Minggu, 11 Mei 2008

Cerpen: Yang Tertinggal

YANG TERTINGGAL
Cerpen: Hanafi Mohan



Mengapa setiap hubunganku dengan perempuan harus berakhir dengan kematian? Mereka mati.

Atau jangan-jangan akulah sebenarnya yang telah mati, yang telah kalah, yang tak pantas lagi hidup di panggung dunia ini.

Ah, semakin kacau saja pikiranku setelah kekasihku mati beberapa hari yang lalu. Entah ini kekasihku yang ke berapakah yang akhirnya juga mati.

Dalam kegelisahanku itu, aku terus menyusuri jalan yang aku tak tahu di mana ujungnya, di mana berakhirnya.

Kulihat serombongan orang berpakaian hitam-hitam menuju ke suatu tempat. Rombongan apakah ini? Lantas kuikuti rombongan itu dari belakang.

Sepertinya aku kenal betul dengan tempat ini. Tak salah lagi, ini adalah pekuburan di dekat kosanku. Tapi mengapa sedari tadi aku tak menyadarinya.

Ada teman-temanku, ibuku, abangku, tetanggaku, dan orang-orang lain yang tak aku kenal.

Kok ibu dan abangku tiba-tiba ada di sini. Juga teman-temanku. Lalu kuhampiri tetanggaku. Kutanyakan padanya, siapa yang meninggal ini. Tapi ia tak mengubris pertanyaanku.

Ketika penutup muka mayat itu dibuka, terbelalak mataku. Benarkah yang kulihat kini, atau hanya ilusi. Kukucek-kucek mataku. Semakin terang di hadapanku wajah mayat itu. Tak lain adalah wajahku.

Lantas aku kini, berarti sudah mati. Berarti aku kini adalah roh. Pantas saja tetanggaku tadi tak mengubrisku.

“Mengapa tak dikubur di tanah kelahirannya saja Bu?” tanya tetanggaku kepada ibuku.

“Ia ingin dikubur di sini. Begitulah menurut catatan hariannya yang tertinggal di rumah temannya. Saya pun tahu dari temannya itu.”

“Oh …, begitukah Bu. Berarti ini memang wasiatnya.”

Aku hanya terdiam sedih melihat semua ini. Aku sudah mati.

Tapi tidak, ada sedikit kekuatan di dalam diriku untuk keluar dari semua ini. Berteriak aku sekuat-kuatnya. Walaupun aku tahu, aku kini hanyalah roh. Sehingga tak mungkin ada yang bisa mendengarku. Tapi aku tetap tak peduli. Mungkin Tuhan bisa mendengar teriakanku ini. Karena aku belum mau mati. Aku belum siap menghadapinya. Aku belum siap meninggalkan dunia ini. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan di dunia. Sehingga seharusnya tidak secepat ini Tuhan mengambil nyawaku.

Tiba-tiba ada seorang yang tak aku kenal menghampiri. Kemudian ia berucap, “Percuma kau lakukan itu anak muda. Karena kau hanyalah roh. Karena jasadmu kini akan segera dikubur.”

“Siapa anda? Sepertinya saya baru melihat anda. Jangan sok tahu, jangan sok menasehati saya. Karena saya memang sudah tahu.”

“Kalau begitu, mengapa kau masih berusaha untuk keluar dari ini semua?”

“Karena saya yakin, saya sebenarnya belum mati. Dan saya memang belum mau mati.”

“Sok tahu kau anak muda. Memang kau tahu kapan akan mati? Memangnya kau bisa mengatur kehidupan dan kematianmu?”

“Memang saya tidak tahu kapan akan mati. Dan memang saya tidak bisa mengatur kehidupan dan kematian saya. Tapi saya masih punya harapan untuk bisa hidup. Saya yakin, Tuhan mendengar semua ini.”

“Sia-sia semua harapanmu itu, anak muda. Lihatlah! Jasadmu kini sudah segera akan dikubur. Dan, yang patut kau ketahui, aku lah malaikat yang telah ditugaskan Tuhan untuk mencabut nyawamu satu hari yang lalu.”

Kemudian aku pun semakin gemetaran mendengar semua itu. “Tidak … tidak …”, mulutku semakin kelu, seakan-akan mulutku tak bisa mengeluarkan suara.

“… a … a … a …,” aku terus berteriak sekuat-kuatnya.

Tubuhku bergetar, tapi aku terus berteriak.

“San, Ikhsan, bangun, bangun! Sadarlah kau!” ada suara yang memanggilku, sangat dekat sekali, dan suara itu begitu aku kenal.

Tubuhku terus digoncang-goncang, “San, sadarlah! Ini sudah tengah malam. Tak enak didengar oleh tetangga.”

Mataku pun perlahan terbuka. Teriakanku pun semakin merendah, merendah, dan berhenti. Tapi keringat dingin mengucur di tubuhku. Kulihat temanku ada di dekatku.

“Bermimpi burukkah kau, San?”

Aku hanya bisa menarik napas panjang.

* * *

Pagi ini aku terbangun. Seakan-akan aku terlahir kembali. Masih tersisa bayang-bayang kematian itu.

HP ku masih tergeletak di tempatnya seperti tadi malam. Lalu ku ambil HP butut itu. Ada SMS rupanya. Lalu kubuka SMS itu.

Diarymu tertinggal d’rmhku, kawan. Ku tnggu kau d’rmhku nnti siang.

Lalu kubalas SMS temanku itu.

Iya, nnti siang aku k’rmhmu. Bnyk yg hrs kucrtkn pdmu. [-,-]


Ciputat, Senin 30 April – Selasa 1 Mei 2007

Kepada sahabatku
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar