Jumat, 27 Februari 2009

(3) Menulis dengan Niat Beramal

Awal dari segala perbuatan kita adalah niat, sehingga niat adalah motor penggerak pertama ketika kita akan melakukan sesuatu. Jika niat kita baik, maka baiklah perbuatan yang kita lakukan itu. Sebaliknya, jika berniat buruk, maka buruk pula yang kita lakukan. Lantas, bagaimanakah dengan aktivitas menulis, perlukah kita berniat sebelumnya?

Biasanya ada juga sesuatu yang kita lakukan tanpa dilandasi niat. Hal yang tak diniatkan tersebut memang bisa dilakukan, tetapi hasilnya kadang tak terlalu maksimal. Sebagai manusia beriman, maka kita percaya bahwa pekerjaan yang dilandasi dengan niat yang baik itu akan diganjar pahala. Walaupun pekerjaan tersebut urung kita lakukan, tetapi niat baiknya saja sudah diganjari pahala. Jika kita berniat buruk, maka baru akan diganjari dosa setelah pekerjaannya dilakukan.

Lantas mengapa tidak aktivitas menulis kita landasi dengan niat yang baik. Hal ini setidaknya akan menjadi motivasi positif ketika menulis, sehingga setiap apa yang kita tulis niscaya akan bermanfaat bagi orang banyak. Kita tentunya ingin setiap perbuatan kita adalah perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak, setidak-tidaknya bagi diri kita sendiri. Sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial, tentunya kita tak ingin perbuatan kita itu hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Karena menulis merupakan aktivitas melemparkan ide kepada orang banyak (kecuali jika kita hanya menulis untuk diri kita sendiri), maka mau tidak mau setiap apa-apa yang kita tuliskan itu semestinya bisa memberikan efek perubahan dan pencerahan bagi sesiapapun yang membacanya. Efek ini hanya akan muncul jika dari awalnya aktivitas menulis yang kita lakukan itu dilandasi dengan niat yang baik, dengan niat yang positif.

Dengan niat beramal, niscaya apa-apa yang kita tulis itu benar-benar keluar dari hati nurani kita yang terdalam. Setiap huruf, kata, dan kalimat yang kita tuliskan tersebut akan memancarkan pikiran kita yang paling jernih. Aktivitas menulis akan menjadi sesuatu yang berarti, mengasyikkan, dan juga begitu ringannya, karena kita melakukannya dengan segenap kesadaran dan ketulus-ikhlasan. Semoga. [Hanafi Mohan / Ciputat, Jum'at 27 Februari 2009]


Sumber Gambar: http://nithyananda.org/


Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar