Sabtu, 25 April 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 14- Gratis Menonton Bioskop


Ada satu tempat permainan video game yang cukup dekat dengan kampong kami. Lokasinya memang berada di seberang kampong kami, tapi cukup dekat untuk kami akses. Tempat ini sebenarnya bukanlah tempat permainan video game seperti halnya tempat lain yang berada di lokasi pasar, melainkan tempat ini sebenarnya adalah gedung bioskop. Lebih tepatnya adalah gedung bioskop yang menyediakan permainan video game. Karena memang dekat untuk kami akses, maka terkadang juga kami mendatangi gedung bioskop ini.

Nama tempatnya adalah Dynasty 21, salah satu gedung bioskop yang masih eksis di Pontianak ketika itu. Selain memang dekat, kedatangan kami ke gedung bioskop ini tak lain untuk mencari suasana baru. Memang suasananya begitu berbeda dengan tempat permainan video game yang lain. Kami bisa melihat di sudut-sudut gedung bisokop ini banyak muda-mudi yang duduk berpasang-pasangan. Tapi yang pasti kami tak terlalu mempedulikan hal itu, karena tujuan kami sebenarnya adalah bermain video game, mencari penantang-penantang baru bagi Izhar, dan juga menjalin persahabatan dengan anak-anak lain yang juga hobi bermain video game.

Entah mengapa, di kala tertentu, kadang muncul juga kejenuhan kami dengan hal-hal yang itu-itu saja. Aku sendiri kiranya jarang memiliki alternatif ide apa yang seharusnya kami lakukan di saat seperti ini. Ide biasanya datang dari Izhar.

Pontianak ketika itu memang masih sangat minim sarana hiburan. Hiburan yang sangat mudah kami dapatkan adalah melalui pasar. Di pasar, hiburan seperti video game lah yang paling mudah didapatkan dan biayanya cukup terjangkau bagi kami.

***

"Ikutlah denganku!" tiba-tiba Izhar menggamit pundakku.

"Ke mana?" tanyaku kepadanya.

"Sudah, ikut saja," begitu katanya dengan perkataan yang membuat benakku bertanya-tanya.

Aku pun mengikuti saja ke mana arah kaki Izhar melangkah. Ternyata ke ruang lobi bioskop, yang di situ terdapat warung makanan. Tepat apa yang kukira, Izhar pasti mengajak makan. Dan memang betul, kami berhenti di warung itu.

"Aku haus," kata keponakanku itu, "kau haus tidak?" dia menanyakanku.

Sebagai seorang paman, aku tentunya harus jaga image, "Ah tidak, kau sajalah."

Tapi Izhar memang berbeda. Dia mungkin tahu, aku juga sebenarnya haus. Tak mempedulikan apa kataku, ia sudah membeli dua kantong es sirup, kemudian memberikan satu kantong kepadaku, sedangkan satu kantongnya lagi langsung ia sedot.

Dua anak Melayu ini pun duduk di kursi kayu yang ada di lobi bioskop itu. Entah apa yang ada di benakku, dan entah apa pula yang ada di benak Izhar. Aku sendiri seperti tersedot dengan ramainya suasana. Ada yang ngantri untuk menonton, ada suara ini dan itu dari pengeras suara, ada tulisan ini dan itu, ada orang-orang dengan berbagai warna kulit. Yang lebih sering kulihat adalah orang-orang berkulit putih pucat kemerah-merahan dengan lubang mata agak sempit yang jika mereka berbicara, walaupun hanya dua orang, tapi bagaikan di pasar, riuhnya minta ampun. Merekalah yang kami kenal sebagai orang Cine (Cine adalah sebutan khas orang Pontianak terhadap orang Tionghoa). Populasi mereka memang cukup banyak di kotaku, yaitu berkisar kurang lebih 30 persen. Sedangkan sisanya adalah campuran antara orang Melayu, keturunan Bugis, keturunan Arab, keturunan India, dan beberapa suku lainnya.

Di tengah asyiknya aku mengamati suasana, Izhar pun mengucapkan sesuatu, "Pak mude, pernah nonton bioskop, ndak?" (pak mude artinya adalah paman).

"Dari mana duitnya, anak kemanak? Mana pernah lah Pak mude kau ini nonton semacam itu," ujarku kepada Izhar. (anak kemanak artinya adalah keponakan).

"Mau menonton, ndak?"

"Jangan kau tanyakan itu, Har. Udah pasti mau lah."

"Kalau begitu, ayolah ikut aku!"

"Hay, nak ke mana pula? Nontonkah? Dari mana pasal datang duitnya? Aku tak punya duit untuk itu. Kau sajalah kalau begitu."

"Jangan banyak cakap lah. Ikut saja!"

"Kau kah yang jamin?" (jamin artinya adalah traktir).

Namun Izhar segera berlalu dariku. Ia menuju ke kerumunan orang yang sedang menunggu untuk menonton. Aku pun menghampiri keponakanku ini.

Satu persatu kulihat orang-orang yang akan menonton masuk ke ruangan yang sepertinya dari luar kulihat begitu gelap. Sementara Izhar kulihat hanya terdiam di tepian. Entah apa pula yang akan diperbuatnya. Ketika Izhar kudekati, ia masih terdiam mematung. Kugamit saja dia. Menolehlah ia padaku. Aku masih bingung akan maksud Izhar ini. Kulihat wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang begitu cerah, bagaikan mentari di waktu pagi.

Kalau memang mau menonton, mengapa Izhar belum membeli tiketnya. Setidaknya, begitulah pertanyaan yang bergelayut di benakku. Kalau duitnya tak cukup, mengapa pula ia mengajak menonton. Kalau memang duitnya hanya cukup untuk satu tiket, ya sudah, tak apa-apa. Beli saja satu tiket untuk dirinya, sedangkan aku, tak menonton pun tak apa-apa.

"Kau lihatlah orang-orang yang masuk itu!" tiba-tiba Izhar berujar kepadaku.

"Ya, aku lihat. Memangnya mengapa?"

"Kalau mau menonton, cukuplah kita mengikut orang-orang yang masuk itu dari belakang, ataupun dari samping mereka."

"Memangnya bisa seperti itu? Bukannya kita harus membeli tiket dulu untuk bisa masuk?" tanyaku meminta penjelasan Izhar.

"Itu kan cara yang biasa. Kau lihatlah, mereka yang masuk itu biasanya membawa anak. Nah, kita masuk mengikuti orang yang tidak membawa anak."

"Jadi, seakan-akan kita ini anak mereka? Begitu maksud kau?"

"Mungkin bisa dikatakan seperti itu," pertegas Izhar kepadaku.

***

Lalu, kami berdua pun mencari saat yang tepat itu, yaitu saat untuk menyelusup ke tempat pemutaran film bersama-sama penonton yang masuk. Izhar bahkan sempat-sempatnya melihat-lihat poster film. Mungkin ia sedang mencari informasi mengenai film yang kiranya bagus untuk ditonton. Memang, keponakanku ini seleranya cukup tinggi. Walaupun menonton tanpa menggunakan karcis masuk, tapi ia sempat-sempatnya memilih-milih film untuk ditonton.

Berdasarkan pilihan Izhar, maka kami pun menunggu di samping deretan para penonton yang akan masuk ke ruangan yang akan segera memutar film pilihan Izhar tersebut. Aku sebenarnya masih ragu-ragu akan yang dilakukan ini.

"Kau lah dulu yang masuk!" sambil kumenarik tangan Izhar.

"Janganlah. Tak sopan kiranya anak-kemanak ini mendahului pak mudenya. Kaulah dulu yang masuk, biar aku mengikut dari belakang saja."

Bisa saja temanku yang satu ini. Di saat-saat tak menguntungkan seperti ini, barulah ia mendahulukan aku sebagai pamannya. Tapi tak apalah, karena aku juga penasaran untuk menonton film bioskop, karena selama ini aku hanya mengetahui dari cerita orang-orang. Bagaimana rupanya film bioskop itu, aku tak tahu sama sekali. Hal seperti inilah yang disebut orang Melayu Pontianak sebagai sepo'. Lebih lengkapnya lagi biasanya diakhiri dengan kata laot, sehingga menjadi sepo' laot. (sepo' artinya adalah kampungan. Diambil dari kata sepo' laot. Sepo' Laot sebenarnya adalah nama suatu daerah di Kalimantan Barat, yang katanya daerah tersebut jauh dari peradaban. Sehingga orang Melayu Pontianak menggunakan kata sepo' untuk mengungkapkan tingkah seseorang yang kampungan).

***

"Siap-siaplah! Itu sepertinya ada orang yang tidak membawa anak," Izhar berujar kepadaku sekedar mengingatkan.

"Ya, aku tahu. Tapi kau segera menyusul, ya!"

Aku pun bersiap-siap. Sebenarnya masih ada ragu di diriku. Kalau boleh dikatakan, yaitu campuran ragu dan penasaran. Ragunya 20 persen, sedangkan penasarannya 80 persen. Sehingga pas kesempatan itu ada, aku pun langsung mendekat ke orang yang tidak membawa anak itu. Karena ada penjaga karcis yang ada di depan pintu, maka jantungku deg-degan juga. Tapi apa boleh buat, penasaranku sudah di ubun-ubun. Apalagi orang yang akan kujadikan sebagai bemper untuk masuk itu sudah hampir masuk ke dalam ruangan yang dijaga penjaga karcis itu.

Kini, yang ada di pikiranku tak lain adalah film yang akan segera kutonton itu. Sehingga, apapun caranya harus kulakukan. Sempat juga si penjaga karcis melihatku. Tapi entahlah, apakah ia curiga kepadaku atau tidak. Karena ketika aku masuk beriringan dengan orang yang kujadikan bemper itu, ternyata tak ada satu pun halangan. Si penjaga karcis pun malahan melemparkan senyum, sambil jemarinya agak sedikit sibuk memegang sobekan karcis.

Sementara aku sudah bisa lolos masuk, aku mencoba-coba melihat ke belakang. Tak lain adalah untuk memastikan, apakah Izhar sudah masuk. Ruangan yang kumasuki itu memang agak sedikit remang-remang. Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kulihat orang-orang yang lain terus berjalan ke depan. Dalam pikiranku, lebih baik aku mengikuti saja arah orang-orang itu berjalan.

***

Tiba-tiba aku terkejut, karena ada yang menggamitku. Dalam benakku berkecamuk, jangan-jangan si penjaga karcis itulah yang menggamit. Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata tiada lain, yang menggamitku adalah Izhar. Jantungku rasanya sudah mau terlepas tadi. Kami pun segera mengikuti arah yang dituju oleh orang-orang yang lain.

Sungguh sensasi yang baru bagiku. Ruangan yang dituju itu adalah ruangan yang penuh dengan kursi bertingkat-tingkat. Jika kursi terdepan adalah kursi yang paling rendah keberadaannya, maka kursi paling belakang adalah kursi paling tinggi keberadaannya.

Anak Melayu yang sepo' ini tentunya agak bingung berada di ruangan yang baru pertama kali dijejaki ini. Lain denganku, lain pula dengan Izhar. Dia sepertinya sudah agak terbiasa dengan keadaan. Dia mengamati segenap ruangan, entah apa pula yang diamatinya itu. Aku juga mengamati ruangan, tapi sepertinya berbeda dengan apa yang sedang diamati oleh Izhar.

Beberapa saat kemudian, Izhar pun mengajakku mencari tempat duduk. Aku pun mengikutinya. Dan sepertinya memang terdapat dua kursi yang masih kosong. Maka duduklah kami berdua di situ sebelah-menyebelah (berdampingan). Keberadaan tempat kami duduk ini memang cukup tinggi, walaupun bukan yang paling tinggi. Dan letaknya pun tak terlalu di pinggir. Di samping kanan, kiri, belakang, dan depan kami juga ada orang-orang lain yang duduk. Beberapa kulihat adalah pasangan muda-mudi. Kulihat juga, bahwa ada kursi-kursi yang tak terisi. Sepertinya penonton tak terlalu banyak.

Tak berapa lama, gelaplah ruangan. Aku agak terkejut, mengapa pula ruangan menjadi gelap. Pikirku, mungkin lampunya rusak, atau sengaja dipadamkan untuk kemudian dinyalakan lagi. Tiba-tiba, ruangan menjadi terang. Aku sangka lampunya yang menyala, ternyata cahaya terang itu berasal dari arah depan. Lalu dari depan itu, ada gambar-gambar besar yang bergerak, juga terdengar ada suara-suara yang lumayan keras, sehingga kalau ada yang berbicara, mungkin hanya sayup-sayup terdengar oleh lawan bicaranya.

Rupanya, itulah kiranya film yang akan ditonton. Sementara film sedang berlangsung, suasana ruangan terkadang agak senyap, namun terkadang juga terdengar riuh. Izhar kulihat begitu serius menonton film, sedangkan aku sendiri terkadang tak terlalu memperhatikan film. Hal-hal di sekitar ruangan lebih seringnya membuyarkan perhatianku ke layar film yang ada di depan. Walaupun ruangan agak remang-remang, namun aku masih dapat begitu jelas melihat pasangan muda-mudi yang asyik-masyuk dengan urusan mereka masing-masing. Hal inilah kiranya yang sedikit banyak menyedot perhatianku.

***

Ketika film selesai, dan para penonton pun keluar, maka kami berdua juga keluar. Izhar meminta tanggapanku mengenai film yang baru saja kami tonton. Kukatakan saja padanya, bahwa filmnya sangat bagus. Maksudku di dalam hati, bahwa yang bagus itu adalah para muda-mudi yang asyik-masyuk itu, yang tanpa sengaja aku melihat keasyik-masyukan mereka. Sehingga sebenarnya aku tak terlalu tahu persis jalan cerita filmnya, karena perhatianku lebih banyak tertuju kepada adegan para muda-mudi itu. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio April 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar