mohan Al-Funtiani pada Acara Beseprah di Rumah Sultan Syarif Abu Bakar Al-Qadrie dalam rangka Memperingati Milad Negeri Pontianak yang ke-242 tahun (12 Rajjab 1185 Hijriyah / 23 Oktober 1771 Miladiyah - 23 Oktober 2013 Miladiyah) yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tarikh 21 haribulan Dzulhijjah sanat 1434 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 26 haribulan Oktober sanat 2013 Miladiyah, yang diselenggarakan oleh Grup Facebook “Cinte Bahase Melayu KALBAR (CBMKB)”.

= # = # = # = # = # =



Syair ini dimuat di Laman Blog "Arus Deras"



Syair ini juga dipersembahkan kepada Ayahku sekaligus Guruku, Allahyarham Al-Ustadz 'Abdusy Syukur Mohan Al-Funtiani, juga dipersembahkan kepada Pak Mude sekaligus Guruku, Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Qasim Mohan Al-Funtiani dan Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Yunus Mohan Al-Funtiani.

Selasa, 30 Juli 2013

Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-3]


20) Al-Ustadz Mahmud Syafhan (Mahmud bin Muhammad Syafi'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok), adalah 'Ulama/Pendakwah/Da'i yang masyhur di masanya. Beliau merupakan seorang ahli ilmu Fiqh, pakar dalam ihwal Faraidh, serta juga mengkhidmatkan diri sebagai Penghulu.


21) Adik dari Al-Ustadz Mahmud Syafhan yaitu Al-Ustadz 'Abdurrazak Syafhan ('Abdurrazak bin Muhammad Syafi'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok) juga merupakan seorang Pendakwah/Da'i.


22) Al-Ustadz Haji Muhammad Kasim Mohan (Haji Muhammad Qasim bin Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok) adalah seorang multitalenta, banyak bidang keilmuan yang dikuasainya. Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya. Di masa mudanya beliau juga menggeluti Musik, Pemimpin Orkes, banyak alat musik yang bisa dimainkannya, serta suaranya juga merdu ketika bernyanyi. Beliau juga merupakan seorang Ahli/Pendekar Beladiri Silat Melayu dan Guru Beladiri Silat Melayu, mewarisi keahlian ayahandanya.

Sebagai Pemuka Masyarakat, H.M. Kasim Mohan pernah beberapa periode mengemban amanah sebagai Penggawe/Kepala' Kampong Tambelan Sampit. H.M. Kasim Mohan juga merupakan seorang Budayawan Melayu, Penggiat Seni Zikir Hadrah, Penjaga Adat Resam Budaya Melayu Pontianak. Sebagai 'Ulama, banyak bidang keilmuan yang dikuasai oleh H.M. Kasim Mohan, antara lain: Tarikhul Islam/Sejarah Islam, Al-Quran, dan Hadits. Di masa-masa tuanya, Al-Ustadz. H.M. Kasim Mohan lebih banyak mengkhidmatkan dirinya pada bidang kemasyarakatan, kebudayaan, dan keagamaan.


23) Al-Ustadz Haji Muhammad Yusuf Mohan (Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok), merupakan sosok 'ulama pendakwah yang "berani". Bagi beliau, tak ada gentarnya dalam hal mensyi'arkan mengenai yang haq, walaupun mesti berhadapan dengan Rezim Penguasa. H.M. Yusuf Mohan merupakan anak ke-dua dari pasangan Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan dan Ruqayyah binti Haji 'Abdurrahman.

Berbeda dengan adik-beradiknya yang bermukim di Kampong Tambelan (Kampong Timbalan Raje), Pontianak Timur, maka H.M. Yusuf Mohan bermukim di Sungai Jawi Luar/Jeruju, Pontianak Barat. Beliau dikenal sebagai 'ulama, guru, pendakwah/da'i, penghulu, dan pemuka masyarakat. Ramai murid-muridnya yang tersebar se-Borneo Barat. Hingga akhir hayatnya, Beliau mengkhidmatkan dirinya mendidik ummat, yaitu berpusat di Masjid Sirajul Munir, Sungai Jawi Luar, Pontianak Barat.


24) Selanjutnya yaitu mengenai anak ke-tiga pasangan Haji Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah, yaitu Muhammad Husin Mohan (Muhammad Husain bin Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok). Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain, M. Husin Mohan di masa tuanya lebih banyak mengkhidmatkan diri pada bidang pertabiban, keagamaan, dan kemasyarakatan (terutama sekali bidang pertabiban/pengobatan). Ramai juga yang sembuh lewat perantaraan bantuan beliau yang piawai mengobati beberapa penyakit yang sulit disembuhkan dengan metode medis (kedokteran secara umumnya), seperti penyakit ulor-ulor (hernia).

Yang saya ingat, M. Husin Mohan juga merupakan seorang pengamal Thariqat, begitu sering saya lihat beliau berzikir dan bertasbih, baik di kala lapang, maupun di kala sempit. Beliau adalah seorang yang sederhana. Ketabahan, kesabaran, dan keikhlasannya begitu luar biasa. Dalam hal ini, beliau mengungguli saudara-saudaranya yang lain


25) Selain Muhammad Husin Mohan, anak ke-empat pasangan Haji Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah yang bernama Zaidah Mohan juga berkhidmat pada bidang pertabiban. Zaidah Mohan (Zaidah binti Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok) pada masanya dikenal sebagai Dukon Beranak, pakar pengobatan (tabib), dan ahli obat-obatan tradisional Melayu. Sangat sedikit orang yang bisa menguasai bidang-bidang pertabiban (pengobatan) sekompleks yang dikuasai oleh Zaidah Mohan. Beliau merupakan perempuan yang kreatif (mungkin bisa dikatakan bahwa beliau merupakan perempuan terkreatif di masanya dan di lingkungannya). Di dalam keluarga besar kami, Zaidah Mohan merupakan figur yang bisa mempersatukan keluarga besar kami. Beliau disegani dan dihormati karena ke’arifan dan ketegasannya.


26) Selanjutnya mengenai anak ke-lima pasangan Haji Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah binti Haji ‘Abdurrahman yang bernama 'Abdusy Syukur Mohan, ayahanda saya sekaligus guru saya.

Al-Ustadz 'Abdusy Syukur Mohan ('Abdusy Syukur bin Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok), beliau merupakan 'ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu. Karena kedalaman ilmu dan wawasannya yang luas, beliau selalu dimintakan pandangannya mengenai berbagai hal. Ustadz 'Abdusy Syukur Mohan menjadi tempat bertanya bagi masyarakatnya, murid-muridnya, dan juga 'alim-'ulama semasanya.

Selain sebagai 'ulama, Ustadz 'Abdusy Syukur Mohan juga mengkhidmatkan diri pada beberapa bidang pertabiban (sebagai tabib) dengan metode “pinggan rajah”. Beliau juga merupakan seorang Qari' yang bersuara merdu nan indah ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Beliau adalah figur ‘ulama yang sederhana kehidupannya, tegar akan cabaran kehidupan, dan tegas menegakkan yang haq.

Ustadz 'Abdusy Syukur Mohan adalah figur 'ulama yang tak pernah gentar hadapi hidup, tegakkan yang haq walau dunia mencercanya. Beliau tegas dengan pendirian dan prinsipnya, idealis, rasionalis, anti kekerasan, lebih mengutamakan kepentingan orang banyak.

Beliau yang idealis ini hingga akhir hayatnya tak ada satu pihakpun yang bisa menggoyahkan pendirian dan prinsip hidupnya. Isterinya Ustadz ‘Abdusy Syukur Mohan adalah adik sepupunya yang bernama Aminah binti Harun (puteri dari Al-Ustadz Harun bin Haji 'Abdurrahman bin Haji 'Abdul Qadir bin Haji ‘Abdul Mannan).


27) Selanjutnya mengenai "Mohan Bersaudara" yang terakhir, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Yunus Mohan (Haji Muhammad Yunus bin Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok). Beliau bukanlah anak bungsu dari pasangan Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan dan Ruqayyah binti Haji ‘Abdurrahman, melainkan Ustadz Haji Muhammad Yunus Mohan adalah anak terakhir setelah anak ke-lima yang hidup hingga masa tuanya, sedangkan "saudara-saudaranya yang lain setelah anak ke-lima" meninggal dunia ketika masih kecil.

Ustadz H.M. Yunus Mohan adalah figur yang tak pernah lelah menuntut ilmu, dan tak pernah lelah mendidik masyarakat melalui dakwahnya. Berawal dari mengajar anak-anak Kampong Tambelan mengaji di rumahnya bersama-sama dengan isterinya sebagai Guru Ngaji.

Semakin hari lama-kelamaan murid mengajinya semakin ramai, sehingga sudah tak tertampung dan tak tertangani lagi. Sedangkan rumahnya sangatlah terbatas dan tenaga yang mengajar mengajinya pun hanya beliau bersama-sama dengan isterinya saja.

Karena antusiasnya masyarakat untuk mendidik anak-anaknya dengan pengetahuan yang berlandaskan Islam, maka muncullah inisiatif untuk mendirikan Madrasah. Para 'Ulama dan Pemuka Masyarakat Kampong Tambelan pun kemudian berpakat untuk mendirikan Madrasah, Ustadz Haji Muhammad Yunus Mohan diamanahkan memimpinnya. Madrasah yang dimaksud dinamai "Madrasah Haruniyah"/”Pondok Pengajian Agama Islam Haruniyah”, diambil dari nama seorang ‘Ulama Kampong Tambelan, yaitu Al-Ustadz Harun bin Haji ‘Abdurrahman (yang tak lain merupakan Pak Muda/Paman dari Ustadz H.M. Yunus Mohan, atau saudara dari ibunya Ustadz H.M. Yunus Mohan). Untuk pembinaan yang lebih maksimal, maka dibentuklah suatu yayasan yang bernama "Yayasan Pesantren Haruniyah" yang diketuai oleh Al-Ustadz Haji Muhammad Yunus Mohan.

Di awal-awal berdirinya, Yayasan Pesantren Haruniyah membina Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), kemudian bertambah lagi dengan Madrasah Diniyah Wustha. Beberapa tahun kemudian bertambah lagi dengan didirikannya Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berturut-turut kemudian bertambah lagi dengan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Menangah Atas (SMA), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), dan Pondok Pesantren.

Di masa-masa tuanya, Ustadz H.M. Yunus Mohan lebih banyak mengkhidmatkan dirinya pada bidang dakwah, pendidikan, membina majelis shalawat dalailul khairat, dan sebagai penghulu. [~bersambung~]


*** Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul:
1- "Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-1]"
2- "Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-2]"


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Medio Mei – Akhir Juli 2013
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Dihimpun dari berbagai sumber lisan, dan rata-rata penulis memang pernah berjumpa dengan tokoh-tokoh yang dimaksud.


Sumber foto/gambar ilustrasi: http://www.panoramio.com/, by: @ezakkacax


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"

Minggu, 28 Juli 2013

Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-2]


6) Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu. Ibunya bernama Ruqayyah binti Haji 'Abdul Qadir bin Haji 'Abdul Ghani bin Wan Muhammad Daram bin Encik Wan Mat Thalib bin Encik Wan Jermat bin ‘Umar (Megat Laksemane) bin 'Utsman (Datok Kaye Megat Patan Pahang) bin Tuan Kadi Haji Ahmad. Beliau merupakan seorang Nakhoda Pelayaran dan juga Pakar Pengobatan Tradisional (Tabib). Beliau juga menguasai banyak bidang ilmu, terutama sekali ilmu Tawhid dan Tasawwuf. Beliau mempraktikkan pelayaran dan pengobatan yaitu hasil daripada usaha yang gigih melalui pengembaraan ke berbagai Negeri di Dunia Melayu/Kepulauan Melayu ini. Muhammad Umar bin Encik Harun menghasilkan beberapa karya berupa Syair, Kitab Pengobatan/Pertabiban, dan juga Jurnal Pelayaran.

Muhammad Umar bin Encik Harun lahir di Kampong Tambelan, Pontianak, pada malam Khamis 3 Jumadil Awwal 1275 H/9 Desember 1858 M. Wafat pada usia 73 tahun pada malam Ahad, jam 12.00 lebih sedikit, 28 Shafar 1348 H/4 Agustus 1929 M. Mendapat pendidikan ‘azaz daripada lingkungan keluarga sendiri di Kampong Tambelan, Pontianak. Selain itu, Muhammad Umar bin Encik Harun juga belajar daripada beberapa orang ‘ulama yang datang ke Pontianak pada zaman itu.

Ulama Bangsa 'Arab pada zaman itu sangat ramai, di antara mereka ialah Sayyid Shalih az-Zawawi dan anaknya, Sayyid 'Abdullah az-Zawawi. Muhammad 'Umar bin Encik Harun sempat belajar dengan kedua-dua 'ulama 'Arab itu. Selain itu, para 'ulama di Negeri Pontianak juga ada yang datang dari Negeri Banjar, Bugis, Negeri Patani, Negeri Kelantan, Negeri Terengganu, dan tempat-tempat lainnya.

Karya-karya Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu:

I- "Jurnal Pelayaran dan Petua Melayu", diselesaikan antara tahun 1291 H/1874 M hingga 1293 H/1876 M. Antara topik penting yang ditulisnya yaitu: [1] Perkara Jurnal Pelayaran dari Pontianak Mau Pergi di Tanah Jawa Dan Kotaringin. [2] Perkara Jurnal Pelayaran dari Kuala Sambas Mau Pergi Singapura Hendak Tahu Duduknya Pulau-Pulau di Sebelah Barat Adanya. [3] Perkara Jurnal Menyusul dari Tanah Jawa Sampai di Tanah Barat Maka Tersebut Satu-Satu Pelayaran Adanya. Selanjutnya tentang pelayaran dinyatakan juga ukuran-ukuran perahu, serta mengenai pelangkahan.

II- "Syair Negeri Tambelan", selesai penulisan tercatat pada halaman akhir: Tamatlah syair hari Ahad, bulan Muharam tahun lebih empat" (menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, tarikh yang dimaksud yaitu hari Ahad, Muharam 1304 H). Di dalam bait-bait Syair Negeri Tambelan pun ada disebut samar-sama mengenai hal ini: "Tamatlah syair harinya Ahad/ Di Negeri Tambelan kita membuat/ Bulan Muharram tahun lebih empat/ Orang negeri tiada sepakat."

Menurut tela'ahan Aswandi Syahri, bahwa syair ini ditulis pada akhir-19, ketika Kesultanan Pontianak diperintah oleh Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie (1895-1944). Jika mengacu kepada kolofon Syair Bab al-Nikah yang selesai disalin pada 7 Mei 1896 (24 haribulan Dzulqa'idah malam Juma'at pukul 12 kepada tahun sanah 1313), maka larik syair "Bulan Muharram tahun lebih empat" bermakna Syair Negeri Tambelan selesai dibuat atau dikarang empat tahun setelah Syair Bab al-Nikah selesai disalin, yaitu pada tahun 1317 H bersamaan dengan 1899 M.

Kandungannya membicarakan asal usul keturunan Dato' Kaya Tambelan yang ditulis dalam bentuk puisi/syair. Juga secara umumnya mengenai Pulau Tambelan pada akhir abad-19.

III- "Buku Perobatan", kandungannya secara umum yaitu catatan mengenai bermacam-macam jenis penyakit dan cara mengobatinya. Pada "Buku Perobatan" ini, oleh Muhammad Umar bin Encik Harun pada setiap sesuatu obat dicatatnya juga nama seseorang yang mengajarkannya mengenai obat yang dimaksud, tarikh penerimaannya, serta lengkap dengan nama tempat atau negeri yang dirantauinya.

IV- Menyalin sebuah karya Raja Ali Haji yang berjudul "Syair Bab an-Nikah" (ada juga yang menyebutnya "Syair Hukum Nikah" ataupun "Syair Suluh Pegawai"). Selesai penyalinan tercatat pada halaman akhir, "Tersurat di Negeri Tambelan pada 24 hari bulan Dzulqa'idah, malam Khamis pukul dua belas kepada tahun sanah 1313. Dan menyalin surat Bab an-Nikah Datok Petinggi Tambelan, dan dia menyalin surat Raja Ali Riau, Pulau Penyengat.


7) Haji Isma'il bin Haji 'Abdul Lathif (Haji Isma'il Jabal), merupakan Adviseur Penasihat Agama Kesultanan Pontianak pada masa Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie. Haji Ismail bin Haji 'Abdul Lathif yang lahir di Kampong Tambelan-Negeri Pontianak ini menulis beberapa kitab, antara lain berkenaan dengan Ilmu Hikmah dan juga' Dalailul Khairat. Ilmu Hikmah diijazahkan kepada muridnya, yaitu Haji Mustafa bin Cek ‘Umar-Kampong Kuantan, Pontianak, pada tahun 1323 Hijriyah/1907 Miladiyah.

Beliau sampai di Makkah sekitar tahun 1870 Miladiyah pada usia 15 tahun. Pertama-tama ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu fiqh dengan mufti dari empat mazhab di Makkah, kemudian dengan Abdallah Al-Zawawi. Menerima pelajaran pertamanya dalam ilmu thariqat dari Muhammad Shalih yang sudah lanjut usia. Setelah Muhammad Shalih wafat, ia menerima langsung dari khalifah utama syaikh tersebut, yaitu Muhammad Murad Al-Qazani Al-Uzbaki. Ia menerima ijazah untuk mengajarkan thariqat menjadi guru terkenal dan tinggal di sebuah rumah di Jabal Hind yang merupakan harta waqaf yang disumbangkan oleh keluarga Sultan Pontianak, bersebelahan dengan makam mendiang Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie (Sultan Hamid I, yang wafat. pada tahun 1289 Hijriyah/1872 Miladiyah). Mengenai nama “Jabal” yang melekat di belakang namanya adalah untuk membedakan dengan nama Ismail yang lainnya. Ia mengajar di Jabal Hind dan dikenal sebagai guru dari Jabal Hind, sehingga dipanggil oleh murid-muridnya dengan sebutan “Ismail Jabal”.

Pada tahun 1919, setelah setengah abad di Makkah, Ismail Jabal kembali ke Kalimantan dan menetap di Pontianak sebagai seorang ‘alim dan syaikh thariqat. Masyarakat mengakui keilmuannya yang paling ‘arif dari generasinya. Ismail Jabal bukanlah satu-satunya khalifah Mazhariyah di Kalimantan Barat. Dalam hal ini, Muhammad Murad Al-Qazani mengangkat tiga khalifah lagi, semuanya bertempat tinggal di Pontianak, yaitu: Sayyid Ja’far bin Muhammad Al-Saqqaf, Sayyid Ja’far bin 'Abdurrahman Al-Qadrie (putera seorang pangeran), dan Haji 'Abdul 'Aziz (penduduk Kampong Kamboja).

Murid Haji Ismail Jabal yang terkenal di Kalimantan Barat yang menerima bay'at ijazah darinya yaitu Syaikh 'Abdul Ghani Mahmud Al-Yamani (biasanya ditulis Syaikh Haji Abdur Rani Mahmud Al-Yamani, padahal ini penulisan yang keliru) dengan Thariqat Naqsabandiyah Mazhariyah, dan ia (Haji ‘Abdul Ghani Mahmud) juga menjadi wakil tunggal Abah Anom dalam Thariqat Qadariyah wan Naqsabandiyah, ijazahnya diberikan setelah mengunjungi Abah Anom pada tahun 1976.

Kalangan penganut aliran Thariqat Qadariyah wan Naqsabandiyah dari Jawa sering datang menziarahi makam beliau (makam Haji Ismail bin Haji 'Abdul Lathif [Ismail Jabal]) yang terletak di Kampong Tambelan, Kelurahan Tambelan Sampit, Negeri Pontianak.


8) Haji Isma'il bin Haji Musthafa, berperan sebagai seorang Ahli Pengobatan (Tabib). Beliau dikenal di kalangan masyarakat luas di luar Borneo Barat sebagai seorang yang menyusun kitab pengobatan Melayu. Masyarakat Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia Barat) yang masih banyak menggunakan pengobatan tradisional mengambil pelajaran dari kitab yang dikarang oleh beliau.

Karya-karya Haji Isma'il bin Haji Musthafa yang telah ditemui antara lain yaitu:

I- "Ilmu al-Hikmah wa at-Thib" atau "Hikmah dan Perobatan" (judul sebenarnya tidak diketahui). Karya ini mulai disalin dari buku Haji Musthafa bin Haji Mahmud pada malam Selasa, di Kampong Tambelan, tarikh 9 Rajjab 1298 Hijriyah, dan diselesaikan pada tarikh 19 Rajab 1302 Hijriyah. Kandungannya membicarakan mengenai ilmu hikmah dan berbagai jenis perobatan dalam bentuk wafaq, doa, fadhilat ayat, ilmu astronomi, jampi-jampi Melayu, tumbuh-tumbuhan, organ binatang, dan lain-lain.

II- "Ilmu Perobatan Melayu", diselesaikan pada hari Rabu, bulan Dzulhijjah 1325 Hijriyah. Kandungannya membicarakan mengenai perobatan yang bersumberkan dari tumbuh-tumbuhan di Alam Melayu sendiri.


9) Haji Muhammad ‘Arif bin Encik Muhammad Thahir bin Malim Sutan bin Jupa Suara bin Datok Bendahara bin Tuan Kadi Ahmad. Ibunya yaitu Zainab binti ‘Abdul Mannan yang melahirkan tokoh ini di Kampong Tambelan, Pontianak, pada hari Rabu, pukul 4 petang 29 Rabiul Akhir 1279 Hijriyah. Wafat pada hari Ahad, pukul 1 tengah hari pada 6 Dzulqa’idah 1353 Hijriyah di Kampong Tambelan, Pontianak. Karya Haji Muhammad ‘Arif antara lain: [1] Matnul Ajrumiyah (diselesaikan di Semarang, 29 Muharam 1291 Hijriyah), yaitu mengenai Nahwu Arab yang diberi gantungan makna Melayu. [2] Sebuah buku catatan dengan kandungan: asal-usul datok neneknya, yaitu Datok Bendahara. Karya Haji Muhammad Arif yang dimaksud itu juga membahas mengenai hal-ihwal Sejarah Kesultanan Pontianak.


10) Haji ‘Abdus Shamad bin Encik Harun bin Malim Bungsu. Ibunya bernama Ruqaiyah binti Haji ‘Abdul Qadir bin Haji ‘Abdul Ghani. Tokoh ini adalah abang dari Muhammad ‘Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu. Lahir di Kampong Tambelan, Pontianak, malam Selasa pukul 12, tarikh 5 Syawwal 1264 Hijriyah. Wafat pada hari Selasa, pukul 7 pagi, tarikh 4 Syawwal 1343 Hijriyah, dalam usia 79 tahun.

Karyanya yang telah ditemui ialah Rumus Hisab dan Jurnal Pelayaran, diselesaikan pada tahun 1316 Hijriyah. Kandungannya yaitu mengenai rumus hisab atau perkiraan barangan yang semuanya menggunakan kode tertentu. Selain itu juga membahas mengenai Perkara Jurnal Pelayaran dari Kuala Pontianak Pergi di Tanah Jawa dan serta Pergi Di Kutaringin Pergi di Banjarmasin.


11) ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Jeragan bin Nakhoda ‘Abdul Mannan bin Nakhoda Ahmad bin ‘Abdullah (Datok Bendahara). Tokoh ini lahir di Kampong Tambelan, Negeri Pontianak, pukul 2 pagi Juma’at, tarikh 2 Shafar 1302 Hijriyah. Ibunya bernama Zainab binti Encik Harun. Sepanjang hayatnya telah menghasilkan banyak karya. Antara lain karyanya yang telah ditemui yaitu:

I- “Ilmu Binaan”, judul sebenarnya tidaklah diketahui, diselesaikan pada tarikh 15 Ramadhan 1333 Hijriyah/28 Juli 1915 Miladiyah sampai 1921 Miladiyah. Kandungannya yaitu membicarakan ilmu binaan, cara-cara membuat rumah lengkap dengan jenis-jenis atau nama-nama ukuran yang digunakan. Juga terdapat beberapa catatan lainnya.

Pada halaman depan dicatatkan, “1333-1915. Pontianak tanggal 15 Ramadhan bersama-sama bulan Juli. Yang empunya ini, hamba ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman Tambelan”.

II- “Keturunan Minangkabau”, catatan selesai penulisan terdapat pada halaman depan, “Pontianak tanggal kepada 26 Muharram 1345 waktu itulah sahaya ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman habis menulis ini surat salasilah keturunan tua-tua dari asal dulu-dulu. Ada juga yang ditambah-tambah yang setahunya menyalin dalam buku nenda Haji Sulaiman bin ‘Abdul Mannan adanya”.

Catatan dilengkapi dengan tandatangan yang dinyatakan, “ila Pontianak Kampong Tambelan, tandatangan, tarikh 6-8-1926”. Kandungannya membahas mengenai jalur keturunan pembesar yang berasal dari Minangkabau yang menjadi raja/pembesar di beberapa tempat di antaranya ialah: Johor, Pontianak, Datok Kaye Tambelan, Datok Kaye Serasan, Pembesar di Champa/Kemboja, dan lain-lain.

III- “Ilmu Tawhid”, diselesaikan pada 3 Dzulhijjah 1348 Hijriyah. Kandungannya membahas mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Manuskrip atau tulisan tangan asli ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdurrahman, Kampong Tambelan, Pontianak.

IV- "Catatan Peristiwa", diselesaikan pada malam Khamis, jam 8.00, tarikh 12 Rabiul Akhir 1358 Hijriyah. Kandungannya mengenai catatan tahun lahir, wafat, dan berbagai peristiwa di lingkungan keluarga besar ‘Abdul Wahhab bin Haji ‘Abdurrahman dari tahun 1225 Hijriyah hingga tahun 1358 Hijriyah.


12) Al-Ustadz Harun bin Haji 'Abdurrahman bin Haji 'Abdul Qadir bin Haji ‘Abdul Mannan, berkiprah sebagai Kepala Madrasah Al-Raudhatul Islamiyah-Kampong Tambelan. Beliau juga pernah diamanahkan menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Telok Pakedai - Negeri Kubu - Borneo Barat. Nama Ustadz Harun bin Haji ‘Abdurrahman di kemudian hari diabadikan menjadi nama salah satu Madrasah/Pesantren di Kampong Tambelan, yaitu Madrasah/Pondok Pengajian Agama Islam/Pesantren Haruniyah-Kampong Tambelan-Pontianak. Beliau merupakan Ahli Fiqh, Nahwu-Sharaf, Faraidh, dan banyak lagi. Beliau juga dikenal sebagai Guru bagi ramai anak-anak Kampong Tambelan, karena beliau mengajar mengaji anak-anak Kampong Tambelan di masa itu.


13) Al-Ustadz Muhammad 'Ali bin Muhammad 'Arif, merupakan 'ulama kelahiran Kampong Tambelan yang selalu dikenang sebagai 'ulama yang mendalam ilmunya. Beberapa orang muridnya di kemudian hari juga menjadi ‘ulama dan pemuka masyarakat di Kampong Tambelan khususnya, dan di Negeri Pontianak umumnya, serta dikenal se-Negeri Pontianak, bahkan se-Borneo Barat.


14) Al-Ustadz Asy-Syaikh Haji 'Abdul Ghani Mahmud Al-Yamani, ahli berbagai bidang ilmu (Tawhid, Tafsir, Hadits, Fiqh, Falaq, Tasawwuf, Thariqat, dan beberapa yang lainnya). Karya monumental beliau yaitu "Jadwal Shalat Sepanjang Masa untuk wilayah Borneo Barat". Beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia wilayah Borneo Barat.

Haji ‘Abdul Ghani Mahmud merupakan murid dari Haji Ismail Jabal. Beliau menerima bay'at ijazah Thariqat Naqsabandiyah Mazhariyah dari Haji Ismail Jabal. Beliau juga merupakan wakil tunggal Abah Anom dalam Thariqat Qadariyah wan Naqsabandiyah yang ijazahnya didapatkan setelah mengunjungi Abah Anom pada tahun 1976. Pengaruh Thariqat ini cukup besar, tidak hanya di Negeri Pontianak, bahkan sampai ke Negeri Sarawak, yang juga sudah dikenalkan oleh 'Abdul Lathif bin 'Abdul Qadir Al-Sarawaki.


15) Al-Ustadz Muhammad Shaléh bin Haji Muhammad Yusuf (akrab dipanggil "Tok Abu"), beliau ahli ilmu Fiqh (juga menguasai ihwal Faraidh), Ahli ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf, serta beberapa disiplin ilmu yang lainnya. Al-Ustadz Muhammad Shaléh (Tok Abu) merupakan Kepala Madrasah Diniyah Awwaliyah Haruniyah yang pertama-tama kali. Beliau juga merupakan guru saya.


16) Haji Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok, merupakan Ahli Silat Melayu, juga pengamal tasawwuf yang berkepribadian sederhana. Beliau juga ahli dalam pengobatan hernia (ulor-ulor). Di antara zuriat keturunan beliau ada yang menjadi ‘Ulama, Tokoh Masyarakat, Penggawe (Kepala’ Kampong), Tabib, dan sebagainya.


17) Muhammad Syafi'i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok, merupakan seorang Pemuka Masyarakat. Beliau adalah Abang dari Haji Muhammad Buraa'i. Beberapa orang zuriat keturunan beliau juga ada yang menjadi ‘Ulama, Pemuka Masyarakat, Penggawe (Kepala' Kampong), dan sebagainya.


18) 'Abdul Qadir bin Haji 'Abdurrahman bin Haji 'Abdul Qadir bin Haji 'Abdul Mannan. Beliau adalah seorang pengamal Tariqat dan Tasawwuf. Beliau merupakan adik dari Ustadz Harun bin Haji 'Abdurrahman dan Ruqayyah binti Haji 'Abdurrahman.


19) Muhammad Buraa'i bin Haji Adnan menikah dengan saudara perempuan dari Ustadz Harun bin Haji ‘Abdurrahman yang bernama Ruqayyah binti Haji ‘Abdurrahman. Ruqayyah binti Haji ‘Abdurrahman merupakan seorang Tabib (Ahli Pengobatan Tradisional), Ahli Obat-obatan tradisional, serta Dukon Beranak yang masyhur di masanya. Pernikahan Muhammad Buraa'i dengan Ruqayyah membuahkan ramai zuriat keturunan (kurang lebih 12 orang). Anak-anaknya yang hidup hingga masa tua ada 6 (enam) orang, yaitu: Muhammad Kasim Mohan, Muhammad Yusuf Mohan, Muhammad Husin Mohan, Zaidah Mohan, ‘Abdusy Syukur Mohan, dan Muhammad Yunus Mohan. [~bersambung~]


*Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul "Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-1]"*


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Medio Mei – Akhir Juli 2013
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Dihimpun dari berbagai sumber, antara lain:

- Tradisi Lisan dari para tetua Kampong Tambelan (cerita dari mulut ke mulut yang dikisahkan turun temurun).

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008].

- Artikel berjudul “Lima Orang Bernama Ismail Tokoh Ulama Melayu di Kalimantan Barat”, Oleh : H. Dato Zahry Abdullah Al-Ambawi dan M. Natsir.

- Artikel berjudul “Pengembaraan dan Pengubatan Muhammad Umar”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [Dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 5 Desember 2005]

- Artikel berjudul “Syair Negeri Tambelan”, Oleh: Aswandi Syahri [Dimuat di Majalah “Batam Pos” Edisi 15, Minggu III Mei 2013, pada Kolom “Kutubkhanah”]

- Artikel berjudul “Ulama-Ulama Pontianak dan Karya Mereka (bhg.2)”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 24 Maret 2008].



Sumber foto/gambar ilustrasi: http://www.panoramio.com/, by: @ezakkacax


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"




Minggu, 21 Juli 2013

"Syair Kerajaan Pontianak", Sultan, dan Silat


Tulésan berikot ni mengenai Pelajaran Silat di Kesultanan Pontianak, kaétannye dengan peran Sultan Pontianak sebagai Umara' dan 'Ulama, sebagaimane temaktob di dalam "Syair Kerajaan Pontianak".

"Syair Kerajaan Pontianak" ditulés beberape taon setelah bedirinye Kesultanan Melayu-Islam Pontianak (Kesultanan Pontianak) di dalam Negeri Pontianak, Borneo Barat.

Dalam untaian "Syair Kerajaan Pontianak" tesebot juga' jelas mencerménkan minat dan kesunggohan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Al-Habib Husain Al-Qadrie dalam hal-éhwal pembinean serte pengembangan seni dan budaye Silat.

Untok lebéh jelasnye dan merupekan dokumen sejarah persilatan Melayu, berikot ini dituléskan beberape petikan awal pade Bab Silat yang temaktob di dalam "Syair Kerajaan Pontianak", yaitu:

Setelah sudah beperi-peri,
Baginde berangkat lalu bediri
Panggélkan Mat Raiyat suroh ke mari,
serte dengan Wan Bakari.

Wan Ahmad, Wan Bakar datanglah sudah,
kepade Baginde tundok menyembah
Dengan segerenye Baginde betitah,
Adelah sedikit hendak diperintah.

Baginde tesenyom seraye bekate,
Jikalau suke rasenye cite
Tuan-tuan yang mude ajarkan kite,
diajarkan silat bemaén senjate.

Tuan ajarkan padan-padan,
boléh dilihat usolnye badan
Bagaimane di dalam contoh teladan,
yang mane patot maén di médan.


[Ditulés ulang oleh pacal Muhammad Hanafi bin ‘Abdusy Syukur Mohan al-walad al-bilad Negeri Pontianak Seri Khattul Istiwa’ ke dalam Loghat Melayu Pontianak pade Ahad, tarikh 12 haribulan Ramadhan sanat 1434 Hijriyah, betepatan dengan tarikh 21 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah, tang Tanah Betawi adenye]


Sumber tulésan: Artikel bejudul “Peranan Ulama dalam Silat”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [Dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia", pade 15 Juni 2009]

Sumber poto ilustrasi: Silat Tembong di Istane Qadriyah – Kesultanan Pontianak [Koleksi dari Laman Website "Nederlands Fotomuseum"]


Tulésan ini dimuat tang: Laman Blog "Arus Deras"

Kamis, 18 Juli 2013

Sultan Pontianak; Umara’ dan ‘Ulama


Kesultanan Pontianak merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang paling terakhir didirikan di Kepulauan Melayu ini. Negeri Pontianak berdiri pada tarikh 24 haribulan Rajjab sanat 1181 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 23 haribulan Oktober sanat 1771 Miladiyah.

Negeri Pontianak adalah Kesultanan Melayu-Islam yang didirikan dan di’azaskan oleh Sultan-Sultan-nya yang Umara' sekaligus ‘Ulama. Sebagai suatu Negeri, Pontianak telah hidup sebagai suatu kawasan yang sangat khas ke-Melayu-annya yang dibalut oleh Adat Resam Budaya Melayu yang bertamaddun tinggi, serta dengan tradisi ke-Islam-annya yang begitu khas pula.

Pontianak merupakan negeri yang terberkahi, yang berasal-mula berdirinya yaitu di simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Ia 'lah Negeri yang berada tepat di garis Khattul Istiwa’, yang dari garis lintangnya itu membelah bumi menjadi dua bagian: utara dan selatan.

Inilah Negeri yang tamaddunnya terbangun dari ketiadaan, berdiri dan maju ke hadapan sebagai Negeri yang kemudian begitu diperhitungkan dan masyhur di Kepulauan Melayu ini. Dengan berpayungkan Budaya Melayu nan gemilang, Negeri ini melesat melampaui Negeri-Negeri lainnya se-kawasan, menjadi salah satu pusat peradaban di Bumi Borneo, menjadi tempat perjumpaan berbagai kaum dari serata Negeri di Kepulauan Melayu ini, sehingga menjulanglah Negeri ini dengan pencapaian-pencapaiannya yang tak disangka-sangka, pencapaian-pencapaian yang sungguh begitu memukau.

Tiada lain dan tiada bukan, kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama. Sebut saja misalkan Pendiri Negeri/Kesultanan Pontianak yang sekaligus Sultan Pontianak ke-I, yaitu Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Al-Habib Husain Jamalullail Al-Qadrie “Tuan Besar Negeri Mempawah”. Semasa hidupnya, Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak pernah menyalin Al-Qur'an 30 Juz dengan tangannya sendiri (Al-Qur'an tulisan tangan).

Sultan Syarif Qasim Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie, merupakan satu-satunya Sultan Pontianak yang pernah memangku kepemimpinan di dua Negeri, yaitu sebagai Panembahan Negeri/Kerajaan Mempawah, dan kemudian sebagai Sultan Negeri/Kesultanan Pontianak. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Qasim Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Sultan Pontianak ke-II) merupakan seorang diplomat ulung.

Selain Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie, ananda beliau yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie (Sultan Pontianak ke-III) semasa bertahtanya juga merupakan salah seorang Sultan yang produktif menulis. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak pernah menterjemahkan karya berjudul "Tuhfatul Ikhwan fi Fadhlir Rajjab wasy-Sya’ban war-Ramadhan" yang selesai beliau terjemahkan pada hari Isnin, tarikh 16 haribulan Rabiul Awwal sanat 1244 Hijriyah. Nama pengarang asalnya yaitu Syaikh Ahmad bin Majjazi Al-Qisyti Asy-Syafi Yahya. Namun yang dijumpai sekarang-sekarang ini adalah merupakan salinan 'Ali bin Khathib Jailani bin Al-Imam Muhammad bin 'Abdullah, yang merupakan putera Negeri Siak Seri Inderapura.

Pada halaman terakhir Kitab Tuhfatul Ikhwan termaktub, “Pada hijrah an-Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam sanat 1244 kepada enam likur haribulan Rabi'ul Awwal, hari Isnin, pukul 10, ketika itu khatam al-kitab Tuhfah al-Ikhwan Paduka Seri Sultan as-Sayyid asy-Syarif 'Abdurrahman al-Marhum Al-Habib Husain Al-Qadrie di dalam Negeri Pontianak, dalam Kampong Sayyid asy-Syarsyaikh al-Ba’abud adanya. Yang menyurat al-faqir ialah Ta'ala, yaitu 'Ali bin Khathib Jailani ibni al-Imam Muhammad bin 'Abdullah al-walad al-bilad Siak Seri Inderapura.”

Kandungan di dalam Kitab Tuhfah al-Ikhwan secara keseluruhan yaitu mengenai peristiwa hari kiamat dan mengenai akhirat.

Selain Sultan Pontianak yang ke-III, yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie yang produktif menulis, ananda Beliau yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie (Sultan Pontianak ke-IV) juga merupakan salah seorang Sultan Pontianak yang produktif menulis. Di antara karya Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak yang telah ditemui ialah "Syair Ibadat". Tercatat selesai penulisan, “Tamat hazal kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala, Syair Ibadat pada Yawmul Ahad, jam pukul delapan malam betul, kepada tiga puluh haribulan, tanpa dinyatakan tahun”. Kandungannya yaitu membicarakan mengenai nasihat dan pelajaran Agama Islam.

Sultan Pontianak ke-V, yaitu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie adalah Sultan Pontianak yang di masa pemerintahannya pelaksanaan hukum syari’at Islam berjalan dengan begitu baik, sehingga menjadi salah satu rujukan bagi pelaksanaan hukum syari’at Islam di Indonesia di kemudian hari. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak dikenal sebagai Sultan yang paling banyak mengkhidmatkan dirinya di dalam ihwal keagamaan.

Sultan Pontianak ke-VI, yaitu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie. Pembaharuan Negeri Pontianak sangat banyak dilakukan pada masa pemerintahannya. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak merupakan seorang syuhada yang selalu dikenang-kenang oleh rakyat Negeri Pontianak hingga bila-bilapun masanya.

Sultan Pontianak ke-VII, yaitu Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie (akrab dikenal sebagai Sultan Hamid II), merupakan seorang Sultan yang terpelajar. Seri Paduka Tuanku Sultan Hamid II juga merupakan seorang jenderal dan politikus ulung semasanya, serta juga seorang diplomat yang begitu diandalkan. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Sultan Hamid II) merupakan figur pemersatu Negeri-Negeri se-Kepulauan Melayu ini. Keberhasilan Konferensi Meja Bundar (KMB - Den Haag-Belanda, 1949) di antaranya diasbabkan karena peran dan kepiawaiannya sebagai diplomat.

* * *

Selain itu, ada beberapa tokoh di dalam Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak yang karyanya dapat dijejaki. Di antaranya yaitu Pangeran Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie dan Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie.

Pangeran Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie menghasilkan sebuah karangan yang berjudul “Catatan Pangeran ‘Abdurrahman bin Sulthan Yusuf Al-Qadrie”, yang diselesaikan pada tarikh 9 haribulan Rajjab sanat 1295 Hijriyah. Kandungan ringkasnya yaitu mengenai berbagai peristiwa sewaktu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie membina Makam Batu Layang, yang merupakan kompleks pemakaman Sultan Syarif Abdur Rahman al-Qadri (pendiri Kesultanan Pontianak) dan para kerabat Sultan Pontianak.

Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie, menghasilkan karya, di antaranya yang telah ditemui yaitu “Ilmu Hikmah”. Tercatat pada halaman depan, “Sanah 1327H, Selasa 4 Muharram, tahun Dal, awal yang punya ini Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie”.

Pada halaman yang lain dinyatakan sebagai berikut, “Sanah 1328H, hari Khamis kepada sanah 15 Muharam, yang punya ini tulisan Zain Pul bin Abdur Rahman al-Qadri, Kampung Melayu Pontianak adanya”. Terdapat juga tandatangan seni yang indah.

Kandungan daripada karyanya ini adalah membahas beberapa amalan untuk mendatangkan rezeki. Di antara amalan tersebut terdapat doa yang berasal dari Syaikh ‘Abdul Mannan “Qadhi Pontianak”. Karya yang dimaksud ini masihlah dalam bentuk manuskrip yang diperoleh di Pontianak pada 6 Syawwal 1422 H / 20 Desember 2001 M. [-;-]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 14 Sya’ban–9 Ramadhan sanat 1434 Hijriyah
Bertepatan dengan tarikh 23 Juni–18 Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Dihimpun dari berbagai sumber:

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008].

- Artikel berjudul “Ulama-Ulama Pontianak dan Karya Mereka (bhg.2)”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 24 Maret 2008].

- Buku berjudul “Sultan, Pahlawan dan Hakim; Lima Teks Indonesia Lama”, pada Bab “Beberapa Aspek Peradilan Agama Islam di Kesultanan Pontianak Tahun 1880-an”, Oleh: Henri Chambert-Loir, diterbitkan oleh: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan École Française d'Extrême-Orient, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, & Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat - UIN Jakarta, Cetakan Pertama: Desember 2011.


Sumber foto ilustrasi: Al-Quran tulisan tangan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie >>> http://aprianto58.blogspot.com/


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"




Rabu, 17 Juli 2013

Mengenang Sultan Hamid II ketika Pagi Juma'at 12 Juli 2013


Pagi tadi (Juma’at, 12 Juli 2013), sebak dan haru tika 'kan menulis: “Hari ini, kami mengenang 100 tahun miladmu wahai Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak.

Entah mengapa, setiap kali akan menulis mengenai Sultan Hamid II, berkecamuk rasa sebak, haru, dan pemberontakan. Rasa itu bergumpal-gumpal. Tiada lain tiada bukan, terkenang akan perjuangan dan pengorbanannya, juga perjuangan dan pengorbanan keluarga besarnya, juga Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat. Lebih daripada itu, dirinya juga kemudian menjadi korban dari persekongkolan jahat golongan-golongan yang mengatasnamakan “RI-Jogja”/"NKRI"/Kaum Unitaris-Republikan.

Dia-lah harapan terakhir Negeri Pontianak setelah Ayahandanya dan semua saudara-saudara laki-lakinya dibantai dibunuh oleh Balatentara Jepang. Iya, betul, tiada lain dan tiada bukan, Jepang yang dimaksud yaitu Jepang Si Saudara Tua-nya NKRI itu. Si Saudara Tua-nya NKRI tersebut memang berhasil membantai habis Satu Generasi Emas Borneo Barat ketika itu.

Satu Generasi Borneo Barat memang berhasil dibantai habis oleh Si Saudara Tuanya NKRI itu. Sungguhpun begitu, Negeri-Negeri kami masih tegak berdaulat. Pangeran Syarif Hamid Al-Qadrie ketika itu masih mendekam di penjara sebagai tahanan perang, dipenjarakan oleh si saudara tua-nya NKRI itu.

Selepas bebas dari penjaranya Jepang, tak lama kemudian beliau ditabalkan menjadi Sultan Pontianak ke-VII. Kesultanan Pontianak pun menata diri. Begitupun Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan lainnya se-Borneo Barat juga menata diri, Sultan/Raja/Panembahan baru juga ditabalkan.

Jepang si saudara tua-nya NKRI itu memanglah berhasil membantai habis para pemimpin Negeri-Negeri kami, tapi Borneo Barat terus bergerak. Selepas Saudara Tuanya NKRI itu berhambos, Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat pun menata diri, dan kemudian tegaklah Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat. Di masa-masa itu, Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat begitulah aman, damai sentausa, dan sejahtera, berbanding terbalik dengan Negeri-Negeri lainnya yang masih bergejolak.

Ternyata, petaka menghadang di depan. Petaka itu datang dari saudara mudanya Jepang, yaitu NKRI, yang kala itu masih bernama RI-Jogja. Cerita selanjutnya dapat ditebak, Borneo Barat kemudian menjadi wilayah jajahan RI-Jogja/NKRI, setelah sebelumnya RI-Jogja/NKRI memerangkap dan memenjarakan Sultan Hamid II. Dan hingga kini Borneo Barat masih berada di bawah kekangan penjajahan RI-Jogja/NKRI, masih dijajah oleh RI-Jogja/NKRI si saudara mudanya Jepang itu.

Borneo Barat takkan tinggal diam. Borneo Barat terus bergerak. Di Seabad Sultan Hamid II ini, semangat itu berkobar-kobar. Kami mau dan kami bisa.

"Kami mau, dan kami akan melakukannya sendiri. Kami akan mencapainya." [petikan pidato Sultan Hamid II ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag – Belanda, 1949]



- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 3-4 haribulan Ramadhan sanat 1434 Hijriyah /
Bertepatan dengan tarikh 12-13 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


*Tulisan ini sebelumnya merupakan Tweet pada Linimasa Akun Twitter @hanafimohan pada tanggal 12 hingga 13 Juli 2013*


Sumber gambar ilustrasi: Album "Gambar Garis Masa" Fans Page "Sultan Hamid II"


Tulisan ini dimuat kembali sebagai tulisan utuh di: Laman Blog "Arus Deras"




Selasa, 16 Juli 2013

Dari Peringatan Seabad Sultan Hamid II


12 Juli 1913 adalah hari lahirnya Sultan Hamid II. Pada tahun ini (2013), genap seabad kelahiran beliau (12 Juli 2013). Dalam rangka memperingatinya, Yayasan Sultan Hamid II bekerjasama dengan ramai pihak menyelenggarakan “Peringatan Seabad Sultan Hamid II” yang dilangsungkan di Pontianak Convention Centre (PCC), Jum’at, 12 Juli 2013. Acara dimulai pada jam 15.30, hingga kemudian berakhir pada jam 18.30. Peringatan Seabad Sultan Hamid II ini dirangkai dengan Launching Buku Biografi Politik Sultan Hamid II yang berjudul: Sultan Hamid II; Sang Perancang Lambang Negara “Elang Rajawali - Garuda Pancasila”.

Menurut pantauan Panitia, yang datang menghadiri acara ini sekitar 1000-an orang dengan animo yang sangat besar, demi menantikan buku biografi seorang pahlawan Kalimantan Barat dalam kancah nasional dan internasional.

Saat pembukaan acara, kata sambutan pertama disampaikan oleh salah seorang dari Tim Penulis, yaitu Anshari Dimyati yang juga sekaligus merupakan Ketua Umum Yayasan Sultan Hamid II (Anshari Dimyati merupakan peneliti mengenai tuduhan makar terhadap Sultan Hamid II, dan dibuktikan sebaliknya bahwa Sultan Hamid II tidak bersalah secara hukum). Diperkenalkan juga Penulis lainnya, yaitu Turiman Fachturahman Nur (peneliti Lambang Negara Indonesia kaitannya dengan Sultan Hamid II, satu-satunya peneliti lambang negara di Indonesia). Kemudian penulis lainnya yaitu Nur Iskandar, merupakan jurnalis senior yang sudah malang melintang menulis dan melakukan riset di lapangan.


Kata sambutan kedua oleh Walikota Pontianak (H. Sutarmidji SH, M.Hum), kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video sejarah lambang negara buatan resmi Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Museum Konferensi Asia-Afrika. Masyarakat Kalimantan Barat yang hadir ketika itu dengan hikmat menonton video lambang negara rancangan Sultan Hamid II.

Setelah itu keynote speech disampaikan oleh Tokoh Nasional yang berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar), yaitu Dr.(Hc.) Oesman Sapta Odang, yang juga merupakan mantan Wakil Ketua MPR-RI periode 1999-2004. Kemudian Launching (peluncuran) Buku Biografi Politik Sultan Hamid II, yang diluncurkan/diresmikan oleh Gubernur Kalbar atau yang mewakili. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat Kalbar, tokoh-tokoh masyarakat, cendekiawan, pemuda, mahasiswa, civitas akademika, sosiolog, budayawan, sejarawan, dan banyak macam elemen-elemen masyarakat di Kalimantan Barat. Masyarakat Kalbar antusias menanti buku Biografi Sultan Hamid II yang merupakan sang pahlawan Kalbar dan tokoh nasional dari Kalbar.

Anshari Dimyati mengatakan, bahwa Sultan Hamid II adalah pahlawan Indonesia. Kiprah politik pemikiran kenegaraannya (sebagai seorang negarawan) tidak pudar hingga hari ini, selain beliau juga merupakan perancang lambang negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Karirnya pernah menjadi Menteri RIS tahun 1949-1950, sempat pula menjadi Ketua BFO (Majelis Permusyawaratan Negara-Negara Federal), sebagai perwakilan BFO dalam Konferensi Meja Bundar/KMB (1949) bersama Mohammad Hatta (perwakilan RI-Jogja) & Van Marseeven (perwakilan Belanda), dan Sultan Hamid II sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat/DIKB (1947-1950), serta sebagai Sultan Pontianak ke-VII (1945-1978).


Dikatakan oleh Anshari Dimyati bahwa secara yuridis normatif/yuridis materil Tim Penulis sudah membuktikan secara hukum bahwa Sultan Hamid II adalah Sang Perancang Lambang Negara secara sah. Dan Sultan Hamid II tidak terbukti melakukan pemberontakan atau makar yang dituduhkan oleh Pemerintah Indonesia kepadanya. Sudah sepatutnya nama baik Sultan Hamid II dibersihkan secara hukum/yuridis formal, yaitu untuk menghapus stigma negatif Sultan Hamid yang selalu dinyatakan sebagai pemberontak/pengkhianat negara. Tentunya semua itu bisa dilakukan dengan dukungan dari elemen-elemen Kalimantan Barat dan Indonesia. Anshari Dimyati menambahkan bahwa buku Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara ini adalah dalam rangka memperingati Satu Abad Kelahiran Sultan Hamid II (12 Juli 1913-12 Juli 2013).

Kemudian Walikota Sutarmidji menyatakan bahwa Pemerintah Kota Pontianak mengakui, menghormati, dan mengajak masyarakat Pontianak dan Kalbar untuk mendukung Pahlawan dari Kalbar. Kemudian beliau pun mendukung upaya-upaya pemulihan nama baik Sultan Hamid II dan upaya-upaya mendorong diakuinya Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara secara resmi dari Negara.


Selanjutnya Oesman Sapta Odang (OSO) menyatakan bahwa Sultan Hamid II berperan besar ketika memperjuangkan kedaulatan Indonesia. Beliau pun bercerita tentang bagaimana kisah hidupnya bersama Sultan Hamid II. Beliau adalah seorang kader dan seorang yang pernah dididik oleh Sultan Hamid II. Tokoh Nasional asal Kalbar yang akrab dipanggil OSO ini menyebutkan bahwa Sultan Hamid II adalah orang yang cerdas, berwibawa, disiplin, dan seorang yang memegang prinsip. Dan OSO pun mendukung perjuangan untuk mengangkat marwah Sultan Hamid II.

Amanah Gubernur Kalimantan Barat bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang baik dan patut terus dilanjutkan, karena Sultan Hamid II merupakan seorang Bumiputera KALBAR yang telah membawa nama harum Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat.

Acara pun dilanjutkan dengan spontanitas/testimoni para tokoh-tokoh Kalbar yang hadir dari berbagai macam kalangan elemen masyarakat. Seperti Baroamas Masoeka Jabang Janting, akrab dikenal dengan Masoeka Janting, yang kini berumur 89 tahun. Masoeka Janting adalah tokoh masyarakat Dayak yang berasal dari Kapuas Ulu, Kalbar. Beliau merupakan seorang yang cukup dekat dengan Sultan Hamid II. Ia juga menyebutkan bahwa Sultan Hamid II begitu dekat dengan masyarakat/rakyat. Testimoni dilanjutkan oleh Gusti Suryansyah (Raja/Panembahan Kerajaan Landak yang sekaligus merupakan Ketua Forum Komunikasi Keraton Nusantara-Kalbar) dan juga oleh Prof. Dr. Syarif Ibrahim Al-Qadrie, M.Sc. (Guru Besar Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat).


Pada Peringatan Seabad Sultan Hamid II dan Launching Buku Biografi Politik Sultan Hamid II ini hadir juga mantan sekretaris pribadi Sultan Hamid II yang sekaligus merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Hamid II, yaitu Haji Max Yusuf Al-Qadrie. Yang menandatangani peluncuran buku yaitu: Walikota Pontianak, Gubernur Kalbar atau yang mewakili, Oesman Sapta Odang/Tokoh Nasional KALBAR, Max Yusuf Al-Qadrie, dan tiga orang penulis (Turiman Fachturahman Nur, Anshari Dimyati, dan Nur Iskandar). Media Lokal dan Nasional pun (serta media pemerintah) juga begitu banyak yang meliput Peringatan Seabad Sultan Hamid II ini.

Launching Buku berlangsung hikmat dan penuh semangat. Diakhiri dengan buka puasa bersama dan makan malam. Ke depannya, Launching Buku ini akan ditindaklanjuti dengan Bedah Buku Biografi Politik Sultan Hamid II. Animo masyarakat begitu sangat besar menunggu hadirnya Buku Biografi Politik Sultan Hamid II ini. Dan masyarakat Kalbar berharap bahwa Sultan Hamid II dapat diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ide otonomi penuh (otonomi seluas-luasnya) dan perjuangan federalisme juga tak dapat dipisahkan dari apa-apa yang pernah diperjuangan oleh Sultan Hamid II. Dengan begitu Indonesia dapat menjadi negara yang demokratis dan menjunjung tinggi hak ber”serikat”. [~Hans~]


Tulisan ini merupakan hasil dari wawancara via telepon dengan Anshari Dimyati (salah seorang dari tim penulis Buku Biografi Politik Sultan Hamid II, sekaligus merupakan Ketua Umum Yayasan Sultan Halmid II)



- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Juma'at - 3 Ramadhan 1434 Hijriyah /
Bertepatan dengan 12 Juli 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Sumber Foto: Album Foto "Peluncuran Buku Biografi Politik SULTAN HAMID II" oleh Dony Oesman dan Album Gambar Garis Masa Facebook Hanafi Mohan


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"

Selasa, 09 Juli 2013

Penetapan Awal Ramadhan dan Negara Tak Bermarwah


Apakah sebabnya banyak Golongan di nkri ini yang tidak mau mengikuti Keputusan Penetapan Tanggal 1 Ramadhan dari Pihak Pusat Kekuasaan? Itulah Pertanyaannya, dan itulah salah satu penyebabnya mengapa ‎nkri ini selalu ‎MatiGaya hingga bila-bilapun masanya.

Jika pemerintah/pemimpin sudah memutuskan dan menetapkan "A", maka sepatutnya Golongan-Golongan yang sebelumnya berbeda pendapat itu (bahkan berbeda keputusan) kemudian mengikuti yang telah diputuskan dan ditetapkan oleh Pihak Negara tersebut. Tapi karena negaranya memang sudah tidak berwibawa dan tidak bermarwah, maka Golongan-Golongan yang berbeda pendapat dan berbeda keputusan itu akan tetap berbeda dengan Pihak Penguasa, tidak akan mena'ati yang diputuskan dan ditetapkan oleh Pihak Penguasa yang dimaksud. Yang pasti ‎nkri semakin hari semakin ‎MatiGaya saja.

Negeri yang darussalam itu adalah negeri yang ketika pemangku negerinya bertitah “A”, maka segenap rakyat penduduk negerinya akan menuruti dan mena’ati titah tersebut. Begitulah yang berlaku di negeri-negeri darussalam di serata Kepulauan Melayu ini di masa silam. Raja adil, Raja disembah. Raja zalim, Raja disanggah.

Salah satu negeri darussalam itu adalah Negeri Pontianak – Borneo Barat. Pemangku negerinya (baca: Sultan) yang adil serta menyayangi rakyatnya, sehingga rakyatnya pun selalu menghaturkan sembah setia kepada pemangku negerinya. Titah pemangku negeri dituruti dan dita’ati oleh segenap rakyatnya, termasuk dalam hal penetapan 1 Ramadhan (awal berpuasa), akhir berpuasa (menyambut 1 Syawwal/Aidil Fithri), dan menyambut Lebaran Haji/Aidil Adha (10 Dzulhijjah). Pada ketiga momen ini, setelah pemangku negeri memutuskan dan menetapkan mengenai hal yang dimaksud, maka dibunyikanlah meriam oleh pihak Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak. Dibunyikannya meriam ini adalah sebagai penanda dimulainya berpuasa (ketika menyambut 1 Ramadhan), berakhirnya puasa (ketika menyambut 1 Syawwal), dan menyambut Aidil Adha (10 Dzulhijjah/Lebaran Haji). Bunyi meriam dari Istana Qadriyah tersebut kemudian bersambut-sambutanlah dengan bunyi meriam-meriam lainnya di masing-masing kampong di serata negeri yang berada di dalam Negeri Pontianak.

Setelah terdengarnya bunyi dentuman meriam yang bertalu-talu dan bersahut-sahutan itu, maka segenap rakyat pun mengetahuilah bahwa itulah bunyi penanda menyambut puasa (ketika menyambut 1 Ramadhan), menyambut Aidil Fithri (ketika menyambut 1 Syawwal), dan menyambut Lebaran Haji/Aidil Adha. Bersuka-cita dan bergembiralah segenap rakyat Negeri Pontianak ketika mendengar dentuman suara meriam-meriam itu. Begitulah negeri yang darussalam. Tradisi tersebut (tradisi membunyikan meriam ketika menyambut Puasa Ramadhan, Lebaran Ramdhan/Aidil Fithri, dan Lebaran Haji/Aidil Adha) tetap hidup dari dulu (ketika Kesultanan Pontianak masih berdaulat) hingga kini (ketika Kesultanan Pontianak sudah tidak berdaulat), dengan corak dan ragam yang begitu rupa. (lebih lanjut mengenai tradisi membunyikan meriam ini akan dimuat pada tulisan berikutnya). [~Aan~]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 29 – 30 haribulan Sya’ban sanat 1434 Hijriyah
Bertepatan dengan tarikh 8 – 9 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Sumber gambar ilustrasi: republika.co.id dan dakwatuna.com


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"


Minggu, 07 Juli 2013

[Undangan] Launching Buku "Biografi Politik Sultan Hamid II" dalam rangka "Peringatan Seabad Sultan Hamid II"



~ U N D A N G A N ~


Hadirilah beramai-ramai...

Launching Buku "Biografi Politik Sultan Hamid II"
dalam rangka "Peringatan Seabad Sultan Hamid II"
(12 Juli 1913 - 12 Juli 2013),
yang insyaALLAH akan diselenggarakan pada:


Hari/Tanggal : Juma'at, 12 Juli 2013 Miladiyah
Dimulai dari jam 15:00 (jam 3 sore) hingga selesai,
dirangkai dengan Buka Puasa Bersama dan Makan Malam
Bertempat di : Pontianak Convention Center (PCC)
Jalan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie Nomor 7-9
Negeri Pontianak - BORNEO BARAT


Terima kasih atas perhatiannya.

Tabék


YAYASAN SULTAN HAMID II
(Sultan Hamid II Foundation)







Undangan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"

Rabu, 26 Juni 2013

Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-1]


#) Muqaddimah: Muasal Kampong Timbalan Raje

Berbicara mengenai Benua Borneo, maka tak terlepas dengan keberadaan sungai dan kampong-kampong di tepi sungai. Tersebutlah suatu kampong di tepian Sungai Kapuas di dalam Negeri Pontianak. Kampong ini letaknya tak jauh dari lingkungan Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak. Kampong tersebut masyhur dikenal dengan nama "Kampong Tambelan".

Kampong Tambelan dibuka/didirikan pada masa Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Pendiri Negeri/Kesultanan Pontianak, sekaligus Sultan Pontianak yang Pertama). Jadi, Kampong Tambelan termasuk salah satu kampong paling awal yang ada di dalam Negeri Pontianak setelah di Pontianak berdiri Kesultanan.

Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pendiri Kampong Tambelan adalah Panglime 'Abdul Ghani (Panglime Kesultanan Pontianak ketika itu). Panglime 'Abdul Ghani ini berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura yang hijrah dan mengabdi ke Negeri/Kesultanan Pontianak.

Panglime 'Abdul Ghani beserta pengikutnya ketika itu hijrah ke Negeri Pontianak bukanlah sebagai utusan Kesultanan Siak Seri Inderapura. Serta bukan pula datang dengan maksud untuk berperang, melainkan betul-betul hijrah. Hijrah dengan keinginan sendiri, bukanlah karena diutus oleh Kesultanan Siak Seri Inderapura.

Belakangan hari setelah Panglime 'Abdul Ghani bermukim di Negeri Pontianak dan mengabdi di Kesultanan Pontianak, maka datanglah pasukan Kesultanan Siak bermaksud memerangi Pontianak. Tapi kemudian rencana penyerangan itu kandas, malahan kemudian terjalin persahabatan/persekutuan antara Kesultanan Pontianak dengan Kesultanan Siak Seri Inderapura. Salah satunya karena peran Panglime ‘Abdul Ghani, serta juga karena ke’arifan dan kewara’an Sultan Pontianak yang selain sebagai umara’, juga sekaligus berperan sebagai ‘ulama.

Kampong Tambelan merupakan hadiah dari Sultan Pontianak ketika itu (Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie) kepada Panglime ‘Abdul Ghani atas kesetiaan dan pengabdian Sang Panglime terhadap Kesultanan Pontianak. Penamaaan Kampong Tambelan bukanlah berasal dari nama Pulau Tambelan – Kepulauan Riau (dulu teritori Kesultanan Riau–Lingga-Johor). Muasal berdirinya Kampong Tambelan pun tak ada kait-mengaitnya langsung dengan Pulau Tambelan. Awal-mulanya Kampong Tambelan itu bernama "Kampong Timbalan Raje" yang maknanya yaitu Kampong Wakilnya Raja/Kampong Wakilnya Sultan. Di dalam Bahasa Melayu, “timbalan” maknanya yaitu “wakil”. Di kemudian hari, terjadi perubahan penyebutan hingga menjadi "Kampong Tambelan".

Masyarakat Melayu Kampong Tambelan sendiri merupakan percampur-bauran Melayu Borneo, Melayu Sumatera, Melayu Semenanjong, dan mungkin lebih kompleks lagi percampur-baurannya.


#) Para Pemuka Kampong Timbalan Raje

Di dalam Negeri Pontianak, Kampong Tambelan dikenal sebagai kampong yang kental dengan Adat Resam Budaya Melayunya, berjalin kelindan dengan kehidupan masyarakatnya dalam hal menjalankan ajaran Islam beserta tradisinya yang berurat berakar menghunjam bumi. Sepanjang episode sejarahnya, Kampong Tambelan juga melahirkan ramai pemuka masyarakat yang dikenal se-Negeri Pontianak, di antaranya yaitu Panglime Kesultanan Pontianak, Tok Kaye, ‘Ulama, Tabib, Nakhode, Saudagar, Budayawan, dan beberapa yang lainnya.

Berikut ini uraian mengenai para Pemuka/Tokoh Masyarakat Kampong Tambelan, ada yang memang terlahir dan besar panjang di Kampong Tambelan, ada juga yang berasal dari Negeri lainnya di Kepulauan Melayu ini yang kemudian menjadi pemuka masyarakat Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan) yang melahirkan banyak zuriat yang berkait kerabat dengan jalur-jalur keturunan lainnya di Kampong Tambelan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kampong Tambelan hingga kini.

1) Panglime 'Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye Mude Pahlawan” dan juga gelar “Tok Kaye Setie Lile Pahlawan”), merupakan seorang Panglime Kesultanan Pontianak, sekaligus merupakan Pendiri Kampong Tambelan.

Panglime ‘Abdul Ghani ini berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura. Kedatangannya ke Borneo Barat yaitu ketika terjadi perlawanan antara Melayu Riau dengan Portugis yang memperebutkan daerah kekuasaan Negeri Johor. Masuk ke Sungai Kapuas dengan beberapa buah perahu, bermula perahu ditambatkan di muara Kapuas. Ketika menelusuri Sungai Kapuas, rombongan Panglime ‘Abdul Ghani mendapati banyak tumbuh-tumbuhan jeruju (sejenis tanaman menjalar), sehingga daerah tersebut dinamakanlah daerah Jeruju. Di antara anak buah perahu yang sampai di Sungai Kapuas ada yang bernama Tok Kaye Kamil, Tok Tiram, dan Panglime Suboh. Di Kesultanan Pontianak ketika itu adalah masa pemerintahan Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak.

Kampong Tambelan yang merupakan hadiah dari Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie kepada Panglime ‘Abdul Ghani atas kesetiaannya tentunya juga banyak tradisi lisan masyarakat Kampong Tambelan mengenai kesetiaan yang dimaksud. Suatu ketika para Panglime, Penggawe (Kepala’ Kampong), Kapitan, dan para petinggi Kesultanan Pontianak berkumpul di Balairung Istane Qadriyah mempersembahkan berbagai macam hadiah sebagai tanda kesetiaan terhadap Sultan, terhadap Kesultanan, terhadap Negeri Pontianak. Ada yang mempersembahkan hasil pertanian dan semacamnya, perhiasan, dan persembahan-persembahan lainnya yang tentunya sangat berharga, juga bernilai tinggi. Tiba saatnya Panglime ‘Abdul Ghani menghaturkan persembahan, Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie bukan main terheran-heran melihat yang akan dipersembahkan oleh Sang Panglime, yaitu berupa kain basah. Tak lain dan tak bukan, yakni kain basah yang biasa dipergunakan sebagai penutup tubuh ketika mandi itu.

Panglime ‘Abdul Ghani pun menjura takzim ke hadapan Sang Sultan, menjelaskan perihal kain basah yang dibawanya itu. Bahwasanya, kain basah itu tidak kurang keistimewaannya dalam hal bersetia kepada tuannya. Ketika yang lain-lainnya tidak ada yang mau menemani sang tuan, maka kain basah tetap setia menemani tuannya. Diibaratkannya bahwa dirinya adalah kain basah bagi Sultan Pemangku Negeri Pontianak. Umpama kain basah yang melekat di badan seseorang, melekat sangat dekat dan sangat erat, itulah tanda kesetiaan seorang Panglime Kesultanan Pontianak, hingga ke anak-cucu'-zuriat keturunannya akan selalu setia kepada Kesultanan Pontianak, akan selalu setia kepada Negeri Pontianak.


2) Haji 'Abdurrahman bin Panglime 'Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye 'Abdurrahman”, dikenal juga dengan nama “Panglime 'Abdurrahman”). Beliau juga merupakan seorang Panglime Kesultanan Pontianak mengikuti jejak ayahandanya. Beliau merupakan tokoh masyarakat dan tokoh adat yang menangani berbagai urusan kemasyarakatan.


3) Haji Isma’il bin Haji 'Abdurrahman bin Panglime ‘Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye”), merupakan tokoh masyarakat dan tokoh adat. Beliau menangani berbagai urusan kemasyarakatan. Beliau pernah mendatangkan ‘Ulama dari Makkah ke Pontianak, yaitu Haji 'Abdullah Al-Habsy.


4) Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin 'Abdullah (Datok Senara). Di antara ‘ulama yang berasal dari Pontianak yang menghasilkan karya ialah Haji Muhammad Qasim. Nama lengkapnya yaitu: Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin ‘Abdullah (Datok Senara) bin ‘Ali (Datok Bendahara di Kuantan) bin Tuan Kadi Ahmad.

Beliau wafat dalam usia lebih dari 100 tahun, pada hari Rabu, pukul 9:30 pagi, pada bulan Rabi’ul Awwal sanat 1341 Hijriyah, di Kuale Maras – Jemaje - Pulau Tujoh - Kepulauan Riau.

Nampaknya hasil karya beliau dalam tahun 1238 Hijriyah adalah mendahului karangan ‘ulama-‘ulama Pontianak yang lainnya. Karya yang dimaksudkan itu ialah berjudul “Ushuluddin fi Sabilil I’tiqad”, diselesaikan pada tarikh 2 haribulan Syawwal sanat 1238 Hijriyah. Kandungan kitabnya ini membicarakan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Cetakan yang kedua yaitu oleh Mathba’ah Al-Ikhwan, Singapura, awal Rabi’ul Awwal 1337 Hijriyah.

Jika diperhatikan jarak waktu dari karya di atas diselesaikan (tahun 1238 Hijriyah) hingga beliau wafat (tahun 1341 Hijriyah) ialah 103 tahun. Sekiranya sewaktu menulis itu beliau berusia 20 tahun, maka ini berarti beliau wafat dalam usia 123 tahun.

(Dari beberapa sumber tertulis memang tidak menyebutkan bahwa Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin ‘Abdullah/Datok Senara lahir di Kampong Tambelan. Tapi jika disusur-galuri silsilahnya kemungkinan besar beliau/Haji Muhammad Qasim memang lahir di Kampong Tambelan. Ini barulah sebatas perkiraan penulis jika menyusur-galuri silsilahnya yang bersambung dengan beberapa orang Pemuka Kampong Tambelan, baik dari pihak perempuan maupun dari pihak laki-laki.)


5) Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok. Sesuai dengan cerita-cerita dari tetua Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan)-Negeri Pontianak-Borneo Barat, bahwa Haji Abu Na'im berasal dari daerah Kandangan - Negeri Banjar - Borneo Selatan. Allahyarham Haji Abu Na'im berperan sebagai Pemuka Masyarakat Kampong Tambelan, juga dikenal sebagai seorang Nakhode dan Saudagar. Anak cucu zuriat keturunan Haji Abu Na'im pun tak sedikit juga yang berkait-kerabat dengan anak cucu zuriat keturunan Panglime 'Abdul Ghani (Panglime Kesultanan Pontianak pada masa pemerintahan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie. Panglime 'Abdul Ghani berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura. Panglime 'Abdul Ghani merupakan pendiri Kampong Timbalan Raje/Kampong Tambelan). Berkait kerabat yang dimaksud misalkan hubungan perkawinan, hubungan persemendaan, dan semacamnya.

Menurut cerita dari para tetua Kampong Tambelan, ketika itu datanglah ke Negeri Pontianak tiga orang pemuda dari daerah Kandangan - Negeri Banjar yang dipimpin oleh seorang yang bernama Abu Na’im (menurut versi yang lain diceritakan bahwa yang datang dari Kandangan - Negeri Banjar itu adalah serombongan/lebih dari tiga orang). Abu Na’im dengan rombongannya/dua orang saudaranya/kawannya dari Kandangan-Negeri Banjar datang ke Negeri Pontianak untuk mencari orang yang bernama Sulaiman yang telah membunuh Datoknya yang bernama Panglime Ragam (Sulaiman yang dimaksud juga berasal dari Negeri Banjar). [~bersambung~]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Medio Mei – Akhir Juni 2013
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Dihimpun dari berbagai sumber, antara lain:

- Tradisi Lisan dari para tetua Kampong Tambelan (cerita dari mulut ke mulut yang dikisahkan turun temurun).

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008].

- Artikel berjudul “Lima Orang Bernama Ismail Tokoh Ulama Melayu di Kalimantan Barat”, Oleh : H. Dato Zahry Abdullah Al-Ambawi dan M. Natsir.



Sumber gambar ilustrasi: http://www.e-campusradio.com/


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"





Minggu, 16 Juni 2013

#Risalah


Terima kasih atas segala risalah,
yang dititip malam kepada embun,
dari lembutnya belaian rembulan
Risalah yang juga bertatah di pelangi senja,
selepas mentari cerahkan dunia,
kemudian hujan basahi bumi di siang tadi

Embun itu sebagai penanda,
di taman syahdu kala pagi,
yang menjejaki dedaunan dan bebunga
Begitupun arona pelangi di cakrawala,
khabarkan risalah tak berujung batas,
saujana pandang di sempadan langit dan bumi

Seuntai risalah penerang dunia,
jelma dari secercah cahaya mata,
hidupkan suasana secerah lazuardi benderangi pagi

Fajar yang mengintip dari ufuk timur,
titik bermula hari berkelindan asa
Tanpa sadar melintaslah pawana,
bawa risalah penyejuk qalbu nan sentiasa bersyukur


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Penghujung Mei 2013
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Puisi ini terinspirasi dari Lagu "Syukran 'Ala Al-Risalah" yang dinyanyikan oleh Jannat Mahid



Puisi ini sebelumnya telah dimuat pada Status Facebook: Risalah-1, Risalah-2, Risalah-3, dan Risalah-4

Puisi ini dimuat kembali di: Laman Blog "Arus Deras"

Sumber gambar ilustrasi: http://amivieneski.blogspot.com/


Sabtu, 04 Mei 2013

Konsépsi Panton Musyawarah dan Mupakat


Syaér-syaér panton tentang prinsip musyawarah dan mupakat tenampak sangat tegas dalam ngajaghkan prinsip ini. Kalaulah nak idop bemasyaghakat dengan baék, make Oghang Melayu aghos mena’at’ék prinsip musyawarah dan mupakat dalam ngambé’ keputosan. Beghikot ni adelah untaian syaér panton-panton tesebot:

Kate ukom kate benagh
Kate benagh kate adat
Kate adat kate mupakat
Tedighi adat atas mupakat

Tuah Raje dalam daulatnye,
tuah rakyat dalam mupakatnye

Besuloh ke mateaghi,
bepayong ke mupakat

Tegak adat pade mupakat
Dalam mupakat, salah besa’ dipekeci’, salah keci’ diabés’ék
Lulus mupakat tedighi adat

Bulat kaji dalam uji,
bulat aé’ dalam pembuloh,
bulat kate dalam mupakat

Mengaji dighi’ dalam dighi’,
mengaji adat dalam mupakat

Mupakat mbuang kesat,
ghundéng mbuang ghuncéng

Usai mupakat, beghat ghingan same diangkat
Di mane ghundéng udah selesai, di sito’ adat dipakai
Kalau ghundéng udah selesai, pantang diungkai

Bile ghundéng udah dipasak, pantang dianjak
Di mane mupakat sampai, di sana’ ghundéng selesai
Di mane mupakat jadi, di sito’ tempat mati

Besa’ budi keghne aji, besa’ adat keghne mupakat
Menyekat dalam mupakat, memandéng dalam beghundéng
Dudok adat dalam mupakat, dudok syara' dalam hak

Beghaléh adat keghne mupakat
Élok buat keghne sepakat
Nyaghé’ sipat dalam mupakat
Kabol niat keghne sepakat

Ghundéng jaoh tepian keghoh
Mupakat ilang, tuah tebuang
Ke tepi mupakat, tecampak adat
Di mane tegak mupakat, di sito’lah menepat [~;~]


**** Tulésan ini besumbegh daghi salah satu tulésan yang dimuat tang Laman Web "melayuOnline.com", kemudian diadaptasi ke dalam Bahase Melayu Pontianak (Loghat Melayu Pontianak)


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Sabtu, tarékh 23 aghibulan Jumadil Akhir sanat 1434 Hijriyah, betepatan dengan tarékh 4 aghibulan Mai sanat 2013 Miladiyah
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Tulésan ini dighingkas, diadaptasi, dan dimuat agé' tang: Laman Blog "Arus Deras"


Sumbegh gambagh ilustrasi: http://jelajahduniabahasa.wordpress.com/