Kini, aku sudah menyelesaikan membaca Novel “The Da Vinci Code”. Ketika dalam proses membacanya, aku selalu membuat perkiraan-perkiraan (persangkaan-persangkaan), bagaikan seorang detektif. Dan ternyata, persangkaan-persangkaanku itu begitu banyak yang meleset. Di akhir novel, aku baru bisa tersenyum dan menarik napas lega, setelah sebelumnya begitu banyak ketegangan-ketegangan di dalam novel ini.
Agar lebih menarik, bacalah novel ini secara berurutan dari awal sampai akhir. Buatlah suatu catatan mengenai persangkaan-persangkaan kita, yang mana persangkaan-persangkaan kita itu biasanya akan runtuh ketika kita membaca halaman-halaman selanjutnya. Catatlah temuan baru itu. Dan kemungkinan, persangkaan-persangkaan kita berdasarkan temuan-temuan baru itu juga akan runtuh ketika kita membaca halaman-halaman selanjutnya. Catat terus perkembangan novel. Jangan lupa juga untuk mencatat hal-hal yang menurut kita menarik, seperti teka-teki, sandi, kode, dan simbol yang terpecahkan, yang teka-teki, sandi, kode, dan simbol itu saling berkaitan dan memiliki banyak arti. Catat juga hal-hal lainnya yang kita anggap menarik, seperti fakta sejarah dan mengenai doktrin-doktrin agama. Pada novel ini mengenai doktrin Kristen.
Bagi pembaca yang beragama selain Kristen, novel ini juga menarik untuk kita baca, agar kita bisa kembali menyelami keyakinan agama kita selama ini, yang ternyata begitu banyak metafora-metafora yang metafora-metafora itu sudah kita anggap sebagai suatu kebenaran itu sendiri, yang dapat dikatakan bahwa metafora-metafora itu sudah menjadi doktrin dan dogma yang sangat sulit untuk digugat.
Di halaman-halaman akhir novel, betapa aku terkejut. Ternyata Kapten Bezu Fache tak lain adalah seorang Polisi yang profesional dalam menjalankan tugasnya (karena persangkaanku sebelumnya, bahwa Kapten Bezu Fache termasuk ke dalam komplotan pembunuhan ini, yaitu yang menurut perkiraanku adalah Komplotan
Opus Dei). Karena berkatnyalah kemudian, kasus pembunuhan yang misterius ini dapat terungkap, yaitu dengan tertangkapnya
Sir Leigh Teabing (Guru), dan sekaligus Prof.
Langdon dan
Sophie Neveu dapat diselamatkan.
Uskup Aringarosa tak lain hanyalah seorang Uskup di Opus Dei (Pemimpin tertinggi di Opus Dei) yang sedang menghadapi kesulitan, dan dia tidak mengenal sama sekali “Guru”. Tawaran dari “Guru” diterimanya, karena ia ingin keluar dari kesulitan tersebut. Tapi akhirnya dia dapat menyadari, bahwa ia tak lebih telah ditipu oleh “Guru”. Dan ternyata
Silas, anak didiknya itu, tak lebih hanya seorang mantan penjahat, yang dengan menjalankan tugas misterius itu dia berharap bisa menebus dosanya. Akhirnya, Silas (menurutku) sepertinya kembali menjadi orang baik (di akhir cerita, sepertinya Silas mati, karena tertembak oleh Polisi). Dan juga Opus Dei tidak terlibat dalam kasus ini, karena Uskup Aringarosa hanya dijebak oleh Sir Leigh Teabing (Guru).
Dan terakhir, Langdon dan Sophie Neveu setelah memecahkan keberadaan
Holy Grail, yang mana Holy Grail itu sepertinya hanya perumpamaan. Karena Holy Grail memang tak ada di tempat yang sesuai dengan petunjuk sandi
Sauniere. Yang ada adalah kemudian, Sophie Neveu dapat bertemu dengan Neneknya dan adik laki-lakinya, yang selama ini dia ketahui dari kakeknya (Sauniere) bahwa Nenek dan adik laki-lakinya itu juga menjadi korban kecelakaan mobil bersama-sama dengan kedua orang tuanya.
Yang membuat aku bingung, kejadian di novel ini hanya berlangsung semalaman, dilanjutkan dengan pagi hingga sore hari kemudian (mungkin hanya berkisar sekitar kurang-lebih 20 jam, atau mungkin bisa pendek dari itu), yaitu dari terbunuhnya Sauniere pada jam 10.46 malam di Paris, hingga tertangkapnya Guru (Sir Leigh Teabing) di London (di Novel, waktu tertangkapnya tak dijelaskan, namun sekilas dapat diperkirakan mungkin sore hari besoknya).
Kronologi singkatnya secara berurutan:
Dari pukul 10 malam hingga sekitar 6 pagi di Paris.
3) Kemudian Langdon sudah berada di Museum Louvre (jamnya tidak disebutkan).
4) Langdon dan Sophie Neveu ke Stasiun Kereta Api (tak disebutkan jamnya)
6) Tengah malam (jamnya tak disebutkan): berada di
Puri Villette milik Leigh Teabing-Paris.
7) Melakukan penerbangan dari Paris ke London (jamnya tak disebutkan).
6.30 pagi hingga Sore di London
1) 6.30 : mendarat di London
5) Tertangkapnya Guru (Sir Leigh Teabing), mungkin sekitar sore hari.
Yang membuat aneh lagi, latar tempatnya pun berpindah-pindah, bahkan dari Paris hingga ke London (tempat dengan jarak yang mungkin tak dapat dikatakan dekat). Dengan cerita yang sungguh mencekam itu, mungkinkah hanya dalam waktu yang pendek itu (sekitar kurang lebih 20 jam) semua itu terjadi? Entahlah. Tapi yg pasti, novel ini begitu menarik, dan layak untuk dibaca.