Rabu, 30 September 2015

Menelisik Jati Diri, Menyibak Tamaddun Negeri


Pada sekitar tahun 2005, pernah menulis suatu makalah sebagai prasyarat mengikuti Intermediate Training pada organisasi mahasiswa ekstra kampus yang saya bergiat di organisasi tersebut ketika itu. Tajuk makalahnya masih ingat betul, yaitu “Teknologi dan Teralienasinya Manusia; Menyibak Relung-Relung Akal dan Hati”. Makalah tersebut khusus membahas mengenai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan organisasi mahasiswa sebagai rumah ke-dua tempat saya berteduh tersebut.

Tulisan saya kali ini bukan ingin mendedah makalah yang dimaksud, hanya kebetulan teringat tajuk makalahnya itu saja. Dan sememangnya pengalaman beraktivitas di organisasi tersebut adalah salah satu tahap kehidupan yang pernah saya jejaki sehingga sampai pada tahap kehidupan kini.

Saya sungguh menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap fase kehidupan yang pernah saya lalui hingga sampai pada fase kini merupakan proses berterus-terusan menelisik jati diri. Segala macam pandangan saya kini adalah akumulasi dari semua fase yang telah dilalui itu. Sehingga saya pun sedikit demi sedikit dapat menyibak tamaddun negeri kampong halaman saya, negeri tempat saya lahir dan membesar diri.

Dilahirkan dan dibesarkan di salah satu negeri Melayu, juga dididik dengan segala macam tunjuk ajar Melayu berikut khazanah adat resam budaya Melayu yang begitu kaya. Setidak-tidaknya itulah jati diri sebagai Budak Melayu yang hingga kini tak pernah sedikit pun meluntur dari kedirian ini, apakanlah lagi sampai tumpas punah ranah berderai terkecai-kecai.

Masa-masa membesar diri di Negeri Pontianak patut saya akui sebagai masa-masa terindah yang pernah diri ini lalui. Dan kemudian masa-masa menempuh pendidikan di Tanah Betawi adalah masa-masa penuh tantangan dan menggoreskan selaksa pengalaman. Bertahun-tahun bermastautin di Tanah Betawi serta menimba ilmu dan pengalaman di negeri tempat bersinggasananya pusat kekuasaan negara ini tak kemudian memupuskan jati diri saya sebagai Budak Melayu Negeri Pontianak. Sebagaimanapun saya di masa kini, tetaplah takkan pernah luntur, bahwa saya tetaplah Anak Wathan Pontianak.

Sebagai salah satu negeri Melayu termuda di antara yang lainnya, Pontianak telah mawjud menjadi negeri yang diperhitungkan dahulu hinggalah kini. Hal itu tiada lain karena perjuangan para pemangku negerinya yang tak kenal lelah demi memartabatkan negeri ini. Dalam usianya yang masihlah muda ketika itu, Negeri Pontianak telah menjelma menjadi bandar utama di Borneo Barat, bahkan menjadi ibu negeri bagi Federasi Borneo Barat.

Pahit, manis, masam, masin, hambar, tawar, sepat, dan kelatnya perikehidupan tentu telah dilalui Negeri Pontianak sepanjang untaian sejarah dan ungkaian tamaddunnya. Selama masa yang tak sebentar itu, selaksa cabaran silih tukar berganti mendera negeri yang terberkahi ini, bahkan hingga kini serasa kunjung tak ada habisnya menimpa negeri yang sangat dicintai oleh putera-puterinya ini. Tapi Negeri Pontianak bukanlah negeri yang baru semalam tegak berdiri di atas hamparan bumi nan fana ini. Cabaran seperti apapun yang mendera negeri yang di'azazkan oleh jurai zuriat Rasulullah ini, maka segala macam cabaran itu takkan pernah meluluh-lantakkan negeri yang darussalam ini.

Teringat pula dengan untaian syair Zikir Hadrah yang sentiasa dilaung-laungkan oleh Kelab Hadrah Setia Tambelan setiap kali memperingati Hari Jadi Negeri Pontianak. Syair Hadrah Hari Jadi Negeri Pontianak dimaksud dikarang oleh Allahyarham Al-Ustadz Haji Muhammad Qasim Mohan (Haji Muhammad Qasim bin Haji Muhammad Bura’i bin Haji Adnan bin Haji Ahmad bin Haji Abu Na’im). Beliau adalah pemimpin Kelab Hadrah Setia Tambelan ketika itu, juga pernah berkhidmat mengemban amanah sebagai Kepala’ Kampong Tambelan Sampit untuk beberapa masa bakti. Begini tiga bait pertama dari untaian syairnya:

Maha suci Tuhan melimpahkan hidayahnya
Pada Syarif 'Abdurrahman yang dikehendakinya
Untuk membuka negeri, Pontianak namanya
Satu Tujuh Tujuh Satu Masehi di dalam sejarahnya

Syarif 'Abdurrahman kembali ke daerah
Di sebuah negeri bernama Mempawah
Menemui ayahnya yang pernah beramanah
Menganjurkan membuka negeri menegakkan agama Allah

Tiba di Mempawah ayahanda telah tiada
Hatinya merasa sedih mengenangkan ayahnya
Yang telah beramanah kepada dirinya
Supaya membuka negeri tempat kediamannya


Jika syair Zikir Hadrah dimaksud dihayati betul-betul, apalagi dibawakan dengan irama yang pas, tentu kita dapat hanyut dalam untaian Riwayat Negeri Pontianak yang 'kan selalu diingat-ingat oleh putera-puteri negeri ini. Untaian syair yang membawa pada perasaan yang begitu khas.

Tiga bait lainnya dalam untaian syair ini juga sedikit menggambarkan suatu episode sejarah yang begitu penting ketika didirikannya Negeri Pontianak. Begini untaian syairnya:

Sampai di Batu Layang di waktu shubuh hari
Sembahyang dua raka'at serta memuji
Kebesaran Tuhan Rabbul Izzati
Yang dicita-citakan telah dipenuhi

Beliau sepakat melepaskan tembakan
Di mana peluru jatuh di situ didirikan
Daerah Simpang Tiga peluru ditemukan
Di situlah pertama mereka menebang hutan

Syarif 'Abdurrahman bersyukur kepada Tuhan
Amanah ayahanda telah dapat dilaksanakan
Di waktu pertama bekerja menebang hutan
Didirikan Masjid Jami' Sultan Syarif 'Abdurrahman


Dan tak lupa pada salah satu bait penutupnya menggambarkan harapan dan ‘azam putera-puteri Negeri Pontianak untuk terus dan selalu menggemilangkan negeri yang begitu dicintainya ini. Bait penutup dimaksud berbunyi seperti ini:

Ya Allah iftahlana Ya Rahman
Berikanlah kami satu kekuatan
Dalam perjuangan menyukseskan pembangunan
Melanjutkan cita-cita Sultan Syarif 'Abdurrahman


Tarikan negeri ini terhadap masyarakatnya begitulah kental, bagai seorang anak dengan ibundanya. Sebagaimana seorang anak yang begitu akrab pertalian jiwanya dengan ibu kandung yang melahirkannya, sebegitu juga putera-puteri negeri ini dengan Negeri Pontianak sebagai negeri kampong halamannya, negeri tempatnya dilahirkan serta dibesarkan. Segenap jiwa dan raganya rela dikorbankannya demi menjaga marwah negeri ini, demi menjulangkan tamaddunnya yang tak lekang oleh panas, serta takkan pula usang oleh hujan.

Masih begitu banyak yang sepatutnya dilakukan oleh putera-puteri Negeri Pontianak demi semakin memartabatkan negeri ini masa kini hingga ke masa hadapan. Tapi satu yang pasti, jati diri sebagai Anak Wathan Pontianak patut berterus-terusan dipupuk. Luntur jati diri, terbenam pula negeri ini di samudera peradaban dunia.

Kampong halaman kita harus selamat, jangan sampai melintang pukang tak tentu hala tuju di tengah racaunya dunia ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan di Negeri "Bumi Khatulistiwa" ini, maka tentulah kita juga yang akan menjaganya dan menyelamatkannya dari segala macam cabaran.

Semoga kita sentiasa dilimpahkan ketabahan dan kesabaran demi menggilang-gemilangkan negeri yang sama-sama kita cintai ini. Tawfiq serta hidayah dari Allah Rabbul Izzati tentu selalu kita harap-harapkan sebagai penuntun jalan tika gelita. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 8-16 Dzulhijjah 1436 Hijriyyah,
bertepatan dengan 22-30 September 2015 Miladiyyah



Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar