Jumat, 21 Agustus 2009

[Cerbung Senja Merah Jingga] 24- Juru Kisah

Berkisah adalah satu dari sekian banyak kegemaran orang Pontianak. Aku adalah satu dari sekian banyak anak Melayu yang beruntung, karena dilahirkan dan hidup di dalam keluarga yang suka berkisah. Hingga banyak cerita-cerita orang terdahulu, baik itu legenda ataupun nyata telah sering aku dengar semenjak masa kecilku.

Ayahku adalah salah satu sosok yang fasih dalam berkisah ini. Beliau mendidik kami anak-anaknya melalui metode berkisah. Ayahku adalah seorang guru, lebih tepatnya yaitu guru agama Islam (ustadz), sehingga beliau memang pandai dalam bertutur kata, sayangnya beliau tidak sampai menjadi penceramah. Secara tidak kami sadari, bahwa dalam kisah-kisahnya, ayah telah mentransfer ilmu pengetahuannya kepada kami. Kalau memang ketika itu ayah secara sengaja ingin mengajar kami mengenai suatu ilmu, mungkin saja kami akan berat menerimanya. Tapi ayah telah melakukan semua itu melalui cara yang begitu baik, yaitu berkisah, sehingga kami tanpa sadar sudah menyerap ilmu yang diberikannya.

Di masa mudanya, ayah adalah seorang aktivis. Ini juga kuketahui dari kisahnya, dan juga dari koleksi buku yang dimilikinya. Menurut ceritanya, bahwa di masa muda, beliau pernah terlibat aktif sebagai anggota Partai Masyumi, yaitu partai Islam yang mengusung ide-ide modernisme dengan tokohnya yang terkenal, yaitu Muhammad Natsir.

Sedari aku kecil, ayah sudah menuturkan kisah mengenai tokoh Masyumi yang satu ini, juga tokoh-tokoh Masyumi dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Buya Hamka. Tak jarang juga beliau menuturkan kisah para ilmuwan Islam terkemuka, seperti Imam Madzhab Empat (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali), Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, tak terkecuali juga ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya. Kisah para Nabi, juga kisah Nabi Muhammad dan para sahabatnya, serta kisah para tabi'in dan tabi'it tabi'in juga tak jarang ia tuturkan kepada kami. Selain itu, kisah para tokoh Indonesia seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. Muhammad Roem, Kasman Singodimejo, dan tokoh-tokoh Indonesia lainnya juga tak luput ia kisahkan.

Dari kisah-kisahnya itu, secara tidak sadar telah membiusku untuk meraih pendidikan tinggi dan selalu menuntut ilmu. Melalui kisah-kisahnya, ayah juga telah menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman pada kami anak-anaknya, tak terkecuali aku yang masih belia ketika itu.

Di antara saudara-saudaranya, maka ayah adalah orang yang paling suka membaca. Ini kuketahui dari koleksi bukunya yang cukup banyak. Dalam ilmu keislaman, maka di antara saudara-saudaranya, ayahlah yang paling terpelajar.

Beliau adalah sosok yang selalu haus ilmu. Pendidikan formal (sekolah umum) yang beliau jalani mungkin tak terlalu tinggi, karena memang di masa mudanya, sekolah umum masih begitu langka, dan keluarga ayah juga bukan keluarga yang tingkat perekonomiannya tinggi. Pada masa mudanya, mungkin hanya orang-orang yang perkonomiannya mapanlah yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi.

Apa yang terjadi pada masa muda ayahku tentunya tak dapat disamakan dengan masa kini. Pendidikan tentunya tak hanya didapatkan dari pendidikan formal seperti sekarang ini. Orang-orang ketika itu mungkin lebih mudah dan lebih senang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah agama seperti madrasah, dan pendidikan jenis inilah yang dilalui oleh ayah. Selain bersekolah di madrasah, ayah juga berguru secara pribadi kepada sembilan orang guru. Ketika di masanya tradisi tulis menulis masih begitu minim, maka ayah telah mendobrak hal itu. Beliau suka menulis, walaupun tulisannya hanya sebatas ilmu keislaman. Tapi hal tersebut cukuplah menyatakan, bahwa ayah adalah sosok yang cukup sadar akan arti pentingnya pendidikan dan budaya menulis.

Aku selalu mengenang ayah dalam kenangan yang begitu indah. Beliau menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat. Beliau mendidik anak-anaknya dengan cara-cara yang demokratis dan penuh kasih sayang. Beliau telah menumbuhkan tradisi ilmu di dalam keluarga kami semenjak kami berusia belia.

Setiap pembagian raport ketika aku SD, selalu mengembang senyum di wajah ayah, karena aku selalu mendapatkan peringkat pertama. Entah apa yang ada di benaknya ketika itu. Tapi bagiku, semua itu sudah menjadi dorongan positif untuk terus berprestasi di dalam pendidikan. Aku merasa puas ketika itu sudah bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik kepada orang tuaku. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku begitu mendukung pendidikan anak-anaknya. Dari sinilah aku tahu, bahwa kedua orang tuaku tidak seperti orang tua-orang tua lainnya di lingkungan kampongku. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, kedua orang tuaku tetap bertekad kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dan aku merasa beruntung dalam hal ini telah mendapatkan orang tua seperti mereka.

***

Suatu ketika, ayah pernah bercerita mengenai Imam Syafi'i yang sudah hapal Alquran semenjak berada di dalam kandungan ibunya. Kata ayah, Imam Syafi'i cukup lama berada di dalam kandungan ibunya. Lamanya berada di dalam kandungan itu karena Imam Syafi'i sedang belajar Alquran. Entah benar entah tidak cerita ini. Mungkin ini hanyalah cerita penghibur dari ayahku agar kami anak-anaknya mau belajar Alquran secara tekun.

Ayah juga pernah berkisah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani, yaitu seorang wali dan sufi yang cukup terkenal yang berasal dari Timur Tengah (lahir di Kota Jailan atau Kailan-Persia tahun 470 H/1077 M, wafat di Kota Baghdad pada tanggal 9 Rabiul akhir 561 H/1166 M). Suatu ketika, ada seorang maling yang akan merampok di rumah Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Ketika itu Syeikh Abdul Qadir sedang beribadah, dan si perampok kebetulan ketika itu sedang bersembunyi di bawah tempat Syeikh Abdul Qadir Jaelani beribadah. Di dalam khalwatnya itu, Syeikh Abdul Qadir juga sedang berkomunikasi jarak jauh dengan Wali Qutub (pemimpin para wali). Wali Qutub meminta Syeikh Abdul Qadir mencarikan seorang pengganti wali di suatu tempat. Mungkin karena Syeikh Abdul Qadir sudah mengetahui bahwa di bawah tempatnya sedang berkhalwat itu ada perampok yang sedang bersembunyi atau mungkin di dalam munajatnya ia mendapatkan suatu petunjuk, maka seketika itu juga Syeikh Abdul Qadir menjebol lantai tempat dia berada saat itu. Lalu diangkatnyalah si perampok dan mengatakan kepada Wali Qutub dalam komunikasi jarak jauhnya itu, bahwa ia sudah menemukan calon pengganti wali yang dimaksud oleh Wali Qutub. Tiada lain dan tiada bukan, si perampok itulah yang dijadikan sebagai pengganti wali di tempat yang dimaksud.

Entah cerita ini nyata atau fiktif, bahkan kalaupun fiktif, hingga kini aku tak tahu hikmah dari cerita perampok yang tiba-tiba menjadi wali ini. Mungkin hikmahnya adalah bahwa sejahat apapun seseorang, maka tetap saja orang tersebut memiliki potensi untuk menjadi baik. Dalam kehidupan seseorang, selalu saja ada keajaiban yang bisa menghampirinya.

***

Ah, sungguh ayahku mengagumkan ketika berkisah. Kami seakan-akan tersihir dengan kisah yang dituturkannya. Tapi begitulah cara ayahku mentransformasi ilmunya kepada kami. Bahkan bukan hanya kepada kami, kepada para muridnya yang lain pun yang rata-rata sudah berusia dewasa, ayah tetap tak ketinggalan menyampaikan kisah-kisah. Seakan-akan ayah tak pernah kehabisan stok cerita, ada saja cerita yang ia sampaikan. Dan yang patut diingat, para muridnya akan asyik berjam-jam mengikuti pelajaran yang diberikan ayahku. Entah karena pelajarannya, atau karena kisahnya yang membuat para murid ayahku betah berlama-lama duduk di ruang tamu rumahku mengikuti pelajaran ayah.

Kadang murid-murid ayah datang ke rumah, atau terkadang juga ayahlah yang mendatangi murid-muridnya. Muridnya berasal dari berbagai kalangan. Aku sendiri sering menemani ayah mendatangi muridnya di pasar, karena memang ada sebagian muridnya yang berprofesi sebagai pedagang. Entah bagaimana caranya ayah memberikan pelajaran kepada muridnya yang kadang melayani pembeli dan mengurus barang dagangannya. Tapi yang pasti, ayah punya cara tersendiri untuk hal itu.

Menurut cerita ayah, bahwa di masa mudanya, beliau juga adalah pedagang. Karena itulah, ayah banyak memiliki kenalan dari kalangan pedagang. Cara berdagang yang dilakoni ayah juga begitu uniknya. Setidaknya hal ini aku dapatkan dari kisah beliau sendiri. Ketika masa mudanya, ayah menjadi tangan kanan pamannya dalam berdagang. Perdagangan yang berlangsung sungguh di luar apa yang kita pikirkan selama ini. Bahkan boleh dikatakan dengan modal uang yang cukup minim. Modal yang paling diperlukan dalam perdagangan yang dilakoni ayahku itu lebih banyaknya adalah modal kecerdikan, serta juga keberanian. Ajang perdagangannya adalah di atas Sungai Kapuas.

Dengan menggunakan sampan, mereka (ayahku dan pamannya) berkayuh mendatangi para pedagang lainnya yang juga bersampan. Macam-macam pedagang yang mereka datangi, di antaranya adalah pedagang kelapa. Seakan-akan sebagai pembeli, mereka menawar barang dagangan tersebut dalam jumlah yang banyak, dan tentunya dengan harga tawaran yang diperkirakan akan mendatangkan keuntungan jika barang tersebut dijual lagi. Tentunya pedagang kelapa itu bergembira sekali, karena ada yang akan membeli dagangannya dalam jumlah yang banyak. Tawar-menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Pembayaran tidak dilakukan di tempat, melainkan baru akan dibayarkan ketika barang telah dimuat ke kapal. Memangnya kapal siapa, sedangkan mereka (ayahku dan pamannya) hanya bersampan? Tentunya bukan kapal milik mereka, melainkan kapal milik orang lain. Mengapa bisa seperti itu? Nah, di sinilah cerita uniknya.

Setelah itu, mereka berkayuh menuju kapal ataupun motor bandong yang sedang berlabuh yang mungkin sebelumnya telah mereka ketahui akan membeli kelapa dalam jumlah yang banyak. Transaksi kembali terjadi. Kini transaksi yang berlangsung adalah dengan pemilik kapal. Tawar menawar pun terjadi, hingga harga pun disepakati. Tentunya harga jual yang mereka tawarkan kepada pemilik kapal lebih tinggi dibandingkan harga jual dari pedagang kelapa. Setelah itu, mereka pun kembali mendatangi pedagang kelapa untuk segera memuat kelapa jualannya ke atas kapal. Setelah kelapa dimuat oleh pedagang kelapa ke atas kapal, maka mereka pun kembali mendatangi pemilik kapal untuk mengambil uang pembayaran dari pemilik kapal. Setelah itu, barulah mereka membayarkan uang tersebut kepada pedagang kelapa, yang tentunya dari pembayaran itu mereka sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan.

Lihatlah, ayahku dan pamannya telah melakoni perdagangan yang cukup unik. Mereka tidak bermodal uang sedikit pun, kecuali hanyalah bermodalkan keberanian, kecerdikan, dan kepercayaan dari pedagang kelapa dan pemilik kapal. Tenaga yang mereka keluarkan pun begitu minimnya, karena yang memuat kelapa tersebut ke kapal bukanlah mereka, melainkan pedagang kelapalah yang langsung memuatnya ke kapal. Dalam hal ini, pedagang kelapa puas, pemilik kapal juga puas. Pedagang kelapa merasa puas karena barang dagangannya telah terjual dalam jumlah yang lumayan banyak, sedangkan pemilik kapal merasa puas karena kapalnya telah terisi dengan barang yang diinginkannya tanpa harus bersusah payah mencari barang tersebut kepada para pedagang.

Mengapakah pedagang kelapa dan pemilik kapal bisa percaya kepada mereka? Mungkin bisa jadi pedagang kelapa mengira bahwa pemilik kapal itu adalah ayahku dan pamannya, atau setidaknya mengira bahwa mereka adalah pekerja ataupun orang kepercayaan ataupun orang yang memiliki otoritas tertentu di kapal tersebut. Sedangkan pemilik kapal mungkin mengira, bahwa yang memiliki dagangan kelapa itu adalah mereka, dan pedagang kelapa yang memuat kelapa tersebut ke kapalnya tak lain adalah pekerja ataupun pesuruh dari ayahku dan pamannya.

***

Pada waktu yang lain, ayah juga pernah berkisah mengenai seorang anak yang ingin belajar di suatu madrasah (sekolah). Setting cerita ini adalah di Timur Tengah. Entah karena apa, mungkin karena keluarganya tidak mampu, si anak pun kemudian tak dapat bersekolah. Karena tekad si anak yang begitu kuat untuk menuntut ilmu, maka si anak pun hanya mendengarkan pelajaran dari kolong ruangan kelas di madrasah itu tanpa diketahui oleh si guru dan murid-murid yang berada di dalam ruangan belajar tersebut.

Si anak menyimak dan mencatat setiap pelajaran yang didengarnya dari bawah kelas. Alat tulis yang digunakan anak itu untuk mencatat adalah berupa papan tulis kecil yang kalau catatannya sudah penuh, maka tulisan yang ada di papan tulisnya itu dihapus untuk kemudian digunakan lagi untuk menulis. Jadi jangan disamakan dengan catatan kita sekarang yang itu bisa disimpan dan suatu waktu bisa dibaca lagi, karena alat tulis yang digunakan anak itu tak lebih hanyalah media tulis sementara, untuk kemudian ia menyimpan catatannya itu langsung ke memori otaknya.

Hingga suatu ketika, si guru menanyakan kepada murid-muridnya mengenai suatu hal dari pelajaran yang telah disampaikannya. Ternyata murid-muridnya tak dapat menjawab pertanyaan si guru. Mungkin karena mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru, maka anak yang berada di bawah kolong kelas itu pun keluar, kemudian masuk ke dalam kelas. Ia mengatakan, bahwa ia mengetahui jawaban dari pertanyaan si guru. Tentu saja guru dan murid-murid yang berada di dalam kelas menjadi heran akan hal ini. Berkat kebijaksanaan si guru, maka si anak itu pun dipersilakan untuk menjawab pertanyaan yang dimaksud. Dan ternyata, jawaban dari si anak itu benar. Entah cerita ini benar atau fiktif belaka, tapi yang pasti ayah hanya sekedar berkisah yang mungkin di dalam kisahnya itu ada hikmah yang bisa diambil.

Tentang cerita ayah mengenai Syeikh Abdul Qadir Jailani yang menjebol lantai rumahnya, belakangan kiranya ada pertanyaan yang menggelayuti diriku. Apakah benar rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu seperti halnya rumah kami orang-orang Pontianak yang berupa rumah panggung, yaitu rumah yang tidak langsung terletak di atas tanah, melainkan ada tiang yang memisahkan lantai rumah dengan tanah, sehingga ada bagian yang lowong di bawah rumah. Karena itulah, rumah orang Pontianak selalu ada kolongnya (kolong rumah). Sedangkan kita ketahui bersama, bahwa rumah orang-orang di Timur Tengah adalah rumah yang terletak di atas tanah, bukanlah seperti rumah kami orang-orang Pontianak. Sepertinya ayah agak kurang teliti ketika mengisahkan cerita tersebut. Atau memang disengaja seperti itu, sehingga alam pikiran kami bisa langsung nyambung dengan membayangkan bahwa rumah Syeikh Abdul Qadir Jailani itu sama halnya seperti rumah masyarakat Pontianak yang ada kolong rumahnya. Begitu juga dengan cerita si anak yang bersembunyi di bawah kolong kelas untuk menyimak pelajaran dari ruangan kelas yang ada di atasnya. Lagi-lagi ayah agak kurang teliti dalam mengisahkan cerita tersebut, atau memang disengaja seperti yang telah kusebutkan di atas.

Begitulah ayahku, orang tua sekaligus guru bagi kami anak-anaknya. Darinya kami mendapatkan pelajaran hidup melalui kisah-kisah yang dituturkannya. Dan melalui beliau pula kami anak-anaknya tumbuh dalam tradisi ilmu. Tradisi yang kiranya masih begitu langka di kampongku ketika itu, bahkan mungkin masih langka hingga kini. Tradisi yang dihidupkan di dalam keluarga sendiri oleh orang tuanya, yaitu tradisi keilmuan melalui media berkisah. Bagiku, sungguh apa yang telah dilakukan oleh ayahku itu adalah suatu terobosan kreatif di dalam keluarga kami yang bersahaja. Orang tua memang selayaknya juga menjadi guru dan pendidik bagi anak-anaknya. Dan didikan itu penuh dibaluti dengan nuansa demokratis dan kasih sayang yang kiranya kini pun masih jarang kita jumpai, bahkan di dunia pendidikan modern sekali pun. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, medio Februari-medio Agustus 2009]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi

Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar