Senin, 21 Januari 2008

Hiburan di Atas Kendaraan

Hiburan di Atas Kendaraan

Oleh: Hanafi Mohan



Malam Minggu kiranya menjadi malam yang special bagi kebanyakan kita. Tak terkecuali bagi para pemuda di Jakarta. Bagi warga Jakarta, hiburan yang selama ini identik dengan pergi ke puncak atau tempat-tempat tamasya lainnya yang berada di luar Jakarta, kini orientasinya lambat laun mulai berubah. Ternyata, banyak sekali hiburan yang bisa didapatkan di dalam Kota Jakarta sendiri. Berkendaraan motor misalkan.

Mengapa berkendaraan motor yang dipilih?

Ini karena ada kepuasan tersendiri yang didapatkan di situ. Umumnya, berkendaraan pada waktu malam hari, biasanya pada malam Minggu.

Sudah jamak diketahui, bahwa Jakarta adalah kota yang jalanannya sangat macet. Nah, pada malam hari, jalanan yang macet itu menjadi agak sedikit lengang. Inilah salah satunya yang menimbulkan kepuasan berkendaraan pada malam hari di Jakarta.

Jika berkendaraan di Jakarta pada malam hari dilakukan sendiri, rasanya agak kurang menarik. Makanya, biar berkendaraan menjadi menarik, biasanya dilakukan berombongan, atau mungkin dalam jumlah yang sangat banyak (aku agak kurang ngerti istilahnya).

Ada sedikit pertanyaan, mengapa orang ngebut di jalan raya? Selain dikarenakan dikejar-kejar oleh waktu, apakah ada alas an lain? Ternyata, ada. Yaitu:
Pertama; bahwa jika di jalan raya, kita harus menyesuaikan dengan irama di dalan tersebut. Karena jika kita tidka bisa menyesuaikan dengan irama di jalan tersebut, maka akan mengganggu pengendara lain. Ketika iramanya pelan, maka kita pun juga ikut pelan. Jika iramanya cepat (ngebut), maka kita juga ikut cepat (ngebut). Jika tidak, maka akan mengganggu harmonisasi berkendaraan di jalan tersebut. Hal ini juga demi keselamatan kita dan orang lain yang sama-sama menggunakan jalan tersebut.

Kedua; ngebut adalah untuk menjaga keseimbangan kendaraan kita. Jika kita tadinya ngebut, maka untuk menjadi pelan harus secara perlahan-lahan, tidak bisa secara mendadak (tiba-tiba). Karena hal tersebut (mendadak/tiba-tiba) akan bisa mengganggu keseimbangan kendaraan kita. Yang semuanya berujung pada keselamatan kita berkendaraan.

Nah, di malam minggu itu, ketika mengikuti konvoi kendaraan bersama-sama dengan teman-temanku, dapatlah kulihat, mana yang beretika, mana yang tidak. Ada juga yang ngebut seenaknya saja. Yang itu katanya ada kepuasan tersendiri. Dan memang, yang ngebut seenaknya itu sangat mengganggu harmonisasi jalan dan pengendara lainnya yang umumnya tidak sedang ngebut. Ternyata, di jalanan pun memiliki aturan, etika, dan norma tersendiri.

Tidak jarang, dari konvoi kendaraan tersebut, biasanya ada yang tertabrak. Bahkan ada yang sampai meregang nyawa. Atau ada juga yang iseng-iseng menantang berantem dengan pengendara lainnya kalau sudah terjadi semacam “clash”. Di sinilah kulihat, ternyata ada solidaritas tersendiri bagi pengendara lainnya yang merasa senasib, atau yang sedang “clash” itu adalah temannya.

Lucu …, kok di jalan raya ada “Ashabiyah” juga yaaa…. [Aan]

Ciputat, Minggu-1 Juni 2006

Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar