Senin, 17 September 2007

Meninggalkan Jejak




Harimau mati meninggalkan belang.
Gajah mati meninggalkan gading.
Orang tua kita mati meninggalkan warisan. Warisan harta, ataupun mungkin warisan hutang. Jika yang ditinggalkan adalah harta, maka akan diperebutkanlah warisan itu oleh sanak-keluarganya. Namun jika yang ditinggalkan adalah hutang, maka ceritanya akan lain lagi.

Kalau manusia mati meninggalkan …

Ya …, bisa meninggalkan apa saja. Dan semua manusia pasti memang akan mati. Jika ia memiliki seorang istri ataupun suami, maka istri atau suaminya itulah yang akan ditinggalkannya. Jika ia memiliki anak, maka anaknya itulah yang ditinggalkannya. Begitu juga kalau ia memiliki harta, jabatan, ataupun yang lainnya.

Namun apakah yang ditinggalkannya itu akan bertahan lama dan takkan habis?

Ya, semuanya itu takkan pernah bertahan lama dan pasti akan habis. Berarti, apakah peninggalan jejak manusia yang akan bertahan lama dan akan selalu dikenang dan didapatkan oleh orang banyak jejak yang ditinggalkannya itu, bahkan mungkin untuk beberapa abad dan dekade? Dan, adakah peninggalan manusia yang seperti itu?

Peninggalan manusia seperti itu memang banyak. Baik itu peradaban, ilmu, kebaikan, karya cipta, atau yang paling sering kita dapatkan kini adalah tulisan. Manusia pra-sejarah saja meninggalkan sesuatu bagi manusia-manusia setelahnya. Apalagi manusia yang telah memasuki masa sejarah.

Masa sejarah memang diawali dengan adanya tulisan. Dan begitu pentingnya tulisan itu, yang hingga saat ini orang akan selalu berusaha belajar menulis. Jika ada orang zaman sekarang yang tak bisa menulis, maka dikatakanlah bahwa orang tersebut buta huruf, atau bahkan … bodoh.

Sudahkah kini masing-masing kita sebagai manusia sejarah meninggalkan jejak ala manusia sejarah tersebut?

Tanyakanlah kembali kepada diri kita masing-masing berkaitan dengan eksistensi kita sebagai manusia sejarah.

Oh ya, dosen kita meninggalkan ilmu kepada kita, dan juga meninggalkan nilai. Jika lulus mata kuliahnya, maka dapatlah kita peninggalannya berupa nilai A, B, atau mungkin kalau pas-pasan hanya dapat C. Dan senanglah kita akan peninggalan dosen kita itu. Jika tidak lulus, dapatlah kita nilai D, atau yang lebih tragis lagi dapat nilai E. Sehingga kita harus mengulang mata kuliah itu di semester depannya, atau harus merogoh kocek lebih dalam lagi, karena harus ikut Semester Pendek (SP) yang biayanya tidak sedikit itu. [Aan]

[Hanafi Mohan – Ciputat, Kamis 6 September 2007 Pukul 00.27]


Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar