Senin, 07 Juli 2014

Melawat ke Pintu Kote

Istana Qadriyah tampak dari rumah kerabat Kesultanan Pontianak
Juru Foto: Yusni Nahkoda
Pagi Ahad 18 Mei 2014, Kota Khatulistiwa sedang cerah. Sisa-sisa selepas Pemilu Legislatif 2014 sudah tak tampak. Masyarakat kembali seperti biasa kehidupannya. Sesekali terdengar juga bincang ringan mengenai Pemilu Legislatif tempo hari. Juga Pemilihan Presiden yang tak lama lagi dijelang.

Kampong Tambelan masih seperti beberapa bulan lalu, hanya ada perubahan sedikit. Rumah peninggalan almarhum ayah yang sedang direhab (atau lebih tepatnya dirombak), juga surau yang dulu beliau bangun yang sama lagi direhab, mungkin itu yang lebih terlihat. Kampong Tambelan yang tak sama lagi seperti dulu, lebih dikarenakan para tetuanya sudah ramai yang wafat. Selebihnya masihlah seperti biasa, masyarakat Melayu-nya yang selalu membuat rindu.

Bersama seorang sahabat, pagi Ahad ini berencana melawat ke Istana Qadriyah, tempat yang pernah menjadi pusat daulat Negeri Pontianak. Lagi-lagi, rindulah yang menguatkan kaki menuju tempat singgasana Kesultanan Pontianak itu berada. Waktu memang tak tersedia terlalu luang, mengingat sore Ahad ini sudah harus terbang balik ke Tanah Betawi.

Sepanjang Jalan Tanjung Raya I adalah tempat-tempat kenangan diri pernah teruntai. Maka perjalanan menuju Istana Qadriyah kali ini juga merupakan perjalanan menelusuri nostalgia.


Istana Qadriyah Kesultanan Pontianak (tampak dari depan)
Juru Foto: Yusni Nahkoda

Waktu memang tak terkurung, melainkan ia bergerak sesuai dengan hukum sejarah. Walaupun ia tak lumpuh, tapi hingga kini ia membisu. Generasi kini hanya merasakan dampak sejarah, sedangkan fakta sebenarnya semakin hari semakin buram.

Dan negeri ini yang dahulunya berdaulat, kini tak lebih bagai negeri tak bertuan, atau lebih tampak sebagai negeri yang dikuasai oleh kaum asing. Tak ada yang berubah sejak bertahun-tahun silam, kecuali hanya secuil, bahkan kini semakin tak menentu. Hancur luluh lantak marwahnya, bertabur biaran lintang pukang putera-puteri negerinya.


Berjualan (pakaian dan sebagainya) di dekat plang nama Istana Qadriyah
Juru Foto: Dony Oesman

Detik-detik melewati ruas Jalan Tanjung Raya I adalah masa-masa yang penuh remuk redam. Nostalgia yang bertumpuk-tumpuk dengan sejarah kehancuran negeri ini yang mengharu-biru.

Setelahnya, melewati pula simpang tiga perjumpaan Jalan Tanjung Raya I, jalan menuju Istana Qadriyah (yang tepat berada di Kampong Dalam), dan jalan menuju Kampong Bugés-Kampong Arab-Kampong Tanjong Ilé'. Karena hendak menuju ke Istana Qadriyah, maka ke arah kiri lah kendaraan bergerak. Puing-puing kehancuran itu semakin berjejal-jejal.

Dari arah darat, menuju ke Istana Qadriyah berarti menuju ke arah laot. Begitulah arah mata angin yang kami kenal (ulu, ilé', darat, dan laot). Mesjéd Jami' Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadri (Mesjéd Jami’ Kesultanan Pontianak) pas berada di tepi Sungai Kapuas, tak jauh dari simpang tiga perjumpaan Sungai Kapuas dan Sungai Landak (kami biasa menyebutnya Tanjong Besiku). Senentang dengan Mesjéd Jami' terdapatlah Istana Qadriyah.

Pintu Kote (tampak banyak kendaraan yang sedang diparkirkan)
Juru Foto: Dony Oesman

Jika Mesjéd Jami' tepat berada di tepi Sungai Kapuas, maka tidak demikian dengan Istana Qadriyah. Dari tepi Sungai Kapuas di sekitar Tanjong Besiku dapat dilihat secara jelas bangunan Mesjéd Jami' yang khas itu. Dari Mesjéd Jami', berjalan sedikit ke arah ulu barulah kita dapat menjumpai Istana Qadriyah. Untuk menuju ke Istana Qadriyah, kita harus melewati dulu benteng istana berupa gerbang. Masyarakat Pontianak biasa menyebut benteng istana ini dengan sebutan Gerbang Kote atau Pintu Kote. Dari sinilah sebenarnya isi tulisan ini bermula.

Di sekitar Pintu Kote kini lebih tampak seperti pasar (dan memanglah pasar yang tak tentu rudu bentuknya). Sudah tak tampak lagi kalau di situ dahulunya adalah pusat daulat Negeri Pontianak. Entah bagaimana lagi menggambarkan betapa sebaknya hati memandang semua itu.

Dahulu ketika masih sering melintas di sekitar Pintu Kote ini memanglah suasananya sudah seperti itu, ramai, apalagi memang ada pasar dan kedai-kedai yang berhampiran di dekatnya. Tapi kini suasana yang tampak itu semakin kacau balau tak tentu rupa.

Berjualan pakaian di dekat Tugu Peringatan
Juru Foto: Dony Oesman


Tugu Peringatan, demikianlah kami biasa menyebutnya. Didirikannya tugu itu merupakan tapak ingatan rakyat Negeri Pontianak, tanda kasih sayang rakyat terhadap sultannya. Tugu yang berada di dekat Pintu Kote tersebut dibangun untuk memperingati 40 tahun masa pemerintahan Sultan Syarif Muhammad Al-Qadri (Sultan Pontianak ke-VI). Tapi kini apa pula macamnya yang terjadi dengan bangunan Tugu Peringatan tersebut? Lihatlah, orang-orang yang entah dari mana datangnya itu, orang-orang yang tak punya adab dan tak punya adat itu dengan semau hatinya menggantung-gantungkan barang dagangannya tepat di Tugu Peringatan yang dimaksud. Pemandangan tak sedap tersebut sungguh menyayat-nyayat hati, bagai dihiris sembilu, kemudian luka itu disiram cuka.

Pengunjung yang sedang berfoto-foto di Balairung Istana Qadriyah
Juru Foto: Yusni Nahkoda

Lihatlah pula pemandangan lainnya yang tak kalah memilukan. Motor dan mobil yang seenaknya saja dilintangkan oleh para pengemudinya di sepanjang jalan dekat Pintu Kote, bahkan ada yang sampai meletakkan kendaraannya pas di laman Istana Qadriyah di dekat tangga naik ke istana. Belum lagi pakaian orang-orang entah dari mana itu yang berkunjung masuk ke Istana Qadriyah, yang pakaiannya itu seperti pakaian orang-orang yang tak punya adat serta tak punya adab. Belum lagi perangai orang-orang tersebut di dalam Istana Qadriyah, poto sana poto sini, bergerak ke sana bergerak ke sini, entah apa pula yang ada di dalam isi kepala mereka itu. Tak tau kah mereka bahwa tempat yang ditijak-tijaknya itu adalah tempat para sultan kami suatu kala dahulu memangku Negeri Pontianak dengan segenap daulat, marwah, dan martabat, hingga tamaddun negeri kami menjulang puncak kegemilangannya.

Daulat Negeri Pontianak ini memang telah runtuh berkeping-keping. Dan kini keruntuhan itu semakin bersimaharajalela, seakan-akan sudah tak ada lagi sesiapapun yang kuasa menegakkannya. Tak terkecuali juga Kerabat Kesultanan Pontianak pun satu persatu tak ada lagi yang punya daya upaya melakukannya.

Istana Qadriyah tampak dari laman
Juru Foto: Yusni Nahkoda

Istana-istana Kesultanan Melayu sepatutnyalah mendapat perhatian lebih dari semua elemen masyarakat. Bukanlah seperti selama ini dibiarkan terlantar. Dahulu istana-istana Kesultanan Melayu tersebut adalah pusat kedaulatan dan peradaban. Namun kini ibarat kata pepatah "Hidup segan, mati tak mau".

Kita tak ingin istana-istana tersebut hanya menjadi semacam tempat kunjungan bersejarah, setelah itu kemudian dilupakan, dimasukkan ke dalam kotak barang antik. Istana-istana tersebut bukanlah tempat kunjungan wisata, bukan pula museum barang-barang antik, melainkan ia adalah pusat kedaulatan dan peradaban suatu negeri.

Tiang Bendera di depan Istana Qadriyah
Juru Foto: Yusni Nahkoda
Setelah perjalanan menelusuri nostalgia, diri pun kembali lagi ke Tanah Betawi, meninggalkan Negeri Pontianak, menyisakan cerita yang tak berujung batas. Hanya berharap, di suatu masa dapat kembali ke tanah kelahiran, melanjutkan perjuangan generasi terdahulu yang terkandaskan. Pada saatnya nanti, akan tiba daulat kembali dijelang, demi menjulangkan tamaddun negeri yang gilang-gemilang. Sebagaimana dahulu Bendera Negeri Pontianak dengan gagahnya berkibar di laman Istana Qadriyah. Demikian pula dahulu Meriam Stimbol tak hanya menjadi pajangan belaka di muka tangga istana. [#*#]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Juni 2014
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Juru Foto: Yusni Nahkoda dan Dony Oesman


Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Laman Web "Pontianakite"


Selengkapnya.....

Selasa, 17 Juni 2014

Arus Deras: Ihwal Arus Deras

Arus Deras: Ihwal Arus Deras: Laman Blog " Arus Deras " hadir dengan mengusung filosofi Air, Sungai, dan Laut. Adalah suara yang menyeruak dari kejengahan akan ... Selengkapnya.....

Sabtu, 17 Mei 2014

Syair Menjulang Pantun


Bismillah itu ayat permulaan
Assalamu’alaykum hamba sampaikan
Kepada hadhirin hadhirat sekalian
Tuan dan Puan marilah dengarkan

Sastera Melayu khazanah bangsa
Budaya dan bahasa patut dijaga
Supaya jangan punah binasa
Sentiasa gemilang serta berjaya

Bahasa kita penuhlah hikmah
Untuk sampaikan ilmu dan kauniyah
Bertentu tuju meluruskan aqidah
Hinggalah insan berakhlaqul karimah

Tersebutlah sastera tradisi Melayu
Selalu masyhur tiada ‘kan layu
Maknanya dalam menyentuh qalbu
Berisi petuah sudahlah tentu

Sastera tersebut Pantun namanya
Khazanah Melayu puak berbudaya
Penanda kaum beradat berbangsa
Kaum yang tentu elok berbahasa

Pantun itu empat lah baris
Dua bagian ia berlapis
Dua lariknya ibarat penapis
Dua kemudian isi penghabis

Pantun tersusun sungguh rapinya
Pertama disebut pembayang namanya
Lalu kedua isilah adanya
Taut bertaut indah dirangkainya

Dalam berpantun haruslah pandai
Patutlah pacak dalam merangkai
Kata bermakna lagi teruntai
Cerminannya jiwa yang telah terungkai

Sastera Pantun indah bahasanya
Warisan budaya kaum berbangsa
Beradat resam sarat untaiannya
Nasihat ajaran makna risalahnya

Menyampaikan pantun berpada-pada
Menjaga hati sanak saudara
Pesan dilafazh sampai ke jiwa
Sentiasa diingat bilapun masa

Adapun pantun bermacam ragamnya
Sesuai maksud ‘kan disampaikannya
Bahasa itu jiwanya bangsa
Untaian pantun khazanah budaya

Demikian Syair telah dimadah
Menjulang Pantun khathamlah sudah
Semoga majelis dilimpah berkah
Wa billahi tawfiq wal hidayah [#@#]



Hanafi Mohan
Ditulis di Tanah Betawi,
25 Jumadil Akhir – 1 Rajjab 1435 Hijriyyah/
26 April – 1 Mei 2014 Miladiyyah



** Syair ini ditulis dalam Bahasa Melayu

*** Khusus dipersembahkan dalam rangka Milad Grup Facebook “Berpantun dalam Celoteh (BDC)” yang ke-1 tahun. Diselenggarakan di Negeri Pontianak, hari Khamis, tarikh 15 haribulan Rajjab sanat 1435 Hijriyyah, bertepatan dengan tarikh 15 haribulan Mei sanat 2014 Miladiyyah.



Sumber gambar ilustrasi: http://fcendvsyudesign.blogspot.com/


Syair ini dimuat di Laman Blog "Arus Deras"

Selengkapnya.....

Senin, 12 Mei 2014

Menulis dalam Bahasa Melayu


"Saudara bangsa apa?" Jika ada yang bertanya macam itu kepada saya, maka dengan tegas akan saya jawab, tanpa sedikitpun keraguan dan tanpa menyisakan sejengkalpun ruang kosong kebimbangan, bahwa "Saya Bangsa Melayu."

Tersebab saya ini Bangsa Melayu, yang lahir dan besar di Negeri Pontianak, di Borneo Barat adanya, Pulau Borneo yang berada di gugusan Kepulauan Melayu, maka sudah sepatutnya jika menulis saya lebih mengedepankan berbahasa Melayu. Iya, saya selalu menulis di dalam Bahasa Melayu, karena itulah bahasa ibunda saya, bahasa kaum saya, bahasa bangsa saya. Hanya dengan Bahasa Melayu saya bisa menyampaikan pikiran-pikiran yang mawjud di kepala. Ketika menulis pun saya lebih mengutamakan menggali kata-kata yang ada di khazanah Bahasa Melayu sendiri, tulisan dalam bentuk apapun itu. Sesekali saya sempatkan pula menulis dalam Bahasa Melayu Loghat Pontianak misalkan, yang dari situlah salah satu sumber penggalian kata-kata di dalam khazanah Bahasa Melayu seperti yang termaksud.

Bukan hanya dari segi kata-kata, penggalian khazanah Bahasa Melayu juga saya lakukan dalam hal gaya bahasa, yang dari gaya bahasa itulah sebagai salah satu pembeda antara penutur Bahasa Melayu dengan yang selainnya. Jiwa Bahasa Melayu tiada lain tiada bukan berada di masyarakat penuturnya itu sendiri. Kedegilan berbahasa Melayu yang dilakukan oleh yang selain penutur Bahasa Melayu sudah seharusnya ditumpas punah ranahkan. Begitu juga halnya dengan pengelabuan jati diri Bahasa Melayu sudah sepatutnya pula dibidas, hingga benderanglah adanya mana emas mana tembaga, yang mana berlian intan permata yang mana pula batu biasa.

Menulis dalam Bahasa Melayu adalah sebagian dari jiwa saya. Sepenggal kehidupan ini kiranya telah larut di dalamnya. Di tengah-tengah masyarakatnya yang egaliter saya lahir dan dibesarkan. Segala macam tunjuk ajar, nasihat, sastera, begitu pula adat resam budaya telah serap dan resap dalam diri ini semenjak belia. Tantangan terberat saya adalah ketika mau tak mau harus berpisah dari masyarakatnya yang bertamaddun itu. Berpisah untuk sementara waktu, walaupun diri ini tak pernah tau bila lagi masa ‘kan perjumpakan hamba yang fana ini dengan negeri kelahirannya.

Delapan belas tahun, itulah angka usia terakhir saya menimba berbagai pengalaman hidup yang begitu berharga di negeri serta di tengah-tengah masyarakatnya. Setelahnya, ruang dan waktu berbicara lain. Empat belas tahun lamanya hingga kini, ruang dan waktu memisahkan. Tapi sungguhpun begitu, delapan belas tahun sejak lahir hingga remaja, itulah masa-masa yang menentukan bagi saya, masa-masa yang begitu berharga, yang segala macam hal ihwal di dalamnya takkan dengan mudahnya hilang dan menyusut dari semesta minda dan jiwa. Delapan belas tahun itulah yang telah memberikan pengajaran dan membentuk jati diri ini sebagai Budak Melayu dari Negeri Pontianak adanya. Dan jati diri itu kiranya takkan pernah luntur sedikitpun dari kedirian ini.

Alur kehidupan yang sedemikian rupa secara alamiah telah membentuk pemahaman kebahasaan Melayu saya. Hingga pada usia delapan belas tahun itulah saya berterus-terusan bercakap-cakap dalam Bahasa Melayu Pontianak. Untuk selanjutnya Bahasa Melayu Pontianak terkunci di lisan saya, dan tersimpan rapi dalam kamus kebahasaan saya, sehingga tetap terjaga keasliannya. Interaksi dengan berbagai macam ragam puak dan kaum di Tanah Betawi telah cukup membantu saya dalam hal memilah-milah serta mengetahui yang mana-mana dari kata-kata dan tata bahasa dalam percakapan keseharian itu yang masih merupakan asli Bahasa Melayu. Dengan demikian pula (karena mengetahui yang mana yang asli Bahasa Melayu dan yang mana yang bukan asli Bahasa Melayu), makanya lisan dan semesta Bahasa Melayu saya tetap terjaga keasliannya dari pengaruh-pengaruh luar Bahasa Melayu.

Beberapa tahun silam, bahasa tulisan saya pernah agak terpengaruh oleh bahasa-bahasa dan tata bahasa yang tidak asli Bahasa Melayu (walaupun lisan Bahasa Melayu Pontianak saya tetap terjaga keasliannya). Belakangan setelah menapaki jalan yang berpusing-pusing, setelah terkelupasnya lapisan-lapisan identitas semu, sehingga benderanglah cahaya identitas sejati, maka sedikit demi sedikit susunan bahasa tulisan saya mengalami perbaikan dan perubahan menuju kesejatian Bahasa Melayu. Kalau lisan Melayu Pontianak saya jangan ditanyakan lagi, sudah pasti semakin mengental keasliannya. Dan memang dari Bahasa Melayu Pontianak lah yang merupakan salah satu sumber penggalian kemurnian Bahasa Melayu yang selama ini telah saya lakukan.

Diakui atau tidak, Bahasa Melayu yang merupakan bahasa perhubungan dan bahasa persatuan di Kepulauan Melayu ini semakin hari semakin tercelaru oleh tindakan-tindakan barbar sebagian penggunanya yang bukan penutur asli Bahasa Melayu. Celakanya tindakan barbar tersebut juga diikuti oleh sebagian penutur asli Bahasa Melayu. Lebih celakanya lagi para penutur asli Bahasa Melayu seakan-akan menjadi asing dengan bahasa puaknya ini. Tersebab itu pula, penggalian dan pendedahan kesejatian Bahasa Melayu patut berterus-terusan dilaungkan. Kita tentunya tak ingin generasi Melayu kini dan akan datang semakin terjauhkan dari kesejatian bahasa ibundanya ini. Tugas ini terbebankan di masing-masing pundak kita yang mengaku sebagai Budak Melayu. Menjadi dosa kita generasi kini jika mendiamkan saja tindakan perusakan terhadap bahasa kaum kita ini. Para perusak Bahasa Melayu tersebut tentu akan berterus-terusan pula melakukan tindakan barbar dimaksud, karena sememangnya mereka tak punya tanggungjawab moral dalam hal menjaga kesejatian bahasa bangsa kita ini, bahasanya Bangsa Melayu adanya.

Jihad dalam ihwal menjaga kesejatian Bahasa Melayu ini adalah tugas masing-masing kita Budak Melayu. Dan saya Budak Melayu yang hingga kini masihlah kental jati diri Bangsa Melayu di diri dan kedirian ini akan berterus-terusan menulis dalam Bahasa Melayu. Tiada lain tiada bukan, karena saya terlalu cinta kepada bangsa saya ini (Bangsa Melayu), termasuk juga terhadap bahasa bangsa ini (Bahasa Melayu).

Mari bersama-sama kita membiasakan diri menulis dalam Bahasa Melayu, yaitu menulis dalam Bahasa Melayu yang sejati. Salam takzim. Tabék. [HM]


* * * Catatan ini ditulis di dalam Bahasa Melayu

~ Tanah Betawi, Awal April hingga Pertengahan Mei 2014 ~


Sumber gambar ilustrasi: Laman Web "British Library"

Tulisan ini dimuat di Laman Blog "Arus Deras"


Selengkapnya.....

Sabtu, 29 Maret 2014

Bornéo Barat yang Istiméwe


BORNEO BARAT merupekan suatu wilayah yang istiméwe, gitu' ga' ngan negeri-negerinye dan segenap rakyatnye/masyarakatnye. Temasok di antare keistimewean itu adelah karene Borneo Barat merupekan salah satu wilayah di Kepulauan Melayu ni yang punye banyak kerajean/kesultanan yang hingge kini kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan tesebot maseh mawjod di atas dunie ini (di antarenye ade juga’ yang dah tak ade agék). Keberadean kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan itu juga’ bejejak pade ramainye jurai keturonan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan yang dimaksod. Jurai keturonan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat ni nyebar merate di bebagai negeri di Borneo Barat, bahkan tak sikit ga’ yang nyebar ke bebagai negeri laénnye di luar wilayah Bornéo Barat.

Tak payah kalau kite nak tau siape-siape ja’ jurai keturonan bangsawan kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat ni, tingok ja’ pade namenye yang name depannye merupekan gelar kebangsawanan yang dimaksod (khusus kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu, selaén ade gelar kebangsawanannye pade name depannye, juga’ ade name keluarge/fam pade name name belakangnye: Al-Qadri/Al-Qadrie dan Alaiydrus/Al-Idrus).

Setelah Sultan Hamid II difitnah, didakwe, diukom, dan dipenjare oleh negare antah berantah yang pekak badak bin pekak beruang ni, negeri-negeri di Borneo Barat pon memasok’ék mase-mase yang gelap buta’. Oleh penguase negare baru yang zhalém ni (melaluék kaki tangannye yang bebelinatan dan betépék'an dose), méntal rakyat/masyarakat Borneo Barat ditekan sedemikian rupe sehingge selalu berade dalam ketetekanan.

Dalam keadean tetekan itu, sesiapepon takde yang berani negak’kan kepala’, kecuali hanye segelintér orang segelintér kaom yang merupekan kaki tangan penguase pusat yang pandai nyerupe dan nyusop, nyembunyi’kan wajah bedosenye, lalu menampak'kan tampangnye yang seakan-akan manusie baék-baék, ciri khas manusie munafiq.

Rakyat negeri jadi merane, gitu’ ga’ halnye dengan para bangsawan kaom kerabat kerajean/kesultanan. Bahkan dalam hal nuléskan namenye, bangsawan kaom kerabat kerajean/kesultanan haros pandai-pandai nyembunyi’kan identitas supaye tadak dianggap sebagai feodalis. Misalkan bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu beserte jurai keturonanye nuléskan name depan “Syarif” disingkat menjadi “Sy” ja’, gitu’ ga’ “Syarifah” disingkat menjadi “Syf” ja’ (gitu’ ga’ dengan jurai keturonan Ahlul Bait laénnye yang selaén bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu). Bahkan ade ga’ yang sampai ngilangkan name depan “Syarif” dan “Syarifah” tu. Gitu’ ga’ dengan name belakang “Al-Qadri”/“Al-Qadrie” kemudian diobah menjadi tak telalu nampak éjean Arab-nye menjadi “Al-Kadri”/“Al-Kadrie”/“Alkadri”/“Alkadrie” ja’, bahkan ramai ga’ yang hanye disingkat menjadi “Alk” ja’.

Sebagaimane yang nimpa’ bangsawan kaom kerabat Kesultanan Pontianak dan Kerajean Kubu beserte jurai keturonannye, gitu’ ga’ halnye yang nimpa’ bangsawan kaom kerabat kesultanan-kesultanan/kerajean-kerajean laénnye di Bumi Borneo Barat beserte segenap jurai keturonannye. Misalkan, name depan “Gusti” disingkat menjadi “Gst” ja’, name depan “Radén” disingkat menjadi “Rd” ja’. Ape hal jadi macam itu? Tentunye ade pihak-pihak tetentu yang mberé’kan tekanan méntal sedemikian rupe, bahkan menakot-nakot’ék secare fisik, sehingge para kaom bangsawan berade dalam téror méntal yang bekepanjangan.

Name tu merupekan identitas, gitu’ ga’ gelar kebangsawanan dan name keluarge/fam yang melekat pade name seseorang tu juga’ merupekan identitas. Takde satu pihak manepon yang boléh melarang-larang seseorang atau suatu kaom dalam hal pengasi’an name serte melekatkan gelar kebangsawanan dan name keluarge/fam pade namenye. Hanye negare fasis ja’ yang biasenye betebé’at macam ini ni (melarang name diri’ yang merupekan salah satu penunjok identitas kebangsean seseorang pade suatu kaom/bangse, bahkan sampai-sampai name sejati dari suatu kaom/bangse pon dilarang digunekan, padehal name kaom/bangse yang dimaksod tu merupekan identitas sejati dari kaom/bangse tesebot, kemudian haros digantikan dengan name yang laén yang sesuai dengan keingénan Pusat Kekuasean).

Dan satu yang haros tetap dikedepankan, bagi bangsawan kaom kerabat kerajean-kerajean/kesultanan-kesultanan di Borneo Barat beserte jurai keturonanye sepatotnye mempunyei derajat akhlaq, derajat keimanan, serte derajat keilmuan yang menjulang puncak. Dengan demikian, identitas negeri dan bangse yang melekat pade namenye tu sepadan dengan kualitas diri’nye, sebagaimane derajat/kualitas istiméwe para pemangku’ negeri-negeri bedaulat di Borneo Barat ni di mase silam. Dengan demikian, sehingge keistiméwean yang dimaksod tetap bejejak dan betapak hingge hari ini di negeri-negeri tanah kelahéran kite, negeri-negeri yang kite junjong serte kite cintei besame-same. Takde laén dan takde bukan ape-ape sebabnye tu, karene sejatinye Borneo Barat semémangnye istiméwe. Borneo Barat yang istiméwe, itulah yang ‘kan selalu menjadi alu-aluan kite besame. [HM]


~ Tanah Betawi, Penghujong Marét 2014 ~


* Catatan ini ditulés lam Bahase Melayu Loghat Pontianak

** Sumber gambar ilustrasi: Album FB Hanafi Mohan


Dimuat di Laman Blog "Arus Deras"

Selengkapnya.....