Minggu, 14 Juni 2009

[Cebung: Senja Merah Jingga] 19- Putus Sekolah

Berbanding terbalik dengan prestasi gemilang yang selalu kuraih ketika SD, maka Izwar temanku itu agak sedikit berbeda. Jalan yang ditempuhnya sungguh begitu berliku-liku.

Ketika SD, aku, Izwar, dan Deni bersekolah di sekolah yang sama, sedangkan Witri bersekolah di SD yang lain. Dalam meraih prestasi di sekolah, maka aku dan Deni berkejar-kejaran. Ketika pembagian raport, kadang Deni yang juara pertama dan aku mengikuti di belakangnya. Kadang juga pada saat yang lain, akulah yang berada pada jajaran pertama rangking di kelas, sedangkan Deni mengikuti di belakangku. Begitulah seterusnya hingga kami kelas 6 SD. Lantas bagaimanakah dengan nasib Izwar?

Izwar mungkin tak dianugerahi kemampuan menyerap pelajaran seperti halnya aku dan Deni, walaupun pada hal-hal tertentu kuakui Izwar memiliki kemampuan dan bakat yang lebih dibandingkan aku dan Deni.

Ketika aku dan Deni naik ke kelas 2, Izwar ternyata tidak naik kelas. Izwar memiliki seorang adik perempuan yang hanya berpaut umur setahun dengannya, sehingga ketika ia tidak naik kelas, otomatis ia sekelas dengan adiknya. Tapi aku salut dengannya, ia tak merasa minder akan hal itu, dan hal inilah yang kemudian memacu semangatnya untuk terus bersekolah.

Ketika aku dan Deni naik ke kelas 3, barulah Izwar naik ke kelas 2. Kemudian, saat aku dan Deni naik kelas 4, Izwar kembali tidak naik kelas. Pada saat ini, Izwar bahkan telah dilampaui oleh adik perempuannya yang sudah berada di kelas 3. Tapi Izwar tetap dengan semangatnya untuk terus bersekolah. Ia tak merasa malu walaupun telah dilampaui oleh adiknya.

Pada saat aku kelas 4, adikku yang berpaut usia 3 tahun denganku sudah mulai masuk sekolah di SD yang sama denganku. Sama halnya denganku, adikku ini juga berprestasi. Ia cukup dekat dengan Izwar.

Kisah masa kecil kami terus bergulir dengan berbagai suka-dukanya. Sesulit apapun kehidupan kami ketika itu, semenderita apapun masyarakat kami disisihkan dan dipinggirkan oleh penguasa, tapi kami tetap tegar menghadapi semuanya, kami masih bisa tertawa lepas, serta tersenyum dengan manis dan tulus menghadapi segala problema hidup.

Singkat cerita, aku pun kemudian naik kelas 5, adikku naik kelas 2, dan Izwar dengan semangatnya yang menyala-nyala akhirnya naik juga ke kelas 3. Setahun kemudian, aku naik kelas 6, adikku naik kelas 3, namun sayang, Izwar tidak naik kelas. Dengan begitu, adikku menjadi sekelas dengan Izwar. Inilah yang membuat persahabatan mereka semakin kental. Dan Izwar tetap dengan semangatnya untuk terus bersekolah.

Begitulah masa kecil kami yang berliku-liku ketika bersekolah. Jika aku bisa melesat terus ke atas tanpa pernah ketinggalan kelas, maka berbeda dengan Izwar. Aku salut dengannya, karena memiliki tingkat kesabaran yang begitu tinggi dalam hal bersekolah. Bayangkan, aku sebagai teman sebayanya telah jauh melesat meninggalkannya, dan ia tidak minder akan hal itu. Adik perempuannya juga sedikit-demi sedikit meninggalkannya, dan ia masih tetap tidak minder. Kini, ia bahkan telah sekelas dengan adikku. Tapi lagi-lagi, Izwar tetap memiliki semangat baja. Dan yang pasti, ia tidak minder akan hal itu. Karena semangatnya yang begitu tinggi itu, setahun kemudian Izwar berhak mendapatkan ganjaran manis dari usaha, tekad, dan kesabarannya. Ketika aku lulus, adikku naik kelas 4, begitu juga Izwar.

Kulihat keceriaan menghiasi wajah Izwar ketika ia mengucapkan selamat kepadaku. "Selamat lulus, kawan."

Tentunya aku menyambut ucapan itu dengan ucapan yang hampir sama, "Selamat juga kau telah naik kelas 4."

"Mohon doa dan dukungan dari kau, semoga aku nantinya juga bisa lulus."

"Tentunya aku akan mendoakan dan mendukung kau, kawan."

Waktu pun terus bergulir. Selanjutnya, aku melanjutkan bersekolah di SMP yang ada di kecamatanku bernama SMP Negeri 4 Pontianak. Sedangkan Deni menjatuhkan pilihan yang agak berbeda dariku. Pilihannya adalah melanjutkan bersekolah di SMP lain yang ada di kecamatanku bernama SMP Negeri 16 Pontianak.

Setahun kemudian ketika aku naik kelas 2 SMP, adikku naik kelas 5 SD, ternyata malang nasib Izwar, ia tidak naik kelas. Entah apalah yang berkecamuk di benak Izwar ketika itu. Tapi aku yakin, ia tetap memiliki tekad yang kuat untuk bersekolah, hingga kemudian ia tak tahan lagi, yang akhirnya ia putus sekolah. Adikku yang cukup dekat dengannya mencoba membujuknya untuk terus melanjutkan sekolah. Tapi apa daya, Izwar menyadari kemampuannya yang kurang dalam hal menuntut ilmu di sekolah.

"Mai, bagaimanakah pendapat kau jika aku berhenti sekolah?" tanya Izwar ketika itu pada adikku.

Tentu saja adikku terkejut mendengar pertanyaan Izwar itu. "Jangan War, janganlah kau berhenti sekolah. Ingat, kau adalah anak laki-laki pertama di keluarga kau."

"Tapi Mai, aku rasa aku sudah tak sanggup lagi untuk belajar. Mungkin aku memang tak cocok untuk bersekolah, selain juga saudara-saudaraku banyak, dan keluargaku juga pas-pasan untuk menyekolahkan kami."

"Malukah engkau dengan aku, War?"

"Tidak Mai, aku tak malu. Malu itu sudah lama aku hilangkan dari diriku, bahkan semenjak abangmu, Deni, dan aku sekelas, yang kemudian mereka naik kelas dan aku tidak."

"War, aku mau membantu kau untuk belajar? Karena itu kupinta, janganlah kau berhenti sekolah. Sayang War dengan usaha yang telah kau lakukan selama ini."

"Sudahlah Mai, tekadku sudah kuat untuk itu. Masih ada kakakku dan adik-adikku yang mungkin nantinya bisa bersekolah lebih baik dariku. Sedangkan aku, cukuplah sampai di sini."

"War…," adikku menitikkan air mata mendengar perkataan Izwar, orang yang selama ini menjadi teman setia baginya.

Mendengar cerita adikku, aku pun merasa pilu dibuatnya. Andaikan ketika itu aku memiliki kemampuan yang lebih, tentunya aku akan membantu Izwar sebisaku. Tapi apa daya, kami sama-sama orang tak mampu.

Lantas, bagaimanakah dengan Witri?

Witri cukup beruntung dibandingkan Izwar dalam hal bersekolah. Hanya sekali ia tak naik kelas. Ketika aku kelas 5, Witri pindah sekolah ke SD ku. Karena ia pernah tak naik kelas, maka pada saat pindah ke SD ku, Witri baru menginjak ke kelas 4. Senanglah aku ketika itu, karena budak-budak laot sudah berkumpul pada satu sekolah yang sama, sehingga kami bisa pergi sekolah bersama-sama.

Sungai Kapuas telah menjalin kami menjadi anak-anak yang tegar, anak-anak yang kreatif, dan tak pernah mau menyerah dengan keadaan keluarga kami yang pas-pasan. Walaupun memang pada keadaan tertentu, kami juga akhirnya mengalah dengan keadaan itu.

Tekad kuat Izwar untuk terus bersekolah walaupun sering tak naik kelas adalah satu dari sekian banyak tekad budak-budak laot untuk meraih pendidikan lebih baik. Izwar bukan menyerah dengan keadaan, melainkan ia menyadari keterbatasan yang ia miliki. Bahwa ilmu bukan hanya bisa diraih melalui bangku sekolah, itulah yang mungkin disadari oleh Izwar. Dia memiliki bakat terpendam lainnya yang pada saat itu melalui sekolah formal bakat tersebut tak mampu dirangsang oleh para guru.

Siapakah yang patut disalahkan dalam hal ini? Sistem pendidikan, ataukah kita sebagai rakyat?

Tak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Setiap warga negara ini tak lagi harus saling menyalahkan. Ke depannya, kita tak ingin apa yang telah dialami oleh Izwar akan dialami juga oleh banyak anak bangsa ini. Ke depannya, setiap kita harus bahu-membahu melakukan perbaikan, bahkan dari unit terkecil bangsa ini. Apa yang dialami Izwar adalah kesalahan masa lalu yang tak perlu terulang lagi di masa kini dan akan datang. []


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari – medio Juni 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar