Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Kamis, 15 Mei 2008

[Cerpen] Simpang Tiga

Setengah gelisah kulirik jam tangan. HP-pun tak berbunyi sedari tadi. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Di depan terbentang sungai kotaku. Pas di belakang ada Masjid Jami’. Aku sendiri kini berada di Kopol[1] Masjid Jami’. Kukirim SMS ke orang yang aku tunggu kini, yaitu teman milisku, Iduy namanya. Dalam enam bulan ini kami rutin bermilis-milisan mendiskusikan kotaku. Tepat hari ini kami berjanji untuk bertemu. Aku pun tak tahu persis wajahnya...

[Cerpen] Tiga Orang Buta

Ada tiga orang buta yang pada suatu siang berkunjung ke kebun binatang. Mereka berteman sangat akrab, dan sering berjalan bersama. Mereka berjalan seakan tak memiliki tujuan. Itulah di pandangan orang awam yang tidak buta. Namun lain lagi pada sisi ketiga orang buta tersebut. Bisa saja mereka memang memiliki tujuan. Buktinya pada siang itu, mereka dapat tiba di kebun binatang. Dan itu mungkin bukan karena mereka kebetulan lewat, tapi bisa saja mereka...

Minggu, 11 Mei 2008

[Cerpen] Dua Azan

Setiap pulang ke negeri kelahiranku, ada saja hal-hal yang menarikku untuk selalu kembali ke negeri tersebut. Keunikannya, orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku, dan hal-hal menarik lainnya. Tak terkecuali lebaran yang lalu. Ada seseorang yang aku tak bertemu dengannya saat kepulangan yang lalu. Namanya adalah Nurhidayat. Kami biasa memanggilnya Aba’. Ia masih kerabatku juga. Aba’ dulunya adalah seorang guru di negeri yang jaraknya sekitar...

[Cerpen] Sungaiku Tak Jernih Lagi

Entah mengapa, akhir-akhir ini semakin sulit saja menjala ikan di sungai. Biasanya timba yang kami bawa selalu penuh dengan ikan seluang, ikan sepat, dan udang. Bahkan kadang juga ikan mas dan ikan belidak. Tapi kini, jangankan ikan mas ataupun ikan belidak, ikan seluang pun hanya satu dua yang nyangkut di jala. “Mungkin hanya ini, Nak, rejeki kita hari ini. Alhamdulillah, kita masih dapat ikan untuk dijadikan lauk hari ini,” kata ayahku ketika...

[Cerpen] Penyanyi di Atas Kapal

Namanya Indah. Seorang biduan di atas kapal yang sebulan lalu aku tumpangi ketika pulang kampung. Suaranya begitu merdu, parasnya juga cantik. “Jadi, kau berkenalan cukup dekat dengannya?” tanya Udin, teman seperjalananku. “Bisa iya bisa tidak,” jawabku sekenanya, yang membuat Udin jadi penasaran. Sementara musik dangdut terus mengalun dengan iramanya yang khas, dinyanyikan seorang biduan yang cukup cantik, diiringi organ tunggal yang dimainkan...

[Cerpen] Mencari Rumah Tuhan

Di suatu masjid pada suatu Subuh di Bulan Ramadhan, seorang penceramah menceritakan, bahwa pada masa keemasan Islam, di Negeri Baghdad hiduplah seseorang yang bernama Bishir. Ia selalu berjalan tanpa alas kaki. Orang-orang heran melihat kebiasaan Bishir ini. Karena itu, Bishir dikenal dengan nama “Bishir Si Telanjang Kaki”. Mengenai kebiasaannya ini, pernah orang-orang bertanya kepadanya, “Hai Bishir, mengapa Anda selalu berjalan tanpa alas kaki?” Lalu...

[Cerpen] Kota yang Diselimuti Malam

Dalam satu tahun pada bulan-bulan tertentu, kotaku selalu diliputi oleh malam. Sepanjang hari selalu malam dan gelap yang ada. Gelap itu memberikan kesuraman kepada segenap warga kotaku. Sehingga orang-orang yang berasal dari luar kotaku pun enggan untuk berkunjung ke kotaku yang sebenarnya indah. Ketika gelap-gulita menyergap kotaku, tidak jarang para penduduk terserang semacam penyakit saluran pernafasan, atau mungkin bisa disebut sebagai penyakit...

Cerpen: Yang Tertinggal

YANG TERTINGGALCerpen: Hanafi MohanMengapa setiap hubunganku dengan perempuan harus berakhir dengan kematian? Mereka mati.Atau jangan-jangan akulah sebenarnya yang telah mati, yang telah kalah, yang tak pantas lagi hidup di panggung dunia ini. Ah, semakin kacau saja pikiranku setelah kekasihku mati beberapa hari yang lalu. Entah ini kekasihku yang ke berapakah yang akhirnya juga mati.Dalam kegelisahanku itu, aku terus menyusuri jalan yang aku tak tahu di mana ujungnya, di mana berakhirnya. Kulihat serombongan orang berpakaian hitam-hitam menuju...

Cerpen: Teman?

TEMAN?Cerpen: Hanafi MohanApa maksudnya tersenyum seperti itu padaku? “Hei, apa maksudmu tersenyum seperti itu padaku?” Kuhampiri orang yang tersenyum dengan menyiratkan seribu tanda tanya itu. Ternyata orang itu adalah orang yang kukenal. Dia adalah temanku. Tapi, masihkah ia pantas aku sebut sebagai teman? Mungkin ia telah merasa menang dariku. Mungkin ia telah merasa berhasil mengalahkanku, sehingga aku hancur berderai seperti ini. “Hei kawan, mampirlah ke sini! Kita ngobrol-ngobrol dulu. Sepertinya kita sudah lama sekali tak pernah bertemu,...

[Cerpen] Negeri Harapan

Malam itu di Negeri Sungai, aku terbangun. Baru saja aku memimpikan berada di negeri yang hutan belantaranya bukanlah pohon-pohon, namun adalah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Jalan rayanya tak ubah seperti rimba raya. Ada juga jalan-jalan yang seperti kapsul. Baru kali ini aku melakukan perjalanan dengan pesawat. Ketika mendarat di bandara negeri itu, kelap-kelip cahaya lampunya menambah indah suasana. Di bandara, aku langsung dijemput oleh...