Kamis, 18 Juli 2013

Sultan Pontianak; Umara’ dan ‘Ulama


Kesultanan Pontianak merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang paling terakhir didirikan di Kepulauan Melayu ini. Negeri Pontianak berdiri pada tarikh 24 haribulan Rajjab sanat 1181 Hijriyah, bertepatan dengan tarikh 23 haribulan Oktober sanat 1771 Miladiyah.

Negeri Pontianak adalah Kesultanan Melayu-Islam yang didirikan dan di’azaskan oleh Sultan-Sultan-nya yang Umara' sekaligus ‘Ulama. Sebagai suatu Negeri, Pontianak telah hidup sebagai suatu kawasan yang sangat khas ke-Melayu-annya yang dibalut oleh Adat Resam Budaya Melayu yang bertamaddun tinggi, serta dengan tradisi ke-Islam-annya yang begitu khas pula.

Pontianak merupakan negeri yang terberkahi, yang berasal-mula berdirinya yaitu di simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Ia 'lah Negeri yang berada tepat di garis Khattul Istiwa’, yang dari garis lintangnya itu membelah bumi menjadi dua bagian: utara dan selatan.

Inilah Negeri yang tamaddunnya terbangun dari ketiadaan, berdiri dan maju ke hadapan sebagai Negeri yang kemudian begitu diperhitungkan dan masyhur di Kepulauan Melayu ini. Dengan berpayungkan Budaya Melayu nan gemilang, Negeri ini melesat melampaui Negeri-Negeri lainnya se-kawasan, menjadi salah satu pusat peradaban di Bumi Borneo, menjadi tempat perjumpaan berbagai kaum dari serata Negeri di Kepulauan Melayu ini, sehingga menjulanglah Negeri ini dengan pencapaian-pencapaiannya yang tak disangka-sangka, pencapaian-pencapaian yang sungguh begitu memukau.

Tiada lain dan tiada bukan, kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama. Sebut saja misalkan Pendiri Negeri/Kesultanan Pontianak yang sekaligus Sultan Pontianak ke-I, yaitu Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Al-Habib Husain Jamalullail Al-Qadrie “Tuan Besar Negeri Mempawah”. Semasa hidupnya, Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak pernah menyalin Al-Qur'an 30 Juz dengan tangannya sendiri (Al-Qur'an tulisan tangan).

Sultan Syarif Qasim Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie, merupakan satu-satunya Sultan Pontianak yang pernah memangku kepemimpinan di dua Negeri, yaitu sebagai Panembahan Negeri/Kerajaan Mempawah, dan kemudian sebagai Sultan Negeri/Kesultanan Pontianak. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Qasim Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Sultan Pontianak ke-II) merupakan seorang diplomat ulung.

Selain Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie, ananda beliau yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie (Sultan Pontianak ke-III) semasa bertahtanya juga merupakan salah seorang Sultan yang produktif menulis. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak pernah menterjemahkan karya berjudul "Tuhfatul Ikhwan fi Fadhlir Rajjab wasy-Sya’ban war-Ramadhan" yang selesai beliau terjemahkan pada hari Isnin, tarikh 16 haribulan Rabiul Awwal sanat 1244 Hijriyah. Nama pengarang asalnya yaitu Syaikh Ahmad bin Majjazi Al-Qisyti Asy-Syafi Yahya. Namun yang dijumpai sekarang-sekarang ini adalah merupakan salinan 'Ali bin Khathib Jailani bin Al-Imam Muhammad bin 'Abdullah, yang merupakan putera Negeri Siak Seri Inderapura.

Pada halaman terakhir Kitab Tuhfatul Ikhwan termaktub, “Pada hijrah an-Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam sanat 1244 kepada enam likur haribulan Rabi'ul Awwal, hari Isnin, pukul 10, ketika itu khatam al-kitab Tuhfah al-Ikhwan Paduka Seri Sultan as-Sayyid asy-Syarif 'Abdurrahman al-Marhum Al-Habib Husain Al-Qadrie di dalam Negeri Pontianak, dalam Kampong Sayyid asy-Syarsyaikh al-Ba’abud adanya. Yang menyurat al-faqir ialah Ta'ala, yaitu 'Ali bin Khathib Jailani ibni al-Imam Muhammad bin 'Abdullah al-walad al-bilad Siak Seri Inderapura.”

Kandungan di dalam Kitab Tuhfah al-Ikhwan secara keseluruhan yaitu mengenai peristiwa hari kiamat dan mengenai akhirat.

Selain Sultan Pontianak yang ke-III, yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif 'Utsman Al-Qadrie yang produktif menulis, ananda Beliau yaitu Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie (Sultan Pontianak ke-IV) juga merupakan salah seorang Sultan Pontianak yang produktif menulis. Di antara karya Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak yang telah ditemui ialah "Syair Ibadat". Tercatat selesai penulisan, “Tamat hazal kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala, Syair Ibadat pada Yawmul Ahad, jam pukul delapan malam betul, kepada tiga puluh haribulan, tanpa dinyatakan tahun”. Kandungannya yaitu membicarakan mengenai nasihat dan pelajaran Agama Islam.

Sultan Pontianak ke-V, yaitu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie adalah Sultan Pontianak yang di masa pemerintahannya pelaksanaan hukum syari’at Islam berjalan dengan begitu baik, sehingga menjadi salah satu rujukan bagi pelaksanaan hukum syari’at Islam di Indonesia di kemudian hari. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak dikenal sebagai Sultan yang paling banyak mengkhidmatkan dirinya di dalam ihwal keagamaan.

Sultan Pontianak ke-VI, yaitu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie. Pembaharuan Negeri Pontianak sangat banyak dilakukan pada masa pemerintahannya. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak merupakan seorang syuhada yang selalu dikenang-kenang oleh rakyat Negeri Pontianak hingga bila-bilapun masanya.

Sultan Pontianak ke-VII, yaitu Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie (akrab dikenal sebagai Sultan Hamid II), merupakan seorang Sultan yang terpelajar. Seri Paduka Tuanku Sultan Hamid II juga merupakan seorang jenderal dan politikus ulung semasanya, serta juga seorang diplomat yang begitu diandalkan. Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie yang bersemayam di atas tahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Sultan Hamid II) merupakan figur pemersatu Negeri-Negeri se-Kepulauan Melayu ini. Keberhasilan Konferensi Meja Bundar (KMB - Den Haag-Belanda, 1949) di antaranya diasbabkan karena peran dan kepiawaiannya sebagai diplomat.

* * *

Selain itu, ada beberapa tokoh di dalam Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak yang karyanya dapat dijejaki. Di antaranya yaitu Pangeran Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie dan Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie.

Pangeran Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie menghasilkan sebuah karangan yang berjudul “Catatan Pangeran ‘Abdurrahman bin Sulthan Yusuf Al-Qadrie”, yang diselesaikan pada tarikh 9 haribulan Rajjab sanat 1295 Hijriyah. Kandungan ringkasnya yaitu mengenai berbagai peristiwa sewaktu Sultan Syarif Yusuf Al-Qadrie membina Makam Batu Layang, yang merupakan kompleks pemakaman Sultan Syarif Abdur Rahman al-Qadri (pendiri Kesultanan Pontianak) dan para kerabat Sultan Pontianak.

Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie, menghasilkan karya, di antaranya yang telah ditemui yaitu “Ilmu Hikmah”. Tercatat pada halaman depan, “Sanah 1327H, Selasa 4 Muharram, tahun Dal, awal yang punya ini Zain Pul bin ‘Abdurrahman Al-Qadrie”.

Pada halaman yang lain dinyatakan sebagai berikut, “Sanah 1328H, hari Khamis kepada sanah 15 Muharam, yang punya ini tulisan Zain Pul bin Abdur Rahman al-Qadri, Kampung Melayu Pontianak adanya”. Terdapat juga tandatangan seni yang indah.

Kandungan daripada karyanya ini adalah membahas beberapa amalan untuk mendatangkan rezeki. Di antara amalan tersebut terdapat doa yang berasal dari Syaikh ‘Abdul Mannan “Qadhi Pontianak”. Karya yang dimaksud ini masihlah dalam bentuk manuskrip yang diperoleh di Pontianak pada 6 Syawwal 1422 H / 20 Desember 2001 M. [-;-]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 14 Sya’ban–9 Ramadhan sanat 1434 Hijriyah
Bertepatan dengan tarikh 23 Juni–18 Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Dihimpun dari berbagai sumber:

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008].

- Artikel berjudul “Ulama-Ulama Pontianak dan Karya Mereka (bhg.2)”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 24 Maret 2008].

- Buku berjudul “Sultan, Pahlawan dan Hakim; Lima Teks Indonesia Lama”, pada Bab “Beberapa Aspek Peradilan Agama Islam di Kesultanan Pontianak Tahun 1880-an”, Oleh: Henri Chambert-Loir, diterbitkan oleh: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan École Française d'Extrême-Orient, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, & Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat - UIN Jakarta, Cetakan Pertama: Desember 2011.


Sumber foto ilustrasi: Al-Quran tulisan tangan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie >>> http://aprianto58.blogspot.com/


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"




Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar