Rabu, 05 Januari 2011

Kilas Waktu di Simpang Tiga Kapuas-Landak


Panas menyengat mentari khatulistiwa yang ditemani hembusan sejuk angin sungai tetap takkan bisa kulupa. Lintasilah Simpang Tiga itu walau sejenak. Rasakanlah detik-detik waktu seakan-akan terdiam beberapa saat, roda waktu itu berhenti dari perputarannya.

Apa yang sedang kau rasakan kini, begitu juga yang aku rasakan. Mungkinkah ada lagi negeri lain yang lebih indah dari negeri kita? Kiranya tak ada lagi senja merah jingga yang elok menawan selain senja di sepanjang sungai kita.

Ingin kupinjam dan kulayarkan Lancang Kuning yang membawa Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie menyusuri Kapuas ketika hajatnya mendirikan negeri. Kemudian akan kurasakan waktu kilas berkilas hingga dua abad silam. Dalam kilasan itu kusaksikan meriam ditembakkan dari Batulayang. Pelurunya pun jatuh di daerah Simpang Tiga Kapuas-Landak. Di situ pun kemudian untuk pertama kalinya didirikan Masjid Jami’ Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie.

Ingatlah selalu, negeri kita di'azazkan pada tegaknya Islam serta gemilangnya peradaban dan budaya bangsa kita. Singgahlah kau ke Istana Qadriyah tempat para Sultan memangku negeri. Niscaya di sana 'kan kau dapati kitab-kitab yang ditulis oleh para Sultan, 'Ulama, dan Pujangga negeri tercinta kita.


Sejenak, kusesapkan kilasan-kilasan itu, kemudian kusimpan sebagai kekuatan hati. Kelak 'kan kau rasakan, betapa hancurnya hati ketika meninggalkan Simpang Tiga Kapuas-Landak, ketika menyusuri meninggalkan negeri kita, ketika melewati Tugu Khatulistiwa, ketika melewati Makam Batu Layang, ketika sudah mendekati keluar dari muara untuk kemudian menuju lautan lepas.

Kelak juga 'kan kau rasakan betapa bahagianya hati ketika kembali memasuki muara Sungai Kapuas, melintasi Batulayang, Tugu Khatulistiwa, berlabuh di dermaga, kemudian melintasi Simpang Tiga Kapuas-Landak, lalu singgah di Masjid Jami’ Sultan Syarif 'Abdurrahman Al-Qadrie untuk menunaikan sembahyang. Saat-saat itulah waktu yang paling berbahagia di dalam hidupmu. Kenangan itu akan kau bawa hingga ruh berpisah dari jasad. Karena kenangan itu, maka kau akan kembali lagi ke kota kelahiran kita, walaupun kau telah terpelesat jauh meninggalkan Bumi Khatulistiwa Betuah.

Kelak kau akan menyadari, walaupun telah banyak negeri indah lainnya yang kau singgahi, walaupun begitu mengagumkannya peradaban lain yang kau kenali, namun kau akan tetap mengakui bahwa negeri kitalah yang paling indah, bahwa peradaban negeri kita juga sama-sama mengagumkannya jika dibandingkan dengan peradaban negeri lain yang mungkin pernah menggoda dan membius kita.

Kini, senja semakin jingga, malam pun 'kan disambut cahaya rembulan yang syahdu. Tidurlah dengan tenang, kelak esok pagi 'kan kau jumpai lagi fajar yang menyingsing malu dari ufuk timur. Bersamaan dengan mentari pagi itu seakan-akan kau lihat kelopak matanya yang indah itu mengintipmu, memandangmu, menatapmu, dan menyemangati cerahnya pagimu. [~]




Hanafi Mohan
Di pinggiran Selatan Batavia
Ciputat, Senin 3 Januari 2011
10:33 - 12:42 WIB


Sumber gambar: http://firdaus45.wordpress.com/

Tulisan ini dimuat di:
http://hanafimohan.blogspot.com/
Reaksi:

2 ulasan:

  1. Subhanallah,,,,,perasaan ini pnh aQ alamin ketika jauh dirantau org,,,,,keep fightin' brotha' ^_^

    BalasHapus