Minggu, 29 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 10- Gitaris Belia


Dari usiaku belia, Encek dan Wak sudah membiasakanku mendengarkan alunan musik. Ketika belum bersekolah SD, mereka sudah membelikanku kaset-kaset yang berisi lagu-lagu dari penyanyi yang populer ketika itu. Antara lain yang kuingat adalah Jamal Mirdad, Tommy J. Pisa, dan grup musik Bill & Brod yang digawangi oleh Arie Wibowo sebagai vokalisnya. Lagu dari penyanyi-penyanyi ini sudah terngiang-ngiang di telingaku ketika itu.

Entah apa pertimbangan Encek dan Wak membelikanku kaset-kaset dari penyanyi-penyanyi tersebut. Belakangan kutahu, bahwa Wak pada masa mudanya adalah pemain orkes (band). Ia adalah pemain bass pada orkes yang dipimpin oleh pak mudeku (abang dari ayahku) yang tertua, yang di orkes itu ada juga pak mude-pak mudeku yang lain sebagai personelnya.

Selain lagu-lagu dari kaset yang dibelikan Encek dan Wak, aku juga tak jarang mendengar lagu-lagu koleksi dari abang sepupuku yang tak lain adalah anak kandung dari Encek dan Wak. Abang sepupuku ini juga adalah pemain band. Ia adalah seorang gitaris. Lagu-lagunya kebanyakan adalah lagu-lagu rock, antara lain lagu-lagu rock dari grup Scorpion, Queen, Deep Purple, dan God Bless. Selain itu, di kamarnya juga terpampang poster dari beberapa grup band favoritnya. Yang kuingat adalah poster grup Duran Duran dan Kiss. Yang paling seram dari poster-poster tersebut adalah poster grup "Kiss" yang tampangnya seperti hantu.

Lain lagi Wak, ayah angkatku ini mempunyai koleksi lagu yang juga sedang ngetop pada masanya. Sebut saja misalkan seniman legendaris orang Melayu seperti Tan Sri P. Ramlee dari Semenanjong Tanah Melayu-Malaysia, dan beberapa penyanyi lagu Melayu lainnya seperti Ahmad Jaiz dan Said Effendi. Selain itu, beliau juga mengoleksi lagu-lagu qasidah yang lagi ngetop ketika itu seperti Nasyidaria dan juga lantunan Alquran dari qari' yang kondang saat itu, yaitu Muammar ZA dan Chumaidi.

Mak mudeku (adik perempuan dari ibuku) memiliki koleksi yang lain pula. Koleksinya adalah grup band ternama di masanya seperti Koes Plus, D'Lloyd, Panbers, dan The Mercy’s.

Begitulah, masa kecilku selalu dekat dengan alunan musik bermacam-ragam dan bersentuhan dengan seni berbagai rupa. Aku merasa beruntung, karena dilahirkan di keluarga dan lingkungan yang begitu dekat dengan seni. Hal ini mungkin tak dialami oleh teman-temanku yang lain. Kecuali satu temanku, yang entah dari mana ia mendapatkan kemampuan seni yang satu ini, sementara kami teman-temannya belum memiliki kemampuan seni yang seperti itu. Ketika kelas empat SD, ia sudah bisa memainkan gitar.

* * *

Suatu sore, aku, Izwar, dan Witri bertandang ke rumah Deni. Rumah teman kami yang satu ini boleh dikatakan merupakan pangkalan utama bagi kami. Di antara kami berempat, maka keluarga Deni adalah keluarga yang cukup berada.

Ketika itu, Deni sedang asyik memainkan gitar di pelataran rumahnya. Walaupun belum bisa menilai seni, tapi aku setidak-tidaknya bisa menangkap bahwa yang dimainkan Deni itu adalah nada-nada yang teratur. Hal ini menandakan bahwa Deni memang bisa memainkan alat musik yang satu ini. Terus-terang aku cukup terheran-heran dengan kemampuan Deni, mungkin Izwar dan Witri juga memiliki perasaan yang sama denganku. Baru pertama kali itu kami melihatnya bermain gitar.

"Hei, ayolah…, jangan kalian terdiam seperti itu. Temanilah aku bernyanyi!" ajak Deni yang membuyarkan ketergamamanku, juga mungkin ketergamaman Witri dan Izwar.

"Lagu apa yang bisa kau iringi, Den?" tanyaku kepada teman kami yang cukup piawai memainkan gitar menurut pandanganku ketika itu.

"Mudah-mudahan lagu-lagu apa saja bisa kuiringi. Sebenarnya aku sedang belajar. Tapi tak apalah, ini semuanya demi menghibur kalian," Deni pun memetik gitar. Ia sedang memainkan intro suatu lagu yang lamat-lamat sepertinya pernah kudengar.

Mengalunlah lagu itu. Deni bermain gitar sambil bernyanyi. Kemudian juga kami ikuti, karena lagunya cukup ngetop ketika itu. Refrainnya seperti ini:

Maafkanlah aku acuhkan dirimu
Waktu pertama kali tersenyum padaku
Maafkanlah aku jejali dirimu
Dengan segala kisah sumpah serapahmu


Tak lain dan tak bukan, lagu tersebut adalah lagu yang dipopulerkan oleh grup band "Slank" yang berjudul "Maafkan". Karena kami lebih hapal refrainnya dibandingkan dengan lirik yang lain, maka pada saat refrain suara kami jelas terdengar. Sedangkan pada lirik lainnya yang kami tidak hapal, maka kami ganti dengan kata: nananananana....

* * *

Itulah Deni si gitaris kami. Aku sendiri merasa bangga memiliki teman seperti dirinya. Setiap kali pelajaran kesenian, Deni tak lupa membawa gitarnya. Di antara teman-teman SD-ku (waktu itu kami sudah menginjak kelas lima), kiranya hanya Deni lah yang memberikan penampilan terbaik pada saat pelajaran kesenian. Dia biasanya menyanyi sambil memainkan gitar. Saat-saat penampilannya adalah saat-saat yang kami tunggu-tunggu sekelas.

Aku pun tak mau kalah dengan Deni. Pada saat penampilanku, aku meminta Deni untuk mengiringiku dengan gitarnya (waktu itu aku belum belajar gitar, karena aku baru belajar gitar ketika kelas enam). Lagu-lagunya memang sebelumnya sudah kulatih bersama Deni. Karena itulah, penampilanku juga ditunggu-tunggu oleh teman-teman sekelas. Entah apakah mereka menunggu penampilanku, atau mungkin karena yang mengiringiku adalah Deni, sehingga mungkin saja yang mereka tunggu-tunggu sebenarnya bukanlah penampilanku, melainkan permainan gitar Deni lah yang menjadi daya tariknya. Aku pun tak tahu, pada saat penampilanku, ibu guru yang mengajar kesenian apakah hanya menilai penampilanku seorang, atau juga diakumulasi dengan penampilan Deni yang mengiringiku.

Lagu yang kunyanyikan adalah lagu yang berjudul: "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Begitu hening lagu tersebut kulantunkan. Pada saat yang lain, lagu ini kunyanyikan lagi ketika acara perpisahan dengan guru SD kami yang akan dipindah-tugaskan. Saat itu aku berkolaborasi dengan Deni. Aku menyanyi, dan Deni memainkan gitar. Yang kuingat, ketika itu seisi ruangan acara menangis mendengarkan lagu yang kunyanyikan. *#*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Maret 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar isi


Reaksi:

1 ulasan: