Sabtu, 19 November 2011

Kalbu yang Damai


Wahai jiwa yang tenang,
jangan kau hitung gerimis itu,
jangan kau hitung tetesan hujan itu,
jangan kau hitung...

Wahai hati yang lapang,
jangan kau kenang yang sudah-sudah,
jangan kau perturutkan gundah gulana dan gelisah,
jangan...

Wahai kalbu yang damai,
biarkanlah lonceng itu berdentang seperti semula,
kadang ia gaung bergema,
kadang pula lirih mengalir di persada rasa

Wahai sukma yang sentausa,
jikalau telah ter'azamkan butiran pasir menjadi intan permata,
niscaya persada dunia terang-benderang
terbentang selaksa jalan menuju istana kilau berkilau
yang bertahta di langit nan biru



- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Ciputat, Januari – Februari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Puisi ini sebelumnya telah dimuat di Majalah "Qalam - Mujahidin" Edisi 41 / V / Dzulqaidah 1432 H / Oktober 2011 M.

Sumber Gambar: http://nurilhudaa.blogspot.com/

Puisi ini dimuat kembali di: http://www.hanafimohan.com/



Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar