Kamis, 29 Oktober 2009

Kota Hantu, Film Horor, ... apa lagi ya?


Senin malam yang lalu (26 Oktober 2009) nonton bioskop Trans TV. Film horor sih, tapi yang pasti tidak seperti film horor Indonesia. Judulnya "Van Helsing". Sungguh memukau, walaupun sebenarnya aku sudah pernah beberapa kali menontonnya. Tapi entah mengapa, tetap saja menarik untuk ditonton lagi. Dan yang cukup menarik selain efek suara dan gambarnya yang bagus, ceritanya juga patut diacungi empat jempol (2 jempol tangan + 2 jempol kaki). Apalagi ditambahi bumbu-bumbu religiusitas Kristen. Entah mengapa film horor Indonesia tak ada yang kualitasnya sebagus film horor Amerika.

Semenjak kepulangan dari Pontianak pasca lebaran yang lalu, seakan-akan imajinasiku melemah, bahkan jari-jariku pun malas untuk menari-nari di atas tuts keyboards. Dan memang seperti itu biasanya yang terjadi padaku setiap pulang dari mudik ke Pontianak. Tapi itu semua kuanggap sebagai sesuatu yang positif, yaitu sebagai refresh dari segala aktivitas yang telah dijalani selama ini. Aku pun punya obatnya yang ampuh, yaitu membaca dan nonton tayangan serta film berkualitas.

Nah, tulisan kali ini sebenarnya tulisan gado-gado, yaitu untuk melatih memori asosiasi dan mind mapping ku. Ah, entah apa pula makhluk yang baru saja kusebutkan tadi. Jadi begini, ketika menonton film Van Helsing, aku sudah membuat ancang-ancang untuk tulisan gado-gado ini. Ancang-ancang itu kutulis di handphone dalam bentuk draft pesan. Dan kuakui juga bahwa spirit menulisku kali ini terinspirasi dan terpicu setelah membaca tulisan seorang teman blogger ku yang sama-sama berasal dari Pontianak di blognya: http://nrizyana.co.nr/. Maka mulailah memori asosiasi dan mind mapping itu bekerja.

Seperti telah kusebutkan di atas, bahwa membaca adalah salah satu caraku mengobati kesuntukan dan tidak adanya mood menulis. Akhir-akhir ini aku memang lebih tertarik untuk membaca buku sastra, salah satunya adalah novel. Novel yang kubaca pun pilih-pilih novel. Kebetulan teman kosanku memiliki koleksi buku yang lumayan banyak (termasuk juga novel), maka terus terang aku tak kehabisan stok novel untuk dibaca. Terakhir ini aku baru saja mengkhatamkan Roman Sejarah "Burung-Burung Manyar" karya Y.B. Mangunwijaya (almarhum), atau juga biasa dikenal dengan nama Romo Mangun. Seorang yang multitalenta menurutku, karena selain sebagai sastrawan, beliau juga adalah budayawan, pastur (rohaniawan Kristen), dan sekaligus juga seorang arsitek.

Seperti yang dituliskan oleh Jakob Sumardjo, bahwa Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya Burung-Burung Manyar mencoba melihat revolusi Indonesia dari segi yang obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda, dengan memasang protagonis orang Indonesia yang anti republik. Nilai buku ini terutama terletak pada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti republik semasa revolusi, segi informasinya tentang kehidupan tentara KNIL, dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan.

Setting waktu Roman Burung-Burung Manyar yaitu masa akhir penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan masa pasca Orde Lama (awal Orde Baru).

Cukup lama aku membaca novel ini. Dari sebelum bulan puasa yang lalu sudah mulai kubaca, hingga beberapa minggu yang lalulah baru selesai. Ketika mudik ke Pontianak pertengahan puasa yang lalu, novel ini aku bawa. Kubaca di kapal untuk mengusir suntuk, namun sayang ketika berada di Pontianak, novel ini tergeletak tak kubaca. Baru ketika balik lagi menuju ke Jakarta, novel ini kembali kubaca di atas kapal, yang tak lain dan tak bukan untuk mengusir suntuk. Setelah sekitar kurang lebih seminggu berada di Jakarta lagi, barulah Roman Sejarah yang mengagumkan ini kukhatamkan.

Selesai mengkhatamkan Burung-Burung Manyar, aku kembali dilanda rasa suntuk. Untuk membaca novel yang baru lagi, tentunya butuh waktu yang cukup panjang jika aku membacanya secara santai. Karena itulah, sebagai pengganti membaca novel, aku tak jarang menonton tayangan dan film di televisi. Dan sampai pada puncaknya ketika menonton Van Helsing Senin malam yang lalu. Mengapa kukatakan puncaknya adalah film "Van Helsing yang kutonton tadi malam? Karena setelah itu barulah semangat menulisku kembali muncul, barulah imajinasiku mengembara ke mana-mana, yang semuanya itu menjadi inspirasi berharga untuk menulis.

Mengapa menonton film menjadi pilihanku selain membaca novel? Karena membaca novel membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan menonton film hanya butuh waktu sekitar dua jam. Bagiku keduanya sama saja dalam hal melecut dan memicu inspirasi menulis. Yang berbeda mungkin hanya pada nuansa yang dirasakan.

Karena gara-gara inspirasiku tersendat, novel (atau mungkin lebih tepatnya cerbung/cerita bersambung) Senja Merah Jingga yang kutulis hingga kini tersendat-sendat pula penulisannya. Namun ada hikmah di baliknya, karena kemudian muncul inspirasi untuk menulis refleksi keagamaan (keimanan/keislaman) dan refleksi kebangsaan. Sebenarnya refleksi ini sudah lama kubuat outlinenya, tapi memang baru kali inilah aku mendapatkan semangat baru untuk memulai penulisannya. Karena memang aku memiliki beberapa blog, maka rencananya refleksi keagamaan ini akan kuposting di blog Wordpressku. Apalagi memang akhir-akhir ini di blog Wordpressku lebih banyak kuposting tulisan yang berisi kajian keislaman. Sedangkan di blog Blogspotku ini kukhususkan untuk tulisan-tulisan bermacam ragam, terutama yang selain dari kajian keislaman. Akhir-akhir ini memang lebih banyak yang kuposting di blog Blogspotku ini adalah yang berhubungan dengan sastra (termasuk juga cerpen, puisi, cerbung/novel, dan essay karyaku), sharing tulis-menulis, dan kebudayaan Melayu (Melayu Kalimantan Barat dan Pontianak khususnya). Tapi kemungkinan ke depannya tak menutup kemungkinan juga akan kuposting di blog Blogspotku ini opini dan wacana yang lagi hangat di masyarakat kini, termasuk di dalamnya isu mengenai kebangsaan, keindonesiaan, nasionalisme, sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, pendidikan, sains, teknologi, informasi dan komunikasi, dan sebagainya. Karena itulah, refleksi kebangsaan mungkin akan kuposting di blog Blogspotku ini.

Kembali kepada film Van Helsing. Film ini sebenarnya bercerita mengenai perburuan drakula. Tokoh pemburu drakula tersebut bernama Van Helsing (sepertinya dia juga memburu vampire, dan makhluk sejenis lainnya). Dari namanya, sepertinya adalah orang Belanda. Tentunya banyak yang tahu, bahwa Bangsa Belanda pernah lama menjajah negeri ini (Indonesia/Nusantara).

Van Helsing ditugaskan oleh semacam perkumpulan biarawan di Roma (Italia) untuk memburu Drakula yang dimaksud. Drakula tersebut sebelumnya adalah seorang manusia biasa. Tapi entah mengapa, Drakula kemudian berubah menjadi sosok yang haus darah. Cerita pun bergulir. Tujuan dari misi Van Helsing kali ini adalah demi menyelamatkan satu keluarga yang tertahan masuk ke surga karena si Drakula, yang entah apa pula penyebabnya hingga tertahan masuk surga seperti itu. Tapi yang pasti, ketertahanan keluarga tersebut untuk masuk surga ada kaitannya dengan si Drakula. Karena itulah, si Drakula harus dibunuh agar keluarga tersebut bisa masuk surga dengan mulus, tidak lagi harus merasakan panasnya api neraka dan siksaannya yang pedih itu.

Ketika cerita ini dimulai, anggota keluarga tersebut yang masih hidup tinggal dua orang, yaitu Anna (perempuan) dan abangnya (kakak lelakinya). Mereka berdua inilah yang selama ini selalu diiincar oleh Drakula untuk menjadi mangsa, entah karena apa. Karena itulah, dua bersaudara ini selalu menjadi pihak yang berhadap-hadapan dengan Drakula. Dua bersaudara ini pun selalu mengadvokasi masyarakat di sekitarnya untuk melawan Drakula, karena Drakula juga mengincar banyak orang untuk dijadikan mangsa dan mungkin dijadikan pengikutnya. Hingga suatu ketika dalam pertempuran dua bersaudara tersebut melawan para pengikut Drakula, abangnya Anna dapat dikalahkan oleh pasukan yang haus darah itu. Diindikasikan bahwa yang mengalahkan abangnya Anna adalah manusia serigala. Hingga kemudian abangnya Anna pun dapat dipastikan nantinya juga akan menjadi manusia serigala karena telah tersengat oleh manusia serigala yang mengalahkannya.

Cerita pun berlanjut. Dalam tugasnya ini, Van Helsing ditemani oleh seorang lelaki dari perkumpulan biarawan. Tapi menurut pengakuan orang tersebut, bahwa dirinya belumlah menjadi seorang biarawan, sehingga ia masih bisa melakukan hal-hal yang terlarang bagi seorang biarawan, misalkan berhubungan dengan perempuan, dan sebagainya. Diikutkannya orang ini karena ia cukup menguasai berbagai hal untuk melumpuhkan Drakula. Van Helsing sendiri ketika akan diberangkatkan telah diberi wejangan oleh pemimpin biarawan mengenai hal-hal penting berkaitan dengan misinya kali ini. Selain itu, Van Helsing juga dibekali berbagai perlengkapan untuk melumpuhkan Drakula, antara lain: panah yang dirancang khusus untuk mengalahkan drakula, air suci dari gereja, salib, dan mungkin masih banyak lagi.

Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara Van Helsing (ditemani Anna dan si lelaki dari perkumpulan biarawan) melawan Drakula (dan juga pengikutnya). Ketika terjadi pertarungan, ternyata Drakula tidak mempan dikalahkan dengan berbagai perlengkapan yang dibawa oleh Van Helsing. Dan ternyata Anna sudah mengetahui hal ini dari beberapa kali pertempurannya melawan Drakula dan pengikutnya. Inilah yang mungkin membuat Van Helsing agak kesal dengan Anna karena tidak memberitahunya terlebih dahulu (lebih awal).

Yang membuat film ini menarik karena ada beberapa sisipan cerita yang patut menjadi pesan berharga bagi siapa pun (mungkin lebih tepatnya disebut sebagai pesan religi). Misalkan, si lelaki yang menemani Van Helsing, seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa ia bukanlah seorang biarawan. Si lelaki ini, pada suatu ketika di dalam film ini melakukan hubungan seks di luar nikah dengan seorang perempuan (lebih tepatnya perzinahan). Walaupun dia tergabung dalam perkumpulan biarawan, sungguh pun menurut pengakuannya bahwa dia bukanlah seorang biarawan, ternyata si lelaki ini bukanlah seorang penganut Agama Kristen yang taat.

Di sisi yang lain dalam perburuannya mengalahkan Drakula, Van Helsing dan Anna terperosok ke suatu tempat. Tempatnya cukup angker. Menurut perkiraan Van Helsing (berdasarkan pengalamannya) bahwa tempat itu adalah kediaman makhluk yang cukup menyeramkan (mungkin semacam makhluk iblis). Tapi anehnya, di tempat itu juga ditemukan Injil. Karena itulah, Van Helsing memperkirakan bahwa yang tinggal di tempat itu adalah manusia yang baik, karena kalau yang tinggal di situ adalah makhluk iblis ataupun manusia jahat, besar kemungkinan takkan ada Kitab Injil di tempat itu.

Tak lama kemudian, muncullah sesosok makhluk yang menyeramkan dari tempat itu. Singkat cerita, ternyata makhluk itu bernama Frankenstein. Makhluk ini adalah semacam makhluk yang diciptakan oleh manusia. Terjadilah pertarungan antara Van Helsing dengan Frankenstein. Dalam pertarungan ini barulah diketahui bahwa Frankenstein adalah makhluk yang baik, sehingga wajar saja di tempatnya terdapat Kitab Injil. Kemudian diketahui juga, bahwa Frankenstein pun menjadi incaran Drakula untuk dijadikan semacam tumbal demi menghidupkan anak-anak Drakula. Karena itulah, Frankenstein harus diselamatkan agar Drakula tidak berkembang biak.

Dalam perjalanan menuju Roma (Italia) demi menyelamatkan Frankenstein, terjadilah pertarungan antara Van Helsing melawan dua orang istri Drakula dan manusia serigala (yang tak lain adalah abangnya Anna). Dalam pertarungan ini, seorang istri Drakula dan manusia serigala memang dapat dikalahkan, tapi harga yang harus dibayar adalah tersengatnya Van Helsing oleh manusia serigala. Karena itulah, Van Helsing dipastikan juga akan menjadi manusia serigala. Tak lama kemudian, Anna pun dapat ditangkap (disandera) oleh seorang istri Drakula yang masih hidup. Maksud disanderanya Anna adalah untuk ditukar dengan Frankenstein.

Bergulirlah terus cerita ini, hingga kemudian terjadilah drama penukaran tersebut dalam suatu gedung yang di dalamnya sedang berlangsung pesta (kelihatannya semacam pesta dansa). Van Helsing sendiri berencana akan mengelabui Drakula dalam penukaran ini, yaitu Frankenstein dipertahankan, sedangkan Anna diusahakan sedemikian rupa agar bisa terlepas dari sanderaan Drakula. Namun tentunya tak semudah itu. Drakula ternyata sudah dapat membaca taktik dan gelagat pengelabuan Van Helsing. Karena itulah, Drakula pun berencana mempertahankan Anna dalam sanderaannya, dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan Frankenstein. Apalagi Drakula pun berencana menjadikan Anna sebagai istrinya.

Masing-masing pihak akhirnya mendapatkan setengah yang diusahakannya, namun harus dibayar mahal dengan kehilangan yang harus dipertahankannya. Van Helsing dapat menyelamatkan Anna dari sanderaan Drakula, namun di sisi yang lain, Frankenstein dapat ditangkap oleh konco-konconya Drakula. Kalau sudah seperti ini, berarti penukaran yang direncanakan dari awal kemudian menjadi kenyataan, namun saja harus melalui suatu pertarungan, karena masing-masing pihak bermaksud mempertahankan apa yang sudah ada di tangannya.

Belakang kemudian diketahui bahwa yang dapat mengalahkan Drakula adalah manusia serigala. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa karena pernah digigit oleh manusia serigala, maka Van Helsing kemungkinan besar juga bisa menjadi manusia serigala. Karena itu pula, sebagai manusia serigala, Van Helsing mempunyai kekuatan untuk mengalahkan Drakula. Namun di sisi yang lain, Van Helsing juga harus mengobati (menyembuhkan) dirinya agar tidak menjadi manusia serigala. Karena kalau sudah menjadi manusia serigala, maka Van Helsing akan selalu memangsa dan membunuh manusia. Dan ternyata yang memiliki obat tersebut adalah Drakula. Hal ini diketahui dari pemberitahuan Frankenstein.

Yang menarik dari cerita film ini juga karena konflik yang terjadi di dalamnya. Setelah habis satu konflik, maka akan hadir lagi konflik yang lain. Jika dicermati lagi, film ini tidak seperti film-film horor lainnya, karena di dalamnya juga terjadi adegan action, dan juga bertaburan pesan-pesan ajaran kemanusiaan (humanisme) dan religiusitas (terutama religiusitas Kristen). Yang pasti menurutku bahwa film ini layak ditonton, apa pun agama dan keyakinan anda, apapun partai politik dan ideologi yang anda anut, serta apapun ras dan kebangsaan anda.

Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya Drakula dapat dikalahkan oleh Van Helsing. Dalam pertarungan ini, Van Helsing juga berubah menjadi manusia serigala. Oleh karenanya, Van Helsing yang sudah berubah menjadi manusia serigala itu bisa membunuh Drakula. Sungguh seru. Kadang-kadang pada saat sudah hampir dapat membunuh Drakula, tiba-tiba Van Helsing berubah lagi menjadi manusia biasa. Namun tragisnya, Anna akhirnya tewas dalam usahanya membantu Van Helsing mengalahkan Drakula.

Di akhir film, tampak di langit wajah Anna yang sedang tersenyum. Mungkin ia dan keluarganya telah masuk ke surga. Selain itu, di laut juga terlihat Frankenstein yang sedang berperahu. Entah dia akan menuju ke mana. Yang pasti ia pergi untuk menyisihkan dirinya dari masyarakat yang selama ini menistakannya dan menganggapnya sebagai makhluk jahat. Mungkin ia mencari kebahagiaannya di belahan bumi yang lain yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Kebenaran dan kebaikan pasti dapat mengalahkan kejahatan dan keburukan. Itulah kesimpulan yang mungkin dapat ditarik dari film ini.

Sebenarnya agak aneh kalau aku menulis mengenai cerita film horor seperti yang sedang anda baca kini. Tapi setelah kurenungkan lagi, ternyata memang ada sisi diriku yang lain yang itu kemudian membawaku untuk juga tertarik pada cerita-cerita berbau horor, mencekam, menakutkan, dan mistis, walaupun dalam hal ini aku mempunyai keyakinan yang agak berbeda dengan kebanyakan orang-orang mengenai dunia mistis, makhluk halus, dan alam gaib.

Aku lahir dan dibesarkan di kota yang paling menyeramkan namanya di muka bumi ini. Kiranya mungkin tak ada nama kota yang seseram nama kota kelahiranku di alam dunia ini, kecuali hanya di dalam cerita-cerita fiksi. Kota Hantu, begitulah kiranya nama kotaku jika diartikan. Di dalam Bahasa Melayu, pontianak / puntianak artinya adalah hantu perempuan yang suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak. Di dalam Bahasa Indonesia mungkin disebut hantu kuntilanak. Di dalam legenda masyarakat Melayu Pontianak, bahwa hantu pontianak ini biasanya berdiam di poko’ / pokok (pohon) punti (ponti). Pohon ini biasanya berada di areal pemakaman (pekuburan), pohonnya rindang seperti pohon beringin, tapi sangat menyeramkan ketika kita lewat di dekatnya pada malam hari.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca entri yang kudapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berikut ini:

1 punti n pisang (raja)

2 punti n 1 (ikan ---) nama ikan laut; 2 (ular ---): nama ular

puntianak n hantu perempuan (suka mengambil anak kecil atau mengganggu orang beranak)

kuntilanak n hantu yang konon berkelamin perempuan dan suka mengambil anak kecil atau mengganggu perempuan yang baru saja melahirkan

Ternyata, punti juga berarti pisang (raja), mungkin maksudnya pisang raja. Hahaha, pantas saja di Pontianak banyak sekali pisang. Tapi masyarakat Pontianak tidak menyebut Pisang Raja dengan sebutan Punti atau Pisang Punti, melainkan Pisang Raja saja. Malahan kini di Jakarta dikenal Pisang Pontianak atau Pisang Ponti, yaitu pisang goreng (biasanya berbentuk seperti kipas) yang digoreng dengan balutan adonan tepung terigu atau tepung gandum (masyarakat Pontianak menyebutnya tepong gandom atau tepong gendom). Setelah jadi pisang goreng, kemudian diolesi serikaya, selai, ataupun olesan-olesan lainnya. Ternyata di Pontianak tak ada yang namanya Pisang Pontianak (Pisang Ponti) atau Pisang Goreng Pontianak (Pisang Goreng Ponti), namun masyarakat Pontianak hanya menyebutnya pisang goreng ataupun goreng pisang (biasanya mayarakat Pontianak mengucapkannya Goreng Pisang).

Masyarakat Pontianak memang suka membalik-balik kata-kata yang seperti ini, tergantung enaknya diucapkan seperti apa. Misalkan: keladi goreng menjadi goreng keladi, ubi goreng menjadi goreng ubi, dan semacamnya. Masyarakat Jakarta mengenal keladi dengan sebutan talas. Sedangkan ubi yang biasa dikenal oleh orang Pontianak, maka di Jakarta disebut singkong. Namun sayangnya selama ini tak pernah kudapati penjual gorengan di Jakarta yang menjual goreng keladi (talas) seperti halnya di Pontianak. Sedangkan goreng ubi (singkong) di Jakarta selama ini kudapati tak ada yang seenak goreng ubi (singkong) di Pontianak.

Tapi patut dicermati, jika orang Jakarta menyebut ubi, maka yang dimaksudkan adalah ubi cine (ubi jalar) seperti halnya yang dikenal di Pontianak. Sedangkan singkong yang dikenal di Jakarta, maka orang Pontianak menyebutnya ubi kayu’. Selanjutnya, berkaitan dengan keladi (talas), maka di Pontianak terdapat beberapa varietas keladi (talas). Yang selama ini kuketahui adalah Keladi Seghawak (serawak) dan Keladi Bighah (birah). Di antara kedua keladi ini, yang biasa dimakan adalah keladi seghawak. Sedangkan keladi bighah karena terlalu gatal, maka jarang dimakan. Gatalnya bukan main, karena sangat gatal. Oleh sebab itu, masyarakat Pontianak menyebut perempuan kegatalan ataupun perempuan genit dengan sebutan peghempuan (perempuan) bighah.

Selain itu ada lagi keladi yang biasanya dijadikan sayuran, tapi sepertinya tak ada sebutan khusus untuk keladi yang seperti ini. Kalau keladi seghawak biasanya dijadikan sebagai goreng keladi, namun tak jarang juga dijadikan sayuran. Sayo' Keladi (sayur keladi), itulah namanya. Masakan khas masyarakat Melayu Kota Pontianak yang kemungkinan masakan ini hanya ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Selain batang, daun, dan buah (umbi) nya yang dijadikan sayuran, masyarakat Pontianak juga tak jarang menjadikan akarnya sebagai sayuran. Akar keladi ini biasa disebut oleh orang Pontianak sebagai sulogh keladi (sulur keladi).

Ternyata bukan hanya keladi yang dijadikan sayuran, namun nenas (nanas) pun juga bisa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak. Bahkan jenisnya bermacam-macam. Ada yang dimasak bersama ikan, namanya adalah Sayo' Asam Pedas (sayur asam pedas). Ada juga yang dimasak bersantan, namanya yaitu Sayo' Pacri Nenas (sayur pacri nanas). Sayo' Pacri Nenas ini biasanya menjadi hidangan istimewa pada resepsi pernikahan. Selain itu, nenas (nanas) pun biasanya dijadikan sebagai campuran sambal, namanya yaitu Sambal Nenas. Selain itu juga biasa dijadikan sebagai acar. Minuman pun tak luput ada yang dibuat dari bahan nenas, namanya yaitu Ae' Ghojak / Ae' Ghujak (air rujak).

Bukan hanya keladi dan nenas yang biasa dijadikan sayuran oleh masyarakat Pontianak, deghian (durian), asam (mangga), belimbing buloh (belimbing buluh), dan belimbing manis pun juga biasa dijadikan sebagai teman makan nasi. Kalau yang dari durian namanya yaitu tempoyak, yaitu durian yang dipekasam (difermentasi). Kalau asam (mangga), belimbing buloh, dan belimbing manis biasanya dijadikan sebagai bahan campuran sambal.

Berkaitan dengan bahan makanan yang dipekasam (pekasam = makanan perangsang selera yang terbuat dari ikan, daging, ataupun buah-buahan yang diasinkan ataupun diasamkan, lalu dijemur atau disimpan agak lama), maka orang-orang Kalimantan sangat ahli dalam hal ini. Ada tencalok (yang terbuat dari udang halus yang dipekasam), ale-ale (kerang yang dipekasam), budu' / laba' (ikan yang dipekasam), dan yang paling dahsyat rasanya adalah ikan pekasam.

Jika budu' / laba' dipekasamnya hingga tak berbentuk ikan lagi (hancur dan mencair), maka ikan pekasam masih berbentuk ikan, sehingga ikan pekasam lebih mirip ikan busuk dan baunya pun busuk menyengat. Jika bahan makanan yang dipekasam lainnya bisa langsung dimakan, maka ikan pekasam harus dimasak dahulu (biasanya digoreng layaknya seperti ikan asin).

Dan memang diakui, bahwa semua bahan makanan yang dipekasam memang cenderung berbau busuk. Karena itulah, bagi orang yang tak terbiasa memakannya, mungkin akan muntah. Namun bagi yang biasa memakannya, maka akan menjadi hidangan istimewa dan menambah nafsu makan ketika menyantapnya.

Tidak habis di situ saja teror makanan ala orang-orang Kalimantan, masih banyak lagi deretan makanan lainnya yang super dahsyat rasanya. Ada telo' asin busu' (telur asin busuk), belacan, boto', bubogh pedas (bubur pedas), mie sagu' (mie sagu), bubogh asughah (bubur 'asyura), dan tentunya masih banyak lagi.

Begitulah Kota Pontianak, kota hantu di Bumi Khatulistiwa Bertuah, kota seribu sungai dan seribu parit di Bumi Kalimantan. Ternyata bukan namanya saja yang menyeramkan, namun makanannya pun mempunyai rasa yang meneror setiap lidah yang mencicipinya. Tak salah kiranya pendiri Kota Pontianak menamai kota ini seangker itu. ***

[Hanafi Mohan-Ciputat, Selasa-Kamis, 27-29 Oktober 2009]


Sumber: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar