Selasa, 09 Juli 2013

Penetapan Awal Ramadhan dan Negara Tak Bermarwah


Apakah sebabnya banyak Golongan di nkri ini yang tidak mau mengikuti Keputusan Penetapan Tanggal 1 Ramadhan dari Pihak Pusat Kekuasaan? Itulah Pertanyaannya, dan itulah salah satu penyebabnya mengapa ‎nkri ini selalu ‎MatiGaya hingga bila-bilapun masanya.

Jika pemerintah/pemimpin sudah memutuskan dan menetapkan "A", maka sepatutnya Golongan-Golongan yang sebelumnya berbeda pendapat itu (bahkan berbeda keputusan) kemudian mengikuti yang telah diputuskan dan ditetapkan oleh Pihak Negara tersebut. Tapi karena negaranya memang sudah tidak berwibawa dan tidak bermarwah, maka Golongan-Golongan yang berbeda pendapat dan berbeda keputusan itu akan tetap berbeda dengan Pihak Penguasa, tidak akan mena'ati yang diputuskan dan ditetapkan oleh Pihak Penguasa yang dimaksud. Yang pasti ‎nkri semakin hari semakin ‎MatiGaya saja.

Negeri yang darussalam itu adalah negeri yang ketika pemangku negerinya bertitah “A”, maka segenap rakyat penduduk negerinya akan menuruti dan mena’ati titah tersebut. Begitulah yang berlaku di negeri-negeri darussalam di serata Kepulauan Melayu ini di masa silam. Raja adil, Raja disembah. Raja zalim, Raja disanggah.

Salah satu negeri darussalam itu adalah Negeri Pontianak – Borneo Barat. Pemangku negerinya (baca: Sultan) yang adil serta menyayangi rakyatnya, sehingga rakyatnya pun selalu menghaturkan sembah setia kepada pemangku negerinya. Titah pemangku negeri dituruti dan dita’ati oleh segenap rakyatnya, termasuk dalam hal penetapan 1 Ramadhan (awal berpuasa), akhir berpuasa (menyambut 1 Syawwal/Aidil Fithri), dan menyambut Lebaran Haji/Aidil Adha (10 Dzulhijjah). Pada ketiga momen ini, setelah pemangku negeri memutuskan dan menetapkan mengenai hal yang dimaksud, maka dibunyikanlah meriam oleh pihak Istana Qadriyah – Kesultanan Pontianak. Dibunyikannya meriam ini adalah sebagai penanda dimulainya berpuasa (ketika menyambut 1 Ramadhan), berakhirnya puasa (ketika menyambut 1 Syawwal), dan menyambut Aidil Adha (10 Dzulhijjah/Lebaran Haji). Bunyi meriam dari Istana Qadriyah tersebut kemudian bersambut-sambutanlah dengan bunyi meriam-meriam lainnya di masing-masing kampong di serata negeri yang berada di dalam Negeri Pontianak.

Setelah terdengarnya bunyi dentuman meriam yang bertalu-talu dan bersahut-sahutan itu, maka segenap rakyat pun mengetahuilah bahwa itulah bunyi penanda menyambut puasa (ketika menyambut 1 Ramadhan), menyambut Aidil Fithri (ketika menyambut 1 Syawwal), dan menyambut Lebaran Haji/Aidil Adha. Bersuka-cita dan bergembiralah segenap rakyat Negeri Pontianak ketika mendengar dentuman suara meriam-meriam itu. Begitulah negeri yang darussalam. Tradisi tersebut (tradisi membunyikan meriam ketika menyambut Puasa Ramadhan, Lebaran Ramdhan/Aidil Fithri, dan Lebaran Haji/Aidil Adha) tetap hidup dari dulu (ketika Kesultanan Pontianak masih berdaulat) hingga kini (ketika Kesultanan Pontianak sudah tidak berdaulat), dengan corak dan ragam yang begitu rupa. (lebih lanjut mengenai tradisi membunyikan meriam ini akan dimuat pada tulisan berikutnya). [~Aan~]


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hanafi Mohan
Tanah Betawi, tarikh 29 – 30 haribulan Sya’ban sanat 1434 Hijriyah
Bertepatan dengan tarikh 8 – 9 haribulan Juli sanat 2013 Miladiyah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Sumber gambar ilustrasi: republika.co.id dan dakwatuna.com


Tulisan ini dimuat di: Laman Blog "Arus Deras"


Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar