Rabu, 26 Juni 2013

Kampong Timbalan Raje beserta Para Pemukanya [Bagian-1]


#) Muqaddimah: Muasal Kampong Timbalan Raje

Berbicara mengenai Benua Borneo, maka tak terlepas dengan keberadaan sungai dan kampong-kampong di tepi sungai. Tersebutlah suatu kampong di tepian Sungai Kapuas di dalam Negeri Pontianak. Kampong ini letaknya tak jauh dari lingkungan Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak. Kampong tersebut masyhur dikenal dengan nama "Kampong Tambelan".

Kampong Tambelan dibuka/didirikan pada masa Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak (Pendiri Negeri/Kesultanan Pontianak, sekaligus Sultan Pontianak yang Pertama). Jadi, Kampong Tambelan termasuk salah satu kampong paling awal yang ada di dalam Negeri Pontianak setelah di Pontianak berdiri Kesultanan.

Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pendiri Kampong Tambelan adalah Panglime 'Abdul Ghani (Panglime Kesultanan Pontianak ketika itu). Panglime 'Abdul Ghani ini berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura yang hijrah dan mengabdi ke Negeri/Kesultanan Pontianak.

Panglime 'Abdul Ghani beserta pengikutnya ketika itu hijrah ke Negeri Pontianak bukanlah sebagai utusan Kesultanan Siak Seri Inderapura. Serta bukan pula datang dengan maksud untuk berperang, melainkan betul-betul hijrah. Hijrah dengan keinginan sendiri, bukanlah karena diutus oleh Kesultanan Siak Seri Inderapura.

Belakangan hari setelah Panglime 'Abdul Ghani bermukim di Negeri Pontianak dan mengabdi di Kesultanan Pontianak, maka datanglah pasukan Kesultanan Siak bermaksud memerangi Pontianak. Tapi kemudian rencana penyerangan itu kandas, malahan kemudian terjalin persahabatan/persekutuan antara Kesultanan Pontianak dengan Kesultanan Siak Seri Inderapura. Salah satunya karena peran Panglime ‘Abdul Ghani, serta juga karena ke’arifan dan kewara’an Sultan Pontianak yang selain sebagai umara’, juga sekaligus berperan sebagai ‘ulama.

Kampong Tambelan merupakan hadiah dari Sultan Pontianak ketika itu (Seri Paduka Tuanku Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie) kepada Panglime ‘Abdul Ghani atas kesetiaan dan pengabdian Sang Panglime terhadap Kesultanan Pontianak. Penamaaan Kampong Tambelan bukanlah berasal dari nama Pulau Tambelan – Kepulauan Riau (dulu teritori Kesultanan Riau–Lingga-Johor). Muasal berdirinya Kampong Tambelan pun tak ada kait-mengaitnya langsung dengan Pulau Tambelan. Awal-mulanya Kampong Tambelan itu bernama "Kampong Timbalan Raje" yang maknanya yaitu Kampong Wakilnya Raja/Kampong Wakilnya Sultan. Di dalam Bahasa Melayu, “timbalan” maknanya yaitu “wakil”. Di kemudian hari, terjadi perubahan penyebutan hingga menjadi "Kampong Tambelan".

Masyarakat Melayu Kampong Tambelan sendiri merupakan percampur-bauran Melayu Borneo, Melayu Sumatera, Melayu Semenanjong, dan mungkin lebih kompleks lagi percampur-baurannya.


#) Para Pemuka Kampong Timbalan Raje

Di dalam Negeri Pontianak, Kampong Tambelan dikenal sebagai kampong yang kental dengan Adat Resam Budaya Melayunya, berjalin kelindan dengan kehidupan masyarakatnya dalam hal menjalankan ajaran Islam beserta tradisinya yang berurat berakar menghunjam bumi. Sepanjang episode sejarahnya, Kampong Tambelan juga melahirkan ramai pemuka masyarakat yang dikenal se-Negeri Pontianak, di antaranya yaitu Panglime Kesultanan Pontianak, Tok Kaye, ‘Ulama, Tabib, Nakhode, Saudagar, Budayawan, dan beberapa yang lainnya.

Berikut ini uraian mengenai para Pemuka/Tokoh Masyarakat Kampong Tambelan, ada yang memang terlahir dan besar panjang di Kampong Tambelan, ada juga yang berasal dari Negeri lainnya di Kepulauan Melayu ini yang kemudian menjadi pemuka masyarakat Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan) yang melahirkan banyak zuriat yang berkait kerabat dengan jalur-jalur keturunan lainnya di Kampong Tambelan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kampong Tambelan hingga kini.

1) Panglime 'Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye Mude Pahlawan” dan juga gelar “Tok Kaye Setie Lile Pahlawan”), merupakan seorang Panglime Kesultanan Pontianak, sekaligus merupakan Pendiri Kampong Tambelan.

Panglime ‘Abdul Ghani ini berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura. Kedatangannya ke Borneo Barat yaitu ketika terjadi perlawanan antara Melayu Riau dengan Portugis yang memperebutkan daerah kekuasaan Negeri Johor. Masuk ke Sungai Kapuas dengan beberapa buah perahu, bermula perahu ditambatkan di muara Kapuas. Ketika menelusuri Sungai Kapuas, rombongan Panglime ‘Abdul Ghani mendapati banyak tumbuh-tumbuhan jeruju (sejenis tanaman menjalar), sehingga daerah tersebut dinamakanlah daerah Jeruju. Di antara anak buah perahu yang sampai di Sungai Kapuas ada yang bernama Tok Kaye Kamil, Tok Tiram, dan Panglime Suboh. Di Kesultanan Pontianak ketika itu adalah masa pemerintahan Seri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie yang bertahta Kerajaan di dalam Negeri Pontianak.

Kampong Tambelan yang merupakan hadiah dari Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie kepada Panglime ‘Abdul Ghani atas kesetiaannya tentunya juga banyak tradisi lisan masyarakat Kampong Tambelan mengenai kesetiaan yang dimaksud. Suatu ketika para Panglime, Penggawe (Kepala’ Kampong), Kapitan, dan para petinggi Kesultanan Pontianak berkumpul di Balairung Istane Qadriyah mempersembahkan berbagai macam hadiah sebagai tanda kesetiaan terhadap Sultan, terhadap Kesultanan, terhadap Negeri Pontianak. Ada yang mempersembahkan hasil pertanian dan semacamnya, perhiasan, dan persembahan-persembahan lainnya yang tentunya sangat berharga, juga bernilai tinggi. Tiba saatnya Panglime ‘Abdul Ghani menghaturkan persembahan, Sultan Syarif ‘Abdurrahman Al-Qadrie bukan main terheran-heran melihat yang akan dipersembahkan oleh Sang Panglime, yaitu berupa kain basah. Tak lain dan tak bukan, yakni kain basah yang biasa dipergunakan sebagai penutup tubuh ketika mandi itu.

Panglime ‘Abdul Ghani pun menjura takzim ke hadapan Sang Sultan, menjelaskan perihal kain basah yang dibawanya itu. Bahwasanya, kain basah itu tidak kurang keistimewaannya dalam hal bersetia kepada tuannya. Ketika yang lain-lainnya tidak ada yang mau menemani sang tuan, maka kain basah tetap setia menemani tuannya. Diibaratkannya bahwa dirinya adalah kain basah bagi Sultan Pemangku Negeri Pontianak. Umpama kain basah yang melekat di badan seseorang, melekat sangat dekat dan sangat erat, itulah tanda kesetiaan seorang Panglime Kesultanan Pontianak, hingga ke anak-cucu'-zuriat keturunannya akan selalu setia kepada Kesultanan Pontianak, akan selalu setia kepada Negeri Pontianak.


2) Haji 'Abdurrahman bin Panglime 'Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye 'Abdurrahman”, dikenal juga dengan nama “Panglime 'Abdurrahman”). Beliau juga merupakan seorang Panglime Kesultanan Pontianak mengikuti jejak ayahandanya. Beliau merupakan tokoh masyarakat dan tokoh adat yang menangani berbagai urusan kemasyarakatan.


3) Haji Isma’il bin Haji 'Abdurrahman bin Panglime ‘Abdul Ghani (gelar “Tok Kaye”), merupakan tokoh masyarakat dan tokoh adat. Beliau menangani berbagai urusan kemasyarakatan. Beliau pernah mendatangkan ‘Ulama dari Makkah ke Pontianak, yaitu Haji 'Abdullah Al-Habsy.


4) Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin 'Abdullah (Datok Senara). Di antara ‘ulama yang berasal dari Pontianak yang menghasilkan karya ialah Haji Muhammad Qasim. Nama lengkapnya yaitu: Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin ‘Abdullah (Datok Senara) bin ‘Ali (Datok Bendahara di Kuantan) bin Tuan Kadi Ahmad.

Beliau wafat dalam usia lebih dari 100 tahun, pada hari Rabu, pukul 9:30 pagi, pada bulan Rabi’ul Awwal sanat 1341 Hijriyah, di Kuale Maras – Jemaje - Pulau Tujoh - Kepulauan Riau.

Nampaknya hasil karya beliau dalam tahun 1238 Hijriyah adalah mendahului karangan ‘ulama-‘ulama Pontianak yang lainnya. Karya yang dimaksudkan itu ialah berjudul “Ushuluddin fi Sabilil I’tiqad”, diselesaikan pada tarikh 2 haribulan Syawwal sanat 1238 Hijriyah. Kandungan kitabnya ini membicarakan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Cetakan yang kedua yaitu oleh Mathba’ah Al-Ikhwan, Singapura, awal Rabi’ul Awwal 1337 Hijriyah.

Jika diperhatikan jarak waktu dari karya di atas diselesaikan (tahun 1238 Hijriyah) hingga beliau wafat (tahun 1341 Hijriyah) ialah 103 tahun. Sekiranya sewaktu menulis itu beliau berusia 20 tahun, maka ini berarti beliau wafat dalam usia 123 tahun.

(Dari beberapa sumber tertulis memang tidak menyebutkan bahwa Haji Muhammad Qasim bin Nakhode Haji Ahmad bin ‘Abdullah/Datok Senara lahir di Kampong Tambelan. Tapi jika disusur-galuri silsilahnya kemungkinan besar beliau/Haji Muhammad Qasim memang lahir di Kampong Tambelan. Ini barulah sebatas perkiraan penulis jika menyusur-galuri silsilahnya yang bersambung dengan beberapa orang Pemuka Kampong Tambelan, baik dari pihak perempuan maupun dari pihak laki-laki.)


5) Haji Abu Na’im bin Nakhode Tanggok. Sesuai dengan cerita-cerita dari tetua Kampong Timbalan Raje (Kampong Tambelan)-Negeri Pontianak-Borneo Barat, bahwa Haji Abu Na'im berasal dari daerah Kandangan - Negeri Banjar - Borneo Selatan. Allahyarham Haji Abu Na'im berperan sebagai Pemuka Masyarakat Kampong Tambelan, juga dikenal sebagai seorang Nakhode dan Saudagar. Anak cucu zuriat keturunan Haji Abu Na'im pun tak sedikit juga yang berkait-kerabat dengan anak cucu zuriat keturunan Panglime 'Abdul Ghani (Panglime Kesultanan Pontianak pada masa pemerintahan Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie. Panglime 'Abdul Ghani berasal dari Negeri Siak Seri Inderapura. Panglime 'Abdul Ghani merupakan pendiri Kampong Timbalan Raje/Kampong Tambelan). Berkait kerabat yang dimaksud misalkan hubungan perkawinan, hubungan persemendaan, dan semacamnya.

Menurut cerita dari para tetua Kampong Tambelan, ketika itu datanglah ke Negeri Pontianak tiga orang pemuda dari daerah Kandangan - Negeri Banjar yang dipimpin oleh seorang yang bernama Abu Na’im (menurut versi yang lain diceritakan bahwa yang datang dari Kandangan - Negeri Banjar itu adalah serombongan/lebih dari tiga orang). Abu Na’im dengan rombongannya/dua orang saudaranya/kawannya dari Kandangan-Negeri Banjar datang ke Negeri Pontianak untuk mencari orang yang bernama Sulaiman yang telah membunuh Datoknya yang bernama Panglime Ragam (Sulaiman yang dimaksud juga berasal dari Negeri Banjar). [~bersambung~]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Medio Mei – Akhir Juni 2013
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Dihimpun dari berbagai sumber, antara lain:

- Tradisi Lisan dari para tetua Kampong Tambelan (cerita dari mulut ke mulut yang dikisahkan turun temurun).

- Artikel berjudul “Mengenali Pelbagai Karya Ulama Borneo”, Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah [dimuat di Akhbar “Utusan Malaysia”, pada 17 Maret 2008].

- Artikel berjudul “Lima Orang Bernama Ismail Tokoh Ulama Melayu di Kalimantan Barat”, Oleh : H. Dato Zahry Abdullah Al-Ambawi dan M. Natsir.



Sumber gambar ilustrasi: http://www.e-campusradio.com/


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"





Reaksi:

1 ulasan:

  1. Mantap.....Lanjut kan.
    Di tambah lagi Referensi ny....

    BalasHapus