Rabu, 18 Maret 2009

[Cerbung: Senja Merah Jingga] 3- Menerjang Si Kuning

Sungai bagaikan urat nadi bagi Kota Pontianak. Semuanya bermula dari sungai. Itulah Kota Pontianak, salah satu kota di dunia yang dilalui garis equator. Itulah Pontianak, salah satu kota yang dialiri oleh sungai terpanjang di Indonesia. Kota ini dibelah oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dan memang, ciri khas kota-kota yang ada di Bumi Kalimantan adalah sungai. Dari sungai-sungai yang panjang nan lebar itulah, kota-kota di Bumi Kalimantan membangun peradabannya. Sungai Kapuas, Landak, Mahakam, Sambas, Mempawah, Sarawak, dan Barito, adalah sedikit dari banyak sungai yang menjadi urat nadi beberapa kota di Pulau Kalimantan.

Jika Indonesia disebut sebagai Zamrud Khatulistiwa, maka Pulau Kalimantan-lah pusat dari zamrud yang berkilau-kilauan tersebut. Dan yang patut diingat, kota yang dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa memang berada di Pulau Kalimantan.

Tepat sekali. Kota yang dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa tersebut adalah Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, yang di masa lalunya merupakan Kesultanan Islam terakhir yang didirikan di Kalimantan Bagian Barat.

Sebagai kota yang pas dilalui oleh garis khatulistiwa (equator), maka sudah dapat dipastikan kota ini begitu panas menyengatnya, walaupun mungkin tak sepanas Kota Kairo yang pernah digambarkan oleh Habiburrahman As-Shirazy di dalam Novel Ayat-Ayat Cinta. Atau mungkin memang lebih panas dari Kota Kairo? Aku tak berani berspekulasi mengenai hal itu, karena aku memang belum pernah ke Kota Kairo. Seandainya Novel Ayat-Ayat Cinta itu mengambil setting Kota Pontianak, maka kemungkinan besar Habiburrahman As-Shirazy akan menggambarkan suhu Kota Pontianak begitu panas menyengatnya di siang hari, dan dingin menusuk hingga ke tulang sumsum pada malam sampai subuh harinya.

Sungai Kapuas dan Sungai Landak adalah berkah yang tak terhingga bagi penduduk Kota Pontianak. Panas menyengatnya kota ini akan hilang dengan sendirinya jika kita sedang berada di pesisir sungai. Anginnya yang sejuk melenakan tubuh yang sedang kepanasan.

Bagi anak-anak, bermain di sungai juga merupakan hiburan yang cukup mengasyikkan. Tak terkecuali bagi Budak-budak Laot. Dalam hal bermain di sungai ini, Izwar lah yang paling kreatif dan bersemangat. Sehingga di antara kami berempat, dia lah yang paling hitam. Karena jika bermain di sungai, dia lah yang paling bisa bertahan lama. Mengapa hitam? Ya …, wajar saja, habis mandi, kemudian berjemur, setelah itu mencebur lagi ke sungai, lalu kalau letih di air, maka berjemur lagi. Begitulah seterusnya, dari siang hingga menjelang petang.

* * *

Izwar, anak yang kreatif di antara kami. Daya kreatifitasnya begitu tinggi. Hingga berbagai macam permainan bisa ia ciptakan, hanya dari satu sumber, yaitu Sungai Kapuas. Izwar yang kreatif itu, ternyata kehidupan yang dijalaninya tidaklah ringan. Ia dididik oleh seorang ayah yang begitu keras. Mengapa kukatakan keras? Karena memang tipikal ayahnya Izwar ini adalah tipikal orang yang keras. Pekerjaan sehari-harinya adalah memperbaiki kapal-kapal yang bocor, yang pekerjaan itu memang membutuhkan tenaga yang begitu besar. Tak jarang kudengar jika Izwar dan adik-beradiknya tidak mau menuruti perkataan ayahnya, maka mereka dipelasah (dipukul), bahkan sangat berlebihan menurutku. Sungguh berbeda sekali dengan diriku yang selalu dididik oleh kedua orang tuaku dengan kasih sayang. Karena memang di dalam mendidik anak-anaknya, kedua orang tuaku tidak pernah sampai memelasah (memukul).

Oh ya …, Izwar dan Witri itu memiliki hubungan yang begitu unik. Izwar adalah pamannya Witri, sedangkan Witri adalah keponakan Izwar. Mengapa bisa seperti ini, sedangkan mereka sebaya? Ayah Izwar adalah adik sebapak dari neneknya Witri. Sehingga seharusnya Witri memanggil Izwar dengan sebutan pamanda, atau jika disesuaikan urutan kelahiran Izwar, maka seharusnya Witri memanggil Izwar dengan sebutan “Pak Ngah” (ngah ataupun angah adalah sebutan untuk anak ke-2).

Kiranya sungai, dengan berbagai macam permainan yang biasa dimainkan oleh Izwar bersama kami teman-temannya, adalah hiburan tersendiri bagi Izwar atas kerasnya didikan yang ia dan saudara-saudaranya terima dari ayahnya.

Sungai Kapuas adalah sungai yang begitu berartinya bagi seorang Izwar. Dialah di antara kami berempat yang menurutku cocok menyandang sebagai “budak laot” sejati.

***

Lain Izwar, lain pula Witri. Siang ketika itu, Witri yang inovatif memunculkan idenya yang cukup menarik bagi kami untuk mengikutinya.

“Kawan-kawan, bagaimana kalau kita hari ini memainkan permainan baru?” ujar Witri dengan bersemangatnya.

Aku yang tuya’ (selalu ingin tahu) langsung menimpali, “Permainan apakah itu, Wit?”

“Pokoknya kalian ikuti saja. Aku pun bingung menamakannya permainan apa.”

Setelah permainan itu dimainkan, luar biasa permainannya, luar biasa juga konyolnya. Tapi bagi kami, kekonyolan permainan seperti ini justru begitu mengasyikkan. Memangnya apa sih permainannya?

Aku sebenarnya malu untuk mengatakannya. Tapi sudahlah, semuanya itu kini tinggallah menjadi kenangan bagiku. Sehingga tak ada salahnya aku tuliskan di sini.

Permainan itu adalah permainan yang tak ada namanya. Kalaupun ada namanya, begitu jelek sekali nama permainannya, yaitu permainan menghancurkan tahi. Ya …, tahi. Yaitu tahi manusia yang biasanya mengapung di sungai, karena warga pesisir Sungai Kapuas biasanya buang hajat di jamban-jamban yang berada di atas sungai.

Kami berempat sama-sama berdiri di atas gertak menunggu si kotoran manusia itu lewat. Siapa yang jeli, maka dialah dahulu yang dapat melihat si sasaran permainan itu mengapung dan hanyut. Siapa yang berani, maka dia akan langsung terjun menerjang si kuning yang berbau itu. Sedangkan yang lain yang tak berani atau jijik, maka melihat saja aksi sadis temannya menerjang si sasaran hingga hancur berderai. Tapi memang keempat-empatnya begitu berani dan saling berebutan menghancurkan sasaran.

Selain permainan tersebut, kiranya masih banyak lagi permainan-permainan konyol lainnya. Bukan hanya konyol, tapi kadang membahayakan. Lain dulu lain sekarang. Kini anak-anak pesisir Sungai Kapuas sudah jarang sekali memainkan permainan-permainan yang dulunya sering kami mainkan. Karena kini sudah begitu banyaknya sarana permainan dan hiburan merasuki kehidupan anak-anak pesisir Sungai Kapuas. Televisi kini sepertinya sudah setiap rumah memiliki, yang juga biasanya dilengkapi peralatan elektronik lainnya seperti VCD/DVD Player dan Play station.

Perubahan zaman kini juga telah ikut mengubah kebiasaan anak-anak Melayu di pesisir Sungai Kapuas. #*#


[Hanafi Mohan – Ciputat, akhir April 2008]


Cerita sebelumnya

Kembali ke Daftar Isi


Sumber Gambar: http://acquapro.us/
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar