Kamis, 26 Februari 2009

(1) Tulisan yang Dibaca secara Tergesa-gesa


Setiap kita mungkin pernah membaca suatu tulisan secara tergesa-gesa. Membaca yang dimaksud adalah membaca dengan cara tidak sabar. Ketika membaca tersebut, seakan-akan kita ingin segera selesai. Reaksi yang kemudian muncul adalah membaca tulisan tersebut secara terburu-buru (tergesa-gesa). Apakah sebabnya hingga kita tergesa-gesa ketika membaca?

Reaksi ini sebenarnya tidak muncul dengan sendirinya. Hal ini tak lain karena isi dari tulisan tersebut. Memangnya seperti apakah tulisan yang membuat kita membacanya secara terburu-buru? Bedakan antara terburu-buru dan cepat, karena kedua-duanya merupakan hal yang berbeda. Terburu-buru adalah hal yang muncul karena adanya suatu beban yang berat, seperti kita sedang menghadapi deadline. Sedangkan cepat adalah hal yang muncul karena tak ada yang membebani, sehingga kita lancar dan enjoy saja. Karena lancar dan enjoy tersebut, sehingga kita bisa melakukan sesuatu secara cepat.

Sama halnya dengan membaca, jika tulisan tersebut isinya terlalu berat, maka kita seakan-akan tergesa-gesa membacanya. Tulisan yang kalimatnya berbelit-belit, tidak komunikatif, dan membingungkan juga biasanya menimbulkan efek yang hampir serupa. Bukanlah panjangnya suatu tulisan yang membuat kita membaca secara tergesa-gesa, melainkan kalimat yang tidak komunikatif dan berbelit-belitlah yang membuat kita tergesa-gesa. Kita seakan-akan ingin segera selesai ketika membaca tulisan tersebut, walaupun tulisan tersebut tak terlalu panjang.

Tulisan yang seperti ini adalah tulisan yang tak bisa mendekatkan diri dengan pembaca. Kadang juga kita temui pada novel terjemahan. Ini mungkin karena hasil terjemahannya tidak terlalu bagus. Namun tak jarang juga kita temui pada tulisan biasa yang tak terlalu panjang. Ini tak lain karena ada logika yang terputus. Yang juga harus dicermati dari sebuah tulisan adalah koherensi. Dari awal, pertengahan, hingga akhir tulisan, koherensi tersebut harus terus terjalin, tak peduli tulisannya panjang ataupun pendek.

Selain itu, tulisan juga harus ada biramanya. Maksudnya, panjang pendeknya suatu kalimat serta kata-kata yang merangkainya juga harus terjalin dengan baik. Tak jarang kita temui suatu tulisan yang kalimat-kalimatnya begitu panjang, sehingga maksud sebenarnya dari kalimat tersebut menjadi kabur. Oleh sebab itu, tulislah kalimat-kalimat yang pendek tapi maksudnya jelas, daripada kalimat-kalimat panjang tetapi maksudnya tidak jelas. Boleh saja menulis kalimat-kalimat panjang, asalkan tanda bacanya diperhatikan.

Kalimat panjang biasanya membuat yang membacanya jadi terengah-engah. Selain itu, juga bisa mengaburkan hal yang lebih pokok. Untuk menyiasatinya, bagilah kalimat tersebut menjadi beberapa kalimat lagi. Satu kalimat setidaknya berisi 8 hingga 15 kata. Jika lebih dari itu, berarti sudah dikategorikan sebagai kalimat yang panjang.

Atau kalau tidak, bagilah kalimat panjang tersebut menjadi beberapa frase, yang setiap frase dipisahkan oleh tanda koma. Jangan lupa pula untuk membubuhkan kata sambungnya yang tepat, sehingga kalimat tersebut tetap koheren dari awal hingga akhir. Yang penting, sesuaikan dengan konteks kalimat, karena ada yang cocok diberi kata sambung setelah koma, dan ada juga yang hanya cocok diberi tanda koma. Membagi kalimat panjang menjadi beberapa kalimat lebih disarankan dibandingkan membaginya menjadi beberapa frase.

Panjang pendeknya paragraf juga harus diperhatikan. Paragraf yang panjang kadang mengaburkan maksud sebenarnya dari tulisan tersebut. Paragraf yang panjang kadang juga membuat pembacanya menjadi terengah-engah. Idealnya, panjang suatu paragraf berkisar antara 5 hingga 8 baris untuk ukuran kertas kuarto (letter) dengan margin 4-3-4-3 (50 hingga 80 kata, 350 hingga 550 karakter tanpa spasi, 400 hingga 630 karakter dengan spasi).

Paragraf yang lebih pendek pun tidak apa-apa, asalkan jangan kependekan. Ada juga paragraf yang hanya terdiri dari beberapa kata dan beberapa kalimat, kadang juga hanya terdiri dari satu kalimat, dan kalimatnya pun hanya kalimat pendek. Paragraf seperti ini biasanya hanya berupa paragraf penegas. Paragraf yang panjang hingga lebih dari 80 kata pun sebenarnya tak bermasalah, asalkan isinya tidak kabur.

Kini, cobalah baca tulisan kita sendiri! Apakah kita tergesa-gesa membacanya? Jika kita masih tergesa-gesa membacanya, cobalah sunting ulang tulisan tersebut. Kalimat-kalimat panjang kita bagi menjadi beberapa kalimat pendek. Paragraf-paragraf yang panjang kita bagi menjadi beberapa paragraf pendek. Dan jangan lupa, tanda baca dan kata sambungnya juga harus diperhatikan sesuai dengan konteks kalimat. Hingga tulisan kita itu benar-benar koheren dari awal hingga akhir, dan tak ada kesan tergesa-gesa membacanya. [Hanafi Mohan/Ciputat, Kamis 26 Februari 2009]


Sumber Gambar: http://www.hidayatullah.com/
Reaksi:

0 ulasan:

Poskan Komentar