Rabu, 26 September 2007

Kedermawanan Sebagai Suatu Jejak

Dermawan atau Derma atau Darma. Sama saja. Semua kata-kata itu sudah begitu lekat dengan hidup dan kehidupan kita. Walaupun secara umum kadang kita sering melupakan kebaikan berupa derma tersebut. Apalagi kini derma juga sudah sangat banyak disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung-jawab. Namun sadarkah kita, bahwa derma adalah jejak yang sangat berharga. Apalagi diiringi dengan ketulus-ikhlasan. Sadarkah kita, bahwa apa yang kita nikmati kini adalah hasil derma dari nenek-moyang kita. Sadarkah kita, bahwa peradaban kini adalah hasil peninggalan derma yang berharga dari para pendahulu kita. Sadarkah kita, bahwa teknologi yang kini kita nikmati adalah berkat kedermawanan para ilmuwan dulu, dan juga para ilmuwan yang kini terus melakukan usaha kedermawanan tersebut.

Bayangkanlah, andaikan kita kini hidup tanpa listrik! Bayangkan juga, seandainya kini tidak ada lampu! Jangan lupa pula, jika suatu saat kita hidup tanpa kecanggihan teknologi yang ada kini!

Oh ya, Republik ini juga hasil dari kedermawanan para Founding Father negeri ini. Juga kemerdekaan yang kita nikmati kini adalah buah dari kedermawanan para pahlawan negeri tercinta ini. Juga Demokratisasi dan Era Kebebasan kini (kebebasan berpikir, berpendapat, bertindak, berekspresi, dan kebebasan lainnya yang merupakan hak paling azasi dari manusia) adalah hasil jerih payah dari para pahlawan reformasi.

Kalau begitu, ternyata kedermawanan bukan hanya sumbangan berupa materi (uang, barang, makanan, dan semacamnya). Apa saja yang bisa kita sumbangkan demi kebaikan kemanusiaan ternyata adalah kedermawanan. Karena itu, sudah selayaknya generasi kini juga harus melakukan kedermawanan, bahkan dalam segala sektor kehidupan dan dalam berbagai bentuk kedermawanan.

Berbicara mengenai kedermawanan, ingatlah kita akan puasa yang kita jalani di bulan ramadhan ini. Betapa bulan yang mulia ini adalah moment terbaik kita untuk melakukan kebaikan, termasuk di dalamnya kedermawanan. Dan juga semoga kebaikan dan kedermawanan yang kita semai di bulan yang penuh berkah ini tidak berhenti hingga di bulan ini saja, melainkan akan terus berlanjut dan lebih meningkat lagi kualitasnya di bulan-bulan selanjutnya. Dan semoga belum terlambat bagiku untuk mengucapkan, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan yang penuh bertaburan ampunan, rahmat, dan maghfirah ini.”

Berbicara mengenai kedermawanan, maka ingatlah kita akan bencana yang kini terus mendera Indonesia. Ingatlah kita bahwa beberapa waktu yang lalu Gempa Bumi menimpa Bengkulu dan daerah-daerah lainnya yang tertimpa bencana yang sama.

Bencana, bencana, dan bencana. Seakan-akan negeri ini tak pernah sepi dari bencana. Semoga setiap kita akan selalu berusaha melakukan kedermawanan yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita kini. Dan semoga kedermawanan yang kita lakukan itu akan bermanfaat bagi kemanusiaan secara universal, sehingga akan menjadi jejak terbaik yang pernah kita torehkan di dunia yang fana ini. Sehingga jejak itu akan terus dirasakan oleh manusia-manusia dan generasi selanjutnya.

[Hanafi Mohan – Ciputat, Minggu 23 September 2007 M / 11 Ramadhan 1428 H]
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar