Rabu, 18 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 2- Budak-budak Laot


Mentari khatulistiwa bersinar sangat pekat, tak terkecuali di pinggir Sungai Kapuas. Tapi tetap saja di tepian sungai, para warganya beraktivitas dengan asyiknya, tak terkecuali anak-anak pesisir sungai terpanjang di Indonesia ini.

Panas teriknya matahari di Kota Khatulistiwa akan sirna dengan sendirinya bagi para warganya jika mereka menceburkan diri ke sungai. Lain lagi angin sepoi-sepoi yang berhembus tiada hentinya. Inilah kiranya yang membuat para warga di pesisir Sungai Kapuas betah berlama-lama beraktivitas di sungai.

Anak-anak pesisir Sungai Kapuas kiranya sama dengan anak-anak kampong lainnya. Mereka hidup bersahaja, jauh dari jangkauan teknologi, dan yang tak kalah penting, mereka suka bermain. Yang membedakan, bahwa anak-anak pesisir Sungai Kapuas harus bisa berenang semenjak mereka bisa berjalan dan sering beraktivitas di pinggir sungai. Hal ini karena memang sebagian besar aktivitas mereka adalah di sungai, dan itu mengharuskan mereka bisa berenang. Kalau tidak, dikhawatirkan mereka akan tenggelam. Tak jarang terjadi peristiwa tenggelamnya anak-anak yang tak bisa berenang.

Tersebutlah kisah persahabatan empat orang anak pesisir Sungai Kapuas. Mereka adalah Witri, Izwar, Deni, dan aku. Keempat anak inilah yang aku sebut sebagai “budak-budak laot”.

Di dalam Bahasa Melayu Pontianak, “budak” artinya adalah anak. “Budak-budak” artinya adalah anak-anak. Sedangkan “laot” adalah daerah pesisir, baik itu pesisir sungai ataupun pesisir laut. Entah mengapa, orang-orang Melayu Pontianak lebih terbiasa menyebut sungai dengan sebutan “laot”, walaupun memang mereka juga mengenal kosa-kata “sungai” yang digunakan pada konteks tertentu. Mungkin ini hanya kebiasaan saja.
Empat orang budak-budak laot adalah anak-anak yang ceria dan kreatif di lingkungan mereka. Alam lah yang mendidik mereka, yaitu alam pesisir Sungai Kapuas.

***

Aku terlahir dari keluarga sederhana, begitu juga dengan Witri dan Izwar. Kecuali Deni yang keluarganya termasuk keluarga berada untuk ukuran lingkungan kami. Tapi hal tersebut tak menghalangi kami untuk bersahabat, layaknya anak-anak seusia kami.

Ketika kami belum sekolah SD, maka setiap hari dan setiap waktu bagi kami adalah bermain. Tempat bermain kami tak lain adalah di Sungai Kapuas.

Suatu siang ketika masa kecilku, aku bermain dengan ketiga teman-temanku di pesisir Sungai Kapuas, di tengah teriknya mentari khatulistiwa, di atas deburan gelombang sungai dan sejuknya sepoi-sepoi angin pesisir sungai. Bosan bermain di dalam air, maka kami naik ke “gertak” (jalan kayu di atas sungai) untuk bermain yang lainnya. Bosan di gertak, maka kami kembali menceburkan diri ke air. Jika merasa kedinginan, maka kami naik lagi ke gertak, hingga kulit-kulit kami menjadi hangat (atau lebih tepatnya panas) dan kering. Setiap hari seperti itu, sehingga wajar saja kulit-kulit kami menjadi hitam-legam, walaupun kami sebenarnya putih-putih.

Witri yang inovatif dan Izwar yang kreatif selalu saja menghadirkan permainan-permainan yang membuat kami betah berlama-lama bermain di sungai dari pagi hingga larut sore. Tanpa beban, dan bebas sebebas-bebasnya. Kami tak kenal waktu, dan seringnya kami seperti orang-orang yang tak kenal malu, karena kami mandi bertelanjang bulat.

Kami baru akan berhenti bermain jika orang tua kami memarahi kami yang nakal dan tak kenal waktu. Tapi hal itu tak membuat kami jera. Karena besok harinya, kami pasti akan kembali bermain dengan riangnya lagi di arena permainan kami, yaitu Sungai Kapuas.

Di tengah jalinan persahabatan, terkadang kami juga bermusuhan satu dengan lainnya. Jika pada era Perang Dingin dikenal adanya blok barat dan blok timur, maka kami juga biasanya berblok-blok. Aku dengan Witri, sedangkan Izwar dengan Deni. Atau juga terkadang aku dengan Izwar, sedangkan Witri dengan Deni. Atau juga biasanya aku dengan Deni, sedangkan Witri dengan Izwar. Lucu memang blok-blok yang kami ciptakan ini, berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan kepentingan, namun yang pasti tanpa ada ideologi yang menopangnya.

Namanya juga anak-anak. Hari ini mungkin kami akan bermusuhan, tapi besok-besoknya kami pasti akan kembali bersahabat dan bermain bersama. Andaikan negara-negara yang berperang, bermusuhan, dan berblok-blok sekarang ini seperti dunia masa kecil kami, maka mungkin dunia ini akan selalu damai. Mungkin takkan pernah ada peperangan tak berkesudahan antara Bangsa Palestina dengan Israel. Mungkin takkan pernah ada invasi Amerika terhadap Iraq yang hingga kini terus berjatuhan korban-korban yang sia-sia. Dunia anak-anak memang begitu indah, begitu damai, dan juga bersahaja. Jika mengingat hal tersebut, mungkin aku akan meminta selalu berada pada dunia yang ceria itu. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, awal April 2008]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi


Sumber Gambar: http://www.google.co.id/ dan http://www.fotografer.net/



Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar