Minggu, 10 Januari 2010

Tawaran Mendadak Ikut Pelatihan Jurnalistik


Siang tadi dapat SMS dari seorang temanku yang bernama Aripin Latip. Kubaca SMS-nya, ternyata dia menawarkan kepadaku untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik. Tawaran biasa sebenarnya, karena aku memang pernah beberapa kali mengikuti pelatihan yang serupa. Entah mengapa, setiap kali mendapat informasi mengenai Pelatihan Jurnalistik, aku selalu tertarik untuk ikut, walaupun pendaftarannya harus bayar.

Nah, yang ditawarkan temanku ini kebetulan adalah Pelatihan Jurnalistik "gratisan", alias pelatihan yang pendaftarannya dibebaskan dari biaya apapun. Dan yang tak kalah pentingnya, bahwa aku tak usah repot-repot mendaftarkan diri mengikuti pelatihan tersebut, karena sudah langsung didaftarkan. Ini juga sebenarnya tawaran biasa, karena beberapa kali aku mengikuti Pelatihan Jurnalistik, selalu Pelatihan Jurnalistik "gratisan" yang aku dapatkan. Paling-paling perbedaannya dengan Pelatihan Jurnalistik yang ditawarkan temanku ini yaitu aku tak harus repot-repot mendaftarkan diri.

Yang tidak biasa dari Pelatihan Jurnalistik tawaran temanku ini yaitu informasinya begitu mendadak, karena pelatihannya dimulai pagi besok 10 Januari 2009 hingga berakhir pada hari Kamis 14 Januari 2009. Sehingga dengan begitu, kalau aku menyetujui untuk mengikuti pelatihan ini, maka dari sekarang aku sudah harus mempersiapkan segala sesuatunya.

Nah, di sinilah letak keasyikannya dengan sesuatu yang mendadak. Mengapa kukatakan asyik? Karena aku kini (sejak dari siang tadi) harus berkejar-kejaran menyelesaikan suatu pekerjaan yang kini belum tuntas. Setidaknya malam ini pekerjaan tersebut sudah harus beres, sehingga tak ada lagi beban pekerjaanku selama mengikuti pelatihan tersebut. Tulisan ini pun sebenarnya kutulis di tengah-tengah penyelesaian pekerjaan tersebut.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya kuterimalah tawaran temanku itu dengan segala konsekuensinya seperti yang kutuliskan di atas. Lagian siapa sih yang tak mau mengikuti Pelatihan Jurnalistik "gratisan" selama 5 hari. Apalagi tempatnya cukup menjanjikan dan lumayan mantap, yaitu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tepatnya di Anjungan Provinsi Jawa Barat. Penyelenggaranya kalau tidak salah yaitu Pemuda Koperasi DKI Jakarta.

Sungguh sensasi yang luar biasa, harus memutar otak agar semua pekerjaanku beres malam ini, mataku harus agak sedikit tanggap, jantungku dag-dig tak karuan, dan jari-jemariku pun sudah mau keriting rasanya karena harus agak lebih sigap menyelesaikan pekerjaanku sambil menulis apa yang anda baca kini.

Oh ya, nanti malam aku juga berencana menghadiri acara: Mengenang Wafatya K.H. Abdurrahman Wahid, dengan tema "Visi Kebangsaan Gus Dur" di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mungkin semacam acara dialog. Narasumbernya kalau tidak salah yaitu: Putu Wijaya, Asvi Warman Adam, Roestin Ilyas, Adi Massardi, Ahmad Baso, Imdadun Rahmat, Zastrouw, Romo Tjahyadi Nugroho, Pdt. Nathan Setia Budi, dan Abdul Hadi WM. Acaranya direncanakan dimulai pada pukul 18.00 WIB (Ba'da Shalat Maghrib) hingga pukul 22.00 WIB. Penyelenggara acara ini tak lain adalah teman-temanku, yaitu anak-anak Kelompok Mahakam bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut penyelenggaranya, bahwa acara ini dimulai dengan tahlilan terlebih dahulu. "Semoga Allah mengganjar pahala terhadap segala amal baik Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan mengampuni jika ada dosa dan kesalahan yang pernah beliau perbuat."

Terima kasih Arifpn Latip atas informasi dan tawarannya untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik "gratisan". Mudah-mudahan aku diberikan kemudahan untuk mengikutinya hingga selesai. Dan insya Allah ilmu yang kudapatkan di pelatihan jurnalistik tersebut nanti bisa bermanfaat. Nanti kita sharing-sharing lagi mengenai berbagai hal, termasuk juga mengenai dunia tulis menulis dan jurnalisitik. Dan juga bagi-bagi cerita selama aku mengikuti pelatihan jurnalistik tersebut.

Terima kasih Gus Dur. Jasamu akan tetap kami kenang. Terima kasih hai Guru Bangsa atas perjuanganmu menegakkan demokrasi di negeri ini, membela kaum minoritas, serta membela kaum tertindas. Terima kasih hai Pahlawan Demokrasi, terima kasih hai Bapak Pluralisme. Engkaulah Guru Bangsa kami, engkaulah Bapak Demokrasi kami. Mudah-mudahan kami para generasi penerusmu diberikan kekuatan, kemudahan, dan ketabahan untuk meneruskan perjuangan yang telah engkau cetus. Kiranya hanya engkaulah Presiden Republik Indonesia yang begitu dekat dengan rakyat, sehingga engkau pun begitu dekat di hati rakyat. Kiranya engkau tak tergantikan hingga saat ini. [Hanafi Mohan, Ciputat, Sabtu 9 Januari 2009, Pukul 17.00-19.19 WIB]



Sumber gambar: http://www.kabarindonesia.com/


Tulisan ini dimuat di: http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar