Sabtu, 16 Mei 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 17- Wisudawan

Empat tahun bersekolah di madrasah, akhirnya kami para santri madrasah pun diwisuda. Kami adalah wisudawan pertama, walaupun bukanlah lulusan pertama. Sebelum-sebelumnya madrasah memang sudah memiliki lulusan, tapi tak ada prosesi wisuda. Sehingga kamilah lulusan madrasah yang pertama kali melalui prosesi wisuda.

Begitu sederhananya prosesi wisuda yang kami lalui itu. Pertama-tama, kami diarak dari madrasah ke Istana Qadriah Kesultanan Pontianak yang berada di Kampong Dalam Bugis. Dari Istana Qadriah kemudian diarak lagi menuju madrasah yang ada di kampongku.

Pakaian wisuda kami juga begitu sederhana. Toganya terbuat dari kertas karton, dan juga dilengkapi semacam asesoris yang dikalungkan di pundak. Tapi sungguhpun begitu, hal tersebut tak mengurangi kekhidmatan prosesi wisuda yang kami jalani. Yang mewisuda adalah Kepala Sekolah Madrasah ketika itu, yaitu Pak Arif. Selain Pak Arif, pamanku yang juga ketua yayasan yang menaungi madrasah juga mewisuda kami.

Entah apa yang ada di benak masing-masing kami santri madrasah yang diwisuda ketika itu. Aku sendiri begitu gembira mengikuti prosesi wisuda ini. Kegembiraan tersebut juga terlihat dari wajah Izhar dan teman-temanku yang lainnya yang diwisuda ketika itu. Setelah bersekolah selama empat tahun di madrasah, akhirnya berhasil juga aku lulus. Tapi sebenarnya ada juga kesenangan yang lain, yaitu aku tak harus lagi bersekolah di dua tempat dalam satu hari. Sungguh hal tersebut cukup membuatku kelelahan.

Aku tak mengira, ternyata setelah lulus dari madrasah, ada tanggungjawab yang lebih besar lagi yang harus kuhadapi. Masyarakat kampongku sudah terlanjur mengetahui bahwa aku adalah lulusan madrasah. Karena itulah, mereka selalu menyodorkan kepadaku hal-hal yang berbau keagamaan, seperti membaca doa setelah sembahyang (shalat) berjamaah di surau, dan juga terkadang aku dipercayakan menjadi imam sembahyang berjamaah ketika tidak ada lagi yang bisa dipercayakan untuk menjadi imam. Ada satu hal yang ternyata di kemudian hari begitu mengganjal diriku. Setelah lulus dari madrasah, aku belum bisa lancar membaca Alquran. Entahlah, mungkin hal ini karena aku terlalu malas mempelajari kitab suci umat Islam tersebut.

Di masa hidup Encek, aku adalah anak yang manja. Pernah aku belajar mengaji dari Encek, tapi kemudian aku malas-malasan. Sepeninggalan Encek, aku belajar mengaji dari Emak (Ibu). Tapi lagi-lagi, aku selalu malas-malasan. Ketika di madrasah, pelajaran membaca Alquran tidak seperti pelajaran membaca Alquran yang kuterima dari Encek dan Emak. Di madrasah, semua santri dianggap sudah lancar membaca Alquran, sehingga yang dipelajari kemudian adalah cara membaca Alquran yang baik dan benar, bukanlah cara agar lancar membaca Alquran.

Sehingga memang ketika bersekolah di madrasah, pelajaran yang tak kusukai adalah pelajaran Tajwid, Bahasa Arab, dan Nahwu Sharaf. Hal ini tak lain karena aku belum lancar membaca Alquran. Pada saat ujian membaca Alquran, aku selalu terbata-bata melakukannya.

***

Saat aku kelas 6 SD yag ketika itu aku sudah lulus dari madrasah, adikku yang ketika itu kelas 3 SD juga kemudian masuk bersekolah di madrasah. Ternyata adikku ini otaknya lebih encer dibandingkan diriku dalam hal membaca Alquran. Kebetulan ketika dia bersekolah di madrasah, sistem di madrasah sudah agak berubah. Bagi anak-anak yang belum lancar membaca Alquran, maka dimasukkan dahulu ke kelas Taman Pendidikan Alquran (TPA). Sedangkan ketika aku bersekolah di madrasah, kelas TPA ini belum ada. Sehingga aku yang ketika itu belum lancar membaca Alquran dicampur saja dengan anak-anak yang lain yang sudah lancar membaca Alquran. Karena ketika masuk madrasah belum lancar membaca Alquran, maka adikku dimasukkan dahulu ke kelas TPA.

Hasilnya ternyata memang mengagumkan, karena adikku kemudian lebih lancar membaca Alquran dibandingkan diriku. Padahal ketika itu adikku baru beberapa bulan bersekolah di madrasah. Tercengang aku mendapati kenyataan ini. Ada semacam rasa iri pada diriku dengan kemajuan pesat yang dialami adikku. Selain iri, aku juga sebenarnya malu dengan kenyataan ini. Bagaimana tidak, aku yang sudah lulus madrasah ternyata belum bisa lancar membaca Alquran.

Rasa iri dan malu itu kemudian menjadi motivasi bagi diriku untuk terus belajar membaca Alquran. Aku memang sudah lulus dari madrasah, tapi bukan kemudian pelajaran membaca Alquran lantas aku tinggalkan begitu saja. Guruku kali ini adalah Emak. Tapi lagi-lagi, metode yang digunakan oleh Emak adalah metode tradisional.

Karena keinginan yang begitu besar ini, aku kemudian tak segan-segan untuk mempelajari metode Iqra'. Metode ini kudapatkan dari buku milik adikku. Metode inilah yang diajarkan di kelas TPA yang ada di madrasah. Berbekal kemampuan yang ada, aku mempelajari metode ini sendirian tanpa adanya guru. Dan memang dari buku metode Iqra' tersebut panduan langkah demi langkahnya begitu mudah dipelajari.

Terbukti setelah mempelajari metode ini, sedikit demi sedikit aku mengalami kemajuan dalam hal membaca Alquran. Ketika membaca Alquran, Emak tetap kuandalkan sebagai guru pendamping. Maksudnya, Emak tidak menjadi guru yang mengajarkan secara langsung, melainkan beliau hanya menyimak bacaanku. Jika ada yang salah, maka beliau akan memberitahukan letak kesalahan bacaanku, kemudian mencontohkan cara membacanya yang benar. Jika betul, maka beliau mengiyakan dan menyuruhku untuk melanjutkan bacaan.

Aku merasa beruntung memiliki seorang ibu yang pandai membaca Alquran, sehingga aku tak harus belajar dari guru khusus yang mengajarkan cara mengaji (membaca) Alquran. Emak bukan hanya pandai membaca Alquran, melainkan beliau bisa mengajarkannya kepadaku, walaupun kemudian harus ditunjang dengan aku mempelajari metode Iqra'. Emak mengajarkan dengan metode tradisional, kemudian aku melengkapinya dengan mempelajari metode modern semacam metode Iqra'. Hasilnya cukup memuaskan, karena kedua-dua metode tersebut bisa kukuasai dengan baik. Aku mempelajari metode modern tanpa melupakan metode tradisional.

Masih jelas kuingat bagaimana cara Emak mengajarku membaca Alquran dengan cara mengeja satu persatu aksara Arab lengkap dengan barisnya.

Alep di atas A, Ba di bawah Bi, Ta di depan Tu, Abitu. Begitulah cara orang Melayu mengajari anaknya membaca Alquran. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, akhir Maret 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar