Senin, 21 Januari 2008

Masjid Yang Toleran

Masjid Yang Toleran

Oleh: Hanafi Mohan





Shubuh ini aku Shalat Shubuh di Masjid Fathullah UIN Jakarta. Mungkin baru kali ini aku Shalat Shubuh di Masjid Kampusku itu. Sudah sekitar seminggu ini aku rutin untuk Shalat Berjamaah di masjid dekat kosanku (Masjid Al-Muhajjirin-Sedap Malam-Pisangan-Ciputat). Entah mengapa, beberapa hari ini aku berkeinginan untuk Shalat Shubuh di Masjid Fathullah yang jaraknya kalau ditempuh berjalan kaki santai dari kosanku, mungkin sekitar 10-15 menit. Jarak yang tak terlalu dekat, dan memang cukup jauh bagi sebagian orang.

Akhirnya, shubuh ini sampai juga niatku untuk Shalat Shubuh di Masjid Fathullah. Ada suasana yang berbeda ketika rakaat kedua (setelah ruku’ dan sebelum sujud), yaitu tidak ada bacaan “qunut”. Mungkin karena masjid kampus, maka suasana modernis-nya lebih terasa dibandingkan suasana tradisionalis-nya (berbeda dengan Shalat Shubuh di Masjid Al-Muhajjirin yang tetap memakai qunut).

Yang membuat aku kagum di Masjid Fathullah ini, walaupun tanpa qunut, tetapi imam shalatnya tetap memberikan space (jeda) dan kesempatan kepada jamaah lainnya yang mungkin terbiasa Shalat Shubuh dengan qunut untuk berqunut. Jadi, berdiri setelah ruku’nya agak lama, dan itu memang terasa sekali. Sungguh masjid yang toleran menurutku.

Ketoleranan Masjid Fathullah bukan hanya itu. Setiap Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan, selalu ada pilihan bagi jamaah untuk shalat tarawih+witir 11 rakaat, atau shalat tarawih+witir 23 rakaat.

Sungguh masjid yang toleran dan patut dicontoh oleh masjid-masjid lainnya, karena umat Islam Indonesia memang majemuk (plural), dan kita hargai kemajemukan itu tanpa harus menyalah-nyalahkan golongan yang berbeda dengan kita. [Aan]

Ciputat, Minggu-2 September 2007

Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar