Selasa, 24 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 8- Lapangan Jombo


Witri, temanku itu, adalah sosok anak yang kiranya kesedihan selalu tak kunjung berhenti dari kehidupan masa kecilnya. Ketika berumur 8 tahun, Witri kecil sudah ditinggal wafat oleh ibunya. Masa-masa di mana seorang anak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, tapi Witri tidak mendapatkannya. Di saat ini, kasih sayang itu sudah pergi meninggalkannya. Tapi untunglah, masih ada sumber-sumber kasih sayang lainnya, yaitu neneknya. Sepeninggalan ibunya, Witri dan saudara-saudaranya diasuh oleh nenek mereka tercinta.

Mereka lima bersaudara. Witri adalah anak kedua di antara adik beradiknya. Saudaranya yang tertua adalah laki-laki yang umurnya berpaut 4 tahun. Adiknya adalah perempuan yang berpaut 1 tahun. Dan adiknya yang bungsu juga perempuan yang umurnya berpaut 4 tahun dari Witri. Sedangkan ayahnya adalah lelaki paruh baya yang jarang berada di rumah, karena sering bekerja di luar. Sehingga wajar saja Witri bersaudara selalu berada di dalam asuhan kasih sayang neneknya.

Walaupun begitu, Witri adalah anak yang selalu ceria dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi di antara empat budak-budak laot. Di masa kecilku, kiranya Witri inilah sahabat yang selalu menjadi panutanku dalam beberapa hal. Ia seorang pemain sepak bola yang handal di antara kami berempat. Jika kami bermain bola, maka Witri menjadi kapten sekaligus penyerang, Deni mendampingi Witri sebagai penyerang, sedangkan aku dan Izwar biasanya berganti-gantian posisi. Kalau Izwar menjadi bek, maka aku menjadi kiper. Sebaliknya, jika Izwar menjadi kiper, maka aku menjadi bek. Tim kami adalah tim yang begitu solid. Anak-anak sebaya kami ketika itu begitu sulitnya mengalahkan tim sepak bola kami.

Yang menarik dari permainan sepak bola kami di waktu kecil itu adalah lapangannya yang tak jauh letaknya dari rumah kami. Lapangan ini berada di bawah Jembatan Tol Kapuas. Disebut tol, karena ketika itu Jembatan Kapuas dikelola oleh Jasa Marga. Ketika masih dikelola oleh Jasa Marga, maka untuk melewati Jembatan Kapuas harus membayar seperti halnya tol di Pulau Jawa. Tapi pengelolaan di bawah Jasa Marga ini tak berjalan lama. Ketika Jasa Marga hengkang, pengelolaanpun berpindah tangan kepada pemerintah daerah Kota Pontianak. Walaupun begitu, hingga kini masyarakat sekitar Jembatan Kapuas masih akrab dengan sebutan Jembatan Tol Kapuas atau Tol Kapuas saja walaupun sudah tak berada di bawah pengelolaan Jasa Marga, dan melewatinya pun tidak harus membayar.

Lapangan tempat kami bermain ini sebenarnya tak cocok untuk disebut sebagai lapangan sepak bola. Mengapa tak cocok disebut lapangan sepak bola? Lazimnya, lapangan sepak bola adalah semacam lapangan rumput, yang jika kaki ini berlari-lari di atasnya maka takkan terasa sakit. Tapi lapangan sepak bola tempat kami bermain ini begitu sangat berbeda. Lapangan ini bukan lapangan rumput, melainkan lapangan yang tanahnya adalah campuran tanah liat, tanah kuning, pasir, dan batu. Hal tersebut menandaskan bahwa lapangan ini begitu kerasnya, apalagi sepanjang lapangan bertebaran batu-batu, yang jika kami berlari-lari di atasnya tak jarang kaki ini terluka, memar, dan sakitnya jika tersandung. Mengapa bisa begitu? Karena kami bermain bola tidak menggunakan sepatu. Ya…, hanya berkaki ayam (bertelanjang kaki).

Lapangan di bawah Jembatan Tol Kapuas ini biasa juga kami sebut “Jombo”, karena konon ketika Jembatan Kapuas dibangun pada sekitar tahun 1980-an, peralatan yang digunakan adalah alat-alat berat seperti eksavator dan sejenisnya. Orang-orang Melayu Pontianak menyebut alat-alat berat ini dengan nama “Jumbo”, apapun itu jenisnya. Mungkin “Jumbo” adalah nama merek atau perusahaan yang memproduksi alat-alat berat tersebut. Di dalam Bahasa Inggris, "jumbo" artinya adalah sesuatu yang luar biasa besarnya. Dari kata “Jumbo”, kemudian oleh lidah Melayu kadang berubah penyebutannya menjadi “Jombo”. Huruf vokal O dan U oleh orang Melayu Pontianak kadang bisa saling menggantikan.

Orang Melayu memang pandai mengolah kata, hingga kata-kata tersebut menjadi sangat berciri khas Melayu. Pada Bahasa Melayu Pontianak misalkan, tak sedikit kata-kata yang diadopsi dari Bahasa Asing, seperti “teghay” yang artinya coba-coba. Tadinya kata ini berasal dari Bahasa Inggris, yaitu “try”. Lidah Melayu kemudian mengubahnya sedemikian rupa menjadi seperti itu. Ada juga kata “seluar” yang artinya celana. Kata ini diadaptasi dari Bahasa Arab, yaitu “silwarun”. Kata “peghay” yang artinya libur, diadaptasi dari Bahasa Inggris, yaitu “free”. Kata “taem” yang artinya istirahat, diadaptasi dari Bahasa Inggris, yaitu “time”.

Begitulah lidah Orang Melayu, yang menurut istilah orang Pontianak adalah “lidah gado-gado”. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Juni 2008]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar isi



Sumber Gambar: http://www.nationalfarmtoymuseum.com/

Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar