Negeri Para Bedebah
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Puisi
Oleh : Adhie M. Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
14:45 | 0 Comments
Republik Mimpi Buruk
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Puisi
Oleh: Effendi Ghazali
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
malam ini nikmatilah bermimpi jadi kepala polisi
sebab polisi bisa menyebut fakta sesuka hati
di depan DPR yang tak akan menghakimi
malah DPR ramai-ramai memuji
ditambah cium pipi kanan-kiri
sehingga penonton TV menahan geli hi hi hi
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
malam ini jangan bermimpi jadi Superman
tapi mimpilah menjadi Super Anggodo
sebab Superman tidak bisa mengatur-atur polisi
tapi Super Anggodo bisa mengatur jaksa dan polisi
bahkan menyatakan didukung orang nomor satu di negeri ini
lucunya lagi, presiden terkesan tidak sakit hati
buktinya sampai saat ini presiden belum melaporkan Super Anggodo ke polisi
hingga polisi bilang tak punya bukti
dan Super Anggodo bisa melenggang menahan geli hi hi hi
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
jika dalam mimpimu ingin menyanyi
jangan lagi sebut namaku tiga kali
Bento-Bento-Bento
tapi gantilah syairnya menjadi:
sebut namaku tiga kali: Super Anggodo-Anggodo-Anggodo
sebab di internet, Super Anggodo kini telah memakai seragam Kapolri
TAPI wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
JANGAN PERNAH SEKALI PUN MEMBENCI INSTITUSI
baik itu KPK, Kepolisian, Kejaksaan, atau Kepresidenan
karena tak pernah ada negeri bisa maju di muka bumi
tanpa KPK, Kepolisian, Kejaksaan, dan Kepresidenan
yang BERINTEGRITAS TINGGI
Jadi, wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
cukuplah bermimpi mengusir orang-orang buruk dari institusi
all the president's men yang hampir kehilangan empati
sementara ketidakadilan merajalela, angka kemiskinan selalu dinyatakan menurun
dan faktanya, hanya di Republik Mimpi Buruk, angka kemiskinan selalu menurun
karena korupsi, angka kemiskinan selalu menurun pada anak dan cucunya
~ Jakarta, 8 Nov 2009 ~
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
malam ini nikmatilah bermimpi jadi kepala polisi
sebab polisi bisa menyebut fakta sesuka hati
di depan DPR yang tak akan menghakimi
malah DPR ramai-ramai memuji
ditambah cium pipi kanan-kiri
sehingga penonton TV menahan geli hi hi hi
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
malam ini jangan bermimpi jadi Superman
tapi mimpilah menjadi Super Anggodo
sebab Superman tidak bisa mengatur-atur polisi
tapi Super Anggodo bisa mengatur jaksa dan polisi
bahkan menyatakan didukung orang nomor satu di negeri ini
lucunya lagi, presiden terkesan tidak sakit hati
buktinya sampai saat ini presiden belum melaporkan Super Anggodo ke polisi
hingga polisi bilang tak punya bukti
dan Super Anggodo bisa melenggang menahan geli hi hi hi
Wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
jika dalam mimpimu ingin menyanyi
jangan lagi sebut namaku tiga kali
Bento-Bento-Bento
tapi gantilah syairnya menjadi:
sebut namaku tiga kali: Super Anggodo-Anggodo-Anggodo
sebab di internet, Super Anggodo kini telah memakai seragam Kapolri
TAPI wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
JANGAN PERNAH SEKALI PUN MEMBENCI INSTITUSI
baik itu KPK, Kepolisian, Kejaksaan, atau Kepresidenan
karena tak pernah ada negeri bisa maju di muka bumi
tanpa KPK, Kepolisian, Kejaksaan, dan Kepresidenan
yang BERINTEGRITAS TINGGI
Jadi, wahai anak-anakku di Republik Mimpi Buruk
cukuplah bermimpi mengusir orang-orang buruk dari institusi
all the president's men yang hampir kehilangan empati
sementara ketidakadilan merajalela, angka kemiskinan selalu dinyatakan menurun
dan faktanya, hanya di Republik Mimpi Buruk, angka kemiskinan selalu menurun
karena korupsi, angka kemiskinan selalu menurun pada anak dan cucunya
~ Jakarta, 8 Nov 2009 ~
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
14:21 | 0 Comments
Penguatan Civil Society melalui Internet
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Catatan Lepas
Masyarakat madani (civil society) merupakan salah satu unsur penting penopang tegaknya demokrasi. Dua di antaranya yaitu negara hukum (rechtsstaat atau the rule of law) dan aliansi kelompok strategis. Perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dilakukan oleh berbagai organisasi-organisasi di luar negara (non government organization/NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Konsep rechtsstaat mempunyai ciri-ciri: adanya perlindungan terhadap HAM, adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga negara untuk menjamin perlindungan HAM, pemerintahan berdasarkan peraturan, adanya peradilan administrasi. Sedangkan the rule of law dicirikan oleh adanya supremasi aturan-aturan hukum, kesamaan kedudukan di depan hukum (equality before the law), dan jaminan perlindungan HAM.
Aliansi kelompok strategis terdiri dari partai politik (political party), kelompok gerakan (movement group), dan kelompok penekan atau kelompok kepentingan (pressure/interest group).
Kelompok gerakan misalkan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan organisasi masyarakat (ormas) lainnya.
Kelompok penekan atau kelompok kepentingan misalkan organisasi profesionalitas seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Pengusaha Muda Indonesia (IPMI), Asosiasi Ilmuwan Politik Indonesia (AIPI), dan sebagainya. Termasuk juga dalam kelompok penekan atau kelompok kepentingan ini yaitu pers yang bebas dan bertanggung jawab, kalangan cendekiawan, serta sivitas akademika kampus, yang merupakan kelompok penekan yang signifikan untuk mewujudkan sistem demokratis dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.
Bersama kelompok politik, kedua kelompok dua terakhir (kelompok gerakan dan kelompok penekan/kepentingan) ini dapat saling bekerjasama dengan kelompok lainnya untuk melakukan oposisi terhadap pemerintah.
Akhir-akhir ini tentunya kita menyaksikan betapa ketiga unsur penting penopang tegaknya demokrasi ini (negara hukum, masyarakat madani, dan aliansi kelompok strategis) menjadi harapan masyarakat ketika pemerintahan diindikasikan menjadi cenderung otoriter dan kekuasaan diindikasikan menjadi cenderung corrupt. Ditambah lagi betapa besarnya koalisi partai pendukung pemerintah, sehingga kalaupun ada partai yang beroposisi terhadap pemerintah, maka jumlahnya tak terlalu signifikan untuk mengontrol dan mengkritisi kinerja pemerintah serta mengimbangi berbagai kebijakan pemerintah melalui parlemen.
Demi terciptanya penguatan masyarakat madani, selain terdapatnya berbagai LSM, kini penguatan tersebut semakin lebih cepat dan massal melalui media internet. Melalui situs jejaring sosial semacam Facebook ataupun Twitter misalkan, penyebaran informasi, pembentukan opini, dan dukungan terhadap suatu kasus misalkan akan semakin mudah. Dan ini adalah kekuatan yang begitu besar yang tak bisa dianggap remeh oleh pihak penguasa. Selain melalui situs jejaring sosial, sebelumnya juga telah didahului dengan media blog sebagai salah satu media penyebar informasi yang kemudian dikenal sebagai citizen journalism.
Setelah sebelumnya kasus Prita Mulyasari, rasa keadilan masyarakat akhir-akhir ini juga kembali terusik, yaitu pada penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah yang tak lain adalah dua orang pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) non aktif. Alasan yang diajukan pihak kepolisian memang tak beralasan dan cenderung dibuat-buat dan dipaksakan. Padahal dua orang pimpinan KPK non aktif itu telah bekerjasama dengan baik kepada pihak kepolisian. Yang pasti, kita secara umum sudah mengetahui hal ini dari pemberitaan media massa.
Mendapati ketidakadilan dan kezaliman seperti ini dari pihak penguasa, apakah kemudian publik (masyarakat) berdiam diri saja? Tentu tidak. Masyarakat beramai-ramai mengungkapkan pendapatnya dan menunjukkan perasaannya melalui berbagai media, dari media konvensional semacam demonstrasi dan unjuk rasa, hingga media elektronik semacam jejaring sosial di internet seperti Facebook dan Twitter. Lantas ke mana dan di manakah wakil rakyat kita yang bertahta di DPR/MPR?
Ternyata para wakil rakyat kita tidak cukup tanggap terhadap permasalahan yang sedang gonjang-ganjing di masyarakat ini. Dan memang sudh menjadi rahasia umum bahwa masyarakat sudah lama tidak percaya dengan para wakil rakyat. Akhirnya jadilah jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, dan media di internet lainnya seperti Blog menjadi tempat berkeluh-kesah dan mengungkapkan mengenai permasalahan negeri ini.
Sungguh fantastis, hanya dalam hitungan hari, dukungan masyarakat terhadap dua pimpinan KPK non aktif agar ditangguhkan penahanannya (serta juga dibebaskan) melonjak tajam dan mengalir deras. Dan tak dapat dipungkiri juga peran media massa yang memblow-up habis-habisan mengenai kasus ini.
Seharusnya dengan hal ini, para pemimpin negeri ini (termasuk juga para pejabat pemerintahan dan anggota DPR/MPR) semakin tersadarkan, bahwa betapa masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap mereka. Jangan anggap rakyat ini bodoh, dan jangan anggap pula rakyat negeri ini berdiam diri saja melihat berbagai kejanggalan, ketidakadilan, dan kezaliman. Rakyat sudah muak dengan semua yang terjadi itu.
Ada empat pilar demokrasi, yaitu yudikatif, eksekutif, legislatif, dan pers. Tiga pilar pertama sudah mengalami delegitimasi hasil kolaborasi dengan pengusaha hitam. Tinggal pers dan MK (Mahkamah Konstitusi) yang masih bisa diharapkan sebagai tumpuan rakyat menuntut keadilan dan menegakkan kebenaran. Sekarang ditambah lagi dengan Parlemen Online alias FB (Facebook) yang tidak mungkin berselingkuh dengan pengusaha hitam, karena forum ini lebih mencerminkan keadilan substantif, bukan prosedural semata.
Hai para pemimpin dan penguasa, sadarlah bahwa kalian dipilih oleh rakyat. Kini saatnya anda menunjukkan kepada rakyat bahwa kalian memang pantas menjadi pemimpin negeri ini. Kalian boleh berkoalisi membohongi rakyat, tapi rakyat mempunyai bahasanya sendiri. Boleh tak ada partai yang beroposisi dan mengontrol terhadap segala macam kebijakan para pemimpin negeri ini, tapi ingatlah bahwa masih ada oposisi dan kontrol dari rakyat negeri ini terhadap para pemimpinnya. Dan ingatlah, kekuatan oposisi rakyat ini sangat besar. Bahkan tiga orang presiden Indonesia telah diturunkan dari tahtanya secara tidak hormat oleh kekuatan oposisi rakyat.
Milan Kundera pernah menyebutkan dalam salah satu tulisannya: "Pergulatan manusia melawan kekuasaan adalah pergulatan ingatan melawan lupa." Karena itu, janganlah lupakan sejarah. [Hanafi Mohan-Ciputat, Kamis-Jum'at, 5-6 November 2009]
Bahan bacaan:
Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Penyunting: A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Penulis: A. Ubaedillah, dkk, Penerbit: Indonesian Center for Civic Education (ICCE) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan The Asia Foundation, Cet. Pertama, 2000, Ed. Revisi-I, 2003, Ed. Revisi-II, 2006.
Sumber gambar: http://www.infed.org/
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Konsep rechtsstaat mempunyai ciri-ciri: adanya perlindungan terhadap HAM, adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga negara untuk menjamin perlindungan HAM, pemerintahan berdasarkan peraturan, adanya peradilan administrasi. Sedangkan the rule of law dicirikan oleh adanya supremasi aturan-aturan hukum, kesamaan kedudukan di depan hukum (equality before the law), dan jaminan perlindungan HAM.
Aliansi kelompok strategis terdiri dari partai politik (political party), kelompok gerakan (movement group), dan kelompok penekan atau kelompok kepentingan (pressure/interest group).
Kelompok gerakan misalkan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan organisasi masyarakat (ormas) lainnya.
Kelompok penekan atau kelompok kepentingan misalkan organisasi profesionalitas seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Pengusaha Muda Indonesia (IPMI), Asosiasi Ilmuwan Politik Indonesia (AIPI), dan sebagainya. Termasuk juga dalam kelompok penekan atau kelompok kepentingan ini yaitu pers yang bebas dan bertanggung jawab, kalangan cendekiawan, serta sivitas akademika kampus, yang merupakan kelompok penekan yang signifikan untuk mewujudkan sistem demokratis dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.
Bersama kelompok politik, kedua kelompok dua terakhir (kelompok gerakan dan kelompok penekan/kepentingan) ini dapat saling bekerjasama dengan kelompok lainnya untuk melakukan oposisi terhadap pemerintah.
Akhir-akhir ini tentunya kita menyaksikan betapa ketiga unsur penting penopang tegaknya demokrasi ini (negara hukum, masyarakat madani, dan aliansi kelompok strategis) menjadi harapan masyarakat ketika pemerintahan diindikasikan menjadi cenderung otoriter dan kekuasaan diindikasikan menjadi cenderung corrupt. Ditambah lagi betapa besarnya koalisi partai pendukung pemerintah, sehingga kalaupun ada partai yang beroposisi terhadap pemerintah, maka jumlahnya tak terlalu signifikan untuk mengontrol dan mengkritisi kinerja pemerintah serta mengimbangi berbagai kebijakan pemerintah melalui parlemen.
Demi terciptanya penguatan masyarakat madani, selain terdapatnya berbagai LSM, kini penguatan tersebut semakin lebih cepat dan massal melalui media internet. Melalui situs jejaring sosial semacam Facebook ataupun Twitter misalkan, penyebaran informasi, pembentukan opini, dan dukungan terhadap suatu kasus misalkan akan semakin mudah. Dan ini adalah kekuatan yang begitu besar yang tak bisa dianggap remeh oleh pihak penguasa. Selain melalui situs jejaring sosial, sebelumnya juga telah didahului dengan media blog sebagai salah satu media penyebar informasi yang kemudian dikenal sebagai citizen journalism.
Setelah sebelumnya kasus Prita Mulyasari, rasa keadilan masyarakat akhir-akhir ini juga kembali terusik, yaitu pada penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah yang tak lain adalah dua orang pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) non aktif. Alasan yang diajukan pihak kepolisian memang tak beralasan dan cenderung dibuat-buat dan dipaksakan. Padahal dua orang pimpinan KPK non aktif itu telah bekerjasama dengan baik kepada pihak kepolisian. Yang pasti, kita secara umum sudah mengetahui hal ini dari pemberitaan media massa.
Mendapati ketidakadilan dan kezaliman seperti ini dari pihak penguasa, apakah kemudian publik (masyarakat) berdiam diri saja? Tentu tidak. Masyarakat beramai-ramai mengungkapkan pendapatnya dan menunjukkan perasaannya melalui berbagai media, dari media konvensional semacam demonstrasi dan unjuk rasa, hingga media elektronik semacam jejaring sosial di internet seperti Facebook dan Twitter. Lantas ke mana dan di manakah wakil rakyat kita yang bertahta di DPR/MPR?
Ternyata para wakil rakyat kita tidak cukup tanggap terhadap permasalahan yang sedang gonjang-ganjing di masyarakat ini. Dan memang sudh menjadi rahasia umum bahwa masyarakat sudah lama tidak percaya dengan para wakil rakyat. Akhirnya jadilah jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, dan media di internet lainnya seperti Blog menjadi tempat berkeluh-kesah dan mengungkapkan mengenai permasalahan negeri ini.
Sungguh fantastis, hanya dalam hitungan hari, dukungan masyarakat terhadap dua pimpinan KPK non aktif agar ditangguhkan penahanannya (serta juga dibebaskan) melonjak tajam dan mengalir deras. Dan tak dapat dipungkiri juga peran media massa yang memblow-up habis-habisan mengenai kasus ini.
Seharusnya dengan hal ini, para pemimpin negeri ini (termasuk juga para pejabat pemerintahan dan anggota DPR/MPR) semakin tersadarkan, bahwa betapa masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap mereka. Jangan anggap rakyat ini bodoh, dan jangan anggap pula rakyat negeri ini berdiam diri saja melihat berbagai kejanggalan, ketidakadilan, dan kezaliman. Rakyat sudah muak dengan semua yang terjadi itu.
Ada empat pilar demokrasi, yaitu yudikatif, eksekutif, legislatif, dan pers. Tiga pilar pertama sudah mengalami delegitimasi hasil kolaborasi dengan pengusaha hitam. Tinggal pers dan MK (Mahkamah Konstitusi) yang masih bisa diharapkan sebagai tumpuan rakyat menuntut keadilan dan menegakkan kebenaran. Sekarang ditambah lagi dengan Parlemen Online alias FB (Facebook) yang tidak mungkin berselingkuh dengan pengusaha hitam, karena forum ini lebih mencerminkan keadilan substantif, bukan prosedural semata.
Hai para pemimpin dan penguasa, sadarlah bahwa kalian dipilih oleh rakyat. Kini saatnya anda menunjukkan kepada rakyat bahwa kalian memang pantas menjadi pemimpin negeri ini. Kalian boleh berkoalisi membohongi rakyat, tapi rakyat mempunyai bahasanya sendiri. Boleh tak ada partai yang beroposisi dan mengontrol terhadap segala macam kebijakan para pemimpin negeri ini, tapi ingatlah bahwa masih ada oposisi dan kontrol dari rakyat negeri ini terhadap para pemimpinnya. Dan ingatlah, kekuatan oposisi rakyat ini sangat besar. Bahkan tiga orang presiden Indonesia telah diturunkan dari tahtanya secara tidak hormat oleh kekuatan oposisi rakyat.
Milan Kundera pernah menyebutkan dalam salah satu tulisannya: "Pergulatan manusia melawan kekuasaan adalah pergulatan ingatan melawan lupa." Karena itu, janganlah lupakan sejarah. [Hanafi Mohan-Ciputat, Kamis-Jum'at, 5-6 November 2009]
Bahan bacaan:
Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Penyunting: A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Penulis: A. Ubaedillah, dkk, Penerbit: Indonesian Center for Civic Education (ICCE) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan The Asia Foundation, Cet. Pertama, 2000, Ed. Revisi-I, 2003, Ed. Revisi-II, 2006.
Sumber gambar: http://www.infed.org/
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
15:12 | 0 Comments
Musik Senandong Melayu
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Serba-Serbi Melayu
Selasa malam yang lalu (27 Oktober 2009) tak sengaja ketika pilah-pilih channel televisi, terpilihlah TVRI. Zaman dahulu, mungkin hanya stasiun televisi yang satu ini yang menjadi tontonan segenap masyarakat Indonesia. Tapi kini tentunya sudah sangat banyak pilihan stasiun televisi di negeri Nusantara ini. Sehingga, disadari atau tidak, TVRI seperti sudah tersisihkan dari ruang tontonan masyarakat Indonesia. Tapi tidak bagiku. Kadang-kadang TVRI masih sempat kusambangi ketika menonton televisi, karena bagiku TVRI lah salah satu stasiun televisi di Indonesia yang masih peduli untuk menayangkan keragaman negeri ini. Sedangkan stasiun televisi yang lain sepertinya kulihat lebih banyak menayangkan mengenai Jakarta dan Pulau Jawa. Sehingga pada stasiun televisi yang lain tidak kulihat kemajemukan negeri ini.
Walhasil, kutontonlah TVRI ketika itu yang sedang menayangkan acara Dendang Melayu. Ah…, sungguh inilah salah satu musik favoritku semenjak dari Pontianak hingga kini telah lama bermukim di Jakata. Walaupun telah begitu banyak musik-musik modern yang kugemari, tapi Musik Senandong Melayu sedikit pun tak pernah kutinggalkan dan tak pernah kulupakan. Karena melaluinya, tercetak berbagai nostalgia indah. Dan yang pasti, Senandong Melayu adalah musik asli negeri ini. Bukan hanya negeri ini, melainkan Senandong Melayu adalah musik bersama dalam memori keserumpunan Dunia Melayu, yang di dalamnya terdapat Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand, bahkan hingga ke Madagaskar dan negeri-negeri lainnya yang di sana terdapat puak-puak Bangsa Melayu.
Dari musik Senandong Melayu, tergambarlah betapa terbukanya budaya bangsa para pujangga ini. Hal ini tak lain karena Bangsa Melayu adalah bangsa pelaut dan pedagang yang meniscayakan bangsa ini selalu bersentuhan dengan berbagai macam budaya dan bangsa, tak terkecuali dalam hal bermusik. Dalam musik Senandong Melayu masih dapat kita rasakan pengaruh dari nuansa musik Arabia, musik India, musik Cina, dan tak terkecuali musik Eropa. Namun nuansa musik dari berbagai macam bangsa itu telah dengan apik diramu dan dilebur oleh Bangsa Melayu menjadi sangat bercitarasa Melayu. Contoh yang paling kongkrit adalah pada lagu-lagu Melayu yang digubah dan disenandungkan oleh Allahyarham (Almarhum) Tan Sri P. Ramlee AMN (salah seorang maestro, penyanyi, pencipta lagu, aktor, komedian, dan seniman legendaris Malaysia). Pada lagu-lagunya, kita bisa merasakan nuansa musik Eropa. Kadang lagunya bernuansa Swing, kadang juga bernuansa Salsa, Chacha, Bolero, Jazz, Samba, Latin, Tango, tapi semuanya itu berbalut dalam Senandong Melayu yang begitu kental. Salah satu lagu Allahyarham Tan Sri P. Ramlee adalah lagu yang berjudul “Madu Tiga” yang belakangan dinyanyikan lagi oleh Ahmad Dhani & “The Swinger” dengan warna Swing. Dan memang lagu aslinya yang dinyanyikan oleh Allahyarham Tan Sri P. Ramlee juga berwarna Swing. Belakangan dinyanyikan lagi oleh Ahmad Dhani bersama grupnya dengan warna Rock.
Kembali kepada tayangan Dendang Melayu di TVRI. Dari sisi musik, sebenarnya cukup bagus. Namun sayang, para penyanyinya tak ada yang benar-benar menguasai cengkok (legok) irama Senandong Melayu. Salah satunya bahkan ada yang merupakan penyanyi dangdut (kalau nggak salah merupakan salah seorang personel dari Manis Manja Grup, tapi aku lupa namanya). Dan memang jika kuamati dari beberapa orang penyanyi dangdut yang pernah menyanyikan Senandong Melayu, sangat jarang dari mereka yang bisa menyanyikan Senandong Melayu secara sempurna. Di antara mereka mungkin kebanyakan sangat fasih dan sempurna menyanyikan lagu Dangdut, tetapi ketika mereka menyanyikan Senandong Melayu, maka suara mereka pun berantakan, banyak yang suaranya menjadi sumbang (fals), dan vibrasi suaranya pun tak karuan.
Sekilas memang Senandong Melayu terdengar seperti lagu Dangdut, karena memang pada mulanya irama musik dangdut berasal dari irama musik Melayu. Tapi jika dicermati secara seksama, begitu banyak pula perbedaan antara Musik Senandong Melayu dengan Musik Dangdut yang berkembang kini. Musik Dangdut yang berkembang kini mungkin lebih banyak memasukkan unsur irama dan nuansa Musik India. Termasuk juga dalam lirik lagunya. Lirik lagu Musik Senandong Melayu sangat kental dengan nuansa sastra Melayu semacam syair, pantun, ghazal, dan gurindam. Sedangkan lirik Musik Dangdut kini sangat jauh dari nuansa sastra Melayu.
Jadi, jangan terlalu berharap menemukan spirit Musik Senandong Melayu dalam Musik Dangdut kini. Walaupun begitu, perkembangan Dangdut hingga kini tetap kita apresiasi. Apa yang kita saksikan dari Musik Dangdut kini tak lain merupakan ciri khas bawaan dari Musik Melayu, yaitu keterbukaan. Sehingga wajar jika kemudian kita melihat perkembangan Musik Dangdut kini yang begitu mencengangkan. Musik Senandong Melayu memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan hingga kini terus berkembang dan berinovasi. Begitu juga musik yang terlahir dari rahim Musik Senandong Melayu, yaitu Musik Dangdut yang telah memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri yang hingga kini juga masih terus berkembang dan berinovasi.
Sejauh yang kuketahui, setidaknya terdapat beberapa macam jenis Musik Senandong Melayu, yaitu Dondang, Joget, Zapin, dan Senandong. Jika Dondang, Joget, dan Zapin agak rancak, maka Senandong agak mengalun dan mendayu-dayu. Mungkin ada lagi jenis yang lain, tapi itu sepertinya lebih merupakan kombinasi dari keempat macam jenis di atas, atau mungkin gabungan antara yang satu dengan yang lainnya di antara keempat macam jenis tersebut.
Yang berjenis Dondang misalkan lagu berjudul Dondang Dendang yang dinyanyikan oleh Nooranizah Idris (salah saeorang penyanyi Malaysia). Jenis Joget misalkan lagu berjudul Joget Pahang dan juga Joget Berhibur yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza (juga merupakan salah saeorang penyanyi Malaysia). Jenis Zapin misalkan lagu berjudul Zapin Pusaka yang dinyanyikan oleh Nooranizah Idris dan lagu berjudul Laksmane Raje di Laot (Laksmana Raja di Laot) yang dinyanyikan oleh Iyeth Bustami (salah seorang penyanyi Indonesia). Jenis Senandong misalkan lagu berjudul Patah Hati yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza dan lagu berjudul Fatwa Pujangga yang kalau tidak salah diciptakan dan dinyanyikan oleh Said Effendi (salah seorang pencipta lagu dan penyanyi Indonesia).
Seorang juri, komentator, dan tutor KDI (Kontes Dangdut TPI) pernah menyatakan bahwa Musik Melayu memang agak berbeda cara menyanyikannya dibandingkan dengan Musik Dangdut. Sehingga menurutnya bahwa yang paling sempurna menyanyikan lagu-lagu Melayu adalah peserta-peserta dari kawasan Sumatera dan Kalimantan yang memang merupakan kawasan berkebudayaan Melayu. Hal ini tak lain karena Musik Melayu telah mereka dengar, cerna, dan akrabi sejak kecil hingga dewasa. Bisa jadi sejak kecil mereka selalu ketika akan tidur selalu dinyanyikan Senandong Melayu. Lain lagi dari sisi pengucapan dan dialek (logat). Karena memang setiap hari mereka selalu berdialek (berlogat) Melayu, maka mereka pun tak canggung lagi ketika menyanyikan lagu-lagu berirama Melayu yang memang di dalamnya kental dengan tuturan Melayu dan sastra Melayu.
Kembali kepada tayangan Dendang Melayu di TVRI yang telah kukatakan di awal bahwa para penyanyi yang menyanyi dan “menyumbangkan--memfalskan” suaranya di acara tersebut sungguh mengecewakan. Bergulirlah terus acara tersebut. Hingga pada penutupan acaranya, para penyanyi tersebut pun bernyanyi bersama-sama, termasuk juga yang ikut bernyanyi bersama-sama tersebut adalah presenternya yang seorang perempuan. Setelah kudengar satu persatu suaranya, ternyata suara presenternya lebih bagus dibandingkan suara penyanyi yang lain. Kudengarkan betul-betul, ternyata presenternya ini cukup menguasai teknik dan cengkok (legok) Musik Melayu. Dalam analisa singkatku, kemungkinan presenter tersebut adalah orang Melayu ataupun orang dari kawasan Sumatera ataupun Kalimantan. Hal ini dapat kuketahui dari caranya bertutur kata yang sangat kental dialek (logat) Melayunya, termasuk juga dia sangat pandai berpantun (dalam tayangan tersebut ada selingan acara berbalas pantun). Akhirnya terpuaskan juga ketika mendengar presenter itu bernyanyi di akhir acara, walaupun di awalnya aku sangat kecewa dengan para penyanyi lainnya yang berdendang di acara ini.
Akhir-akhir ini di Indonesia bermunculan band-band (grup musik) kacangan dan tak berkualitas yang suka membawakan lagu-lagu cengeng dan melankolis. Sebagian kalangan menyebut aliran (genre) musik band-band itu dengan sebutan band beraliran (bergenre) Melayu, Band Melayu, bernuansa Melayu, atau yang lebih menyakitkan lagi menyebutnya sebagai Musik Melayu. Terus terang, aku sendiri muak dengan penyebutan band-band tersebut sebagai band beraliran Musik Melayu. Karena memang kurang tepat jika band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut digolongkan bergenre Musik Melayu. Dan aku sendiri pun sebenarnya tidak respek terhadap band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut, dan juga tak senang mendengarkan lagu-lagu mereka, serta juga tak senang menonton pertunjukan musik mereka, baik di televisi atau di mana pun saja. Hal ini tak lain karena cara mereka bermusik dan bernyanyi sangat jauh dari spirit Musik Melayu. Lebih tepatnya mungkin dapat dikatakan bahwa band-band Indonesia yang tak berkualitas tersebut lebih cenderung mencontoh band-band dan para penyanyi Malaysia di era 90-an. Bahkan jika dicermati lagi, ternyata kualitas bermusik mereka berada jauh di bawah band-band dan penyanyi Malaysia.
Mengapakah band-band dan penyanyi Malaysia bermusik dan bernyanyi seperti itu? Ini tak lain dan tak lebih karena mereka terpengaruh corak Musik Melayu. Namun hal tersebut bukan berarti musik yang mereka bawakan itu Musik Melayu, melainkan musik yang mereka bawakan itu tetaplah musik Rock, Slow Rock, ataupun Pop. Walaupun begitu, kualitas bermusik mereka (grup musik dan penyanyi Malaysia) sepertinya tetap lebih baik dibandingkan band-band Indonesia kini yang dinamakan sebagian kalangan sebagai band beraliran “Melayu?” tersebut. Ngetopnya mereka (band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut) kini kemungkinan besar lebih merupakan minat pasar dan industri musik saja. Kalau tidak percaya, cobalah bandingkan kualitas bermusik band Malaysia seperti Search, Iklim, Slam, UK’s, dan Sting dengan band-band Indonesia kini seperti Kangen Band, ST 12, Hijau Daun, dan The Massive. Jika kita secara objektif membandingkannya, tentulah kita akan mengatakan bahwa band-band Malaysia tersebut lebih berkualitas dibandingkan dengan band-band Indonesia yang cengeng, melankolis, dan yang nggak karuan itu.
Seperti halnya Musik Senandong Melayu dan Musik Dangdut, maka jangan pula berharap menemukan spirit Bahasa Melayu dalam Bahasa Indonesia kini. Walaupun memang tetap kita apresiasi perkembangan Bahasa Indonesia kini yang cukup mengesankan. Hal tersebut tak lain karena ciri khas bawaan dari Bahasa Melayu yang tak lain merupakan asal-muasalnya Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu yang sangat terbuka, egaliter, kosmopolis, dan telah menjadi lingua franca di Nusantara ini (termasuk di dalamnya beberapa negara di kawasan Asia Tenggara) kemudian dikembangkanlah hingga menjadi Bahasa Indonesia modern kini yang tak lain merupakan bahasa persatuan, bahasa perjuangan, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa resmi pemerintahan dan pendidikan, bahasa sastra, dan bahasa pergaulan Bangsa Indonesia.
Bahasa Melayu memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan hingga kini terus berkembang dan lestari di kawasan berkebudayaan Melayu dan juga di negeri-negeri yang terdapat puak-puak Bangsa Melayu bermukim. Begitu pula dengan Bahasa Indonesia yang memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan terus berkembang menjadi Bahasa Indonesia yang modern yang siapapun masyarakat Indonesia tak segan-segan dan dengan suka hati bertutur kata menggunakannya.
Inilah setidaknya memori dan kesadaran kolektif kita sebagai bangsa dibentuk., yaitu melalui Musik Melayu dan Musik Dangdut, serta Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, TVRI menjadi salah satu elemen yang hadir membentuk memori kolektif dan kesadaran kolektif kita sebagai Bangsa Indonesia. Karena itu, tak ada salahnya sekali-kali kita menyempatkan diri menonton TVRI, walaupun memang dari sisi ramuan acara, stasiun televisi yang pertama kali hadir di layar kaca masyarakat Indonesia ini sudah ketinggalan jauh dari stasiun televisi swasta yang kini menjamur bagaikan cendawan di musim hujan. Walaupun kita akui juga bahwa mungkin selama ini TVRI yang kita lihat lebih cenderung berperan sebagai media yang menjadi corong pemerintahan.
Tapi harus tetap kita akui, bahwa mungkin melalui TVRI lah kita bisa melihat keragaman Bangsa Indonesia, sementara melalui stasiun televisi yang lainnya sangat jarang kita lihat kemajemukan bangsa yang besar ini. Mungkin melalui TVRI lah wawasan kebangsaan kita tidak lagi bagaikan "katak di dalam tempurung". Dan yang pasti, melalui TVRI, memori kolektif kita sebagai Bangsa Indonesia akan selalu terjaga, karena hingga kini mungkin hanya TVRI satu-satunya stasiun televisi di Indonesia yang menjangkau seluruh kawasan negeri ini, dari perkotaan hingga ke pedesaan, dari pesisir hingga ke pedalaman, dari daerah pantai hingga ke pegunungan, dan dari hulu sungai hingga ke hilir sungai. [Hanafi Mohan-Ciputat, Jum'at-Sabtu, 30-31 Oktober 2009]
Sumber gambar:
1. ZAPIN: Gambus dan Marwas, http://bangherri.multiply.com/
2. http://melayuonline.com/
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Walhasil, kutontonlah TVRI ketika itu yang sedang menayangkan acara Dendang Melayu. Ah…, sungguh inilah salah satu musik favoritku semenjak dari Pontianak hingga kini telah lama bermukim di Jakata. Walaupun telah begitu banyak musik-musik modern yang kugemari, tapi Musik Senandong Melayu sedikit pun tak pernah kutinggalkan dan tak pernah kulupakan. Karena melaluinya, tercetak berbagai nostalgia indah. Dan yang pasti, Senandong Melayu adalah musik asli negeri ini. Bukan hanya negeri ini, melainkan Senandong Melayu adalah musik bersama dalam memori keserumpunan Dunia Melayu, yang di dalamnya terdapat Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand, bahkan hingga ke Madagaskar dan negeri-negeri lainnya yang di sana terdapat puak-puak Bangsa Melayu.
Dari musik Senandong Melayu, tergambarlah betapa terbukanya budaya bangsa para pujangga ini. Hal ini tak lain karena Bangsa Melayu adalah bangsa pelaut dan pedagang yang meniscayakan bangsa ini selalu bersentuhan dengan berbagai macam budaya dan bangsa, tak terkecuali dalam hal bermusik. Dalam musik Senandong Melayu masih dapat kita rasakan pengaruh dari nuansa musik Arabia, musik India, musik Cina, dan tak terkecuali musik Eropa. Namun nuansa musik dari berbagai macam bangsa itu telah dengan apik diramu dan dilebur oleh Bangsa Melayu menjadi sangat bercitarasa Melayu. Contoh yang paling kongkrit adalah pada lagu-lagu Melayu yang digubah dan disenandungkan oleh Allahyarham (Almarhum) Tan Sri P. Ramlee AMN (salah seorang maestro, penyanyi, pencipta lagu, aktor, komedian, dan seniman legendaris Malaysia). Pada lagu-lagunya, kita bisa merasakan nuansa musik Eropa. Kadang lagunya bernuansa Swing, kadang juga bernuansa Salsa, Chacha, Bolero, Jazz, Samba, Latin, Tango, tapi semuanya itu berbalut dalam Senandong Melayu yang begitu kental. Salah satu lagu Allahyarham Tan Sri P. Ramlee adalah lagu yang berjudul “Madu Tiga” yang belakangan dinyanyikan lagi oleh Ahmad Dhani & “The Swinger” dengan warna Swing. Dan memang lagu aslinya yang dinyanyikan oleh Allahyarham Tan Sri P. Ramlee juga berwarna Swing. Belakangan dinyanyikan lagi oleh Ahmad Dhani bersama grupnya dengan warna Rock.
Kembali kepada tayangan Dendang Melayu di TVRI. Dari sisi musik, sebenarnya cukup bagus. Namun sayang, para penyanyinya tak ada yang benar-benar menguasai cengkok (legok) irama Senandong Melayu. Salah satunya bahkan ada yang merupakan penyanyi dangdut (kalau nggak salah merupakan salah seorang personel dari Manis Manja Grup, tapi aku lupa namanya). Dan memang jika kuamati dari beberapa orang penyanyi dangdut yang pernah menyanyikan Senandong Melayu, sangat jarang dari mereka yang bisa menyanyikan Senandong Melayu secara sempurna. Di antara mereka mungkin kebanyakan sangat fasih dan sempurna menyanyikan lagu Dangdut, tetapi ketika mereka menyanyikan Senandong Melayu, maka suara mereka pun berantakan, banyak yang suaranya menjadi sumbang (fals), dan vibrasi suaranya pun tak karuan.
Sekilas memang Senandong Melayu terdengar seperti lagu Dangdut, karena memang pada mulanya irama musik dangdut berasal dari irama musik Melayu. Tapi jika dicermati secara seksama, begitu banyak pula perbedaan antara Musik Senandong Melayu dengan Musik Dangdut yang berkembang kini. Musik Dangdut yang berkembang kini mungkin lebih banyak memasukkan unsur irama dan nuansa Musik India. Termasuk juga dalam lirik lagunya. Lirik lagu Musik Senandong Melayu sangat kental dengan nuansa sastra Melayu semacam syair, pantun, ghazal, dan gurindam. Sedangkan lirik Musik Dangdut kini sangat jauh dari nuansa sastra Melayu.
Jadi, jangan terlalu berharap menemukan spirit Musik Senandong Melayu dalam Musik Dangdut kini. Walaupun begitu, perkembangan Dangdut hingga kini tetap kita apresiasi. Apa yang kita saksikan dari Musik Dangdut kini tak lain merupakan ciri khas bawaan dari Musik Melayu, yaitu keterbukaan. Sehingga wajar jika kemudian kita melihat perkembangan Musik Dangdut kini yang begitu mencengangkan. Musik Senandong Melayu memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan hingga kini terus berkembang dan berinovasi. Begitu juga musik yang terlahir dari rahim Musik Senandong Melayu, yaitu Musik Dangdut yang telah memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri yang hingga kini juga masih terus berkembang dan berinovasi.
Sejauh yang kuketahui, setidaknya terdapat beberapa macam jenis Musik Senandong Melayu, yaitu Dondang, Joget, Zapin, dan Senandong. Jika Dondang, Joget, dan Zapin agak rancak, maka Senandong agak mengalun dan mendayu-dayu. Mungkin ada lagi jenis yang lain, tapi itu sepertinya lebih merupakan kombinasi dari keempat macam jenis di atas, atau mungkin gabungan antara yang satu dengan yang lainnya di antara keempat macam jenis tersebut.
Yang berjenis Dondang misalkan lagu berjudul Dondang Dendang yang dinyanyikan oleh Nooranizah Idris (salah saeorang penyanyi Malaysia). Jenis Joget misalkan lagu berjudul Joget Pahang dan juga Joget Berhibur yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza (juga merupakan salah saeorang penyanyi Malaysia). Jenis Zapin misalkan lagu berjudul Zapin Pusaka yang dinyanyikan oleh Nooranizah Idris dan lagu berjudul Laksmane Raje di Laot (Laksmana Raja di Laot) yang dinyanyikan oleh Iyeth Bustami (salah seorang penyanyi Indonesia). Jenis Senandong misalkan lagu berjudul Patah Hati yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza dan lagu berjudul Fatwa Pujangga yang kalau tidak salah diciptakan dan dinyanyikan oleh Said Effendi (salah seorang pencipta lagu dan penyanyi Indonesia).
Seorang juri, komentator, dan tutor KDI (Kontes Dangdut TPI) pernah menyatakan bahwa Musik Melayu memang agak berbeda cara menyanyikannya dibandingkan dengan Musik Dangdut. Sehingga menurutnya bahwa yang paling sempurna menyanyikan lagu-lagu Melayu adalah peserta-peserta dari kawasan Sumatera dan Kalimantan yang memang merupakan kawasan berkebudayaan Melayu. Hal ini tak lain karena Musik Melayu telah mereka dengar, cerna, dan akrabi sejak kecil hingga dewasa. Bisa jadi sejak kecil mereka selalu ketika akan tidur selalu dinyanyikan Senandong Melayu. Lain lagi dari sisi pengucapan dan dialek (logat). Karena memang setiap hari mereka selalu berdialek (berlogat) Melayu, maka mereka pun tak canggung lagi ketika menyanyikan lagu-lagu berirama Melayu yang memang di dalamnya kental dengan tuturan Melayu dan sastra Melayu.
Kembali kepada tayangan Dendang Melayu di TVRI yang telah kukatakan di awal bahwa para penyanyi yang menyanyi dan “menyumbangkan--memfalskan” suaranya di acara tersebut sungguh mengecewakan. Bergulirlah terus acara tersebut. Hingga pada penutupan acaranya, para penyanyi tersebut pun bernyanyi bersama-sama, termasuk juga yang ikut bernyanyi bersama-sama tersebut adalah presenternya yang seorang perempuan. Setelah kudengar satu persatu suaranya, ternyata suara presenternya lebih bagus dibandingkan suara penyanyi yang lain. Kudengarkan betul-betul, ternyata presenternya ini cukup menguasai teknik dan cengkok (legok) Musik Melayu. Dalam analisa singkatku, kemungkinan presenter tersebut adalah orang Melayu ataupun orang dari kawasan Sumatera ataupun Kalimantan. Hal ini dapat kuketahui dari caranya bertutur kata yang sangat kental dialek (logat) Melayunya, termasuk juga dia sangat pandai berpantun (dalam tayangan tersebut ada selingan acara berbalas pantun). Akhirnya terpuaskan juga ketika mendengar presenter itu bernyanyi di akhir acara, walaupun di awalnya aku sangat kecewa dengan para penyanyi lainnya yang berdendang di acara ini.
Akhir-akhir ini di Indonesia bermunculan band-band (grup musik) kacangan dan tak berkualitas yang suka membawakan lagu-lagu cengeng dan melankolis. Sebagian kalangan menyebut aliran (genre) musik band-band itu dengan sebutan band beraliran (bergenre) Melayu, Band Melayu, bernuansa Melayu, atau yang lebih menyakitkan lagi menyebutnya sebagai Musik Melayu. Terus terang, aku sendiri muak dengan penyebutan band-band tersebut sebagai band beraliran Musik Melayu. Karena memang kurang tepat jika band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut digolongkan bergenre Musik Melayu. Dan aku sendiri pun sebenarnya tidak respek terhadap band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut, dan juga tak senang mendengarkan lagu-lagu mereka, serta juga tak senang menonton pertunjukan musik mereka, baik di televisi atau di mana pun saja. Hal ini tak lain karena cara mereka bermusik dan bernyanyi sangat jauh dari spirit Musik Melayu. Lebih tepatnya mungkin dapat dikatakan bahwa band-band Indonesia yang tak berkualitas tersebut lebih cenderung mencontoh band-band dan para penyanyi Malaysia di era 90-an. Bahkan jika dicermati lagi, ternyata kualitas bermusik mereka berada jauh di bawah band-band dan penyanyi Malaysia.
Mengapakah band-band dan penyanyi Malaysia bermusik dan bernyanyi seperti itu? Ini tak lain dan tak lebih karena mereka terpengaruh corak Musik Melayu. Namun hal tersebut bukan berarti musik yang mereka bawakan itu Musik Melayu, melainkan musik yang mereka bawakan itu tetaplah musik Rock, Slow Rock, ataupun Pop. Walaupun begitu, kualitas bermusik mereka (grup musik dan penyanyi Malaysia) sepertinya tetap lebih baik dibandingkan band-band Indonesia kini yang dinamakan sebagian kalangan sebagai band beraliran “Melayu?” tersebut. Ngetopnya mereka (band-band kacangan dan tak berkualitas tersebut) kini kemungkinan besar lebih merupakan minat pasar dan industri musik saja. Kalau tidak percaya, cobalah bandingkan kualitas bermusik band Malaysia seperti Search, Iklim, Slam, UK’s, dan Sting dengan band-band Indonesia kini seperti Kangen Band, ST 12, Hijau Daun, dan The Massive. Jika kita secara objektif membandingkannya, tentulah kita akan mengatakan bahwa band-band Malaysia tersebut lebih berkualitas dibandingkan dengan band-band Indonesia yang cengeng, melankolis, dan yang nggak karuan itu.
Seperti halnya Musik Senandong Melayu dan Musik Dangdut, maka jangan pula berharap menemukan spirit Bahasa Melayu dalam Bahasa Indonesia kini. Walaupun memang tetap kita apresiasi perkembangan Bahasa Indonesia kini yang cukup mengesankan. Hal tersebut tak lain karena ciri khas bawaan dari Bahasa Melayu yang tak lain merupakan asal-muasalnya Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu yang sangat terbuka, egaliter, kosmopolis, dan telah menjadi lingua franca di Nusantara ini (termasuk di dalamnya beberapa negara di kawasan Asia Tenggara) kemudian dikembangkanlah hingga menjadi Bahasa Indonesia modern kini yang tak lain merupakan bahasa persatuan, bahasa perjuangan, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa resmi pemerintahan dan pendidikan, bahasa sastra, dan bahasa pergaulan Bangsa Indonesia.
Bahasa Melayu memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan hingga kini terus berkembang dan lestari di kawasan berkebudayaan Melayu dan juga di negeri-negeri yang terdapat puak-puak Bangsa Melayu bermukim. Begitu pula dengan Bahasa Indonesia yang memilih jalan, bentuk, dan perkembangannya sendiri, bahkan terus berkembang menjadi Bahasa Indonesia yang modern yang siapapun masyarakat Indonesia tak segan-segan dan dengan suka hati bertutur kata menggunakannya.
Inilah setidaknya memori dan kesadaran kolektif kita sebagai bangsa dibentuk., yaitu melalui Musik Melayu dan Musik Dangdut, serta Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, TVRI menjadi salah satu elemen yang hadir membentuk memori kolektif dan kesadaran kolektif kita sebagai Bangsa Indonesia. Karena itu, tak ada salahnya sekali-kali kita menyempatkan diri menonton TVRI, walaupun memang dari sisi ramuan acara, stasiun televisi yang pertama kali hadir di layar kaca masyarakat Indonesia ini sudah ketinggalan jauh dari stasiun televisi swasta yang kini menjamur bagaikan cendawan di musim hujan. Walaupun kita akui juga bahwa mungkin selama ini TVRI yang kita lihat lebih cenderung berperan sebagai media yang menjadi corong pemerintahan.
Tapi harus tetap kita akui, bahwa mungkin melalui TVRI lah kita bisa melihat keragaman Bangsa Indonesia, sementara melalui stasiun televisi yang lainnya sangat jarang kita lihat kemajemukan bangsa yang besar ini. Mungkin melalui TVRI lah wawasan kebangsaan kita tidak lagi bagaikan "katak di dalam tempurung". Dan yang pasti, melalui TVRI, memori kolektif kita sebagai Bangsa Indonesia akan selalu terjaga, karena hingga kini mungkin hanya TVRI satu-satunya stasiun televisi di Indonesia yang menjangkau seluruh kawasan negeri ini, dari perkotaan hingga ke pedesaan, dari pesisir hingga ke pedalaman, dari daerah pantai hingga ke pegunungan, dan dari hulu sungai hingga ke hilir sungai. [Hanafi Mohan-Ciputat, Jum'at-Sabtu, 30-31 Oktober 2009]
Sumber gambar:
1. ZAPIN: Gambus dan Marwas, http://bangherri.multiply.com/
2. http://melayuonline.com/
http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
02:14 | 0 Comments
Kota Hantu, Film Horor, ... apa lagi ya?
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Catatan Lepas
Senin malam yang lalu (26 Oktober 2009) nonton bioskop Trans TV. Film horor sih, tapi yang pasti tidak seperti film horor Indonesia. Judulnya "Van Helsing". Sungguh memukau, walaupun sebenarnya aku sudah pernah beberapa kali menontonnya. Tapi entah mengapa, tetap saja menarik untuk ditonton lagi. Dan yang cukup menarik selain efek suara dan gambarnya yang bagus, ceritanya juga patut diacungi empat jempol (2 jempol tangan + 2 jempol kaki). Apalagi ditambahi bumbu-bumbu religiusitas Kristen. Entah mengapa film horor Indonesia tak ada yang kualitasnya sebagus film horor Amerika.
Semenjak kepulangan dari Pontianak pasca lebaran yang lalu, seakan-akan imajinasiku melemah, bahkan jari-jariku pun malas untuk menari-nari di atas tuts keyboards. Dan memang seperti itu biasanya yang terjadi padaku setiap pulang dari mudik ke Pontianak. Tapi itu semua kuanggap sebagai sesuatu yang positif, yaitu sebagai refresh dari segala aktivitas yang telah dijalani selama ini. Aku pun punya obatnya yang ampuh, yaitu membaca dan nonton tayangan serta film berkualitas.
Nah, tulisan kali ini sebenarnya tulisan gado-gado, yaitu untuk melatih memori asosiasi dan mind mapping ku. Ah, entah apa pula makhluk yang baru saja kusebutkan tadi. Jadi begini, ketika menonton film Van Helsing, aku sudah membuat ancang-ancang untuk tulisan gado-gado ini. Ancang-ancang itu kutulis di handphone dalam bentuk draft pesan. Dan kuakui juga bahwa spirit menulisku kali ini terinspirasi dan terpicu setelah membaca tulisan seorang teman blogger ku yang sama-sama berasal dari Pontianak di blognya: http://nrizyana.co.nr/. Maka mulailah memori asosiasi dan mind mapping itu bekerja.
Seperti telah kusebutkan di atas, bahwa membaca adalah salah satu caraku mengobati kesuntukan dan tidak adanya mood menulis. Akhir-akhir ini aku memang lebih tertarik untuk membaca buku sastra, salah satunya adalah novel. Novel yang kubaca pun pilih-pilih novel. Kebetulan teman kosanku memiliki koleksi buku yang lumayan banyak (termasuk juga novel), maka terus terang aku tak kehabisan stok novel untuk dibaca. Terakhir ini aku baru saja mengkhatamkan Roman Sejarah "Burung-Burung Manyar" karya Y.B. Mangunwijaya (almarhum), atau juga biasa dikenal dengan nama Romo Mangun. Seorang yang multitalenta menurutku, karena selain sebagai sastrawan, beliau juga adalah budayawan, pastur (rohaniawan Kristen), dan sekaligus juga seorang arsitek.
Seperti yang dituliskan oleh Jakob Sumardjo, bahwa Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya Burung-Burung Manyar mencoba melihat revolusi Indonesia dari segi yang obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda, dengan memasang protagonis orang Indonesia yang anti republik. Nilai buku ini terutama terletak pada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti republik semasa revolusi, segi informasinya tentang kehidupan tentara KNIL, dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan.
Setting waktu Roman Burung-Burung Manyar yaitu masa akhir penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan masa pasca Orde Lama (awal Orde Baru).
Cukup lama aku membaca novel ini. Dari sebelum bulan puasa yang lalu sudah mulai kubaca, hingga beberapa minggu yang lalulah baru selesai. Ketika mudik ke Pontianak pertengahan puasa yang lalu, novel ini aku bawa. Kubaca di kapal untuk mengusir suntuk, namun sayang ketika berada di Pontianak, novel ini tergeletak tak kubaca. Baru ketika balik lagi menuju ke Jakarta, novel ini kembali kubaca di atas kapal, yang tak lain dan tak bukan untuk mengusir suntuk. Setelah sekitar kurang lebih seminggu berada di Jakarta lagi, barulah Roman Sejarah yang mengagumkan ini kukhatamkan.
Selesai mengkhatamkan Burung-Burung Manyar, aku kembali dilanda rasa suntuk. Untuk membaca novel yang baru lagi, tentunya butuh waktu yang cukup panjang jika aku membacanya secara santai. Karena itulah, sebagai pengganti membaca novel, aku tak jarang menonton tayangan dan film di televisi. Dan sampai pada puncaknya ketika menonton Van Helsing Senin malam yang lalu. Mengapa kukatakan puncaknya adalah film "Van Helsing yang kutonton tadi malam? Karena setelah itu barulah semangat menulisku kembali muncul, barulah imajinasiku mengembara ke mana-mana, yang semuanya itu menjadi inspirasi berharga untuk menulis.
Mengapa menonton film menjadi pilihanku selain membaca novel? Karena membaca novel membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan menonton film hanya butuh waktu sekitar dua jam. Bagiku keduanya sama saja dalam hal melecut dan memicu inspirasi menulis. Yang berbeda mungkin hanya pada nuansa yang dirasakan.
Karena gara-gara inspirasiku tersendat, novel (atau mungkin lebih tepatnya cerbung/cerita bersambung) Senja Merah Jingga yang kutulis hingga kini tersendat-sendat pula penulisannya. Namun ada hikmah di baliknya, karena kemudian muncul inspirasi untuk menulis refleksi keagamaan (keimanan/keislaman) dan refleksi kebangsaan. Sebenarnya refleksi ini sudah lama kubuat outlinenya, tapi memang baru kali inilah aku mendapatkan semangat baru untuk memulai penulisannya. Karena memang aku memiliki beberapa blog, maka rencananya refleksi keagamaan ini akan kuposting di blog Wordpressku. Apalagi memang akhir-akhir ini di blog Wordpressku lebih banyak kuposting tulisan yang berisi kajian keislaman. Sedangkan di blog Blogspotku ini kukhususkan untuk tulisan-tulisan bermacam ragam, terutama yang selain dari kajian keislaman. Akhir-akhir ini memang lebih banyak yang kuposting di blog Blogspotku ini adalah yang berhubungan dengan sastra (termasuk juga cerpen, puisi, cerbung/novel, dan essay karyaku), sharing tulis-menulis, dan kebudayaan Melayu (Melayu Kalimantan Barat dan Pontianak khususnya). Tapi kemungkinan ke depannya tak menutup kemungkinan juga akan kuposting di blog Blogspotku ini opini dan wacana yang lagi hangat di masyarakat kini, termasuk di dalamnya isu mengenai kebangsaan, keindonesiaan, nasionalisme, sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, pendidikan, sains, teknologi, informasi dan komunikasi, dan sebagainya. Karena itulah, refleksi kebangsaan mungkin akan kuposting di blog Blogspotku ini.
Kembali kepada film Van Helsing. Film ini sebenarnya bercerita mengenai perburuan drakula. Tokoh pemburu drakula tersebut bernama Van Helsing (sepertinya dia juga memburu vampire, dan makhluk sejenis lainnya). Dari namanya, sepertinya adalah orang Belanda. Tentunya banyak yang tahu, bahwa Bangsa Belanda pernah lama menjajah negeri ini (Indonesia/Nusantara).
Van Helsing ditugaskan oleh semacam perkumpulan biarawan di Roma (Italia) untuk memburu Drakula yang dimaksud. Drakula tersebut sebelumnya adalah seorang manusia biasa. Tapi entah mengapa, Drakula kemudian berubah menjadi sosok yang haus darah. Cerita pun bergulir. Tujuan dari misi Van Helsing kali ini adalah demi menyelamatkan satu keluarga yang tertahan masuk ke surga karena si Drakula, yang entah apa pula penyebabnya hingga tertahan masuk surga seperti itu. Tapi yang pasti, ketertahanan keluarga tersebut untuk masuk surga ada kaitannya dengan si Drakula. Karena itulah, si Drakula harus dibunuh agar keluarga tersebut bisa masuk surga dengan mulus, tidak lagi harus merasakan panasnya api neraka dan siksaannya yang pedih itu.
Ketika cerita ini dimulai, anggota keluarga tersebut yang masih hidup tinggal dua orang, yaitu Anna (perempuan) dan abangnya (kakak lelakinya). Mereka berdua inilah yang selama ini selalu diiincar oleh Drakula untuk menjadi mangsa, entah karena apa. Karena itulah, dua bersaudara ini selalu menjadi pihak yang berhadap-hadapan dengan Drakula. Dua bersaudara ini pun selalu mengadvokasi masyarakat di sekitarnya untuk melawan Drakula, karena Drakula juga mengincar banyak orang untuk dijadikan mangsa dan mungkin dijadikan pengikutnya. Hingga suatu ketika dalam pertempuran dua bersaudara tersebut melawan para pengikut Drakula, abangnya Anna dapat dikalahkan oleh pasukan yang haus darah itu. Diindikasikan bahwa yang mengalahkan abangnya Anna adalah manusia serigala. Hingga kemudian abangnya Anna pun dapat dipastikan nantinya juga akan menjadi manusia serigala karena telah tersengat oleh manusia serigala yang mengalahkannya.
Cerita pun berlanjut. Dalam tugasnya ini, Van Helsing ditemani oleh seorang lelaki dari perkumpulan biarawan. Tapi menurut pengakuan orang tersebut, bahwa dirinya belumlah menjadi seorang biarawan, sehingga ia masih bisa melakukan hal-hal yang terlarang bagi seorang biarawan, misalkan berhubungan dengan perempuan, dan sebagainya. Diikutkannya orang ini karena ia cukup menguasai berbagai hal untuk melumpuhkan Drakula. Van Helsing sendiri ketika akan diberangkatkan telah diberi wejangan oleh pemimpin biarawan mengenai hal-hal penting berkaitan dengan misinya kali ini. Selain itu, Van Helsing juga dibekali berbagai perlengkapan untuk melumpuhkan Drakula, antara lain: panah yang dirancang khusus untuk mengalahkan drakula, air suci dari gereja, salib, dan mungkin masih banyak lagi.
Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Van Helsing (ditemani Anna dan si lelaki dari perkumpulan biarawan) melawan Drakula (dan juga pengikutnya). Ketika terjadi pertarungan, ternyata Drakula tidak mempan dikalahkan dengan berbagai perlengkapan yang dibawa oleh Van Helsing. Dan ternyata Anna sudah mengetahui hal ini dari beberapa kali pertempurannya melawan Drakula dan pengikutnya. Inilah yang mungkin membuat Van Helsing agak kesal dengan Anna karena tidak memberitahunya terlebih dahulu (lebih awal).
Yang membuat film ini menarik karena ada beberapa sisipan cerita yang patut menjadi pesan berharga bagi siapa pun (mungkin lebih tepatnya disebut sebagai pesan religi). Misalkan, si lelaki yang menemani Van Helsing, seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa ia bukanlah seorang biarawan. Si lelaki ini, pada suatu ketika di dalam film ini melakukan hubungan seks di luar nikah dengan seorang perempuan (lebih tepatnya perzinahan). Walaupun dia tergabung dalam perkumpulan biarawan, sungguh pun menurut pengakuannya bahwa dia bukanlah seorang biarawan, ternyata si lelaki ini bukanlah seorang penganut Agama Kristen yang taat.
Di sisi yang lain dalam perburuannya mengalahkan Drakula, Van Helsing dan Anna terperosok ke suatu tempat. Tempatnya cukup angker. Menurut perkiraan Van Helsing (berdasarkan pengalamannya) bahwa tempat itu adalah kediaman makhluk yang cukup menyeramkan (mungkin semacam makhluk iblis). Tapi anehnya, di tempat itu juga ditemukan Injil. Karena itulah, Van Helsing memperkirakan bahwa yang tinggal di tempat itu adalah manusia yang baik, karena kalau yang tinggal di situ adalah makhluk iblis ataupun manusia jahat, besar kemungkinan takkan ada Kitab Injil di tempat itu.
Tak lama kemudian, muncullah sesosok makhluk yang menyeramkan dari tempat itu. Singkat cerita, ternyata makhluk itu bernama Frankenstein. Makhluk ini adalah semacam makhluk yang diciptakan oleh manusia. Terjadilah pertarungan antara Van Helsing dengan Frankenstein. Dalam pertarungan ini barulah diketahui bahwa Frankenstein adalah makhluk yang baik, sehingga wajar saja di tempatnya terdapat Kitab Injil. Kemudian diketahui juga, bahwa Frankenstein pun menjadi incaran Drakula untuk dijadikan semacam tumbal demi menghidupkan anak-anak Drakula. Karena itulah, Frankenstein harus diselamatkan agar Drakula tidak berkembang biak.
Dalam perjalanan menuju Roma (Italia) demi menyelamatkan Frankenstein, terjadilah pertarungan antara Van Helsing melawan dua orang istri Drakula dan manusia serigala (yang tak lain adalah abangnya Anna). Dalam pertarungan ini, seorang istri Drakula dan manusia serigala memang dapat dikalahkan, tapi harga yang harus dibayar adalah tersengatnya Van Helsing oleh manusia serigala. Karena itulah, Van Helsing dipastikan juga akan menjadi manusia serigala. Tak lama kemudian, Anna pun dapat ditangkap (disandera) oleh seorang istri Drakula yang masih hidup. Maksud disanderanya Anna adalah untuk ditukar dengan Frankenstein.
Bergulirlah terus cerita ini, hingga kemudian terjadilah drama penukaran tersebut dalam suatu gedung yang di dalamnya sedang berlangsung pesta (kelihatannya semacam pesta dansa). Van Helsing sendiri berencana akan mengelabui Drakula dalam penukaran ini, yaitu Frankenstein dipertahankan, sedangkan Anna diusahakan sedemikian rupa agar bisa terlepas dari sanderaan Drakula. Namun tentunya tak semudah itu. Drakula ternyata sudah dapat membaca taktik dan gelagat pengelabuan Van Helsing. Karena itulah, Drakula pun berencana mempertahankan Anna dalam sanderaannya, dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan Frankenstein. Apalagi Drakula pun berencana menjadikan Anna sebagai istrinya.
Masing-masing pihak akhirnya mendapatkan setengah yang diusahakannya, namun harus dibayar mahal dengan kehilangan yang harus dipertahankannya. Van Helsing dapat menyelamatkan Anna dari sanderaan Drakula, namun di sisi yang lain, Frankenstein dapat ditangkap oleh konco-konconya Drakula. Kalau sudah seperti ini, berarti penukaran yang direncanakan dari awal kemudian menjadi kenyataan, namun saja harus melalui suatu pertarungan, karena masing-masing pihak bermaksud mempertahankan apa yang sudah ada di tangannya.
Belakang kemudian diketahui bahwa yang dapat mengalahkan Drakula adalah manusia serigala. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa karena pernah digigit oleh manusia serigala, maka Van Helsing kemungkinan besar juga bisa menjadi manusia serigala. Karena itu pula, sebagai manusia serigala, Van Helsing mempunyai kekuatan untuk mengalahkan Drakula. Namun di sisi yang lain, Van Helsing juga harus mengobati (menyembuhkan) dirinya agar tidak menjadi manusia serigala. Karena kalau sudah menjadi manusia serigala, maka Van Helsing akan selalu memangsa dan membunuh manusia. Dan ternyata yang memiliki obat tersebut adalah Drakula. Hal ini diketahui dari pemberitahuan Frankenstein.
Yang menarik dari cerita film ini juga karena konflik yang terjadi di dalamnya. Setelah habis satu konflik, maka akan hadir lagi konflik yang lain. Jika dicermati lagi, film ini tidak seperti film-film horor lainnya, karena di dalamnya juga terjadi adegan action, dan juga bertaburan pesan-pesan ajaran kemanusiaan (humanisme) dan religiusitas (terutama religiusitas Kristen). Yang pasti menurutku bahwa film ini layak ditonton, apa pun agama dan keyakinan anda, apapun partai politik dan ideologi yang anda anut, serta apapun ras dan kebangsaan anda.
Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya Drakula dapat dikalahkan oleh Van Helsing. Dalam pertarungan ini, Van Helsing juga berubah menjadi manusia serigala. Oleh karenanya, Van Helsing yang sudah berubah menjadi manusia serigala itu bisa membunuh Drakula. Sungguh seru. Kadang-kadang pada saat sudah hampir dapat membunuh Drakula, tiba-tiba Van Helsing berubah lagi menjadi manusia biasa. Namun tragisnya, Anna akhirnya tewas dalam usahanya membantu Van Helsing mengalahkan Drakula.
Di akhir film, tampak di langit wajah Anna yang sedang tersenyum. Mungkin ia dan keluarganya telah masuk ke surga. Selain itu, di laut juga terlihat Frankenstein yang sedang berperahu. Entah dia akan menuju ke mana. Yang pasti ia pergi untuk menyisihkan dirinya dari masyarakat yang selama ini menistakannya dan menganggapnya sebagai makhluk jahat. Mungkin ia mencari kebahagiaannya di belahan bumi yang lain yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Kebenaran dan kebaikan pasti dapat mengalahkan kejahatan dan keburukan. Itulah kesimpulan yang mungkin dapat ditarik dari film ini.
Sebenarnya agak aneh kalau aku menulis mengenai cerita film horor seperti yang sedang anda baca kini. Tapi setelah kurenungkan lagi, ternyata memang ada sisi diriku yang lain yang itu kemudian membawaku untuk juga tertarik pada cerita-cerita berbau horor, mencekam, menakutkan, dan mistis, walaupun dalam hal ini aku mempunyai keyakinan yang agak berbeda dengan kebanyakan orang-orang mengenai dunia mistis, makhluk halus, dan alam gaib.
Aku lahir dan dibesarkan di kota yang paling menyeramkan namanya di muka bumi ini. Kiranya mungkin tak ada nama kota yang seseram nama kota kelahiranku di alam dunia ini, kecuali hanya di dalam cerita-cerita fiksi. Kota Hantu, begitulah kiranya nama kotaku jika diartikan. Di dalam Bahasa Melayu, pontianak / puntianak artinya adalah hantu perempuan yang suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak. Di dalam Bahasa Indonesia mungkin disebut hantu kuntilanak. Di dalam legenda masyarakat Melayu Pontianak, bahwa hantu pontianak ini biasanya berdiam di poko’ / pokok (pohon) punti (ponti). Pohon ini biasanya berada di areal pemakaman (pekuburan), pohonnya rindang seperti pohon beringin, tapi sangat menyeramkan ketika kita lewat di dekatnya pada malam hari.
Untuk lebih jelasnya, silakan baca entri yang kudapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berikut ini:
1 punti n pisang (raja)
2 punti n 1 (ikan ---) nama ikan laut; 2 (ular ---): nama ular
puntianak n hantu perempuan (suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak)
kuntilanak n hantu yang konon berkelamin perempuan dan suka mengambil anak kecil atau mengganggu perempuan yang baru saja melahirkan
Ternyata, punti juga berarti pisang (raja), mungkin maksudnya pisang raja. Hahaha, pantas saja di Pontianak banyak sekali pisang. Tapi masyarakat Pontianak tidak menyebut Pisang Raja dengan sebutan Punti atau Pisang Punti, melainkan Pisang Raja saja. Malahan kini di Jakarta dikenal Pisang Pontianak atau Pisang Ponti, yaitu pisang goreng (biasanya berbentuk seperti kipas) yang digoreng dengan balutan adonan tepung terigu atau tepung gandum (masyarakat Pontianak menyebutnya tepong gandom atau tepong gendom). Setelah jadi pisang goreng, kemudian diolesi serikaya, selai, ataupun olesan-olesan lainnya. Ternyata di Pontianak tak ada yang namanya Pisang Pontianak (Pisang Ponti) atau Pisang Goreng Pontianak (Pisang Goreng Ponti), namun masyarakat Pontianak hanya menyebutnya pisang goreng ataupun goreng pisang (biasanya mayarakat Pontianak mengucapkannya Goreng Pisang).
Masyarakat Pontianak memang suka membalik-balik kata-kata yang seperti ini, tergantung enaknya diucapkan seperti apa. Misalkan: keladi goreng menjadi goreng keladi, ubi goreng menjadi goreng ubi, dan semacamnya. Masyarakat Jakarta mengenal keladi dengan sebutan talas. Sedangkan ubi yang biasa dikenal oleh orang Pontianak, maka di Jakarta disebut singkong. Namun sayangnya selama ini tak pernah kudapati penjual gorengan di Jakarta yang menjual goreng keladi (talas) seperti halnya di Pontianak. Sedangkan goreng ubi (singkong) di Jakarta selama ini kudapati tak ada yang seenak goreng ubi (singkong) di Pontianak.
Tapi patut dicermati, jika orang Jakarta menyebut ubi, maka yang dimaksudkan adalah ubi cine (ubi jalar) seperti halnya yang dikenal di Pontianak. Sedangkan singkong yang dikenal di Jakarta, maka orang Pontianak menyebutnya ubi kayu’. Selanjutnya, berkaitan dengan keladi (talas), maka di Pontianak terdapat beberapa varietas keladi (talas). Yang selama ini kuketahui adalah Keladi Seghawak (serawak) dan Keladi Bighah (birah). Di antara kedua keladi ini, yang biasa dimakan adalah keladi seghawak. Sedangkan keladi bighah karena terlalu gatal, maka jarang dimakan. Gatalnya bukan main, karena sangat gatal. Oleh sebab itu, masyarakat Pontianak menyebut perempuan kegatalan ataupun perempuan genit dengan sebutan peghempuan (perempuan) bighah.
Selain itu ada lagi keladi yang biasanya dijadikan sayuran, tapi sepertinya tak ada sebutan khusus untuk keladi yang seperti ini. Kalau keladi seghawak biasanya dijadikan sebagai goreng keladi, namun tak jarang juga dijadikan sayuran. Sayo' Keladi (sayur keladi), itulah namanya. Masakan khas masyarakat Melayu Kota Pontianak yang kemungkinan masakan ini hanya ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Selain batang, daun, dan buah (umbi) nya yang dijadikan sayuran, masyarakat Pontianak juga tak jarang menjadikan akarnya sebagai sayuran. Akar keladi ini biasa disebut oleh orang Pontianak sebagai sulogh keladi (sulur keladi).
Ternyata bukan hanya keladi yang dijadikan sayuran, namun nenas (nanas) pun juga bisa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak. Bahkan jenisnya bermacam-macam. Ada yang dimasak bersama ikan, namanya adalah Sayo' Asam Pedas (sayur asam pedas). Ada juga yang dimasak bersantan, namanya yaitu Sayo' Pacri Nenas (sayur pacri nanas). Sayo' Pacri Nenas ini biasanya menjadi hidangan istimewa pada resepsi pernikahan. Selain itu, nenas (nanas) pun biasanya dijadikan sebagai campuran sambal, namanya yaitu Sambal Nenas. Selain itu juga biasa dijadikan sebagai acar. Minuman pun tak luput ada yang dibuat dari bahan nenas, namanya yaitu Ae' Ghojak / Ae' Ghujak (air rujak).
Bukan hanya keladi dan nenas yang biasa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak, deghian (durian), asam (mangga), belimbing buloh (belimbing buluh), dan belimbing manis pun juga biasa dijadikan sebagai teman makan nasi. Kalau yang dari durian namanya yaitu tempoyak, yaitu durian yang dipekasam (difermentasi). Kalau asam (mangga), belimbing buloh, dan belimbing manis biasanya dijadikan sebagai bahan campuran sambal.
Berkaitan dengan bahan makanan yang dipekasam (pekasam = makanan perangsang selera yang terbuat dari ikan, daging, ataupun buah-buahan yang diasinkan ataupun diasamkan, lalu dijemur atau disimpan agak lama), maka orang-orang Kalimantan sangat ahli dalam hal ini. Ada tencalok (yang terbuat dari udang halus yang dipekasam), ale-ale (kerang yang dipekasam), budu' / laba' (ikan yang dipekasam), dan yang paling dahsyat rasanya adalah ikan pekasam.
Jika budu' / laba' dipekasamnya hingga tak berbentuk ikan lagi (hancur dan mencair), maka ikan pekasam masih berbentuk ikan, sehingga ikan pekasam lebih mirip ikan busuk dan baunya pun busuk menyengat. Jika bahan makanan yang dipekasam lainnya bisa langsung dimakan, maka ikan pekasam harus dimasak dahulu (biasanya digoreng layaknya seperti ikan asin).
Dan memang diakui, bahwa semua bahan makanan yang dipekasam memang cenderung berbau busuk. Karena itulah, bagi orang yang tak terbiasa memakannya, mungkin akan muntah. Namun bagi yang biasa memakannya, maka akan menjadi hidangan istimewa dan menambah nafsu makan ketika menyantapnya.
Tidak habis di situ saja teror makanan ala orang-orang Kalimantan, masih banyak lagi deretan makanan lainnya yang super dahsyat rasanya. Ada telo' asin busu' (telur asin busuk), belacan, boto', bubogh pedas (bubur pedas), mie sagu' (mie sagu), bubogh asughah (bubur 'asyura), dan tentunya masih banyak lagi.
Begitulah Kota Pontianak, kota hantu di Bumi Khatulistiwa Bertuah, kota seribu sungai dan seribu parit di Bumi Kalimantan. Ternyata bukan namanya saja yang menyeramkan, namun makanannya pun mempunyai rasa yang meneror setiap lidah yang mencicipinya. Tak salah kiranya pendiri Kota Pontianak menamai kota ini seangker itu. ***
[Hanafi Mohan-Ciputat, Selasa-Kamis, 27-29 Oktober 2009]
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Semenjak kepulangan dari Pontianak pasca lebaran yang lalu, seakan-akan imajinasiku melemah, bahkan jari-jariku pun malas untuk menari-nari di atas tuts keyboards. Dan memang seperti itu biasanya yang terjadi padaku setiap pulang dari mudik ke Pontianak. Tapi itu semua kuanggap sebagai sesuatu yang positif, yaitu sebagai refresh dari segala aktivitas yang telah dijalani selama ini. Aku pun punya obatnya yang ampuh, yaitu membaca dan nonton tayangan serta film berkualitas.
Nah, tulisan kali ini sebenarnya tulisan gado-gado, yaitu untuk melatih memori asosiasi dan mind mapping ku. Ah, entah apa pula makhluk yang baru saja kusebutkan tadi. Jadi begini, ketika menonton film Van Helsing, aku sudah membuat ancang-ancang untuk tulisan gado-gado ini. Ancang-ancang itu kutulis di handphone dalam bentuk draft pesan. Dan kuakui juga bahwa spirit menulisku kali ini terinspirasi dan terpicu setelah membaca tulisan seorang teman blogger ku yang sama-sama berasal dari Pontianak di blognya: http://nrizyana.co.nr/. Maka mulailah memori asosiasi dan mind mapping itu bekerja.
Seperti telah kusebutkan di atas, bahwa membaca adalah salah satu caraku mengobati kesuntukan dan tidak adanya mood menulis. Akhir-akhir ini aku memang lebih tertarik untuk membaca buku sastra, salah satunya adalah novel. Novel yang kubaca pun pilih-pilih novel. Kebetulan teman kosanku memiliki koleksi buku yang lumayan banyak (termasuk juga novel), maka terus terang aku tak kehabisan stok novel untuk dibaca. Terakhir ini aku baru saja mengkhatamkan Roman Sejarah "Burung-Burung Manyar" karya Y.B. Mangunwijaya (almarhum), atau juga biasa dikenal dengan nama Romo Mangun. Seorang yang multitalenta menurutku, karena selain sebagai sastrawan, beliau juga adalah budayawan, pastur (rohaniawan Kristen), dan sekaligus juga seorang arsitek.
Seperti yang dituliskan oleh Jakob Sumardjo, bahwa Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya Burung-Burung Manyar mencoba melihat revolusi Indonesia dari segi yang obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda, dengan memasang protagonis orang Indonesia yang anti republik. Nilai buku ini terutama terletak pada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti republik semasa revolusi, segi informasinya tentang kehidupan tentara KNIL, dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan.
Setting waktu Roman Burung-Burung Manyar yaitu masa akhir penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan masa pasca Orde Lama (awal Orde Baru).
Cukup lama aku membaca novel ini. Dari sebelum bulan puasa yang lalu sudah mulai kubaca, hingga beberapa minggu yang lalulah baru selesai. Ketika mudik ke Pontianak pertengahan puasa yang lalu, novel ini aku bawa. Kubaca di kapal untuk mengusir suntuk, namun sayang ketika berada di Pontianak, novel ini tergeletak tak kubaca. Baru ketika balik lagi menuju ke Jakarta, novel ini kembali kubaca di atas kapal, yang tak lain dan tak bukan untuk mengusir suntuk. Setelah sekitar kurang lebih seminggu berada di Jakarta lagi, barulah Roman Sejarah yang mengagumkan ini kukhatamkan.
Selesai mengkhatamkan Burung-Burung Manyar, aku kembali dilanda rasa suntuk. Untuk membaca novel yang baru lagi, tentunya butuh waktu yang cukup panjang jika aku membacanya secara santai. Karena itulah, sebagai pengganti membaca novel, aku tak jarang menonton tayangan dan film di televisi. Dan sampai pada puncaknya ketika menonton Van Helsing Senin malam yang lalu. Mengapa kukatakan puncaknya adalah film "Van Helsing yang kutonton tadi malam? Karena setelah itu barulah semangat menulisku kembali muncul, barulah imajinasiku mengembara ke mana-mana, yang semuanya itu menjadi inspirasi berharga untuk menulis.
Mengapa menonton film menjadi pilihanku selain membaca novel? Karena membaca novel membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan menonton film hanya butuh waktu sekitar dua jam. Bagiku keduanya sama saja dalam hal melecut dan memicu inspirasi menulis. Yang berbeda mungkin hanya pada nuansa yang dirasakan.
Karena gara-gara inspirasiku tersendat, novel (atau mungkin lebih tepatnya cerbung/cerita bersambung) Senja Merah Jingga yang kutulis hingga kini tersendat-sendat pula penulisannya. Namun ada hikmah di baliknya, karena kemudian muncul inspirasi untuk menulis refleksi keagamaan (keimanan/keislaman) dan refleksi kebangsaan. Sebenarnya refleksi ini sudah lama kubuat outlinenya, tapi memang baru kali inilah aku mendapatkan semangat baru untuk memulai penulisannya. Karena memang aku memiliki beberapa blog, maka rencananya refleksi keagamaan ini akan kuposting di blog Wordpressku. Apalagi memang akhir-akhir ini di blog Wordpressku lebih banyak kuposting tulisan yang berisi kajian keislaman. Sedangkan di blog Blogspotku ini kukhususkan untuk tulisan-tulisan bermacam ragam, terutama yang selain dari kajian keislaman. Akhir-akhir ini memang lebih banyak yang kuposting di blog Blogspotku ini adalah yang berhubungan dengan sastra (termasuk juga cerpen, puisi, cerbung/novel, dan essay karyaku), sharing tulis-menulis, dan kebudayaan Melayu (Melayu Kalimantan Barat dan Pontianak khususnya). Tapi kemungkinan ke depannya tak menutup kemungkinan juga akan kuposting di blog Blogspotku ini opini dan wacana yang lagi hangat di masyarakat kini, termasuk di dalamnya isu mengenai kebangsaan, keindonesiaan, nasionalisme, sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, pendidikan, sains, teknologi, informasi dan komunikasi, dan sebagainya. Karena itulah, refleksi kebangsaan mungkin akan kuposting di blog Blogspotku ini.
Kembali kepada film Van Helsing. Film ini sebenarnya bercerita mengenai perburuan drakula. Tokoh pemburu drakula tersebut bernama Van Helsing (sepertinya dia juga memburu vampire, dan makhluk sejenis lainnya). Dari namanya, sepertinya adalah orang Belanda. Tentunya banyak yang tahu, bahwa Bangsa Belanda pernah lama menjajah negeri ini (Indonesia/Nusantara).
Van Helsing ditugaskan oleh semacam perkumpulan biarawan di Roma (Italia) untuk memburu Drakula yang dimaksud. Drakula tersebut sebelumnya adalah seorang manusia biasa. Tapi entah mengapa, Drakula kemudian berubah menjadi sosok yang haus darah. Cerita pun bergulir. Tujuan dari misi Van Helsing kali ini adalah demi menyelamatkan satu keluarga yang tertahan masuk ke surga karena si Drakula, yang entah apa pula penyebabnya hingga tertahan masuk surga seperti itu. Tapi yang pasti, ketertahanan keluarga tersebut untuk masuk surga ada kaitannya dengan si Drakula. Karena itulah, si Drakula harus dibunuh agar keluarga tersebut bisa masuk surga dengan mulus, tidak lagi harus merasakan panasnya api neraka dan siksaannya yang pedih itu.
Ketika cerita ini dimulai, anggota keluarga tersebut yang masih hidup tinggal dua orang, yaitu Anna (perempuan) dan abangnya (kakak lelakinya). Mereka berdua inilah yang selama ini selalu diiincar oleh Drakula untuk menjadi mangsa, entah karena apa. Karena itulah, dua bersaudara ini selalu menjadi pihak yang berhadap-hadapan dengan Drakula. Dua bersaudara ini pun selalu mengadvokasi masyarakat di sekitarnya untuk melawan Drakula, karena Drakula juga mengincar banyak orang untuk dijadikan mangsa dan mungkin dijadikan pengikutnya. Hingga suatu ketika dalam pertempuran dua bersaudara tersebut melawan para pengikut Drakula, abangnya Anna dapat dikalahkan oleh pasukan yang haus darah itu. Diindikasikan bahwa yang mengalahkan abangnya Anna adalah manusia serigala. Hingga kemudian abangnya Anna pun dapat dipastikan nantinya juga akan menjadi manusia serigala karena telah tersengat oleh manusia serigala yang mengalahkannya.
Cerita pun berlanjut. Dalam tugasnya ini, Van Helsing ditemani oleh seorang lelaki dari perkumpulan biarawan. Tapi menurut pengakuan orang tersebut, bahwa dirinya belumlah menjadi seorang biarawan, sehingga ia masih bisa melakukan hal-hal yang terlarang bagi seorang biarawan, misalkan berhubungan dengan perempuan, dan sebagainya. Diikutkannya orang ini karena ia cukup menguasai berbagai hal untuk melumpuhkan Drakula. Van Helsing sendiri ketika akan diberangkatkan telah diberi wejangan oleh pemimpin biarawan mengenai hal-hal penting berkaitan dengan misinya kali ini. Selain itu, Van Helsing juga dibekali berbagai perlengkapan untuk melumpuhkan Drakula, antara lain: panah yang dirancang khusus untuk mengalahkan drakula, air suci dari gereja, salib, dan mungkin masih banyak lagi.
Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Van Helsing (ditemani Anna dan si lelaki dari perkumpulan biarawan) melawan Drakula (dan juga pengikutnya). Ketika terjadi pertarungan, ternyata Drakula tidak mempan dikalahkan dengan berbagai perlengkapan yang dibawa oleh Van Helsing. Dan ternyata Anna sudah mengetahui hal ini dari beberapa kali pertempurannya melawan Drakula dan pengikutnya. Inilah yang mungkin membuat Van Helsing agak kesal dengan Anna karena tidak memberitahunya terlebih dahulu (lebih awal).
Yang membuat film ini menarik karena ada beberapa sisipan cerita yang patut menjadi pesan berharga bagi siapa pun (mungkin lebih tepatnya disebut sebagai pesan religi). Misalkan, si lelaki yang menemani Van Helsing, seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa ia bukanlah seorang biarawan. Si lelaki ini, pada suatu ketika di dalam film ini melakukan hubungan seks di luar nikah dengan seorang perempuan (lebih tepatnya perzinahan). Walaupun dia tergabung dalam perkumpulan biarawan, sungguh pun menurut pengakuannya bahwa dia bukanlah seorang biarawan, ternyata si lelaki ini bukanlah seorang penganut Agama Kristen yang taat.
Di sisi yang lain dalam perburuannya mengalahkan Drakula, Van Helsing dan Anna terperosok ke suatu tempat. Tempatnya cukup angker. Menurut perkiraan Van Helsing (berdasarkan pengalamannya) bahwa tempat itu adalah kediaman makhluk yang cukup menyeramkan (mungkin semacam makhluk iblis). Tapi anehnya, di tempat itu juga ditemukan Injil. Karena itulah, Van Helsing memperkirakan bahwa yang tinggal di tempat itu adalah manusia yang baik, karena kalau yang tinggal di situ adalah makhluk iblis ataupun manusia jahat, besar kemungkinan takkan ada Kitab Injil di tempat itu.
Tak lama kemudian, muncullah sesosok makhluk yang menyeramkan dari tempat itu. Singkat cerita, ternyata makhluk itu bernama Frankenstein. Makhluk ini adalah semacam makhluk yang diciptakan oleh manusia. Terjadilah pertarungan antara Van Helsing dengan Frankenstein. Dalam pertarungan ini barulah diketahui bahwa Frankenstein adalah makhluk yang baik, sehingga wajar saja di tempatnya terdapat Kitab Injil. Kemudian diketahui juga, bahwa Frankenstein pun menjadi incaran Drakula untuk dijadikan semacam tumbal demi menghidupkan anak-anak Drakula. Karena itulah, Frankenstein harus diselamatkan agar Drakula tidak berkembang biak.
Dalam perjalanan menuju Roma (Italia) demi menyelamatkan Frankenstein, terjadilah pertarungan antara Van Helsing melawan dua orang istri Drakula dan manusia serigala (yang tak lain adalah abangnya Anna). Dalam pertarungan ini, seorang istri Drakula dan manusia serigala memang dapat dikalahkan, tapi harga yang harus dibayar adalah tersengatnya Van Helsing oleh manusia serigala. Karena itulah, Van Helsing dipastikan juga akan menjadi manusia serigala. Tak lama kemudian, Anna pun dapat ditangkap (disandera) oleh seorang istri Drakula yang masih hidup. Maksud disanderanya Anna adalah untuk ditukar dengan Frankenstein.
Bergulirlah terus cerita ini, hingga kemudian terjadilah drama penukaran tersebut dalam suatu gedung yang di dalamnya sedang berlangsung pesta (kelihatannya semacam pesta dansa). Van Helsing sendiri berencana akan mengelabui Drakula dalam penukaran ini, yaitu Frankenstein dipertahankan, sedangkan Anna diusahakan sedemikian rupa agar bisa terlepas dari sanderaan Drakula. Namun tentunya tak semudah itu. Drakula ternyata sudah dapat membaca taktik dan gelagat pengelabuan Van Helsing. Karena itulah, Drakula pun berencana mempertahankan Anna dalam sanderaannya, dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan Frankenstein. Apalagi Drakula pun berencana menjadikan Anna sebagai istrinya.
Masing-masing pihak akhirnya mendapatkan setengah yang diusahakannya, namun harus dibayar mahal dengan kehilangan yang harus dipertahankannya. Van Helsing dapat menyelamatkan Anna dari sanderaan Drakula, namun di sisi yang lain, Frankenstein dapat ditangkap oleh konco-konconya Drakula. Kalau sudah seperti ini, berarti penukaran yang direncanakan dari awal kemudian menjadi kenyataan, namun saja harus melalui suatu pertarungan, karena masing-masing pihak bermaksud mempertahankan apa yang sudah ada di tangannya.
Belakang kemudian diketahui bahwa yang dapat mengalahkan Drakula adalah manusia serigala. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa karena pernah digigit oleh manusia serigala, maka Van Helsing kemungkinan besar juga bisa menjadi manusia serigala. Karena itu pula, sebagai manusia serigala, Van Helsing mempunyai kekuatan untuk mengalahkan Drakula. Namun di sisi yang lain, Van Helsing juga harus mengobati (menyembuhkan) dirinya agar tidak menjadi manusia serigala. Karena kalau sudah menjadi manusia serigala, maka Van Helsing akan selalu memangsa dan membunuh manusia. Dan ternyata yang memiliki obat tersebut adalah Drakula. Hal ini diketahui dari pemberitahuan Frankenstein.
Yang menarik dari cerita film ini juga karena konflik yang terjadi di dalamnya. Setelah habis satu konflik, maka akan hadir lagi konflik yang lain. Jika dicermati lagi, film ini tidak seperti film-film horor lainnya, karena di dalamnya juga terjadi adegan action, dan juga bertaburan pesan-pesan ajaran kemanusiaan (humanisme) dan religiusitas (terutama religiusitas Kristen). Yang pasti menurutku bahwa film ini layak ditonton, apa pun agama dan keyakinan anda, apapun partai politik dan ideologi yang anda anut, serta apapun ras dan kebangsaan anda.
Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya Drakula dapat dikalahkan oleh Van Helsing. Dalam pertarungan ini, Van Helsing juga berubah menjadi manusia serigala. Oleh karenanya, Van Helsing yang sudah berubah menjadi manusia serigala itu bisa membunuh Drakula. Sungguh seru. Kadang-kadang pada saat sudah hampir dapat membunuh Drakula, tiba-tiba Van Helsing berubah lagi menjadi manusia biasa. Namun tragisnya, Anna akhirnya tewas dalam usahanya membantu Van Helsing mengalahkan Drakula.
Di akhir film, tampak di langit wajah Anna yang sedang tersenyum. Mungkin ia dan keluarganya telah masuk ke surga. Selain itu, di laut juga terlihat Frankenstein yang sedang berperahu. Entah dia akan menuju ke mana. Yang pasti ia pergi untuk menyisihkan dirinya dari masyarakat yang selama ini menistakannya dan menganggapnya sebagai makhluk jahat. Mungkin ia mencari kebahagiaannya di belahan bumi yang lain yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Kebenaran dan kebaikan pasti dapat mengalahkan kejahatan dan keburukan. Itulah kesimpulan yang mungkin dapat ditarik dari film ini.
Sebenarnya agak aneh kalau aku menulis mengenai cerita film horor seperti yang sedang anda baca kini. Tapi setelah kurenungkan lagi, ternyata memang ada sisi diriku yang lain yang itu kemudian membawaku untuk juga tertarik pada cerita-cerita berbau horor, mencekam, menakutkan, dan mistis, walaupun dalam hal ini aku mempunyai keyakinan yang agak berbeda dengan kebanyakan orang-orang mengenai dunia mistis, makhluk halus, dan alam gaib.
Aku lahir dan dibesarkan di kota yang paling menyeramkan namanya di muka bumi ini. Kiranya mungkin tak ada nama kota yang seseram nama kota kelahiranku di alam dunia ini, kecuali hanya di dalam cerita-cerita fiksi. Kota Hantu, begitulah kiranya nama kotaku jika diartikan. Di dalam Bahasa Melayu, pontianak / puntianak artinya adalah hantu perempuan yang suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak. Di dalam Bahasa Indonesia mungkin disebut hantu kuntilanak. Di dalam legenda masyarakat Melayu Pontianak, bahwa hantu pontianak ini biasanya berdiam di poko’ / pokok (pohon) punti (ponti). Pohon ini biasanya berada di areal pemakaman (pekuburan), pohonnya rindang seperti pohon beringin, tapi sangat menyeramkan ketika kita lewat di dekatnya pada malam hari.
Untuk lebih jelasnya, silakan baca entri yang kudapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berikut ini:
1 punti n pisang (raja)
2 punti n 1 (ikan ---) nama ikan laut; 2 (ular ---): nama ular
puntianak n hantu perempuan (suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak)
kuntilanak n hantu yang konon berkelamin perempuan dan suka mengambil anak kecil atau mengganggu perempuan yang baru saja melahirkan
Ternyata, punti juga berarti pisang (raja), mungkin maksudnya pisang raja. Hahaha, pantas saja di Pontianak banyak sekali pisang. Tapi masyarakat Pontianak tidak menyebut Pisang Raja dengan sebutan Punti atau Pisang Punti, melainkan Pisang Raja saja. Malahan kini di Jakarta dikenal Pisang Pontianak atau Pisang Ponti, yaitu pisang goreng (biasanya berbentuk seperti kipas) yang digoreng dengan balutan adonan tepung terigu atau tepung gandum (masyarakat Pontianak menyebutnya tepong gandom atau tepong gendom). Setelah jadi pisang goreng, kemudian diolesi serikaya, selai, ataupun olesan-olesan lainnya. Ternyata di Pontianak tak ada yang namanya Pisang Pontianak (Pisang Ponti) atau Pisang Goreng Pontianak (Pisang Goreng Ponti), namun masyarakat Pontianak hanya menyebutnya pisang goreng ataupun goreng pisang (biasanya mayarakat Pontianak mengucapkannya Goreng Pisang).
Masyarakat Pontianak memang suka membalik-balik kata-kata yang seperti ini, tergantung enaknya diucapkan seperti apa. Misalkan: keladi goreng menjadi goreng keladi, ubi goreng menjadi goreng ubi, dan semacamnya. Masyarakat Jakarta mengenal keladi dengan sebutan talas. Sedangkan ubi yang biasa dikenal oleh orang Pontianak, maka di Jakarta disebut singkong. Namun sayangnya selama ini tak pernah kudapati penjual gorengan di Jakarta yang menjual goreng keladi (talas) seperti halnya di Pontianak. Sedangkan goreng ubi (singkong) di Jakarta selama ini kudapati tak ada yang seenak goreng ubi (singkong) di Pontianak.
Tapi patut dicermati, jika orang Jakarta menyebut ubi, maka yang dimaksudkan adalah ubi cine (ubi jalar) seperti halnya yang dikenal di Pontianak. Sedangkan singkong yang dikenal di Jakarta, maka orang Pontianak menyebutnya ubi kayu’. Selanjutnya, berkaitan dengan keladi (talas), maka di Pontianak terdapat beberapa varietas keladi (talas). Yang selama ini kuketahui adalah Keladi Seghawak (serawak) dan Keladi Bighah (birah). Di antara kedua keladi ini, yang biasa dimakan adalah keladi seghawak. Sedangkan keladi bighah karena terlalu gatal, maka jarang dimakan. Gatalnya bukan main, karena sangat gatal. Oleh sebab itu, masyarakat Pontianak menyebut perempuan kegatalan ataupun perempuan genit dengan sebutan peghempuan (perempuan) bighah.
Selain itu ada lagi keladi yang biasanya dijadikan sayuran, tapi sepertinya tak ada sebutan khusus untuk keladi yang seperti ini. Kalau keladi seghawak biasanya dijadikan sebagai goreng keladi, namun tak jarang juga dijadikan sayuran. Sayo' Keladi (sayur keladi), itulah namanya. Masakan khas masyarakat Melayu Kota Pontianak yang kemungkinan masakan ini hanya ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Selain batang, daun, dan buah (umbi) nya yang dijadikan sayuran, masyarakat Pontianak juga tak jarang menjadikan akarnya sebagai sayuran. Akar keladi ini biasa disebut oleh orang Pontianak sebagai sulogh keladi (sulur keladi).
Ternyata bukan hanya keladi yang dijadikan sayuran, namun nenas (nanas) pun juga bisa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak. Bahkan jenisnya bermacam-macam. Ada yang dimasak bersama ikan, namanya adalah Sayo' Asam Pedas (sayur asam pedas). Ada juga yang dimasak bersantan, namanya yaitu Sayo' Pacri Nenas (sayur pacri nanas). Sayo' Pacri Nenas ini biasanya menjadi hidangan istimewa pada resepsi pernikahan. Selain itu, nenas (nanas) pun biasanya dijadikan sebagai campuran sambal, namanya yaitu Sambal Nenas. Selain itu juga biasa dijadikan sebagai acar. Minuman pun tak luput ada yang dibuat dari bahan nenas, namanya yaitu Ae' Ghojak / Ae' Ghujak (air rujak).
Bukan hanya keladi dan nenas yang biasa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak, deghian (durian), asam (mangga), belimbing buloh (belimbing buluh), dan belimbing manis pun juga biasa dijadikan sebagai teman makan nasi. Kalau yang dari durian namanya yaitu tempoyak, yaitu durian yang dipekasam (difermentasi). Kalau asam (mangga), belimbing buloh, dan belimbing manis biasanya dijadikan sebagai bahan campuran sambal.
Berkaitan dengan bahan makanan yang dipekasam (pekasam = makanan perangsang selera yang terbuat dari ikan, daging, ataupun buah-buahan yang diasinkan ataupun diasamkan, lalu dijemur atau disimpan agak lama), maka orang-orang Kalimantan sangat ahli dalam hal ini. Ada tencalok (yang terbuat dari udang halus yang dipekasam), ale-ale (kerang yang dipekasam), budu' / laba' (ikan yang dipekasam), dan yang paling dahsyat rasanya adalah ikan pekasam.
Jika budu' / laba' dipekasamnya hingga tak berbentuk ikan lagi (hancur dan mencair), maka ikan pekasam masih berbentuk ikan, sehingga ikan pekasam lebih mirip ikan busuk dan baunya pun busuk menyengat. Jika bahan makanan yang dipekasam lainnya bisa langsung dimakan, maka ikan pekasam harus dimasak dahulu (biasanya digoreng layaknya seperti ikan asin).
Dan memang diakui, bahwa semua bahan makanan yang dipekasam memang cenderung berbau busuk. Karena itulah, bagi orang yang tak terbiasa memakannya, mungkin akan muntah. Namun bagi yang biasa memakannya, maka akan menjadi hidangan istimewa dan menambah nafsu makan ketika menyantapnya.
Tidak habis di situ saja teror makanan ala orang-orang Kalimantan, masih banyak lagi deretan makanan lainnya yang super dahsyat rasanya. Ada telo' asin busu' (telur asin busuk), belacan, boto', bubogh pedas (bubur pedas), mie sagu' (mie sagu), bubogh asughah (bubur 'asyura), dan tentunya masih banyak lagi.
Begitulah Kota Pontianak, kota hantu di Bumi Khatulistiwa Bertuah, kota seribu sungai dan seribu parit di Bumi Kalimantan. Ternyata bukan namanya saja yang menyeramkan, namun makanannya pun mempunyai rasa yang meneror setiap lidah yang mencicipinya. Tak salah kiranya pendiri Kota Pontianak menamai kota ini seangker itu. ***
[Hanafi Mohan-Ciputat, Selasa-Kamis, 27-29 Oktober 2009]
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
16:21 | 0 Comments
[Cerbung Senja Merah Jingga] 24- Juru Kisah
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Cerbung: Senja Merah Jingga
Berkisah adalah satu dari sekian banyak kegemaran orang Pontianak. Aku adalah satu dari sekian banyak anak Melayu yang beruntung, karena dilahirkan dan hidup di dalam keluarga yang suka berkisah. Hingga banyak cerita-cerita orang terdahulu, baik itu legenda ataupun nyata telah sering aku dengar semenjak masa kecilku.
Ayahku adalah salah satu sosok yang fasih dalam berkisah ini. Beliau mendidik kami anak-anaknya melalui metode berkisah. Ayahku adalah seorang guru, lebih tepatnya yaitu guru agama Islam (ustadz), sehingga beliau memang pandai dalam bertutur kata, sayangnya beliau tidak sampai menjadi penceramah. Secara tidak kami sadari, bahwa dalam kisah-kisahnya, ayah telah mentransfer ilmu pengetahuannya kepada kami. Kalau memang ketika itu ayah secara sengaja ingin mengajar kami mengenai suatu ilmu, mungkin saja kami akan berat menerimanya. Tapi ayah telah melakukan semua itu melalui cara yang begitu baik, yaitu berkisah, sehingga kami tanpa sadar sudah menyerap ilmu yang diberikannya.
Di masa mudanya, ayah adalah seorang aktivis. Ini juga kuketahui dari kisahnya, dan juga dari koleksi buku yang dimilikinya. Menurut ceritanya, bahwa di masa muda, beliau pernah terlibat aktif sebagai anggota Partai Masyumi, yaitu partai Islam yang mengusung ide-ide modernisme dengan tokohnya yang terkenal, yaitu Muhammad Natsir.
Sedari aku kecil, ayah sudah menuturkan kisah mengenai tokoh Masyumi yang satu ini, juga tokoh-tokoh Masyumi dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Buya Hamka. Tak jarang juga beliau menuturkan kisah para ilmuwan Islam terkemuka, seperti Imam Madzhab Empat (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali), Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, tak terkecuali juga ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya. Kisah para Nabi, juga kisah Nabi Muhammad dan para sahabatnya, serta kisah para tabi'in dan tabi'it tabi'in juga tak jarang ia tuturkan kepada kami. Selain itu, kisah para tokoh Indonesia seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. Muhammad Roem, Kasman Singodimejo, dan tokoh-tokoh Indonesia lainnya juga tak luput ia kisahkan.
Dari kisah-kisahnya itu, secara tidak sadar telah membiusku untuk meraih pendidikan tinggi dan selalu menuntut ilmu. Melalui kisah-kisahnya, ayah juga telah menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman pada kami anak-anaknya, tak terkecuali aku yang masih belia ketika itu.
Di antara saudara-saudaranya, maka ayah adalah orang yang paling suka membaca. Ini kuketahui dari koleksi bukunya yang cukup banyak. Dalam ilmu keislaman, maka di antara saudara-saudaranya, ayahlah yang paling terpelajar.
Beliau adalah sosok yang selalu haus ilmu. Pendidikan formal (sekolah umum) yang beliau jalani mungkin tak terlalu tinggi, karena memang di masa mudanya, sekolah umum masih begitu langka, dan keluarga ayah juga bukan keluarga yang tingkat perekonomiannya tinggi. Pada masa mudanya, mungkin hanya orang-orang yang perkonomiannya mapanlah yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi.
Apa yang terjadi pada masa muda ayahku tentunya tak dapat disamakan dengan masa kini. Pendidikan tentunya tak hanya didapatkan dari pendidikan formal seperti sekarang ini. Orang-orang ketika itu mungkin lebih mudah dan lebih senang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah agama seperti madrasah, dan pendidikan jenis inilah yang dilalui oleh ayah. Selain bersekolah di madrasah, ayah juga berguru secara pribadi kepada sembilan orang guru. Ketika di masanya tradisi tulis menulis masih begitu minim, maka ayah telah mendobrak hal itu. Beliau suka menulis, walaupun tulisannya hanya sebatas ilmu keislaman. Tapi hal tersebut cukuplah menyatakan, bahwa ayah adalah sosok yang cukup sadar akan arti pentingnya pendidikan dan budaya menulis.
Aku selalu mengenang ayah dalam kenangan yang begitu indah. Beliau menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat. Beliau mendidik anak-anaknya dengan cara-cara yang demokratis dan penuh kasih sayang. Beliau telah menumbuhkan tradisi ilmu di dalam keluarga kami semenjak kami berusia belia.
Setiap pembagian raport ketika aku SD, selalu mengembang senyum di wajah ayah, karena aku selalu mendapatkan peringkat pertama. Entah apa yang ada di benaknya ketika itu. Tapi bagiku, semua itu sudah menjadi dorongan positif untuk terus berprestasi di dalam pendidikan. Aku merasa puas ketika itu sudah bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik kepada orang tuaku. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku begitu mendukung pendidikan anak-anaknya. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku tidak seperti orang tua-orang tua lainnya di lingkungan kampongku. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, kedua orang tuaku tetap bertekad kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dan aku merasa beruntung dalam hal ini telah mendapatkan orang tua seperti mereka.
***
Suatu ketika, ayah pernah bercerita mengenai Imam Syafi'i yang sudah hapal Alquran semenjak berada di dalam kandungan ibunya. Kata ayah, Imam Syafi'i cukup lama berada di dalam kandungan ibunya. Lamanya berada di dalam kandungan itu karena Imam Syafi'i sedang belajar Alquran. Entah benar entah tidak cerita ini. Mungkin ini hanyalah cerita penghibur dari ayahku agar kami anak-anaknya mau belajar Alquran secara tekun.
Ayah juga pernah berkisah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani, yaitu seorang wali dan sufi yang cukup terkenal yang berasal dari Timur Tengah (lahir di Kota Jailan atau Kailan-Persia tahun 470 H/1077 M, wafat di Kota Baghdad pada tanggal 9 Rabiul akhir 561 H/1166 M). Suatu ketika, ada seorang maling yang akan merampok di rumah Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Ketika itu Syeikh Abdul Qadir sedang beribadah, dan si perampok kebetulan ketika itu sedang bersembunyi di bawah tempat Syeikh Abdul Qadir Jaelani beribadah. Di dalam khalwatnya itu, Syeikh Abdul Qadir juga sedang berkomunikasi jarak jauh dengan Wali Qutub (pemimpin para wali). Wali Qutub meminta Syeikh Abdul Qadir mencarikan seorang pengganti wali di suatu tempat. Mungkin karena Syeikh Abdul Qadir sudah mengetahui bahwa di bawah tempatnya sedang berkhalwat itu ada perampok yang sedang bersembunyi atau mungkin di dalam munajatnya ia mendapatkan suatu petunjuk, maka seketika itu juga Syeikh Abdul Qadir menjebol lantai tempat dia berada saat itu. Lalu diangkatnyalah si perampok dan mengatakan kepada Wali Qutub dalam komunikasi jarak jauhnya itu, bahwa ia sudah menemukan calon pengganti wali yang dimaksud oleh Wali Qutub. Tiada lain dan tiada bukan, si perampok itulah yang dijadikan sebagai pengganti wali di tempat yang dimaksud.
Entah cerita ini nyata atau fiktif, bahkan kalaupun fiktif, hingga kini aku tak tahu hikmah dari cerita perampok yang tiba-tiba menjadi wali ini. Mungkin hikmahnya adalah bahwa sejahat apapun seseorang, maka tetap saja orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi baik. Dalam kehidupan seseorang, selalu saja ada keajaiban yang bisa menghampirinya.
***
Ah, sungguh ayahku mengagumkan ketika berkisah. Kami seakan-akan tersihir dengan kisah yang dituturkannya. Tapi begitulah cara ayahku mentransformasi ilmunya kepada kami. Bahkan bukan hanya kepada kami, kepada para muridnya yang lain pun yang rata-rata sudah berusia dewasa, ayah tetap tak ketinggalan menyampaikan kisah-kisah. Seakan-akan ayah tak pernah kehabisan stok cerita, ada saja cerita yang ia sampaikan. Dan yang patut diingat, para muridnya akan asyik berjam-jam mengikuti pelajaran yang diberikan ayahku. Entah karena pelajarannya, atau karena kisahnya yang membuat para murid ayahku betah berlama-lama duduk di ruang tamu rumahku mengikuti pelajaran ayah.
Kadang murid-murid ayah datang ke rumah, atau terkadang juga ayahlah yang mendatangi murid-muridnya. Muridnya berasal dari berbagai kalangan. Aku sendiri sering menemani ayah mendatangi muridnya di pasar, karena memang ada sebagian muridnya yang berprofesi sebagai pedagang. Entah bagaimana caranya ayah memberikan pelajaran kepada muridnya yang kadang melayani pembeli dan mengurus barang dagangannya. Tapi yang pasti, ayah punya cara tersendiri untuk hal itu.
Menurut cerita ayah, bahwa di masa mudanya, beliau juga adalah pedagang. Karena itulah, ayah banyak memiliki kenalan dari kalangan pedagang. Cara berdagang yang dilakoni ayah juga begitu uniknya. Setidaknya hal ini aku dapatkan dari kisah beliau sendiri. Ketika masa mudanya, ayah menjadi tangan kanan pamannya dalam berdagang. Perdagangan yang berlangsung sungguh di luar apa yang kita pikirkan selama ini. Bahkan boleh dikatakan dengan modal uang yang cukup minim. Modal yang paling diperlukan dalam perdagangan yang dilakoni ayahku itu lebih banyaknya adalah modal kecerdikan, serta juga keberanian. Ajang perdagangannya adalah di atas Sungai Kapuas.
Dengan menggunakan sampan, mereka (ayahku dan pamannya) berkayuh mendatangi para pedagang lainnya yang juga bersampan. Macam-macam pedagang yang mereka datangi, di antaranya adalah pedagang kelapa. Seakan-akan sebagai pembeli, mereka menawar barang dagangan tersebut dalam jumlah yang banyak, dan tentunya dengan harga tawaran yang diperkirakan akan mendatangkan keuntungan jika barang tersebut dijual lagi. Tentunya pedagang kelapa itu bergembira sekali, karena ada yang akan membeli dagangannya dalam jumlah yang banyak. Tawar-menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Pembayaran tidak dilakukan di tempat, melainkan baru akan dibayarkan ketika barang telah dimuat ke kapal. Memangnya kapal siapa, sedangkan mereka (ayahku dan pamannya) hanya bersampan? Tentunya bukan kapal milik mereka, melainkan kapal milik orang lain. Mengapa bisa seperti itu? Nah, di sinilah cerita uniknya.
Setelah itu, mereka berkayuh menuju kapal ataupun motor bandong yang sedang berlabuh yang mungkin sebelumnya telah mereka ketahui akan membeli kelapa dalam jumlah yang banyak. Transaksi kembali terjadi. Kini transaksi yang berlangsung adalah dengan pemilik kapal. Tawar menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Tentunya harga jual yang mereka tawarkan kepada pemilik kapal lebih tinggi dibandingkan harga jual dari pedagang kelapa. Setelah itu, mereka pun kembali mendatangi pedagang kelapa untuk segera memuat kelapa jualannya ke atas kapal. Setelah kelapa dimuat oleh pedagang kelapa ke atas kapal, maka mereka pun kembali mendatangi pemilik kapal untuk mengambil uang pembayaran dari pemilik kapal. Setelah itu, barulah mereka membayarkan uang tersebut kepada pedagang kelapa, yang tentunya dari pembayaran itu mereka sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan.
Lihatlah, ayahku dan pamannya telah melakoni perdagangan yang cukup unik. Mereka tidak bermodal uang sedikit pun, kecuali hanyalah bermodalkan keberanian, kecerdikan, dan kepercayaan dari pedagang kelapa dan pemilik kapal. Tenaga yang mereka keluarkan pun begitu minimnya, karena yang memuat kelapa tersebut ke kapal bukanlah mereka, melainkan pedagang kelapalah yang langsung memuatnya ke kapal. Dalam hal ini, pedagang kelapa puas, pemilik kapal juga puas. Pedagang kelapa merasa puas karena barang dagangannya telah terjual dalam jumlah yang lumayan banyak, sedangkan pemilik kapal merasa puas karena kapalnya telah terisi dengan barang yang diinginkannya tanpa harus bersusah payah mencari barang tersebut kepada para pedagang.
Mengapakah pedagang kelapa dan pemilik kapal bisa percaya kepada mereka? Mungkin bisa jadi pedagang kelapa mengira bahwa pemilik kapal itu adalah ayahku dan pamannya, atau setidaknya mengira bahwa mereka adalah pekerja ataupun orang kepercayaan ataupun orang yang memiliki otoritas tertentu di kapal tersebut. Sedangkan pemilik kapal mungkin mengira, bahwa yang memiliki dagangan kelapa itu adalah mereka, dan pedagang kelapa yang memuat kelapa tersebut ke kapalnya tak lain adalah pekerja ataupun pesuruh dari ayahku dan pamannya.
***
Pada waktu yang lain, ayah juga pernah berkisah mengenai seorang anak yang ingin belajar di suatu madrasah (sekolah). Setting cerita ini adalah di Timur Tengah. Entah karena apa, mungkin karena keluarganya tidak mampu, si anak pun kemudian tak dapat bersekolah. Karena tekad si anak yang begitu kuat untuk menuntut ilmu, maka si anak pun hanya mendengarkan pelajaran dari kolong ruangan kelas di madrasah itu tanpa diketahui oleh si guru dan murid-murid yang berada di dalam ruangan belajar tersebut.
Si anak menyimak dan mencatat setiap pelajaran yang didengarnya dari bawah kelas. Alat tulis yang digunakan anak itu untuk mencatat adalah berupa papan tulis kecil yang kalau catatannya sudah penuh, maka tulisan yang ada di papan tulisnya itu dihapus untuk kemudian digunakan lagi untuk menulis. Jadi jangan disamakan dengan catatan kita sekarang yang itu bisa disimpan dan suatu waktu bisa dibaca lagi, karena alat tulis yang digunakan anak itu tak lebih hanyalah media tulis sementara, untuk kemudian ia menyimpan catatannya itu langsung ke memori otaknya.
Hingga suatu ketika, si guru menanyakan kepada murid-muridnya mengenai suatu hal dari pelajaran yang telah disampaikannya. Ternyata murid-muridnya tak dapat menjawab pertanyaan si guru. Mungkin karena mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru, maka anak yang berada di bawah kolong kelas itu pun keluar, kemudian masuk ke dalam kelas. Ia mengatakan, bahwa ia mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru. Tentu saja guru dan murid-murid yang berada di dalam kelas menjadi heran akan hal ini. Berkat kebijaksanaan si guru, maka si anak itu pun dipersilakan untuk menjawab pertanyaan yang dimaksud. Dan ternyata, jawaban dari si anak itu benar. Entah cerita ini benar atau fiktif belaka, tapi yang pasti ayah hanya sekedar berkisah yang mungkin di dalam kisahnya itu ada hikmah yang bisa diambil.
Tentang cerita ayah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani yang menjebol lantai rumahnya, belakangan kiranya ada pertanyaan yang menggelayuti diriku. Apakah benar rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu seperti halnya rumah kami orang-orang Pontianak yang berupa rumah panggung, yaitu rumah yang tidak langsung terletak di atas tanah, melainkan ada tiang yang memisahkan lantai rumah dengan tanah, sehingga ada bagian yang lowong di bawah rumah. Karena itulah, rumah orang Pontianak selalu ada kolongnya (kolong rumah). Sedangkan kita ketahui bersama, bahwa rumah orang-orang di Timur Tengah adalah rumah yang terletak di atas tanah, bukanlah seperti rumah kami orang-orang Pontianak. Sepertinya ayah agak kurang teliti ketika mengisahkan cerita tersebut. Atau memang disengaja seperti itu, sehingga alam pikiran kami bisa langsung nyambung dengan membayangkan bahwa rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu sama halnya seperti rumah masyarakat Pontianak yang ada kolong rumahnya. Begitu juga dengan cerita si anak yang bersembunyi di bawah kolong kelas untuk menyimak pelajaran dari ruangan kelas yang ada di atasnya. Lagi-lagi ayah agak kurang teliti dalam mengisahkan cerita tersebut, atau memang disengaja seperti yang telah kusebutkan di atas.
Begitulah ayahku, orang tua sekaligus guru bagi kami anak-anaknya. Darinya kami mendapatkan pelajaran hidup melalui kisah-kisah yang dituturkannya. Dan melalui beliau pula kami anak-anaknya tumbuh dalam tradisi ilmu. Tradisi yang kiranya masih begitu langka di kampongku ketika itu, bahkan mungkin masih langka hingga kini. Tradisi yang dihidupkan di dalam keluarga sendiri oleh orang tuanya, yaitu tradisi keilmuan melalui media berkisah. Bagiku, sungguh apa yang telah dilakukan oleh ayahku itu adalah suatu terobosan kreatif di dalam keluarga kami yang bersahaja. Orang tua memang selayaknya juga menjadi guru dan pendidik bagi anak-anaknya. Dan didikan itu penuh dibaluti dengan nuansa demokratis dan kasih sayang yang kiranya kini pun masih jarang kita jumpai, bahkan di dunia pendidikan modern sekali pun. #*#
[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari-medio Agustus 2009]
Cerita sebelumnya
Kembali ke Daftar Isi
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Ayahku adalah salah satu sosok yang fasih dalam berkisah ini. Beliau mendidik kami anak-anaknya melalui metode berkisah. Ayahku adalah seorang guru, lebih tepatnya yaitu guru agama Islam (ustadz), sehingga beliau memang pandai dalam bertutur kata, sayangnya beliau tidak sampai menjadi penceramah. Secara tidak kami sadari, bahwa dalam kisah-kisahnya, ayah telah mentransfer ilmu pengetahuannya kepada kami. Kalau memang ketika itu ayah secara sengaja ingin mengajar kami mengenai suatu ilmu, mungkin saja kami akan berat menerimanya. Tapi ayah telah melakukan semua itu melalui cara yang begitu baik, yaitu berkisah, sehingga kami tanpa sadar sudah menyerap ilmu yang diberikannya.
Di masa mudanya, ayah adalah seorang aktivis. Ini juga kuketahui dari kisahnya, dan juga dari koleksi buku yang dimilikinya. Menurut ceritanya, bahwa di masa muda, beliau pernah terlibat aktif sebagai anggota Partai Masyumi, yaitu partai Islam yang mengusung ide-ide modernisme dengan tokohnya yang terkenal, yaitu Muhammad Natsir.
Sedari aku kecil, ayah sudah menuturkan kisah mengenai tokoh Masyumi yang satu ini, juga tokoh-tokoh Masyumi dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Buya Hamka. Tak jarang juga beliau menuturkan kisah para ilmuwan Islam terkemuka, seperti Imam Madzhab Empat (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali), Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, tak terkecuali juga ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya. Kisah para Nabi, juga kisah Nabi Muhammad dan para sahabatnya, serta kisah para tabi'in dan tabi'it tabi'in juga tak jarang ia tuturkan kepada kami. Selain itu, kisah para tokoh Indonesia seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. Muhammad Roem, Kasman Singodimejo, dan tokoh-tokoh Indonesia lainnya juga tak luput ia kisahkan.
Dari kisah-kisahnya itu, secara tidak sadar telah membiusku untuk meraih pendidikan tinggi dan selalu menuntut ilmu. Melalui kisah-kisahnya, ayah juga telah menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman pada kami anak-anaknya, tak terkecuali aku yang masih belia ketika itu.
Di antara saudara-saudaranya, maka ayah adalah orang yang paling suka membaca. Ini kuketahui dari koleksi bukunya yang cukup banyak. Dalam ilmu keislaman, maka di antara saudara-saudaranya, ayahlah yang paling terpelajar.
Beliau adalah sosok yang selalu haus ilmu. Pendidikan formal (sekolah umum) yang beliau jalani mungkin tak terlalu tinggi, karena memang di masa mudanya, sekolah umum masih begitu langka, dan keluarga ayah juga bukan keluarga yang tingkat perekonomiannya tinggi. Pada masa mudanya, mungkin hanya orang-orang yang perkonomiannya mapanlah yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi.
Apa yang terjadi pada masa muda ayahku tentunya tak dapat disamakan dengan masa kini. Pendidikan tentunya tak hanya didapatkan dari pendidikan formal seperti sekarang ini. Orang-orang ketika itu mungkin lebih mudah dan lebih senang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah agama seperti madrasah, dan pendidikan jenis inilah yang dilalui oleh ayah. Selain bersekolah di madrasah, ayah juga berguru secara pribadi kepada sembilan orang guru. Ketika di masanya tradisi tulis menulis masih begitu minim, maka ayah telah mendobrak hal itu. Beliau suka menulis, walaupun tulisannya hanya sebatas ilmu keislaman. Tapi hal tersebut cukuplah menyatakan, bahwa ayah adalah sosok yang cukup sadar akan arti pentingnya pendidikan dan budaya menulis.
Aku selalu mengenang ayah dalam kenangan yang begitu indah. Beliau menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat. Beliau mendidik anak-anaknya dengan cara-cara yang demokratis dan penuh kasih sayang. Beliau telah menumbuhkan tradisi ilmu di dalam keluarga kami semenjak kami berusia belia.
Setiap pembagian raport ketika aku SD, selalu mengembang senyum di wajah ayah, karena aku selalu mendapatkan peringkat pertama. Entah apa yang ada di benaknya ketika itu. Tapi bagiku, semua itu sudah menjadi dorongan positif untuk terus berprestasi di dalam pendidikan. Aku merasa puas ketika itu sudah bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik kepada orang tuaku. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku begitu mendukung pendidikan anak-anaknya. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku tidak seperti orang tua-orang tua lainnya di lingkungan kampongku. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, kedua orang tuaku tetap bertekad kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dan aku merasa beruntung dalam hal ini telah mendapatkan orang tua seperti mereka.
***
Suatu ketika, ayah pernah bercerita mengenai Imam Syafi'i yang sudah hapal Alquran semenjak berada di dalam kandungan ibunya. Kata ayah, Imam Syafi'i cukup lama berada di dalam kandungan ibunya. Lamanya berada di dalam kandungan itu karena Imam Syafi'i sedang belajar Alquran. Entah benar entah tidak cerita ini. Mungkin ini hanyalah cerita penghibur dari ayahku agar kami anak-anaknya mau belajar Alquran secara tekun.
Ayah juga pernah berkisah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani, yaitu seorang wali dan sufi yang cukup terkenal yang berasal dari Timur Tengah (lahir di Kota Jailan atau Kailan-Persia tahun 470 H/1077 M, wafat di Kota Baghdad pada tanggal 9 Rabiul akhir 561 H/1166 M). Suatu ketika, ada seorang maling yang akan merampok di rumah Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Ketika itu Syeikh Abdul Qadir sedang beribadah, dan si perampok kebetulan ketika itu sedang bersembunyi di bawah tempat Syeikh Abdul Qadir Jaelani beribadah. Di dalam khalwatnya itu, Syeikh Abdul Qadir juga sedang berkomunikasi jarak jauh dengan Wali Qutub (pemimpin para wali). Wali Qutub meminta Syeikh Abdul Qadir mencarikan seorang pengganti wali di suatu tempat. Mungkin karena Syeikh Abdul Qadir sudah mengetahui bahwa di bawah tempatnya sedang berkhalwat itu ada perampok yang sedang bersembunyi atau mungkin di dalam munajatnya ia mendapatkan suatu petunjuk, maka seketika itu juga Syeikh Abdul Qadir menjebol lantai tempat dia berada saat itu. Lalu diangkatnyalah si perampok dan mengatakan kepada Wali Qutub dalam komunikasi jarak jauhnya itu, bahwa ia sudah menemukan calon pengganti wali yang dimaksud oleh Wali Qutub. Tiada lain dan tiada bukan, si perampok itulah yang dijadikan sebagai pengganti wali di tempat yang dimaksud.
Entah cerita ini nyata atau fiktif, bahkan kalaupun fiktif, hingga kini aku tak tahu hikmah dari cerita perampok yang tiba-tiba menjadi wali ini. Mungkin hikmahnya adalah bahwa sejahat apapun seseorang, maka tetap saja orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi baik. Dalam kehidupan seseorang, selalu saja ada keajaiban yang bisa menghampirinya.
***
Ah, sungguh ayahku mengagumkan ketika berkisah. Kami seakan-akan tersihir dengan kisah yang dituturkannya. Tapi begitulah cara ayahku mentransformasi ilmunya kepada kami. Bahkan bukan hanya kepada kami, kepada para muridnya yang lain pun yang rata-rata sudah berusia dewasa, ayah tetap tak ketinggalan menyampaikan kisah-kisah. Seakan-akan ayah tak pernah kehabisan stok cerita, ada saja cerita yang ia sampaikan. Dan yang patut diingat, para muridnya akan asyik berjam-jam mengikuti pelajaran yang diberikan ayahku. Entah karena pelajarannya, atau karena kisahnya yang membuat para murid ayahku betah berlama-lama duduk di ruang tamu rumahku mengikuti pelajaran ayah.
Kadang murid-murid ayah datang ke rumah, atau terkadang juga ayahlah yang mendatangi murid-muridnya. Muridnya berasal dari berbagai kalangan. Aku sendiri sering menemani ayah mendatangi muridnya di pasar, karena memang ada sebagian muridnya yang berprofesi sebagai pedagang. Entah bagaimana caranya ayah memberikan pelajaran kepada muridnya yang kadang melayani pembeli dan mengurus barang dagangannya. Tapi yang pasti, ayah punya cara tersendiri untuk hal itu.
Menurut cerita ayah, bahwa di masa mudanya, beliau juga adalah pedagang. Karena itulah, ayah banyak memiliki kenalan dari kalangan pedagang. Cara berdagang yang dilakoni ayah juga begitu uniknya. Setidaknya hal ini aku dapatkan dari kisah beliau sendiri. Ketika masa mudanya, ayah menjadi tangan kanan pamannya dalam berdagang. Perdagangan yang berlangsung sungguh di luar apa yang kita pikirkan selama ini. Bahkan boleh dikatakan dengan modal uang yang cukup minim. Modal yang paling diperlukan dalam perdagangan yang dilakoni ayahku itu lebih banyaknya adalah modal kecerdikan, serta juga keberanian. Ajang perdagangannya adalah di atas Sungai Kapuas.
Dengan menggunakan sampan, mereka (ayahku dan pamannya) berkayuh mendatangi para pedagang lainnya yang juga bersampan. Macam-macam pedagang yang mereka datangi, di antaranya adalah pedagang kelapa. Seakan-akan sebagai pembeli, mereka menawar barang dagangan tersebut dalam jumlah yang banyak, dan tentunya dengan harga tawaran yang diperkirakan akan mendatangkan keuntungan jika barang tersebut dijual lagi. Tentunya pedagang kelapa itu bergembira sekali, karena ada yang akan membeli dagangannya dalam jumlah yang banyak. Tawar-menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Pembayaran tidak dilakukan di tempat, melainkan baru akan dibayarkan ketika barang telah dimuat ke kapal. Memangnya kapal siapa, sedangkan mereka (ayahku dan pamannya) hanya bersampan? Tentunya bukan kapal milik mereka, melainkan kapal milik orang lain. Mengapa bisa seperti itu? Nah, di sinilah cerita uniknya.
Setelah itu, mereka berkayuh menuju kapal ataupun motor bandong yang sedang berlabuh yang mungkin sebelumnya telah mereka ketahui akan membeli kelapa dalam jumlah yang banyak. Transaksi kembali terjadi. Kini transaksi yang berlangsung adalah dengan pemilik kapal. Tawar menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Tentunya harga jual yang mereka tawarkan kepada pemilik kapal lebih tinggi dibandingkan harga jual dari pedagang kelapa. Setelah itu, mereka pun kembali mendatangi pedagang kelapa untuk segera memuat kelapa jualannya ke atas kapal. Setelah kelapa dimuat oleh pedagang kelapa ke atas kapal, maka mereka pun kembali mendatangi pemilik kapal untuk mengambil uang pembayaran dari pemilik kapal. Setelah itu, barulah mereka membayarkan uang tersebut kepada pedagang kelapa, yang tentunya dari pembayaran itu mereka sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan.
Lihatlah, ayahku dan pamannya telah melakoni perdagangan yang cukup unik. Mereka tidak bermodal uang sedikit pun, kecuali hanyalah bermodalkan keberanian, kecerdikan, dan kepercayaan dari pedagang kelapa dan pemilik kapal. Tenaga yang mereka keluarkan pun begitu minimnya, karena yang memuat kelapa tersebut ke kapal bukanlah mereka, melainkan pedagang kelapalah yang langsung memuatnya ke kapal. Dalam hal ini, pedagang kelapa puas, pemilik kapal juga puas. Pedagang kelapa merasa puas karena barang dagangannya telah terjual dalam jumlah yang lumayan banyak, sedangkan pemilik kapal merasa puas karena kapalnya telah terisi dengan barang yang diinginkannya tanpa harus bersusah payah mencari barang tersebut kepada para pedagang.
Mengapakah pedagang kelapa dan pemilik kapal bisa percaya kepada mereka? Mungkin bisa jadi pedagang kelapa mengira bahwa pemilik kapal itu adalah ayahku dan pamannya, atau setidaknya mengira bahwa mereka adalah pekerja ataupun orang kepercayaan ataupun orang yang memiliki otoritas tertentu di kapal tersebut. Sedangkan pemilik kapal mungkin mengira, bahwa yang memiliki dagangan kelapa itu adalah mereka, dan pedagang kelapa yang memuat kelapa tersebut ke kapalnya tak lain adalah pekerja ataupun pesuruh dari ayahku dan pamannya.
***
Pada waktu yang lain, ayah juga pernah berkisah mengenai seorang anak yang ingin belajar di suatu madrasah (sekolah). Setting cerita ini adalah di Timur Tengah. Entah karena apa, mungkin karena keluarganya tidak mampu, si anak pun kemudian tak dapat bersekolah. Karena tekad si anak yang begitu kuat untuk menuntut ilmu, maka si anak pun hanya mendengarkan pelajaran dari kolong ruangan kelas di madrasah itu tanpa diketahui oleh si guru dan murid-murid yang berada di dalam ruangan belajar tersebut.
Si anak menyimak dan mencatat setiap pelajaran yang didengarnya dari bawah kelas. Alat tulis yang digunakan anak itu untuk mencatat adalah berupa papan tulis kecil yang kalau catatannya sudah penuh, maka tulisan yang ada di papan tulisnya itu dihapus untuk kemudian digunakan lagi untuk menulis. Jadi jangan disamakan dengan catatan kita sekarang yang itu bisa disimpan dan suatu waktu bisa dibaca lagi, karena alat tulis yang digunakan anak itu tak lebih hanyalah media tulis sementara, untuk kemudian ia menyimpan catatannya itu langsung ke memori otaknya.
Hingga suatu ketika, si guru menanyakan kepada murid-muridnya mengenai suatu hal dari pelajaran yang telah disampaikannya. Ternyata murid-muridnya tak dapat menjawab pertanyaan si guru. Mungkin karena mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru, maka anak yang berada di bawah kolong kelas itu pun keluar, kemudian masuk ke dalam kelas. Ia mengatakan, bahwa ia mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru. Tentu saja guru dan murid-murid yang berada di dalam kelas menjadi heran akan hal ini. Berkat kebijaksanaan si guru, maka si anak itu pun dipersilakan untuk menjawab pertanyaan yang dimaksud. Dan ternyata, jawaban dari si anak itu benar. Entah cerita ini benar atau fiktif belaka, tapi yang pasti ayah hanya sekedar berkisah yang mungkin di dalam kisahnya itu ada hikmah yang bisa diambil.
Tentang cerita ayah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani yang menjebol lantai rumahnya, belakangan kiranya ada pertanyaan yang menggelayuti diriku. Apakah benar rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu seperti halnya rumah kami orang-orang Pontianak yang berupa rumah panggung, yaitu rumah yang tidak langsung terletak di atas tanah, melainkan ada tiang yang memisahkan lantai rumah dengan tanah, sehingga ada bagian yang lowong di bawah rumah. Karena itulah, rumah orang Pontianak selalu ada kolongnya (kolong rumah). Sedangkan kita ketahui bersama, bahwa rumah orang-orang di Timur Tengah adalah rumah yang terletak di atas tanah, bukanlah seperti rumah kami orang-orang Pontianak. Sepertinya ayah agak kurang teliti ketika mengisahkan cerita tersebut. Atau memang disengaja seperti itu, sehingga alam pikiran kami bisa langsung nyambung dengan membayangkan bahwa rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu sama halnya seperti rumah masyarakat Pontianak yang ada kolong rumahnya. Begitu juga dengan cerita si anak yang bersembunyi di bawah kolong kelas untuk menyimak pelajaran dari ruangan kelas yang ada di atasnya. Lagi-lagi ayah agak kurang teliti dalam mengisahkan cerita tersebut, atau memang disengaja seperti yang telah kusebutkan di atas.
Begitulah ayahku, orang tua sekaligus guru bagi kami anak-anaknya. Darinya kami mendapatkan pelajaran hidup melalui kisah-kisah yang dituturkannya. Dan melalui beliau pula kami anak-anaknya tumbuh dalam tradisi ilmu. Tradisi yang kiranya masih begitu langka di kampongku ketika itu, bahkan mungkin masih langka hingga kini. Tradisi yang dihidupkan di dalam keluarga sendiri oleh orang tuanya, yaitu tradisi keilmuan melalui media berkisah. Bagiku, sungguh apa yang telah dilakukan oleh ayahku itu adalah suatu terobosan kreatif di dalam keluarga kami yang bersahaja. Orang tua memang selayaknya juga menjadi guru dan pendidik bagi anak-anaknya. Dan didikan itu penuh dibaluti dengan nuansa demokratis dan kasih sayang yang kiranya kini pun masih jarang kita jumpai, bahkan di dunia pendidikan modern sekali pun. #*#
[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari-medio Agustus 2009]
Cerita sebelumnya
Kembali ke Daftar Isi
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
18:40 | 0 Comments
[Cerbung Senja Merah Jingga] 23- Kreativitas di Ambang Batas
Diposkan oleh
Hanafi Mohan
Label:
Cerbung: Senja Merah Jingga
SMP negeri di kecamatanku (Pontianak Timur) hanya ada dua ketika itu, yaitu SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 16. Selain itu, ada juga beberapa SMP swasta. Aku sendiri seperti yang pernah kusebutkan, yaitu bersekolah di SMP Negeri 4. Dua SMP negeri yang ada di kecamatanku ini kiranya dari sisi fasilitas begitu minim dibandingkan SMP negeri yang ada di kecamatan lain. Bagi orang tua siswa, pilihan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri bukanlah pilihan dari sisi fasilitas ataupun kualitasnya, melainkan karena biaya sekolahnya lebih murah dibandingkan sekolah swasta. Bagi yang tak beruntung karena NEM anaknya pas-pasan, maka tak ada pilihan lain kecuali menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Sekolah swasta yang dipilihpun kebanyakan adalah sekolah swasta yang biayanya murah serta fasilitas dan kualitas sekolahnya biasa-biasa saja.
Di SMP tempatku bersekolah berkumpul anak-anak yang berasal dari keluarga dengan berbagai macam strata sosial dan strata ekonomi. Jika dikalkulasi, kemungkinan kebanyakan berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tapi aku yakin hingga kini, bahwa siswa-siswi di SMP ku adalah anak-anak yang cemerlang dan berbakat. Hal ini dapat kulihat ketika beberapa kali sekolah kami menyabet sebagai juara pada beberapa perlombaan, baik itu di tingkat kecamatan maupun di tingkat kota. Salah satu contohnya adalah tim PRAMUKA kami yang ketika itu cukup disegani se-kota Pontianak. Selain PRAMUKA, pada beberapa bidang lain sekolah kami juga cukup disegani, seperti Voli dan Cerdas Cermat. Prestasi-prestasi ini ditoreh oleh sekolah negeri yang minim fasilitas.
Dengan fasilitas sekolah yang terbatas, kami kemudian menjelma menjadi siswa-siswa yang lebih kreatif dan kuat banting dibandingkan siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang fasilitasnya memadai. Itulah kiranya menurutku kelebihan dari siswa-siswa yang ada di sekolah yang minim fasilitas. Soal kecerdasan dan kualitas pendidikan, mungkin masih bisa diadu sekolah mana yang lebih berkualitas. Hal ini setidaknya sudah kami buktikan melalui beberapa kali event perlombaan cerdas cermat tingkat Kota Pontianak. Walaupun belum pernah meraih predikat juara pertama, tapi setidaknya kami masih bisa meraih juara kedua ataupun juara ketiga. Yang pasti hasilnya tak terlalu mengecewakan jika dibandingkan dengan begitu minimnya fasilitas sekolah kami.
***
Kami juga merupakan siswa yang begitu kompleks. Kreativitas, kecerdasan, dan kenakalan bercampur baur menjadi satu. Seorang siswa yang cerdas di sekolah kami bukan berarti tidak menyimpan potensi kenakalan. Kenakalan itu biasanya tersimpan begitu rupa, tiba-tiba ia keluar begitu saja sehingga banyak yang terheran-heran dan tak menyangka akan hal itu. Perhatikanlah tingkah siswa yang satu ini. Ia selalu mendapatkan predikat juara kelas, selalu disayangi oleh para gurunya, dan predikat sepuluh besar di sekolah pun selalu tak luput diraihnya. Tapi, apakah kemudian yang terjadi?
Suatu hari ketika itu, di kelasku ada jam kosong yang seharusnya ada pelajaran. Entahlah mengapa, mungkin guru yang seharusnya mengajar ketika itu sedang ada halangan sehingga tidak masuk ke kelas. Ada sekumpulan siswa di kelasku ketika itu yang mereka ini suka sekali bernyanyi-nyanyi ketika ada waktu senggang di kelas, biasanya ketika waktu istirahat. Entah mengapa ketika itu, mulut mereka sepertinya sudah tak tahan lagi untuk bernyanyi, apalagi cukup bosan juga menunggu-nunggu guru yang seharusnya mengajar ketika itu tak kunjung tiba juga ke kelas kami. Mereka ini tak hanya bernyanyi, tapi tangan mereka juga kreatif memukul-mukul meja yang terbuat dari kayu, seakan-akan meja itu adalah gendang. Memang tak lengkap kiranya nyanyian yang tak diiringi oleh perangkat perkusi seperti gendang. Mungkin di pikiran mereka, tak ada rotan akar pun jadi, tak ada gendang meja pun jadi. Maka mengalun-ngalunlah nyanyian seisi kelas yang lengkap diiringi gendang yang terbuat dari meja.
Riuh rendah seisi kelas, tapi memang sepertinya siswa seisi kelas cukup terhibur dengan nyanyian-nyanyian tersebut. Apalagi yang menyanyi adalah siswa-siswa yang cukup lumayan merdu suaranya. Ketika itu lebih banyak nyanyiannya adalah lagu dangdut yang lagi ngetop ketika itu seperti lagunya Evi Tamala, Imam S Arifin, dan Meggi Z. Dan tentunya tak ketinggalan lagu dari Bang Haji Rhoma Irama. Lagu Bang Haji Rhoma Irama yang lagi ngetop ketika itu adalah lagu yang bejudul “Stress”.
Tiba-tiba, tak disangka tak diduga, masuklah seorang guru kami, tepatnya seorang ibu guru. Memang sepertinya dari luar kelas begitu terdengar riuh, sehingga wajar saja guru kami ini masuk ke kelas. Dengan begitu, seisi kelas yang tadinya riuh-rendah tiba-tiba sunyi-senyap bagaikan ada malaikat yang lewat, sehingga roda waktu pun laksana berhenti dari perputarannya. Meledaklah perkataan dari mulut guru kami itu, “Tangan-tangan setan kalian ini!”.
Kata-kata ini seharusnya tak layak diucapkan oleh seorang guru. Tapi guru kami ini juga manusia, yang mungkin sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya. Guru kami ini pun mengatakan kepada siswa juara kelas kami yang ikut-ikutan bernyanyi, menggendang-gendang meja, dan membuat keriuhan di kelas ketika itu, “Kamu sebagai juara kelas seharusnya memberikan contoh yang baik kepada teman-teman kelasmu. Tapi ini, malahan kamu yang ikut-ikutan membuat keriuhan di kelas.”
Pucat pasi wajah si juara kelas. Mulutnya pun terkunci sejadi-jadinya. Kini, terbongkarlah kenakalannya yang diam-diam itu. Sepertinya ia sudah tak ada muka lagi di depan guru dan teman-temannya.
***
Di lain waktu, si juara kelas ini membuat ulah lagi. Kali ini bukan di kelas, melainkan di kantor guru dan kantor kepala sekolah. Ketika itu, kantor guru dan kantor kepala sekolah sedang sunyi tak ada satu orang pun. Si juara kelas sebenarnya ada suatu urusan yang harus diselesaikannya dengan kepala sekolah. Ketika itu ia bersama Ketua OSIS yang juga siswa di kelas kami. Karena kantor kepala sekolah sedang sepi, menunggulah mereka berdua di kantor kepala sekolah yang memang letaknya pas bersebelahan dengan kantor guru. Lama juga mereka menunggu, sehingga mungkin kemudian muncul kebosanan.
Entah mengapa, kebosanan sepertinya selalu memunculkan kekreatifan. Mereka berdua melihat ada telepon yang digunakan sebagai media komunikasi antar ruangan kantor. Si juara kelas pun bergerak ke arah telepon yang dimaksud. Si Ketua OSIS belum terlalu mengerti akan tindakan si juara kelas. Si juara kelas kemudian memencet nomor telepon, sehingga berderinglah telepon yang serupa di ruangan guru. Si juara kelas mengatakan kepada si Ketua OSIS untuk mengangkat telepon yang berdering di ruang guru. Lalu si Ketua OSIS pun ke ruangan guru untuk mengangkat telepon yang sedang berdering. Barulah si Ketua OSIS sadari, bahwa yang menelepon tersebut adalah si juara kelas. Maka mereka pun bercakap-cakaplah di telepon. Tentunya pembicaraan mereka tak lebih hanyalah pembicaraan iseng.
Habis begitu sajakah aksi mereka? Ternyata tidak, karena tiba-tiba masuk seorang guru BP ke dalam kantor kepala sekolah, karena memang guru BP kami ini ruangannya juga berada di dalam kantor kepala sekolah. Guru BP ini adalah guru yang paling disegani oleh kebanyakan siswa. Jika ada siswa yang memiliki suatu kasus, maka guru BP inilah yang akan menyelesaikannya. Mengetahui guru BP ini masuk, lantas kedua siswa ini pun langsung kabur meninggalkan tempat kejadian perkara. Mereka ini tentunya menjadi buronan, karena kejahatan yang mereka lakukan tertangkap tangan (tertangkap basah) dan ada saksi yang melihatnya yang tak lain adalah guru BP sekolah kami.
Kedua buronan ini tentunya langsung dicari. Mereka tak dapat melarikan diri ke mana-mana. Si penjahat kacangan ini tak lama kemudian langsunglah tertangkap, kemudian langsung diinterogasi sekaligus disidang oleh guru BP. Sekali lagi, si juara kelas menunjukkan potensinya yang lain, yaitu potensi yang tak layak untuk dibanggakan, malahan merupakan sesuatu yang memalukan jika diketahui oleh seisi sekolah, dan tak layak kiranya diceritakan kepada anak cucu. Tapi untungnya peristiwa ini hanya diketahui oleh guru BP, sedangkan guru yang lainnya sama sekali tak mengetahuinya. Siswa-siswa yang lain pun juga tak ada satu pun yang mengetahui peristiwa yang memalukan ini. Sehingga, jadilh peristiwa ini rahasia di antara mereka bertiga. Tentunya dalam hal ini sepertinya guru BP tak ingin membuat malu si juara kelas dan si Ketua OSIS kepada seisi sekolah.
Tahukah kau kawan, siapakah si juara kelas yang memiliki potensi kenakalan diam-diam yang kumaksud? Tak lain dan tak bukan, orang yang dimaksud adalah aku. Tentunya hal ini menjadi pengalaman yang takkan pernah kulupakan hingga kapanpun.
***
Di saat yang lain, ketika itu sekolah kami usai mengikuti suatu pertandingan persahabatan dengan sekolah lain. Pertandingan yang dimaksud adalah pertandingan voli. Sekolah kami ketika itu dikenal sebagai sekolah yang tangguh di bidang olahraga yang satu ini. Selalu saja kemenangan yang kami dapatkan.
Singkat cerita, setelah pertandingan itu, tim voli dan beberapa siswa lain yang menjadi ofisial singgah di rumah ketua OSIS kami. Mungkin sekedar menghilangkan letih atau apalah itu namanya. Rumah ketua OSIS kami ketika itu memang sering menjadi tempat berkumpul. Lagi-lagi, kekreatifan muncul dari siswa sekolah kami. Kali ini tak tanggung-tanggung, karena sudah menjurus ke tindakan pidana. Tak tanggung-tanggung juga, karena tindakan pidana ini dilakukan di rumah guru BP sekolah kami yang tempo hari meinginterogasi dan menyidang aku dan ketua OSIS. Apa pulakah tindak pidana yang dimaksud? Begini ceritanya.
Kali itu setelah pertandingan voli yang kusebutkan di atas, teman-temanku berkumpul di rumah Ketua OSIS kami. Aku sendiri ketika itu langsung pulang ke rumah, sehingga terlepaslah dari tindak pidana yang teman-temanku lakukan itu. Ketua OSIS kami ini tinggal satu gang dan bertetanggaan dengan beberapa orang guru. Termasuk salah satu tetangganya adalah guru BP sekolah kami. Mungkin pada awalnya mereka tak berniat melakukan tindakan itu. Tapi entah mengapa, seperti kata Bang Napi, bahwa kejahatan bukan karena ada niat dari pelakunya, melainkan kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Karena itu, waspadalah …, waspadalah…!!!
Semuanya ini berawal dari godaan si pokok (pohon) asam (mangga) yang berdiri tegak di depan rumah guru BP kami. Buahnya nan ranum yang berjuntai-juntaian di pokoknya itu tentunya mengundang selera siapapun yang lewat di depan rumah guru BP. Keinginan si orang yang lewat tentunya akan mulus jika dilakukan dengan cara yang baik, yaitu cara yang halalan thayyiban kata para khatib shalat Jum’at. Tapi, tentunya tak ada yang menduga, si orang yang lewat ini nekat melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma agama dan masyarakat. Entah karena keinginan menyantap si buah asam yang menggiurkan itu sudah di ubun-ubun, atau mungkin karena ada setan yang menyasar menggoda teman-temanku itu, karena tak dinyana, mereka dengan buasnya merunduh buah asam di pokoknya yang tak berdosa itu. Ada yang memanjatnya bagaikan kera yang profesional, dan ada juga yang menjoloknya menggunakan galah. Dan yang patut diingat pula, bahwa kejadian ini dilakukan teman-temanku pada pokok asam milik guru BP kami. Apalagi pokok asam itu tepat berada di halaman rumah guru BP. Begitulah singkat ceritanya.
***
Sepandai-pandainya kera memanjat pokok, akhirnya terjerembab juga. Begitulah kiranya nasib teman-temanku yang telah nekat melakukan perbuatan ilegal di halaman rumah guru BP kami. Singkat cerita, besoknya ketika kami masuk sekolah, teman-temanku yang melakukan tindak kriminal kecil-kecilan itu (termasuk di dalamnya adalah Ketua OSIS kami) dipanggil menghadap ke ruang guru BP untuk diinterogasi sekaligus diadili. Polisi, jaksa, dan hakimnya sekaligus adalah tak lain guru BP kami. Entah dari mana pengaduan berasal, tapi yang pasti kasus pun kemudian bergulir. Untungnya guru BP kami masih berbaik hati terhadap siswa-siswanya yang “kreatif” tak kepalang tanggung ini. Sebagaimana layaknya guru, teman-temanku ini tetap diberlakukan sebagai siswa yang harus diayomi, dididik, dan disayangi sebagaimana layaknya orang tua terhadap anaknya, guru terhadap siswanya. Tapi yang pasti, teman-temanku ini tetap diomeli, diceramahi, dan dinasihati begitu rupa. Tak lain dan tak bukan, agar mereka di lain hari tak lagi melakukan perbuatan yang serupa. Agar mereka ke depannya bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. #*#
[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari – awal Agustus 2009]
Cerita sebelumnya
Kembali ke Daftar Isi
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
Di SMP tempatku bersekolah berkumpul anak-anak yang berasal dari keluarga dengan berbagai macam strata sosial dan strata ekonomi. Jika dikalkulasi, kemungkinan kebanyakan berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tapi aku yakin hingga kini, bahwa siswa-siswi di SMP ku adalah anak-anak yang cemerlang dan berbakat. Hal ini dapat kulihat ketika beberapa kali sekolah kami menyabet sebagai juara pada beberapa perlombaan, baik itu di tingkat kecamatan maupun di tingkat kota. Salah satu contohnya adalah tim PRAMUKA kami yang ketika itu cukup disegani se-kota Pontianak. Selain PRAMUKA, pada beberapa bidang lain sekolah kami juga cukup disegani, seperti Voli dan Cerdas Cermat. Prestasi-prestasi ini ditoreh oleh sekolah negeri yang minim fasilitas.
Dengan fasilitas sekolah yang terbatas, kami kemudian menjelma menjadi siswa-siswa yang lebih kreatif dan kuat banting dibandingkan siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang fasilitasnya memadai. Itulah kiranya menurutku kelebihan dari siswa-siswa yang ada di sekolah yang minim fasilitas. Soal kecerdasan dan kualitas pendidikan, mungkin masih bisa diadu sekolah mana yang lebih berkualitas. Hal ini setidaknya sudah kami buktikan melalui beberapa kali event perlombaan cerdas cermat tingkat Kota Pontianak. Walaupun belum pernah meraih predikat juara pertama, tapi setidaknya kami masih bisa meraih juara kedua ataupun juara ketiga. Yang pasti hasilnya tak terlalu mengecewakan jika dibandingkan dengan begitu minimnya fasilitas sekolah kami.
***
Kami juga merupakan siswa yang begitu kompleks. Kreativitas, kecerdasan, dan kenakalan bercampur baur menjadi satu. Seorang siswa yang cerdas di sekolah kami bukan berarti tidak menyimpan potensi kenakalan. Kenakalan itu biasanya tersimpan begitu rupa, tiba-tiba ia keluar begitu saja sehingga banyak yang terheran-heran dan tak menyangka akan hal itu. Perhatikanlah tingkah siswa yang satu ini. Ia selalu mendapatkan predikat juara kelas, selalu disayangi oleh para gurunya, dan predikat sepuluh besar di sekolah pun selalu tak luput diraihnya. Tapi, apakah kemudian yang terjadi?
Suatu hari ketika itu, di kelasku ada jam kosong yang seharusnya ada pelajaran. Entahlah mengapa, mungkin guru yang seharusnya mengajar ketika itu sedang ada halangan sehingga tidak masuk ke kelas. Ada sekumpulan siswa di kelasku ketika itu yang mereka ini suka sekali bernyanyi-nyanyi ketika ada waktu senggang di kelas, biasanya ketika waktu istirahat. Entah mengapa ketika itu, mulut mereka sepertinya sudah tak tahan lagi untuk bernyanyi, apalagi cukup bosan juga menunggu-nunggu guru yang seharusnya mengajar ketika itu tak kunjung tiba juga ke kelas kami. Mereka ini tak hanya bernyanyi, tapi tangan mereka juga kreatif memukul-mukul meja yang terbuat dari kayu, seakan-akan meja itu adalah gendang. Memang tak lengkap kiranya nyanyian yang tak diiringi oleh perangkat perkusi seperti gendang. Mungkin di pikiran mereka, tak ada rotan akar pun jadi, tak ada gendang meja pun jadi. Maka mengalun-ngalunlah nyanyian seisi kelas yang lengkap diiringi gendang yang terbuat dari meja.
Riuh rendah seisi kelas, tapi memang sepertinya siswa seisi kelas cukup terhibur dengan nyanyian-nyanyian tersebut. Apalagi yang menyanyi adalah siswa-siswa yang cukup lumayan merdu suaranya. Ketika itu lebih banyak nyanyiannya adalah lagu dangdut yang lagi ngetop ketika itu seperti lagunya Evi Tamala, Imam S Arifin, dan Meggi Z. Dan tentunya tak ketinggalan lagu dari Bang Haji Rhoma Irama. Lagu Bang Haji Rhoma Irama yang lagi ngetop ketika itu adalah lagu yang bejudul “Stress”.
Tiba-tiba, tak disangka tak diduga, masuklah seorang guru kami, tepatnya seorang ibu guru. Memang sepertinya dari luar kelas begitu terdengar riuh, sehingga wajar saja guru kami ini masuk ke kelas. Dengan begitu, seisi kelas yang tadinya riuh-rendah tiba-tiba sunyi-senyap bagaikan ada malaikat yang lewat, sehingga roda waktu pun laksana berhenti dari perputarannya. Meledaklah perkataan dari mulut guru kami itu, “Tangan-tangan setan kalian ini!”.
Kata-kata ini seharusnya tak layak diucapkan oleh seorang guru. Tapi guru kami ini juga manusia, yang mungkin sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya. Guru kami ini pun mengatakan kepada siswa juara kelas kami yang ikut-ikutan bernyanyi, menggendang-gendang meja, dan membuat keriuhan di kelas ketika itu, “Kamu sebagai juara kelas seharusnya memberikan contoh yang baik kepada teman-teman kelasmu. Tapi ini, malahan kamu yang ikut-ikutan membuat keriuhan di kelas.”
Pucat pasi wajah si juara kelas. Mulutnya pun terkunci sejadi-jadinya. Kini, terbongkarlah kenakalannya yang diam-diam itu. Sepertinya ia sudah tak ada muka lagi di depan guru dan teman-temannya.
***
Di lain waktu, si juara kelas ini membuat ulah lagi. Kali ini bukan di kelas, melainkan di kantor guru dan kantor kepala sekolah. Ketika itu, kantor guru dan kantor kepala sekolah sedang sunyi tak ada satu orang pun. Si juara kelas sebenarnya ada suatu urusan yang harus diselesaikannya dengan kepala sekolah. Ketika itu ia bersama Ketua OSIS yang juga siswa di kelas kami. Karena kantor kepala sekolah sedang sepi, menunggulah mereka berdua di kantor kepala sekolah yang memang letaknya pas bersebelahan dengan kantor guru. Lama juga mereka menunggu, sehingga mungkin kemudian muncul kebosanan.
Entah mengapa, kebosanan sepertinya selalu memunculkan kekreatifan. Mereka berdua melihat ada telepon yang digunakan sebagai media komunikasi antar ruangan kantor. Si juara kelas pun bergerak ke arah telepon yang dimaksud. Si Ketua OSIS belum terlalu mengerti akan tindakan si juara kelas. Si juara kelas kemudian memencet nomor telepon, sehingga berderinglah telepon yang serupa di ruangan guru. Si juara kelas mengatakan kepada si Ketua OSIS untuk mengangkat telepon yang berdering di ruang guru. Lalu si Ketua OSIS pun ke ruangan guru untuk mengangkat telepon yang sedang berdering. Barulah si Ketua OSIS sadari, bahwa yang menelepon tersebut adalah si juara kelas. Maka mereka pun bercakap-cakaplah di telepon. Tentunya pembicaraan mereka tak lebih hanyalah pembicaraan iseng.
Habis begitu sajakah aksi mereka? Ternyata tidak, karena tiba-tiba masuk seorang guru BP ke dalam kantor kepala sekolah, karena memang guru BP kami ini ruangannya juga berada di dalam kantor kepala sekolah. Guru BP ini adalah guru yang paling disegani oleh kebanyakan siswa. Jika ada siswa yang memiliki suatu kasus, maka guru BP inilah yang akan menyelesaikannya. Mengetahui guru BP ini masuk, lantas kedua siswa ini pun langsung kabur meninggalkan tempat kejadian perkara. Mereka ini tentunya menjadi buronan, karena kejahatan yang mereka lakukan tertangkap tangan (tertangkap basah) dan ada saksi yang melihatnya yang tak lain adalah guru BP sekolah kami.
Kedua buronan ini tentunya langsung dicari. Mereka tak dapat melarikan diri ke mana-mana. Si penjahat kacangan ini tak lama kemudian langsunglah tertangkap, kemudian langsung diinterogasi sekaligus disidang oleh guru BP. Sekali lagi, si juara kelas menunjukkan potensinya yang lain, yaitu potensi yang tak layak untuk dibanggakan, malahan merupakan sesuatu yang memalukan jika diketahui oleh seisi sekolah, dan tak layak kiranya diceritakan kepada anak cucu. Tapi untungnya peristiwa ini hanya diketahui oleh guru BP, sedangkan guru yang lainnya sama sekali tak mengetahuinya. Siswa-siswa yang lain pun juga tak ada satu pun yang mengetahui peristiwa yang memalukan ini. Sehingga, jadilh peristiwa ini rahasia di antara mereka bertiga. Tentunya dalam hal ini sepertinya guru BP tak ingin membuat malu si juara kelas dan si Ketua OSIS kepada seisi sekolah.
Tahukah kau kawan, siapakah si juara kelas yang memiliki potensi kenakalan diam-diam yang kumaksud? Tak lain dan tak bukan, orang yang dimaksud adalah aku. Tentunya hal ini menjadi pengalaman yang takkan pernah kulupakan hingga kapanpun.
***
Di saat yang lain, ketika itu sekolah kami usai mengikuti suatu pertandingan persahabatan dengan sekolah lain. Pertandingan yang dimaksud adalah pertandingan voli. Sekolah kami ketika itu dikenal sebagai sekolah yang tangguh di bidang olahraga yang satu ini. Selalu saja kemenangan yang kami dapatkan.
Singkat cerita, setelah pertandingan itu, tim voli dan beberapa siswa lain yang menjadi ofisial singgah di rumah ketua OSIS kami. Mungkin sekedar menghilangkan letih atau apalah itu namanya. Rumah ketua OSIS kami ketika itu memang sering menjadi tempat berkumpul. Lagi-lagi, kekreatifan muncul dari siswa sekolah kami. Kali ini tak tanggung-tanggung, karena sudah menjurus ke tindakan pidana. Tak tanggung-tanggung juga, karena tindakan pidana ini dilakukan di rumah guru BP sekolah kami yang tempo hari meinginterogasi dan menyidang aku dan ketua OSIS. Apa pulakah tindak pidana yang dimaksud? Begini ceritanya.
Kali itu setelah pertandingan voli yang kusebutkan di atas, teman-temanku berkumpul di rumah Ketua OSIS kami. Aku sendiri ketika itu langsung pulang ke rumah, sehingga terlepaslah dari tindak pidana yang teman-temanku lakukan itu. Ketua OSIS kami ini tinggal satu gang dan bertetanggaan dengan beberapa orang guru. Termasuk salah satu tetangganya adalah guru BP sekolah kami. Mungkin pada awalnya mereka tak berniat melakukan tindakan itu. Tapi entah mengapa, seperti kata Bang Napi, bahwa kejahatan bukan karena ada niat dari pelakunya, melainkan kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Karena itu, waspadalah …, waspadalah…!!!
Semuanya ini berawal dari godaan si pokok (pohon) asam (mangga) yang berdiri tegak di depan rumah guru BP kami. Buahnya nan ranum yang berjuntai-juntaian di pokoknya itu tentunya mengundang selera siapapun yang lewat di depan rumah guru BP. Keinginan si orang yang lewat tentunya akan mulus jika dilakukan dengan cara yang baik, yaitu cara yang halalan thayyiban kata para khatib shalat Jum’at. Tapi, tentunya tak ada yang menduga, si orang yang lewat ini nekat melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma agama dan masyarakat. Entah karena keinginan menyantap si buah asam yang menggiurkan itu sudah di ubun-ubun, atau mungkin karena ada setan yang menyasar menggoda teman-temanku itu, karena tak dinyana, mereka dengan buasnya merunduh buah asam di pokoknya yang tak berdosa itu. Ada yang memanjatnya bagaikan kera yang profesional, dan ada juga yang menjoloknya menggunakan galah. Dan yang patut diingat pula, bahwa kejadian ini dilakukan teman-temanku pada pokok asam milik guru BP kami. Apalagi pokok asam itu tepat berada di halaman rumah guru BP. Begitulah singkat ceritanya.
***
Sepandai-pandainya kera memanjat pokok, akhirnya terjerembab juga. Begitulah kiranya nasib teman-temanku yang telah nekat melakukan perbuatan ilegal di halaman rumah guru BP kami. Singkat cerita, besoknya ketika kami masuk sekolah, teman-temanku yang melakukan tindak kriminal kecil-kecilan itu (termasuk di dalamnya adalah Ketua OSIS kami) dipanggil menghadap ke ruang guru BP untuk diinterogasi sekaligus diadili. Polisi, jaksa, dan hakimnya sekaligus adalah tak lain guru BP kami. Entah dari mana pengaduan berasal, tapi yang pasti kasus pun kemudian bergulir. Untungnya guru BP kami masih berbaik hati terhadap siswa-siswanya yang “kreatif” tak kepalang tanggung ini. Sebagaimana layaknya guru, teman-temanku ini tetap diberlakukan sebagai siswa yang harus diayomi, dididik, dan disayangi sebagaimana layaknya orang tua terhadap anaknya, guru terhadap siswanya. Tapi yang pasti, teman-temanku ini tetap diomeli, diceramahi, dan dinasihati begitu rupa. Tak lain dan tak bukan, agar mereka di lain hari tak lagi melakukan perbuatan yang serupa. Agar mereka ke depannya bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. #*#
[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari – awal Agustus 2009]
Cerita sebelumnya
Kembali ke Daftar Isi
Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Read More ..
16:21 | 3 Comments
Langgan:
Entri (Atom)














