Senin, 17 September 2007

Aku Kini Merasa Perlu Meninggalkan Jejak




Meninggalkan jejak. Ya, aku kini semakin merasa perlu dan harus meninggalkan jejak sebanyak-banyaknya. Karena aku adalah manusia sejarah, dan pastinya akan menjadi manusia sejarah bagi generasi setelahku.

Aku kini terus menulis dan menulis. Tak peduli apakah tulisanku itu akan dibaca oleh orang lain atau tidak. Akan dikatakan bagus ataupun tidak. Karena aku yakin, sesuatu yang selalu dekat itu tak pernah dapat aku perkirakan kedatangannya. Sehingga ketika sesuatu yang dekat itu nanti datang menghampiri dan menjemput diri ini, aku takkan pernah menyesal lagi. Karena jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan jejakku itu, yaitu jejak yang ku peruntukkan bagi manusia-manusia dan generasi-generasi setelahku.
Meninggalkan jejak. Entah sampai di mana jejakku nanti. Entah sedikit atau banyakkah jejak hidupku nanti.

Hanya detakan jantungku yang nantinya menjadi penentunya, yaitu penentu batas-batas antara garis kehidupan dan kematianku. Ya …, detakan jantung. Detakan jantung yang ada di dalam tubuhku, yang itupun hingga kini masih menjadi misteri bagi diri dan kehidupanku.

Misteri? Diri ini yang kita merasa begitu dekat dengannya, hingga kini tak lebih hanyalah sesuatu yang tak pernah bisa kita mengerti. Diri yang kita merasa sangat mengenalnya, ternyata tak lebih hanya sesuatu yang begitu misterius. Karena ternyata kita tak pernah mengenal diri kita sendiri. Ternyata kita tak pernah bisa mengerti akan diri kita. Sesuatu yang memang akan tetap menjadi misteri. Dan mungkin akan selalu menjadi misteri. Ya …, misteri kehidupan. [Aan]

[Hanafi Mohan – Ciputat, Kamis 6 September 2007 Pukul 00.50]


Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar