Hikayat Dunia

Kita hanya pengumpul remah-remah | Dari khazanah yang pernah ada | Kita tak lebih hanya penjaga | Dari warisan yang telah terkecai ||

Pontianak Singgah Palembang

Daripada terus berpusing-pusing di atas Negeri Pontianak, yang itu tentu akan menghabiskan bahan bakar, maka lebih baik pesawat singgah dahulu ke bandar udara terdekat. Sesuai pemberitahuan dari awak pesawat, bandar udara terdekat adalah Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Negeri Palembang.

Mudék ke Ulu

Pasangan dari kate “ulu” ielah “mudék”. Kate “mudék” beakar kate dari kate “udék”. Udék bemakne "sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber)", "daerah di ulu sungai", juga’ bemakne "kampong halaman (tempat beasal-muasal)".

Soal Nama Negeri Kita

Belakangan ini kiranya ramai yang berpendapat ini dan itu mengenai asal usul dan makna nama "pontianak" kaitannya dengan Negeri Pontianak. Tapi apakah semua yang didedahkan itu betul-betul dipahami oleh masyarakat Pontianak?

Kampong Timbalan Raje Beserta Para Pemukanya [Bagian-3]

Selain banyak menguasai berbagai bidang keilmuan, beliau juga banyak memegang peran dalam kehidupan kemasyarakatan. H.M. Kasim Mohan yang merupakan anak sulong (tertua) dari pasangan Muhammad Buraa'i dan Ruqayyah ini merupakan seorang Pejuang di masanya.

Musik Motivasi Setahun Silam

“Satu Kursi untuk Seniman”, begitu tagline kampanyenya. Tekadnya untuk memajukan Kalbar lewat industri kreatif tentu patut diapresiasi. Melalui industri kreatif diharapkannya dapat menjadi jembatan menjulangkan budaya yang memayungi Kalimantan Barat.

Sultan Pontianak; Umara' dan 'Ulama

Kegemilangan Negeri Pontianak salah satunya diasbabkan kepemimpinan para Sultan-nya yang arif dan bijaksana. Sultan-Sultan Pontianak selama masa bertahtanya rata-rata memiliki dua peranan, yaitu berperan sebagai umara', sekaligus berperan sebagai 'ulama.

Puisi Buya Hamka untuk Muhammad Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir | Meskipun bersilang keris di leher | Berkilat pedang di hadapan matamu | Namun yang benar kau sebut juga benar ||

Minggu, 11 Mei 2008

Cerpen: Teman?

TEMAN?
Cerpen: Hanafi Mohan



Apa maksudnya tersenyum seperti itu padaku? “Hei, apa maksudmu tersenyum seperti itu padaku?” Kuhampiri orang yang tersenyum dengan menyiratkan seribu tanda tanya itu. Ternyata orang itu adalah orang yang kukenal. Dia adalah temanku. Tapi, masihkah ia pantas aku sebut sebagai teman? Mungkin ia telah merasa menang dariku. Mungkin ia telah merasa berhasil mengalahkanku, sehingga aku hancur berderai seperti ini.

“Hei kawan, mampirlah ke sini! Kita ngobrol-ngobrol dulu. Sepertinya kita sudah lama sekali tak pernah bertemu, apalagi sekedar ngobrol.”

Ia mencoba berbasa-basi. Tapi, tak ada salahnya juga jika kuhampiri dia. Apa maksudnya? Toh selama ini dia bukan teman yang terlalu akrab denganku. Dan aku sebenarnya tidak terlalu mengenal sosoknya. Sehingga, seperti akhir-akhir ini, dia telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak kusangka-sangka, yang itu di luar dugaanku selama ini.

Kujabat tangannya. Tapi..., seperti ada yang lain dari jabatan tangan kami itu. Serasa ada yang bergetar. Entah tangan siapakah sebenarnya yang bergetar itu. Serasa ada degupan jantung yang begitu kencangnya. Juga itu entah degupan jantung siapakah? Ada sesuatu yang tak menentu dari jabatan tangan itu.

“Kau sekarang di mana? Apa saja aktivitasmu?” tanyanya.

Oh, pertanyaan klasik seperti itu mudah sekali untuk dijawab. Atau memang tak perlu untuk dijawab, karena hanya basa-basi yang sudah terlanjur basi. Aku mungkin bisa mengajukan pertanyaan yang lebih menukik, lebih tajam, lebih menusuk, dan lebih pedas dari itu.

“Aku sekarang ada di mana-mana, di mana saja, asalkan aku bisa bernaung, beraktifitas, dan melakukan apa saja yang kuinginkan. Aku adalah burung yang selalu mencari udara yang bebas, tanpa mau dikurung dan dikerangkeng dalam keterkungkungan. Kegiatanku adalah mencari sesuatu yang berarti bagi diriku.”

Tergamam dia mendengar penjelasanku itu. Lalu aku bertanya, “Kau sendiri bagaimana sekarang? Apa saja aktifitasmu? Sudahkah kau dapatkan yang kau inginkan? Sudahkah kau temukan kebahagiaan?”

Dia lalu berkata, “Kau mungkin lebih beruntung dariku, kau mungkin lebih berbahagia dariku, kau ...”

“Hei, apa maksudmu berkata seperti itu? Bukankah sekarang keadaanmu lebih baik dariku? Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, yang tadinya aku yang menginginkan itu terlebih dahulu. Kau jangan berbalik-balik lidah seperti itu. Kau jangan berusaha menyenang-nyenangkan ’ku dengan berkata seperti itu. Basi’, tau!”

“Kau janganlah marah seperti itu kawanku. Sebenarnya apa maksud dari perkataanmu tadi?”

Heh..., dia berlagak bego’, setelah apa yang dilakukannya selama ini.

“Oh ..., jadi kau belum mengerti dengan apa yang kukatakan tadi? Mungkin kau hanya mengerti bagaimana mengalahkanku, bagaimana menghancurkanku. Sudahlah kawan, kau jangan berpura-pura seperti itu! Aku sudah tahu dengan sepak terjangmu akhir-akhir ini. Sesuatu yang tidak kusangka-sangka. Andaikan bukan kau yang melakukan itu semua, tapi orang lain. Tapi, semua itu kau yang melakukannya. Kau yang kuanggap selama ini sebagai teman, ternyata lebih jahat dan lebih licik dari musuhku sendiri.”

Dia masih tergamam seperti orang bego’. Atau sedang pura-pura bego’, atau memang benar-benar bego’? Ingin sekali aku melakukan sesuatu. Aku ludah mukanya itu, atau aku tonjok sekencang-kencangnya hingga lebam-biru lah mukanya yang seperti orang bodoh itu. Beraninya bersembunyi di balik wajah yang lugu itu. Tapi di balik keluguan itu, ternyata lebih buas dari srigala, yang siap menerkam siapa saja, bahkan teman sekali pun.

“Kawan! Tapi entahlah, masihkah pantas aku menganggapmu sebagai kawan. Sudahkah kau mengerti dengan perkataan-perkataanku tadi?”

“Terus terang, aku tak mengerti dengan segala perkataanmu tadi.”

“Atau perlu kulakukan sesuatu agar kau mengerti?”

“Iya, lakukanlah!”

Aku berpikir sebentar, apa yang harus kulakukan untuk membuat orang bego’ dan lugu, sekaligus jahat, licik, dan buas ini, menjadi mengerti. Biar yang kulakukan ini setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya selama ini.

“Kawan! Kau mau yang lembut atau yang keras?”

“Terserah kau lah. Tapi tolong kau jelaskan dahulu beda keduanya!”

Ih, dasar orang bego’. Begitu saja tak mengerti. Masa’ harus kujelaskan lagi.

“Kalau yang lembut, kau pasti akan lama sekali mengertinya. Bahkan sampai kiamat pun dunia ini, kau tak akan pernah mengerti. Tapi kalau yang keras, sekarang pun kau akan langsung mengerti. Ayo, pilih yang mana kawanku?”

“Mana baiknyalah menurutmu. Lakukan saja!”

Kutarik nafas dalam-dalam, kemudian ... buk ..., tinjuku melayang ke mukanya yang culun itu.

“Aduh ..., apa maksudmu ini kawan?” sambil ia meringis dan memegangi mukanya yang sudah lebam-biru itu.

Kemudian sepertinya ia mau membalas tinjuanku itu. Aku pun segera meregang kedua tangannya. “Sabar kawanku! Itulah maksudku cara yang paling cepat itu.” Kemudian ia kembali tenang lagi, namun masih menyiratkan kebingungan dengan apa yang telah kulakukan. Aku pun menulis sesuatu di kertas. Setelah itu kusodorkan kertas itu ke depan mukanya, biar terbelalak matanya membaca tulisan di kertas itu. “Kau tahu kan ini?” sambil terus kusodorkan kertas itu ke depan mukanya.

“Iya, aku tahu itu. Tapi, aku masih bingung. Apa maksud semua ini?”

“Seperti yang telah kukatakan sedari tadi, bahwa aku juga menginginkan apa yang telah kutuliskan itu. Bahkan aku duluan yang menemukannya. Jauh hari sebelum dirimu. Kau, bahkan seluruh dunia ini tahu akan hal itu. Tapi kau, dengan tampangmu yang lugu dan tak berdosa itu kemudian menyerobotnya, merampasnya dariku.”

“Tapi mengapa baru sekarang kau katakan dan ceritakan?”

“Baru sekarang katamu! Dasar, musang berbulu domba kau ini. Kau tak ubahnya seperti srigala, bahkan lebih buas dari srigala”

“Lantas apa yang harus kulakukan sekarang teman?”

“Terserahlah apa yang akan kau lakukan. Karena kau memiliki segalanya. Dengan itu kau bisa bertindak seenak perutmu.”

“Tapi tidak bisa seperti ini kawan. Semua ini harus kita selesaikan!”

“Apa lagi yang harus diselesaikan? Semuanya sudah jelas. Dan ..., kau puas kan dengan hal itu, akan apa yang telah kau dapatkan kini? Atau ..., kau mau membalas tinjuanku tadi? Nih mukaku,” kusodorkan mukaku ke depan matanya.

“Atau bagian mana saja, hingga kau puas. Sampai diriku hancur dan tercabik-cabik pun tak apa-apa.”

Ia tetap saja tak bergeming.

“Bukan seperti itu kawan! Ada hal-hal yang harus kau ketahui dan kujelaskan padamu.”

“Apa lagi yang harus diketahui? Apa lagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah terang-benderang seperti ini. Atau ..., apakah kau mau dan sudi melepaskan yang telah kau rampas dariku itu?”

“Bukan itu maksudku kawan, tapi ...”

Datanglah seorang perempuan muda mendekati kami, lebih tepatnya lagi mendekati temanku itu. Suasana berubah menjadi tegang. Tapi ..., aku tak mau larut terlalu lama dengan ketegangan itu.

“Teman, kalau begitu aku pergi dulu.”

Kemudian aku pun segera beranjak dari kedua orang itu.

Tapi ..., langkahku seakan menjadi berat, kemudian menjadi terhenti. Ada tangan lembut yang memegang tanganku. Aku pun berbalik. Ternyata perempuan muda itu yang memegang tanganku. Aku tak kuasa dengan pegangan selembut itu. Kulihat titik-titik air mata mengalir lambat dari sudut mata perempuan muda itu. Mengapa titik-titik air mata itu lagi yang harus kulihat? Oh Tuhanku, mengapa begitu beratkah cobaan yang Kau timpakan kepadaku?

Akhirnya, aku kuatkan juga tekad untuk beranjak dari tempat itu. Pantang bagiku untuk menjilat ludah yang telah kukeluarkan.

Lambat laun, pegangan tangan perempuan muda itu pun lepas dari tanganku, seiring tekadku yang semakin kuat untuk beranjak dari situ.

“Tunggulah sebentar kawan!” pinta temanku itu.

“Sudahlah kawan, semuanya sudah jelas. Kecuali kalau kau mau menerima tawaranku tadi. Tapi itu pasti akan berat kau lakukan. Kalau begitu aku permisi dulu kawan.” Aku pun segera berlalu dari tempat itu.

“Kawan..., janganlah kau pergi!” teriak temanku. Tapi tetap tak kupedulikan. Tak ada lagi yang bisa menghalangi langkahku. Tidak siapa pun, dia temanku itu, dia perempuan muda yang bersama temanku itu, atau siapa pun yang akan melakukan itu terhadapku. Karena, aku akan terus berjalan menyusuri jalan dan liku-liku kehidupan ini. Karena hingga kini dunia belum berhenti. [-,-]

Ciputat, 10-11 Juni 2006

[Cerpen] Negeri Harapan


Malam itu di Negeri Sungai, aku terbangun. Baru saja aku memimpikan berada di negeri yang hutan belantaranya bukanlah pohon-pohon, namun adalah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Jalan rayanya tak ubah seperti rimba raya. Ada juga jalan-jalan yang seperti kapsul.

Baru kali ini aku melakukan perjalanan dengan pesawat. Ketika mendarat di bandara negeri itu, kelap-kelip cahaya lampunya menambah indah suasana. Di bandara, aku langsung dijemput oleh sebuah mobil. Aku pun dibawa berjalan-jalan mengitari Negeri Harapan itu.

Waw …, indah nian negeri ini. Sangat berbeda dengan Negeri Sungaiku. Gedung-gedungnya menantang langit. Jalan-jalannya bersusun-susun. Lampu-lampunya terang-benderang. Andai aku dapat berlama-lama di negeri ini.

Tiba-tiba aku terbangun. Aku pun heran. Sepertinya ada yang janggal.

Tempat ‘ku terbangun ini, sungguh memang bukan kamar di rumahku yang ada di Negeri Sungai. Aku kenal betul dengan kamar itu. Rasanya baru beberapa saat yang lalu aku tinggalkan. Sehingga tak mungkin aku terlupa dengan kamar itu.

Kalau ini memang bukan kamarku, lantas kamar siapa? Di rumah siapa?

Atau memang aku masih bermimpi? Tapi sebegitu nyatakah seperti ini?

“Au …, sakitnya …,” mulutku berteriak, setelah ‘ku cubit lenganku untuk memastikan, mimpi atau nyatakah semua ini.

Lalu ‘ku tampar mukaku untuk memastikan lagi.

“Aduh …,” kembali ‘ku berteriak.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

“Dhani, sudah pagi nih. Katanya kamu minta dibangunkan,” ujar orang yang masuk ke kamar.

“Hah …,” ujarku lirih, sambil melihat heran ke orang itu.

“Hei …, mengapa Dhani? Kamu seperti orang yang kebingungan.”

Kemudian orang itu keluar dari kamar. Tapi buru-buru kupanggil, “Wan … Wawan …!”

Kemudian orang itu menoleh ke arahku, “Ada apa Dhani?”

Wawan …? Benarkah orang yang kupanggil tadi bernama Wawan? tanyaku di dalam hati.

“He … Dhani … ada apa …?”

“Wa … wan!” aku tergagap.

“Iya, mengapa kamu sedari tadi memanggilku?”

Kiranya benar, orang itu bernama Wawan.

“Begini maksudku, Wan. Air untuk berwudhu’ ada kan?”

“Ya … adalah. Kamu ini seperti orang yang linglung saja. Ah … sudahlah. Cepatlah kamu Shalat Shubuh! Mumpung matahari belum terlalu tinggi.”

Lalu orang yang bernama Wawan itu pun keluar dari kamar. Sementara kepalaku berputar-putar, pusing tak karuan. Entah apa yang ‘ku alami ini.

* * *

Sudah begitu lamanya aku berada di negeri yang semakin tak ‘ku pahami ini. Negeri yang semakin hari semakin semrawut, tidak aman, dan juga tidak nyaman.

Di Negeri Harapan ini, pernah suatu waktu aku bermimpi bergelut di suatu perkumpulan. Entah berapa lama aku bermimpi itu. Hari-hari yang begitu panjang ‘ku lalui di dalam mimpi itu. Hingga suatu saat aku dipercayakan untuk menjadi pimpinan perkumpulan itu. Sungguh sesuatu yang di luar khayalanku. Aku memang pernah berkhayal untuk bisa bergelut di perkumpulan itu. Tapi hanya sekedar bisa bergelut di sana, bukan menjadi pemimpinnya. Tapi yang ‘ku dapatkan ternyata lebih dari yang ‘ku khayalkan.

Suatu saat aku tersadar dari mimpi panjang itu. Aku tersadar di Negeri Harapan.

Ah, mengapa masih di Negeri Harapan? Tapi sudahlah. Ini mungkin sudah menjadi garisan. Yang harus ‘ku lakukan hanyalah menjalankannya. Aku tak lebih hanyalah salah seorang pemain drama kolosal. Yang ‘ku jalani hanyalah sedikit dari skenario alam raya ini.

Aku harus berkejar-kejaran dan berebut-rebutan dengan orang lain untuk menjadi yang terbaik. Kadang aku yang menang, orang lain yang kalah. Atau sebaliknya, orang lain yang menang, aku yang kalah. Untuk mencapai semua itu, harus rela bersikut-sikutan, atau tak jarang harus bercakar-cakaran. Demi menjadi yang terbaik.

Seorang temanku berkata, “Kau itu terlalu berlebih-lebihan untuk menjadi yang terbaik. Hingga segenap waktu dan energimu kau habiskan hanya untuk mencapai predikat yang terbaik itu. Sedangkan di dunia ini banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus menjadi yang terbaik.”

Tapi aku merasa enjoy melakukan semua itu. Walaupun semua waktu, energi, bahkan uang ‘ku habiskan demi menjadi yang terbaik.

* * *

Hingga suatu saat, aku berada pada titik nadir. Aku yang sudah terbiasa berlari berkejar-kejaran dan melesat mencapai semua keinginan, kini hanya bisa tertatih-tatih merangkaki waktu.

Aku tertekan. Tak tentu arah tujuanku. Bahkan sebenarnya aku kehilangan arah. Negeri Harapan yang nian indah dan menjanjikan segala kesenangan, kini bagiku tak lebih hanya bagaikan rimba belantara. Aku tersesat di tengah rimba yang tak berujung-pangkal.

Kini, aku hanya berharap bisa keluar dari semua kungkungan ini. Aku ingin seperti dulu bagaikan elang yang terbang bebas di angkasa. Bahkan di sanubari terdalam, aku ingin kembali berada di negeri tempatku berasal. Yaitu negeri yang mengalir sungai-sungai panjang nan lebar. Sungguh negeri yang damai.

Tapi bagaimana mungkin aku bisa kembali lagi ke negeri asalku itu? Kalaupun mungkin, bagaimana caranya? Sedangkan keberadaanku di Negeri Harapan ini pun tanpa terlebih dahulu ‘ku rencanakan. Tiba-tiba saja aku sudah berada di negeri yang sebelumnya hanya menjadi khayalanku ini.

Oh ya, mimpi …. Aku baru ingat, masuknya aku ke Negeri Harapan ini tak lain melalui mimpi. Sehingga sampai kapanpun, negeri ini tetaplah negeri mimpi, bukanlah negeri yang benar-benar nyata. Karena ini mimpi, maka aku harus terbangun lagi di negeri asalku, tempat di mana aku memimpikan Negeri Harapan ini. Masih dengan pertanyaan lamaku, mungkinkah ini semua hanyalah mimpi? Sedangkan yang ‘ku alami selama ini benar-benar nyata. ‘Ku usir semua pikiran yang sudah usang itu.

‘Ku susun rencana untuk melakukan semua itu. Segenap pikiran, perasaan, dan energi ‘ku curahkan untuk kembali lagi ke negeri asalku. Untuk menggapainya, apapun halangan dan rintangan akan ‘ku terjang, dengan sisa-sisa tenagaku yang kini mulai terkumpul lagi.

Melintang patah, terbujur lalu.

* * *

Pelan-pelan terbuka mataku. Cahaya putih menyilaukan menerobos memasuki kamar. Lalu ‘ku dengar suara-suara yang memang tak asing bagiku. Tapi sepertinya, suara-suara itu sudah lama sekali tak pernah ‘ku dengar. Dan … aku terpana melihat tempatku terbangun kini. Ya …, tempat yang begitu ‘ku kenal.

Aku pun langsung menuju ke jendela. Terang-benderang di luar sana. Motor air berlalu-lalang di sungai yang ada di depan mataku dengan suaranya yang khas. Sampan tradisional yang satu persatu melintas membawa dan menyeberangkan penumpang. Belum lagi suara kokok ayam yang bersahut-sahutan, menambah ramainya suasana sepagi ini. Angin sungai yang sejuk membelai wajahku. Aku masih asyik dengan semua ini.

Pintu kamar pun terbuka. Lalu muncul sesosok perempuan.

“Sudah bangun rupanya, Bang. Lelap sekali Za lihat Abang tidur tadi.”

“Za …,” aku masih terpaku dengan sosok perempuan itu.

“Bang, ada apa? Mengapa tercengang seperti itu melihat Liza? Adakah yang aneh?”

“Liza …, kaukah ini?”

“Ada apa gerangan, Bang? Tak ingatkah Abang, bahwa hari ini adalah ulang tahun ke lima perkawinan kita? Lihatlah kalender itu!” perempuan yang mengaku sebagai istriku itu menunjuk ke arah yang dimaksud di dinding kamar.

“Sudah Za tandai tanggal itu dengan spidol merah, Bang. Agar kita selalu ingat tanggal bersejarah itu,” kembali perempuan yang bernama Liza itu berucap.

Lalu perempuan yang mengaku sebagai istriku itu pun keluar dari kamar.

Aku pun melihat ke kalender yang dimaksud. Sangat jelas sekali tanggal yang ditandai dengan spidol merah itu … 15. Bulan Mei tahun 2015.

Kawin …? Aku masih tak mengerti.

Lalu perempuan bernama Liza yang mengaku sebagai istriku itu pun masuk lagi ke kamar membawa seorang anak kecil. Sepertinya lelaki. Anak itu berseragam TK.

“Raushan, salaman dulu dengan Ayah! Setelah itu Raushan baru berangkat ke sekolah,” ujar Liza kepada anak kecil itu.

Lalu anak itu menyalami dan mencium tanganku. Aku masih bingung dengan keadaan ini.

“Anak siapa, Za?”

“Abang ini bergurau saja dari tadi. Lebih baik Abang cepat mandi sana! Kebetulan air sungai sedang pasang,” kemudian Liza dan si kecil Raushan itu pun segera keluar dari kamar.

Nyata atau mimpikah semua ini? Ada sedikit rasa bahagia, karena aku dapat kembali lagi ke negeri asalku, yaitu Negeri Sungai. Namun aku masih setengah tak percaya dengan semua ini. Kepalaku terus berputar-putar memikirkannya.

* * *

Suatu pagi aku terbangun. Hening …, sehening hatiku yang damai. Ya … hening. Benar-benar tak ada suara seperti pagi biasanya.

Dan …, mengapa sepagi ini matahari tak menerobos masuk seperti biasanya? Adakah yang aneh? Adakah yang janggal dengan hari ini?

‘Ku lihat di sebelahku …, Liza …? Mana Liza istriku, yang biasanya menemani tidurku? Apakah ia sudah bangun? Atau …

“Za … Liza …,” ‘ku panggil-panggil istriku itu. Namun tak kunjung ada yang menyahut.

“Za …,” aku terus memanggilnya.

Mataku masih sayup. Sepertinya nyawaku belum berkumpul semuanya.

Tapi ‘ku lihat … lemari itu, rak buku itu …

Sekali lagi ‘ku panggil istriku. Namun lagi-lagi tetap sama, tak ada sahutan sedikit pun.

“Dhani …, kamu ini mengapa? Tingkahmu semakin aneh saja dari tadi ‘ku perhatikan.”

“Wawan, kau kah?” masih dengan kebingunganku.

“Kamu ini seperti orang yang linglung saja. Ah … sudahlah. Cepatlah kau Shalat Shubuh! Mumpung matahari belum terlalu tinggi. Oh ya …, dari tadi ‘ku dengar HP-mu berbunyi. Mungkin ada telepon masuk tadi. Atau mungkin SMS. Cobalah kamu lihat!”

Lalu ‘ku raih HP yang tak jauh letaknya dariku itu. Ada SMS rupanya. Lalu ‘ku buka SMS itu.

Slamat ULTAH kwanku. Moga ttap tgar & truslah brkrya. (ANDREAS)

“Tanggal berapa sekarang ini, Wan?”

“Tanggal dua puluh.”

“Bulan apa?” kembali ku bertanya.

“Kamu ini sama bulan saja sudah lupa. Bulan Mei sekarang ini, Dhan,” ucap Wawan dengan tegas.

“Jangan kamu bertanya tahun berapa ini! Keterlaluan kalau sama tahun saja lupa. Kamu lihat saja kalender tuh!” kembali Wawan berucap dengan tegas, sambil menunjukkan kalender yang dimaksud yang tertempel di dinding kamar.

Aku pun langsung menuju ke kalender yang dimaksud. Kucari tanggal yang dimaksud, yaitu 20 Mei, seperti yang dikatakan Wawan tadi. Dan ternyata kini tahun 2007, Hari Minggu.

Setelah itu, ‘ku buka jendela yang ada di kamar. Hanya tembok-tembok tinggi yang ‘ku lihat. Pantas saja sinar matahari pagi tak masuk ke kamar. Sinar itu mungkin terhalang oleh tembok-tembok tinggi yang ‘ku lihat kini.

Tak ada sungai. Tak terlihat motor air yang lalu lalang dengan suara khasnya. Tak ada sampan. Tak terdengar kokok ayam yang bersahut-sahutan. Tak ada angin sungai yang sejuk membelai wajahku.

Dan juga tak ada … Za …. [-,-]



Hanafi Mohan
Sedap Malam - Pisangan Ciputat
Senin 7 Mei – Selasa 8 Mei 2007


Kepada Sahabatku



Sumber Gambar: http://intisari-online.com/