Senin, 21 Januari 2008

Generasiku

Generasiku

Oleh: Hanafi Mohan




Generasiku berbeda dengan generasi-generasi yang lalu, bahkan dengan generasi ’45 sekalipun. Tantangan yang dihadapi generasiku tak kalah beratnya dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh generasi-generasi terdahulu. Bahkan mungkin tantangan yang dihadapi oleh generasiku lebih berat dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh generasi terdahulu. Betapa tidak? Generasiku kini hidup di dunia yang mengglobal. Arus informasi dan komunikasi yang tak terbendung derasnya memasuki setiap denyut nadi generasiku.

Generasikulah yang mengalami kejutan-kejutan modernisasi yang begitu cepat ini. Yang mana hal-hal yang kami hadapi kini tak pernah dihadapi generasi terdahulu.

Generasiku hidup di era teknologi informasi dan komunikasi yang teknologi tersebut bagaikan kilat, melesat, melibas, dan menyambar setiap jengkal dan setiap sudut sisi kehidupan kami. Sedangkan pendidikan yang kami dapatkan selama ini seakan sudah benar-benar tak mampu menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat ini. Sehingga, diakui atau tidak, generasikulah yang menjadi korban perubahan dunia yang cepat ini, sedangkan Negara dan bangsa tempat generasiku bernaung kini juga seakan mati gaya dan mati rasa. Bahkan kalau boleh dibilang, sudah “bobrok multidimensi”.

Keadaan kini yang mengglobal memang sedikit banyak memberikan keuntungan bagi generasiku. Generasiku lebih memiliki peluang untuk berpendidikan lebih tinggi. Generasiku lebih berkesempatan luas untuk berinteraksi lebih banyak dengan “para manusia” yang hidup di berbagai belahan bumi ini.

Bayangkan, setiap hari, generasiku bisa melahap informasi sebanyak-banyaknya dari kotak ajaib yang bernama “televisi”. Nilai-nilai budaya dan peradaban dari berbagai bangsa dan Negara dengan berbagai macam ideologinya bisa kami serap dari “kotak ajaib” tersebut. Sehingga bagi kami kini, sudah semakin samar dan tak jelas yang mana “Barat” dan yang mana “Timur”, yang mana “baik” dan yang mana “tidak baik”, yang man sesuai dengan budaya “Timur” dan yang mana tidak sesuai dengan budaya “Timur”, yang mana yang sesuai dengan ajaran agama yang kami anut dan yang mana tidak sesuai, karena semuanya menawarkan nilai kebaik dan keburukan yang samara pula. Sedangkan filter terbaik untuk menyaring semua itu terkembali kepada diri kami masing-masing. Karena nilai-nilai agama sudah tergerus, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa juga semakin tak mampu menangkis semua serangan-serangan nilai-nilai yang mengglobal ini.

Bagaimana lagi kami bisa mempercayai agama untuk menjadi benteng di dalam diri, sedangkan agama kini tak lebih hanya menjadi topeng atas keburukan dan kerusakan yang dilakukan oleh manusia. Dan bagaimana pula nilai-nilai luhur budaya bangsa kami bisa menangkis semua serangan-serangan global ini, sedangkan bangsa kami kini dilanda “krisis moral” yang sangat akut.

Sehingga, hanya sedikit yang kami harapkan, berikan “generasi kami”, berikan “generasiku” kesempatan untuk “berkreasi” lebih banyak lagi, tentunya dengan cara-cara ala “generasi kami”, tentunya dengan cara-cara ala “generasiku”, bukan dengan cara-cara lama yang telah ketinggalan zaman.

Dan semoga kami bisa mengabdikan diri untuk membawa “bangsa” ini kea rah yang lebih baik lagi. Itu saja. [Aan]

Ciputat, Kamis-Jum’at, 12-13 Juli 2007
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar