Kamis, 23 April 2015

Kaum Buta Huruf


Orang-orang tua di kampongku (di dalam Negeri Pontianak) pada suatu masa dahulu pernah digolongkan sebagai kaum buta huruf. Tapi apakah mereka betul-betul buta huruf? Nyatanya mereka sangat pacak nan pandai baca-tulis Arab dan Arab Melayu. Lalu apa musababnya sehingga mereka digolongkan sebagai kaum buta huruf? Tiada lain jawabannya, karena mereka tak pandai baca-tulis Latin.

Di gedung sekolah kami ketika itu, kalau pagi hingga siang kelasnya berisi murid-murid sekolah dasar yang sedang belajar, maka lain lagi siang hingga petang harinya. Kelas-kelas kami siang hingga petang dipakai oleh orang-orang tua kami untuk belajar baca-tulis Latin.

Para "Kaum Buta Huruf" ini dengan khidmat mempelajari baca-tulis abjad yang diguna-pakai oleh bangsa-bangsa nun jauh di sana. Mereka mau tak mau menerima sebutan sebagai orang-orang yang buta huruf. Menurut penguasa ketika itu, orang-orang yang buta huruf tersebut adalah orang-orang yang bodoh.

Kini sebagian dari "Kaum Buta Huruf" itu telah ramai yang tiada, telah pergi mendahului kami. Dari mereka lah kami belajar mengaji Al-Qur'an, menderas baca tulis Arab dan Arab Melayu.

Dan sememangnya mereka bukanlah Kaum Buta Huruf. Perubahan zaman serta beralihnya otoritas penguasa ke tangan kaum sekuler-republikan-unitaris telah ikut pula menepikan mereka para orang tua kami dengan stigma "Kaum Buta Huruf".

Mengingat stigma-stigma semacam itu yang suatu masa dahulu pernah ditimpakan kepada orang-orang tua kami, insyaflah diri kami, bahwa kaum kami pada masa itu secara sistematis memang sengaja hendak diketepikan oleh otoritas penguasa negara ini. Bahkan sampai kini pun kaum kami tetap dianggap sebagai kaum marjinal, dengan dilekatkan berbagai stigma negatif pula tentunya. Dan itu semua terjadi di kampong halaman kami sendiri, di negeri tanah kelahiran kami yang dahulunya pernah berdaulat. *#*



Hanafi Mohan
Tanah Betawi, 21-23 April 2015


* Sumber gambar ilustrasi: Laman Website batamtoday.com

Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar