Rabu, 17 Juli 2013

Mengenang Sultan Hamid II ketika Pagi Juma'at 12 Juli 2013


Pagi tadi (Juma’at, 12 Juli 2013), sebak dan haru tika 'kan menulis: “Hari ini, kami mengenang 100 tahun miladmu wahai Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie ibnu Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak.

Entah mengapa, setiap kali akan menulis mengenai Sultan Hamid II, berkecamuk rasa sebak, haru, dan pemberontakan. Rasa itu bergumpal-gumpal. Tiada lain tiada bukan, terkenang akan perjuangan dan pengorbanannya, juga perjuangan dan pengorbanan keluarga besarnya, juga Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat. Lebih daripada itu, dirinya juga kemudian menjadi korban dari persekongkolan jahat golongan-golongan yang mengatasnamakan “RI-Jogja”/"NKRI"/Kaum Unitaris-Republikan.

Dia-lah harapan terakhir Negeri Pontianak setelah Ayahandanya dan semua saudara-saudara laki-lakinya dibantai dibunuh oleh Balatentara Jepang. Iya, betul, tiada lain dan tiada bukan, Jepang yang dimaksud yaitu Jepang Si Saudara Tua-nya NKRI itu. Si Saudara Tua-nya NKRI tersebut memang berhasil membantai habis Satu Generasi Emas Borneo Barat ketika itu.

Satu Generasi Borneo Barat memang berhasil dibantai habis oleh Si Saudara Tuanya NKRI itu. Sungguhpun begitu, Negeri-Negeri kami masih tegak berdaulat. Pangeran Syarif Hamid Al-Qadrie ketika itu masih mendekam di penjara sebagai tahanan perang, dipenjarakan oleh si saudara tua-nya NKRI itu.

Selepas bebas dari penjaranya Jepang, tak lama kemudian beliau ditabalkan menjadi Sultan Pontianak ke-VII. Kesultanan Pontianak pun menata diri. Begitupun Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan lainnya se-Borneo Barat juga menata diri, Sultan/Raja/Panembahan baru juga ditabalkan.

Jepang si saudara tua-nya NKRI itu memanglah berhasil membantai habis para pemimpin Negeri-Negeri kami, tapi Borneo Barat terus bergerak. Selepas Saudara Tuanya NKRI itu berhambos, Kesultanan-Kesultanan/Kerajaan-Kerajaan se-Borneo Barat pun menata diri, dan kemudian tegaklah Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat. Di masa-masa itu, Federasi Borneo Barat/Negara Borneo Barat begitulah aman, damai sentausa, dan sejahtera, berbanding terbalik dengan Negeri-Negeri lainnya yang masih bergejolak.

Ternyata, petaka menghadang di depan. Petaka itu datang dari saudara mudanya Jepang, yaitu NKRI, yang kala itu masih bernama RI-Jogja. Cerita selanjutnya dapat ditebak, Borneo Barat kemudian menjadi wilayah jajahan RI-Jogja/NKRI, setelah sebelumnya RI-Jogja/NKRI memerangkap dan memenjarakan Sultan Hamid II. Dan hingga kini Borneo Barat masih berada di bawah kekangan penjajahan RI-Jogja/NKRI, masih dijajah oleh RI-Jogja/NKRI si saudara mudanya Jepang itu.

Borneo Barat takkan tinggal diam. Borneo Barat terus bergerak. Di Seabad Sultan Hamid II ini, semangat itu berkobar-kobar. Kami mau dan kami bisa.

"Kami mau, dan kami akan melakukannya sendiri. Kami akan mencapainya." [petikan pidato Sultan Hamid II ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag – Belanda, 1949]



- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 3-4 haribulan Ramadhan sanat 1434 Hijriyah /
Bertepatan dengan tarikh 12-13 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


*Tulisan ini sebelumnya merupakan Tweet pada Linimasa Akun Twitter @hanafimohan pada tanggal 12 hingga 13 Juli 2013*


Sumber gambar ilustrasi: Album "Gambar Garis Masa" Fans Page "Sultan Hamid II"


Tulisan ini dimuat kembali sebagai tulisan utuh di: Laman Blog "Arus Deras"




Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar