Senin, 21 Januari 2008

Kemerdekaan

Kemerdekaan

Oleh: Hanafi Mohan




Hari ini, Jum’at-17 Agustus 2007, genaplah kemerdekaan kemerdekaan negara tercinta ini 62 tahun.

62 tahun yang lalu, rakyat Indonesia terbebas dari kungkungan penjajahan. Aku hanya dapat membayangkan, mungkin rakyat Indonesia ketika itu sangat bergembiranya mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan yang telah ditunggu-tunggu setelah kurang lebih 350 tahun dijajah.

62 tahun kemudian dari tahun 1945, yaitu hari ini, 17 Agustus 2007 (dan mungkin sudah rutin pada tahun-tahun sebelumnya selama Indonesia merdeka), rakyat Indonesia bersuka cita menyambut dirgahayu kemeredekaan negeri tercinta ini dengan berbagai macam perayaan dan kegiatan.

Tadi, di lingkungan sekitar kosanku, kulihat penduduk sekitar mengadakan pertandingan-pertandingan ala rakyat untuk menyemarakkan dirgahayu kemerdekaan ini. Walaupun hanya sekedar lewat tadi, kulihat ibu-ibu sedang mengikuti perlombaan joget balon (ini hanya penamaan dariku untuk lomba tersebut). Tak lama aku melihatnya (hanya sekedar sambil lewat), tapi cukuplah semua itu membuatku tersenyum.

Kemarin juga, ketika pulang dari kampus menuju ke kosan, aku melewati kawasan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Kulihat siswa-siswa di sekolah itu sedang berlatih upacara bendera, lengkap dengan gurp drumband-nya. Pikirku mungkin mereka sedang mempersiapkan upacara bendera pada tanggal 17 Agustus. Ingatanku seakan-akan langsung terkembali ke masa-masa sekolahku dulu. Setiap hari Senin upacara bendera. Setiap 17 Agustus juga ada upacara serupa.

Suatu pertanyaan yang masih menggantung di pikiranku, sudahkah kita merasakan kemerdekaan kini?

Ada yang mengatakan, bahwa negara ini memang secara fisik sudah merdeka dan tak terjajah lagi. Tapi apa yang dicita-citakan dengan kemerdekaan tersebut hingga kini sepertinya belum tercapai, dan bahkan semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera yang merata. Yang ada kini, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan yang menderita semakin menderita. Belum lagi gerogotan separatisme dan ekstrimisme yang kini semakin menjadi-jadi.

Tadi aku dengar di Radio DAKTA, seorang yang mengaku Ustadz dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menceramahkan ide-ide tentang syari’at Islam dan kekhilafahan. Tokoh-tokoh seperti Gus Dur dan Almarhum Cak Nur tentunya menjadi sasaran empuk kritikannya. Belum lagi organisasi-organisasi modernis, pluralis, dan liberalis tentunya juga menjadi sasaran empuk tersendiri dari kritikannya. Orang-orang dan organisasi-organisasi tersebut di hadapan “ustadz” tersebut tak lebih hanyalah agen-agen asing yang tidak menginginkan syari’at Islam dan kekhilafahan tegak berdiri di dunia, apalagi di Indonesia.

Aku hanya tersebyum ketus mendengar ceramah “Sang Ustadz” tersebut yang tak lebih bagiku hanyalah fitnahan-fitnahan dan omong kosong. Karena apa? Karena menurutku, orang seperti “Sang Ustadz” tersebut sepertinya tak pernah memahami dan menghargai perjuangan para “Founding Father” negara ini, yang telah dengan bijaksana memilih bentuk Negara Indonesia seperti sekarang ini. Karena mereka (para Founding Father) itu sadar, bahwa Indonesia ini negara yang majemuk dan multicultural. Sehingga tak mungkin rasanya untuk memaksakan suatu hukum dan bentuk negara berdasarkan dan sesuai dengan suatu agama, Islam misalkan. Karena agama yang hidup di negara ini bukan hanya Islam. Oleh sebab itu, tidak bijak kiranya untuk memaksakan suatu kehendak golongan, yang itu akan melukai golongan lainnya.

Dan menurutku, para “Founding Father” lebih bijak dibandingkan “Sang Ustadz” yang tak jelas itu. “Sang Ustadz” tersebut sepertinya tidak pernah memahami arti kemerdekaan. Dan juga “Sang Ustadz” tersebut mungkin saja tak pernah mau memahami agamanya (Islam) secara benar. Orang-orang seperti inilah yang menurutku masih terjajah oleh hawa nafsunya, dan belum bebas dari pikiran piciknya. [Aan]


Ciputat, Jum’at-17 Agustus 2007

Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar