Kamis, 15 Mei 2008

[Cerpen] Simpang Tiga


Setengah gelisah kulirik jam tangan. HP-pun tak berbunyi sedari tadi. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Di depan terbentang sungai kotaku. Pas di belakang ada Masjid Jami’. Aku sendiri kini berada di Kopol[1] Masjid Jami’.

Kukirim SMS ke orang yang aku tunggu kini, yaitu teman milisku, Iduy namanya. Dalam enam bulan ini kami rutin bermilis-milisan mendiskusikan kotaku. Tepat hari ini kami berjanji untuk bertemu. Aku pun tak tahu persis wajahnya seperti apa. Kami bersepakat untuk bertemu di Kopol Masjid Jami’ ini. Kebetulan ini adalah tempat favoritku. Dan teman milisku itu pun tak asing dengan tempat ini. Sore ini adalah hari kedua keberadaanku di kota sungai ini, setelah sekian lama kutinggalkan untuk menyelesaikan studi di Jakarta. Bukan main senangnya aku kemarin ketika turun dari kapal di pelabuhan kotaku. Memang tak terlalu banyak yang berubah. Jalan-jalan masih seperti tujuh tahun yang lalu. Bahkan kini semakin macet. Gedung-gedung, pasar, alun-alun, masih tetap sama. Paling-paling hanya sedikit yang berubah dan bertambah.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Dia tak berucap sedikitpun. Kuperhatikan orang itu, mungkin umurnya masih sebaya denganku. Aku coba mengingat-ingat.

“Kawan, apa yang kau lamunkan? Ini aku. Sudah tak ingatkah kau denganku?” ucap orang itu kepadaku.

“Maaf, anda ini sebenarnya siapa ya? Terus terang aku tak kenal.”

“Benarkah kau sudah tak kenal denganku? Kita dulu sekolah di SMA yang sama, bahkan satu kelas. Kita sama-sama hobi musik, sehingga waktu itu kita membentuk band bersama teman-teman sekelas yang juga hobi musik. Kita beberapa kali mengikuti festival musik mewakili sekolah ketika itu,” ucapnya berpanjang lebar.

Aku mencoba mengingat-ingat masa yang telah lama itu. Tapi percuma, waktu yang telah cukup lama itu sangat sulit sekali untuk diingat, “Ah kawan, aku benar-benar lupa. Maklumlah, waktu itu sudah cukup lama. Oh ya, kalau kau memang teman SMA-ku, tentunya kau kenal dengan namaku?” ucapku kepada orang yang mengaku teman SMA-ku itu.

“Kau ngetes rupanya ya. Tapi baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Nama kau Zamzami, tinggal di kampong[2] dekat jembatan, pemain keyboard kalau lagi ngeband, kau …”

“Sudah … sudah …, cukup. Sangat jelas sekali yang kau paparkan mengenai diriku tadi. Dan kini aku percaya kau memang teman SMA-ku. Dan kini kau sebutkanlah namamu, mudah-mudahan aku akan langsung ingat,” pintaku.

“Aku Wahyudi, biasa kalian panggil Yudi. Kalau ngeband aku lead gitar, dan …”

“Cukup Yud. Aku kini sudah ingat. Dan …, sejak awalpun tadi aku sudah mengira, kau pasti Yudi. Karena wajah kau sangat khas.”

“Ah, dasar kau ini. Kalau tahu seperti itu, menyesal aku berpanjang lebar tadi.”

“He … he … he …, maaf kawan!”

“Oh ya, ada keperluan apa kau di sini, Zam?” tanya Yudi.

“Aku sedang menunggu seseorang. Kau sendiri ada apa di sini?”

“Aku memang sering ke sini kalau lagi suntuk. Melihat pemandangan sungai yang sangat indah ini.”

“Yud, aku dengar-dengar kau dulu kuliah di Yogyakarta. Benarkah itu?”

“Benar sekali. Kau sendiri bagaimana Zam? Sepertinya kau sudah sukses ya?”

“Sukses? Belumlah itu kawanku. Aku baru menyelesaikan kuliah di Jakarta. Baru dua hari ini aku berada di kota kita ini. Oh ya, kemarin di kapal aku bertemu dengan teman sekelas kita, Andreas.”

Kami pun terus bercerita. Mengenang masa SMA dulu, keadaan kami setelah lulus dari SMA, bahkan keadaan kini. Tak terkecuali tentang kotaku ini.

* * *

Panas memang begitu teriknya di kotaku. Tapi di pinggir sungai ini, angin sepoi-sepoinya mengusir teriknya panas mentari hari ini. Penambang[3] sampan[4] dan penambang spid[5] berlalu-lalang menyeberangi sungai. Kadang tak jarang pula para penambang kendaraan tradisional itu menaik dan menurunkan penumpang di Kopol Masjid Jami’ tempat kami berada kini.

“Lihatlah kota kita ini, Yud! Masih seperti dulu, tak banyak yang berubah.”

“Iya, Zam. Memang tak banyak yang berubah. Lihatlah jembatan yang menyeberangi sungai ini, sudah semakin macet. Yang pasti sudah semakin tua. Mungkin umurnya hampir sama dengan kita.”

“Yang kau rasakan itu sama dengan yang aku rasakan. Lihatlah sungai tua ini. Ia terus mengalir, memberikan kehidupan pada warga kota kita. Tapi apa balasan baginya? Ia kini tercemar. Makhluk hidup yang ada di dalamnya semakin berkurang karena tercemar limbah merkuri.”

“Bukan hanya itu, Zam. Banjir dan kabut asap yang menjadi rutinitas setiap tahunnya di kota ini juga dikarenakan manusia sudah tak bersahabat lagi dengan alam.”

“Tapi tetap saja, sungai tua ini membuat kita rindu. Karena dari simpang tiga sungai inilah sejarah kota kita bermula.”

“Masjid tua di belakang kita ini juga menjadi saksi bisu berdirinya kota ini dua abad yang silam.”

“Dan, para pemuda kota ini sudah banyak yang tak tahu sejarah kotanya lagi, Yud.”

Sementara di halaman Masjid Jami’ Kesultanan, kulihat anak-anak memainkan permainan tradisional dengan riangnya. Sungguh sore yang begitu indah.

* * *

Waktu terus mengalir, sebagaimana air sungai di depan kami yang terus mengalir ke laut.

“Ternyata kau sudah banyak berubah, Zami.”

“Apanya yang berubah? Aku masih seperti yang dulu.”

“Kau memang sudah banyak berubah. Cara bicara, cara berpikir, juga pandangan kau terhadap kota ini.”

“Ah, kau bisa saja. Itu karena aku punya kesempatan untuk berpendidikan lebih tinggi. Selain itu, aku masih Zami seperti yang dulu.”

Temaram senja lambat-laun menggantikan terang benderang sinar matahari di Kota Khatulistiwa. Lampu-lampu dari rumah, kapal, motor air, dan bandong[6] yang ada di sepanjang tepian sungai satu persatu menyala menerangi kotaku di sisi sungainya. Azan maghrib pun kemudian berkumandang dari masjid tua itu.

“Ayolah kita shalat maghrib dulu!” ajakku kepada Yudi.

Lalu kami pun menuruni tangga yang ada di kopol masjid tua itu untuk berwudhu. Terasa air sungai mengalir sejuk ke wajahku. Tak peduli entah sudah berapa banyak merkuri yang mencemarinya. Yang pasti, Sungai Kapuas hingga kini tetap menjadi sumber kehidupan masyarakat kota yang dibelah sungai ini.

* * *

Kami sudah berada lagi di kopol masjid setelah menunaikan shalat maghrib di masjid tua yang merupakan masjid sekaligus bangunan pertama yang didirikan di kotaku ini.

“Zami, sedari tadi orang yang kau tunggu itu tak kunjung datang,” Yudi memulai pembicaraan.

“Tak tahulah, Yud. Mungkin ia berhalangan. Tapi untunglah ada kau. Sehingga kebosanan menunggu menjadi hilang.”

Suasana malam di pinggir sungai ini menambah asyiknya obrolan kami.

Tak dapat kubayangkan, jika air sungai ini meluap, merendam habis daerah sekitarnya. Dan itu bukan hanya bayangan. Setiap tahun ketika musim hujan, air pasang merendam hampir seluruh kawasan kota ini. Manusia sudah tak bersahabat lagi dengan alam. Hutan dibabat habis, dibakar, sehingga banjir menjadi rutinitas setiap tahun. Belum lagi kabut asap yang menjadi komoditas eksport yang cukup memalukan ke negara tetangga. Penambangan emas di hulu sungai yang kini semakin mencemari sungai dengan limbah merkurinya, sehingga ikan-ikan sungai pun kini sudah semakin berkurang.

* * *

Waktu terus merangkaki malam. Anak-anak yang bermain di halaman masjid pun semakin sepi. Transportasi sungai yang lalu-lalang menyeberangkan penumpang pun tinggal satu dua saja. Di simpang tiga ini awal berdiri kotaku, dengan masjid tua itu sebagai bangunan pertamanya.

“Mungkin hanya sampai di sini saja pertemuan kita, Yudi. Entah bilakah lagi kita bisa berbincang-bincang seperti ini.”

“Ya. Aku pun tak menyangka bisa bertemu dengan teman lamaku di simpang tiga sungai kota kita ini.”

Kami pun berpisah di simpang tiga yang bersejarah itu. Temanku menyeberangi sungai menggunakan spid. Sedangkan aku menyusuri jalan di pinggir sungai yang menuju ke arah rumahku di Kampong dekat jembatan.

* * *

Tidit … tidit …, HP-ku berbunyi. Langsung saja kubuka. SMS dari Yudi rupanya.

Trims Zami atas wktuny. Kpn2 qt bise ktemu agik – Yudi alias Iduy.

Ah, betapa bodohnya aku. Ternyata Yudi teman SMA-ku adalah Iduy teman milisku, orang yang kutunggu sedari tadi sore. [-,-]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Ciputat, 2 – 6 Mei 2007
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Catatan:

[1] kopol = Dermaga kecil di pinggir sungai.
[2] kampong = Istilah setempat (Bahasa Melayu Pontianak) yang lazim untuk menyebut “kelurahan”.
[3] penambang = Pengemudi.
[4] sampan = Transportasi penyeberangan sungai, sejenis perahu kecil yang dijalankan dengan dikayuh oleh tenaga manusia, sehingga jalannya agak sedikit lambat.
[5] spid = Hampir sama dengan sampan, tapi dijalankan dengan menggunakan mesin. Sehingga jalannya agak lebih cepat dibandingkan sampan.
[6] bandong = Kapal berbentuk seperti rumah, bisa memuat barang-barang dalam jumlah berton-ton. Merupakan angkutan barang untuk memasok ke kawasan-kawasan ulu sungai di Kalimantan Barat.



Tulisan ini dimuat di: http://www.hanafimohan.com/


Sumber Gambar: http://www.matatita.com/

Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar