Rabu, 04 Februari 2009

Foto Model di Tepi Jalan


Kini adalah masa negeri kita memiliki begitu banyak "foto model". Jika dahulunya kita biasa meilihat pose para rupawan dan rupawati itu di majalah (dan sejenisnya), maka kini medianya sudah semakin beragam, bahkan hingga berupa baliho di pinggir jalan. Yang terpampang di pinggir jalan itu bukan hanya satu atau dua, melainkan sangat banyak.

Alih-alih terpikat dengan pose para "foto model dadakan" ini, kita malahan muak melihatnya. Bayangkan, yang terpampang itu dari yang rupawan hingga (maaf) yang tidak rupawan. Dari yang mukanya kelihatan alim dan baik, hingga yang mukanya seperti penjahat (biasanya di film Hollywood ditulis "Wanted").

Bersamaan dengan pose-pose tersebut, biasanya tertera nama orang yang berpose itu dan juga tulisan "Pilih Nomor bla bla bla". Dan yang pasti, juga tertera nama "perkumpulan" poli*** yang mengusung mereka.

Akhir-akhir ini, ruang publik kita dibajak, begitu juga ruang privat kita selalu dijajah. Melalui layar kaca, setiap hari kita selalu dijejali iklan orang yang minta dipilih untuk menjadi pemimpin negeri ini, untuk menjadi orang yang menentukan kehidupan negeri ini. Misalkan ada iklan, "Saya bla bla bla, makanlah 'makanan' petani Indonesia". Juga iklan-iklan lainnya yang jual janji dan gombal, bahkan klaim dan pembanggaan diri, bahwa keberhasilan pemerintahan pada bidang-bidang tertentu merupakan keberhasilan "perkumpulan" poli*** mereka. Namun sayangnya tak ada yang mengklaim bahwa kegagalan pemerintahan pada banyak bidang merupakan kegagalan "perkumpulan" poli*** mereka juga.

Yang lebih membuat kita kesal adalah tingkah salah satu "perkumpulan" poli*** yang telah memanfaatkan penderitaan rakyat Palestina sebagai salah satu ajang kampanye (dengan memberikan simpati kepada Palestina berupa menurunkan massa sebanyak-banyaknya ke jalanan sambil membawa-bawa atribut "perkumpulan" poli*** mereka – simpatinya terhadap rakyat Palestina ternyata tidak tulus ikhlas).

Membandingkan hiruk pikuk pesta demokrasi di negeri ini, aku begitu tertarik dengan kisah sukses seorang perempuan warga Amerika Serikat keturunan Arab-Palestina yang menjadi anggota senat di salah satu negara bagian Amerika Serikat. Bayangkan, dia berkampanye di tengah-tengah warga keturunan Amerika Latin yang secara budaya dan agama berbeda dengannya. Tapi kemudian ia terpilih dengan dukungan suara dari konstituennya yang mayoritas keturunan Amerika Latin itu. Kampanye yang dilakukannya adalah dengan mendatangi setiap rumah konstituennya, menawarkan program kepada mereka, dan meyakinkan mereka untuk memilih dirinya. Di antara konstituennya itu ada yang berkata, "Saya mungkin agak susah untuk melafal dan menuliskan nama anda. Tapi saya yakin, anda adalah orang yang baik. Mudah-mudahan saya akan memilih anda nantinya."

Perempuan keturunan Palestina ini juga merupakan seorang aktivis sosial. Ia sering melakukan aksi sosial di tengah masyarakatnya. Karena itu, ia memang pantas untuk dipilih oleh konstituennya, karena konstituennya memang sudah mengenal dirinya. Ia tidak ujug-ujug datang dari alam antah berantah, kemudian mengkampanyekan dirinya untuk dipilih oleh masyarakat, melainkan ia sudah melakukan tindakan nyata di tengah masyarakat, sehingga masyarakat memang sudah mengenalnya. Ia tidak hanya mengobral janji-janji gombal, tetapi lebih daripada itu, ia telah menunjukkan kiprah bahwa dirinya adalah orang yang begitu peduli terhadap persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Mungkin para "foto model dadakan" dari berbagai "perkumpulan" poli*** itu patut mencontoh perempuan keterunan Palestina ini dalam meraih dukungan dari para konstituennya, tanpa harus menebarkan foto-foto mereka di setiap sudut dan tepi jalan kita. Kelakuan para "foto model dadakan" ini tak lebih hanya semakin menambah semrawut setiap jengkal jalanan dan lingkungan kita. Selain itu, juga tak sedikit yang telah merusak lingkungan hanya gara-gara mau memajang foto-foto mereka yang tak terlalu menarik itu.

Sudah saatnya kini berkampanye dengan cara-cara yang elegan. Kini saatnya para "foto model dadakan" itu melakukan aksi-aksi nyata di tengah masyarakat. Sebelum anda berkata bahwa anda layak untuk dipilih, maka anda harus menunjukkan dulu kiprah dan aksi nyata anda di tengah masyarakat. Anda juga harus menunjukkan kepedulian sosial anda kepada masyarakat. Dan kepedulian sosial ini jangan hanya dilakukan ketika mau Pemilu. Terpilih atau tidaknya anda nanti, itu urusan belakangan. Tapi dengan melakukan ini (aksi nyata di masyarakat), maka berarti anda sudah melakukan amal kebaikan, yang itu mudah-mudahan akan diganjar pahala oleh Tuhan, dan kemungkinan nantinya anda akan masuk surga. Atau setidaknya masyarakat akan mengenal dan mengenang anda sebagai orang yang baik. [Hanafi Mohan/Ciputat-Sabtu, 31 Januari 2009]

Sumber gambar:
http://tuahtanto.blogspot.com/2008/12/spanduk-dan-baliho-caleg-hiasi-kota.html

0 ulasan:

Posting Komentar