Minggu, 11 Mei 2008

[Cerpen] Kota yang Diselimuti Malam


Dalam satu tahun pada bulan-bulan tertentu, kotaku selalu diliputi oleh malam. Sepanjang hari selalu malam dan gelap yang ada. Gelap itu memberikan kesuraman kepada segenap warga kotaku. Sehingga orang-orang yang berasal dari luar kotaku pun enggan untuk berkunjung ke kotaku yang sebenarnya indah.

Ketika gelap-gulita menyergap kotaku, tidak jarang para penduduk terserang semacam penyakit saluran pernafasan, atau mungkin bisa disebut sebagai penyakit sesak nafas. Aku baru ingat, bahwa jika suatu ruangan dalam keadaan gelap, maka nafas kita akan menjadi sesak. Tapi apakah hanya karena gelap itu yang menjadikan para penduduk kotaku mengidap penyakit pernafasan?

* * *

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas satu SMA. Tak disangka tak diduga, gelap yang luar-biasa itu menyerang kotaku. Mungkin yang pertama kalinya kotaku mengalami hal seperti ini.

Tak pelak lagi, kotaku ketika itu lumpuh segala aktivitasnya. Menurut pemerintahan daerah kotaku, bahwa gelap tersebut sangat membahayakan. Apalagi waktu itu sudah banyak warga kotaku yang mengidap penyakit yang menurut instansi kesehatan di kotaku hal tersebut disebabkan oleh gelap yang misterius itu.

Gelap yang misterius itu beriring-berarak dari hutan-hutan yang ada di sekitar kotaku. Aku pun tak mengerti, mengapa gelap itu sungguh berbahaya? Padahal gelap adalah sesuatu yang biasa saja di dunia ini. Setiap hari pada waktu malam, kita pasti bertemu dengan gelap. Tapi memang gelap misterius yang menerpa kotaku lain daripada gelap yang biasanya kita temui setiap hari, karena gelap misterius itu menelan siang dan terang benderang dunia ini. Sehingga yang ada hanyalah malam dan gelap sepanjang hari.

Mengapa gelap ini harus terjadi? Apakah gelap itu datang dengan sendirinya? Hingga kini tak satupun orang yang tahu mengapa gelap itu terjadi. Juga apa yang menyebabkannya, orang-orang di kotaku sama sekali tak mengetahuinya.

* * *

Jauh di hutan-hutan sekitar kotaku, pohon-pohonnya sudah habis meranggas dimakan oleh gerigi-gerigi tajam yang buas. Tak peduli pohon yang sudah tua, yang setengah tua, maupun yang masih muda sekalipun, semuanya dilahap tak kenal ampun.

Tak habis dengan gerigi-gerigi yang menakutkan itu, agar lebih mudah memakan semua isi hutan dan juga agar lebih cepat, lidah-lidah api pun menjalari seluruh hutan. Karena mungkin hanya dengan cara inilah, aktivitas pembabatan hutan bisa efektif dan efisien.

Negeriku memang kaya-raya dengan hasil hutan. Dan kekayaan hutan itu juga otomatis bisa membuat kaya-raya negeriku. Yang menjadi kaya-raya itu memang bukan seluruh penduduk negeriku, melainkan hanya segelintir orang pemilik modal, baik yang mengantongi izin ataupun yang tidak. Kerennya lagi, mereka dinamakan sebagai Pemilik HPH, yang seakan-akan menjadi lampu hijau bagi para pembabat hutan tersebut untuk menghabiskan dan meluluh-lantakkan semua kawasan hutan yang ada di pulauku. Tentunya dengan menghalalkan berbagai macam cara.

Setelah beberapa lama kotaku diselimtui gelap, barulah orang-orang mengetahui, bahwa gelap yang menyelimuti kotaku berasal dari hutan-hutan yang dibakar yang berada di sekitar kotaku.

Tak lain, upaya yang dilakukan adalah berusaha untuk memadamkan kebakaran hutan itu. Tapi tetap saja kebakaran hutan itu sangat sulit untuk diredakan. Ditambah lagi dalam beberapa bulan ketika itu, hujan pun tak turun. Apalagi semua itu beriringan dengan musim kemarau. Sehingga akumulasi dari semua kondisi tersebut semakin membuat kesulitan untuk meredakan kebakaran hutan yang sudah cukup parah itu.

Gelap yang sudah tak misterius itu ternyata tak hanya menyerang kotaku, tetapi juga menyerang beberapa kota yang ada di negara tetangga yang kebetulan berada dalam satu pulau dengan negeriku. Sehingga negaraku kini tak hanya mengeksport tenaga kerja ke negara tetangga, tetapi juga mengeksport kabut gelap itu. Negara tetangga pun berbaik hati untuk ikut membantu meredakan kebakaran hutan di negeriku yang menjadi penyebab kabut gelap itu, yang boleh dikatakan sudah menjadi bencana nasional di negaraku.

* * *

Setelah berbagai upaya dilakukan, sedikit demi sedikit kebakaran hutan dapat ditanggulangi. Tentunya penanggulangan tersebut tak semudah membalik telapak tangan, karena kawasan hutan yang terbakar itu sudah begitu meluas. Bahkan kebakaran hutan itu boleh dikatakan sudah mendera hampir seluruh kawasan hutan yang ada di pulauku yang merupakan pulau terbesar ketiga di dunia. Apalagi pulauku dikenal sebagai pulau yang bertanah gambut, sehingga semakin mempersulit penanggulangan bencana yang tak pernah diharapkan ini.

Pada tanah gambut, kebakaran itu tak hanya terjadi di atas permukaan tanah, tapi juga meranggas hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah. Dapat dibayangkan, yang kelihatan di atas permukaan tanah saja sudah begitu sulitnya untuk dipadamkan, apalagi yang tak kelihatan di bawah permukaan tanah.

* * *

Pesawat yang kutumpangi dari Jakarta menuju ke Pontianak baru sampai kini, setelah tadi beberapa jam tertunda keberangkatannya. Karena apa? Apalagi kalau bukan kabut asap yang masih menyelimuti Kota Pontianak pada awal Oktober ini. Ah, sungguh menjengkelkan bagi diriku. Lagi-lagi, kabut asap yang tak pernah diharapkan kedatangannya itu.

Dalam sekitar sepuluh tahun ini, memang tak henti-hentinya kota tercintaku selalu dirundung kabut asap. Segala macam penanggulangan sudah dilakukan, tapi tetap saja setiap tahun kabut asap akan datang mengunjungi kotaku. Dan boleh dikatakan, bahwa kabut asap itu kini sudah menjadi musim tersendiri di Kota Pontianak. Wajar saja bencana ini selalu terjadi, karena para pembabat hutan masih berkeliaran dengan bebasnya untuk menghabiskan semua isi hutan di Pulau Kalimantan. Kalau belum habis isi hutan di pulauku, maka belum akan berhenti juga mereka menggasak seluruh isi hutan. Dan yang membuat diriku tak habis pikir, pemerintah dalam hal ini seakan-akan tak berdaya menghadapi para pemusnah hutan ini. Padahal dampaknya sudah sangat jelas sekali di depan mata kita.

Kotaku memang kaya dengan berbagai musim yang beraneka-ragam. Ada musim hujan dan musim kemarau yang memang sudah dari dulunya rutin saling berganti-gantian. Ditambah lagi musim buah-buah yang juga rutin selalu ada di kotaku, dari langsat, cempedak, rambutan, durian, rambai, dan entah buah-buahan apalagi yang kalau sudah musimnya bagaikan banjir buah-buahan di kotaku. Yang pasti, kalau sudah banjir buah-buahan ini, harga buah-buahan itu menjadi lumayan murah. Dan juga yang tak pernah dilupakan adalah musim air pasang, yang kalau sudah musimnya, sangat merepotkan warga kota. Aku ingat dulu ketika masih anak-anak, entah karena memang ketika itu aku masih anak-anak, terus terang sangat senang sekali kalau sudah musim air pasang ini. Mungkin bukan hanya aku, anak-anak yang sebaya denganku juga begitu senangnya kalau lagi musim air pasang ini.

Dan kini, yang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun ini, bertambah lagi musim yang ada di kotaku. Apalagi kalau bukan musim kabut asap yang tak pernah diharapkan kedatangannya itu. [-,-]




- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan

~ Ciputat, 15 – 31 Juli 2007 ~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -




Sumber gambar: http://www.rnw.nl/

Tulisan ini dimuat di: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar