Rabu, 22 April 2015

Ketika Arab Melayu Dibenamkan di Negeri Sendiri


Bilakah Abjad Arab Melayu mula digunakan di kalangan Bangsa Melayu? Sudah berabad-abad silam tentunya Abjad Arab Melayu diamalkan dan diguna-pakai oleh Bangsa Melayu. Setidak-tidaknya bermula pada masa Islam sudah betul-betul mewujud sebagai kekuatan politik pada masa itu dalam bentuk kerajaan-kerajaan Islam (kesultanan-kesultanan). Bahkan bisa jadi lebih awal lagi dari masa-masa yang dimaksud. Bisa lebih awal maksudnya yaitu bisa lebih awal lagi dibandingkan ketika Islam sudah mewujud sebagai kekuatan politik. Yang pasti setelah Islam tersebar di Kepulauan Melayu ini.

Sebelum mengamalkan Abjad Arab Melayu, tentu bumiputera di Kepulauan Melayu ini terlebih dahulu telah mengenal dan mengguna-pakai beberapa abjad selain Arab Melayu. Misalkan yang masyhur pada masa itu adalah Abjad Rencong. Beberapa lainnya adalah Abjad Pallawa yang berasal dari India bagian selatan, serta abjad-abjad turunannya (yang tiap wilayah/negeri memiliki abjad tersendiri yang merupakan abjad turunan dari Abjad Pallawa).

Pada dasarnya Abjad Arab Melayu memanglah mengadopsi Abjad Arab. Di dalam Abjad Arab Melayu ditambahkan beberapa huruf yang khas dari Bahasa Melayu yang tidak ada di dalam Abjad Arab. Abjad Arab Melayu sendiri merupakan buah dari Budaya Melayu, berkat persinggungannya dengan Arab-Islam. Huruf-huruf pada Abjad Arab Melayu sebagian besarnya memanglah diambil dari Abjad Arab, yang itu juga suatu yang tak dapat disangkal-sangkal.

Bagaimana pula penyebaran Abjad Arab Melayu sehingga dikenal oleh seluruh masyarakat Melayu? Abjad dimaksud tersebar seiring sejalan dengan penyebaran Agama Islam di Kepulauan Melayu ini. Juga berkait-kelindan dengan Dakwah/Syi'ar Islam oleh para 'ulama, melalui kitab-kitab ilmu yang mereka tulis. Sastera Melayu juga mempunyai peran tersendiri dalam penyebaran abjad yang satu ini. Selain itu, pihak-pihak istana kerajaan-kerajaan/kesultanan-kesultanan pada masa itu juga mempunyai andil yang besar dalam menyebarkan abjad tersebut.

Huruf Arab Melayu boleh dikatakan sudah pupus, sebab di masa-masa kini tak diperkenalkan lagi membaca dan menulis dengan Arab Melayu. Macam mana upaya kita untuk mengangkatnya kini? Salah satu usahanya yakni dengan menghidupkan kembali lembaga-lembaga pendidikan semacam Madrasah Diniyyah di seluruh negeri-negeri Melayu.

Apakah itu sudah cukup? Tentunya belumlah cukup jika hanya itu saja usaha yang dilakukan. Para 'ulama Melayu harus kembali menghidupkan budaya menulis, sebagaimana 'ulama-'ulama Melayu terdahulu. Setelah budaya menulis itu hidup di antara 'ulama-'ulama Melayu, barulah sedikit-sedikit setiap 'ulama memberanikan diri menulis dalam Abjad Arab Melayu. Begitu juga dengan para penulis dan sasterawan Melayu yang lainnya, mau tak mau harus membiasakan diri menulis dalam Abjad Arab Melayu.

Para guru (ustadz-ustadzah) juga punya tanggungjawab yang sama dalam hal mengangkat khazanah Bangsa Melayu yang satu ini. Dan memang ini semua menjadi tanggungjawab semua budak-budak Melayu dari mana pun asal negerinya, dan di mana pun ia bermastautin. Ini tanggungjawab kita bersama yang mengaku Budak Melayu, yang jelas tersemat pada dirinya sebagai putera-puteri Bangsa Melayu adanya.

Salah satu usaha yang boleh dilakukan kini untuk menghidupkan Abjad Arab Melayu dapat juga dengan cara menulis penanda-penanda bangunan dan jalan menggunakan Abjad Arab Melayu (juga untuk penanda di tiap kampong/pemukiman). Hal serupa boleh pula diberlakukan pada media-media visual yang lainnya semacam baliho, spanduk, poster-poster iklan di tepi jalan, dan sebagainya. Serta melalui pendidikan sekuler sekarang ini sedikit-sedikit patut juga kiranya dimasukkan semacam mata pelajaran Abjad Arab Melayu.

Walaupun ada upaya untuk memakai lagi Huruf Arab Melayu pada masa sekarang, tapi belum begitu maksimal untuk bisa dikenal lagi oleh Orang Melayu. Penyebabnya karena kita memang sudah asing dengan Abjad Arab Melayu. Padahal peradaban Abjad Arab Melayu itu belum jauh masanya meninggalkan kita.

Sungguh begitu dahsyatnya kekuasaan dan pendidikan sekuler yang diamalkan di serata Kepulauan Melayu ini, yang telah mencuci otak kita dan menghilangkan ingatan sejarah kita akan peradaban Abjad Arab Melayu tersebut. Dan kemudian hancur binasa punah ranahlah peradaban serta khazanah tersebut dari kehidupan Bangsa Melayu kini. Ironis memang, Arab Melayu dibenamkan di negerinya sendiri. Diakui atau tidak, Faham Nasionalisme/Ultranasionalisme lah yang menghancurkan peradaban dan budaya Bangsa Melayu. Termasuk juga dalam hal Abjad Arab Melayu. #*#



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 4 Rabi’ul Akhir 1436 H,
bertepatan dengan 23-24 Januari 2015 M




* Gambar ilustrasi : Salah satu Surat Dakwaan di Mahkamah Syari'ah Kesultanan Pontianak pada masa Sultan Syarif Yusuf Al-Qadri (Sultan Pontianak ke-V). Surat Dakwaan ini ditulis dalam Bahasa Melayu menggunakan Abjad Arab Melayu.

* Sumber gambar ilustrasi : Koleksi Foto Hanafi Mohan

* Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Laman Web Melayu.us


Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar