Jumat, 12 Februari 2010

P. Ramlee, Siti Nurhaliza, serta Upin & Ipin



Bagi orang Melayu di manapun keberadaannya, ataupun bagi orang-orang yang tinggal di kawasan berbudaya Melayu (suku bangsa apapun dia), maka tiga nama pada judul tulisan ini tidaklah asing. Ketiga-tiganya adalah ikon seni budaya Malaysia, dua yang pertama adalah manusia, sedangkan satu yang terakhir adalah film kartun (atau lebih tepatnya film animasi). Ketiga-tiganya menjadi idola dalam memori keserumpunan orang-orang Melayu dari manapun berasalnya dan di mana pun beradanya, dari yang muda sampai yang tua, dari yang anak-anak sampai yang sudah bau tanah pasti menyukai dan mengidolakan ketiga-tiganya.

Sebagai rakyat Indonesia, aku cukup salut terhadap Malaysia yang pandai sekali membuat ikon seni budaya yang seperti itu. Bukan hanya menjadi ikon seni budaya di Malaysia, melainkan juga terkenal dan disukai hingga ke Indonesia. Dan bahkan mungkin juga terkenal dan disukai di beberapa Negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Setahuku, hingga kini Indonesia belum pernah mempunyai ikon seni budaya yang yang seperti itu dan dikenal hingga hampir di beberapa Negara yang ada di kawasan Asia Tenggara, entah mengapa. Mungkin ada yang tahu penyebabnya? (silakan diskusikan di sini). Padahal sudah kita ketahui bersama bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang melimpah-ruah dan beraneka ragam, ditambah lagi jagad hiburannya pun sangat semarak berwarna-warni dengan deretan selebritis (artis) yang beraneka rupa tampang dan kreativitasnya.

Kalau begitu, adakah yang salah dengan seni budaya yang selama ini dikembangkan di Indonesia? Adakah yang salah arah dari perkembangan jagad hiburan di negeri ini? Kalau memang ada yang salah ataupun keliru, di mana letak kesalahan dan kekeliruannya? Dan ke depannya, strategi apakah yang harus dilakukan anak negeri ini demi perkembangan seni budaya dan hiburan di tanah air tercinta ini? [Hanafi Mohan-Ciputat, Rabu 10 Februari 2010]



Bacaan terkait:

1) P. Ramlee: http://id.wikipedia.org/wiki/P._Ramlee

2) Siti Nurhaliza: http://muhamadhanafi.blog.friendster.com/

3) Upin & Ipin: http://media-islam.or.id/ , http://edukasi.kompasiana.com/ , http://www.pasarkreasi.com/



Sumber gambar:

1) http://mendulaoblongataku.wordpress.com/

2) http://khairilhusni.blogmas.com/

3) http://blog.its.ac.id/tintatutatatu/



Tulisan ini dimuat di: http://hanafimohan.blogspot.com/

Reaksi:

3 ulasan:

  1. adakalanya yang kita anggap lemah itu sering kita puja-puja tanpa kita sadari,..tidak ada yg lemah,..semua mnusia itu semua sama,...

    BalasHapus
  2. Begitulah adanyanya.
    Semoga Indonesia akan terus berjaya.

    BalasHapus
  3. Tidak juga kok sob, saya pernah ke Malaysia.. disana mereka semua hafal lagu2 kita mulai dari Ungu, Radja, Project Pop, Agnes Monica dan masih banyak lagi.
    Bahkan acara TV juga mereka byk yg menayangkan sinetron2 qta, setiap jam 3 sore hampir semua stasiun tv menayangkan sinetron Indonesia... demikian pula radionya jg byk lagu2 qta.
    Christian Bautista penyanyi asal Filiphine saja belajar bhs Indonesia krn ingib duet dgn BCL.
    Menurut saya, Indonesia msh bisa dibanggakan krn bangsanya yg kreatif. Namun qta ketinggalan jauh dai segi kemakmuran rakyatnya.
    Nice post sobat... mohon kunjungi juga www.fansmania.wordpress.com
    Salam Borneo Blogger

    BalasHapus