Kamis, 15 Mei 2008

[Cerpen] Tiga Orang Buta


Ada tiga orang buta yang pada suatu siang berkunjung ke kebun binatang. Mereka berteman sangat akrab, dan sering berjalan bersama. Mereka berjalan seakan tak memiliki tujuan. Itulah di pandangan orang awam yang tidak buta. Namun lain lagi pada sisi ketiga orang buta tersebut. Bisa saja mereka memang memiliki tujuan. Buktinya pada siang itu, mereka dapat tiba di kebun binatang. Dan itu mungkin bukan karena mereka kebetulan lewat, tapi bisa saja mereka memang merencanakan untuk ke kebun binatang. Yang pasti, kini mereka sudah berada di kebun binatang.

Singkat cerita, berjalanlah mereka mengitari kebun binatang. Hingga suatu saat, mereka sudah berada di depan kandang gajah. Mereka mendengar suara gajah di kandang itu. Jelas saja mereka tertarik, kemudian bertanya-tanya di antara mereka, “Suara apakah itu?” Karena mereka saling bertanya, kemudian jawaban itu tak terjawab. Mereka hanya mengira-ngira saja. Mungkin ini, mungkin itu, mungkin ini itu, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Tak berapa lama, lewatlah di depan mereka seorang petugas kebun binatang, yang kemudian menghampiri mereka, lalu bertanya, “Bapak-bapak sekalian, apakah ada yang bisa dibantu?”

Ketiga orang buta lalu menjelaskan tentang ketertarikan mereka akan suara yang mereka dengar itu, dan menanyakan suara apakah gerangan. Petugas kebun binatang kemudian berbalik menjelaskan sebagaimana mestinya. Karena ketertarikan akan suara gajah itulah, mereka kemudian meminta kepada petugas kebun binatang itu agar mereka bisa memegang gajah tersebut. Mengingat bahwa ketiga orang buta itu juga adalah pengunjung kebun binatang, maka petugas kebun binatang pun memperbolehkan mereka.

Kandang gajah ketika itu masih tertutup rapat. Petugas kebun binatang itu tak lain adalah penjaga kandang gajah tersebut, dan dialah yang bertugas menutup dan membuka kandang gajah. Ia pun mengambil kunci yang tersimpan di saku celananya, kemudian membuka gembok kandang tersebut dengan kunci yang ia pegang. Tak lama, terbukalah pintu kandang gajah itu. Petugas itu kemudian mempersilakan ketiga orang buta untuk masuk ke dalam kandang gajah.

Dituntun oleh si petugas, ketiga orang buta kini sudah berada di dekat binatang yang membuat mereka tertarik itu. Letak gajah memang tidak persis berada di pinggir kandang. Atau lebih tepatnya, gajah tersebut terletak agak ke dalam kandang. Sehingga setiap pengunjung yang ingin melihat gajah lebih dekat ataupun mungkin ingin memegangnya, maka si pengunjung memang harus masuk ke dalam kandang gajah tersebut.

Atas petunjuk dari si petugas, ketiga orang buta pun memegang gajah dalam waktu yang hampir bersamaan. Karena gajah tersebut memang lumayan besar, sehingga masing-masing dari ketiga orang buta kemudian memegang apa saja objek dari gajah yang terdekat dari mereka ketika itu. Betapa senangnya ketiga orang buta tersebut, karena keinginan mereka sudah tercapai.

Beberapa saat kemudian, karena memang pengunjung di luar kandang sudah banyak juga yang ingin masuk ke kandang gajah, maka si petugas pun mempersilakan ketiga orang buta untuk keluar dari kandang gajah dan memberikan kesempatan kepada pengunjung lainnya.

* * *

Ketiga orang buta kini sudah berada di luar kandang gajah. Mereka kemudian menyusuri lagi kebun binatang. Kaki mereka terus melangkah, melangkah, dan melangkah. Sambil berjalan, mereka bercerita mengenai pengalaman-pengalaman menarik selama di kebun binatang kali ini. Setiap orang menceritakan pengalaman yang berbeda-beda, walaupun memang diketahui bahwa dari awal mereka masuk ke kebun binatang, hingga saat mereka keluar dari kandang gajah, dan kemudian mereka berjalan lagi mengitari kebun binatang, mereka selalu bersama-sama. Tak ada kemudian yang satu meninggalkan yang lainnya, atau yang dua meninggalkan yang satunya, atau masing-masing mereka berpencar.

Hingga suatu saat dalam perjalanan mereka mengitari kebun binatang itu, tercetuslah dari mulut salah satu dari mereka mengenai gajah yang sudah mereka pegang beberapa saat yang lewat. Sebut saja orang buta yang berkata ini namanya adalah Orang Buta Pertama. Berkatalah ia, “Gajah yang sudah kita pegang tadi memang besar dan tegap ya seperti sebuah pohon.”

“Apanya yang besar dan tegap seperti sebuah pohon? Salah kau itu kawan,” timpal orang buta yang lainnya. Sebut saja orang buta yang ini bernama Orang Buta Kedua. Kemudian ia melanjutkan, “Yang betul, gajah itu lebar dan tipis seperti kipas.”

Mendengar perkataan dari kedua temannya yang sepertinya salah, orang buta yang satunya lagi kemudian ikut menimpali obrolan mereka itu. Sebut saja yang ini namanya adalah Orang Buta Ketiga. Ia-pun berkata, “Huh …, salah kalian itu,” sambil ia sepertinya menunjukkan wajah kepuasan, karena sudah bisa menyalahkan kedua temannya yang dianggapnya tidak benar dalam menggambarkan bentuk gajah.

“Yang tepat setepat-tepatnya adalah, bahwa gajah itu panjang dan bulat, yang sekilas seperti ular, namun kadang juga sekilas seperti selang air,” ujar Orang Buta Ketiga lagi.

Sepanjang jalan, mereka terus-terusan saja bertengkar mengenai bentuk gajah. Masing-masing orang mempertahankan pendapat, sesuai dengan yang diketahuinya. Satupun tak ada yang mau mengalah. Jangankan kalah, seri pun tidak. Orang-orang yang ada di kebun binatang pun yang kebetulan berpapasan dengan mereka merasa keheranan melihat tingkah ketiga orang buta itu. Mungkin ada juga yang merasa terganggu melihat dan mendengar pertengkaran ketiga orang buta tersebut. Ada juga yang terlempar kata, “Kasihan ya orang-orang buta itu. Selain buta, mereka juga gila.”

Di tengah pertengkaran itu, muncullah inisiatif dari Orang Buta Kedua, “Begini, aku punya sesuatu yang berharga.”

“Sesuatu yang berharga? Wah, menarik itu. Cepatlah kau keluarkan! Aku sudah tak sabar ingin mengetahuinya,” ujar Orang Buta Ketiga.

Orang Buta Kedua pun berucap lagi, “Begini, aku punya saran.”

“Aku sangka sesuatu yang berharga apaan. Rupanya hanya saran, Huh, kecewa aku,” celetuk orang Buta Ketiga dengan raut agak cemberut.

Kemudian Orang Buta Pertama berkata, “Ya sudah, cepatlah katakan, biar kami tidak semakin penasaran,” ujarnya kepada Orang Buta Kedua.

“Begini, bagaimana jika perbedaan pendapat kita tersebut ditanyakan kepada orang-orang yang ada di kebun binatang ini. Sehingga kita akan mendapatkan jawaban yang benar. Siapa tahu salah satu dari pendapat kita ada yang benar,” cetus Orang Buta Kedua.

“Salah satu? Berarti yang benarnya dua pendapat dong?” celetuk Orang Buta Kedua.

Orang Buta Pertama pun kemudian menimpali, “Aduh …, kau itu bergurau saja. Sedangkan permasalahan kita ini sudah sangat peliknya.”

“Yah …, kalau aku hanya berharap, semoga pendapatku yang benar, sedangkan pendapat kalian yang salah. Atau bisa saja, pendapat kalian yang salah, sedangkan pendapatku yang benar,” kembali Orang Buta Kedua berujar melengkapi perkataan-perkataan sebelumnya.

Lalu, tanpa berpanjang-lebar, mereka pun bertanya kepada orang-orang yang ada di kebun binatang itu. Kadang ada yang berlalu begitu saja tanpa memberikan jawaban. Atau ada juga yang menjawab dengan iseng. Atau ada juga yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh ketiga orang buta itu, yang terkadang orang yang ditanyakan itu tersinggung ataupun marah.

Dari berbagai jawaban itu, ternyata tak memuaskan mereka. Kadang ada yang mengatakan bahwa pendapat Orang Buta Pertama-lah yang benar, sedangkan yang lainnya salah. Ada juga yang mengatakan, bahwa pendapat Orang Buta Kedua-lah yang benar, sedangkan yang lainnya salah. Atau ada juga yang berkata, bahwa pendapat Orang Buta Ketiga-lah yang benar, sedangkan yang lainnya salah. Atau ada juga yang berkata, bahwa pendapat-pendapat tersebut tak ada yang benar. Atau ada juga yang menjawab sebaliknya, bahwa semua pendapat ketiga orang buta tersebut benar.

Sehingga genaplah kebingungan ketiga orang buta tersebut terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Mungkin perlu satu persepsi lagi, yaitu persepsi dari gajah mengenai gajah. [-,-]


<[ Hanafi Mohan
Ciputat, Januari – Februari 2008 ]>



Cerita Pendek (Cerpen) ini dimuat di: http://www.hanafimohan.com/


Sumber Gambar: http://akuserabut.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar